Pidato Presiden

Sambutan Silaturahmi dengan Veteran dan Purnawirawan

 

TRANSKRIPSI
SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
SILATURAHMI DENGAN DENGAN VETERAN
DAN PURNAWIRAWAN TNI/POLRI
ISTANA BOGOR, 26 AGUSTUS 2006



Bismillahirrahmanirrahiim,
Assalamu’alaikum Warrahmatullahi Wabarrakatuh,

Selamat siang, salam sejatera bagi kita semua.

Yang saya hormati saudara Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan,
Saudara Menteri Pertahanan dan para menteri Kabinet Indonesia Bersatu,
Saudara Panglima TNI, Kapolri, Kepala Staf TNI Angkatan Darat, Kepala Staf TNI Angkatan Laut dan Kepala Staf TNI Angkatan Udara,
Saudara Gubernur Jawa Barat, Ketua DPRD Jawa Barat dan Saudara Pangdam dan Kapolda,
Yang saya cintai dan saya muliakan para sesepuh, para senior beserta ibu, hadirin sekalian yang saya muliakan.

Pada kesempatan yang baik dan masih dalam rangkaian hari bersejarah 17 agustus tahun 2006 ini saya mengajak para senior dan saudara-saudara sekalian untuk sekali lagi memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas perkenan rahmat dan ridho-Nya kita semua yang ada diruangan ini dan Insya Allah seluru pejuang kemerdekaan, keluarga Pahlawan Nasional, Angkatan 45, Veteran, Purnawirawan TNI dan ABRI dan prajurit secara keseluruhan juga mengalami hal yang sama untuk mendapatkan semangat, kekuatan, kesehatan lahir dan bathin untuk melanjutkan tugas dan pengabdian kita kepada bangsa dan negara.

Para senior amat memahami bahwa pengabdian kepada Negara tidak mengenal batas akhir. Sebelum saya menyampaikan beberapa hal sekaligus menyampaikan apresiasi saya dalam tanggapan ringkas saya terhadap apa yang disampaikan oleh senior saya Bapak Purbo Suwondo tadi yang sungguh saya berikan penghargaan karena membuka pikiran, wawasan dan hati kita tentang masalah besar yang dihadapi oleh negeri ini. Saya ingin pertama-tama mengucapkan terimakasih dan penghargaan kepada para pimpinan Veteran, Pepabri, Purnawirawan TNI dan Polri yang berkenan memenuhi undangan saya untuk hadir ditempat ini untuk menghadiri acara silaturahim dan komunikasi antara saya sebagai yang mengemban amanah dengan para senior bapak dan ibu sekalian.

Delapan tahun yang lalu ketika saya masih mengemban tugas sebagai Kepala Staf Sosial Politik kemudian Kepala Staf Teritorial TNI di Cilangkap, saya berbicara dengan saudara Sudi Silalahi waktu itu beliau salah satu assisten saya, ‘Alangkah bagusnya kalau setahun sekali menjelang 5 Oktober itu pimpinan TNI melakukan dialog dan komunikasi dengan para senior, para sesepuh membahas masalah-masalah yang berkaitan dengan kehidupan bernegara, tentu kehidupan ke-TNI-an dan pada tanggal 5 Oktober beliau semua hadir, dimohonkan hadir dengan atribut kebesaran sebagaimana waktu beliau masih aktif. Tentu dengan pengaturan tertentu apakah label namanya putih, tetapi yang jelas itu satu-satunya hari ‘A Great Day’ untuk military man, untuk para prajurit dimana semua memiliki hari itu. Terinspirasi dari apa yang saya pikirkan sendiri waktu itu, delapan tahun yang lalu. Saya juga ingin ada tradisi yang baik pada saat rangkaian ulang tahun kemerdekaan seperti ini dalam kapasitas saya sebagai Kepala Negara melaksanakan satu silaturahmi dan komunikasi dengan para pejuang kemerdekaan, keluarga pahlawan nasional, veteran dan tentunya para purnawirawan yang bisa diperluas bukan hanya dari kalangan militer maupun kepolisisan tapi juga dengan kalangan sipil. Ini saya kira satu wadah yang baik untuk saling berkomunikasi, saling mendengar kemudian, harapannya adalah penyegaran komitmen, penyegaran semangat dan bagaimana semua mengemban tugas dan kewajibannya dengan sebaik-baiknya.

Mudah-mudahan forum hari ini menjadi embrio, menjadi satu langkah awal bagi terbangunnya komunikasi yang lebih konstruktif antara pimpinan negara dengan keluarga pejuang dan purnawirawan, harapan kita seperti itu.

Kalau bapak/ibu sekalian sering datang ke Istana Bogor ini, sekali-kali juga ke Istana Negara dan Istana Merdeka, Istana Yogjakarta, saya kira akan banyak sekali kenangan, nostalgia dari bapak/ibu karena para sesepuh dan senior banyak yang menjadi pelaku sejarah yang terlalu sayang untuk dilupakan apa yang terjadi waktu itu, dimana para sesepuh juga menjadi bagian di dalamnya.

Di Istana ini banyak sekali peristiwa-peristiwa besar mulai dari mendiang Presiden Soekarno, Presiden Soeharto terutama kedua presiden kita itu, presiden pertama dan kedua. Karena beliau itu memimpin dalam kurun waktu yang cukup lama tentu banyak sekali peristiwa-peristiwa besar, peristiwa sejarah yang lahir pada waktu itu termasuk keterlibatan, keberadaan peran dari TNI dan Polri didalamnya. Demikian juga Yogjakarta dan tempat-tempat yang lain. Kalau bapak/ibu sekarang memperhatikan di Istana Merdeka, di Istana Negara, di Istana Bogor ini, barangkali yang berubah dan berbeda adalah bahwa selama ini benang merah kesinambungan dari apa yang dilakuakn dari satu generasi ke genarasi yang lain, satu pemimpin ke pemimpin yang lain itu tidak tertata dengan baik.

Mulai kita lakukan suatu penataan benang merah kesejarahan apakah diabadikan dalam buku, dalam film-film dokumentasi, dalam museum ataupun dalam tampilan-tampilan gambar dan lukisan. Saya kira sejak dua tahun yang lalu sudah muncul keenam gambar presiden kita, dari pertama hingga saya Insya Allah seterusnya dan pengganti saya ke depan, dengan demikian generasi kita bukan hanya photonya, tetapi penggalan-penggalan apa yang dilakukan oleh para pemimpin-itu sekali lagi pasti banyak sekali cerita, gambar, dokumentasi yang dilakukan oleh Presiden Soekarno dan Presiden Soeharto agar generasi itu melihat masa lalunya, melihat sejarahnya dengan benar, dengan arif, dengan demikian timbul kebanggaan, timbul kecintaan kepada bangsa, negara dan tanah airnya sendiri. Saya kira ini perlu kita lakukan sebab dunia terus berubah, negara kitapun berubah. Bersalah dan berdosa kita kalau tidak ada kesinambungan pemahaman, kecintaan dari generasi ke generasi lainnya terhadap apa yang dilakukan oleh para pendahulunya, para pendiri republik dan para senior-seniornya.

Dalam konteks itulah, kami akan sering mengacarakan acara-acara ditempat yang bersejarah seperti ini, kalau 17 Agustusan barangkali yang tepat dengan para pejuang, para veteran kemudian harapan saya pimpinan TNI juga melaksanakan yang demikian juga pada 5 Oktober, tetapi akan saya buka komunikasi saya dengan kalangan yang lain menjelang hari teknologi barangkali dengan para ilmuwan, teknolog, peneliti yang terus terang negara kita berada satu klik dibelakang negara-negara berkembang, negara-negara tetangga kita dalam hal teknologi, penelitian dan pengembangan. Ini sebagai contoh komunikasi memang salah satu solusi, komunikasi melahirkan ide-ide besar, pikiran-pikiran yang membangun.

Bapak/ibu hadirin sekalian yang saya hormati,
Yang disampaikan oleh Bapak Purbo Suwondo tadi yang saya pahami sebagai sebuah refleksi sejarah dan terutama diangkat dinamika, pasang surut hubungan sipil-militer. Sipil dam arti kepemimpinan politik dan militer dalam arti TNI, Polisi atau ABRI waktu itu. Dengan segala dinamika serta pelajaran-pelajaran yang bisa dipetik, yang sebetulnya muara dari pikiran Bapak Purbo Suwondo yang saya anggap bernilai sangat tinggi tadi adalah bagaimana sesungguhnya kehidupan bernegara di negeri ini dapat kita kelola dengan baik sesuai dengan nilai, cita-cita, konsensus dasar dari para pendidri republik dulu.

Jadi justru nilai dari apa yang beliau angkat tadi apa kaitannya dengan kerangka kehidupan bernegara, sistem kenegaraan, sistem kepemerintahan, rules of the game, aturan main serta etika politik yang lebih kita junjung tinggi dalam mengelola kehidupan bangsa dan negara ini. Kalau para sesepuh memilki kepedulian yang tinggi, sering merasa gamang, kemudian ingin mendapatkan jawaban apakah kerangka kehidupan bernegara kita ini telah berjalan kearah yang benar, dipahami oleh bangsa ini dengan benar, maka dan juga dikelola oleh para pemimpin-pemimpinnya dengan benar terus terang setelah saya mengemban amanah hampir dua tahun ini, tepatnya pada tanggal 1 Juni tahun ini saya merasa perlu untuk menyampaikan pidato saya, Pidato 1 Juni 2006 yang lalu, tentang pentingnya kita memahami kembali dan kemudian menjalankan kerangka kehidupan bernegara berdasarkan Pancasila.

Saya sudah menyiapkan buku pidato lisan saya pada tanggal 1 Juni 2006 karena sebagian kegamangan, keresahan dari para senior, para sesepuh sedikit banyak sudah ada jawabannya disini, jawaban dalam arti inilah misi kita, tugas kita untuk menyelamatkan kerangka kehidupan bernegara berdasarkan Pancasila yang menjadi jiwa, roh dari UUD 1945 yang sama-sama kita pahami pembukaan yang syarat dengan semua yang dicita-citakan oleh para pendahulu kita. Kemudian kalau Bapak Purbo Suwondo juga mengangkat isu-isu kritis tentang wawasan kebangsaan, tentang bhineka tunggal ika, tentang hubungan negara dengan agama, tentang bagaimana kita dengan dunia, tentang kemandirian versus globalisasi dan lain-lain.

Sesungguhnya dalam buku ini juga ada, tetapi akan saya serahkan sekaligus ini pidato saya 16 Agustus yang lalu baru kurang lebih seminggu lebih di depan sidang paripurna DPR RI dan disitu saya katakan kembali pentingnya kita sebagai bangsa ini untuk melihat kedepan tetapi memetik pelajaran yang besar dari masa lalu kemudian saya mengajak bangsa kita ini memiliki kepercayaan diri yang tinggi tapi betul-betul bersatu. Karena justru yang menurunkan kekuatan kita adalah longgarnya kesatuan dan kebersamaan kita. Dan yang terakhir akan saya haturkan satu buku pidato saya tiga hari yang lalu di depan DPD RI yang justru disini saya berbicara banyak tentang kembali wawasan kebangsaan, tentang kembali bhineka tunggal ika, tentang bagaimana kita ini tidak boleh sama sekali sebagai bangsa yang besar membedakan identitas, suku, agama, daerah, etnis dan lain-lain. Dan hal-hal yang berkaitan dengan yang saya sebut dengan nilai dan konsensus dasar kita Pancasila dan UUD 1945, NKRI dan kemudian bhineka tunggal ika atau yang para senior risaukan sebenarnya ada dalam pikiran dan hati saya.

Tidak mungkin saya yang memahami perjalanan negeri ini saya mendapatkan pendidikan untuk betul-betul cinta, bangga, setia kepada negeri ini sampai dengan puncak resiko sebagai seorang prajurit gugur di medan tugas lantas tidak memiliki semuanya itu sebagaimana yang ada dalam pembukaan UUD 1945, tentu tidak mungkin. Justru Indonesia yang sedang berlubang ini, dalam era transformasi dan reformasi ini yang pak Purbo juga sampaikan dinamikanya, masalahnya, tantangannya saya disatu pihak harus mengatasi semua masalah yang sedang terjadi, memajukan negara kita dengan segala aspeknya seraya memastikan bahwa kerangka bernegara kita, nilai-nilai kita, jati diri kita itu tidak tercabut dan akan hidup selamanya sebagaiman yang tertuang pada pidato saya tanggal 1 Juni 2006 yang lalu. Oleh karena itu yang pertama-tama yang ingin saya komunikasikan ini memerlukan kemunikasi bathin, komunikasi hati bukan hanya komunikasi pikiran. Bahwa sesungguhnya platform kita, komitmen kita, tantangan dan misi kita adalah sama.

Dari situ semua bapak/ibu hadirin yang saya hormati, tadi kalau saya boleh merespon beberapa butir yang sangat mendasar memang bangsa yang baru berusia kurang dari 100 tahun dalam kemerdekaannya, termasuk Amerika di waktu yang lalu, Jepang diwaktu yang lalu, Eropa di waktu yang lalu itu tentu akan mengalami masa jatuh bangun pasang surut karena nation building dan state building itu sedang berlangsung. Setelah melampaui semuanya itu pada periode kemapanannya barulah sebuah bangsa akan kokoh, akan suistanable, akan stabil karena foundamental values, foundamental consensus itu sudah ada. Demokrasi boleh sangat noisy, sangat gaduh siang dan malam bisa parlemennya sangat keras, bisa pemerintahannya juga memiliki aksi-aksi yang mengemuka, tapi satu hal kalau bangsa itu sudah memiliki kesepakatan nasionalnya yang disebut dengan foundemental consensus maka perubahan-perubahan tidak akan mencabut apa yang menjadi nilai, menjadi jati diri dan konsensus-konsensus dasar tadi. Nah kita, We are in the process, mematangkan semuanya itu. Jadi nation building, state building bahkan kalau diteruskan character building, system building itu masih in the making. Apalagi dengan tonggak-tonggak perubahan 66, 98, ini juga masih menyisakan pekerjaan rumah besar sampai betul-betul negeri tercinta ini memiliki kerangka bernegara yang relative mapan, yang tetap harus mengalir dari apa yang tertuang dalam UUD 1945 kita. Dari konteks itu bapak/ibu sekalian sangat dipahami bahwa dinamika hubungan militer (baca: pimpinan-pimpinan militer aktif) dengan presiden-presiden terdahulu terutama Bung Karno dan Pak Harto itu juga mengalami dinamika yang luar biasa karena sekali lagi civil-military relationship itu sendiri. Jangan diartikan sipil dengan militer tetapi hubungan kepemimpinan politik dengan kepemimpinan militer juga masih dalam tahap pematangan.

Tetapi yang jelas bapak/ibu sekalian sesungguhnya jawaban makin kita berikan, saya tidak boleh mengatakan bahwa our constitutions, our law, our system sudah paling baik sekarang ini, sudah yang paling tepat. Tetapi justru pengalaman dulu bagaimana sesungguhnya kalau orang yang sesungguhnya selamatnya negara kita ini karena diplomasi bukan karena militer. Karena militer tidak punya kekuatan apa-apa waktu itu. Tetapi sebaliknya tidak. Tanpa Panglima Sudirman, tidak mungkin diplomasi kita akan berhasil? Haruskah kita dikotomikan, kita konfrontasikan mana yang lebih berjasa ketika negara kita terombang-ambing waktu itu apakah military solution atau political solution. Tidakkah kita liat Monumen Jogja Kembali muncul di Jogjakarta. Kalau kita melihat dari bawah ke atas, keatas, sampai diatas sudah ada tangan seperti ini sesungguhnya adalah perpaduan antara war and diplomacy, karena war is the can do actions of politic by other win sebetulnya. Kemudian meskipun keputusan politik diambil, tetapi kalau tidak diselesaikan, dibantu oleh para jendral ketika akan mempertahankan negeri ini, tidak akan terwujud. Jadi sesungguhnya kalau kita adil melihat perjalanan sejarah maka keberhasilan negara ini, periode demi periode, krisis demi krisis karena paduan apa yang dilaksanakan oleh sisi politik dan apa yang dilaksanakan oleh sisi militer, terutama dalam aspek pertahan dan keamanan dinegeri tercinta ini, kita letakkan dalam konteks itu.

Oleh karena itu, meskipun kalau bapak/ibu pelajari UUD 1945 dengan amandemen yang sudah ada, ketika meskipun saya ditanya oleh politisi, oleh wartawan ketika saya sedang mengikuti pemilu 2004 yang lalu, ‘Pak SBY kalau anda jadi Presiden, bagaimana UUD 1945 itu, apakah akan terus diamandemen atau bagaimana?’. Saya katakan dengan gamblang dan saya pertahankan jawaban saya waktu itu. “sebenarnya tidak ditabukan untuk mengubah sebuah UUD, karena UUD 1945 itu ada pasal tentang itu, tetapi ingat UUD adalah sesuatu yang dasar dari sebuah kehidupan sebuah negara.

Apa tepat setiap tahun dilaksanakan perubahan-perubahan, dilaksanakan amandemen-amandemen yang belum tentu itu klop dengan rohnya, jiwanya dan semangatnya. Oleh karena itu saya punya pendapat saya katakan dua tahun yang lalu, lebih baik moratorium jangan setiap tahun melaksanakan amandemen UUD 1945 kita, konstitusi kita. Coba telaah dalam-dalam, silakan liat rakyat kita, bangsa kita semua dilihat, bagaimana sebenarnya konstitusi kita ini sebagai betul-betul landasan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Saya mendengar apa yang ada diluar dari senior-senior, dari sesepuh I listening too, saya mendengar, saya berterimakasih. Paling tidak para senior punya pandangan terhadap UUD kita sebagaiman saya juga mendengar pandangan dari pihak yang lain tentang konstitusi kita ini. Bagi saya dalam demokrasi semua pandangan harus didengar, semua pendapat harus dihormati tetapi ketika kita harus memilih secara utuh, secara nasional ada aturan mainnya, ada mekanismenya, ada sitemnya, ada konstitusi itu sendiri menjelaskan tentang bagaimana sebuah UUD akan diubah dan akan disesuaikan. Saya hormati semua pandangan, saya dengar semua pandangan itu dengan tentunya karena saya salah satu bagian dari rakyat, meskipun saya kepala negara dan saya presiden tetapi saya hormati proses demokrasi, proses itu dengan demikian bangsa ini akan betul-betul memilih pilihannya yang tepat dan memang menuju masa depan yang lebih baik. Itu berkaitan dengan konstitusi.

Kemudian bapak/ibu dalam UU pertahanan yang baru dikatakan presiden memiliki kewenangan untuk mengerahkan kekuatan Tentara Nasional Indonesia. Dalam hal presiden mengerahkan kekuatan TNI untuk menghadapi ancaman bersenjata harus mendapatkan persetujuan DPR. Kalau dilihat UU itu, sesungguhnya pengerahan kekuatan militer, the use of military force dalam arti development and envelopment itu berada di kepemimpinan politik Presiden dan DPR. Tetapi saya sangat memahami pengalaman di banyak negara pemimpin politik tidak boleh secara sendiri mengambil keputusan pengerahan kekuatan tentara unless mendapatkan saran, pandangan dari jenderal, marsekal dan laksamana, itulah yang kami hidupkan meskipun kita tidak mempunyai National Security Council tetapi Marsekal Joko Suyanto, Jenderal Joko Santoso, Laksamana Slamet Subiyanto dan Marsekal Herman Prayitno, Jenderal Polisi Sutanto. Jangankan masalah sebesar seperti itu, untuk bagaimana kita melibatkan diri dalam peace keeping mission di Libanon dan Insya Allah dalam waktu dekat, kalau mulus semuanya atau bagaimana kita mengelola konflik perbatasan sebentar kemarin dengan Malaysia misalkan, atau pengembangan kekuatan yang baru atau industri pertahanan atau bagaimana masalah Aceh, masalah Papua meskipun saya memiliki otoritas politik to make decision tidak mungkin saya mengambil keputusan tanpa rekomendasi, dan pandangan dari para pimpinan militer, pimpinan kepolisian. Secara pribadi saya mengerti karena saya pensiunan jenderal, tetapi logika dan etika meniscayakan bahwa meskipun otorita ada pada pimpinan politik tetapi dalam mengambil keputusan wajib bagi saya mendengar pandangan, masukan dari para jenderal, laksamana dan marsekal. Dan setelah keputusan politik diambil, dijalankan misi itu pemimpin politik tidak boleh mencampuri urusan para pimpinanTNI, apakah presiden, apakah DPR apakah siapapun tidak boleh. Domin dari para pemimpin militer.

Jadi saling menghormati dimana, meskipun masing-masing memiliki kewenangan meskipun jembatan itu kami buka. Dengan demikian apakah skip, tadi disebut antara Perdana Menteri Sjahrir, kemudian dengan pihak Panglima Sudirman pada saat itu memberikan pelajaran sejarah.

Bapak/ibu para senior yang saya hormati justru itulah bagaimana kita membangun suatu mekanisme hubungan antara pemimpin politik-pemimpin militer menjalankan UU untuk bisa mengambil keputusan secara tepat sesuai dengan konstitusi kita. Saya respon itu Pak Purbo Suwondo dan tentu banyak sekali yang kalau kita teruskan diskusi kita tapi begini bapak/ibu sekalian sebelum nanti saya mendengar empat pembicara lagi, saya ingin dengar dari para sesepuh juga, tapi satu hal yang saya ingin titipkan dalam silaturahim kita pada hari ini.

Bapak/ibu sekalian,
Sesuai dengan amanah konstitusi, kalau jaman Kapten saya dulu pegang buku saku permedah isinya pak, nah sekarang saya harus pegang buku saku UUD1945, sama. Kalau dulu jangan sampai saya salah menghormat, saya salah balik kanan, sekarang saya tidak boleh salah mengambil keputusan apakah dibidang ekonomi, bidang hukum, bidang sosial, bidang politik, luar negeri dan sebagainya. Justru disini tugas kita kebetulan yang saya pimpin sekarang ini adalah melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia, pertahanan dan keamanan. Ingin kita TNI kita makin kuat. Kalau TNI tidak kuat, tidak profesional, tidak modern, tidak terlatih, sistem senjatanya tertinggal dua generasi dibelakang kita tidak bisa memenangkan negara kita ini untuk mencapai kepentingan-kepentingannya, hubungan dengan negara dekat kita bangun.

Yang kedua, memajukan kesejahteraan umum. Bapak sekalian, krisis dulu dahsyat sekali. Dari 6 % pertumbuhan drop 13 %, konstraksi 21 % bapak. Pak Habibie, Gusdur, Ibu Mega bekerja terus untuk naik, naik, naik.

Saya melanjutkan tugas tahun 2004, Alhamdulillah bisa naik 5,1 tahun lalu 5,6 % mudah-mudahan tahun ini meskipun kita menghadapi ujian yang berat, harga minyak seperti ini, dari tsunami ke tsunami, dari gempa bumi ke gempa bumi lagi. Mudah-mudahan kita bisa naik 6 % dengan foundamental ekonomi yang lain, makro ekonomi yang lain agar kalau semua berlangsung kemiskinan bisa kita kurangi.

Karena ksisis, kemiskinan luar biasa tingginya di negara kita ini. Bertahun-tahun kita berusaha mengurangi sedikit sekali, itupun up and down. Pengangguran juga demikian masih tinggi. Dari 100 juta angkatan kerja masih sekitar 10 juta. Negara yang baik 6 % atau 6 juta. Kemudian daya beli rakyat kita.

Jadi kalau ekonomi kita bangun dengan baik ke depan ini, tahun demi tahun infrastrukturnya, iklim investasinya, ekspornya, pengeluaran pemerintahnya, pertaniannya, industrinya, jasanya maka pertambahan itu bisa meningkatkan kesejahteraan yang miskin, yang nganggur.

Alhamdulillah, tahun demi tahun akan kita naikkan gaji termasuk gaji 13, termasuk pensiunan bapak, karena waktu saya memimpin gaji PNS golongan 1 hanya 700 ribu, dengan kondisi ekonomi Indonesia minimal menurut saya 1,5 juta, minimal syukur-syukur bisa 2 juta. Tahun lalu sudah kita naikkan, tahun ini kita naikkan dan Insya Allah akan kita naikkan terus sampai pantas. Nah kalau gaji tamtama pantas, PNS golongan 1 pantas, guru pantas, pegawai medis di Puskesmas pantas, buruh pantas upahnya, petani-nelayan juga begitu, maka saya akan lebih keras jangan korupsi, yang disiplin, yang produktif,jangan elek-elekan dan lain-lain.

Itu memerlukan tingkatan seperti itu, oleh karena itu ini harus paralel. Membangun pemerintahan yang bersih harus, melawan korupsi harus, kalau tidak, gelap masa depan kita. Tapi semua itu harus kita angkat dengan demikian dia memiliki taraf kehidupan yang layak dan bisa fokus pada pekerjaannya.

Pendek kata memajukan kesejahteraan umum akan terus kita lakukan bapak/ibu sekalian, meskipun prospeknya baik tapi saya belum puas karena makro ekonomi bukan tujuan, growth allowed bukan tujuan, sampai betul-betul kemiskinan bisa berkurang, pengangguran berkurang, daya beli rakyat kita orang seorang naik. Jadi Human Development Index harus kita bangun. Mencerdaskan kehidupan bangsa bukan hanya pendidikan sebetulnya, tetapi kita bagaimana menjadi bangsa yang maju, developt nation, pendidikannya, ilmunya, teknologinya dan segala macam. Ini terus terang kita tertinggal dan itu harus serta gegap gempita kita naikkan.

Saya tidak setuju kemarin kalau kita lunak pada nilai pendidikan. Kita tidak boleh kompromi dengan nilai standar, kita tidak boleh berkompromi dengan mutu.


Bapak/ibu sekalian,
Di Malaysia itu 6 untuk bisa lulus nilainya, di Singapura 8. Kita 4 koma sekian saja kemarin masih ada yang ribut, tidak usah lah dipaksakan seperti itu. Kalau kita lunak pada diri sendiri, mau jadi apa? Kita baru 4,25, masa kita tidak bisa mencapai? Kalau 10 orang tidak lulus 1 itu wajar meskipun kita berusaha sepuluh-sepuluhnya lulus.

Maksud saya bapak, kalau human capital di negeri ini tidak disia-siakan, pendidikan benar mulai dari TK, SD, SMP sampai yang tinggi, gurunya bagus mengajarnya, peralatannya ada, gedungnya lumayan dan seterusnya saya yakin karena orang kita cerdas-cerdas. Setahun, 2 tahun, 5 tahun, 10 tahun akan ada human capital dinegeri kita dan disitulah era kita akan datang karena bersatu dengan aspek-aspek yang lain.

Kemudian yang terakhir ke-empat tugas nasional atau tujuan nasional kita adalah ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan perdamaian abadi dan keadilan sosial.

Saya kira bapak/ibu menyaksikan/mengikuti, saya ingin kembali ke politik bebas aktif. Ada satu masa kita lebih dekat ke kiri, ada satu periode kita dekat ke kanan. Saya kira sudah saatnya kita dekat dengan semua. Asalkan mereka tidak mengganggu kepentingan kita, tidak mengganggu kedaulatan kita. Oleh karena itulah kami mengembangkan semua hubungan, Asean sangatlah dekat sekarang ini, dan memelihara komunikasi bahkan per telepon, per surat sangat-sangat dekat. Tetangga kita yang lain, China, Jepang, Australia kemudian Amerika, Eropa termasuk negara-negara Afrika, termasuk negara-negara Islam di Timur Tengah. Bagi kita, persahabatan, kerja sama sama kita bangun dengan negara manapun juga tetapi ada manfaatnya entah pendidikan, entah kesehatan, entah tenaga kerja, entah ekonomi, entah teknologi mesti ada manfaatnya. Tetapi sekali lagi don’t touch our saviournity, don’t touch our national interest.

Itu yang kita kembangkan, dan khusus untuk Libanon bapak/ibu mengikuti, saya sudah menulis surat dua kali ke Sekjen PBB Kofi Annan, saya sudah mengeluarkan statement pertemuan pemimpin Islam di Kuala Lumpur, saya yang menyarankan kepada Perdana Menteri Abdullah Badawi karena beliau chairman saya sudah bicara, dua kali Perdana Menteri Libanon menelpon saya, Senior, please Bapak Presiden kirimlah tentara Indonesia ke Libanon. Saya sudah bicara dengan Presiden Chirac, iyakan bagus kok Indonesia datang ke sana. Jadi bagi saya lebih bagus negara yang melaksanakan kewajibannya daripada masing-masing ingin melakukan sendiri dan tanpa harus peduli pada apa yang harus diperbuat oleh negara. Jadi saya tunjukkan bahwa negara bertanggung jawab, negara menjalankan peran dan fungsinya, kalau kita punya budaya kontribusi dalam Peacekeeping Mission kita lakukan sekarang ini, janganlah masing-masing mencari jalan sendiri-sendiri karena kami juga bertanggung jawab terhadap keselamatan orang perorang di Indonesia ini. Dengan demikian jelas aturan mainnya, jelas konstitusi, jelas kerangka kehidupan bernegara yang benar. Dan memang masih ada sedikit permasalahan saya, dengar Israel katanya belum tentu setuju tapi saya telepon Pak Abdullah Badawi empat hari yang lalu, saya kirim massages ke New York, ke PBB. Dulu kita berkali-kali, bergelombang-gelombang di Sinai juga perang Arab-Israel dan kita tidak memiliki hubungan diplomatik.

Kedua, yang mengundang Indonesia adalah Libanon. Environment pasukan PBB UNIFIL juga di Libanon. Looking bad jika Indonesia yang juga merepresentasikan negara-negara OKI tidak bisa ikut mengawal perdamaian disana. Kami akan berjuang secara politik, dan saya juga berterimakasih kepada Panglima TNI, para kepala staf angkatan yang saya lihat sangat serius menyiapkan kontingen ini, mudah-mudahan beginilah hubungan yang baik ketika politik berjuang kita para jenderal, laksamana dan marsekal menjalankan kewajibannya sehingga yang keluar adalah merah putih, yang berjaya merah putih, yang berhasil merah putih itu dan merah putih adalah milik kita semua.

Saya kira itulah respon saya kepada Bapak Purbo Suwondo tadi dan sedikit laporan saya kepada para sesepuh dan para senior, apa yang sudah kita lakukan sekarang ini, itu banyak sekali, sangat kompleks yang dihadapi negeri ini tapi saya dengan restu para senior tidak akan pernah menyerah, tidak akan pernah mengatakan ini berat dan tidak bisa dilakukan. Apapun hati dan jiwa prajurit akan menjalankan tugas itu dengan sebaik-baiknya.

Terima kasih.

*****


Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan