Pidato Presiden
Arahan Tentang Bencana Alam
ARAHAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
TENTANG
BENCANA ALAM
MARBELA-ANYER, 20 JULI 2006
Saudara-saudara,
Saya akan lanjutkan penjelasan ini dengan nantinya mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk benar-benar memahami permasalahan negeri kita, dikaitkan dengan kemungkinan terjadinya gempa, tsunami atau bencana yang lain. Dan kemudian, saya akan tutup nanti dengan sekali lagi instruksi saya kepada jajaran Pemerintah untuk melaksanakan tugas-tugas dengan sangat serius, agar pengelolaan bencana di negeri ini dapat dilaksanakan dengan hasil yang benar-benar baik.
Kita sudah mendengarkan penjelasan ilmiah dari Menteri ESDM dan Menteri Perhubungan dari aspek geologi dan dari aspek geofisika. Sebagai orang yang beriman dan berilmu, marilah ketika kita melihat sesuatu kita gunakan kacamata ilmu atau kacamata ilmiah dan kemudian yang kedua dengan kacamata iman atau keimanan. Dengan demikian, kita akan tentram, tidak perlu terpengaruh dengan tahyul, berita-berita yang sangat tidak rasional. Dengan demikian, hidup kita, meskipun tidak ada bencana pun menjadi tidak tentram. Mari kita padukan betul kacamata ilmiah dan kacamata kerohanian ataupun keimanan kita.
Coba ditayangkan peta Indonesia yang ada gambar lempeng tadi, baik lempeng Indo-australia, lempeng Pasifik maupun lempeng Eurasia.
Mari kita lihat saudara-saudara, ini adalah Sumatera kita, ini Jawa. Kita disini sekarang. Ini Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, ini Sulawesi, ini Halmahera, ini adalah Papua dan Irian Jaya Barat, Kalimantan. Memang secara geologis, secara geografis, negara kita rawan gempa. Apalagi ada lempeng atau patahan yang disebut lempeng Hindia-Australia yang konon gerakannya menuju ke utara, maka kemungkinan terjadinya gesekan di lempeng, dislokasi geologis, apakah menyamping, apakah vertical.
Ini juga ada kemungkinannya yang itu berpotensi untuk menimbulkan tsunami.
Disini juga kita lihat tekanan dari lempeng pasifik ke barat, menekan lempeng Eurasia yang relatif stabil. Bangun geografi, struktur geologi Indonesia seperti inilah yang harus menjadi pengetahuan kita, memang negara kita rawan gempa, rawan tsunami. Dan bukan hanya di Indonesia yang rawan gempa dan rawan tsunami, di China rawan gempa, di Jepang rawan gempa, di Iran dan Pakistan rawan gempa, di Selandia Baru rawan gempa dan tsunami, di Amerika Latin demikian juga.
Bacalah riwayat gempa dan tsunami yang terjadi di dunia ini dari abad ke abad. Oleh karena itu, ini gejala bumi, peristiwa geologi yang bisa dinalar dengan akal sehat. Ini perlu kita ketahui. Dengan demikian, dengan cara pandang yang benar, dengan mindset yang benar, cara bangsa kita menyikapi ini semua menjadi benar, langkah-langkah yang kita lakukan juga menjadi benar. Ini yang pertama yang dapat saya tangkap dan simpul dari apa yang dijelaskan oleh kedua Menteri tadi.
Saudara-saudara,
Dengan realitas seperti ini, kita sebagai bangsa tentu harus melakukan berbagai upaya, untuk berupaya sejauh mungkin selamat dari gempa ini. Dan apabila terjadi gempa, langkah-langkah setelah gempa pun juga tepat dan efektif. Ini bisa dicapai kalau kita memiliki sistem yang tepat. Itulah sekarang kita menyempurnakan, memperbaharui, mengefektifkan sistem kita. Setelah kita punya sistem, terjadi gempa, kemungkinan tsunami ada, bagaimana menit-menit pertama itu, yang saya katakan critical times, waktu yang kritis, tapi juga peluang emas, golden opportunity 15-30 menit, katakanlah 20 menit, kita lakukan langkah-langkah segera, immediate action, baik pada tingkat BMG, pada tingkat sistem secara keseluruhan dan tingkat di daerah dan di lapangan, dimana kemungkinan tsunami itu akan terjadi.
Cara-cara kita melakukan sesuatu dalam waktu 20 menit itulah yang akan menentukan, bagaimana kita bisa menghindar, bisa menyelamatkan diri dari tsunami.
Nah, yang ketiga, sistem yang kita bangun adalah ada gempa bisa kita kenali, disebarkan informasinya, setelah mendengar informasi itu, melaksanakan langkah-langkah awal, meninggal garis pantai misalnya dan kemudian terjadi betul tsunami, maka kita melaksanakan langkah tanggap darurat, emergency relief operation dengan benar, dengan tepat, tidak panik dan lain-lain. Sistem yang kita bangun, yang sekarang terus-menerus kita mantapkan mengandung ketiga elemen itu. Itulah kita bicara, tiga elemen ini menjadi milik kita semua, ada yang memang titik beratnya pemerintah, ada yang lebih banyak pada Pemerintah Daerah, tapi juga kontribusi dan partisipasi masyarakat menjadi sangat penting untuk menentukan keberhasilan dari upaya kita secara menyeluruh.
Saya mulai dengan early warning system, sistem peringatan dini tadi. Sudah di jelas kan oleh Menteri Perhubungan apa yang sudah kita gelar, apa yang sedang kita gelar dan akan kita tuntaskan. Sistem ini, sistem yang komplek, memerlukan biaya yang tidak sedikit dengan kecanggihan teknologi, pemasangannya tidak serta-merta, meski ada proses. Yang semua memang dari program pemasangan itu, menggelar infrastruktur sistem peringatan dini, infrastruktur tsunami warning system itu sampai 2009. Kita ingin mempercepat, secepat-cepatnya.
Analisis yang kita lakukan, kita ingin sejelas-jelas, sedapat mungkin sudah tergelar pada medio 2008. Tetapi konsekuensinya memang harus mempercepat semua upaya, termasuk menggunakan dana yang tidak sedikit dan saya akan berkomunikasi dengan DPR RI untuk sebuah alokasi anggaran yang penting karena berkaitan dengan jiwa dan keselamatan rakyat kita, bisa dialokasikan dalam satu, dua tahun ini. Dan karena penggelaran instrumen ini menjadi kerjasama masyarakat internasional. Ingat dulu ada Tsunami Summit, saya sebagai penyelenggara dulu dihadiri oleh para pemimpin dunia sepakat untuk membangun sistem peringatan dini tsunami, mereka berkontribusi, tapi dalam prakteknya juga tidak serta-merta mengalir. Semua itu akan kita upayakan, kita percepat.
Dengan demikian, lebih cepat dari tahun 2009. Ini harapan kita, meskipun sebelum lengkapnya penggelaran ini semua, ada langkah-langkah lain yang juga dapat kita lakukan sekarang ini ke depan yang juga akan saya jelaskan nanti. Pendek kata, ini semua sejauh mungkin dapat kita percepat bersama-sama dengan komunitas global. Dengan demikian, lebih memberikan kepastian di dalam penciptaan peringatan dini. Warning system ini dijelaskan oleh Menteri Perhubungan tadi, 4 menit pertama milik BMG. Menit ke-5 disebarkan kepada seluruh khalayak, termasuk pejabat daerah, masyarakat yang paling depan, terutama daerah-daerah yang kemungkinan terkena tsunami melalui media massa.
Warning yang kedua, yang harapan saya para bupati di seluruh sudah memiliki protapnya, sudah menjelaskan kepada rakyatnya, bahkan sudah berlatih di pinggir-pinggir pantai adalah bagaimana rakyat disitu mengenali tanda-tanda tsunami, yaitu kalau air laut tiba-tiba susut ke dalam, sebagaimana yang terjadi di beberapa tempat yang lalu dan ternyata sudah dilapiskan, Bupatinya sudah punya protap, selamat, contohnya di Pulau Buru. Selamat di Ciamis kemarin, kalau mereka tidak cepat mengenali air susut dan tidak segera lari, korban akan jauh lebih besar. Karena mereka sudah mengenali itu, dapat dicegah sebanyak mungkin, meskipun dengan sedih kita mengatakan ada saudara-saudara kita yang meninggal karena menurut penjelasan ada yang tertidur, ada juga yang sedang berada dibetul-betul pinggir pantai. Tetapi membuktikan bahwa warning system di lapangan dengan mengenali gejala-gejala alam itu juga sudah membuahkan hasil.
Jadi, peringatan dini ini, warning system ini ada yang bersifat teknologi, komunikasi dan informasi tadi yang BMG menjadi motornya. Nanti dalam perkembangannya diintegrasikan dengan lembaga-lembaga yang lain, tetapi yang tidak kalah pentingnya adalah peringatan dini, langkah, tanda-tanda alam yang ada di daerah pinggir pantai.
Dari peringatan itu yang menjadi penting, sebagaimana tadi saya sampaikan adalah langkah-langkah segera, immediate action, apakah di seluruh wilayah yang saya sebutkan tadi. Yang menjadi tugas kita, tugas mulai dari saya, Menteri, Gubernur, Bupati, Walikota, Camat, Kepala Desar di seluruh Indonesia, terutama di tempat-tempat yang rawan tsunami ini. Betul-betul di pinggir-pinggir pantai, terutama yang ada konsentrasi penduduk kampung nelayan, tempat wisata, desa-desa yang dipinggir pantai. Ada tanda-tanda yang nyata, kemana kalau ada tsunami melarikan diri, rutenya kemana, menuju titik apa, bukit apa, perempatan mana, tempat yang lebih tinggi apa dan sebagainya.
Apakah sudah dijelaskan, disosialisasikan kepada rakyat dan apakah sudah dilakukan latihan-latihan, bahkan latihan itu sebagaimana terjadi di negara lain, di Jepang, China, di Amerika Serikat itu bahkan tiap tahun. Pendek kata, pemimpin di depan harus memastikan rakyatnya di daerah yang rawan itu mengerti tanda-tanda dan kemudian bisa cepat melaksanakan aksi-aksinya kalau tanda-tanda itu datang. Disini tanggung jawab utamanya adalah para pemimpin yang ada di depan. Ini mata rantai yang kedua. Dan mata rantai yang ketiga, saya katakan tadi setelah terjadi bencana-bencana apa langkah-langkah kita, belajar dari pengalaman masa lalu, saya melihat memang sudah ada peningkatan kegiatan tanggap darurat. Tetapi saudara-saudara kalau kita gagal memberikan warning yang tepat sampai ke ujung depan, langkah-langkah dini tadi memang korbannya bisa besar. Dalam konteks inilah, kita ingin tata semuanya ke depan ini semua pihak bertanggung dan utamanya mereka-mereka yang memimpin di depan.
Saudara-saudara
Mari kita lihat rangkaian bencana atau gempa bumi. Pertama, tsunami di Aceh dan Nias. Barangkali kita belum punya pengalaman yang memadai. Yang kedua, gempa di Nias tanpa tsunami, gempa bumi. Kalau gempa, menit, detik itu gempa yang memang terjadi. Tidak ada yang bisa kita lakukan, karena tidak ada proses waktu untuk memberikan warning. Setelah itu tsunami di Pulau Buru, selamat kita, karena penduduk segera meninggal tempat itu dan memberikan tanda-tanda. Yang berikutnya lagi gempa di Yogya dan di Jawa Tengah. Gempa, tanpa tsunami seketika, sama dengan yang di Nias pada tahap kedua gempa di Nias itu juga tidak bisa apa-apa karena menit itu, detik itu terjadi. Kemudian tsunami di Pangandaran dan di Cilacap. BMG telah bekerja, diseminasi, daerah sudah memiliki protap, sebagian besar selamat, sebagian kecil tidak selamat karena yang saya sebutkan tadi, yang dijelaskan oleh para Bupati, mereka-mereka yang tidak siap, ada yang tertidur dan lain-lain. Kemudian tadi malam, gempa yang terjadi di sekitar sini tanpa tsunami, tapi mesin bekerja, sistem bekerja, peringatan dini bekerja. Dan kemudian ada langkah-langkah yang tepat.
Ini rangkaian, bagaimana kita menyikapi terjadinya gempa itu dan rangkaian satu demi satu, gempa dengan implikasi dan akibatnya. Saudara-saudara, nyata disini, bahwa yang paling menentukan 20 menit pertama. 5 menit pertama milik Badan Meteorologi dan Geofisika dan agen-agen lain nanti yang akan kita bikin lebih efektif, alatnya, teknologi, instrumennya, sensornya. Tetapi menit ke-5 dan seterusnya milik banyak orang, milik para Kepala Desa, Camat, Bupati, Walikota, TNI Polri, termasuk masyarakat setempat, termasuk masyarakat, terutama yang ada di pinggir pantai.
Mari kita menangkan, semuanya ini dengan semua memahami sistemnya, memahami mekanisme, memahami protapnya dan bisa menjalankan protap itu secara nyata, apabila keadaan memang meminta untuk dilaksanakannya kegiatan itu.
Saudara-saudara,
Dari penjelasan itu semua, termasuk penggarisbawahan saya, maka beberapa hal yang ingin saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini, baik kepada jajaran Pemerintah maupun kepada masyarakat luas. Yang pertama, kepada Departemen Perhubungan, Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, Kementrian Riset dan Teknologi, BMG dan lembaga-lembaga terkait agar betul-betul proses percepatan penggelaran instrumen peringatan dini tsunami dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Saudara Menko Kesra dengan Menteri Keuangan, saya minta berkomunikasi dengan DPR RI untuk kemungkinan pengalokasian anggaran yang tepat, agar proses ini bisa kita percepat dan dapat kita gelar secara lebih lengkap lagi di seluruh wilayah tanah air. Kita ingin dari 2009 maju ke 2008, ya paling sejauh mungkin lebih maju. Karena bagi kita, lebih cepat digelar tentu dalam batas-batas kemampuan teknologi.
Yang kedua, kepada para Pimpinan Daerah, disini ada Gubernur, Bupati, Walikota, saya minta betul-betul protap disusun, tanda-tanda di lapangan disusun, rakyat diberi tahu, adakan latihan-latihan lokal, dicek terus-menerus. Dengan demikian, tidak terjadi lagi, saya bertemu dengan rakyat, “Saudara-saudara, apakah sudah tahu kalau ada pemberitahuan akan terjadi tsunami saudara tahu”. Lalu jawabannya, “Tidak, tidak, tidak” Berarti belum berjalan. Jadi, pastikan betul mereka tahu. Mereka pernah barangkali latihan-latihan disitu.
Yang ketiga, saya ingin profesionalitas dan kesiagaan para pimpinan di daerah, terutama yang ujung depan para Bupati, Walikota, Pimpinan Militer, Kodim, Polres dengan jajarannya, semua, saya ingin ada posko, ada satu simpul yang memonitor bekerja 24 jam. Jam berapa pun kalau BMG, kalau TV-TV, Radio, SMS bekerja ada ancaman tsunami, mereka segera bereaksi. Saya tidak ingin dengar lagi, 15 menit tidak bisa menghubungi pejabat, tidak bisa tembus ke depan. Setengah jam juga demikian, sangat berbahaya. Saya ingin semua, saya tahu tidak mungkin Pak Gubernur, Pak Bupati 24 jam lihat TV, tidak mungkin kan tugasnya banyak, mungkin juga tertidur jam 3 subuh. Tetapi musti ada sistem di tempat itu, di kantornya, di kediamannya yang secara bergiliran memantau.
Dengan demikian, jam berapa pun, entah subuh, entah senja, entah malam, entah tengah hari ketika kita sedang sholat, sistem ini bekerja. Sekali lagi, 20 menit pertama sangat berharga sekaligus sangat berbahaya. Kritis, tapi akan menjadi peluang emas kalau kita bisa memenangkannya.
Berikutnya lagi adalah kita mengajak, saya mengajak saudara-saudara di seluruh tanah air, marilah benar-benar kita paham betul tentang negeri kita, paham betul kekayaan dan kekurangan-kekurangannya, bersyukur kepada Allah karena negara kita juga banyak tambang-tambang, banyak sumber daya alam, tetapi juga ternyata di bawah permukaan laut dan daratan kita ada proses-proses alam yang sering menimbulkan gempa. Syukuri itu, terima itu sebagai ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa, tetapi yang penting mari kita, mulai sekarang ke depan dengan pengetahuan yang saya sampaikan tadi, kita siap menghadapi apapun. Dengan demikian, kita bisa menyelamatkan diri dan mencegah korban ataupun kerugian yang tidak semestinya.
Yang berikutnya lagi kepada insan pers, para pimpinan media massa, televisi, radio, cetak dan semuanya, selama ini saya mengucapkan terima kasih. Berlomba-lombalah, entah breaking news, entah running text, apapun untuk menyampaikan kepada rakyat. Saya tadi malam juga sudah saya lihat 8 menit ada TV yang belum muncul itu, kebetulan TVRI. Tapi setelah itu, setelah itu datang, Alhamdulillah datang juga akhirnya. Jadi, saya tidak ingin justru TVRI, RRI yang paling depan dan terus-menerus, lah gitu. Dengan demikian, ayo bersama-sama. Jadi pers sangat penting. Terima kasih saya, tetapi mudah-mudahan, kita tidak berharap ada bencana-bencana lagi, ada gempa, tapi saudara tahu bentuk negara kita seperti ini. Tolonglah, mari kita selamatkan rakyat kita dengan peran serta saudara.
Dan yang terakhir, TNI dan Polri. Saya berterima kasih selama ini juga cepat, tetapi ke depan dengan masih adanya kemungkinan pergerakan lempeng, bahkan disini juga berarti mungkin masih terjadi dislokasi geologi, entah horizontal, entah vertical. Dan kalau gempa terjadi, apalagi tsunami terjadi, maka jajaran TNI dan Polri sebagaimana yang telah dilakukan di waktu yang lalu, teruslah dilakukan. Dan saya ingn menjadi unsur tercepat untuk turun ke lapangan bersama-sama dengan TNI, bersama-sama dengan unsur-unsur yang lain.
Saya kira itulah yang dapat saya sampaikan saudara-saudara sekalian. Saya ucapkan terima kasih atas perhatiannya. Dan kepada rakyat Indonesia sekali lagi, pahamilah semuanya ini, tenang, jangan panik, jangan mengaitkan dengan yang tidak-tidak, yang irasional, yang takhayul sebagai umat yang beragama, umat yang beriman, berdosa kita, apalagi sebagai orang yang berilmu yang semuanya bisa kita ketahui. Mari bersama-sama kita ke depan dengan cara pandang dan sikap mental seperti ini.
Demikian saudara-saudara, mudah-mudahan kita bisa bekerja lebih baik lagi di waktu yang akan datang.
Sekian.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
* * * * *
Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan



