Pidato Presiden

Sambutan Menyambut Idul Fitri 1427 H

 

RANSKRIPSI
SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
MENYAMBUT LEBARAN
ISTANA NEGARA, 23 OKTOBER 2006


Bismillahirrahmanirrahim,

Assalamu’alaikum warrahmatullahi wabarrakatuh,
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar,
Laillaha illalahu Akbar,
Allahu Akbar Walillah Ilham,


Saudara-saudara,
Kaum muslimin dan muslimat dimanapun berada marilah kita bersama-sama memanjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT, karena atas rahmad dan karunianya pada malam ini kita dapat mengakhiri ibadah puasa di bulan Ramadhan tahun ini, Insya Allah besok pagi kita akan menyambut datangnya Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1427 Hijriyah, semoga amal ibadah yang telah kita laksanakan di bulan Ramadhan ini akan diterima oleh Allah SWT sebagai amal yang saleh. Saya menyadari bahwa sebagian kaum Muslimin dan Muslimat di negara kita telah merayakan Idul Fitri pada hari ini, hal itu juga terjadi pada kaum Muslimin dan Muslimat di negara-negara lain.

Perbedaan menetapkan tanggal 1 Syawal sebagaimana juga dalam menetapkan awal Ramadhan adalah hal yang biasa dalam sejarah Islam, perbedaan itu disebabkan oleh perbedaan dalam perhitungan atau hisab awal dan akhir bulan hijriah yang didasarkan atas perhitungan peredaran bulan, dalam sistem penanggalan, hal itu dikenal dengan sebutan tahun bulan, atau tahun Qomariah, sebagian umat Islam ingin memastikan awal dan akhir 1 bulan dengan cara melihat bulan secara langsung atau Ruqiyah, sebab itu perbedaan geografis suatu wilayah dimuka bumi akan mempengaruhi terlihat atau tidaknya bulan untuk menentukan munculnya bulan yang baru.

Kedua cara dalam menentukan akhir dan awal bulan dalam perhitungan tahun hijriyah itu sama-sama diterima dalam praktek untuk melaksanakan ajaran Islam, oleh karena itu saya mengajak kaum muslimin dan muslimat di tanah air untuk menerima adanya perbedaan itu sebagai suatu kewajaran. Perbedaan itu tidak perlu menyebabkan berkurangnya kerukunan internal umat Islam setiap perbedaan sebagaimana dikatakan oleh Rasullulah SAW adalah rahmat yang dapat membawa umat kepada kebaikan. Saya yakin dan percaya umat Islam di tanah air dalam perjalanan sejarahnya yang telah berabad-abad lamanya telah tumbuh menjadi umat yang dewasa dan toleran dalam memahami dan menerima setiap perbedaan.

Saudara-saudara,
Pada malam yang membahagiakan ini, kaum Muslimin di tanah air sama-sama mengumandangkan takbir, tahlil dan taqmid, untuk mengagungkan kebesaran Allah Subbahannahu Wata’ala, mengujinya dan memanjatkan rasa syukur kepadanya. Kaum Muslimin dengan penuh sukacita merayakan kemenangan dari peperangan yang besar, yaitu perang melawan hawa nafsu, perang melawan hawa nafsu itu berhasil kita menangkan dengan penuh rasa penyerahan diri kepada-Nya.

Kemenangan rohaniah itu sesungguhnya akan mengangkat harkat dan martabat manusia menjadi umat yang benar-benar bertaqwa, mereka yang bertaqwa itu bukan saja sungguh-sungguh beriman kepada Allah tetapi juga memiliki pikiran yang jernih dan kepekaan yang jernih dan kepekaan hati nurani yang tinggi. Sikap seperti itu akan menjadi landasan yang kukuh dalam membangun kesadaran moral yang tinggi. Kesadaran moral yang tinggi itu bukan saja sangat penting dalam kehidupan pribadi tetapi juga sangat fundamental dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Suatu bangsa hanya mungkin akan tegak berdiri untuk selama-lamanya, jika bangsa itu memiliki kesadaran moral. Jika moralitas runtuh, maka akan runtuh pula bangsa itu. Bangsa yang mengalami keruntuhan moral adalah bangsa yang tidak pandai membedakan antara yang baik dengan yang buruk, yang benar dengan yang salah, yang hak dengan yang bathil dan yang maqbul dengan munkar. Jika hal itu terjadi, maka segala macam kejahatan dan dekadensi akan terjadi, warga bangsa itu akan menjadi seperti serigala diantara sesamanya, mereka yang kuat akan menindas dan berlaku sewenang-wenang kepada yang lemah. Yang dikejar adalah kekuasaan dan kekayaan tanpa batas. Kekerasan dan kepuasan kehendak bisa merajalela.

Kita tidak ingin bangsa kita menjadi bangsa seperti itu, bangsa kita yang mayoritas beragama Islam harus mampu menunjukkan kepada dunia bahwa kita adalah bangsa yang beradab dan memiliki kepekaan serta komitmen yang tinggi kepada nilai-nilai moral. Di bulan Ramadhan, bulan yang penuh rahmat, ampunan dan kasih sayang Allah SWT, umat Islam telah dilatih untuk memperkuat kesadaran moral, persaudaraan dan persamaan diantara sesama manusia, Tuhan tidak membedakan manusia karena mereka kaya atau miskin, Tuhan juga tidak membedakan status sosial dan tingkat pendidikan seseorang, Tuhan pun tidak membedakan manusia karena mereka berkuasa atau menjadi rakyat jelata, mereka yang paling mulia dihadapan-Nya adalah mereka yang paling bertaqwa kepada-Nya.

Ibadah puasa, sebagaimana kita ketahui bersama diperintahkan Allah kepada mereka yang beriman, dengan puasa itu, keimanan akan meningkat menjadi ketaqwaan, secara sosial ibadah puasa yang kita laksanakan dengan penuh penghayatan dapat pula mempersempit jurang pemisah antara yang kaya dan yang miskin. Puasa dapat menjadi wahana untuk membangun kesolehan sosial, kesalehan sosial diwujudkan dalam menyantuni kaum fakir dan miskin, bagi segenap penyelenggara negara, puasa juga akan mengingatkan mereka untuk menjalankan tugas dengan sungguh-sungguh dalam membangun kemakmuran dan kesejahteraan, agama Islam mengajarkan agar kemiskinan dibasmi dan diberantas, keadilan wajib ditegakkan agar kemakmuran dapat dirasakan oleh seluruh rakyat, ibadah puasa selain dapat membangun kesalehan sosial juga dapat kita jadikan sebagai bulan talbiah, bulan yang mengandung nilai-nilai pendidikan, ibadah puasa melatih diri kita untuk hidup disiplin dan mentaati aturan yang ditetapkan oleh Allah Subbahana Wata’alla, puasa menempa diri kita untuk menjadi manusia yang zuhud, yaitu manusia yang tidak diperbudak oleh nafsu duniawi.

Mereka memiliki sesuatu baik kekuasaan, kekayaan maupun kehormatan namun mereka tidak dikendalikan oleh semua yang mereka miliki itu untuk mengejar kesenangan duniawi, apalagi apa yang dimiliki itu dimanfaatkan untuk melakukan tipu daya korupsi dan kejahatan lainnya. Perbuatan-perbuatan seperti itu jelas-jelas akan merugikan kepentingan masyarakat, bangsa dan negara. Apa yang dimilki itu hendaknya justru dimanfaatkan untuk membangun kepentingan bersama, kesejahteraan untuk semua. Sifat zuhud akan medorong manusia untuk memanfaatkan kekuasaan, jabatan, harta, kehormatan dan ilmu pengetahuan sebagai bekal untuk meraih kebahagiaan yang sejati di dunia dan akhirat.

Saudara-saudara,
Sekali lagi, saya ingin menegaskan bahwa nilai-nilai ibadah puasa yang saya kemukakan tadi sangat besar artinya dalam membangun bangsa dan negara kita menuju kearah yang lebih baik. Nilai-nilai ibadah puasa akan mendorong tumbuhnya kehidupan masyarakat yang demokratis, manusiawi dan adil. Dengan nilai-nilai itu marilah kita meneruskan perjuangan untuk membangun masyarakat yang maju, modern dan demokratis yang dilandasi oleh keimanan dan ketaqwaan. Sebagai bangsa dengan penduduk muslim terbesar di dunia kita ingin memberikan contoh dalam membangun kehidupan kebangsaan yang religius, rukun dan maju. Dalam kehidupan berbangsa seperti itu Islam, demokrasi dan kemodernan dapat berjalan seiring sejalan.


Saudara-saudara,
Di hari yang Fitri, hari yang penuh kesucian dan kedamaian, sekali lagi saya mengajak kaum Muslimin dan Muslimat untuk sama-sama memelihara dan memperteguh kerukunan antar umat beragama. Mari kita bangun ukhuwah islamiyah sekaligus ukhuwal watoniah, ajakan yang sama saya tujukan pula kepada umat beragama yang lain. Dimasa-masa yang lalu kita sama-sama telah merasakan pengalaman pahit dengan terjadinya konflik, kekerasan dan kerusuhan diberbagai daerah.

Mari kita bersama-sama mencegah, agar kejadian-kejadian seperti itu tidak terulang lagi, tidak ada yang diuntungkan oleh peristiwa semacam itu. Apa yang ada hanyalah yang penderitaan yang berlangsung dalam waktu yang panjang. Karena saya itu saya mengajak seluruh umat beragama untuk sama-sama membangun kedewasaan dan toleransi. Kalau ada tanda-tanda yang kembali akan memicu konflik dan ketegangan marilah kita menghentikannya bersama-sama.

Saudara-saudara,
Saya ingin mengakhiri pidato ini dengan mengucapkan “Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1427 Hijriyah” kepada kaum Muslimin dan Muslimat di seluruh tanah air. Marilah di hari yang mulia ini kita saling maaf-memaafkan satu sama lain, atas segala kesalahan dan kekhilafan kita. Dari lubuk hati yang paling dalam saya pribadi dan keluarga menyampaikan pula permohonan maaf kepada seluruh rakyat dan bangsa Indonesia atas kekhilafan, kealpaan dan kesalahan yang mungkin telah saya lakukan selama memimpin bangsa ini.

Kepada saudara-saudara,
Yang mudik ke kampung halaman masing-masing, saya berpesan berhati-hatilah selama dalam perjalanan. Saya ikut berdoa semoga saudara-saudara senantiasa berada dalam keadaan sehat wal’afiat. Semoga pula saudara-saudara dapat bersilahturahim dengan suasana damai dalam keluarga dan handai taulan di tempat masing-masing.

Minal Aidin Wal’faidzin, Mohon Maaf, Lahir dan Batin.
Wabillahi Taufiq Wal’ Hidayah
Wassalammualaikum warrahmatulahi wabarakatuh





*****

Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan