Pidato Presiden

Sambutan Pertemuan dengan Masyarakat Indonesia di Finlandia

 

TRANSKRIPSI
SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
PERTEMUAN DENGAN MASYARAKAT INDONESIA DI FINLANDIA
KBRI FINLANDIA-HELSINKI, 11 SEPTEMBER 2006


Bismillahirrahmanirrahim,

Assalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh,

Selamat malam,
Salam sejahtera untuk kita semua,

Yang saya hormati, para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu,
Pimpinan dan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat dan Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia,
Para Pimpinan Lembaga Pemerintah non Departemen, BUMN, Kadin,
Yang saya hormati, Duta Besar Republik Indonesia untuk Finlandia, Ibu Iris Indira Murti dan para Diplomat serta Keluarga Besar KBRI Helsinki,
Saudara-saudara, Saudari-Saudari, Keluarga Besar Bangsa Indonesia yang sedang bertugas, sedang berprofesi dan tinggal di Finlandia yang saya cintai dan saya banggakan,

Marilah pada kesempatan yang baik dan insya Allah penuh berkah ini, sekali lagi kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas rahmat dan ridho-Nya kita masih diberikan kesempatan, kekuatan dan kesehatan untuk menjalankan ibadah kita sebagai umat hamba Allah dan melanjutkan tugas dan pengabdian kita kepada bangsa dan negara.

Sebelum saya menyampaikan informasi tentang tanah air kita, ajakan dan harapan saya kepada Saudara, saya akan memperkenalkan diri rombongan yang menyertai kunjungan saya ke Finlandia kali ini. Dari unsur pemerintah, ada pepatah, “tak kenal maka tak sayang”, saya akan memperkenalkan satu persatu secara cepat. Yang ujung sini adalah, Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan, Bapak Widodo AS. Sebelah kanan beliau, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Bapak Boediono. Sebelah kanan beliau, Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia, Bapak Hamid Awaludin. Menteri Perdagangan, Ibu Mari Pangestu. Sekretaris Kabinet, Bapak Sudi Silalahi. Ketua Komisi I DPR RI, Bapak Theo Sambuaga. Ini Ibu Hassan Wirajuda. Bapak Hassan Wirajuda, Menlu kita, sudah mendahului, tadi, ke Kuba, karena ada acara Pertemuan Puncak Gerakan Non Blok yang dilaksanakan di Havana, Kuba, yang insya Allah saya juga akan hadir dalam pertemuan tersebut.

Saf kedua, Saudara Wahab dari DPR RI. Saudara Nusron, DPD RI. Ini termasuk Anggota Dewan Perwakilan Daerah yang paling muda, dari Provinsi Jambi. Sebelah kanan beliau, Ketua Badan Koordinasi Penanaman Modal, Saudara Lutfi. Sebelah kanan, Ketua Kamar Dagang dan Industri Indonesia, Bapak Mohammad Hidayat. Sebelah kanan beliau, Direktur Utama PT Garuda Indonesia, Saudara Emirsyah Sattar. Kenapa? Nanti, ekonomi kita tumbuh, dunia usaha tumbuh, akan melebarkan sayapnya Garuda, insya Allah. Sekarang kita bikin betul dulu Garuda-nya. Kalau dulu banyak ruginya, mudah-mudahan tidak rugi terus-menerus, makin untung, makin untung, makin tumbuh berkembang.

Yang saf di sini, ini adalah, dulu Sekretaris Presiden, sekarang Kepala Rumah Tangga Presiden, Saudara Rusdi. Sebelah kiri beliau, Sekretaris Militer, Mayor Jenderal TNI Bambang Sudibyo, karena TNI harus ada pangkatnya. Kemudian sebelah kirinya, Kepala Protokol Negara, Saudara Handrio Priyo Kusumo. Sebelah kiri beliau, Komandan Pasukan Pengaman Presiden, Mayor Jenderal TNI Surojo Gino. Sebelah kiri beliau, ini Staf Khusus Presiden merangkap Juru Bicara Kepresidenan, siapa namanya? Andy Malarangeng.

Di sini juga hadir sebetulnya para pimpinan media massa, para wartawan senior, saya kenalkan yang tertua saja, Saudara Bambang Harimurty dari Tempo. Banyak di sini ada belasan. Ada satu yang belum saya kenalkan, mantan pacar saya. Kalau di Indonesia disebut Ibu Negara, kalau di Amerika disebut First Lady, kalau di Malaysia disebut Wanita Pertame. Mengapa? Jadi waktu kami berkunjung ke Kuala Lumpur, bulan lalu ya, itu “Kepada Ibu Wanita Pertame”, karena kalau Ibu Negara di sana Kuala Lumpur, “Ibu Negara KL-lah, Kuala Lumpur”, terjemahannya berbeda.

Baiklah, Ibu Dubes dan Saudara-saudara sekalian,
Pertama-tama, saya tentu senang sekali bertemu dengan Keluarga Besar Masyarakat Indonesia yang sedang bertugas, berkarya, belajar di Finlandia ini, tentu pertemuan seperti ini sangat penting untuk menyegarkan kembali, memperkuat kembali kecintaan kepada bangsa dan negara, kecintaan kepada tanah air. Di mana pun Saudara bekerja, bertugas, berkarya, adalah putera-puteri Indonesia yang harus bangga dengan negeri dan tanah airnya sendiri.

Dengan demikian, selama berkarya, bertugas dan sekolah atau mengikuti pendidikan di Finlandia ini, saya titip, junjung tinggi nama baik, citra, kehormatan dan martabat bangsa dan negara yang kita cintai. Saya senang, Ibu Dubes mengatakan bahwa masyarakat Indonesia yang ada di Finlandia ini adalah masyarakat yang baik, kemudian banyak berpretasi. Oleh karena itu saya bangga, saya bersyukur, mudah-mudahan bisa dipertahankan terus dan dikembangkan di waktu-waktu yang akan datang. Kita boleh tepuk tangan Pak untuk mereka-mereka.

Tadi waktu makan malam, saya berbincang-bincang dengan perwakilan dari Saudara-saudara, atau yang sudah bekerja di, ada yang bergerak dalam dunia usaha, ada yang sedang menempuh pendidikan di perguruan tinggi, saya sangat senang, karena pikirannya baik, cita-citanya baik. Insya Allah pada saatnya nanti, apa yang didapat di negeri ini bisa diabdikan, bisa disumbangkan untuk memajukan bangsa dan negara Indonesia yang kita cintai.

Dengan demikian negara kita makin ke depan makin baik, makin maju, karena putera-puteri Indonesia, generasi yang lebih muda dan lebih muda lagi adalah generasi yang lebih baik dibandingkan sebelum-sebelumnya, dengan demikian bisa melanjutkan tugas memimpin bangsa dan negara, melanjutkan tugas untuk memajukan bangsa kita dari Sabang sampai Merauke sehingga tidak tertinggal dengan bangsa dan negara lain, bahkan insya Allah lebih maju lagi, karena kita punya potensi besar untuk maju sebagai bangsa yang besar pula.

Saudara-saudara,
Tujuan kunjungan saya dan rombongan ke Finlandia atau ke Eropa kali ini, pertama-tama menghadiri yang disebut ASEM atau Asia-Europe Meeting. Kebetulan Indonesia, atau saya, menjadi chairman dari sekelumit negara ASEAN dalam pertemuan ini. Oleh karena itu, saya harus, atas nama bangsa Indonesia, bekerja sebaik-baiknya agar penampilan ASEAN dalam ASEM ini baik.

Berlangsung selama dua hari sejak kemarin, dihadiri oleh banyak Kepala Negara dan Kepala Pemerintah dari Asia dan Eropa, 39 negara yang hadir. Dan kita membahas banyak hal, kerjasama Asia dan Eropa di bidang pemeliharaan keamanan dunia, di bidang ekonomi, sosial-budaya, pemeliharaan lingkungan, energi, dialog antar peradaban dan antar agama, dan lain-lain.

Alhamdulillah selama dua hari ini, pertemuan berlangsung dengan baik, sangat terbuka, penuh dengan komitmen, penuh dengan keinginan untuk menggalang, mempererat, memperluas kerjasama dan kemitraan antara Eropa dan Asia, baik antar wilayah atau inter-regional cooperation maupun juga kerjasama antara negara, bilateral cooperation.

Oleh karena itulah, disamping saya menghadiri ASEM, saya juga mengadakan pertemuan bilateral dengan Kanselir Jerman, dengan Presiden Perancis Jacques Chirac, dengan Perdana Menteri Spanyol dan dengan Presiden Komisi Eropa. Tujuannya adalah bagaimana kita meningkatkan kerjasama, untuk kepentingan kita, untuk pertumbuhan ekonomi kita, untuk kemajuan teknologi kita dan lain-lain. Itu kami laksanakan sejak kemarin dan hari ini. Alhamdulillah, kita sepakat untuk lebih meningkatkan kerjasama dan kemitraan di waktu yang akan datang.

Besok, satu hari, saya akan lanjutkan kunjungan kenegaraan ke Finlandia. Sebenarnya saya tahu bahwa tuan rumah sibuk sekali. Tetapi nampaknya Presiden Finlandia, Perdana Menteri Finlandia, Pemerintah Finlandia di sini sangat welcome, sangat menerima dan ingin betul kita juga melaksanakan pertemuan dengan pemerintah di negeri ini, yang mudah-mudahan bisa lagi meningkatkan kerjasama kita yang lebih luas di waktu yang akan datang.

Oleh karena itu akan saya gunakan dengan baik, satu hari besok untuk melaksanakan serangkaian pertemuan dengan para pemimpin di negeri ini, sekaligus juga denga pihak-pihak lain agar mereka lebih mengenal Indonesia. Indonesia negara besar dengan sejarahnya besar, dengan tradisinya yang besar, dengan potensinya yang besar, yang apabila kita kelola dengan baik, bangsa kita bersatu, melangkah bersama, bekerja keras, Insya Allah akan menjadi bangsa yang besar betul. Dan kerjasama, pengabdian, pengetahuan seperti ini amat kita perlukan.

Setelah berkunjung ke Finlandia, Insya Allah lusa, berangkat besok malam tentunya, akan berkunjung ke Norwegia. Satu hari di Norwegia, sama, untuk meningkatkan kerjasama, termasuk kerjasama antara Pertamina dengan perusahaan minyak di Norwegia, karena konon perusahaan minyaknya maju. Mudah-mudahan bisa membawa manfaat bagi ekonomi dan dunia usaha di negeri kita.

Selesai dari Norwegia, saya dan rombongan akan menuju ke Havana, Kuba, untuk menghadiri Pertemuan Puncak Gerakan Non Blok. Mengapa Indonesia perlu hadir? Ingat, Gerakan Non Blok itu berdiri ketika dunia sedang mengalami perubahan besar setelah berakhirnya Perang Dunia Kedua, terjadi gerakan dekolonialisasi. Negara-negara jajahan melawan penjajahnya, melaksanakan gerakan kemerdekaan, dan kemudian muncul sebagai negara-negara baru.

Nah, negara-negara baru itu umumnya tidak masuk salah satu blok, dulu ada Blok Barat, Blok Timur. Blok Barat itu ada Amerika dengan sekutunya, Blok Timur itu Uni Sovyet dengan sekutunya. Banyak negara-negara yang memilih tidak ikut Blok Barat dan Blok Timur, tapi masuk dalam namanya Gerakan Non Blok. Gerakan Non Blok itu digagas, didirikan, dibentuk oleh beberapa pemimpin dunia, diantaranya adalah presiden pertama kita, Presiden Soekarno. Oleh karena itu Indonesia dianggap sebagai founding fathers, pendiri dari Gerakan Non Blok. Oleh karena itu secara moral, setiap ada Pertemuan Puncak Gerakan Non Blok, Indonesia tentu wajib hadir.

Oleh karena itulah, dua hari lagi atau tiga hari lagi saya akan terbang dari Oslo ke Madrid, ke Havana, di sana dua hari kurang lebih. Balik lagi, Havana-Madrid, Madrid-Dubai, Dubai ke Jakarta. Jadi, dalam kunjungan ini saya hitung-hitung perjalanannya lebih kurang tiga hari sendiri, di pesawatnya itu, pulang pergi. Itulah kira-kira yang kami lakukan dalam kunjungan ke luar negeri kali ini.

Saudara-saudara yang saya cintai,
Berita di tanah air, yang penting adalah, setelah Indonesia mengalami krisis delapan tahun yang lalu, akibatnya kehidupan kita mengalami kesulitan di banyak hal, kemunduran, bahkan konflik, macam-macam. Dengan kegigihan kita, pemerintahan demi pemerintahan, lambat laun krisis itu dapat diatasi, meskipun belum sepenuhnya pulih.

Tahun-tahun terakhir ini, kita bukan hanya memulihkan negara kita dari krisis, tapi kita juga melaksanakan reformasi secara sungguh-sungguh dan kemudian membangun kembali ekonomi kita agar tumbuh, bukan hanya kembali seperti sebelum krisis, tapi lebih dari itu, karena dengan reformasi, harapan kita, kesalahan-kesalahan kita di waktu yang lalu, kekurangan-kekurangan kita di waktu yang lalu dapat kita perbaiki, dengan demikian pembangunan negeri kita akan lebih berhasil, dan kalau pembangunannya berhasil maka Insya Allah negeri kita akan lebih maju.

Yang perlu saya sampaikan adalah perkembangan ekonomi kita makin positif. Kalau dulu pertumbuhan ekonomi pada saat krisis itu minus. Bayangkan bukan hanya 1%, 0%, tapi minus. Tahun demi tahun kita naikkan, dan tahun 2004, Alhamdulillah, pertumbuhan kita sudah mencapai 5,1%, tahun 2005 yang lalu mencapai 5,6%, tahun ini, Insya Allah, asal kita bekerja dengan sungguh-sungguh, mudah-mudahan mendekati 6%. Tahun depan harapan kita sudah di atas 6%.

Kemudian tentunya investasi kita akan galakkan. Makin banyak investasi baik dari dalam maupun luar negeri, makin tumbuh usaha kita. Kalau dunia usaha tumbuh, maka pengangguran akan dikurangi, lapangan kerja akan banyak diciptakan. Dengan pertumbuhan, usaha akan membayar pajak lebih banyak kepada negara. Kalau pajak dibayar, penerimaan negara menjadi besar. Penerimaan negara besar bisa untuk membiayai pendidikan, kesehatan, sektor-sektor yang lain, termasuk mengurangi kemiskinan yang ada di negara kita. Itu yang kita harapkan tumbuh.

Ekspor makin meningkat, kemudian cadangan devisa kita, ini ukuran seberapa kuat, sebetulnya salah satu indikator kemampuan ekonomi kita sudah mencapai tingkat yang paling tinggi dalam sejarah kita sekitar 43 milyar Amerika Serikat, niali rupiah kita cukup stabil, saham kita, Jakarta Stock Exchange itu stabil, tapi menguat. Dengan demikian, kalau dari segi makro, perkembangannya baik.

Tantangan kita, yang kami lakukan secara gigih, siang dan malam, agar pertumbuhan ekonomi yang baik ini, kondisi ekonomi makro yang baik ini, benar-benar bisa menciptakan lapangan kerja yang lebih banyak, supaya pengangguran makin kurang. Orang yang bekerja, punya penghasilan. Dengan penghasilan, bisa mencukupi kebutuhan sehari-harinya, minimal. Dengan makin mencukupi kebutuhan sehari-harinya, maka kemiskinan makin berkurang.

Oleh karena itu, kita belum boleh puas dulu kalau ekonominya tumbuh atau makro ekonominya tumbuh, sebelum kesejahteraan rakyat akhirnya tahun demi tahun kita tingkatkan. Kesejahteraan itu apa? Pangan, sandang, papan, kesehatan, pendidikan, rasa aman, energi, lingkungan yang baik, dan lain-lain. Itu yang terus-menerus sedang dilakukan di negeri kita. Tentu ada masalah, ada tantangan, ada rintangan, tapi insya Allah, dengan kerja keras kita, dengan kebersamaan kita, dengan kegigihan kita, kita akan secara sistematis mengatasi masalah-masalah itu dan meneruskan pembangunan kita.

Dua tahun berselang negara kita mengalami ujian, cobaan yang tidak ringan. Tsunami, dua kali datang, di Aceh-Nias, dan kemudian kemarin di Pantai Pangandaran atau Selatan Jawa Barat. Gempa bumi, terjadi di Yogyakarta dan Jawa Tengah, dan beberapa bencana-bencana lain. Ini persoalan yang tidak ringan, karena menyedot waktu kita, energi kita, sumber dana kita dan lain-lain.

Kemudian, dua tahun terakhir ini harga minyak dunia juga mengalami krisis, tinggi sekali, sehingga memukul perekonomian negara kita, sebagaimana dialami oleh negara-negara lain. Ini tidak bisa kita elakkan di luar jangkauan tangan kita. Oleh karena itulah, pemerintah, sambil meneruskan reformasi, sambil meneruskan demokratisasi, sambil membangun ekonomi kita sesuai dengan sasaran-sasaran, kita juga mengatasi semua itu, bencana alam demi bencana alam dan masalah-masalah yang datang ke tanah air kita.
Kita tidak boleh menyerah. Tidak ada masalah yang tidak dapat kita selesaikan. Insya Allah, satu demi satu, makin ke depan, masalah-masalah itu akan kita selesaikan. Dengan demikian, harapan kita semua, makin baik kesejahteraan rakyat kita, makin baik ekonomi kita, dapat kita wujudkan.

Itu yang menonjol di tanah air. Dan tentunya, dalam dunia yang makin mengglobal sekarang ini, tidak ada satupun negara yang tidak bekerjasama, tidak berhubungan dengan negara-negara lain. Orang sering bilang globalisasi. Banyak yang takut pada globalisasi, globalisasi itu ancaman, bikin susah dan lain-lain. Benar, globalisasi itu, di satu sisi, memang bisa menjadi ancaman, bisa membikin masalah yang mengganggu keadaan dalam negeri kita.

Tetapi di sisi lain, sebagaimana yang dapat diambil oleh negara-negara di dunia ini, globalisasi itu juga memberikan peluang, kesempatan, untuk kita bekerjasama dengan negara lain, di bidang ekonomi, teknologi, kebudayaan, pariwisata, dengan demikian, yang pandai mengambil manfaat dari globalisasi, negaranya maju, negaranya berkembang.

Kita bertekad, dalam era globalisasi ini, kita tolak, kita cegah, kita saring hal-hal yang buruk, yang hanya mengganggu keadaan dalam negeri kita. Sebaliknya, yang baik-baik, harus pandai-pandai kita mengambilnya, yang semuanya itu kita arahkan, kita abdikan untuk memenuhi kepentingan negara kita sendiri, bangsa kita sendiri, khususnya rakyat yang kita cintai bersama. Apa yang terjadi di Helsinki selama dua hari ini, dan forum-forum lain, kita letakkan dalam konteks itu.

Kemudian Saudara-saudara yang sedang berkarya, bertugas dan menuntut ilmu, mengikuti pendidikan di negara ini, saya berpesan, laksanakan profesinya dengan baik, kami semuanya menyayangi Saudara-saudara yang sedang mengemban tugas yang mulia di negeri ini. Yang bersekolah, timbalah ilmu pengetahuan dan pengalaman sebaik-baiknya, suatu saat, abdikan untuk kepentingan kita. Yang sedang berprofesi, laksanakan profesinya dengan baik. Ikuti hukum, aturan main, adat-istiadat yang berlaku di negara ini.

Yang sedang mengemban tugas sebagai diplomat, laksanakan diplomasi dengan baik. Banyak cara yang dapat dipilih, tetapi ingat bahwa semua itu haruslah untuk mencapai, memenuhi kepentingan dan tujuan bangsa kita sendiri. Banyak cara yang bisa dilakukan untuk menjalin persahabatan dengan negara sahabat, khususnya Indonesia dengan Finlandia.

Saya titip pada Ibu Dubes dan lain-lain, sekali lagi, junjung tinggi, kehormatan, citra dan nama baik bangsa dan negara kita. Junjung tinggi Merah Putih. Dengan demikian, orang mengenal Indonesia secara baik, secara positif dan bukan sebaliknya. Dengan demikian, keinginan bersama kita untuk memajukan bangsa dan negara kita akan dapat kita wujudkan.

Itulah Saudara-saudara yang dapat saya sampaikan. Besok malam, saya pamit sekaligus, untuk terbang ke Oslo. Kotanya, saya sebetulnya, kalau punya waktu ingin jalan-jalan di Helsinki ini, sejuk, indah, tenang. Tapi nampaknya, yang mengatur jadwal saya tidak memberi kesempatan kepada saya. Jadi, saya titip saja yang bisa ke luar, titip mata untuk melihat-lihat yang indah.

Baiklah, itu yang dapat saya sampaikan. Selamat berkarya, selamat mengemban tugas, selamat berjuang, Tuhan beserta kita. Insya Allah kita bisa bertemu lagi di waktu yang akan datang. Bisa di sini, bisa di tempat yang lain, bisa di tanah air sendiri. Demikian Saudara, terima kasih.

Wassalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh.


* * * * *
Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan