Pidato Presiden

Sambutan Kongres VII Persatuan Insinyur Indonesia (PII)

 

TRANSKRIPSI
SAMBUTAN PRESIDEN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
KONGRES VII PERSATUAN INSINYUR INDONESIA (PII)
DI PARKIR TIMUR SENAYAN, 20 SEPTEMBER 2006



Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum Warrahmatullahi Wabarrakatuh,


Selamat sore,
Salam sejahtera untuk kita semua

Yang saya hormati Saudara Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral beserta Para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu,
Yang saya hormati Saudara Gubernur DKI Jakarta, Saudara Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia, para Pimpinan organisasi profesi, para teknolog, industriawan, cendekiawan, peneliti, khususnya para insinyur yang saya cintai,

Hadirin sekalian yang berbahagia,
Pada kesempatan yang baik dan semoga senantiasa penuh berkah, marilah kita sekali lagi memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, Allah SWT atas perkenan rahmat dan ridho-Nya, kita semua masih diberi kesempatan, kekuatan dan kesehatan untuk melanjutkan tugas dan pengabdian kita kepada bangsa dan negara. Saya ucapkan pertama-tama selamat datang kepada peserta Kongres dari seluruh Tanah Air.

Pada kesempatan yang amat berharga pada sore hari ini, saya ingin mengajak dan akan saya sampaikan melewati tayangan di layar lebar di hadapan para Bapak/Ibu, Saudara dan para insinyur cilik. Harapan saya, bagaimana Indonesia maju ke depan menuju negara yang maju, developed country. Saya harus mengatakan dengan bahasa terang, tidak ada masa depan tanpa teknologi, no future without technology. Saya juga harus mengatakan dengan bahasa yang juga terang, Indonesia akan menjadi lebih baik, jika kita menggunakan teknologi.

Teknologi adalah tantangan, tapi teknologi juga solusi. Saya akan menantang, I will challenge you all untuk menjadikan teknologi sebagai solusi atas masa depan Indonesia yang kita cintai bersama. Saya jelaskan nanti seperti apa tantangannya itu. Oleh karena itu, saya ingin sekembalinya saudara-saudara mengikuti Kongres ke-17 Persatuan Insinyur Indonesia kali ini, saudara muncul sebagai inovator-inovator baru yang mengubah wadah dan masa depan Indonesia, Indonesia menuju negara yang maju pada abad 21 ini.

Hadirin sekalian,
Yang ingin saya sampaikan adalah bagaimana inovasi teknologi memberikan sumbangan kepada pembangunan yang berkelanjutan. Saya berbiacara suistainable development, karena sumber daya yang kita miliki tidak boleh dikatakan senantiasa melimpah ruah. Ada pesan moral kepada kita, agar semua sumber daya yang kita miliki itu harus kita jaga keberlanjutannya untuk generasi yang akan datang, untuk kepentingan di masa depan. Oleh karena itu, saya jadikan satu nafas antara pembangunan dengan keberlanjutannya suistainable development. Dan sekali lagi, mari kita lihat nanti dimana ruang yang tersedia bagi teknologi untuk mengubah masa depan bangsa dan negara kita.

Saudara-saudara,
Ada 6 hal yang secara singkat akan saya sampaikan. Yang pertama adalah mari kita bicara Indonesia abad 21. Saya ingin semua yang ada di ruangan ini adalah orang-orang yang optimis dan bukan orang yang pesimis. Seorang yang pesimis tidak bisa melihat bahwa Indonesia akan bangkit dan akan maju dan menjadi negara yang betul-betul maju. Karena orang yang pesimis melihat segala sesuatu, mengatakan semuanya bermasalah. Pesimis melihat banyak masalah di setiap hal. Sebaliknya orang yang optimis, setiap masalah yang dilihatnya selalu ada solusinya. Demikian juga permasalahan yang dihadapi oleh bangsa dan negara ini pasti ada jalan keluarnya, pasti ada solusinya, kalau kita optimis dan kita inovatif untuk memecahkan masalah itu.

Yang kedua, saya ingin mengajak bahwa negara kita sekarang ini memang berada dalam transformasi. Transformasi yang berlangsung dalam keadaan globalisasi, bukan dalam dunia yang hampa. Ada pertautan erat antara transformasi yang berlangsung di negeri kita dengan keniscayaan, realitas dan kecenderungan globalisasi.

Yang ketiga, saya ingin menyegarkan lantas agenda nasional kita apa sekarang ini. Kemudian saya mengajak saudara memahami apa tantangan terhadap pembangunan nasional, challenges yang kita hadapi setelah kita melakukan refleksi, kilas balik sejak katakanlah tahun 66 sampai sekarang ini, bahkan kalau perlu mundur lagi sejak 45. Bangsa yang cerdas, bangsa yang arif adalah yang bisa memetik pelajaran dari apa yang dilakukan di waktu yang lalu. Oleh karena itu, kita harus bisa mengidentifikasi tantangan dan segera setelah itu, kita harus bisa menemukan solusi dan jalan keluar dari semua permasalahan dan tantangan itu.

Saya ingin kedepankan 12 isu besar Indonesia yang akhirnya mengarah kepada titik yang keenam, apa yang dapat saudara sumbangkan sebagai teknolog, industriawan, cendekiawan, peneliti, insinyur, siapapun cabang profesi yang mendambakan kemajuan negara kita. Artinya, sumbangan seperti apa yang bisa mengatasi 12 isu besar yang ada di negeri kita ini.

Saudara-saudara,
Mari kita lihat apa yang saya maksudkan dengan Indonesia abad 21. Kita mesti memiliki visi, penglihatan yang jauh ke depan, grand strategy. Singkatnya, yang kita tuju adalah pada pertengahan abad 21 ini, Indonesia menjadi negara maju, develop country, bukan lagi negara berkembang. Mari kita dengan percaya diri, membangun dan membangun terus, meningkatkan segala sesuatu yang bisa kita tingkatkan menuju negara maju di pertengahan abad 21 ini. Yang saya maksudkan dengan negara maju pada pertengahan abad 21 adalah Indonesia yang kuat, kuat dalam arti berketahanan, kuat dalam arti mandiri, tidak tergantung mutlak dengan pihak lain yang di dalam dirinya menjanjikan kemajuan menuju kemakmuran yang adil. Itulah Indonesia abad 21 sebagai negara maju yang kita tuju.

Oleh karena itu, ekonomi harus maju, ekonomi yang dibaca satu nafas dengan kesejahteraan rakyat. Ekonomi bukannya untuk memenuhi ekonomi itu sendiri, tetapi harus dialirkan meningkatkan kesejahteraan rakyat, disitu unsur keadilan dan pembangunan ekonomi kita.

Yang kedua, kita memiliki budaya yang menunjang suistainability dan kemajuan kita, dan teknologi menjadi primadona dalam pengembangan budaya dalam artian yang luas itu. Kita memerlukan persatuan diantara kita dan harmoni sosial yang tinggi. Harmoni menjadi sangat langka dibanyak negara di dunia ini dan negara kita pun harus terus memperkokoh harmoni persatuan diantara kita. Demokrasi harus makin mekar, tidak boleh kita mundur ke belakang, tetapi demokrasi yang kita matangkan adalah yang menghadirkan kebebasan sekaligus political order, ketertiban, supermasi hukum. Negara kita akan mengalami satu titik keseimbangan yang baik, demokrasi yang sehat, tapi juga tumbuh dengan baik apabila freedom atau kebebasan bergandengan bersama rules of law atau supermasi hukum.

Kemudian tentu kita ingin negara kita memiliki kemampuan untuk mempertahankan diri, memiliki kemampuan memelihara keamanan di seluruh tanah air, dan sudah pada saatnya, kita kembali sesuai dengan amanat konstitusi meningkatkan peran internasional kita, baik dalam konteks ASEAN, Asia Pasifik, Negara Non Blok, Asia Afrika, Organisasi Konferensi Islam dalam rangka kebersamaan di PBB, bahkan dengan keseluruhan masyarakat global. Inilah tujuannya yang akan kita tuju, pilar atau kerangka dari Indonesia sebagai negara maju.

Saudara-saudara,
Jalan menuju ke negara maju bukanlah jalan yang lunak, yang begitu saja dicapai tanpa keringat, tanpa kerja keras. Oleh karena itu, mari kita bersepakat menuju negara yang maju dari kondisi sekarang ini hanya dapat dicapai kalau kita membangun dan terus membangun. Dalam pandangan saya, setelah kita melakukan kajian sejarah, refleksi dari gerak pembangunan yang berlangsung selama ini, nampaknya kita perlu mengedepankan paradigma-paradigma yang boleh jadi ini sebagai kelanjutan paradigma yang lalu, tetapi boleh juga pembaharuan atau revisi dari yang sudah kita miliki.

Ke depan ada 5 paradigma yang mesti kita camkan baik-baik. Pembangunan nasional tetap harus terpadu, harus semesta, tapi harus sangat memperhatikan dan mendorong dimensi kewilayahan. Era pembangunan yang sentralistik dan konsentrik sudah berakhir, karena tidak sesuai dengan magnitude atau besaran negara kita yang harus kita bangun secara serentak. Oleh karena itu, dengan pembangunan nasional terpadu yang berdimensi kewilayahan, kita harus mendorong pelaksanaan desentralisasi dan otonomi daerah yang efektif.

Yang kedua, sering dikotomikan, apakah pembangunan ini resource based to development, resources based to economic development atau knowledges based development, knowledge based economic development, dua-duanya kita perlukan. Kita punya sumber daya yang Alhamdulillah dalam jumlah yang cukup dibandingkan dengan negara-negara lain, jangan disia-siakan. Tetapi tidak akan berarti apa-apa, tidak memiliki nilai tambah yang tinggi sebagaimana tema dari kongres ini, jika we cannot bring technology on it. Mari kita padukan resources dengan knowlwdge based development untuk menuju Indonesia abad 21 sekarang ini.
Yang ketiga, ini juga tema lama, mari kita yakini benar bahwa yang terbaik untuk negara kita, bahkan untuk negara berkembang yang lain adalah growth with equity bukan growyh without equity. Globalisasi sering mendatangkan permasalahan, kalau kita tidak cerdas meskipun globalisasi sudah mendatangkan banyak kebaikan. Marilah kita pastikan bahwa setiap pertumbuhan di negeri ini, bersamaan dengan peningkatan kesejahteraan.

Yang keempat, bagaimanapun kita harus memperkokoh ketahanan dan kemandirian bangsa, tapi dalam konteks kerjasama internasional yang konstruktif, solid. Kehidupan global dewasa ini yang membuat sebuah bangsa begitu terpisah dan dapat mengisolasi diri ada interconnectedness. Oleh karena itu, dalam rangka itupun kita harus tetap pada posisi dengan arah untuk membangun kemandirian dan ketahanan.

Dan yang terakhir, era untuk pemerintah yang bertanggung jawab segala-galanya, pemerintah yang mengemban segala-galanya sudah selesai dan semua elemen dan warga bangsa memiliki peran, harus berkontribusi dalam pembangunan itu. Oleh karena itu, pemerintah dan pemerintah, civil society , organisasi profesi, pendek kata semua pihak harus menjadi bagian dari pembangunan ini.

Saudara,
Saya ingin menggarisbawahi mengapa growth with equity sangat-sangat kita harapkan dapat diwujudkan di negara ini. Saya katakan tadi, dalam persoalan globalisasi, liberalisasi perdagangan, investasi dan lain-lain bisa saja kalau kita tidak cerdas, tidak awas dan tidak bijak yang terjadi bukan growth with equity, tetapi growth without equity. Kita juga tidak senang growth without equity, tidak boleh rakyat terus-menerus diminta menunggu demi pembangunan. Demi pembangunanlah, ketika ekonomi tumbuh, bangsa tumbuh, rakyat bersama dalam pertumbuhan itu.

Ada yang percaya bahwa kalau ekonomi tumbuh otomatis kesajahteraan meningkat, pengangguran berkurang, kemiskinan berkurang dan lain-lain, sebagaimana yang diteorikan dalam triple down effects. Dalam kenyataannya tidak selalu seperti itu, terutama negara berkembang dan terutama kita bisa mengatakan Indonesia. Oleh karena itu, sejak dini ketika pertumbuhan dilaksanakan harus mengadopsi atau bersama-sama dengan rakyat kita yang harus ditingkatkan kesejahteraannya. Kita harus tumbuh dan maju bersama, bukan hanya negara secara nasional agregat yang tumbuh pertumbuhan itu, tetapi juga secara regional, kedaerahan, maksud saya juga secara individual.

Jika investasi terjadi misalnya, baik dalam maupun luar negeri maka masyarakat sejak awal bersama investasi itu harus diberdayakan dan dilibatkan. Dengan demikian, sejak dini rakyat kita menikmati hasil dari investasi itu. Lebih khusus lagi dalam sektor pertanian misalnya, kita melaksanakan program besar-besaran agrobisnis, agroindustri, tetapi yang terjadi kadang-kadang maju sekali pertaniannya, tetapi petaninya tinggal di tempat, masyarakat petaninya tidak dibawa. Dalam growth with equity, mari kita pastikan kalau sektor pertanian dibangun dan dikembangkan, maka on farm dan off farm itu harus bergandengan. Artinya ekonomi tumbuh, petani dan masyarakat petani juga tumbuh dan berkembang.

Saudara-saudara,
Kita memiliki kewajiban moral dalam pembangunan ini. Terus terang, kita mengalami krisis yang luar biasa pada tahun 1998 dan tahun-tahun setelah itu. Kalau saya ditanya, apa yang dirasakan oleh bangsa Indonesia dari krisis itu. Apa yang akhirnya menjadi penderitaan, kesulitan, permasalahan yang mendasar dari krisis itu, maka paling tidak saya akan mengatakan tiga hal. Pertama kemiskinan membengkak, kedua pengangguran membengkak dan ketiga hutang membengkak. Oleh karena itu, solusi ke depan pembangunan ekonomi ke depan haruslah touching the fundamental issue dari negara kita setelah krisis. Semua upaya di Pusat, di Daerah, Nasional, Provinsi, Kabupaten, Kota, haruslah betul-betul ke depan ini terus-menerus mengurangi angka kemiskinan, mengurangi angka pengangguran dan kemudian mengurangi hutang yang sudah di luar kepantasan kita untuk memenuhi kewajiban pembayaran hutang itu.

Kalau kita ingat semua itu ada sekelompok masyarakat kita yang terlemah, yang rawan, yang gamang, yang cemas melihat masa depannya dan penuh ketidakpastian. Itulah yang harus kita tolong, kita selamatkan, we have to rescue them, agar terbebas dari kondisi seperti itu. Oleh karena itu, solusinya adalah mari pertumbuhan yang ada ini kita arahkan langsung untuk memenuhi kebutuhan pangan mereka. Terus terang beberapa daerah belum aman dari ketahanan pangan, sandang, papan, kesehatan, pendidikan, energi, rasa aman, lingkungan yang sehat dan lain-lain.

Ini yang saya maksudkan, jadi saudara ketua umum Persatuan Insinyur Indonesia mengatakan bahwa pembangunan kita ini harus pro growth, tapi dibaca satu nafas pro growth, pro poor dan pro job. Orang yang menganggur kehilangan kepercayaan diri merasa ditinggalkan, dipermalukan, tidak berguna. Mereka mudah diajak untuk yang tidak-tidak, diprovokasi, diakreditasi bisa terlibat dalam kejahatan. Mari kita selamatkan dengan mengurangi pengangguran, menciptakan lapangan kerja dengan efek yang akhirnya berkembang secara positif. Sepuluh tahun ke depan beberapa agenda dan prioritas yang perlu kita lakukan adalah kembali kita harus secara sistematis, tapi sangat serius mengurangi kemiskinan, terutama memberikan atau meningkatkan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan minimal sehari-hari, purchasing power. Jangan hanya dilihat GDP dibagi jumlah penduduk. GDP kita Alhamdilillah sekarang membaik angkanya sekitar 3.200 trilyun rupiah, 3.200 sampai 3.500 insya Allah dalam tahun depan ini, sehingga income per capita kita, pre crisis level 1.200 sekarang menuju ke 1.500. Kalau dilihat statistik itu fine, bagus. GDP dibagi penduduk, kena. Tapi mari kita lihat satu demi satu sampai daya beli orang-seorang, daya beli dan penghasilan rumah tangga demi rumah tangga, itu harus kita lihat.
Kemudian yang kedua, penciptaan lapangan kerja terutama yang masih menganggur akan memiliki penghasilan untuk hidup.

Saudara-saudara,
Kebijakan pemerintah sangat jelas bagi yang sudah bekerja, buruh, tenaga kerja kita lindungi mereka, lindungi hak-haknya, kita bikin penghasilannya pantas, baik dengan harapan mereka juga disiplin, produktif. Kalau disiplin, produktif, usaha tumbuh. Kalau usaha tumbuh tidak ada PHK, selamat dan aman buruh itu. Usaha tumbuh, terbuka lapangan kerja yang baru, terserap itu yang menganggur. Dengan usaha tumbuh, pajak masuk, penerimaan bertambah, negara punya kemampuan untuk meningkatkan anggaran pendidikan, kesehatan, pengurangan kemiskinan dan lain-lain. Lapangan kerja sangat penting. Pertumbuhan ekonomi bagaimanapun ekonomi harus tumbuh, tetapi berkualitas. Ekonomi tumbuh dari sisi demand, dari sisi supply, para ekonom tahu semuanya itu, dan lebih-lebih kita harus betul-betul memajukan pilar-pilar utama pertanian, industri dan jasa di negara kita ini.

Ketahanan pangan, terutama beras, kita ingin tahun 2009-2010 dan ke depan makin rasional antara apa yang kita sediakan untuk bahan pangan kita dengan meledaknya, meningkatnya kebutuhan rakyat kita dalam arti keseimbangan dalam supply dengan demand. Kita ingin makin ke depan makin berswasembada dalam beras. Meskipun tahun demi tahun telah susut import kita dari 4 ton, 3 ton terus tahun lalu hanya sekitar 200 ribu sekian ton, tetapi masih ada bencana alam, masih ada sortage. Niat kita adalah makin cukup makin cukup. Dengan demikian, menghadapi ketidakpastian bencana alam, gagal panen, ada kesediaan stok kita. Bukan hanya beras, kita ingin kedelai, jagung, daging sapi dan gula itu mulai memiliki ketahanan yang cukup untuk tahun-tahun mendatang.

Kemudian saudara-saudara, ketahanan energi, energi menjadi persoalan global saat ini. Tidak ada bangsa yang tidak menghadapi masalah energi, termasuk penghasil energi sendiri. Lonceng sudah kita bunyikan. Tahun lalu sudah kita keluarkan new energy policy. Pertama, diversifikasi harus melepaskan diri dari ketergantungan kita pada fossil based fuel. Gunakan gas, gunakan batubara dengan tepat, gunakan refuel resources, gunakan bioenergy. Mari kita menjadi bangsa yang hemat energi, efisien. Kita tantang saudara-saudara bagaimana transportasi lebih efisien, bagaimana kita bebas makin kecil ketergantungan kita dengan fossil based energy dan lain-lain. Indonesia masih boros energi, belum hemat energi. Memerlukan way of life, memerlukan cara pandang, memerlukan gerakan nasional seraya inovasi teknologi membikin teknologi kita lebih suistainable, lebih berkecukupan.

Kita ingin pemerintah daerah makin berkapasitas, sehingga perannya makin konstruktif karena memang pembangunan kita lebih banyak berdimensi kewilayahan sekarang ini. Mereka adalah menjadi simpul-simpul pertumbuhan, bukan hanya menggantungkan tetesan dari penerimaan nasional, tetapi mereka adalah sumber-sumber penerimaan yang secara komulatif, secara agregatif, secara nasional menjadi penyumbang terbesar dari pendapatan ekonomi kita. Semuanya itu bisa dilaksanakan saudara-saudara, kalau kita punya good governance. Kalau pemerintahannya korup, pemerintahannya melaksanakan pemborosan, pemerintahannya tidak responsif, pemerintahannya tidak bertanggung jawab, begitu-begitu saja, tidak inovatif, jangan harapkan 1.2.3.4.5.6 itu berlangsung. Kita harus menggunakan bahasa terang, mari kita bicara dengan bahasa terang di seluruh Indonesia.

Yang terakhir adalah, semua itu bisa kita lakukan kalau lingkungan dalam negeri kita stable, tertib, aman. Mahal sekali harga keamanan. Lihatlah Timur Tengah, lihatlah negara-negara yang sekarang siang dan malam terjadi kekerasan dan konflik. Mari kita bikin negara kita betul-betul stable, tertib dan aman, agar semua yang ingin kita wujudkan itu dapat kita wujudkan dengan baik.


Saudara-saudara,
Setelah saya bicara Indonesia abad 21, saya rasanya ingin menyampaikan tentang apa yang terjadi di negeri kita, what’s going on? Karena diantara kita kadang-kadang gamang, kadang-kadang apa Indonesia bisa maju, apa begini terus negara kita, mengapa ada gaduh disana, gaduh disini? Mari kita lihat. Indonesia memang dalam transformasi, melaksanakan transformasi menuju masa depan yang lebih baik dalam globalisasi, dalam era globalisasi. Akan kita lihat disitu, bahwa beberapa karakteristik dari transformasi mesti kita mengerti.

Reformasi adalah proses yang dinamis, penuh dengan tantangan. Tidak ada negara yang melaksanakan reformasi dan transformasi mulus begitu, up and down, banyak godaan, pasang surut, bumpy, dan lain-lain. Lihatlah China, setelah mendiang Mao Tze Dong meninggal digantikan mendiang Don Xiou Ping sejak 1978 sampai sekarang, terus melaksanakan reformasi dengan segala pasang surutnya, tidak mudah. Lihatlah India setelah Nehru, kemudian Razif Gandhi mulai pembaharuan Namounhand Singh yang sekarang Perdana Menteri India, tidak mulus, tetapi akhirnya kita melewati masa-masa krisis. Rusia, Gorbachev, pas Glasnot Perestroika tidak bisa mengendalikan, muncul Yeltsin, sekarang Putin terus melaksanakan pembaharuan meskipun menghadapi tantangan yang berat.

Itulah transformasi we have to go through, harus kita lewati, harus kita lalui. Jangan cemas, jangan merasa bahwa ini salah. Semua kita lewati dengan arah yang benar, dengan keyakinan yang benar, dengan kerja yang benar dari kita semua. Yang kedua di Indonesia yang kebetulan, ndilalah kita melaksanakan reformasi dalam skala yang besar pada saat kita baru mengalami krisis yang luar biasa. Disitulah bersama, jadi satu mengatasi krisis banyak sekali melaksanakan perubahan kadang-kadang dramatis dengan skala yang besar itu yang terjadi sejak 1998 yang lalu.

Yang kedua, tidakkah kita lihat perubahan yang dramatis dibanyak bidang. Dalam bidang politik demokrasi kita seperti ini, tidak terbayangkan 10 tahun yang lalu, 20 tahun yang lalu, tapi mesin demokrasi berjalan terus. Yang kedua ketatanegaraan. Dulu MPR lembaga tertinggi Negara sekarang MPR, DPR, DPD sama. Dulu hanya Mahkamah Agung, sekarang Mahkamah Agung, Mahkamah Konstitusi, Komisi Yudisial dan sejumlah lembaga-lembaga negara. Kita harus belajar membangun kultur, mekanisme hubungan diantara lembaga-lembaga negara ini yang semuanya ini sekarang in the making, mencari tatanan, mencarai simetri dan hubungan yang baik.

Di bidang pemerintahan, desentralisasi otonomi daerah sangat berbeda dengan sentralisasi. Dulu presiden, menteri base off, tidak mungkin sekarang pembangunan seperti itu. Saya katakan berkali-kali sebagai presiden, di kanan saya adalah para menteri yang membidangi sektor-sektor, di kiri saya para gubernur yang membidangi daerah-daerah. Pertautan itulah menjadi sangat penting. Ini memerlukan perubahan mind set, paradigma dari sentralistik menjadi desentralistik. Dua-duanya harus siap. Yang sektoral harus siap yang regional juga harus siap.

Kemudian peran TNI, demi perubahan besar dan ini harus berlangsung reformasi TNI, berhenti dari politik praktis, kembali kepada jati dirinya, kembali kepada profesionalitasnya. Ini semua harus berlangsung. Kehidupan pers, negara lain mengatakan sangat maju, sangat bebas, harus terus berlangsung sampai nanti. Ada equiliribrium, karena sekali lagi freedom mesti bergandengan dengan rules of law. Freedom of the press mesti bergandengan dengan rules of law juga. Nah disitulah akan terjadi satu keseimbangan keseimbangan baru yang menandai mekarnya demokrasi yang sehat. Kita harus jalani semuanya ini, tapi jangan kehilangan arah sambil terus-menerus mengelola, mencari dan membangun equilibrium yang baru.

Inilah era kita, tahun-tahun mendatang masih harus kita hadapi, tahun-tahun berikutnya lagi masih harus kita lalui. We have to go through sekali lagi, tetapi Insya Allah kalau kita betul-betul punya visi, punya grand strategy, jelas yang ingin kita lakukan, bagaimana memadukan sumber daya dengan teknologi dan lain-lain yang berkaitan dengan itu, saya yakin arah perjalanan bangsa ini akan benar dan pada saatnya kita akan memasuki era yang jauh lebih baik dari era sebelumnya.

Agenda nasional kita sekali lagi, saya ingatkan reformasi harus berjalan terus, demokratisasi tengah berjalan harus kita selamatkan menjadi negara demokrasi yang sehat dan konstruktif dan kemudian pembangunan kembali pasca krisis harus kita galakkan, bukan hanya kembali kepada pre crisis level, keadaan sebelum krisis tetapi lebih dari itu, lebih baik dari keadaan sebelum krisis.

Saudara-saudara,
Mari kita melihat diri kita dengan jujur, dengan terbuka dan obyektif. Pembangunan nasional yang kita laksanakan menghadapi tantangan yang tidak kalah fundamentalnya. Pertama, Indonesia sekarang ini memang masih memiliki kondisi sebagai negara berkembang. Kemiskinan, pengangguran, pendidikan dan kesehatan yang belum tinggi, infrastruktur yang belum lengkap, inilah yang kita miliki apa adanya. Jauh lebih baik dibandingkan 30 tahun yang lalu, tapi belum seperti dimiliki negara-negara maju. Kita pun merasa persoalan kemiskinan, pengangguran, pendidikan, kesehatan dan infrastruktur ini masih persoalan yang fundamental.

Yang kedua, karena krisis hutang kita tetap, meskipun dari tahun ke tahun ada perbaikan. Tahun 2000, rasio hutang terhadap GDP 80%, tinggi sekali. Tahun-tahun berikutnya lagi susut. Tahun 2004 sudah 53,4%, tapi masih lebih dari 50%. Tahun 2005, 48% dan 2006 dibayangkan jauh lebih rendah di bawah itu, karena perbaikan nilai tukar yang stabil dan upaya kita memenuhi kewajiban pembayaran hutang. Tapi bagaimanapun hutang itu masih besar harus terus-menerus kita kurangi. Sementara kewajiban hutang masih besar, investasi yang kita harapkan belum sepenuhnya sebagaimana yang kita harapkan. Masih banyak investasi yang datang ke negara-negara lain yang dianggap iklimnya lebih bagus, Vietnam, China, India dan negara-negara lain. Oleh karena itu, saya mengatakan itu sebagai suatu isu, tantangan bagi pembangunan kita.

Berikutnya lagi adalah memang rekap revital pasca krisis dan reformasi juga belum rampung, masih berjalan. Oleh karena itu, masih ada kekurangan-kekuarangan, masih ada hal-hal yang belum kondusif bagi kerjasama internasional bagi pertumbuhan ekonomi di dalam negeri sendiri yang akui. Kemudian tantangan khas demokratisasi, ada.

Dan yang terakhir kompetisi dan dampak globalisasi memang harus pandai-pandai kita mengelolanya. Kita harus memiliki daya saing yang cukup dibandingkan dengan negara-negara lain, tapi kita harus bisa menyiasati, mengalirkan sumber-sumber kemajuan dari globalisasi seraya memperkuat, meningkatkan kemampuan, ketahanan dan kemandirian kita. These are our challenges, ini semua. Oleh karena itu, dari kondisi ini, dengan tantangan ini mari kita melakukan sesuatu dan akan dapat kita lakukan, oleh karena itu pertanyaan kritis buat saya adalah, dengan semuanya itu saya tetap memiliki keyakinan, bahwa pembangunan di Indonesia harus berhasil. Dan untuk berhasil, apa yang dapat disumbangkan oleh teknologi. Mengapa saudara-saudara saya yakin bahwa Indonesia mesti berhasil dalam pembangunannya? Thesis dasar saya adalah potensi dan modal Indonesia itu besar, jika dibangun dan dikelola dengan baik akan membawa Indonesia menjadi negara yang maju, adil dan makmur. Orang sering sinis dengan istilah adil dan makmur, ah itu dongeng Pak, ah itu wayang. Tidak, suatu saat barangkali mungkin generasi yang lebih muda, kalau semua yang tadi kita jalankan dengan benar. Sumber daya yang kita miliki dikelola, dibangun, brings technology sampai kita. Dengan demikian, dengan sinis terhadap kata-kata maju, adil dan makmur, someday, suatu saat akan sampai pada keadaan seperti itu.

Yang kedua memang ada prasyarat dan kunci keberhasilan. Pertama adalah visi dan strategi yang tepat, harus punya kita kepemimpinan dan manajemen yang efektif di seluruh negeri ini mulai dari Presiden, Menteri, Gubernur, Bupati, Walikota, pimpinan profesi, pimpinan organisasi semua harus menjalankan misi kepemimpinan dan manajemen yang bagus. Kemudian setelah kita punya dua ini, tetaplah diperlukan togetherness, kebersamaan dan hard work, kerja keras dari seluruh komponen bangsa. Negara-negara yang maju punya tiga-tiganya ini. Kita mesti punya dan kita bisa punya, karena semua itu dapat kita bangun dengan gamblang, dengan maksud saya dapat kita bangun dengan mudah, dengan lebih fokus lagi.

Saudara-saudara,
Tadi dikatakan oleh para all engine to work growth, saya juga ingin engine to a growth, growth dalam arti perkembangan yang lebih besar, lebih dari sekedar economic growth. Adalah bagaimanapun penguasaan dan penggunaan ilmu pengetahuan dan teknologi mutlak, bukan hanya penting tetapi mutlak. Yang kedua, kecerdasan mengambil manfaat dari globalisasi. Yang ketiga, pendayagunaan dan pengembangan natural recources yang kita miliki dengan capital yang ada. Yang pertama adalah natural resources, capital physical infrastructure yang sudah ada jalan, bangunan, jembatan, harbour, bandara dan lain-lain jangan disia-siakan. Human capital, mari kita perbanyak, kita tingkatkan sumber daya manusia kita menjadi capital yang betul-betul kuat dan tinggi. Jangan lupa social capital kita tingkatkan, kemampuan pendanaan dengan kerangka yang baik, yang sehat mudah-mudahan semakin ke depan pendanaan nasional kita makin sehat. Dan yang terakhir adalah technology capital yang sudah kita miliki, yang Insya Allah dapat dikembangkan lebih pesat lagi.

Dua belas isu besar saudara-saudara, itu PR bagi para teknolog, cendekiawan, industriawan, peneliti, insinyur. Ketahanan pangan, 220 juta rakyat kita butuh pangan, mari kita bikin kita berkecukupan. Dari defisit, cukup, syukur-syukur suatu saat surplus. Ketahanan energi, industri berkembang, komersial berkembang, rumah tangga berkembang. Mereka memerlukan energi semua, termasuk transportasi, listrik, bahan bakar dan yang lain-lain.

Yang ketiga, air bersih. Hati-hati air bersih menjadi masalah global makin kritis. Mari kita selamatkan air kita menuju ke ketahanan air, lingkungan jangan dirusak. Inilah yang kita sebutkan fuel. Satu, dua, tiga, empat food, energy, water suistainability. Ini butuh inovasi teknologi, ini butuh way of life yang baru, ini butuh national campaign untuk membikin, kita tidak menyia-nyiakan sumber daya kita menuju ketahanan air bersih dan lingkungan yang tetap lestari dengan membawa teknologi di dalamnya. Bencana alam akan kita hadapi, selamatkan, bawa teknologi untuk menghadapi itu. Pendidikan dan kesehatan merupakan hal penting dalam membangun human capital. Mari kita lakukan sesuatu juga dengan sentuhan teknologi. Transportasi, bikin makin hemat, makin hemat, makin irit, makin irit. Kemudian pertanian di bidang jasa kita berkepentingan dengan produktivitas dan daya saing. Pertahanan, industri pertahanan kita dikembangkan lebih mandiri lagi kita, jangan tergantung terus kepada industri negara lain. Inilah yang sebelas yang sangat penting untuk kita kembangkan, ICT untuk membikin good governance, untuk mengembangkan daya saing bisnis kita, untuk meningkatkan dunia pendidikan kita dan good governance itu sendiri.

Saudara-saudara,
Dua belas inilah yang saya ingin betul putra-putri terbaik bangsa. Saudara-saudara PII melakukan langkah-langkah cerdas untuk mengatasi ke-12 isu besar ini. Dengan harapan, saya seperti itu, maka saudara bisa menjawab pertanyaan saya yang terakhir. Saudara harus menjawab bukan jawaban saya ini, jawaban PII.
Saya tunggu, saya menunggu, rakyat Indonesia menunggu, sejarah menunggu, masa depan bangsa menunggu, agar kaum teknolog dalam arti luas bisa menyumbangkan kemampuannya dalam bentuk inovasi teknologi.

Dengan pesan dan harapan itu, dengan memohon ridho Allah SWT seraya mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim Kongres ke-17 Persatuan Insinyur Indonesia dengan resmi saya nyatakan dibuka.

Assalamu’alaikum Warrahamatullahi Wabarrakatuh.


*****




Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan