Pidato Presiden

Sambutan Buka Bersama Pejabat Tinggi Negara

 

TRANSKRIPSI
SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
BUKA PUASA BERSAMA
ANGGOTA DPR RI, MENTERI KABINET INDONESIA BERSATU,
PEJABAT TINGGI NEGARA
ISTANA NEGARA, 4 OKTOBER 2006



Semoga kita tidak termasuk orang yang berbohong, ngerumpi, mengadu domba, mata kita berjalan ke sana ke mari dan menebarkan janji palsu. Insya Allah.

Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum Warrahmatullahi Wabarrakatuh,


Yang saya hormati para Pimpinan Lembaga-Lembaga Negara, hadir beserta kita Pimpinan dan Wakil Pimpinan MPR, Pimpinan DPD, Pimpinan Mahkamah Konstitusi, Pimpinan Badan Pemeriksa Keuangan, Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi, Ketua Komisi Yudisial, Gubernur Bank Indonesia, Gubernur Lemhanas, banyak sekali yang hadir pada acara sore hari ini,
Pak Bagir Manan, mohon maaf, Pimpinan Mahkamah Agung,
Yang saya hormati para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu, Panglima TNI, Kapolri dan Jaksa Agung,
Yang saya hormati para pejabat negara, baik dari jajaran pemerintah maupun lembaga-lembaga negara yang lain,
Yang saya muliakan Bapak Tolha Hassan yang tadi telah memberikan ceramah Ramadhan dengan gamblang, memberikan contoh-contoh dan visualisasinya,
Ibu-ibu yang hadir di sayap kanan dari ruangan ini,

Hadirin sekalian yang berbahagia,
Pada kesempatan yang baik dan insya Allah penuh berkah ini, saya mengajak hadirin sekalian untuk sekali lagi memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT, atas perkenan rahmat dan ridho-Nya kita dapat bersilaturahmi dan beribadah bersama sore hari ini di Istana Negara.

Sebagai syohibul baitz, saya mengucapkan terima kasih dan penghargaan kepada Bapak, Ibu, Saudara-saudara sekalian yang berkenan hadir memenuhi undangan saya dan keluarga. Kehadiran Bapak, Ibu, Hadirin sekalian sangat penting dalam bulan yang baik ini, bulan yang penuh dengan taburan rahmat dan ampunan agar makin terjalin hubungan baik kita, hubungan baik untuk sama-sama menjalankan tugas dan kewajiban kita untuk rakyat, bangsa dan negara.

Sesuai dengan peran dan tugas pokok kita masing-masing, sebagaimana telah diatur dalam Undang-Undang Dasar maupun Undang-Undang yang berlaku. Dan semoga puasa kita dapat kita jalankan dengan baik sebagaimana dinasihatkan oleh Bapak Tolha Hassan tadi dan insya Allah kita dapat kemenangan di akhir bulan suci Ramadhan ini.

Hadirin sekalian yang saya muliakan,
Di banyak kesempatan sering saya sampaikan bahwa kita yang ada di ruangan ini sesungguhnya adalah yang sedang mendapatkan ujian dan cobaan dari Allah SWT. Yang sekaligus sedang diaudit oleh rakyat Indonesia. Apakah kita benar-benar menjalankan amanan, apakah kita benar-benar menjalankan tugas dan kewajiban kita dengan baik, sesuai dengan harapan rakyat yang kita cintai bersama.

Oleh karena itu, karena kita memiliki komitmen, tanggung jawab, tugas dan kewajiban yang sama. Marilah setiap kesempatan kita jadikan upaya untuk menyegarkan komitmen ini, agar ke depan kita dapat meningkatkan embanan tugas kita lebih baik lagi dari masa-masa sebelumnya.

Saya hanya ingin menyampaikan satu, dua hal sebagai harapan dan ajakan saya, khususnya kepada jajaran Pemerintah yang saya pimpin, saya kira para Pimpinan Lembaga Negara juga bersepakat kalau yang kita sampaikan ini berupa ajakan dan harapan untuk kebaikan tentu akan mendatangkan kemaslahatan bagi kita semua. Apa yang saya sampaikan ini secara tidak langsung juga mengait kepada isi ceramah Ramadhan tadi tentang hakikat dakwah, hakikat shadaqah, makna transformasi pikiran, termasuk bagaimana sebagai seorang umat hamba Allah, disamping berbakti kepada orangtua, kata Pak Tolha Hassan juga harus memegang janjinya dan kemudian melakukan amanah yang diamanahkan kepada yang bersangkutan.

Saya kira yang kita sampaikan seputar pesan-pesan spiritual, pesan-pesan moral seperti itu. Yang jelas, karena saya bisa menyampaikan isi hati saya ini kepada Saudara-saudara dan para pejabat negara, khususnya sekali lagi, yang berada di jajaran Pemerintahan, agar mulai hari ini ke depan kita bisa meningkatkan pengabdian kita kepada negara, dapat meningkatkan pelaksanaan tugas kita sesuai dengan tugas kita masing-masing.

Salah satu yang ingin saya sampaikan adalah kita berpacu dengan waktu. Ada konsep waktu yang sangat elok telah difirmankan oleh Allah SWT, surat 103 Al-Quran, Al Ashr’, yang intinya adalah saya kira, kita sama-sama memahami. “Demi waktu atau demi masa, sesungguhnya manusia dalam keadaan merugi, kecuali mereka yang beriman dan beramal saleh dan kecuali yang saling berwasiat untuk kebenaran dan kesabaran”. Maknanya adalah kalau waktu ini kita gunakan dengan baik, untuk hal-hal yang baik, Insya Allah waktu menjadi kawan kita yang sejati, a friend of us.

Tetapi kalau waktu kita sia-siakan, mereka menjadi lawan kita yang sangat tangguh dan menyusahkan hidup kita. Bahkan kalau ini dilakukan oleh sebuah kaum akan menyusahkan kehidupan kaum itu sendiri, benar bahwa kalau kita merugi. Selalu, sekali lagi, menggunakan dengan sebaik-baiknya supaya kita tidak, orang-orang mengatakan in the way of lost, dalam keadaan yang merugi.

Yang saya maksudkan hadirin sekalian,
Kita sama-sama mengemban tugas negara, mengemban amanah rakyat. Yang jelas Indonesia pasca krisis, sekarang ini banyak sekali permasalahan yang kita hadapi menyangkut kesejahteraan rakyat, menyangkut bagaimana kita terus-menerus bisa menurunkan kemiskinan, mengurangi pengangguran, meningkatkan pendidikan, meningkatkan kesehatan, meningkatkan pendapatan rakyat dan lain-lain, akhirnya serta sasaran-sasaran yang mesti dengan penuh semangat, penuh kegigihan diupayakan oleh kita semua yang sedang mengemban amanah ini untuk dapat diwujudkannya dengan baik.

Oleh karena itu, demi waktu pula, demi masa pula, marilah sekali lagi waktu yang ada ini, kita gunakan untuk berbenah diri, baik orang seorang, lembaga demi lembaga maupun masyarakat, bangsa dan negara. Kita gunakan untuk menambah …, sekali lagi, baik orang seorang, keluarga atau rumah tangga, lembaga, masyarakat, bangsa dan negara.

Sebuah reformasi yang sejati karena berada dimana-mana dan dilkukan oleh siapa saja dan tentunya setelah kita berbenah diri, menata diri, patuh kita melaksanakan upaya pembangunan yang sesungguhnya membangun negeri yang kita cintai bersama ini. Untuk itu semua diperlukan pra kondisi, diperlukan sebuah keadaan dimana kita mulai menjalankan tugas yang amat berat namun mulia ini.

Yang saya maksudkan adalah sekaligus dengan suasana Ramadhan, saya meneruskan himbauan dari Bapak Tolha Hasan tadi, marilah kita terus menciptakan iklim, mencipatakan suasana, menciptakan keadaan yang lebih baik. Dalam banyak kesempatan sering saya katakan, marilah kita ciptakan Indonesia sebagai negara yang berseri, ber-nya adalah bersih, bersih lahir dan batin. Kalau kotanya bersih, negerinya bersih tentu akan baik. Kalau hati kita bersih, pemerintahnya bersih, bersih dari penyimpangan, bersih dari kejahatan, bersih dari yang lain-lain, sungguh kebersihan itu membawa kemaslahatan yang luar biasa.

Berseri, sehat, mari kita jadikan negeri kita ini negeri yang sehat, masyarakat yang sehat, lingkungan yang sehat, penyakit-penyakit kita berantas, juga sehat rohani, juga sehat pemerintahannya, sehat ekonominya, sehat anggaran belanjanya, sehat perpajakannya dan lain-lain.

R-nya adalah rapi. Rapi di sini tertata dengan baik, tidak semrawut, lalu-lintasnya baik, keadaannya baik, peraturannya baik, rules of law tegak, supremasi hukum berlangsung dengan baik. Rapi lahir batin. Rapi seluruh negeri. Maka apabila bersih sudah, sehat sudah, rapi sudah, Indonesia akan menjadi negara yang indah. Indah bagi bangsa kita sendiri, indah bagi kita sendiri, indah bagi dirinya, indah bagi dunia. Melihat Indonesia yang subur yang benar-benar bersih sehat dan rapi.

Itulah yang ingin saya sampaikan, dengan suasana yang berseri itu, tinggallah kita, khususnya kepada jajaran pemerintah, kesempatan yang baik saya terus mengajak, marilah terus kita lakukan upaya menata, membangun negeri kita bersama. Kita mulai dari kita dulu. Sering disebut dengan reformasi birokrasi, sering disebut dengan membangun tata pemerintahan yang baik atau good governance, itu bukan konsep yang luar biasa, sangat cerah.

Kalau hati kita, pikiran kita, our heart and mind are willing to change ourselves be smart, hari demi hari, kita akan menapak hari-hari kita dengan keadaan dan kondisi yang lebih baik. Karena hati kita, karena niat kita, karena pikiran kita, karena perilaku kita itu mengubah, menciptakan diri kita sendiri menjadi keadaan yang lebih baik.

Kalau kita terus-menerus menjalankan secara bersama, Saudara-saudara, membangun tata pemerintahan yang baik ke depan ini, melakukan reformasi birokrasi, termasuk atau berlaku bagi diri saya sendiri dan semua. Rasanya tiada hari yang tidak kita lewati dengan lebih menyempurnakan kepribadian kita, perilaku kita, dan bahkan tentunya bagaimana kita mengemban tugas bersama ini. Yang kita harapkan adalah marilah ke depan dengan optimisme, dengan penuh rasa tanggung jawab, dengan penuh pemahaman Bapak, Ibu, untuk rakyat kita semua. Benar-benar kita ciptakan pemerintahan yang bersih.

Yang kedua, pemerintahan yang terbuka. Apa yang kita lakukan dan yang tidak dilakukan itu dilandasi dengan niat yang baik untuk tujuan yang baik sesuai dengan tatanan yang berlaku. Terbuka saja, tidak perlu kita sembunyi-sembunyikan. Adakalanya kebijakan pemerintah mungkin tidak menyenangkan sekelompok orang, tidak menyenangkan pihak-pihak tertentu, tetapi kalau ini yang terbaik untuk masa depan, untuk rakyat kita, untuk kita semua tentu harus kita ambil dan kita jelaskan, terbuka saja.

Lantas sebetulnya, semuanya yang kita lakukan dapat kita pertanggungjawabkan. Semua, lahir batin, dunia akhirat. Setiap keputusan, setiap kebijakan, apakah Saudara di jajaran Eselon I, Direktur Jenderal, Sekretaris Jenderal, apalagi, Sekjen, Dirjen, Sekretaris Menteri, Sektor Jenderal, apapun, ambillah tanggung jawab dari setiap apa yang dilaksanakan dan apa yang tidak dilaksanakan oleh Saudara, akan mantap.

Kemudian tentu negara akan maju apabila dikelola dengan baik. Untuk bisa mengelola negara dengan baik, tentulah aparat penyelenggara negara itu memiliki kapabilitas, memiliki kemampuan untuk mengemban tugas. Bagi jajaran Pemerintah, saya dan Saudara-saudara, untuk menjalankan kepemerintahan yang baik, mencapai sasaran dan tujuan-tujuan yang telah ditetapkan. Tentulah kita, atau wajiblah kita memiliki kapabiltas atau kemampuan untuk itu. Mari kita asah, mari kita tingkatkan, mari kita pastikan bahwa kita memiliki kapabilitas yang dipersyaratkan untuk mengemban tugas-tugas kita.

Kemudian ciri dari tata pemerintahan yang baik, birokrasi yang baik, marilah kita responsif terhadap berbagai persoalan yang dihadapi oleh rakyat kita, oleh bangsa kita dan negara kita. Jangan apatis, jangan masa bodoh, janganl “ah dulu juga begini, nggak apa-apa”. Tidak. Demi waktu jangan merugi kita. Setiap waktu harus kita gunakan dengan baik, kita respon, kita dengar. Seringlah berkomunikasi dengan rakyat, seringlah datang ke tempat-tempat dimana Saudara bisa memahami permasalahan yang sesungguhnya untuk kita carikan jalan keluarnya. Responsif, tanggap terhadap apa-apa yang menjadi harapan banyak pihak. Dan karakter lain dari sebuah pemerintahan yang baik adalah rules of law. Sudah ada aturannya, sudah ada yang disebut dengan rules of the game, cost of the money. Apalagi yang tercantum betul dalam Undang-Undang Dasar dan Undang-Undang. Mari kita jalankan semuanya, jangan kita mencari-cari kelemahan dari aturan yang sudah ada, mencari loop holes, itu bersiasat yang negatif. Marilah seelok-eloknya kita penuhi semua tatanan yang sudah ada, mengalir dari Undang-Undang Dasar dan undang-undang sampai yang berlaku bagi kita semua.

Saya yakin Saudara-saudara, kalau semua itu dari hari ke hari, dari minggu ke minggu, bulan ke bulan, kita bangun, kita tingkatkan diri kita, pemerintahan dimana kita berada ini menjadi pemerintahan yang lebih bersih, lebih transparan, lebih akuntabel, lebih capable, lebih responsif dalam menegakkan pranata hukum, tatanan hukum atau rules of law, maka tugas yang kita emban dengan ridho Allah SWT tentu akan lebih baik lagi dan mencapai sasaran yang lebih baik dari sebelum-sebelumya.

Hadirin sekalian yang saya hormati,
Itulah yang saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini. Semoga apa yang disampaikan oleh Bapak Tolha Hasan, saya tambahkan dengan ajakan-ajakan saya kepada Saudara-saudara semua, untuk bersama-sama, demi waktu untuk tidak merugi. Menjalankan tugas dengan baik, dengan lebih baik lagi, dengan lebih giat lagi, dengan lebih gigih lagi, dengan lebih benar lagi, agar masa depan kita adalah masa depan yang lebih baik dari hari sekarang ini.

Semoga ibadah kita pada hari ini diterima oleh Allah SWT dan semoga kebersamaan kita menjadi kebersamaan yang cerdas, yang konstruktif tanpa meninggalkan peran dan tugas kita masing-masing secara sinergis kita peruntukkan kepada rakyat, bangsa dan negara tercinta.

Demikian dan sebelum saatnya berbuka puasa tiba, saya mohon Bapak Hidayat Nur Wahid Pimpinan Majelis Permusyarakatan Republik Indonesia, untuk bisa memimpin doa dan dzikir bersama-sama, hingga saat berbuka puasa tiba. Demikianlah saudara sekalian.

Wassalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh.


*****



Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan