Pidato Presiden

Sambutan pada Kunjungan Kerja ke Lokasi Korban Tsunami Cilacap, Jawa Tengah

 

SAMBUTAN PRESIDEN RI SUSILO BAMBANG YUDHOYONO
PADA KUNJUNGAN KERJA KE CILACAP, JAWA TENGAH
TANGGAL 21 JULI 2006



Bismilahirramanirrahim,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Sebelum saya menyampaikan sambutan, harapan dan ajakan kepada Saudara semua, saya mengajak untuk bersama-sama kita membacakan surat Al Fatehah. Kita kirim untuk saudara-saudara kita yang meninggal dunia karena bencana tsunami kemarin. Semoga para syuhada yang mati syahid itu mendapatkan tempat yang layak di sisi Allah SWT. Mereka dipanggil oleh Yang Maha Kuasa sebagai syuhada. Semoga pula yang ditinggalkan mendapatkan ketegaran, kesabaran dan dapat tawakal dalam menjalankan kehidupannya, untuk insya Allah, untuk membangun masa depannya kembali dengan harapan semoga masa depan itu lebih baik. Marilah bersama-sama kita bacakan Surat Al Fatehah.

Al-Faatihah.
Bismillaahir Rahmaanir Rahiim,
Alahmadu lillaahi rabbil ‘aalamiin
Arrahmaanir Rahiim,
Maaliki yaumiddin,
Iyyaaka na’ budu waiyyaaka nasta’iin,
Ihdinash shiraathal mustaqiim,
Shiraathal ladzina an ‘amta ‘allaihim,
Ghoiril magdhuubi ‘allaihim,
Waladhaalliin.Aamiin.

Terimakasih.

Yang saya hormati, Saudara Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat, dan para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu,
Yang saya hormati, Saudara Gubernur Jawa Tengah beserta Ibu,
Para Bupati, para Pimpinan dan Pejabat di daerah, baik dari unsur eksekutif, Legislatif, Yudikatif maupun TNI dan Polri,
Yang saya muliakan, para Ulama dan para Tokoh Masyarakat,
Saudara-saudara yang sedang menerima cobaan, ujian dari Tuhan Yang Maha Kuasa,
Hadirin-hadirat,
Anak-anak yang saya cintai dan yang dimuliakan oleh Allah SWT,

Marilah pada kesempatan ini meskipun kita masih diliputi suasana duka dan meskipun negara kita masih menghadapi berbagai musibah, ujian dan cobaan, tidak lupa dan tidak putus-putusnya kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, Allah SWT, karena kita masih diberikan kesempatan untuk beribadah dan kepada kita masih diberikan kekuatan dan kesehatan lahir dan batin untuk menjalankan tugas dan pengabdian kita masing-masing.

Saudara-saudara yang saya cintai,
Kita baru saja mengalami musibah gempa bumi dan tsunami, terutama yang menimpa Saudara-saudara kita di wilayah Jawa Barat, Ciamis, Tasikmalaya dan Garut, kemudian di Jawa Tengah, Cilacap, Kebumen, Purworejo khususnya. Yang bencana alam ini dapat dimengerti dari segi keilmuan, dari segi keimanan. Kita manusia adalah orang yang berilmu dan orang yang beriman.

Dari segi keilmuan, gempa atau bencana atau tsunami itu dapat dijelaskan dari segi keilmuan. Sedangkan sebagai orang yang beriman kita juga mengerti bahwa anugerah, nikmat, sebagaimana pula bencana, musibah datangnya dari Yang Maha Kuasa, Allah SWT. Oleh karena itu dalam menyikapi semua ini, pertama-tama pesan saya kepada Saudara-saudara yang ada di depan, khususnya, yang mengalami suasana duka, kehilangan saudara-saudara dekatnya, saya minta tetaplah tawakal, sabar, tabah dan tegar untuk menjalani masa kehidupan ke depan nanti seraya mendoakan almarhum dan almarhumah, sekali lagi, diterima di sisi Allah SWT. Kami pemerintah dan saudara-saudara yang lain insya Allah akan membantu Saudara-saudara di dalam mengarungi masa depan kehidupan ke depan ini.

Saudara-saudara,
Sejak gempa bumi ini terjadi empat hari yang lalu, saya, kami yang di Jakarta juga terus bekerja, memantau dan berkomunikasi. Beberapa saat setelah gempa terjadi, Pak Gubernur Jawa Tengah, Bapak H. Mardiyanto menelpon saya, melaporkan tentang kejadian yang sesungguhnya, kerusakan yang ada, kerusakan yang ada, dan langkah-langkah yang dilaksanakan oleh para bupati dengan jajarannya dan dengan Pak Gubernur sendiri dengan jajarannya. Atas nama pemerintah pusat saya mengucapkan terima kasih dan penghargaan pada semua, mulai dari Pak Gubernur, Pak Bupati, Ibu Bupati dan semuanya yang saya nilai dengan cepat dan tepat melaksanakan langkah-langkah tanggap darurat.

Perlu diketahui bahwa hingga saat ini hampir tidak ada SMS, telpon, surat yang masuk kepada saya bahwa penanganan tanggap darurat di wilayah Jawa Tengah ini dianggap tidak baik. Berarti saya simpulkan bahwa langkah-langkah awal yang Saudara lakukan tepat dan mudah-mudahan ini merupakan langkah awal yang baik untuk melanjutkan langkah-langkah tanggap darurat sampai nanti pembangunan kembali daerah yang kena bencana ini, termasuk saudara-saudara kita yang menjadi korban dari bencana tersebut. Sekali lagi, terimalah ucapan terima kasih dan penghargaan saya.

Terima kasih dan penghargaan juga saya sampaikan kepada siapa saja yang hari-hari pertama kemarin turun ke lapangan membantu menyelamatkan saudara-saudaranya dan melaksanakan apa saja sehingga bisa diselamatkan jiwa saudara-saudara kita lebih banyak lagi. Mereka-mereka itu dari LSM, dari PMI, dari TNI, dari Polri dan lain-lain saya ucapkan terima kasih.

Saya juga mengucapkan terima kasih kepada saudara-saudara kita yang memberikan bantuan berupa makanan, obat-obatan dan bantuan-bantuan lain yang tentu sangat diperlukan dalam keadaan awal bencana seperti yang kita rasakan hari-hari yang lewat. Mudah-mudahan semangat kebersamaan, kesetiakawanan dan solidaritas ini, tolong-menolong, Bantu-membantu tetap hidup. Dengan demikian nilai-nilai luhur bangsa kita dapat kita lestarikan, bangsa yang gemar saling menolong, saling membantu dan memiliki kesetiakawanan yang tinggi.

Saudara-saudara sekalian,
Tadi saya mengatakan bahwa negara kita ini memang rawan terhadap bencana atau rawan terhadap gempa bumi. Bumi ini tempat kita hidup, tempat semua bangsa ini hidup, bentuknya bulat seperti jeruk. Permukaannya tidak mulus, tidak halus seperti kelereng. Tapi seperti jeruk yang permukaannya berlipat-lipat serta ada yang disebut lempengan-lempengan. Bumi ini berputar pada porosnya 24 jam. Bumi juga berputar mengelilingi matahari 12 bulan.

Dalam pergerakkan bumi tersebut terjadilah gesekan-gesekan, pergeseran-pergeseran permukaan bumi. Lempeng-lempeng seperti tangan saya ini sekali-kali bergesekan, bertabrakan. Pergesekannya bisa naik, turun. Gesekannya bisa ke kiri, ke kanan. Kalau yang bergesek itu lempeng-lempeng bumi, maka terjadilah gempa. Gempa ini terjadi di seluruh dunia. Tsunami juga bukan hanya terjadi di Indonesia. Di mana saja yang di wilayah-wilayahnya ada lempengan-lempengan, yang lempengan itu sekali bergesekan, bertumbukan atau bertabrakan.

Indonesia dari Sabang sampai Merauke, dari Kalimantan sampai Jawa, kita memiliki tiga lempeng bumi. Lempeng pertama adalah membatasi sebagian barat Sumatera, bagian selatan Jawa, Nusa Tenggara Timur sampai Papua, itulah yang disebut lempeng Indo-Australia. Dari Australia mendesak ke wilayah kita. Lempeng mendesak lempeng, sekali-kali tabrakan, terjadilah gempa bumi.

Di sebelah timur kita mulai dari Sulawesi, Halmahera dan kemudian ke selatan itu juga ada lempeng dari Lautan Pasifik mendesak ke barat. Lempeng mendesak lempeng sekali-kali terjadilah gesekan. Itulah gempa. Lempeng yang hampir tidak bergerak justru di wilayah Kalimantan, wilayah timur Sumatera itu tetap. Lempeng yang tetapi itu ditabraki dari timur dan dari selatan. Oleh karena itu, negara kita, sebagaimana negara lain yang punya lempeng, sekali-kali terjadi gempa. Itulah peristiwa geologi. Itulah peristiwa bumi. Jadi jangan dikaitkan dengan takhayul, dengan mistik, dengan yang lain-lain. Itu peristiwa alam yang dapat dijelaskan secara ilmiah.

Saudara-saudara,
Ketika lempeng bertabrakan dengan lempeng, yang namanya gempa bisa menimbulkan tsunami, bisa tidak menimbulkan tsunami. Tabrakan terjadi gempa. Kalau tabrakannya tidak keras, skala Richternya itu di bawah 6,2, kemudian tabrakannya tidak naik-turun seperti tangan saya ini, tapi hanya bergeser kiri, kanan dan ada faktor lain, tempatnya di mana tidak menimbulkan tsunami. Tetapi ada kalanya tabrakan lempeng dengan kekuatan tertentu naik-turun, tabrakannya menimbulkan gelombang tsunami. Cara mengukur itu dengan alat, alat ini tidak semua memiliki.

Dengan pengalaman gempa bumi dan tsunami di Aceh, Indonesia bertekad semahal apapun kita akan bangun. Sebagian sudah dibangun, sekarang sedang dibangun dan akan dilanjutkan. Indonesia negara kepulauan yang garis pantainya terpanjang di dunia. Dengan demikian, kalau harus memasang alat-alat sensor sesmeter dan lain-lain agar tahu ada tsunami apa tidak, ada gempa yang berakibat tsunami apa tidak, dan berarti kita akan dan harus menggelar alat-alat itu.

Menggelar ini tidak bisa sendiri. Teknologinya harus dikerjasamakan dengan negara lain dengan Jerman, dengan Jepang, dengan China dan lain-lain. Rencananya memang yang sudah kita mulai dari tahun 2005 kemarin, tahun ini ke depan itu baru akan selesai tahun 2009 dengan biaya kurang lebih 1,2 trilyun. Tetapi melihat rawannya negara kita, melihat bahwa gempa itu bisa saja terjadi di lempengan itu tadi, di bagian barat Sumatera, di bagian selatan Jawa, bagian selatan Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur sampai dengan Papua, bisa Sulawesi, maka kami pemerintah berusaha sekuat tenaga untuk mempercepat pembangunan alat-alat yang bisa mengetahui ada tsunami atau tidak.

Biaya, kami sudah berunding dengan DPR, mudah-mudahan bisa dialokasikan. Memang mahal dan besar, tapi harus kita bangun. Kami akan berkomunikasi dengan negara-negara di dunia. Mari kita percepat, mudah-mudahan negara-negara. Itu juga memiliki kepedulian yang sama. Pendek kata, agar kita tidak berteka-teki ada tsunami atau tidak, maka kita akan mempercepat langkah-langkah penggelaran alat-alat itu.

Saudara-saudara,
Sambil kita melengkapi alat-alat untuk bisa mendeteksi tsunami, agar ada peringatan dini bahwa tsunami mungkin datang, harapan saya adalah semua masyarakat di seluruh Indonesia, di pantai-pantai yang rawan tsunami, termasuk pimpinan daerahnya, termasuk Pak Bupati, Pak Camat, Pak Kepala Desa dan seluruhnya, mulailah dari sekarang kita tahu tanda-tanda datangnya tsunami.

Kalau sudah ada gempa, lihat garis pantainya. Apakah ada keganjilan air laut tiba-tiba surut ke belakang. Apakah tiba-tiba di tengah lautan ada gelombang yang warnanya hitam dan lain-lain, agar secara naluriah kita mengenali adanya tsunami. Penduduk Seumeleu, pada saat tsunami di Aceh selamat karena begitu ada tanda-tanda, teriak mereka. Teriaknya bagaimana Pak Sudi? Mau…mau…teriak semua meninggalkan tempat itu, selamat. Kemarin di Pulau Buru, beberapa bulan yang lalu saya datang, ada tsunami 4 meter, mereka teriak, semua naik ke gunung, selamat. Kemarin sebenarnya di Pangandaran banyak yang akhirnya selamat meskipun sebagaimana saudara-saudara kita ada yang menjadi korban. Artinya apa? Kalau masyarakat tahu, pimpinan memberi tahu, melatihkan, mensosialisasikan, disamping alat-alat akan segera kita bangun lebih cepat lagi, kita lebih waspada.

Saya ingin di seluruh Indonesia, di kesempatan yang baik untuk menyampaikan pada para gubernur di seluruh Indonesia, para bupati dan walikota di seluruh Indonesia, terutama di garis-garis pantai yang rawan tsunami, mulai sekarang, berilah tanda-tanda tempat-tempat itu. Mungkin tempat wisata, mungkin kampung nelayan, mungkin perumahan penduduk, bikin tanda-tanda dipasang yang besar di situ, plang-plang, mungkin jaraknya 500 M, 500 M, tanda-tanda tsunami, satu, misalkan ada gempa bumi, dua, Air laut susut ke dalam, tiga, ada gelombang warna hitam di tengah laut dan sebagainya. Itulah Saudara-saudara, mungkin tsunami.

Kalau ada tanda-tanda itu, satu, segeralah meninggalkan garis pantai; dua, larilah ke tempat yang tinggi bahkan bisa dipasang tanda-tanda panah ke mana larinya sehingga ada 5 menit, 10 menit, 15 menit, itu selamat. Lima menit pertama, instrumen akan bekerja di mana gempa. Beberapa menit lagi akan diolah apakah ada tsunami atau tidak. Tetapi ingat, menit demi menit berjalan. Menit-menit itu berbahaya, tapi menit-menit itu berharga kalau kita tahu tanda-tandanya dan meninggalkan tempat itu.

Mari kita bangun semuanya itu, protapnya, tanda-tandanya, penjelasannya, latihannya, pengawasannya dan sebagainya. Dengan demikian, meskipun negara kita rawan gempa tetapi, insya Allah dengan mesin, dengan instrumen, dengan alat yang akan segera kita lengkapi dan kesadaran kita, dengan pengetahuan kita, kita bisa menyelamatkan lebih baik lagi.

Saudara-saudara,
Kita memang harus mengetahui semuanya itu secara terinci. Dilatihkan, dipraktekkan. Dengan demikian, karena masih ada pergerakkan-pergerakan lempeng bumi di sekitar kita ini, yang kita tidak tahu kapan, apakah dua tahun lagi, 10 tahun lagi, 100 tahun lagi, di sekitar Cilacap, Kebumen, Purworejo ini, yang penting kita semua sudah siap. Tentu siang dan malam kita berdoa kepada Yang Maha Kuasa, mudah-mudahan jangan ada pergeseran lempeng di daerah ini, di Indonesia yang kita cintai ini. Tapi rahasia alam kita tidak tahu, hanya Allah SWT yang mengetahui. Sebagai umat manusia kita harus siap.

Saudara-saudara,
Tuhan itu Maha Besar. Indonesia yang dibatasi tiga lempeng ternyata di bawah tanah itu terdapat kekayaan alam yang luar biasa. Tambang-tambang macam-macam. Tuhan memberikan anugerah, memberikan nikmat berupa kekayaan alam, tapi Tuhan juga mengingatkan ada bencana, ada gempa yang bisa terjadi. Inilah yang perlu kita ketahui, agar sekali lagi ilmunya kita tahu, keimanan kepada Allah kita perkuat, dengan demikian hidup kita lebih tentram, lebih siap untuk menghadapi apapun juga.

Saudara-saudara yang saya cintai,
Ke depan ini, setelah saya menerima laporan dari pak Gubernur, tentunya Pak Gubernur juga mengetahui apa yang dilaksanakan oleh para bupati dan jajarannya, maka saya memberikan arahan sebagai berikut: pertama, meskipun ini sudah hari ke-4 langkah-langkah untuk mencari saudara-saudara kita yang hilang agar tidak dihentikan. Pengalaman di Aceh, seminggu ada yang kita selamatkan di tengah laut dengan sebuah papan. Dua minggu setelah itu ada yang bisa kita selamatkan lagi, terdampar di sebuah tempat. Tolong jangan dihentikan upaya pencarian saudara-saudara kita yang hilang. SAR atau Search and Rescue itu juga tolonglah dilakukan.

Yang kedua, apa yang sudah dilakukan untuk merawat yang sakit, yang luka teruskanlah rawatlah dengan sebaik-baiknya.Yang ketiga, yang ada di daerah pengungsian yang bisa kembali ke tempatnya, lebih baik kembali. Karena terlalu lama tinggal di daerah pengungsian akan menimbulkan masalah sosial, masalah kesehatan dan lain-lain. Yang belum bisa kembali, tolong dirawat dengan baik dan pastikan bahwa makanan, minuman dan lain-lain bisa kita berikan.Kemudian yang keempat, bekas-bekas sampah, bekas-bekas reruntuhan yang masih ada harap dibersihkan, baik dengan tangan, dengan alat yang ringan maupun dengan dengan alat-alat berat. Ini langkah-langkah tanggap darurat.

Saya mengucapkan terima kasih kepada Pak Gubernur, Bapak/Ibu Bupati yang melaporkan kepada saya bahwa tanggap darurat itu mampu dilaksanakan oleh provinsi dan kabupaten-kabupaten. Saya mengucapkan penghargaan. Ini contoh pemimpin-pemimpin yang bertanggung jawab karena bisa mengatasi pada masa tanggap darurat ini.

Setelah tanggap darurat kita perlu membangun kembali yang rusak-rusak, infrastruktur barangkali, sekolah-sekolah barangkali, rumah ibadah, barangkali jalan dan lain-lain. Pemerintah pusat tentu akan mengeluarkan anggaran. Tentu kami akan membantu pembangunan kembali yang disebut rekonstruksi. Kehidupan nelayan terganggu, perahunya ada yang rusak, perlengkapan-perlengkapan penangkapan ikan banyak yang rusak, pemerintah pusat tentu akan mengeluarkan anggaran untuk membantu memperbaiki semuanya itu.

Oleh karena itu, kepada Pak Gubernur, Pak Bupati, Bu Bupati, saya mintakan dalam rekonstruksi, prioritaskan untuk bisa mempercepat pembangunan sarana kehidupan masyarakat agar ekonomi berjalan lagi. Meskipun sebelum itu pulih Pak Gubernur melaporkan ada bantuan yang disebut dengan Jadup untuk kehidupan sementara sambil kembali pulih pada kehidupan yang dulu sebelum terjadinya gempa dan tsunami.

Tentu disamping membangun kembali prasarana untuk nelayan, kehidupan ekonomi di sini, nantinya juga infrastruktur lain tentunya akan kita bantu dari pusat. Kalau ada anggaran daerah yang bisa dianggarkan, dianggarkan. Pendek kata, pemerintah bertanggung jawab untuk membangun kembali, membantu memulihkan keadaan di tempat ini sebagaimana sebelum terjadinya gempa dan tsunami, bahkan insya Allah lebih baik lagi daerah-daerah yang terkena musibah tsunami kemarin. Itulah langkah-langkah ke depan, dan nanti pada saatnya pemerintah pusat, Wakil Presiden akan datang menyerahkan bantuan rekonstruksi setelah dihitung. Tolong Bapak, Ibu Bupati dihitung dengan Pak Gubernur, dihitung jumlahnya sehingga kita olah nanti dan kita berikan bantuan untuk semuanya itu.

Bapak, Ibu hadirin sekalian,
Itulah yang dapat saya jelaskan. Sekali lagi mari kita pahami mengapa gempa dan tsunami terjadi dan marilah kita sebagai umat, hamba Tuhan Yang Maha Kuasa, bagaimana cara pandang kita, penyikapan kita terhadap musibah itu. Dan kemudian, Bapak, Ibu, Saudara-saudara tahu apa yang dilakukan pemerintah, pemerintah kabupaten dan provinsi dan nantinya dalam rekonstruksi apa pula yang dilakukan oleh pemerintah pusat, juga bersama-sama dengan pemerintah daerah. Tidak ada yang ditelantarkan, insya Allah kami akan bekerja sebaik-baiknya. Berikan masukan, LSM, pers, siapa saja, berikan masukan–masukan yang positif.

Kepada insan pers saya mengucapkan terima kasih dan penghargaan. Banyak sekali liputan-liputan yang baik, yang tepat dan akurat. Dua malam yang lalu ada gempa di Selat Sunda, dua kali. Sejak menit pertama saya ikuti. Menit pertama, menit kedua, menit ketiga, menit keempat sampai menit ke-15, sampai menit ke-20. Saya lihat tayangan televisi dan radio, pers sudah masuk di situ untuk menyebarluaskan, itu bagus. Berarti pers sayang kepada rakyatnya, sayang pada negaranya, sayang kepada masyarakatnya, sehingga semuanya tahu, sehingga dapat melaksanakan langkah-langkah yang tepat. Begitulah harapan rakyat kepada pers kita, media kita, wartawan kita.

Ada sejumlah koreksi memang1-2 pers, 1-2 wartawan yang mengungkapkan fakta yang tidak akurat benar. Ini kalau muncul di televisi bisa memberikan gambaran yang keliru, sehingga jerih payah para bupati, jerih payah para gubernur, semua itu tidak dilihat di Jakarta, dilihat di Sumatera, di Malaysia, seolah-olah beliau-beliau tidak bekerja apa-apa. Mari kita saling bertenggang rasa dalam keadaan seperti ini. Semua serba susah, kurang tidur, bekerja. Mari kita angkat secara bagus, dengan demikian adil dan rakyat kita mendapatkan bantuan yang maksimal.

Sekali lagi terima kasih saya kepada insan pers atas semua itu. Koreksi-koreksi kecil, koreksi kita bersama untuk kebaikan kita bersama. Kalau pemerintah kurang cepat, pemerintah belum sempat membagikan makanan ke suatu tempat dan itu benar, saya terima kasih sekali, supaya kita segera bagikan. Mungkin informasinya tidak sampai pemerintah, mungkin tempatnya belum ketemu dan lain-lain. Tolong berikan seperti itu, dengan demikian mereka saudara kita tidak keleleran, tidak kapiran. Tapi kalau informasinya tidak tepat, tidak benar, tentu menjadi menyusahkan.

Kemudian Bapak, Ibu sekalian,
Saya minta, sekali lagi, terutama di depan, saya mohon sabar, tawakal, tabah, sabar. Tuhan Maha Besar Bapak, Ibu, insya Allah kita bersama-sama melangkah ke depan. Percayakan kepada pimpinan daerah, bupati dengan jajarannya untuk melaksanakan tanggap darurat dan rekonstruksi ini dengan saling percaya, saling bantu-membantu, kompak, utuh, lebih cepat pelaksanaan langkah-langkah kita ke depan.

Saya kira itulah yang saya sampaikan dan setelah ini nanti saya mohon diri kembali ke Jakarta, karena banyak yang harus kita lakukan. Tanah air kita luas, dari Sabang sampai Merauke, 220 juta penduduk, 400 lebih kabupaten dan kota yang juga ada persoalan masing-masing. Tapi percayalah kalau kita kompak kita melanjutkan langkah-langkah besar ini bersama-sama, meneruskan para pendahulu-pendahulu kita, pemerintah-pemerintah sebelum saya, insya Allah banyak yang bisa kita kerjakan.

Indonesia negara yang besar. Meskipun mengalami musibah dan cobaan yang besar, kalau kita kompak, bersemangat, melangkah bersama, hari esok kita akan cerah dan Tuhan akan memberikan kemudahan bagi kita semua. Itulah pesan dan harapan saya Saudara-saudara, semoga Allah SWT memberikan petunjuk, bimbingan dan lindungan-Nya kepada kita sekalian.

Wabillahi taufik wal hidayah, wassalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh.

* * * * *


Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan