Pidato Presiden
Sambutan acara Salat Tarawih Berjamaah di Masjid Darussalam
TRANSKRIPSI
SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
SHALAT TARAWIH BERJAMAAH DI MASJID RAYA DARUSSALAM
SAMARINDA-KALIMANTAN TIMUR, 16 OKTOBER 2006
Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh,
Yang saya hormati, Saudara Menteri Agama dan para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu,
Yang saya hormati, anggota Dewan Perwakilan Rakyat dan Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia,
Yang saya hormati, Saudara Sekretaris Daerah mewakili Gubernur Kalimantan Timur, para Bupati, Walikota dan segenap Pejabat dan Pimpinan Daerah Kalimantan Timur, baik dari unsur Eksekutif, Legislatif , Yudikatif dan TNI dan Polri,
Yang saya cintai dan saya banggakan, para Ulama, para Tokoh Masyarakat, para Pemuka Adat,
Hadirin, Hadirot yang dimuliakan Allah SWT.
Pada malam yang indah ini dan semoga senantiasa penuh berkah, saya mengajak para Hadirin sekalian, untuk sekali lagi memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT, karena kita semua dapat bersilaturahmi dan beribadah bersama di rumah Allah yang indah dan megah ini, di Masjid Darussalam, Samarinda. Kita juga bersyukur ke hadirat Allah, karena masih diberikan kesempatan, kekuatan dan kesehatan untuk melanjutkan ibadah kita sebagai umat hamba Allah dan menjalankan tugas dan kewajiban kita sebagai Warga Negara Republik Indonesia, untuk bangsa dan negara tercinta.
Marilah bersama-sama pula kita haturkan salawat dan salam kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW, beserta keluarga, sahabat dan pengikut-pengikut Rasullullah, insya Allah kita semua termasuk di dalamnya, sampai akhir jaman.
Hadirin, Hadirot yang saya cintai,
Malam ini adalah malam mendekati penghujung akhir dari bulan suci Ramadhan. Saya menggarisbawahi apa yang disampaikan oleh Saudara Syaiful tadi, untuk kita lebih meningkatkan ibadah kita pada bulan Ramadhan ini. Kita sama-sama diuji untuk senantiasa bersyukur, bersabar, tawakal, ikhtiar dan memperoleh kemenangan, insya Allah, pada akhir daripada bulan Ramadhan ini.
Saya punya keyakinan yang tinggi, kita semua akan lulus dari ujian ini. Justru dalam bulan suci Ramadhan inilah kita bagai diingatkan kembali rasa persaudaraan, ukhuwah, kesetiakawanan, kedekatan satu sama lain. Kita merasakan, betapa menahan lapar dan dahaga. Barangkali tidak senantiasa kita alami seperti itu. Tetapi saudara-saudara kita yang miskin di banyak wilayah di Indonesia tercinta ini, bahkan mengalami, barangkali berbulan-bulan sepanjang tahun dalam kehidupannya. Dan banyak lagi sesuatu yang barangkali tidak senantiasa kita rasakan secara langsung, bersama-sama kita rasakan, disamping ujian-ujian yang lain.
Kalau dalam bulan suci Ramadhan ini kita semua bisa menahan tutur kata kita, perilaku kita, tindakan kita, yang akhirnya memunculkan sifat-sifat mulia dari seorang umat Islam. Umat yang memiliki keimanan dan ketakwaan yang tinggi, memiliki akhlak yang mulia, perilaku dan kepribadian yang baik. Umat yang dekat satu sama lain, dengan ukhuwah islamiyah yang tinggi. Umat yang peduli pada kaum fakir miskin, pada kaum dhuafa. Umat yang menyerukan amar ma’ruh nahi munkar, dan banyak perilaku, sifat-sifat mulia, yang alhamdulillah dapat kita wujudkan dalam ibadah kita di bulan suci Ramadhan ini, alangkah indahnya apabila bulan Ramadhan ini usai, dan kita menjalani hidup dan kehidupan kita di bulan-bulan lain, di luar bulan Ramadhan ini, semua itu masih dapat kita lakukan dengan baik.
Apabila umat Islam benar-benar menjalani kehidupan yang islami, memiliki nilai-nilai yang islami, sebagaimana yang saya katakan tadi, akhlaknya, kepribadiannya, kesetiakawanannya, kepeduliannya kepada kaum dhuafa, amar ma’ruf nahi munkar, dan segala perilaku yang mendatangkan kemaslahatan, maka Islam akan dirasakan oleh dunia, bukan hanya oleh bangsa kita, sebagai penabur rahmat bagi semesta alam.
Di situlah Islam menjadi pemimpin dalam kehidupan kemasiaan sejagat. Di situlah bisa menawarkan solusi mengatasi berbagai masalah kehidupan. Itulah yang kita rindukan. Itulah yang kita bangun dan insya Allah kita wujudkan bersama. Oleh karena itu sebagai seorang umarroh, saya menggarisbawahi nasehat para ulama agar bersama-sama kita menjalankan ibadah puasa ini dengan sebaik-baiknya. Lebih dari itu, ke depan benar-benar mengembangkan kehidupan yang islami, kehidupan yang penting, kehidupan yang mendatangkan kemaslahatan, bukan hanya bagi bangsa Indonesia, tapi bagi umat manusia sedunia.
Hadirin sekalian,
Itulah pertama yang ingin saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini. Ajakan saya untuk bersama-sama membangun perilaku, nilai dan kehidupan yang islami. Yang kedua, sebagaimana Hadirin, Hadirot ketahui, bahwa Indonesia, negara tercinta ini, sejak merdeka 61 tahun yang lalu, ingin terus meningkatkan kesejahteraan rakyatnya. Sejak mendiang Bung Karno, Pak Harto, Pak Habibie, Gus Dur, Ibu Megawati, saya dan pemimpin-pemimpin berikutnya lagi, akan terus membangun dan membangun, agar masa depan kita lebih baik dari masa sebelum-sebelumnya.
Ketika kita sedang membangun, meningkatkan kesejahteraan rakyat di seluruh tanah air, kita menghadapi, kita mengalami cobaan yang besar, krisis yang menimpa negeri kita delapan tahun yang lalu. Akibat krisis itu, bangsa kita mengalami kesulitan yang besar, pertama kemiskinan membengkak, kedua, pengangguran juga membengkak, yang ketiga, hutangpun juga membengkak. Oleh karena itu kita sadar, karena krisis, karena masalah-masalah besar itulah kita berusaha untuk membangun dan mengatasi semua masalah itu.
Tapi sekali lagi, Allah SWT masih memberikan ujian, cobaan kepada kita. Dua tahun terakhir ini adalah tahun yang tidak mudah. Tahun-tahun yang penuh dengan rintangan dan cobaan. Kita rasakan bersama bencana tsunami, gempa bumi dan tsunami yang lain. Krisis harga minyak sedunia yang mengakibatkan sulitnya ekonomi negara kita, penyakit flu burung dan berbagai permasalahan sosial dan ekonomi, termasuk peristiwa alam yang kita hadapi. Di situlah, ketika kita sedang memulihkan keadaan kita dari krisis, kita membangun kembali negara kita, kita harus mengatasi masalah-masalah itu, yang datang pada dua tahun terakhir ini.
Kita patut bersyukur alhamdulillah, meskipun sungguh berat cobaan yang kita hadapi, sungguh tidak lunak jalan yang kita tempuh, tetapi satu demi satu, bagian dari masalah itu telah dapat kita atasi. Meskipun, harus jujur saya akui, masih banyak masalah-masalah yang harus kita perjuangkan dengan gigih untuk mengatasinya menuju ke keadaan Indonesia yang lebih baik, menuju kondisi masyarakat kita, yang insya Allah makin ke depan makin baik.
Dalam kaitan itu, saya mengucapkan terima kasih dan penghargaan kepada seluruh rakyat Indonesia, termasuk Saudara-saudara yang ada di Kalimantan Timur, di Samarinda khususnya, yang dengan tabah, dengan sabar, dengan tawakal terus berikhtiar untuk menghadapi masalah-masalah ini. Ini sekali lagi cobaan dari Allah, tidak ada yang menginginkan kejadian seperti ini. Tetapi saya punya kepercayaan yang tinggi, dengan ridho Allah SWT, dengan kebersamaan kita, dengan komitmen kita, dengan persatuan kita dan kerja keras kita, insya Allah masalah-masalah yang kita hadapi akan dapat kita atasi dan secara bertahap kita menuju ke masa depan yang lebih baik.
Sebagaimana saya katakan tadi, musuh besar kita adalah kemiskinan, pengangguran dan hutang. Hutang kita, alhamdulillah makin kita kurangi, disamping hutang kepada IMF yang sudah lunas, kita akan terus membikin ekonomi kita makin sehat. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara makin sehat dengan cara jaminan hutang itu makin kecil, makin kecil, dan akhirnya tidak membebani masa depan negeri kita, tidak membebani anak cucu kita, tidak membebani generasi yang akan datang.
Khusus kemiskinan dan pengangguran, pemerintah pusat, pemerintah daerah, semua, juga terus berupaya, kita dengan gigih berjuang, agar kemiskinan makin ke depan makin susut. Pemerintah mengalokasikan anggaran yang tidak sedikit, sekitar 60 trilyun, baik tahun ini maupun tahun depan untuk mengurangi kemiskinan.
Anggaran itu kita gunakan membantu langsung saudara kita yang miskin, termasuk memberikan beras bagi yang miskin, memberikan bantuan kepada petani, memberikan bantuan kepada pendidikan bagi keluarga miskin secara gratis dan pendidikan murah bagi yang lain. Memberikan bantuan kesehatan bagi keluarga miskin gratis dan juga murah bagi yang lain. Membangun infrastruktur perdesaan, irigasi, air bersih, jalan-jalan, dan seterusnya menggiatkan kembali usaha kecil dan menengah serta koperasi. Semua itu terus kita jalankan, tahun ini, tahun depan, insya Allah, tahun depan, agar sekali lagi, kemiskinan makin susut.
Pengangguran, pengangguran terus-menerus kita kurangi. Caranya menciptakan lapangan pekerjaan. Pemerintah tidak mungkin sendiri menciptakan lapangan kerja. Kita harus mengajak para dunia usaha, para konglomerat, para orang kaya, pimpinan perusahaan, tolonglah membuka lapangan pekerjaan, usaha, agar saudara-saudara kita yang menganggur memiliki pekerjaan. Kalau memiliki pekerjaan ada pendapatan, kalau ada pendapatan, insya Allah bisa mencukupi kebutuhan minimal sehari-hari.
Dengan demikian, akan indah negeri kita ini, semuanya bergandengan tangan, yang kaya, yang maju, yang sudah makmur, bertenggang rasa, memiliki kesetiakawanan sosial yang tinggi, membantu saudara-saudaranya yang masih memerlukan. Pemerintah tentu akan memfasilitasi, mendorong, menciptakan keadaan agar semuanya itu berjalan dengan baik.
Disamping program pemerintah, menggunakan anggaran pemerintah, pemerintah juga mendorong agar ekonomi di negara ini tumbuh. Kalau ekonominya tumbuh, pertumbuhan itu bisa didistribusikan secara adil untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat kita di seluruh tanah air. Tanpa pertumbuhan tidak mungkin ada peningkatan kesejahteraan rakyat. Agar ekonomi tumbuh, iklim ekonomi harus baik. Indonesia harus aman. Indonesia harus tertib. Tidak mungkin ekonomi tumbuh kalau di sana-sini banyak kerusuhan, banyak kekerasan, pembakaran, konflik dan sebagainya.
Hukum harus tegak, kalau hukum tidak tegak, carut-marut, tidak mungkin ekonomi akan tumbuh. Kalau hukum tidak tegak, banyak sekali aset-aset negara, uang-uang rakyat menguap karena korupsi. Karena korupsi akhirnya hilang uang itu, padahal bisa kita gunakan untuk membangun pendidikan, kesehatan, dan lain-lain. Demikian juga daerah-daerah harus memiliki pemerintahan yang baik, pemerintahan yang responsif, termasuk pemerintah di pusat sendiri.
Kalau kondisi itu hadir, insya Allah ekonomi akan tumbuh. Kalau ekonomi tumbuh, insya Allah akan bisa membantu saudara-saudara kita yang memerlukan. Mari kita bekerjasama. Pemerintah pusat, pemerintah daerah, dunia usaha, penegak hukum, para ulama, masyarakat luas, mari kita ciptakan Indonesia yang damai, yang aman, yang adil dan akhirnya kesejahteraan dapat kita tingkatkan.
Itulah hal yang kedua yang ingin saya sampaikan. Yang ketiga yang terakhir, Saudara-saudara, saya menyimak yang disampaikan oleh Sekretaris Daerah, beliau yang mewakili Gubernur Kalimantan Timur tadi. Yang pertama, pembangunan daerah perbatasan. Sebenarnya ketika saya berkunjung ke Sebatik, ke Tarakan dulu, dan saya berkunjung ke Pontianak, saya sudah mulai menggarap untuk membangun kebijakan tentang pembangunan zona ekonomi, zona sosial dan keamanan di sepanjang perbatasan.
Bapppenas terus mengolah masalah itu. Ingin saya sampaikan Saudara-saudara, rencana itu menimbulkan salah pengertian dari banyak negara, Malaysia, negara-negara di Asia Tenggara, Eropa dan pihak dunia. Ketika saya berkunjung ke luar negeri saya ditanya, “Apa betul akan terjadi pembangunan daerah perkebunan yang kira-kira mengganggu hutan di Kalimantan?” Saya katakan, tidak betul. Tidak mungkin saya merusak sendiri, yang menjadi napas dan kehidupan bangsa sendiri. Tetapi tentu ada wilayah-wilayah yang dapat kami gunakan untuk membuka perkebunan kelapa sawit dan perkebunan yang lain, untuk kesejahteraan rakyat di Kalimantan atau rakyat Indonesia. Tidakkah itu wajar.
Oleh karena itulah, kita terus godok dan matangkan dan besok akan kita bicarakan nanti dengan Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, terutama tentang kebijakan itu, bagaimana kita mengembangkan itu tanpa merusak lingkungan dan tanpa dicurigai oleh pihak dunia, seolah-olah kita tidak pandai memelihara lingkungan di wilayah kita ini.
Yang kedua Saudara-saudara, masalah rencana atau kebijakan yang berkaitan dengan gas atau pipanisasi. Perlu saya jelaskan, yang menjadi tujuan bukan pipanisasi itu sendiri, tetapi gas kita, baik yang di provinsi ini, di Bontang, di Arun, di Sumatera Selatan, Riau, kemudian nanti di Tangguh. Itu selama ini lebih banyak kita ekspor ke luar negeri. Padahal kebutuhan di dalam negeri makin meningkat. Akibatnya kita terlalu banyak menggunakan BBM. Karena kita gunakan dengan banyak, subsidi kita membengkak. Karena subsidi membengkak, uang untuk pendidikan, kesehatan menjadi berkurang. Ke depan, tidak boleh kita menggunakan BBM. Kita akan ganti sebagian gas, ganti sebagian dengan batubara, bio energi dan lain-lain.
Oleh karena itulah nanti akan ada kebijakan, bagaimana gas di Indonesia ini digunakan dengan baik. Sebagian diekspor, sebagian besar kita digunakan di dalam negeri. Dan saya mendapat penjelasan dari Menteri Energi, ternyata di Cepu itu nanti akan ada kandungan gas yang cukup besar. Oleh karena itu, semula memang ada rencana untuk mengalirkan gas yang dari Bontang dengan pipa ke Pulau Jawa, sesuai dengan pasar, bukan Jawanya, tetapi pasarnya di mana, yang membeli di mana. Semua itu akan kita tata kembali nanti. Yang penting kita menghindari kebijakan yang merugikan rakyat. Kita menghindari kebijakan yang merugikan daerah. Kita bicarakan secara bersama nanti.
Menteri-menteri, para gubernur, bupati, walikota, termasuk saya, mari kita pilih sebuah kebijakan, yang penting gas ini menolong rakyat kita seluruh rakyat Indonesia, karena gasnya banyak tempatnya, solusinya seperti apa? Mana yang pipanisasi, mana yang bukan. Dengan demikian akan terasa lebih tepat dan tentunya sekali lagi, tidak menimbulkan kerugian bagi siapapun. Dengan demikian yang disampaikan oleh Saudara Sekretaris Daerah, saya dengar, dan kita akan olah semuanya nanti dalam mengembangkan kebijakan gas yang tepat di negeri sendiri.
Yang ketiga, saya mendengar listrik juga menjadi masalah di Kalimantan Timur. Baik. Untuk Saudara ketahui, sejak Indonesia merdeka, sejak mendiang Bung Karno sampai saya sekarang ini, listrik kita berjumlah 25 ribu megawatt. Padahal kebutuhannya melonjak tajam, untuk industri, untuk pabrik-pabrik, untuk gedung-gedung pemerintah, untuk rumah tangga, untuk komersial, tidak cukup.
Oleh karena itulah, kita sedang mempersiapkan, mulai tahun 2007 ini, akan kita kembangkan, kita bangun secara besar-besaran listrik di seluruh negeri, dengan sasaran kita akan tingkatkan 10 ribu megawatt. Jadi, 25 ditambah 10 ribu. Dalam 10 ribu, Kalimantan Timur tentu mendapatkan jatah, yang saya tadi suspect ke Menteri Energi, paling tidak ada 200 megawatt sendiri yang nanti akan dibangun nanti di Kalimantan Timur.
Pembangunan ini memerlukan waktu, memerlukan waktu satu, dua, tiga tahun bersama dengan pembangunan di daearh-daerah lain. Oleh karena itulah, sebelum sampai dibangunnya pembangkit listrik tenaga uap itu, kita carikan solusi supaya tidak terlalu jauh antara permintaan dengan penawaran, atau ketersediaan listrik itu.
Yang keempat, masalah infrastruktur. Saudara-saudara, saya tadi di pesawat terbang membaca apa saja infrastruktur yang dibangun di Kalimantan Timur ini. Sebenarnya cukup banyak. Bendungannya ada tiga, bendungan untuk air bersih, bendungan pengendali banjir, jembatan, melintasi Sungai Mahakam. Kemudian tanggul penahan banjir. Kemudian infrastruktur perdesaan dan lain-lain yang berjumlah hampir 800 milyar. Tentu saja pembangunan infrastruktur akan terus berjalan dari tahun ke tahun, memadukan anggaran pusat dan anggaran daerah.
Untuk Saudara ketahui,
Karena Kalimantan Timur penduduknya hanya 2,8 juta, luasnya satu setengah kali Pulau Jawa dan Madura, sebenarnya, kalau dibandingkan dengan Jawa Tengah misalnya, dan NTB misalnya, jumlah uang pembangunan per kepala, jadi kalau ini misalkan biaya pembangunan Kalimantan Timur, dibagi 2,8 juta, satu orang setahun itu mendapatkan biaya pembangunan 11,2 juta rupiah per orang. Jawa Tengah itu, 4,7 juta. Separuhnya tidak ada. Nusa Tenggara Timur 3,2 juta, sepertiganya tidak ada.
Artinya apa? Mari Saudara Sekwilda, Saudara Bupati, Walikota, semua, dana yang ada, ke depan kita tata lebih baik. Mana yang harus membangun gedung-gedung yang tidak perlu, dan mana yang langsung kepada rakyat, pendidikannya, kesehatannya, lapangan pekerjaannya, pertaniannya. Mari kita tata kembali dengan cara kita padukan anggaran dari pusat, anggaran dari provinsi, anggaran dari kabupaten dan kota, dengan demikian, nsya Allah akan lebih terarah, lebih baik, dan hasilnya lebih bagus. Saya yakin bisa.
Saya terbang di atas Kalimantan Timur ini, luar biasa anugerah Allah SWT. Di atas tanah ada minyak, di bawah tanah ada minyak. Tidak semua negara seperti ini. Di Timur Tengah, di atas nggak ada apa-apa, hanya di bawah tanah. Ada juga, di atas kelapa sawit, bawahnya nggak ada. Indonesia, terutama Kalimantan, atas ada, bawah ada. Allah Maha Besar. Artinya apa? Dengan sumber daya untuk perkebunan, untuk energi, untuk lain-lain, mari kita kelola dengan baik. Silahkan direncanakan para pimpinan, saya dukung. Supaya tahun demi tahun ada perubahan di Kalimantan Timur ini.
Saya lewat tadi jalan darat dari Balikpapan ke Samarinda, ada rumah-rumah yang kurang layak. Sedih saya. Ada yang besar-besar, alhamdulillah, dengan harapan halal semuanya. Nah, mari di seluruh Indonesia ini, yang rumahnya kurang baik, di Kalimantan juga ada, di kampung saya, Pacitan Jawa Timur banyak, di Sumatera ada, di Nusa Tenggara ada, mari, ke depan ini, yang miskinlah yang kita prioritaskan agar meningkat, meningkat, meningkat. Yang sudah kaya, super kaya, sodaqoh-lah, zakatlah, berikanlah bantuan kepada yang miskin. Itu.
Jadi, infrastruktur yang sudah baik akan terus kita lanjutkan. Yang kedua, tenaga kerja Saudara-saudara. Saya pernah menerima tenaga kerja dari Malaysia, di Nunukan dulu ya Bapak ya? Saya sudah bicara dengan Perdana Menteri Abdullah Badawi, karena banyak putera-puteri tenaga kerja yang tidak bersekolah. Malaysia berjanji, dua kali kepada kita, baik di Kuala Lumpur maupun di Bukittinggi, dan kemudian kami diberitahu sedang dipersiapkan. Insya Allah, anak-anak kita, putera-puteri tenaga kerja yang ada di Negara Bagian Sabah dan Sarawak itu akan bisa bersekolah. Dengan demikian mereka akan bisa melanjutkan pendidikannya di sana. Kita akan terus tingkatkan pelayanan kepada tenaga kerja disamping kebijakan tenaga kerja terus kita tingkatkan di waktu yang akan datang.
Saudara-saudara,
Jadi masalah perbatasan, masalah pipa, masalah listrik, masalah infrastruktur, masalah Tenaga Kerja Indonesia, saya sudah terima tadi rekomendasi dari masyarakat Kalimantan Timur, saya pelajari, terima kasih, semuanya itu menjadi bahan bagi kita untuk mengembangkan kebijakan yang tepat, yang adil bagi seluruh rakyat Indonesia.
Itulah yang saya sampaikan. Dan kemudian kalau tadi ada bantuan koperasi, usaha kecil dan menengah, teruslah kita ulet, gigih, jangan menyerah. Selalu ada hari esok yang lebih baik. Di belakang, di balik musibah ada berkah. Kita tidak ingin menjadi orang yang merugi. Tidak ada perubahan sebuah negara, kecuali bangsa itu, kaum itu mengubahnya sendiri.
Tentu kita ingin Kalimantan Timur maju, kita ingin Samarinda maju. Mari kita ubah Samarinda, Kalimantan Timur oleh kita sendiri, dengan kerjasama yang baik. Saling dukung, saling membantu. Pemimpin, semua peimimpin, kepala desa, camat, bupati, walikota, gubernur, sampai saya, harus mencurahkan seluruh pikiran dan tenaganya, siang dan malam untuk memikirkan rakyatnya.
Rakyat, tolonglah bantu pemimpin untuk menciptakan keadaan yang baik, yang aman, yang damai, tidak rusuh, sehingga ekonomi bergerak, dunia usaha bergerak. Hanya dengan cara itulah, insya Allah semua masalah yang kita hadapi dapat kita atasi, dan setapak demi setapak kita membangun menuju masa depan yang lebih baik.
Demikianlah Saudara-saudara yang ingin saya sampaikan. Dan besok saya akan meninjau bendungan dan tempat-tempat lain, saya mohon diri besok kembali ke Jakarta, insya Allah tahun 2007, pada Hari Pers Nasional saya bisa datang lagi, kita bisa bertemu lagi. Insya Allah, Pekan Olahraga Nasional pada tahun 2008 di Samarinda kita bikin yang megah, yang berhasil, sehingga menjadikan kebanggaan bagi Saudara-saudara dan tetap memberikan rahmat bagi bangsa kita.
Sekian, selamat beribadah,
Wassalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh.
* * * * *
Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan



