Pidato Presiden
Sambutan Acara Ramah Tamah dengan Perintis Kemerdekaan
SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
RAMAH TAMAH DENGAN PARA PERINTIS KEMERDEKAAN, VETERAN, PURNAWIRAWAN, WREDATAMA, WARAKAWURI PAHLAWAN NASIONAL DAN ANGKATAN ‘45
ISTANA NEGARA, 17 AGUSTUS 2006
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Salam sejahtera untuk kita semua,
Yang saya hormati Saudara Wakil Presiden Republik Indonesia beserta Ibu, Para Menteri, Panglima TNI, Kapolri dan Para Pimpinan Jajaran TNI,
Yang saya cintai, saya muliakan para keluarga Pahlawan Nasional, para Pejuang Kemerdekaan, para Veteran, Wredatama, Angkatan ’45 dan para Sesepuh,
Hadirin sekalian yang berbahagia,
Marilah pada hari yang amat bersejarah ini kita bersama-sama memanjatkan puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa karena kita semua masih diberi kesempatan, kekuatan dan kesehatan lahir dan batin untuk melanjutkan ibadah kita sebagai umat hamba Tuhan dan menjalankan peran serta kewajiban kita sebagai warga bangsa tercinta kita.
Sebagaimana yang saya sampaikan pada saat menyampaikan pidato kenegaraan tanggal 16 Agustus kemarin di hadapan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia ada paduan perasaan bagi kita memperingati memperingati Ulang Tahun Kemerdekaan ke 61 ini, antara kebahagiaan dan keprihatinan.
Sungguh bahagia kita setelah mengalami badai, topan, persoalan, berbagai macam ujian dan cobaan. Negara yang didirikan dengan tetesan darah dan air mata ini tetap tegak berdiri. Ujian demi ujian, krisis demi krisis datang silih berganti.
Alhamdulillah, bangsa kita sungguh besar dengan nilai-nilai yang ditinggalkan, yang diwariskan oleh para pendahulu dengan semangat ketegaran dan keuletan sebagaimana dulu yang mendorong keberhasilan kemerdekaan kita, kita masih bisa lakukan dengan baik dan akhirnya sekali lagi bangsa kita selamat, tetap tegak dan berdiri dan sekarang menyongsong hari depannya yang lebih baik insya Allah meskipun tantangan dan ujian masih kita hadapi bersama.
Perasaan yang kedua adalah keprihatinan karena tahun-tahun terakhir ini ada masalah-masalah yang dihadapi bangsa. Apakah itu berupa bencana alam, apakah faktor-faktor eksternal dari luar negeri yang turut berpengaruh kepada upaya kita untuk membangun hari esok yang lebih baik. Tetapi sebagai bangsa yang arif kita harus pandai meletakkan masa lalu, masa kini dan masa depan dengan tepat dan bijak. Melihat masa lalu kita memetik pelajaran, kita bersyukur dan kita berterima kasih kepada beliau-beliau yang telah mendarmakan pengabdiannya bahkan jiwa dan raganya untuk kepentingan bangsa dan negara. Melihat masa kini ada sejumlah tantangan yang kita hadapi untuk mewujudkan cita-cita kemerdekaan yang telah diletakkan oleh para Pendiri Republik, oleh para Pahlawan dan pejuang Kemerdekaan. Melihat kedepan adalah bahwa hanya kita semua bangsa yang kita cintai ini yang bisa mengubah nasih masa depannya.
Oleh karena itu tiada kata lain kecuali kita harus menatap kedepan lebih bersatu melangkah bersama dan kemudian maju. Hanya dengan ikatan tanggung jawab semangat dan pikiran-pikiran seperti itulah insya Allah kita akan bisa melangkah maju menuju cita-cita kemerdekaan dan tujuan kita mendirikan Negara Kesatuan Republik Indonesia ini.
Terkadang ada pikiran dan perasaan barangkali oleh para sesepuh, para senior apakah nilai, sikap dan perilaku kebangsaan yang telah ditetapkan, dibangun dan kemudian diwariskan kepada generasi-generasi setelah itu masih tetap eksis dan masih menjadi ruh, jiwa serta semangat Negara Republik Indonesia yang kita cintai ini.
Dengan segala kerendahan hati saya harus menyampaikan kehadapan para sesepuh, para senior yang ada di Istana Negara hari ini bahwa insya Allah generasi kami yang sedang mengemban amanah untuk melanjutkan kepemimpinan bangsa dan negara ini tentu akan melanjutkan semua apa yang telah dikonsensuskan, apa yang telah diletakkan landasan-landasannya oleh para Pendiri Republik, oleh para pendahulu dan pemimpin-pemimpin terdahulu. Tentu saja setiap jaman mengalami tantangan-tantangannya sendiri, permasalahan datang dan pergi selalu ada dinamika dan perubahan.
Oleh karena itulah dengan tetap memelihara benang merah kesinambungan nilai dan konsensus-konsensus yang telah dirumuskan oleh para Founding Fathers wujudnya, implementasinya boleh jadi tidak sama persis dengan apa yang terjadi pada tahun 40an, 50an, 60an maupun 70an. Begitulah keniscayaan jaman. Demikianlah perputaran sejarah, kelak pada saatnya 30 tahun lagi, barangkali akan muncul pikiran-pikiran itu, generasi kami yang sudah meninggalkan panggung tugas untuk memimpin bangsa dan negara juga akan mengalami hal yang sama tetapi kami mempersiapkan segalanya bahwa tantangan juga akan berubah.
Oleh karena itu yang mereka lakukan saya yakin akan tetap mengalir dan apa yang telah dicetuskan, diwariskan dan dibentuk pada tahun 45 tadi tetapi sekali lagi karena jaman berkembang dan berubah barangkali wujudnya, implementasinya juga bisa tidak persis sama dengan yang dilakukan generasi sebelumnya. Ini saya sampaikan kehadapan para sesepuh, para senior, bapak ibu sekalian untuk membangun ketetapan hati kita bahwa konsensus-konsensus dasar kebangsaan Pancasila, UUD 1945 yang ruh dan jiwanya kita lihat semua dalam Pembukaan UUD itu bentuk Negara Kesatuan Republik Indoensia dan sasanti Bhineka Tunggal Ika atau pruralitas tetaplah menjadi nilai, menjadi jati diri dan tetap menjadi konsensus kita untuk kita pertahankan secara bersama.
Dengan demikian saya yang sedang mengemban amanah dengan Saudara Jusuf Kalla dan semua yang bertugas di pemerintahan ini, tiada lain memohon doa restu dari para sesepuh, para senior. Mudah-mudahan kami bisa mengemban tugas yang tidak ringan tapi mulia ini untuk melanjutkan, meneruskan cita-cita perjuangan yang telah dirintis oleh beliau-beliau yang sudah kembali ke Yang Maha Kuasa dan mudah-mudahan negara kita terus mengatasi persoalan-persoalan yang dihadapi dan berhasil mewujudkan cita-cita dan tujuan perjuangan.
Demikianlah para sesepuh, para senior, bapak ibu sekalian yang dapat saya haturkan pada kesempatan yang membahagiakan ini semoga Tuhan Yang Maha Besar selalu membimbing bangsa kita memberikan jalan pada bangsa dan negara kita jalan Tuhan jalan yang benar untuk menuju masa depan yang baik. Sekian.
Wassalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh.
* * * * *
Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan



