Pidato Presiden

Sambutan Peresmian PLTU Tanjung Jati B Jepara

 

TRANSKRIPSI
SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
PERESMIAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA UAP TANJUNG JATI B
DI JEPARA, 14 OKTOBER 2006



Bismillahirahmanirrahim,
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Selamat pagi, salam sejahtera untuk kita semua,

Yang saya hormati saudara Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, serta para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu, Pimpinan komisi VII DPR RI, saudara Gubernur Jawa Tengah, Bupati Jepara dan para pimpinan serta pejabat yang bertugas di Jawa Tengah, baik dari unsur Eksekutif, Legislatif, Yudikatif maupun TNI dan Polri.

Yang saya hormati, saudara Direktur Utama PT PLN Persero, Pimpinan Central Java Power, Pimpinan Sumitomo Group, yang saya cintai dan saya muliakan para ulama, para tokoh masyarakat, para undangan dari negara-negara sahabat,

Hadirin sekalian yang saya hormati,
Marilah kita bersama-sama memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT atas rahmat dan karunia-Nya, kita dapat menghadiri peresmian pengoperasian Pembangkit Listrik Tenaga Uap Tanjung Jati B di Jepara Jawa Tengah. Saya ingin menggunakan kesempatan yang sangat membahagiakan ini, untuk menyampaikan ucapan selamat dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada PT Central Java Power dan Sumitomo Cooperation selaku investor yang telah berhasil menyelesaikan pembangunan pembangkit listrik ini. Mudah-mudahan dengan selesainya pembangunan pembangkit listrik ini kita makin dapat mengatasi kekurangan pasokan listrik nasional terutama untuk pulau Jawa, Madura dan Bali.

Hadirin yang saya muliakan,
Sebagaimana kita ketahui bersama, tenaga listrik memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat. Berbagai kegiatan dalam kehidupan kita tidak lepas dari perlunya ketersediaan tenaga listrik, kegiatan rumah tangga, pendidikan, ekonomi, industri serta kegiatan yang lain yang menunjang kehidupan kita sehari-hari sangat tergantung pada listrik. Jika ketersediaan tenaga listrik berkurang maka berbagai kegiatan sehari-hari tidak akan berjalan dengan baik, kita semua pernah merasakannya. Disisi lain sebagian masyarakat di perdesaan dan daerah tertinggal sebagaimana disampaikan oleh Menteri ESDM tadi, hingga saat ini masih belum menikmati tenaga listrik, akibat belum tercukupinya inprastruktur di daerahnya. Oleh karena itu pemerintah terus berupaya mengembangkan program listrik perdesaan dengan mengutamakan pemanfaatan energi terbaru dan energi setempat. Program ini menjadi prioritas penting untuk mendukung percepatan eletrifikasi nasional.

Dengan percepatan eletrifikasi nasional Insya Allah roda perekonomian di pedesaan dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Tumbuhnya roda perekonomian di perdesaan selain dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat di daerah, juga dapat mendukung pertumbuhan ekonomi nasional. Beberapa saat yang lalu saya berkunjung ke tempat di Papua daerah pedalaman daerah terpencil, yaitu di Kabupaten Yahukimo, yang beberapa saat yang lalu juga mengalami kekurangan pangan. Disitu kita berhasil membangun tenaga listrik lokal dengan menggunakan tenaga surya. Kemudian di Tomohon Sulawesi Utara di daerah yang katakanlah remote kita juga bisa membikin tenaga listrik lokal dengan menggunakan limbah bio massa. Artinya apa? disamping kita akan meningkatkan tenaga listrik kita dengan menggunakan jaringan listrik, kita juga bisa membangun sentral-sentral listrik diperdesaan di luar jaringan itu sebagaimana yang tadi saya sampaikan di Yahukimo, Papua dan di Tomohon, Sulawesi Utara.

Saya berharap saudara Menteri SDM Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal dan para menteri terkait teruslah mengembangkan inisiatif dan prakarsa agar retrifikasi dapat kita laksanakan lebih cepat lagi dengan memadukan antara distribusi listrik dari pembangkitan listrik menggunakan jaringan maupun membangun tenaga listrik lokal menggunakan bahan baku setempat.

Saudara-saudara sekalian,
Peningkatan pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan tentu saja harus dibarengi pula dengan upaya peningkatan budaya hemat energi bagi masyarakat. Budaya hemat energi ini harus kita galakkan bersama, setahun yang lalu saya sudah mulai mencanangkan perlunya bangsa Indonesia menjadi bangsa yang hemat, termasuk hemat energi. Pada tahun 2005 yang lalu melalui intruksi presiden no 10 tahun 2005 tentang penghematan energi, saya telah menghimbau kepada seluruh masyarakat di tanah air, untuk senantiasa mengedepankan prinsip-prinsip penghematan energi. Prinsip-prinsip penghematan energi ini di maksudkan agar ketersediaan pasokan energi dan tenaga listrik nasional dapat terjaga.

Mengingat pertumbuhan permintaan tenaga listrik akhir-akhir ini cukup tinggi, sementara kemampuan penyediaan tenaga listrik sangat terbatas, maka pemerintah memberikan perhatian yang sungguh-sungguh untuk mempercepat terlaksananya pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan. Pemerintah telah memberikan berbagai kemudahan, kebijakan dan keleluasaan kepada pihak swasta, baik dari dalam maupun dari luar negeri, termasuk Badang Usaha Milik Daerah dan Koperasi. Untuk berpartisipasi mengembangkan infrastruktur penyediaan tenaga listrik.

Saudara hingga hari ini total tenaga listrik nasional kita, output kita berjumlah 25.000 mega watt, sejak Indonesia berdiri hingga saat ini, itulah daya yang kita miliki 25.000 mega watt. Tentu saja dengan perkembangan Indonesia yang begitu pesat, pada dasawarsa-dasawarsa terakhir ini terutama di bidang industri, bisnis, pemerintahan, termasuk kepentingan rumah tangga, jumlah itu tentu tidak mencukupi jauh dari yang kita harapkan. Oleh karena itulah, Insya Allah dalam tiga, empat tahun mendatang kita akan meningkatkan kapasitas tenaga listrik kita dengan membangun pembangkit listrik tenaga uap sebesar 10.000 mega watt atau hampir separuh dari kapasitas yang kita miliki. Agar setelah itu tahun-tahun 2009 dan seterusnya, kemampuan tenaga listrik kita sudah mendekati apa yang dimintakan oleh kita semua, dari berbagai penggunaan tenaga listrik itu. Kita berharap dengan pembangunan infrastruktur yang baru ini baik di dalam Jawa maupun di luar Jawa, sekali lagi perekonomian di tanah air kita makin berkembang dan dengan demikian kita bisa meningkatkan kesejahteraan rakyat kita.

Hadirin yang saya muliakan,
Beberapa waktu yang lalu kita hampir mengalami defisit pasokan tenaga listrik terutama untuk pulau Jawa, Madura dan Bali, ketersediaan pada listrik terancam krisis karena kekurangan pasokan bahan bakar minyak atau BBM. Kita tidak ingin kejadian itu terulang kembali. Pemerintah dengan melibatkan pihak swasta berupaya membangun pembangkit listrik yang makin tidak tergantung pada BBM, salah satunya adalah membangun jenis pembangkit tenaga listrik berbahan bakar Batu Bara. Kita akan secara terus menerus mengurangi kandungan BBM sebagai bahan pembangkitan menuju ke Batu Bara.

Ketergantungan terhadap BBM untuk pembangkit tenaga listrik harus kita kurangi, kita harus pandai memanfaatkan bahan bakar lainnya yang masih tersedia di negeri kita. Pemenuhan kebutuhan energi yang tergantung pada BBM sering kali mengganggu pasokan energi nasional, apalagi jika terjadi kelangkaan atau meningkatkan harga BBM di pasar internasional. Kita tahu dua, tiga tahun terakhir ini harga minyak mentah di dunia tinggi sekali, meroket, memukul ekonomi hampir semua negara, termasuk negara kita. Pasokan listrik akan berkurang dan tentu saja subsidi listrik pun meningkat. Kita harus menyadari bahwa sesungguhnya cadangan minyak bumi di tanah air kita hanya tinggal 1,2 % dari cadangan minyak bumi dunia. Kalau tidak ada penemuan baru, maka cadangan kita tinggal sekitar 18 sampai 20 tahun saja. Gas tinggal sekitar 60 tahun saja, kalau tidak ada penemuan baru. Batu Bara Alhamdulillah masih panjang, lebih panjang dari itu masih 150 tahun lagi.

Kita harus berupaya mengurangi pemanfaatan minyak bumi dan beralih pada sumber energi lain, terutama sumber energi non fosil dan energi terbarukan. Kita memiliki cadangan sumber energi non fosil yang cukup melimpah, namun belum dimanfaatkan secara optimal. Oleh karena itulah pemerintah mendorong agar kita mengembangkan bio energi antara lain, bahan bakar nabati dengan jarak, dengan singkong, dengan tebu, dengan kelapa sawit bisa kita olah menjadi energi. Kita ingin juga mengembangkan tenaga surya sebagai sumber energi, sebagaimana saya contohkan tadi, juga limbah bio massa dan sumber-sumber lain yang tersedia di tanah air kita. Melalui Peraturan Presiden No. 71 Tahun 2006 tentang penugasan kepada PT. PLN Persero untuk melakukan percepatan pembangunan pembangkit tenaga listrik yang menggunakan Batu Bara, pemerintah terus mendorong PT. PLN untuk membangun pembangkit tenaga listrik berbahan bakar Batu Bara. Dengan adanya percepatan pembangunan pembangkit tenaga listrik, berbahan bakar batu bara diharapkan akan menurunkan biaya pokok penyediaan tenaga listrik yang pada gilirannya akan mengurangi subsidi listrik yang disediakan oleh pemerintah. Kita tidak ingin tiap tahun harus menaikkan tarif dasar listrik. Dengan demikian, tujuan pembangunan ketenagalistrikan untuk mewujudkan ketersediaan tenaga listrik dalam jumlah yang cukup, kwalitas yang baik, dan harga yang wajar bagi seluruh masyarakat dapat tercapai.

Saya katakan tadi, kita juga harus terus menerus mengurangi subsidi BBM dan subsidi listrik. Saudara-saudara, anggaran pendapatan dan belanja negara kita, tahun-tahun yang lewat banyak sekali digunakan untuk membayar utang dan pemberian subsidi. Akibatnya apa? Biaya, dana, anggaran, untuk sektor yang lain, pendidikan, kesehatan, pengurangan kemiskinan, membangun infrastruktur di perdesaan dan lain-lain jumlahnya menjadi berkurang. Kita ingin makin ke depan komponen pembayaran hutang makin kecil, kita ingin subsidi yang bisa kita kurangi, kita kurangi. Dengan demikian jumlah subsidi juga makin kecil, yang akhirnya jumlah untuk mengurangi kemiskinan, untuk peningkatan pendidikan, kesehatan, dan lain-lain makin besar. Oleh karena itulah setiap upaya dalam bidang ketenaga listrikan untuk mengurangi subsidi, selalu berkaitan dengan kemampuan kita membiayai pembangunan yang lebih besar lagi.

Hadirin yang saya hormati,
Kita bersyukur pada hari ini kita bersama-sama menyaksikan peresmian pengoperasian PLTU Tanjung Jati B. Yang memanfaatkan batu bara sebagai bahan bakar pembangkit tenaga listrik. Meskipun pada awalnya banyak pihak yang menghawatirkan dampak lingkungan, di lokasi pembangkit teluk listrik ini akibat penggunaan bahan bakar batu bara, namun dengan kelengkapan peralatan PLTU yang dapat mengurangi kadar sulfur, pada gas ruang melalui flow? Gasdis maka kehawatiran itu dapat kita atasi. Dengan mengurangi kadar sulpur pada gas ruang ini, tingkat pencemaran udara akibat pembakaran batu bara, dapat ditekan sesuai standar baku mutu yang berlaku. Upaya ini merupakan komitmen kita bersama dalam mendukung pelaksanaan program langit biru yang ramah lingkungan, yang telah kita canangkan. Kemarin saya meninjau pembangkit tenag uap, pembangkit listrik tenagaa uap di Paiton Jawa Timur, yang kapasitasnya yang kapasitasnya adalah 3.200.000 mega watt juga menggunakan batu bara. Ternyata lingkungannya aman karena teknologi sekarang ini memungkinkan untuk bisa mengurangi kadar sulfur tadi sehingga tidak mengganggu lingkungan sekitar tidak mengganggu masyarakat di sekitar PLTU itu.
Pembangunan PLTU Tanjung Jati B dengan total kapasitas 1.320 mega watt sungguh merupakan kebanggaan bagi kita semua. Pembangunan pembangkit listrik ini pernah mengalami hambatan, tadi disampaikan akibat krisis ekonomi tahun 1997. Alhamdulillah atas kerja keras semua pihak akhirnya PLTU Tanjung Jati B dapat kita selesaikan dan mulai di operasikannya secara resmi pada hari ini. Keberhasilan pembangunan PLTU Tanjung Jati B dengan melibatkan investor asing, sesungguhnya telah menunjukkan kepercayaan para penanam modal, para investor, baik dari dalam maupun luar negeri. Mudah-mudahan kepercayaan ini dapat diikuti oleh perusahaan-perusahaan lainnya sehingga dapat membantu pertumbuhan penggunaan di sektor ketenagalistrikan. Pembangunan sektor ketenagalistrikan ini selain menjamin ketersediaan tenaga listrik di tanah air, juga akan berdampak positif, sekali lagi bagi pertumbuhan ekonomi nasional dan tersedianya lapangan pekerjaan yang baru.

Hadirin yang saya muliakan,
Sebelum mengakhiri sambutan ini, saya berpesan kepada seluruh manajemen PLTU Tanjung Jati B agar setelah beroperasinya PLTU ini, tetap memperhatikan kondisi lingkungan dan masyarakat disekitarnya. Jadikanlah kawasan ini sebagai bagian dari titik pengembangan masyarakat atau community development. Binalah hubungan yang baik masyarakat, terutama dalam bidang pendidikan sosial dan keagamaan. Kepada PT PLN persero saya minta untuk bekerja lebih keras lagi dalam menjaga dan memenuhi ketersediaan listrik, janganlah kita mengabaikan tuntutan masyarakat akan ketersediaan pasokan listrik yang aman. Keluhan-keluhan yang disampaikan, terutama sering terjadinya pemadaman listrik harus diperhatikan, ditindaklanjuti dan diatasi dengan segera. Untuk itu, saya minta PT. PLN untuk memperbaiki manajamen dan distribusi, agar masyarakat dapat terlayani dengan sebaik-baiknya.



Hadirin sekalian yang saya hormati,
Ini adalah bulan yang baik, bulan suci Ramadhan, saya ingin menggunakan kesempatan untuk menekankan satu hal kepada saudara semuanya kepada seluruh rakyat Indonesia, dimanapun saudara-saudara kita itu berada, yaitu bagaimana kita benar-benar bisa menjamin ketahan energi. Ada tiga masalah besar yang kita hadapi, yang harus kita kelola mulai sekarang agar anak cucu kita, agar generasi mendatang tidak mengalami kesulitan dalam kehidupannya kelak. Yaitu pentingnya bangsa ini, pentingnya kita semua memelihara ketahanan pangan, ketahanan energi, dan ketahanan air, food energy, water sustainability. Itu sangat-sangat penting, mengapa? Planet atau bumi tempat kita hidup ini memiliki keterbatasan-keterbatasan, satu saat kalau kita ceroboh, kita tidak pandai mengelola, kita mengalami krisis bisa krisis pangan, bisa krisis energi, bisa krisis air. Konon pulau Jawa ini, menurut sebuah penelitian sudah mengalami kesulitan di bidang air bersih, artinya, apa? Mari mulai sekarang kita kelola dengan baik. Mengapa saya menekankan bahwa ketahanan pangan, ketahanan energi dan ketahanan air perlu kita perhatikan.

Pertama, bumi planet kita ini memiliki kelangkaan, sumber-sumber daya alam itu dan dari waktu kewaktu sumber daya alam itu juga menurun, contohnya minyak, baik itu minyak, batu bara, maupun gas dari tahun-ketahun menurun. Saudi Arabia yang tiap hari sekarang memproduksi 9 juta barel minyak perhari, merekapun juga susut demikian juga dengan negara yang lain. Demikian juga gas, dan batu bara, air bersih, jadi ada kelangkaan, ada penurunan.

Yang kedua, disatu sisi sumber daya alam itu menurun, langka di banyak tempat permintaan kita, permintaan masyarakat sedunia, permintaan di negeri kita terus naik seperti ini. Jadi terjadi kesenjangan antara yang tersedia dengan yang digunakan, itu faktor nomor dua.

Faktor nomor tiga, ini yang harus kita hentikan ini kesalahan manusia di banyak tempat bukan hanya di Indonesia, di luar negeri terjadi pemborosan, waste terjadi ketidak efisien, terjadi ketidakefisienan, tidak efisien, banyak negara yang membuang-buang sisa makanan, sementara banyak negara pula yang penduduknya kelaparan, tidak bisa makan. Ada negara karena kaya boros menggunakan energi, sementara negara lain sulit untuk mendapatkan energi, karena ekonominya kecil. Inilah yang mengakibatkan ketimpangan di tingkat global. Indonesia jangan ikut-ikutan menjadi bangsa, menjadi masyarakat yang boros energi, boros pangan, boros air. Oleh karena itu mulai sekarang saya ingatkan sekali lagi, saya ajak seluruh rakyat Indonesia untuk benar-benar mengubah cara hidup kita, budaya kita, perilaku kita, way of life kita, untuk menjadi bangsa yang hemat. Hemat air, hemat listrik, hemat BBM, hemat makanan bagi yang makannya berlebih, lebih baik diberikan, dibantukan, kepada saudara kita yang memerlukan. Ingat masih banyak di tanah air kita, saudara kita yang miskin, yang tertinggal, jadi yang merasa yang memiliki kelebihan di bidang itu dengan cara tertentu sumbangkan, bantukan kepada mereka semua. Solusi besarnya adalah:

Pertama: Dari segi kebijakan, pemerintah akan terus mengembangkan kebijakan pangan, kebijakan energi, kebijakan air yang betul-betul tepat dengan cara mendorong efisiensi, semua segi kehidupan di tanah air kita, industri, transportasi dan lain-lain.

Yang kedua: Kita butuh teknologi, banyak orang pintar di negeri ini sumbangkan, teknologi itu inovasi untuk bikin semuanya hemat, kendaraan hemat BBM, kapal terbang, kapal laut, pabrik dan lain-lain hemat BBM, demikian juga penggunaan di masyarakat luas, teknologi.

Yang ketiga: Yang sangat penting adalah, sekali lagi gaya hidup kita, way of life kita, kebiasaan sehari-hari kita yang dari tahun-ketahun harus semakin hemat energi, hemat pangan dan hemat air

Dengan tiga pilar itulah, Insya Allah apabila kita jalankan dengan baik, maka negara kita akan selamat, anak cucu kita akan selamat, dan Indonesia akan makin sejahtera karena sumber daya alam tidak kita sia-siakan, tetapi kita gunakan dengan sebaik-baiknya dan penuh rasa syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan kepada partner kita Tuan President of Sumitomo Cooperation on behalf on Indonesia government, I would like to thank and appreciate for your contribution to this a plant development. I do hope we could continue our cooperation. Indonesia economy is growing. We offer many opportunities to our friends, our partners abroad. So I invite you to be part of this development, and energy development, infrastructure and others. Two days ago, I was speaking to Prime Minister Abe through phone, we are connected to further strengthening our bilateral cooperation in energy, in investment, in trade, in other bilateral cooperation. So once again, Thank, I hope you stay, invest and do more in Indonesia.

Terima kasih. Akhirnya dengan kita mohon ridho Tuhan Yang Maha Kuasa, dengan mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim Pembangkit Listrik Tenaga Uap Tanjung Jati B dengan resmi saya nyatakan beroperasi.

Sekian.
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

*****


Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan