Pidato Presiden

Sambutan Peringatan Nuzulul Quran 1427 H Tingkat Nasional

 

TRANSKRIPSI
SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
PERINGATAN NUZULUL AL QURAN TAHUN 1427 H/2006 M
TINGKAT NASIONAL
MASJID AGUNG AS-SYUHADA, KABUPATEN PAMEKASAN-SURABAYA
9 OKTOBER 2006


Bismilahirahmannirrhim,
Assalamu’alaikum Warrahmatullahi Wabarrakatuh,


Para ulama dan sesepuh yang saya cintai,
Hadirin dan hadirot yang saya hormati, kaum muslimin dan muslimat di seluruh tanah air Yang saya muliakan,
Marilah kita bersama-sama memanjatkan pujji dan syukur ke hadirat Allah SWT, atas rahmat dan karunia-Nya pada malam ini, kita kembali dapat menyelenggarakan Peringatan Nuzulul Quran secara nasional, yang dipusatkan di Pamekasan Madura, Jawa Timur.

Shalawat dan salam, marilah kita sampaikan kepada junjungan kita, Nabi Besar Muhammad SAW beserta keluarga, sahabat dan pengikut-pengikut Rasul Allah, Insya Allah, termasuk kita semua sampai akhir zaman. Saya ingin menggunakan kesempatan yang membahagiakan ini, untuk menyampaikan ucapan selamat menunaikan ibadah puasa kepada kaum muslimin dan muslimat di seluruh tanah air. Semoga ibadah puasa yang kita jalankan diterima oleh Allah SWT sebagai bagian dari amal ibadah kita kepada-Nya.

Hadirin-hadirot yang saya muliakan,
Sebagaimana kita ketahui bersama, bulan Ramadhan sering pula disebut sebagai bulan diturunkannya Al Quran, karena pada tanggal 17 Ramadhan, 13 tahun sebelum hijrah, wahyu pertama diturunkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantaraan malaikat Jibril. Dengan diturunkannya wahyu pertama itu, maka dengan resmi beliau diangkat menjadi Nabi dan Rasul Allah yang membawa risalah untuk disampaikan kepada umat manusia. Setelah peristiwa itu, ayat demi ayat diturunkan kepada beliau. Proses itu memakan waktu lebih dari 22 tahun lamanya, sehingga menjadi Al Quran yang utuh sebagaimana yang kita kenal sekarang ini. Selama lebih dari 22 tahun itu Rasullullah berjuang menyampaikan risalah, mengajak manusia agar beriman, mematuhi kaidah-kaidah moral dan menegakan tatanan masyarakat yang aman, adil dan sejahtera.

Perjuangan dan keberhasilan Rasullullah dalam membangun masyarakat wajib kita teladani dalam rangka membangun masyarakat, bangsa dan negara kita. Dengan meneladani prilaku beliau, Insya Allah bangsa kita akan menjadi bangsa yang aman, damai, maju dan sejahtera, sebagaimana yang kita cita-citakan bersama.

Kaum muslimin dan muslimat yang saya muliakan,
Umat Islam diwajibkan untuk senantiasa membaca, memahami dan mengamalkan pesan-pesan Al Quran. Membaca Al Quran dengan bacaan yang benar dan suara yang merdu akan menentramkan hati manusia. Apalagi membaca dengan memahami maknanya dan mendalami tafsirnya, sungguh akan memberikan pencerahan intelektual, moral dan spiritual kepada setiap orang yang membacanya.

Dalam sejarah perjalanan bangsa dan negara kita, kita tidak dapat mengabaikan pengaruh Al Quran. Pengaruh itu sangat terasa, baik sebelum maupun sesudah kemerdekaan. Perintah Al Quran untuk membaca telah mendorong masyarakat kita untuk mengenal huruf dan tulisan. Sebelum kedatangan penjajah, masyarakat kita telah menggunakan huruf arab untuk menulis, disamping berbagai aksara yang dimiliki oleh suku-suku bangsa di Kepulauan Nusantara. Dengan menguasai cara menulis dan membaca, maka masyarakat dapat memperoleh informasi dan mendalami, serta mengembangkan ilmu pengetahuan.

Ajaran Islam sangat mendorong masyarakat untuk berpikir secara rasional. Dengan menjadi manusia yang rasional, masyarakat mulai berpikir untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi dan berpikir pula untuk membangun masyarakat ke arah yang lebih baik. Dalam membangun masyarakat, bangsa dan negara ke arah kemajuan itu, sangatlah mutlak bagi bangsa kita untuk bersatu-padu. Al Quran menyuruh kita untuk bersatu-padu di jalan Allah dan melarang kita bercerai-berai. Kalaupun diantara kita terdapat perbedaan-perbedaan pendapat, salurkanlah secara wajar. Kita harus menjunjung tinggi kehalusan budi dan tutur kata dalam berucap dan berbuat antar sesama. Kita tidak boleh saling remeh-meremehkan, apalagi jelek-menjelekan dengan menggunakan kata-kata yang kasar dan menusuk perasaan. Ajaran Islam juga memerintahkan umatnya untuk menjauhi segala fitnah yang dapat merugikan harkat dan martabat seseorang.

Semua dasar-dasar akhlak yang saya dikemukakan tadi patut menjadi pegangan kita bersama dalam membangun masyarakat, bangsa dan negara. Tidak akan ada kemajuan bagi suatu bangsa, jika bangsa itu mengabaikan kaidah-kaidah akhlak. Jika kaidah-kaidah ahlak itu dirusak dan dijungkirbalikan, maka masyarakat tidak akan pernah merasakan adanya kedamaian, ketentraman dan keharmonisan. Kalau keadaan seperti ini berlangsung, maka bangsa kita akan merugi dan negara kita akan mengalami kemunduran. Saya berkeyakinan, tidak seorangpun diantara kita yang hadir pada malam hari ini, yang menginginkan bangsa kita mengalami kemunduran.

Hadirin-hadirot yang berbahagia, kaum muslimin dan muslimat di tanah air yang saya cintai,

Agar kita tidak terus merugi, saya mengajak umat Islam di tanah air untuk mengambil hikmah dan pelajaran di bulan Ramadhan yang penuh keberkatan ini. Hati nurani yang bersih akan selalu diliputi oleh niat yang baik, tutur kata yang sopan, jujur dan selalu berbaik sangka. Sifat-sifat seperti itu, jika kita miliki bersama akan menjadi landasan akhlak yang kukuh dalam membangun bangsa dan negara kita ke depan. Janganlah ada diantara kita yang mengira bahwa di jaman reformasi dan demokratisasi ini, orang dapat berbicara apa saja, berbuat apa saja, seperti yang mereka kehendaki, tanpa memikirkan perasaan orang lain dan akibatnya bagi masyarakat luas. Mari kita jaga, kita pelihara dan kita tegakan akhlak yang baik, sebagaimana yang dikehendaki oleh ajaran Islam.

Selain kaidah-kaidah akhlak jangan pula dilupakan, bahwa negara kita adalah negara hukum. Istilah hukum sendiri adalah istilah yang kita jumpai di dalam Al Quran, yang menegaskan bahwa dalam masyarakat itu perlu adanya aturan-aturan. Hukum itu berisi kaidah-kaidah yang mengatur, antara lain hak dan kewajiban setiap orang. Setiap hak, pasti ada kewajiban, demikian diajarkan oleh agama Islam. Namun masyarakat kita, akhir-akhir ini cenderung mengedepankan hak dan sering melupakan kewajibannya.

Aparat penegak hukum yang dibebani tugas dan tanggung jawab untuk menegakan hukum, dengan mudah di lawan atau dipaksa untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu dengan cara mengerahkan massa secara besar-besaran, bahkan kadang-kadang disertai perusakan. Saya mengajak sekali lagi, saya mengajak kepada seluruh warga bangsa, marilah kita mentaati semua ketentuan hukum yang berlaku dan menghormati prosedur-prosedur dan tatanan yang berlaku pula.

Ketaatan kepada hukum itulah kewajiban semua pihak, baik rakyat maupun aparatur pemerintah, anggota DPR dan semua pejabat, dan penyelenggara negara. Tanpa hukum, maka masyarakat dan negara akan runtuh, perlahan namun pasti. Karena itu, tidak ada jalan lain bagi kita semua, kecuali mentaati kaidah-kaidah hukum yang berlaku, jauhi pemaksaan dan kekerasan, serta patuhilah hukum, Insya Allah masyarakat, bangsa dan negara kita akan selamat.

Hadirin-hadirot yang dimuliakan Allah SWT,
Dewasa ini, bangsa Indonesia terus berjuang dan berupaya untuk membangun kembali, setelah mengalami krisis beberapa tahun yang lalu, menuju masa depan yang lebih baik. Perjuangan besar kita adalah mengurangi kemiskinan, mengurangi pengangguran dan mengurangi hutang eksternal yang membengkak sebagai akibat dari krisis yang lalu. Untuk mencapai sasaran-sasaran besar itu, pembangunan ekonomi nasional, termasuk kebangkitan dunia usaha harus berhasil dengan baik. Agar pembangunan ekonomi itu berjalan dengan baik, maka keamanan di seluruh tanah air harus makin terpelihara. Hukum dan tatanan harus makin tegak, serta persatuan dan kerukunan masyarakat kita makin kuat.

Dengan demikian, seluruh komponen bangsa termasuk umat Islam diharapkan menjadi bagian dan dapat berperan secara nyata dalam perjuangan bersama tersebut, agar nasib dan masa depan bangsa kita menjadi semakin baik. Terlebih kita mesti menyadari, bahwa jika masih cukup banyak rakyat kita yang masih miskin, masih menganggur dan tingkat kesejahteraanya masih rendah, pastilah sebagian besar adalah Saudara-sauadar kita umat Islam, karena memang demikianlah komposisi penduduk di Indonesia. Oleh karena itu, dilandasi oleh semangat jihad untuk membebaskan saudara-saudaranya dari kemiskinan, pengangguran dan keterbelakangan, umat Islam harus lebih terpanggil untuk berjuang bersama mengubah keadaan kita menjadi lebih baik lagi di masa-masa mendatang.

Di tanah air sendiri, kita patut terus berjuang dan bekerja keras untuk menciptakan iklim kehidupan yang benar-benar aman, tertib dan tentram, yang ditandai dengan tegaknya hukum dan kuat kerukunan diantara sesama warga masyarakat, agar sekali lagi kita bisa membangun ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan rakyat. Sementara itu, di arena perjuangan dunia, kita harus bersatu dan berjuang bersama, agar dalam persaingan global bangsa Indonesia dapat menang dan tampil secara terhormat. Kita mengetahui bahwa persaingan antar bangsa era globalisasi ini amat keras, kadang-kadang kejam. Bangsa yang memiliki keunggulan dan daya saing yang tinggi akan menang dan berhasil dalam percaturan global itu, demikian pula sebaliknya. Oleh karena itu, pilihannya hanya satu, bangsa Indonesia harus menjadi bangsa yang unggul dan berdaya saing. Bangsa Indonesia haruslah menjadi bangsa yang memiliki kepribadian yang kuat, ulet, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, serta rukun dan bersatu. Agama Islam telah mengajarkan dan menuntun umatnya untuk menjadi manusia, masyarakat dan bangsa yang unggul dan berdaya saing seperti itu. Karenanya mari kita satukan tekad, mari kita gelorakan semangat, mari kita lakukan perjuangan bersama untuk membangun umat bangsa dan negara kita menuju Indonesia yang makin maju, adil dan sejahtera.

Marilah kita terus berjuang dan membangun karena kita sendirilah dan bukan bangsa lain yang dapat mengubah nasib dan masa depan kita. Marilah kita tidak menjadi manusia dan masyarakat yang merugi, dengan cara meningkatkan keimanan dan amal soleh kita, serta terus berikhtiar dan membangun diri di atas sendi-sendi kebenaran, kesabaran dan ketegaran kepribadian kita.

Hadirin-hadirot yang saya muliakan, kaum muslimin dan muslimat di seluruh penjuru tanah air yang saya cintai,
Demikianlah sambutan saya pada Nuzulul Quran malam ini, semoga apa yang kita kerjakan selama bulan Ramadhan menjadi amal ibadah kita dan diterima oleh Allah SWT sebagai amalan solekhan.





Terima kasih.
Wassalamu’alaikum Warrahmatullahi Wabarrakatuh.


*****



Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan