Pidato Presiden

Orasi Ilmiah Penganugerahan Gelar Doktor Honoris Causa Universitas Andalas

 

TRANSKRIPSI
ORASI ILMIAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
PENGANUGERAHAN GELAR DOKTOR HONORIS CAUSA UNIVERSITAS ANDALAS KEPADA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
KAMPUS UNIVERSITAS ANDALAS, PADANG-SUMATERA BARAT
21 SEPTEMBER 2006


Bismillahirrahmanirrahim,

Assalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh,

Salam sejahtera untuk kita semua.

Yang saya hormati para Pimpinan Lembaga-Lembaga Negara dan para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu,
Yang saya hormati Saudara Gubernur Sumatera Barat, Pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Sumatera Barat dan para Pimpinan dan Pejabat negara yang bertugas di Sumatera Barat, baik dari unsur Eksekutif, Legislatif, Yudikatif maupun TNI dan Polri,
Yang saya hormati para sesepuh, para Pimpinan Perguruan Tinggi di seluruh Sumatera Barat,
Yang saya muliakan para alim ulama, Ninikmamak, Cadiak Pandai dan Bundo Kanduang,
Yang saya hormati Saudara Rektor beserta seluruh Pimpinan Universitas Andalas,
Yang saya muliakan Sidang Senat Guru Besar Universitas Andalas,
Yang saya hormati Saudara Promotor dan Tim Pertimbangan Pemberian Gelar Doktor Kehormatan Universitas Andalas,
Yang saya cintai segenap Civitas Akademika Universitas Andalas,


Hadirin yang saya muliakan,
Marilah sekali lagi, kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT yang senantiasa membimbing dan memberikan pencerahan kepada kita. Tak terkira rasa syukur kita kepada Allah atas segara rahmat yang telah diberikan kepada kita, orang-seorang dan kepada rakyat, bangsa dan negara. Hanya dengan sentuhan kasih sayang Allah SWT-lah, kita berhasil melalui masa-masa sulit dan secara bertahap membenahi diri kembali. Secara khusus, puji dan syukur juga kita panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa yang telah memberikan kesempatan bagi Universitas Andalas untuk bisa berkiprah melahirkan anak-anak bangsa pemikir, serta untuk bisa berkiprah dalam mengembangkan kearifan, pengetahuan, ilmu dan teknologi bagi kemanusiaan, maupun bagi kemajuan bangsa kita.

Pada kesempatan Dies Natalis ini, ijinkan saya secara khusus mengucapkan selamat berhari jadi. Semoga hari-hari mendatang semakin besar sumbangan Universitas Andalas bagi rakyat, bangsa dan negara yang kita cintai bersama. Pagi ini, sebagai pribadi, scholar dan Presiden Republik Indonesia, saya menerima kehormatan dari Universitas Andalas. Kehormatan ini saya terima dengan penuh rasa syukur dan tanggung jawab sebagai Doktor Kehormatan di bidang Pembangunan Pertanian Berkelanjutan. Untuk itu, saya ucapkan terima kasih dan penghargaan kepada Senat Guru Besar dan Tim Pertimbangan Pemberian Gelar Doktor Kehormatan Universitas Andalas.

Hadirin yang saya muliakan,
Hari ini, di mimbar yang terhormat ini, ijinkan saya sedikit bercerita tentang bergulatan pemikiran dan batin saya tentang petani dan pertanian, tentang rakyat Indonesia. Setelah itu, secara khusus akan saya sampaikan gagasan saya tentang pembangunan pertanian berkelanjutan sebagai tahapan yang harus kita masuki, setelah kita lalui tahapan revolusi hijau, green revolution dengan segala kelebihan dan kelemahannya.

Sebagai anak bangsa yang dilahirkan dan dibesarkan di daerah pertanian tandus di bagian Selatan Jawa Timur, sejak kecil saya telah ikut merasakan suka-duka dan perjuangan keras kaum petani untuk menyambung kehidupan sehari-harinya. Dalam bentangan waktu itu, saya pun menjadi sangat akrab dengan nafas, nilai dan cara hidup atau way of life dari sebuah peradaban yang khas, tiada lain peradaban pertanian dan di dalamnya peradaban masyarakat petani.

Dalam dasawarsa-dasawarsa berikutnya, ketika saya mendapatkan kesempatan untuk tahu lebih banyak tentang bangsa dan Tanah Air kita, saya pun makin tahu, bahwa kehidupan dan peradaban pertanian adalah wajah utama kehidupan bangsa Indonesia. Oleh karena itu, setiap cita-cita dan pemikiran untuk mengubah nasib dan masa depan bangsa kita, wajiblah kita untuk memikirkan, bahkan barangkali harus dimulai dengan memikirkan nasib dan masa depan masyarakat petani kita.

Ketika saya mendapatkan kesempatan untuk memimpin prajurit-prajurit TNI Angkatan Darat di Sumatera bagian Selatan, kedekatan saya dengan dunia pertanian makin kuat, disitulah sambil mengemban tugas pokok saya sebagai Panglima Daerah Militer II Sriwijaya, saya banyak belajar dan mendalami segi-segi pertanian. Bahkan dalam batas-batas tertentu, saya turut mengembangkan kegiatan pertanian di tempat-tempat, dimana prajurit Sriwijaya berada dan bertugas.

Dengan keyakinan yang makin kuat, bahwa pertanian adalah pilar penting dalam kehidupan dan pembangunan bangsa Indonesia tahun 2001 sampai 2004, saya mengikuti Program Doktor di Institut Pertanian Bogor dengan jurusan ekonomi pertanian. Saya sungguh ingin memiliki pengetahuan yang lebih mendalam tentang pertanian dan pertautannya dengan ekonomi. Desertasi yang saya susun, Pembanguan Pertanian dan Perdesaan sebagai Upaya Mengatasi Kemiskinan dan Pengangguran, Analisis Ekonomi, Politik, Kebijakan Fiskal adalah terus terang merupakan ekspresi dari kegelisahan dan empati saya kepada saudara-saudara kita yang miskin dan menganggur, yang sebagian besar adalah para petani yang hidup di perdesaan.

Dalam perjalanan pengabdian saya, setelah saya mengemban amanah, memimpin bangsa dan negara Indonesia hampir 2 tahun ini dan setelah saya datang, berkunjung dan berdialog dengan para petani dan rakyat di seluruh Tanah Air, sampailah saya pada satu kesimpulan. Bahwa ada pekerjaan besar yang harus kita lakukan, yaitu melakukan revitalisasi pembangunan pertanian dan perdesaan dalam bingkai pembangunan nasional yang utuh dan terpadu.

Hadirin yang saya hormati,
Sebagai manusia biasa dan juga pemimpin, saya ikut berbahagia dan bersyukur ketika bersama-sama petani melakukan panen raya di Tanjung Enim, Sumatera Selatan, di Karanganyar, Jawa Tengah, di Kapuas, Kalimantan Tengah, di Pulau Buru, Maluku dan di Merauke, Papua. Namun, duka dan kesedihan ikut pula saya rasakan, ketika saya mengunjungi daerah-daerah yang gagal panen, karena tersapu oleh Tsunami, banjir dan bencana alam lainnya. Perasaan dan pergumulan batin seperti inilah yang memotivasi dan menambah semangat saya untuk mencurahkan pikiran, waktu dan tenaga saya untuk benar-benar memikirkan pertanian di negeri kita. Membangun pertanian yang berkelanjutan, guna meningkatkan kesejahteraan petani dan kesejahteraan rakyat secara keseluruhan.

Hadirin sekalian,
Mengapa kini kita harus berbicara tentang pembangunan pertanian berkelanjutan? Apa makna dan kontribusi perbangunan pertanian berkelanjutan ini bagi bangsa dan negara kita, masa kini dan masa depan? Dalam kesempatan yang amat baik ini, ijinkan saya mengedepankan 6 alasan utama.

Pertama, akibat krisis nasional yang berpuncak pada tahun 1998 yang lalu, negeri ini menghadapi 3 permasalahan besar, yaitu kemiskinan, pengangguran dan hutang negara yang membengkak. Dari segala permasalahan dan kesulitan ini, golongan ekonomi terlemahlah, tentu sebagian besar kaum petani yang paling menderita.

Kedua, dalam gerak pembangunan ekonomi yang berlangsung dewasa ini, sering kali pertumbuhan sektor pertanian, karena keberhasilan agroindustri dan agribisnis tidak serta-merta diikuti dengan pertumbuhan dan perbaikan penghasilan para petani, tentu saja keadaan seperti ini jauh dari rasa keadilan.

Ketiga, meskipun dalam banyak pandangan, rasio kontribusi sektor pertanian pada ekonomi makin susut dan berkurang, digeser oleh sektor industri dan jasa, namum kenyataannya kontribusi itu masih besar. Kontribusi pangan dan sektor pertanian terhadap pendapatan domestik bruto tahun 2005 tercatat hanya 13,4%, namum jika agroindustri dan agroservices diperhitungkan, pangsanya terhadap perekonomian nasional diperkirakan diatas 50%.

Keempat, makin ke depan, sebagai pula yang dihadapi oleh masyarakat dunia, bangsa kita akan menghadapi persoalan kecukupan dan ketahanan pangan, energi dan air bersih. Ini semua berkaitan dengan ketersediaan sumber daya alam yang selalu ada batasnya dan cenderung menurun, dihadapkan kepada kebutuhan manusia yang justru terus meningkat. Melalui forum terhormat ini, saya serukan kembali bahwa ke depan nanti, kita harus benar-benar memperkokoh ketahanan komoditas itu atau yang sering saya sebut dengan FEWS atau Food, Energy, Water Sustainabality.

Kelima, sebagaimana yang saya kisahkan dalam sentuhan saya dengan masyarakat petani dan dunia pertanian, sesungguhnya pertanian itu adalah sebuah way of life, sebuah peradaban atau civilization. Kesadaran, pemahaman dan kerangka berpikir seperti ini diperlukan, agar kita tidak menyederhanakan dan mereduksi sebuah kehidupan yang besar atau peradaban tadi menjadi hanya urusan bercocok tanam atau urusan produktivitas dan teknologi penanaman dan pengolahan semata.

Sedangkan yang keenam, bicara pertanian, bicara penggunaan sumber daya alam, bicara intevensi teknologi yang menyertai datangnya revolusi hijau, mestilah kita membicarakan sesuatu yang sangat mendasar, yaitu kelestarian lingkungan dengan segala ekosistemnya. Maknanya, kita mesti bicara pembangunan berkelanjutan, sustainable development dan dengan sendirinya pembangunan pertanian berkelanjutan sustainable agricultural development.

Senat Guru Besar, Rektor dan Civitas Akademika yang saya hormati,
Setelah menguraikan pentingnya kita memberikan perhatian serius kepada sektor pertanian, perkenankanlah saya memaparkan bagaimana seharusnya menempatkan pembangunan pertanian dalam konteks pembangunan nasional secara luas. Pembangunan pertanian hendaklah kita tempatkan pada posisi sentral, at the core dari pembangunan ekonomi nasional. Krisis ekonomi yang mendera kita 9 tahun yang lalu, masih meninggalkan berbagai persoalan akut. Meskipun sudah menunjukkan kecenderungan peningkatan, pertumbuhan ekonomi nasional, yaitu 5,6% pada tahun 2005 masih dibawah rataan pertumbuhan ekonomi sebelum krisis. Jumlah penduduk miskin, yaitu sekitar 39,1 juta jiwa, serta jumlah pengangguran terbuka sekitar 11,9 juta jiwa pada tahun yang sama, tahun 2005 masih terlalu tinggi. Cara-cara konvensional untuk membangun kembali ekonomi nasional cenderung kurang efektif, sebagaimana ditunjukkan oleh persistensi kemiskinan dan pengangguran di Tanah Air.

Saya tidak bermaksud untuk mengatakan bahwa indikator-indikator ekonomi lainnya yang berupa variabel nominal, seperti inflasi, nilai tukar rupiah, defisit anggaran pemerintah dan lain-lain itu tidak penting. Namun, upaya-upaya pembangunan haruslah kita fokuskan untuk mengatasi dua masalah critical yang kita hadapi, yaitu kemiskinan dan pengangguran. Artinya, pertumbuhan ekonomi yang diharapkan makin tinggi di tahun-tahun yang mendatang harus dapat dialirkan dan ditransformasikan untuk mengurangi kemiskinan, menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan daya beli rakyat kita.

Triple track strategy, sebagai strategi pembangunan ekonomi nasional perlu saya tegaskan ulang. Pertama, mendorong pertumbuhan ekonomi secara berkualitas dan berkelanjutan. Kedua, untuk memastikan bahwa ekonomi masyarakat berkembang sejalan dengan pertumbuhan ekonomi, perkembangan sektor riil perlu didorong. Sektor riil yang berkembang akan mampu mengurangi pengangguran. Dan ketiga, merevitalisasi pertanian, perikanan dan kehutanan. Sektor-sektor ini merupakan domain utama dari saudara-saudara kita yang miskin. Pengembangan sektor-sektor tersebut, saya perkirakan akan mengurangi kemiskinan, baik yang sifatnya kronis maupun yang transient atau sementara.

Strategi ini sesungguhnya adalah strategi pembangunan ekonomi yang pro poor, pro job dan pro growth. Jika ketiga strategi itu kita peras, maka intisarinya adalah apa yang saya kemukakan pada pidato kunci saya pada Kongres ISEI di Manado 3 bulan yang lalu sebagai the new deal. Esensi dari strategi ini adalah pembangunan aktifitas ekonomi yang dapat menyerap banyak tenaga kerja, atau menyerap pengangguran dan kemiskinan dengan memadukan peningkatan pertumbuhan ekonomi konvensional dengan program-program khusus pemerintah untuk langsung dapat mengurangi kemiskinan, menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan sehari-hari rakyat kita.

Sidang Senat, Guru Besar yang saya hormati, hadiri yang saya muliakan,
Perkenankanlah saya memaparkan bagaimana pembangunan pertanian berkelanjutan seyogyanya kita lakukan. Terlebih dahulu akan saya sampaikan definisi pembangunan pertanian berkelanjutan yang dikemukan oleh Senoting, yaitu pembangunan pertanian berkelanjutan merupakan upaya-upaya pengelolaan sumber daya alam untuk memastikan kapasitas produksi pertanian jangka panjang dan meningkatkan kesejahteraan petani melalui pilihan-pilihan pendekatan yang ramah terhadap lingkungan.

Dalam konteks Indonesia, definisi pembangunan pertanian berkelanjutan menurut hemat saya adalah upaya-upaya yang diarahkan untuk meningkatkan. Satu, ketersediaan dan kualitas infrastruktur pertanian dan perdesaan. Dua, menciptakan struktur kepemilikan lahan pertanian yang lebih baik dan lebih adil. Tiga, menciptakan ketahanan pangan dan ketahanan energi. Empat, meningkatkan kesejahteraan petani, masyarakat perdesaan dan masyarakat keseluruhan. Dan lima, mengurangi desparitas kesejahteraan masyarakat perdesaan, perkotaan.

Keseluruhan hal tersebut dilakukan dengan cara-cara pendekatan yang ramah lingkungan sehingga tidak mengurangi kapasitas produktif jangka panjang dari basis sumber daya pertanian yang kita miliki. Pertanyaannya adalah apakah revolusi hijau, green revolution, khususnya di Indonesia dalam beberapa dekade yang lalu telah bergerak seperti definisi tersebut dan mencapai sasaran-sasaran yang tersirat pada definisi itu. Fakta menunjukkan bahwa revolusi hijau yang hanya diimplementasikan dalam bentuk penggunaan input, output modern, technological breakthrough cenderung kurang efektif. Karena teknologi yang demikian hanya dapat diakses oleh sebagaian kecil petani yang relatif kaya, karena umumnya petani di negara-negara berkembang adalah miskin, maka technological breakthrough semata, justru akan memperlebar kesenjangan pendapatan diantara para petani dan masyarakat perdesaan.

Revolusi hijau di Indonesia diterapkan dalam bentuk kombinasi technological breakthrough dan institutional breakthrough. Institutional breakthrough melalu program BIMAS yang diinisiasi oleh IPB diawal dekade 1970-an berhasil mendesiminasi berbagai input pertanian modern kepada setiap strata usaha tani. Hasilnya ialah, terjadi peningkatan produktivitas atau yield berbagai komoditas pertanian, termasuk padi. Produktivitas padi meningkat dari 2,8 ton per hektar pada tahun 1968 menjadi 4 ton per hektar dipertengahan tahun 1980-an. Tata struktur pertanian dan berbagai sarana ekonomi perdesaan juga dibangun secara simultan pada periode yang sama. Faktor-faktor ini mendorong tercapainya swasembada besar pada tahun 1984 dan relatif meningkatnya kesejahteraan petani.

Akan tetapi, capaian keberhasilan tersebut membutuhkan biaya yang cukup besar. Secara langsung biaya tersebut berbentuk biaya finansial, yaitu subsidi yang melekat pada penyediaan berbagai input pertanian modern saat itu, termasuk pupuk dan obat-obatan pertanian, input-input kimiawi, serta subsidi suku bunga diperkirakan cukup besar. Secara tidak langsung, biaya dimaksud adalah dalam bentuk kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh penggunaan input-input kimiawi secara berlebihan. Input-input itu digunakan secara berlebihan karena dengan subsidi harga yang berlangsung cukup lama, harga input-input tersebut menjadi jauh lebih rendah dari nilai keekonomiannya. Penggunaan pupuk anorganik, serta obat-obatan pertanian secara terus-menerus menyebabkan berubahnya struktur fisik dan kimiawi tanah, serta mencemari tanah dan air.

Ini mengganggu keseimbangan ekosistem. Pada akhirnya, seperti dikemukan oleh Pingali, Moya dan Velasko, revolusi hijau di tiga negara, termasuk Indonesia menyebabkan stagnasi bahkan penurunan yield tananam. Stagnasi ini cukup dirasakan di Indonesia, dimana produktivitas padi selama 20 tahun terakhir hanya meningkat sekitar 0,6 ton per hektar. Dampak ikutan yang bersifat negatif dari revolusi hijau di Indonesia adalah terakumulasinya hutang sebagaimana tercermin dari akumulasi tunggakan kredit usaha tani yang merupakan paket dari program BIMAS, INMAS dan seterusnya. Disamping itu, distribusi penguasaan tanah pertanian juga cenderung memburuk dimana sekitar 56% rumah tangga petani mengusahakan tanah pertanian yang kurang dari 0,5 hektar. Dan sekitar 75% rumah tangga petani mengusahakan tanah pertanian yang kurang dari 1 hektar, akibatnya terjadi kesenjangan pendapatan desa-kota dan bahkan antar rumah tangga petani.

Sebagaimana dicerminkan oleh hasil sensus pertanian tahun 2003 dalam 20 tahun terakhir, jumlah rumah tangga petani gurem dengan luas tanah pertanian kurang dari 1 hektar meningkat dari 8,5% menjadi 17,2% dari total jumlah rumah tangga petani. Ini mencerminkan telah terjadinya marjinalisasi tanah pertanian. Dampaknya adalah urbanisasi, yang tentunya tidak hanya membawa ekses di bidang demografi, namun juga di bidang ekonomi, ekologi dan kriminalitas.

Atas dasar ini, maka pembangunan pertanian ala revolusi hijau tidak lagi visible untuk dilakukan. Pembangunan pertanian haruslah kita rumuskan dan kita implementasikan sesuai dengan definisi pembangunan pertanian berkelanjutan, sustainable agricultural development yang telah saya kemukan di depan.

Perkenankanlah saya memberikan artikulasi terhadap elemen-elemennya secara singkat, sebagai berikut: Pertama, pembangunan dan peningkatan infrastruktur pertanian dan fasilitas sosial ekonomi perdesaan. Kedua, pelaksanaan reformasi agraria, sehingga dapat menciptakan struktur pengusahaan dan penguasaan tanah pertanian yang lebih baik, meningkatkan kesejahteraan petani dan masyarakat perdesaan, serta mengurangi kesenjangan ekonomi desa-kota. Ketiga, pembangunan pertanian tidak terlepas dengan pembangunan agroindustri atau pembangunan industri difokuskan pada industri berbasis pertanian, sehingga ketahanan pangan dan ketahanan energi dapat segera dicapai. Dan keempat, kegiatan-kegiatan on farm maupun off farm pada ketiga elemen tersebut diselenggarakan dengan cara-cara, teknik-teknik dan pendekatan-pendekatan yang ramah lingkungan. Dan secara sosial budaya dapat diterima oleh masyarakat setempat.

Dengan menerapkan keempat elemen tersebut, pembangunan pertanian berkelanjutan yang hendak kita lakukan akan memiliki karakteristik economically visible, socially just and environmentally viable. Bila ini dapat dicapai, saya yakin bahwa landasan ekonomi kita ke depan akan kuat dan peluang munculnya masalah-masalah mendasar, seperti kemiskinan dan pengangguran dan persistence akan dapat kita tekan menjadi minimal.

Sidang Senat Guru Besar, Rektor dan Civitas Akademika lainnya yang saya hormati, hadirin yang berbahagia,
Kini tibalah saatnya saya pada bagian penutup dari orasi ini. Konsepsi pembangunan pertanian yang berkelanjutan, sebagaimana tercermi dari pemaparan saya tadi, bukanlah konsepsi yang sederhana dan luput dari tantangan. Namun, itu tidak berarti bahwa pembangunan pertanian berkelanjutan sulit dan tidak dapat kita laksanakan. Saya yakin, bahwa pembangunan pertanian berkelanjutan dapat diterapkan, sebagaimana yang sudah dilakukan di berbagai negara, termasuk Denmark, New Zealand, Jepang maupun Korea. Yang kita perlukan adalah kesungguhan, kerja keras dan keyakinan bahwa kita mampu melaksanakannya. Jangan ada yang diam menunggu. Mari kita berpikir kreatif dan inovatif, mari bertindak cepat dan antisipati, mari kita buang ego sektoral yang secara nyata dapat menghambat koordinasi dan merusak keterpaduan langkah-langkah kita dalam berkarya.

Pada kesempatan ini, ijinkanlah saya menyampaikan ajakan dan tantangan, challenge. Pada perguruan-perguruan tinggi dan lembaga-lembaga penelitian untuk berperan aktif men-design dan mengembangkan pembangunan pertanian berkelanjutan hingga ketataran praksis, seberapa pun skala awalnya. Ketahanan pangan dan ketahan energi adalah dua sasaran yang perlu segera kita wujudkan dalam kerangka penurunan kemiskinan dan penurunan pengangguran.

Saya berharap perguruan-perguruan tinggi dan lembaga-lembaga penelitian, bekerjasama dengan pemerintah dan swasta, segera bergerak kearah pencapaian kedua sasaran tersebut. Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa, Allah SWT memberkahi karya-karya kita, serta memudahkan kita dalam berupaya membantu saudara-saudara kita keluar dari masalah kemiskinan dan pengangguran dan mewujudkan ketahanan pangan dan energi di bumi Nusantara.

Sebelum saya mengakhiri orasi ini, khusus kepada Pimpinan dan segenap Civitas Akademika Universitas Andalas, sekali lagi saya berharap untuk terus membangun dan mengembangkan diri. Jadilah pusat keunggulan, center of excellence yang dibanggakan oleh bangsa dan negara kita.

Ketika saya berkunjung ke Malaysia, nama Perguruan Tinggi dan kampus ini baik, mendapatkan pujian. Saya berharap Universitas Andalas dan perguruan yang ada di Sumatera Barat yang juga diminati oleh mahasiswa-mahasiswa dari Malaysia sekali lagi terus berkembang, makin profesional dan dapat menghasilkan putra-putri bangsa, putra-putri negara sahabat yang siap mengemban tugasnya, menjawab tantangan masa kini dan masa depan.

Kita memang harus berpihak kepada petani dan kelompok-kelompok lemah di negeri kita ini. Keberpihakan yang cerdas, tanpa merusak kepentingan besar kita semua. Kebijakan pemerintah untuk memberikan subsidi tertentu, menetapkan harga patokan pembelian, baik besar maupun gabah, agar harga tidak jatuh dan merugikan petani. Dan sejumlah keberpihakan akan kita lanjutkan, tentu, lebih dari itu solusi jangka panjang adalah pemberdayaan petani sejak awal, mengintegrasikan petani dalam pertumbuhan pertanian yang semakin modern, semakin maju dan berkelanjutan. Kuncinya adalah sektor pertanian dan para petani harus maju bersama-sama. Jangan sampai pertaniannya maju, petani tinggal di tempat. Tidak adil dan bukan itu filosofi tujuan pembangunan kita.

Pada tingkat global, Indonesia terus berjuang, agar terjadi tatanan perdagangan yang adil, terutama dibukanya akses pasar negara-negara maju untuk menerima produk-produk pertanian negara berkembang. Dengan demikian, negara berkembang berdaya mendapatkan devisa, bisa membiayai pembangunannya, termasuk mencapai Millenium Development Goals.

Minggu lalu di Havana, saya serukan itu. Sebelumnya saya serukan di New York, di Perserikatan Bangsa-Bangsa dan akan terus saya sampaikan di banyak forum, diperlukannya dunia yang adil, kerjasama yang genuine partnership yang baik antara negara maju dan negara berkembang. Untuk menutup bagaimana kita membangun partnership global itu, saya sampaikan di Havana 4 hari yang lalu, bahwa negara maju pertama-tama perlu membuka akses pasarnya untuk produk pertanian negara berkembang. Negara maju mesti juga melakukan investasi di negara-negara berkembang. Negara maju harus memberikan kebijakan untuk sebuah debt relief, resolusi hutang yang adil. Dan yang keempat, negara maju harus bisa mengalirkan teknologinya, tanpa teknologi negara berkembang tidak bisa mengejar ketertinggalannya.

Namun, disisi kita, negara-negara berkembang, kita juga memiliki kewajiban untuk melakukan, untuk membangun good governance, untuk meningkatkan iklim investasi yang makin baik, untuk menggiatkan pendidikan, agar tercipta human capital yang sanggup menerima tranformasi teknologi. Dan yang keempat, persoalan global yang kita hadapi adalah persoalan environment, negara berkembang, termasuk negara maju juga harus benar-benar memelihara kelestarian lingkungan.

Itulah genuine partnership yang harus kita bangun. Dengan demikian, Insya Allah dunia yang kita arungi ini akan bergerak menuju tatanan yang makin damai, makin adil, makin demokrasi dan makin sejahtera. Demikianlah orasi saya.

Hadirin sekalian yang saya hormati,
Sekali lagi saya sampaikan terima kasih kepada Saudara Rektor, Senat Guru Besar dan Tim Pertimbangan Pemberian Gelar Doktor Kehormatan dari Universitas Andalas, beserta seluruh hadirin sekalian.

Sekian.
Wassalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh.

*****



Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan