Pidato Presiden
Sambutan Temu Wicara dengan Petani Jember
TRANSKRIPSI
SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
TEMU WICARA DENGAN PARA PETANI
JEMBER, JAWA TIMUR
8 OKTOBER 2006
Bismillahirrahmanir’rahim,
Assalamu’alaikum Warrahamatullahi Wabarrakatuh,
Yang saya hormati para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu, Ketua Komisi VI DPR RI, Saudara Gubernur, para Bupati dan Walikota, serta segenap pimpinan dan pejabat daerah, baik dari unsur Eksekutif, Legislatif, Yudikatif maupun TNI dan Polri,
Yang saya hormati para Pimpinan PTPN dan unsur Badan Usaha Milik Negara maupun Badan Usaha Milik Daerah,
Yang saya muliakan para ulama, para tokoh masyarakat,
Yang saya cintai para petani, khususnya petani tebu, kopi, tembakau dan kedelai, para pengusaha, usaha kecil dan usaha menengah yang saya tahu juga banyak diawaki oleh para petani,
Hadirin sekalian yang berbahagia,
Pada hari yang baik dan Insya Allah penuh berkah ini, marilah sekali lagi kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT atas rahmat dan ridho-Nya, kita semua masih diberi kesempatan, kekuatan dan kesehatan untuk menjalankan ibadah kita sebagai umat hamba Allah dan menjalankan tugas, dan pengabdian kita sebagai Warga Negara Indonesia kepada bangsa dan negara tercinta.
Dalam bulan suci Ramadhan yang penuh berkah dan taburan rahmat, serta ampunan ini, saya mengucapkan kepada Saudara-saudara yang beragama Islam, Selamat Menunaikan Ibadah Puasa. Semoga ibadah kita diterima oleh Allah SWT. Semoga di dalam menghadapi ujian dalam bulan suci Ramadhan ini, kita diberikan kesabaran, ketegaran, tawakal, tapi juga dengan penuh semangat terus berikhtiar dan bekerja untuk memperbaiki nasib dan masa depan kita bersama.
Saudara-saudara yang saya cintai dan saya muliakan,
Sebagaimana yang disampaikan oleh Saudara Gubernur, Saudara Menteri Pertanian tadi, sudah sangat jelas peran dan arti penting dari pertanian dan para petani dalam upaya pembangunan bangsa. Sejak negara kita merdeka tanggal 17 Agustus 1945 sampai sekarang, kita terus membangun. Pembangunan yang kita lakukan tujuannya tiada lain adalah agar kesejahteraan rakyat makin meningkat dari waktu ke waktu. Pembangunan oleh karena itu, untuk rakyat. Kita membangun siang dan malam untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Rakyat disebut sejahtera atau kehidupannya makin sejahtera, apabila kehidupannya makin layak, apabila kebutuhan dasarnya makin terpenuhi. Apa itu yang disebut kebutuhan dasar? Tiada lain adalah pangan, sandang, papan, kesehatan, pendidikan, energi, rasa aman dan lain-lainnya. Tetapi diatas segalanya sebagaimana yang telah saya sampaikan tadi, kebutuhan akan pangan adalah kebutuhan yang mutlak. Tidak mungkin, rakyat Indonesia di seluruh tanah air dikatakan hidupnya layak, dikatakan makin sejahtera, kalau tidak bisa mencukupi kebutuhan pangannya. Ditambah setelah itu kebutuhan sehari-harinya yang lain. Oleh karena itulah, pangan, ketahanan pangan, kecukupan pangan memiliki prioritas yang sangat tinggi di dalam upaya pembangunan bangsa. Oleh karena itu, sudah sepantasnya negara, pemerintah, masyarakat harus meletakan pembangunan pertanian sebagai pembangunan yang mesti berhasil kita lakukan.
Negeri kita luas, meskipun penduduknya juga besar. Dari 8 juta km2 negara kita memang daratannya hanya 2 juta km2 kurang lebih, yang 6 juta lagi lautan. Meskipun lautan juga menjadi sumber pangan dan sumber kebutuhan yang lain. 2 juta km2 tanah daratan ini, kalau kita kelola dengan baik, terutama digunakan untuk pembangunan pertanian dengan baik, pastilah negara kita tidak akan mengalami kekurangan pangan.
Oleh karena itu, tahun lalu di Jatiluhur, Jawa Barat, saya canangkan revitalisasi pertanian, kehutanan dan perikanan. Artinya apa? Pembangunan pertanian makin ke depan harus makin intensif, harus makin tepat dan Insya Allah makin berhasil. Kalau pembangunan pertanian tepat, tidak sia-sia tanah daratan yang kita miliki. Akhirnya ketahanan pangan dapat kita wujudkan.
Adalah menjadi mimpi indah kita dan sekaligus cita-cita dan tujuan kita, agar jangan terlalu lama lagi, kalau bisa tahun 2009-2010 Indonesia betul-betul memiliki kecukupan pangan, terutama padi atau beras. Yang kedua jagung, yang ketiga gula atau tebu, kemudian yang keempat daging sapi dan setelah itu beberapa saat Insya Allah, kedelai. Kalau lima kebutuhan utama dapat kita cukupkan nantinya, ditambah yang lain-lain yang sudah relatif cukup, maka tidak perlu ada kekhawatiran kita kekurangan pangan, baik itu yang dikonsumsi sehari-hari, maupun yang dalam cadangan nasional atau stok nasional. Tidak perlu kita meributkan impor atau tidak impor, karena kita sendiri bisa mencukupi.
Tentu semua ingin tidak perlu mengimpor beras, tidak perlu mengimpor pangan setuju kan? Supaya tidak mengimpor, kita bikin cukup keperluan pangan itu. Agar cukup, pertanian kita harus berhasil. Kita tahu kadang-kadang ada bencana alam, ada banjir, ada kemarau yang sangat panjang dan lain-lain, tetapi tentulah Allah SWT memberikan kita akal, pikiran, pengetahuan, teknologi, manajemen, pengalaman dan lain-lain. Mari kita gunakan semuanya itu, sekali lagi untuk bikin baik pertanian kita, agar benar-benar negara kita cukup pangannya. Sekali lagi, yang dibutuhkan sehari-hari dan yang ada dalam cadangan nasional.
Kecukupan pangan menjadi tugas semua. Alhamdulillah, Jawa Timur menjadi lumbung pangan, bangga kita. Harapan saya provinsi-provinsi lain juga menyusul, paling tidak, tidak defisit, cukup syukur-syukur surplus. Kalau pangan di negeri kita ini cukup, tidak perlu impor. Kalau surplus, barangkali suatu saat malahi kita bisa mengekspor. Kalau mengekspor mendatangkan devisa, keuntungan negara yang nanti jatuhnya juga untuk rakyat kita.
Jadi pada kesempatan yang baik ini, mari kita semua meningkatkan pembangunan pertanian kita, makin baik, makin tepat, produktifitasnya makin tinggi, panenanya makin banyak, kualitasnya makin baik, tetapi tidak merusak lingkungan.
Pembangunan pertanian adalah pembangunan yang berkelanjutan. Kita berdosa dan kita salah kalau menguras habis sumber daya alam kita tanpa dikelola dengan baik, anak cucu kita menderita. Kita harus bangun wilayah kita, tanah kita, pertanian kita dan lain-lain cukup untuk kebutuhan generasi kita semua, tetapi juga tetap menyediakan peluang agar generasi yang akan datang juga mencukupi kebutuhan-kebutuhannya itulah yang harus kita lakukan.
Hadirin sekalian yang saya hormati,
Jadi yang pertama mari kita bangkitkan, kita tingkatkan pembangunan pertanian kita. Yang kedua, banyak negara yang pertaniannya maju, tetapi petaninya tidak ikut maju. Ini tidak adil. Mulai hari ini, marilah kita melakukan evaluasi apa yang baik-baik yang kita lakukan di waktu yang lalu, kita lanjutkan. Tetapi yang tidak baik, yang belum baik kita perbaiki. Kita ingin pertanian tumbuh dengan baik, perkebunan tumbuh dengan baik, perikanan tumbuh dengan baik, agrobisnis, agroindustri tumbuh dengan baik, komoditas pertanian dalam pasar, dalam perdagangan tumbuh dengan baik, tetapi petaninya juga harus terangkat ke atas, makin sejahtera.
Itulah sebabnya Usaha Kecil dan Menengah, Koperasi, peran pemerintah daerah, peran pemerintah pusat, peran masyarakat luas, entah pendidikan, entah pelatihan, entah professional training, entah penyuluhan, entah teknologi, entah mekanisasi, irigasi dan lain-lain. Mari kita daya gunakan dengan baik, tetapi tolong ketika pertanian makin tumbuh penghasilan petani juga makin tumbuh.
Kita tahu kadang-kadang petani kita tidak memiliki cukup tanah, yang disebut alat produksi. Pemerintah sedang, minggu lalu saya berbicara dengan Menteri Pertanian, Menteri Kehutanan, Kepala Badan Pertanahan Nasional, tolong mari kita tata kembali tanah-tanah di seluruh tanah air ini, agar penggunaannya lebih adil, lebih merata, terutama bisa membantu kaum petani atau golongan ekonomi lemah yang selama ini penghasilannya belum baik. Inilah yang menjadi tujuan kita, mudah-mudahan makin ke depan makin tertata dengan baik. Dengan demikian, kalau Insya Allah negara kita maju, maju bersama, bukan maju sendiri-sendiri. Karena kalau kita sedang mengalami ujian dan cobaan kan bersama-sama kita hadapi, betul? Oleh karena itu, kalau maju mestilah maju bersama-sama.
Yang ketiga, saya berharap dengan semangat baru, dengan revitalisasi pertanian, mari benar-benar kita curahkan dengan penuh kasih sayang untuk perkebunan, pertanian ini betul-betul kita kelola dengan baik. Orang-seorang menjadi penting, para petani sama dengan guru, itu juga pahlawan. Tidak mungkin di negeri ini memiliki ketersediaan pangan, kalau petaninya tidak gigih.
Oleh karena itu, mari dengan semangat revitalisasi, semua bergerak. Jangan hanya, jangan puas hanya sekedar naik sekian persen, kalau perlu naiknya tinggi sekali. Insya Allah bisa, karena teknologi, pengetahuan, manajemen, memetik pelajaran dari waktu yang lalu, permodalan dan lain-lain sekarang ini bisa kita kembangkan sedemikian rupa, sehingga komoditas pertanian itu dapat kita hasilkan lebih baik lagi.
Tebu sangat penting, kita tidak ingin terus menerus mengimpor gula. Kita ingin cukup gula, bahkan kalau gulanya sudah cukup tebu bisa dibikin ethanol, bisa dibikin bahan bakar minyak pengganti minyak fosil yang kita selalu impor, masih banyak yang kita impor mengurangi devisa negara. Suatu saat barangkali perkebunan tebu menyiapkan pangan dan menyediakan energi, ketahanan pangan dan ketahanan energi. Kalau perkebunan tebu berkembang dengan baik, tenaga kerja dapat diserap. Saudara-saudara kita yang banyak menganggur secara bertahap ditarik untuk bekerja. Kalau saudara kita bekerja, tidak menganggur, tentu punya penghasilan. Kalau punya penghasilan, bisa mencukupi kebutuhannya relatif layak sehingga tidak miskin. Sehingga cita-cita bersama, amanah kita, Indonesia makin ke depan nanti makin berkurang kemiskinan dapat kita wujudkan. Demikian juga yang padi, demikian juga kedelai, demikian juga tembakau, demikian juga kopi dan lain-lain. Mari mulai hari ini.
Saya kalau lewat jalan darat tadi dari Surabaya, saya mampir di Sidoarjo. Saya harus melihat bagaimana upaya kita mengatasi Lumpur. Saya dekat dengan keluarnya lumpur, kita bekerja siang dan malam, tolong doakan kepada Yang Maha Kuasa setelah kita berikhtiar, setelah kita mencurahkan dengan teknologi segala macam, Allah berikan kebesaran, agar lumpur itu segera bisa kita atasi. Saya jalan darat, setelah itu kalau lihat kering kerontang, sedih. Saya dengan istri, Ya Allah itu kok kering sekali, airnya tidak ada. Tetapi ketika masuk daerah-daerah yang subur, jagungnya hijau, tebunya hijau, tinggi, sawah padinya hijau, tinggi, ada jeruk disana-sini, tenteram sekali.
Mari kita bangun Jawa Timur menjadi daerah yang menenteramkan, menjadi lumbung pangan, Insya Allah lumbung energi dan akhirnya yang kita cita-citakan kehidupan kita makin layak, bisa mendapatkan ridho Allah SWT.
Saya berterima kasih kepada para Bupati yang juga terus bekerja siang dan malam. Mari kita kompak pemerintah, baik saya, menteri, Pak Gubernur, Pak Bupati, Pak Camat, Pak Kepala desa menjalankan tugasnya, masyarakat bersama-sama karena tidak mungkin pemerintah sendiri menyelesaikan tugas ini. Mari kita dengan kasih sayang dengan persaudaraan, dengan tulus kita jalin persahabatan supaya negeri kita makin aman, makin damai, hukumnya makin tegak, pembangunan makin bagus, ekonominya tumbuh dan Insya Allah, kalau ekonomi tumbuh akan meningkatkan kesejahteraan rakyat kita.
Itulah yang saya sampaikan dan saya tentu suatu saat kalau kembali ke Jawa Timur, Gubernur saya hanya ingin melihat kisah keberhasilan, cerita-cerita yang indah dan penuh berkah. Saya juga kelahiran Jawa Timur, Pacitan, tanahnya tandus, susah air, kering, tapi dua hari yang lalu saya telepon Bupati Pacitan Pak Imam Utomo. Kata Pak Yono, Insya Allah Pak Presiden, Pacitan tidak akan semenderita seperti yang dulu. Mudah-mudahan, apa namanya proyek energi yang sedang dibangun tumbuh dengan baik. Ada singkong, ada jarak, ada dan lain-lain mudah-mudahan. Tetapi kalau yang kering-kering saja seperti Pacitan, Trenggalek, Tulung Agung bisa tumbuh dengan baik, apalagi yang makmur ,termasuk daerah Jember dan sekitarnya ini.
Selamat berjuang saudara-saudara Tuhan Yang Maha Kuasa beserta kita.
Wassalamualaikum Warrahmatullahi Wabarrakatuh.
*****
Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan



