Pidato Presiden
Pengarahan Dalam Rangka Pengembangan Bahan Bakar Nabati
TRANSKRIPSI
PENGARAHAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
DALAM RANGKA PENGEMBANGAN BAHAN BAKAR NABATI
ISTANA NEGARA, 9 JANUARI 2007
Bismillahirahmanirrahim,
Assalamualaikum warrahmatullahi wabarrakatuh,
Selamat Pagi,
Salam sejahtera untuk kita semua
Yang saya hormati para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu,
Yang mulia para Duta Besar negara-negara sahabat, para pimpinan BUMN, Lembaga-Lembaga Pemerintah Non Departemen, para Gubernur, para pimpinan dunia usaha dalam dan luar negeri, para pimpinan lembaga swadaya masyarakat, para pimpinan Lembaga Pengkajian, Penelitian dan Pengembangan, para pimpinan organisasi profesi dan Saudara-saudara yang secara aktif mengembangkan bahan bakar nabati di tanah air,
Hadirin sekalian yang saya muliakan,
Marilah sekali lagi kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas perkenan rahmat dan ridho-Nya kita semua masih diberi kekuatan dan kesehatan untuk melanjutkan tugas dan pengabdian kita kepada bangsa dan negara tercinta. Kita juga bersyukur karena hari ini kita dapat menghadiri acara pelaporan kemajuan pengembangan bahan bakar nabati dan hasil penandatanganan perjanjian kerjasama pengembangan BBN yang tadi pagi telah dilaksanakan.
Saya ingin menggunakan kesempatan yang baik ini untuk menyampaikan ucapan selamat dan terima kasih saya kepada semua pihak yang dengan gigih berusaha keras untuk mengembangkan bahan bakar nabati. Saya berharap upaya besar kita ini, termasuk kesepakatan kerja sama dari berbagai pihak yang telah dilaksanakan tadi benar-benar dapat meningkatkan penggunaan bahan bakar nabati yang ramah lingkungan di negeri kita.
Upaya kita mengembangkan bahan bakar nabati dan mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar dari energi fosil sangat penting dan telah mendesak karena itu pelaksanaan program ini pun juga sangat penting untuk kita laksanakan dan kita sukseskan bersama.
Hadirin sekalian,
Untuk memenuhi kebutuhan energi sebagaimana yang kita saksikan dalam tayangan tadi, selama ini kita lebih banyak bergantung kepada energi fosil yaitu minyak bumi sekitar 52%, selebihnya menggunakan gas bumi sebesar 28%, batu bara 15%, energi air 3%, dan energi panas bumi lebih dari 1% atau 1% lebih sedikit. Keadaan seperti ini tentu tidak bisa kita biarkan karena tidak sustainable, tidak bisa berkelanjutan. Akan membebani generasi yang akan datang, membebani anak cucu kita. kita harus mengurangi ketergantungan kita pada energi fosil mengingat sifatnya yang tidak terbarukan. Cadangan minyak bumi kita diperkirakan akan habis dalam jangka waktu 23 tahun, jika tidak menemukan ladang minyak yang baru. Gas kita juga demikian, diperkirakan akan habis dalam waktu kurang lebih 60 tahun, jika tidak ditemukan deposit yang baru. Batu bara meskipun cukup melimpah di negeri kita menurut perkiraan juga akan habis dalam waktu 150 tahun dari sekarang ini.
Dengan kata lain kebutuhan energi kita terus meningkat, sementara sumber energi fosil yang kita gunakan cadangannya kian menipis. Kini hampir semua negara berbicara tentang energi di seluruh dunia, menjadi permasalahan critical bagi semua bangsa. Tidak akan ada negara yang dapat membangun semua aspek kehidupan masyarakatnya tanpa energi.
Saudara-saudara,
Karena negara kita kaya akan sumberdaya alam, termasuk sumber energi maka rakyatnya sering lupa memikirkan hari esok. Kita kurang menyadari bahwa suatu saat kita akan kekurangan sumber energi. Telah lama kita ternina bobo, telah lama kita hidup tidak hemat energi, boros energi. Pemerintah tidak boleh membiarkan hal ini berlarut-larut karena itu kita harus membuat perencanaan dan bertindak pada waktu yang tepat agar kita tidak terlambat. Ini kuncinya, tepat agar tidak terlambat. Kita harus mengurangi penggunaan energi fosil secara bertahap. Saya menargetkan penggunaan energi minyak bumi kurang dari 20% pada tahun 2025 nanti.
Hal ini saya nyatakan dalam Peraturan Presiden nomor 5 tahun 2006 tentang kebijakan energi nasional. Untuk menggantikan bahan bakar minyak kita harus mencari energi alternatif. Sumber energi alternatif itu dapat berasal dari alam maupun berasal dari tumbuh-tumbuhan. Kita memiliki air, panas bumi, cahaya matahari, angin, gelombang laut, aliran sungai yang kesemuanya dapat kita olah untuk menghasilkan energi. Sumber energi yang saya sebutkan tadi cadangannya boleh dikatakan tanpa batas. Selama matahari masih ada, selama itu pula kita akan merasakan panasnya. Selama laut masih ada, selama itu pula kita dapat menyaksikan gelombangnya. Persoalannya kemudian adalah untuk memanfaatkan sumber energi ini kita memerlukan teknologi, modal atau capital dan keahlian. Sayangnya semuanya itu belum sepenuhnya kita miliki. Selain sumber-sumber yang langsung dari alam seperti saya katakan tadi, kita juga dapat menghasilkan energi dari tumbuh-tumbuhan yang kita sebut sebagai bahan bahar nabati. Ubi kayu, tebu, jarak pagar, kelapa sawit, ditambahkan lagi kelapa atau coconut dan berbagai jenis tumbuhan penghasil energi dapat tumbuh dengan baik di negeri kita. Tentu, dengan menanam ubi kayu, jarak pagar dan kelapa sawit sehektar, dua hektar, belum berarti apa-apa untuk menghasilkan energi pengganti BBM yang setiap hari di konsumsi dalam jumlah ribuan barrel. Jangan puas, jangan terpesona hanya dengan berhasil dalam kebun percontohan demonstration flop. Harus bisa melampaui itu, meskipun itu penting, yang kita perlukan lebih dari itu.
Penanaman tumbuh-tumbuhan penghasil energi ini harus dilakukan dalam jumlah besar dan bersifat masal. Bukan sekedar dua hektar, melainkan ribuan hektar kalau perlu jutaan hektar sebab itu kita menjadikan program ini sebagai program nasional yang harus didukung oleh semua pihak. Saya tidaklah bermimpi dengan program bahan bakar nabati ini dan ini bukan wacana saja. Saya bersikap realistik dengan memperhitungkan segala kemampuan dan potensi yang kita miliki. Saya juga memikirkan aspek-aspek lain yang dapat ikut berkembang dengan proyek besar ini. Wilayah negara kita sangatlah luas, sebagian besar lahan yang kita miliki belum kita manfaatkan untuk pertanian dan perkebunan secara efisien dan efektif. Kini banyaklah lahan hutan yang gundul karena kayunya dicuri dan ditebangi secara liar di waktu yang lalu.
Pemerintah telah mengeluarkan dana yang tidak sedikit untuk menghijaukannya kembali reforestation. Disamping itu kita memiliki jutaan hektar lahan kritis di daerah-daerah yang curah hujannya sedikit. Rakyat di perdesaan, rakyat yang tinggal disekitar lahan kritis pada umumnya hidup dalam kemiskinan dan pengangguran yang tidak kentara this guys unemployment. Itu kondisi real kita. kalau lahan gundul dan lahan kritis kita tanami dengan tumbuhan penghasil energi, maka pertama-tama lahan kritis itu dapat kita selamatkan. Kita bebaskan dari sebutan lahan tidur. Gerakan penghijauan nasional atau gerakan Indonesia menanam dapat kita laksanakan dengan sungguh-sungguh. Rakyat miskin yang tinggal di sekitarnya akan mendapatkan pekerjaan. Dengan pekerjaan dia punya penghasilan, dengan penghasilan dia bisa meningkatkan kesejahteraannya sehingga bebas dari golongan rakyat miskin.
Energi yang dihasilkan dapat pula memenuhi kebutuhan energi secara nasional dengan harga yang insya Allah tidak lebih mahal daripada harga BBM. Ketergantungan kita kepada BBM akan berkurang, udara akan lebih segar karena polusinya yang rendah. Secara tidak langsung kita menyelamatkan bumi dari menipisnya lapisan ozon yang menimbulkan efek rumah kaca green energy. Allah SWT akan memberikan pahala yang sangat besar karena kita telah menunaikan tugas sebagai khalifah-Nya di muka bumi untuk menjaga dan memelihara alam semesta.
Jadi tidak berkelebihan kalau saya mengatakan bahwa program energi nabati ini adalah program dunia akhirat. Karena itu saya mengajak kepada seluruh, segenap lapisan masyarakat untuk mendukung program ini demi kemaslahatan kita bersama. Program energi nabati ini adalah ibarat kata pepatah sekali mendayung dua, tiga pulau terlampaui. Kita hijaukan lahan-lahan kita, kita berdayakan masyarakat, kita beri mereka pekerjaan dan kita tingkatkan pendapatannya. Kemudian kita memperoleh energi yang bersahabat dan ramah lingkungan. Kita tidak perlu lagi mengeluarkan begitu banyak dana APBN untuk subsidi BBM yang sering tidak tepat sasaran sepertio sekarang ini.
Hadirin sekalilan yang saya hormati,
Hari ini saudara-saudara telah menandatangani perjanjian kerjasama pengembangan energi nabati atau biofuel. Kerjasama ini melibatkan pemerintah, swasta dan masyarakat yang mencakup berbagai aspek pengembangan energi nabati. Melalui kerjasama ini saya yakin program pengembangan bahan bakar nabati untuk percepatan pengurangan kemiskinan dan pengangguran akan terwujud. Pemerintah juga mengajak bank-bank swasta nasional untuk menyediakan kredit pengembangan energi nabati ini.
Hadirin sekalian yang saya hormati,
Sebelum saya mengakhiri sambutan ini, ijinkan saya untuk menggunakan kesempatan yang baik ini menyampaikan hal-hal yang penting kepada saudara, kepada mitra kita dari negara sahabat dan utamanya kepada seluruh rakyat Indonesia. Ke depan ada tiga komoditas yang strategis karena menyangkut hajat hidup orang banyak dan kritis karena jumlahnya akan menyusut, dan kalau kita tidak pandai-pandai berhemat akan menjadi permasalahan yang serius. Tiga komoditas itu pertama adalah pangan atau food, yang kedua adalah energi atau energy dan yang ketiga adalah air, water, yang sering saya sebut dengan fuel, food, energy and water. Ini adalah komoditas yang benar-benar strategis dan critical.
Oleh karena itu, mari sejak sekarang kita benar-benar dapat mengelolanya dengan baik demi keberlangsungan kehidupan kita. Untuk melakukan pengelolaan yang baik, pada prinsipnya ada tiga solusi yang sesungguhnya telah kita tuangkan dalam kebijakan kita dan aksi-aksinya nyata kita. Pertama adalah diperlukannya kebijakan nasional yang tepat correct policies. Yang kedua adalah dibawanya, dilibatkannya teknologi yang kita sebut dengan technological innovations. Dan yang ketiga, tidak kalah pentingnya kita bangun budaya culture kehidupan masyarakat kita way of life of our people yang betul-betul bisa hidup hemat energi. Kesemuanya itu adalah bagaimana kita bisa menuju ke penggunaan energi yang efisien, efficient use of food, energy and water, khususnya dalam konteks ini adalah energi.
Memahami dua konteks tersebut kita telah menetapkan kebijakan nasional yang didalamnya tentu saja ada kebijakan, ada strategi, ada rencana aksi yang dijalankan dalam langkah-langkah nyata. Baik itu yang bersifat long term untuk mencapai sasaran jangka panjang, 20,30, 50 tahun ke depan. Dan yang kedua adalah short and medium term’s action. Yang kita lakukan sekarang ini tahun ini dan tahun tahun mendatang, dua-duanya perlu kita lakukan. Sebagai contoh, pangan. Kemarin saya melakukan rapat koordinasi Departemen Pertanian khusus membahas bagaimana kita bisa meningkatkan produksi pangan, utamanya beras. Maka dalam konteks ini jangka pendeknya kita bisa menutup defisit beras kita, kurang lebih mendekati 1 juta ton.
Dengan meningkatkan produksi yang tadinya defisit menjadi cukup. Setelah cukup dengan program-program lanjutan insya Allah kita bisa membangun surplus dan kalau surplus Indonesia sangat berpeluang untuk suatu saat mengekspor pangan kita, beras kita. inilah pekerjaan jangka pendek, jangka menengah, jangka panjang yang tentu harus dituangkan dalam kebijakan bukan rencana bangun tidur, bukan asal-asalan. Meskipun sekarang ini kita perjuangkan dengan gigih. Energi juga demikian, kita punya tujuan jangka menengah dan jangka panjang. Tadi, Menko Kesra telah melaporkan berapa suatu saat komposisi penggunaan BBM, berapa yang gas, berapa batu bara, berapa BBN dan lain-lain. Sama, kita tutup kekurangan dulu jangka pendek, jangka menengah menuju ketingkat ketahanan saffuciency, kecukupan. Dan kalau sudah cukup, maka sejalan dengan kehidupan yang makin hemat energi sangat bisa Indonesia mengekspor pula komoditas bahan bakar kita, baik BBM maupun BBN. Kuncinya adalah produktifitas dan efisiensi, productivity and efficiency. Dua-duanya adalah dua muka dari satu mata uang logam, two pieces in one coin, productivity and efficiency. Mari semua pikiran kita, teknologi kita, penelitian kita, usaha kita di lapangan kita arahkan untuk membangun produktifitas dan efisiensi.
Saudara-saudara,
Dengan cerita ini saya ingin menyampaikan kepada saudara-saudara rakyat Indonesia di seluruh tanah air bahwa pemerintah tentu mengetahui persoalan yang berkaitan dengan pangan dan energi ini. Pemerintah juga tahu apa yang diharapkan, yang diinginkan dan dibutuhkan rakyat kita menyangkut pangan dan energi ini. Oleh karena itulah berangkat dari kebijakan, strategi yang telah ditetapkan oleh pemerintah yang dituangkan dalam keputusan dan peraturan Presiden kita menyusun program-program nyata sekarang ini dan program-program itu kita jalankan secara nyata pula di seluruh tanah air. Pemerintah pusat, pemerintah daerah, swasta, lembaga pengkajian, kerjasama dengan negara sahabat dan lain-lain. Tujuannya satu pangan dan energi kita cukup sehingga pangan dan kebutuhan rakyat kita bisa dipenuhi. Tujuan yang lain, dengan pengembangan upaya ini rakyat yang nganggur mendapatkan pekerjaan, rakyat yang miskin bisa kita kurangi kemiskinannya.
Kalau ada yang mengatakan pemerintah tidak tahu masalah, pemerintah tidak mengembangkan kebijakan yang pro rakyat, tentu salah, keliru. Memang benar, belum semua sasaran itu dapat segera kita capai dalam jangka pendek ini harus saya akui, dan tidak semua pula hasil yang ingin kita capai ini dirasakan sekarang atau dalam jangka pendek. Oleh karena itu tekad kita, tekad pemerintah adalah kita akan berusaha sedikit mungkin, bekerja sekeras mungkin agar kebutuhan mendesak kepentingan jangka pendek dapat kita penuhi. Sambil terus meletakkan landasan yang kokoh bagi bangunan ekonomi makro kita, bangunan pembangunan nasional kita yang jangka panjang sangat kita perlukan agar semua permasalahan di negeri ini dapat kita pecahkan secara mendasar. Itulah yang kita lakukan, kita akan penuhi semuanya dengan tahapan-tahapan itu, dengan orientasi saat ini untuk mengatasi masalah-masalah yang benar-benar dirasakan oleh masyarakat kita seperti pangan, beras ataupun energi, listrik, BBM dan BBN. Dalam tiga tahun sebagai contoh kita menambah lagi daya listrik 10.000 megawatt tentu untuk mengatasi kepentingan jangka pendek. Meskipun kepentingan jangka panjang mesti dibangun lagi pengembangan listrik yang lebih luas, yang lebih konseptual dengan memadukan, itu yang dalam great, dalam jaring PLN maupun yang di luar jaring.
Saudara-saudara,
Kita tentu tidak boleh hanya bertindak sesaat demi anak cucu kita, kita lakukan sesuatu yang benar memecahkan masalah-masalah saat ini sambil juga meletakan landasan untuk memecahkan masalah jangka panjang. Kita bisa belajar dari negara-negara sahabat misalnya Korea Selatan, untuk mencapai tahapan sekarang ini proses industrialisasi dilaksanakan panjang sekali. Sekian puluh tahun berubah negara itu. Jepang lebih dulu lagi meletakan landasan modernisasi dan industrialisasi, gigih berlanjut sampailah seperti ini. Republik Rakyat Tiongkok China sejak Wen Shioping 1978 sudah melaksanakan langkah-langkah modernisasi. Berjalan up and down masalah-masalah. Jadilah Republik Tiongkok seperti sekarang. Tentu negara-negara barat, negara-negara yang maju juga mengalami proses yang sama.
Oleh karena itu, mari kita pahami cara berpikir seperti ini. Dan sekali lagi, bagi Indonesia kita mengatasi masalah jangka pendek akibat krisis. Sekali lagi, seraya terus membangun sesuatu yang sifatnya fundamental, makro dan menjangkau kepentingan jangka panjang.
Saudara-saudara,
Itulah yang dapat saya sampaikan sebagai tambahan agar kita semua yakin bahwa kita menuju ke arah kita melakukan langkah-langkah yang benar tetapi tidak sepi masalah, tidak sepi rintangan yang harus kita kelola secara bersama.
Akhirnya saya ingin menyampaikan terima kasih sekali lagi dan penghargaan setinggi-tingginya kepada berbagai pihak yang telah ikut berpartisipasi dalam program pengembangan bahan bakar nabati. Mudah-mudahan ikut sertaan berbagai kelompok baik kelompok lembaga keuangan dan pembiayaan, usaha patungan, peminat investasi maupun kelompok pengembangan teknologi dan research serta kelompok kemitraan masyarakat dapat mendayagunaan seluruh potensi yang kita miliki untuk mewujudkan program ini.
Semoga apa yang kita rencanakan mendapat petunjuk dan perlindungan Tuhan Yang Maha Kuasa Allah SWT, semoga pula kita diberkati saudara-saudara dalam melaksanakan apa yang kita rencanakan.
Sekian.
Wassalamualaikum warrahmatullahi wabarrakatuh.
*****
Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan



