Pidato Presiden

Sambutan Peninjauan Bendungan Manggar

 

TRANSKRIPSI
SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
PENINJAUAN BENDUNGAN MANGGAR
BALIKPAPAN-KALIMANTAN TIMUR, 17 OKTOBER 2006


Bismillahirrahmanirrahim,

Assalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh,

Selamat pagi,
Salam sejahtera untuk kita semua,

Saudara Menteri Pekerjaan Umum dan para Menteri yang saya hormati,
Saudara Wakil Gubernur Kalimantan Timur,
Para Pimpinan dan Pejabat yang bertugas di Kalimantan Timur,
Hadirin sekalian yang saya hormati,

Alhamdulillah, hari ini berada di tempat ini, insya Allah dalam keadaan sehat wal’afiat, untuk bersama-sama meninjau pengembangan ataupun pembangunan Bendungan Manggar. Sebagaimana tadi disampaikan oleh Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kalimantan Timur.

Saya ingin menggunakan kesempatan yang baik ini untuk memberikan penekanan kepada Saudara semua tentang pentingnya kita terus membangun infrastruktur di seluruh tanah air, termasuk di Kalimantan Timur ini, agar pertama-tama, pelayanan kepada rakyat, pelayanan kepada publik, dapat kita tingkatkan lebih baik lagi. Dan yang kedua, dengan infrastruktur yang makin baik, insya Allah, ekonomi akan tumbuh lebih baik lagi, dan akhirnya, kesejahteraan rakyat akan dapat kita tingkatkan.

Ketika Indonesia mengalami krisis delapan tahun yang lalu, karena kesulitan finansial secara nasional, tidak banyak infrastruktur yang kita bangun. Bahkan terus-terang, banyak infrastruktur yang kurang terpelihara dengan baik, karena memang krisis, karena memang, anggaran yang ada harus diprioritaskan untuk mengatasi krisis, terutama untuk membantu saudara-saudara yang mengalami kesulitan.

Tetapi setelah, alhamdulillah, kita pelan-pelan bisa pulih dari krisis, sebagai contoh, yang patut kita syukuri, tahun lalu, tahun 2005, pertumbuhan ekonomi kita kembali mendekati 6% atau 5,6%, dan sejumlah indikator makro ekonomi mulai membaik, meskipun harus terus kita pacu, maka sudah sepantasnya, negara, dalam hal ini pemerintah, kembali mengalokasikan anggaran untuk membangun kembali infrastruktur kita di seluruh tanah air, baik itu seperti yang kita lihat sekarang ini, bendungan, maupun yang berkaitan dengan ketahanan air.

Yang kedua, yang berkaitan dengan infrastruktur transportasi, jalan-jalan, lantas bandara, pelabuhan laut, telekomunikasi, energi, termasuk listrik, dan lain-lain. Ini akan terus kita lakukan dengan lebih intensif lagi ke depan, baik menggunakan dana APBN maupun APBD yang memang itu harus pertama-tama menjadi tugas dan tanggung jawab pemerintah dan juga bekerjasama dengan swasta, yang meski bersifat komersial, yang tentunya swasta bisa menggunakan dana yang lebih besar dibandingkan dana yang dimiliki oleh pemerintah.

Tetapi infrastruktur yang berkaitan dengan kepentingan rakyat, apalagi infrastruktur di daerah tertinggal, di perdesaan, yang kaitannya dengan pelayanan publik, tentu menjadi tanggung jawab pemerintah yang utama. Sedangkan yang bisa dikaitkan dengan kepentingan usaha, kepentingan komersial, kepentingan bisnis, maka kerjasama dengan pihak swasta adalah menjadi pilihan yang tepat.

Energi, listrik, sebagai contoh. Sejak Indonesia merdeka, 17 Agustus 1945 sampai sekarang ini, kapasitas tenaga listrik kita berjumlah 25 ribu megawatt di seluruh tanah air. Dikaitkan dengan perkembangan permintaan yang luar biasa, berkembang secara dramatis tahun-tahun terakhir ini, seperti keperluan rumah tangga, instalasi pemerintah, industri, jasa, dan lain-lain, maka 25 ribu megawatt itu jelas tidak mencukupi.

Oleh karena itu, dengan segala kemampuan yang ada, dengan rencana yang kita olah secara baik, insya Allah, dalam waktu tiga, empat tahun mendatang, kita akan meningkatkan kapasitas ketenagalistrikan kita sebesar 10 ribu megawatt lagi. Itu sekitar 40% dari total output yang kita miliki. Tentu ini program besar, oleh karena itu harus kita sukseskan, karena memang kita perlukan untuk memenuhi kepentingan atau kebutuhan banyak pihak yang bersifat ekonomi maupun yang non ekonomi.

Demikian juga infrastruktur yang lain. Sebagaimana tadi malam di Samarinda, bahwa pembangunan infrastruktur yang ada di Kalimantan Timur ini, yang sudah diprogramkan, sebagian baru selesai, sedang berjalan, itu mencapai hampir 800 milyar rupiah. Bendungan Manggar ini, dua bendungan pengendali banjir, lantas Jembatan Mahakam, kemudian juga tanggul untuk pengendali banjir, dan kemudian proyek air bersih, lantas proyek pembangunan infrastruktur untuk daerah perdesaan dan desa tertinggal. Total semuanya itu mencapai sekitar 800 milyar rupiah. Tentu ini harus kita bangun dengan baik, kita pelihara dengan baik. Dengan demikian masa pakainya panjang dan benar-benar bisa mengatasi permasalahan masyarakat di wilayah ini.

Saudara-saudara,
Ini bulan suci Ramadhan, kesempatan yang baik untuk kita juga bisa melakukan refleksi, dunia, atau bumi tempat kita tinggal dan hidup ini, kalau tidak kita kelola dengan baik, suatu saat bisa mengalami krisis, karena sumber daya alam yang diberikan oleh Allah SWT yang diberikan kepada manusia tidak tak terbatas. Apakah minyak, gas, batubara dan sumber daya alam lainnya, itu ada batasnya dan dari tahun ke tahun susut, karena memang dieksploitasi, diproduksi, digunakan.

Sementara itu, kebutuhan masyarakat sedunia, termasuk di negeri kita terus meningkat terhadap pangan, energi dan air. Ditambah pola hidup masyarakat sejagat, yang disebut way of life, kultur, kebiasaan, kadang-kadang tidak ramah lingkungan, kadang-kadang tidak hemat dan mengancam keberlanjutan dari sumber daya alam itu.

Misalnya, ada yang memboroskan energi, entah listrik, entah bahan bakar minyak ataupun makanan. Di banyak negara, negara-negara yang kaya, masih dinilai terjadi pemborosan semuanya itu. Tetapi negara-negara yang miskin, bahkan tidak bisa mengkonsumsi makanan maupun energi yang cukup.

Untuk diketahui, setiap tahun ada delapan juta manusia yang meninggal karena memang dia tidak bisa hidup, they are too poor to live. Sangat-sangat miskin, harus meninggal. Sementara, barangkali di negara-negara yang kaya, negara-negara yang maju, terjadi pemborosan, waste, terjadi ketidakhematan penggunaan, entah pangan, energi dan lain-lain. Ini memerlukan kesadaran besar dari tingkat internasional, manusia sejagat, bahwa perlu ada kesadaran global untuk memelihara kesinambungan global, global consensus to global sustainability.

Mari kita mulai dari negeri kita sendiri. Mari kita mulai dari diri kita sendiri. Kalau kita pandai-pandai mengelola tiga hal yang pokok menurut saya, yaitu pangan, berarti pertanian kita, pertanian yang berkelanjutan, begitu, kemudian energi, kebutuhan hidup yang sangat penting bagi kita, ketahanan energi dan yang ketiga air. Kecukupan air, ketahanan air, water security. Jangan dikira, meskipun kita lihat di peta Indonesia tidak mungkin kekurangan air, karena dari delapan juta kilometer persegi, hanya dua juta kilometer persegi daratan, selebihnya air. Tetapi itu air laut, bukan air bersih, bukan drinking water, bukan air yang bisa segera dikonsumsi tanpa proses teknologi yang kita lakukan.

Ada satu studi bahwa Pulau Jawa sesungguhnya sudah mulai memiliki permasalahan dengan air, untuk tidak kita sebut dengan krisis air. Demikian juga tempat-tempat yang lain. Oleh karena itu, sebagaimana saya sampaikan tahun 2005 yang lalu, kita harus pandai-pandai mengelola kebutuhan pangan kita, kebutuhan energi kita, dan kebutuhan air untuk masyarakat di Indonesia ini.

Kembali kepada ketahanan air Saudara-saudara, ini menyangkut tiga hal, satu kebijakan, policy. Policy ini bukan hanya pemerintah pusat, tetapi juga pemerintah daerah. Apalagi dengan desentralisasi dan otonomi daerah. Saya berharap, gubernur, bupati, walikota, benar-benar memiliki kebijakan yang tepat tentang konservasi, tentang penghematan, tentang pendayagunaan air sebaik-baiknya. Jangan keliru, jangan berboros-boros, jangan menghabis-habiskan sumber daya alam untuk generasi sekarang dan tidak menyisakan untuk generasi yang akan datang. Pertama policy, kebijakan.

Yang kedua adalah teknologi. Teknologi yang makin berkembang mari kita gunakan untuk mengatasi permasalahan, air misalnya, ataupun permasalahan yang lain, energi, food dan lain-lain. Teknologi. Tetapi yang ketiga yang sangat penting adalah sebetulnya gaya hidup. Kultur, way of live. Mari kita benar-benar membangun budaya hemat. Indonesia dikenal sebagai bangsa yang boros energi, mungkin juga boros air.

Kita lihat kehidupan kita sehari-hari. Kita menggunakan air, kadang-kadang kran lupa menutup, mengalir terus, di asrama, di barak, di kantor-kantor pemerintah dan sebagainya, seolah-olah tidak ada habis-habisnya, seolah-olah gratis padahal tidak gratis. Sementara di Gunung Kidul, di Pacitan, di NTB, di NTT, di tempat-tempat lain, bisa mencari air lima kilo berjalan kaki dengan ember, karena sulitnya, langkanya air. Itu baru air.

Telepon. Telepon kalau telepon dinas, seolah-olah yang bayar negara, bisa 10 menit, 20 menit, setengah jam, ada yang ngobrol sampai 40 menit. Boros sekali. Habis uang negara. listrik, kadang-kadang. Sementara saudara kita banyak yang belum dapat listrik. Di kota-kota, di gedung pemerintah listrik menyala, padahal tidak harus menyala siang hari. Tidak semua harus menyala. Malam hari kantor tutup, lupa dimatikan listriknya, AC-nya segala macam.

Boros, bermilyar-milyar, akumulasi bertrilyun-trilyun for nothing. Bayangkan kalau kita mengubah cara hidup kita, hidup hemat, maka yang tadinya boros, terbuang percuma itu kita selamatkan. Kalau itu berupa anggaran, ratusan milyar, trilyunan, untuk apa? Kembali membantu rakyat kita. Pendidikan, kesehatan, mengurangi kemiskinan, membangun infrastruktur lagi dan lain-lain. Tolong, kita berpikir secara nasional, masa kini, masa depan, sambil memahami, menyadari bahwa tidak semua saudara-saudara kita sudah menikmati kemudahan, kemudahan yang kita miliki.

Nah, dalam kaitan ini, sekali lagi saya mengajak Saudara-saudara, mari, kita bangun hidup hemat. Mari kita kelola sumber daya alam, anugerah Allah ini dengan sebaik-baiknya. Ingat, yang ada di depan kita ini, ini bukan warisan nenek moyang kita, tetapi sesuatu yang kita pinjam dari anak cucu kita. M

Mereka tidak bisa, yang usianya tiga tahun, dua tahun, yang dalam kandungan, tidak bisa menguji kebijakan sekarang. Tidak bisa merumuskan visi, tidak bisa ikut voting dalam pengambilan keputusan. Tetapi suara mereka kita dengar, masa depan mereka. Oleh karena itu, ini harus kita jadikan suatu kesadaran bersama, untuk sekali lagi mengelola semuanya dengan baik. Berhematlah kita, berhemat dan berhemat.

Demikian yang saya sampaikan, dan kepada pimpinan Kalimantan Timur, Saudara semua, mari kita mulai dari diri kita sendiri, kita kelola semuanya dengan baik, kita bangun hidup hemat.

Dan seperti waduk ini, yang kita bangun dengan menggunakan dana, berapa milyar tadi? Ya, hampir 100 milyar, itupun kapasitasnya untuk Balikpapan hanya bisa mencapai 2010, setelah itu harus kita bangun yang lain, menggunakan dana lagi, dan seterusnya. Mari kita benar-benar gunakan dengan baik, kita kelola dengan baik. Dengan demikian tidak perlu pemborosan anggaran, yang anggaran bisa kita gunakan untuk kepentingan yang lain.

Demikian Saudara-saudara,
Sebelum lupa saya, ini sangat mungkin nanti bisa dikembangkan, disamping kawasan olahraga juga kawasan wisata. Indah ini. Jadi kalau dikelola dengan baik, didesain mulai sekarang, dirancang mulai sekarang, kalau perlu mengajak investor siapa yang berminat di sini, sehingga fungsinya banyak. Juga untuk sumber air bersih, untuk olahraga, sport, untuk wisata. Dengan demikian ada gerakan ekonomi lokal, menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan rakyat sehari-hari di sekitar daerah sini.

Itu pesan saya. Dan insya Allah, kalau saya datang ke mari nanti bulan Maret, Februari 2007, oh, tapi yang di sini 2008, yang PON, mudah-mudahan sudah lebih indah lagi. Insya Allah bisa. Masih ada hampir dua tahun lagi. Bikin indah, dan konsep saya berseri ya, bersih, sehat, rapi indah. Bikin Kalimantan Timur berseri.

Saya lihat sebagian sudah berseri, sebagian belum. Masih ada yang kotor, sepanjang jalan, masih ada yang belum rapi. Tolong, kita bikin rapi, kita bikin bersih, kita bikin sehat. Sehingga kita mencintai Kalimantan Timur, mencintai wilayah kita sendiri. Kalau kita tentram hidup kita, cinta itu bagian dari kemakmuran, meskipun material kita belum makmur benar, sedang kita bangun menuju ke situ.

Demikianlah Saudara-saudara,
Terima kasih,
Wassalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh.

* * * * *



Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan