Pidato Presiden

Sambutan Peresmian Sekolah Sukma Bangsa

 

SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
PERESMIAN SEKOLAH SUKMA BANGSA
BIREUEN-NAD, 14 JULI 2006



Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Salam sejahtera untuk kita semua,

Bismillahirramanirrahim,
Alhamdulillahirrabbil’alamin wasalatu wassalmu’ala asrafil’amza’i warmursalim syaidina wa maulana muhammadin wa’ala ali washahbihi azma’in ama ba’du,

Yang saya hormati, para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu,
Yang saya hormati, para Anggota Dewan Perwakilan Rakyat dan Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia,
Yang Mulia, para Duta Besar Negara-negara Sahabat dan para Pimpinan Organisasi Internasional,
Yang saya hormati, Saudara Gubernur Aceh, Ketua DPRD Aceh dan para Pimpinan serta Pejabat yang bertugas di Aceh baik dari unsur Eksekutif, Legislatif, Yudikatif maupun TNI dan Polri,
Yang saya hormati, Saudara Ketua Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi Aceh, Pimpinan Aceh Monitoring Mission,
Yang saya hormati, Saudara Pimpinan Yayasan Sukma, Bung Surya Paloh beserta Ibu,
Yang saya cintai dan saya muliakan, para Abuya, para Ulama, para Pemuka Agama, para Tokoh Masyarakat, para Tokoh Adat, Generasi Muda,


Hadirin sekalian yang berbahagia,lhou
Sebelum saya menyampaikan sambutan pada acara yang sangat penting dan bersejarah hari ini, saya ingin menyampaikan perasaan batin saya pada hari ini. Tadi ketika saya terbang menggunakan helikopter dari Lhouksumawe menuju ke tempat ini bersama Saudara Gubernur dan Ibu, saya melihat ke bawah, saya melihat betapa teduh, tenang suasana di daerah ini. Kemudian saya turun dari helikopter, menggunakan kendaraan darat, saya melihat wajah saudara-saudara kita, orangtua, anak-anak, sepanjang jalan, dengan wajah yang ceria, dengan wajah yang penuh harap untuk menapaki masa depannya yang lebih baik. Mengapa harus saya ungkapkan perasaan batin seperti itu?

Saudara-saudara,
Sejak 2001, dalam kapasitas saya sebagai menteri waktu itu, tiap tahun saya datang dan sekali datang tiap tahunnya beberapa kali ke hampir semua kabupaten dan kota dan saya ulangi lagi tahun berikutnya lagi, 2002, 2003, 2004, bahkan sampai sekarang 2005, 2006. Hari-hari yang panjang masih kita ingat waktu itu, hampir lima tahun, kita berupaya dengan sekuat tenaga untuk menghentikan pertumpahan darah, menghentikan konflik di bumi Nanggroe Aceh Darussalam ini, agar bersatulah anak bangsa, membangun kembali masa depannya menuju Aceh yang lebih aman dan damai, yang lebih adil, lebih sejahtera lahir dan batin dalam kebersamaan dengan keluarga besar bangsa Indonesia secara keseluruhan.

Panjang yang kita lewati mengalami masa pasang surut dengan segala permasalahan, tantangan yang kita hadapi waktu itu, ada harapan sirna kembali, muncul lagi, demikian panjangnya perjalanan kita semua dalam menciptakan suatu perdamaian yang abadi di Aceh. Dalam suatu kehidupan yang menuju masa depan yang baik, dalam keutuhan kita sebagai bangsa indonesia, dan akhirnya Allah Maha Besar, datanglah hidayah Allah, berkah Allah, rahmat Allah, perjuangan panjang itu tidak sia-sia. Dan akhirnya, terwujudlah apa yang sudah lama kita cita-citakan di bumi ini.

Saya masih ingat, satu bulan setelah saya mengemban amanah sebagai Presiden, saya datang kembali ke Banda Aceh, waktu itu saya serukan. ”Mari kita akhiri konflik bersenjata, Mari kita hentikan pertumpahan darah yang hanya menimbulkan malapetaka bagi semua. Mari kita bersatu kembali dengan tatanan baru, dengan ruang yang lebih luas untuk putra-putri Aceh mengatur kehidupan di wilayah ini, sekali lagi dalam naungan Sang Merah Putih.”

Saya masih ingat, seruan saya waktu itu belum mendapatkan respon yang memadai. Satu bulan setelah itu kita mengalami musibah yang sangat dahsyat, tsunami datang. Hari kedua saya sudah datang ke tempat ini, mestinya hari pertama, tetapi tidak mungkin saya sedang berada di Jayapura, di Papua, sehingga setelah mendengar jam-jam itu kami terbang, dan sampailah di Lhokseumawe senja hari waktu itu, dan kemudian esok harinya di Banda Aceh, saya serukan kembali, ”Mari kita bersatu, membangun Aceh dalam suasana yang seperti itu di tengah kedukaan kita, kepiluan kita, melihat ratusan ribu saudara-saudara kita dalam keadaan menderita seperti itu.”

Minggu-minggu berikutnya lagi, bulan-bulan berikutnya lagi, Allah SWT memberikan, membuka jalan, sehingga kita menapaki secara bersama, waktu itu, lahirlah satu proses sejarah yang luar biasa dan akhirnya kita bisa menemukan kedamaian yang sejati, insya Allah akan berlangsung selamanya dan kita memasuki era baru di Aceh yang kita cintai ini, membangun kembali Aceh menuju masa depannya.

Undang-undang baru saja dilahirkan, tetapi Saudara, undang-undang bukan tujuan akhir dari apa yang lakukan. Yang kita lakukan adalah benar-benar dengan suasana yang penuh perdamaian ini, dengan undang-undang yang sudah kita lahirkan ini, kita bangun secara tulus, secara sungguh-sungguh, secara bersama, agar keamanan, keadilan dan kesejahteraan di bumi Nanggroe Aceh Darussalam yang kita cintai ini segera terwujud. Itulah yang lebih penting, komitmen kita, ketulusan kita, kesungguhan kita, kebersamaan kita, membangun masa depan Aceh yang kita cintai bersama.

Saudara-saudara sekalian,
Itu harus saya ungkapkan, karena kita semua sangat mencintai Aceh, sangat mencintai Negara Republik Indonesia. Oleh karena itulah, mari kita lebih melihat ke depan, melihat ke belakang untuk mengambil hikmah, memetik pelajaran sejarah. Kesalahan masa lampau tidak perlu kita ulangi dan jangan kita ulangi. Dengan belajar dari masa lampau itu, mari kita tata kehidupan di wilayah ini, kehidupan yang lebih baik, dengan demikian tercipta keadilan yang sejati. Itulah yang ingin saya ungkapkan Saudara-saudara.

Tadi, Saudara Surya Paloh mengatakan bahwa satu hari setelah terjadinya musibah tsunami di Aceh ini, yang saya lakukan adalah melakukan apa saja yang bisa dilakukan untuk menyelamatkan jiwa saudara-saudara kita. Mengobati yang luka, menyelamatkan mereka, mengevakuasikan mereka, memberikan bantuan pangan, pengobatan dan lain-lain. Menggerakkan unsur pemerintah pusat dan daerah, menerima uluran tangan negara-negara sahabat yang membantu dan memastikan bahwa bangsa ini memiliki kesetiakawanan dan solidaritas yang tinggi.

Salah satu yang saya lakukan mengajak para dermawan kita, putra-putri bangsa, agar melakukan dengan segera apa yang bisa kita lakukan, antara lain Bung Surya Paloh. Oleh karena itulah, dalam keadaan seperti itu, yang mesti kita lakukan berbuatlah untuk menyelamatkan saudara-saudaranya. Lebih mulia daripada menunggu dan kemudian setelah itu justru mencari-cari kesalahan, kelemahan apa yang terjadi. Dalam masa yang sulit, semuanya memang serba sulit. Tetapi kalau hati kita, niat kita membantu apa yang bisa kita bantu dari semuanya, insya Allah akan lebih banyak lagi yang bisa kita selamatkan kepada saudara-saudara yang mengalami bencana itu.

Bung Surya tidak mengatakan tadi, ketika Yogya dan Jawa Tengah juga dilanda gempa, saya juga mengajak para dermawan, termasuk Bung Surya saya telepon kembali, lakukan sesuatu untuk Yogya dan Jawa Tengah, disamping seperti sediakala menggerakkan pemerintahan kabupaten, provinsi, pusat, seraya juga mengucapkan terima kasih kepada negara-negara sahabat, lembaga internasional, dermawan kita yang juga mengulurkan tangannya, membantu saudara-saudaranya.

Itulah pengantar saya Saudara, terlalu sayang untuk dibuang, karena justru kita harus selalu belajar dari kehidupan kita. Kita harus terus-menerus menyempurnakan kepribadian kita. Kita harus belajar dari masa lalu, agar tidak terjadi kesalahan-kesalahan di waktu yang lalu itu dan kita lakukan sesuatu yang lebih benar.

Hadirin yang saya muliakan,
Ijinkan saya menyampaikan sambutan khusus pada peresmian sekolah yang dibangun oleh Yayasan Sukma.

Marilah sekali lagi kita bersama-sama memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT, karena atas rahmat dan karunia-Nya, kita dapat menghadiri peresmian Sekolah Sukma Bangsa. Saya ingin menggunakan kesempatan yang baik ini, untuk menyampaikan ucapan selamat dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Yayasan Sukma, atas segala daya dan upaya, menghimpun dana masyarakat untuk membangun sekolah yang cukup megah ini. Mudah-mudahan, sekolah ini dapat bermanfaat bagi pendidikan dan bagi masa depan anak-anak korban bencana tsunami.

Berkali-kali saya katakan, anak-anak kita telah kehilangan banyak hal. Kehilangan orangtuanya, kehilangan rumahnya, kehilangan sanak saudaranya, teman-temannya, gurunya, bahkan jangan mereka kehilangan masa depannya. Agar mereka tidak kehilangan masa depan, kita semua, yang membangun masa depan mereka, termasuk membangun fasilitas pendidikan yang tentu diperlukan oleh mereka semua.

Saudara-saudara,
Sekolah Sukma Bangsa adalah wujud kepedulian masyarakat kita terhadap para korban bencana tsunami. Keberadaan sekolah ini menunjukkan bahwa kita tetap bersatu padu, bahu-membahu dan bekerjasama untuk memberikan bantuan kepada para korban bencana. Kita menyadari bahwa pendidikan di Aceh belum sepenuhnya pulih dan berlangsung secara baik di seluruh wilayah. Di sana-sini masih kita jumpai berbagai kekurangan, karena memang tahapan rehabilitasi dan rekonstruksi sedang terus kita jalankan.

Anak-anak kita dewasa ini ada yang telah menikmati dan menjalani kondisi pendidikan yang baik dan bahkan lebih baik dari sebelumnya, ada yang belum normal dan bahkan ada juga yang menempuh pendidikan di pesantren-pesantren atau di dayah-dayah.

Saya memandang bahwa dayah merupakan tempat yang cukup ideal, sebagaimana yang saya katakan tadi, sebagai salah satu yang sekarang sedang ditempuh, bagi pendidikan anak-anak yang memiliki trauma yang dalam. Bagi masyarakat Aceh, sebagaimana masyarakat lainnya di negeri kita, agama merupakan sesuatu yang sangat penting.

Dayah adalah tempat bagi anak-anak Aceh untuk belajar, sekaligus mengkaji ajaran Islam. Di dayah, mereka mendapatkan pendidikan umum di siang hari, dan menerima pendidikan agama Islam di malam hari. Mereka belajar ilmu pengetahuan, belajar agama dan belajar tentang cara hidup, dan tradisi masyarakat Aceh. Saya bersyukur, dan sangat berterima kasih kepada para pengelola dayah yang telah mendorong anak-anak, untuk bangkit kembali, menggapai masa depan yang lebih cerah.


Hadirin yang saya hormati,
Pembangunan Sekolah Sukma Bangsa merupakan langkah besar untuk membuktikan kepada para donatur dan berbagai pihak, bahwa dana yang disalurkan dapat terwujud menjadi bangunan sekolah dengan segala isinya, yang tadi disampaikan oleh Saudara Surya Paloh.

Kita masih memerlukan banyak gedung sekolah untuk anak-anak kita. Tadi dikatakan, statistik yang terjadi pada saat bencana tsunami yang lalu, sebanyak 1.214 sekolah hancur, 1.814 guru meninggal dunia, 103 orang dosen Universitas Syiah Kuala juga wafat dan 92 orang hilang. Karena itu saya mendukung upaya Media Group yang melakukan serangkaian kegiatan kemanusiaan dalam payung ”Indonesia Menangis”, meskipun mari kita hentikan suasana menangis itu, mari kita bangun suasana baru, suasana bangkit dan suasana maju.

Kegiatan kemanusiaan itu, melibatkan partisipasi aktif masyarakat baik individual maupun institusi, dari dalam dan luar negeri. Berbagai bentuk donasi, baik uang, barang dan jasa, maupun keterlibatan dalam bentuk pelaksanaan program bersama, joint program, dengan berbagai pihak dan berbagai institusi, telah diarahkan untuk membangun Aceh.

Kegiatan kemanusiaan yang diorganisasikan oleh Media Group, telah kita rasakan manfaatnya. Pada tahapan tanggap darurat berencana, dilaksanakan kegiatan penyaluran bantuan darurat, baik pangan, sandang, obat-obatan, peralatan medis, maupun bahan-bahan bangunan. Pada tahapan rekonstruksi dan rehabilitasi, telah dibangun sarana pendidikan.

Pembangunan bidang pendidikan, dengan fokus utama pembangunan sekolah di daerah bencana, saya pandang sebagai program yang sangat mulia. Karena bencana yang terjadi, sebagaimana saya katakan tadi, telah menyebabkan Aceh kehilangan potensi intelektual akibat kehilangan guru, dosen dan juga hancurnya fasilitas pendidikan. Karena itu saya bersyukur, bahwa dana yang dipercayakan masyarakat kepada Media Group lebih diutamakan untuk kepentingan investasi sumber daya manusia.

Hadirin yang saya muliakan,
Sebelum bencana tsunami terjadi, Aceh dikenal sebagai gerbang dan pusat kemajuan ilmu dan peradaban. Ikatan agama yang kuat, tradisi dan adat-istiadat yang telah mewarnai kehidupan sosial budaya masyarakat. Kini kita pun berupaya untuk membangun kembali peradaban yang luhur itu. Peradaban yang tetap bersumber dari ajaran agama, adat-istiadat dan tradisi masyarakat Aceh. Kita ingin melihat geliat semangat masyarakat Aceh untuk segera bangkit. Putera-puterinya segera memperoleh pendidikan yang baik, sehingga menjadi inspirasi bagi daerah lain untuk juga memajukan pendidikan bagi masyarakatnya.

Saya menyambut baik, sistem pendidikan yang dikembangkan oleh Yayasan Sukma Bangsa. Sistem boarding school, saya pandang merupakan pilihan yang baik untuk dilaksanakan di sekolah ini. Kita berharap, melalui pendidikan di sekolah ini, anak-anak dapat tumbuh dalam lingkungan pendidikan selama 24 jam. Sebagaimana kita ketahui, usia sekolah merupakan periode untuk membentuk kepribadian yang unggul, moral yang baik dan kecerdasan intelektual yang mumpuni. Sekolah merupakan persiapan memasuki pendidikan yang lebih tinggi dan memasuki kehidupan sosial yang penuh dengan tantangan.

Untuk menyelenggarakan pendidikan yang baik, tidak hanya didasarkan pada keberadaan sekolah yang megah, namun yang lebih penting adalah kualitas guru-guru dan para pengasuhnya. Para guru dan pengasuh itu, tidak hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai wali dan orangtua bagi anak-anak peserta didik. Kita maklum, bahwa anak-anak korban bencana tsunami, masih memerlukan bimbingan, arahan dan perlindungan orangtua. Mereka masih memerlukan kasih sayang dari kita semua.

Mereka, sebagian besar sudah kehilangan orangtua dan sanak saudara, karena itu saya mengajak kepada para guru dan pengasuh di sekolah ini, dan tentunya juga di sekolah-sekolah yang lain untuk mendidik mereka semua, dalam peran sebagai ayah, ibu, dan sekaligus teman bagi mereka semua. Berikanlah, sekali lagi, rasa cinta dan kasih sayang yang setinggi-tingginya. Berikanlah sumber inspirasi dan kekuatan moral serta semangat, agar mereka dapat segera bangkit. Mereka harus segera belajar dengan baik, demi masa depan mereka yang lebih cerah.

Sebelum saya mengakhiri sambutan ini, to Excellencies Ambassadors and the Head of the International Organizations, on behalf of the Indonesian government and the Indonesian people, I would like to thank and appreciate for your present in this very important gathering. I have to be thankful also for your support, given to Aceh, to our brothers and sisters who were hit by tsunami back in 2004.

I have just said, Mr. Ambassadors, that our children here in Aceh, have lost a lot of things. They suffered a lot. They’re lost their parents, their teachers, their homes, their friends and many more. And I did say that they should not lose their future. We have to help them for achieving their ideals for their better future. Your assisstance, your contribution is part of saving them to move ahead for their future. Once again, thank, and I appreciate for your assisstance and contribution.

Sebelum mengakhiri sambutan ini, sekali lagi saya ingin menyampaikan ucapan selamat dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Yayasan Sukma yang telah membangun Sekolah Sukma Bangsa. Kepada para donatur, baik dari dalam maupun dari luar negeri, yang telah menyisihkan sebagian harta kekayaannya untuk membantu masyarakat Aceh, saya juga menyampaikan ucapan terima kasih.

Kepada Saudara Gubernur, Pimpinan DPRD, BRR, semua yang bekerja siang dan malam pada masa-masa yang sulit di Aceh seperti ini, terimalah ucapan terima kasih saya yang tulus. Teruskan perjuangan itu, teruskan embanan tugas itu, karena mulia. Mulia untuk Aceh, mulia untuk Indonesia, bangsa dan negara yang cintai bersama.

Demikianlah yang telah saya sampaikan, dan dengan memohon ridho Tuhan Yang Maha Kuasa, sambil mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim, dengan ini Sekolah Sukma Bangsa, saya nyatakan resmi digunakan dan dioperasikan.

Sekian,
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

* * * * *



Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan