Pidato Presiden

Sambutan Dies Natalis Ke-60 Himpunan Mahasiswa Islam (HMI)

 

SAMBUTAN
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
DIES NATALIS KE-60 HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
BIDAKARA, 5 FEBRUARI 2007


Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Yang saya hormati Saudara Wakil Presiden Republik Indonesia beserta Ibu Mufidah Jusuf Kalla,
Yang saya hormati Para Pimpinan Lembaga-Lembaga Negara, Para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu, Saudara Wakil Gubernur DKI Jakarta,
Yang saya muliakan Para Mantan Pimpinan HMI, Para Tokoh Nasional Alumnus HMI,
Yang saya hormati Saudara Ketua Umum PB HMI serta Pengurus HMI dan Keluarga Besar HMI, Para Pimpinan Organisasi Kepemudaan,

Hadirin sekalian yang saya muliakan,
Puji dan syukur marilah sama-sama kita panjatkan ke hadirat Allah SWT, karena hari ini kita dapat menghadiri Hari Ulang Tahun ke-60 Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Saya ingin menggunakan kesempatan yang membahagiakan ini, untuk menyampaikan ucapan selamat kepada seluruh warga HMI di mana pun berada. Semoga di Hari Ulang Tahun yang ke-60 ini HMI tetap jaya, dalam mengemban visi dan misinya, sebagai sebuah organisasi mahasiswa Islam yang besar di tanah air. Saya juga berpesan kepada seluruh warga HMI, agar tetap konsisten dalam berjuang menerapkan nilai-nilai Islam dalam konteks Keindonesiaan.

Hadirin sekalian,
Sebagaimana kita maklumi, HMI lahir di tengah kancah perjuangan fisik dan diplomasi untuk mempertahankan kemerdekaan, pada tanggal 5 Februari 1947 di Yogyakarta. Sejak awal, para tokoh dan aktivis HMI telah terlibat dalam perjuangan menegakkan kemerdekaan tanah air kita. Semangat Keislaman telah menyatu dengan semangat kebangsaan. Berjuang di jalan Allah, untuk menegakkan kemerdekaan dan kedaulatan negara, sungguh merupakan suatu cita-cita yang mulia. Cita-cita seperti itu, saya yakin, tidak akan pernah padam pada seluruh warga HMI.

Tugas warga HMI di masa kini adalah melanjutkan perjuangan untuk mengisi kemerdekaan, dengan kerja keras dan pengabdian yang tulus. Tantangan yang dihadapi bangsa dan negara kita, di masa sekarang dan di masa depan, tidaklah ringan. Karena itu, saya mengajak, marilah kita bahu-membahu mengatasi persoalan-persoalan bangsa dan negara yang berat itu. Modal utama kita ialah semangat persatuan dan persaudaraan. Selama kita masih bersatu dan merasa senasib dan sepenanggungan, saya yakin, seberat apapun tantangan yang kita hadapi, akan mampu kita atasi. Tidak seorangpun di antara kita, yang meragukan tekad HMI dalam berjuang mempertahankan persatuan bangsa kita.

Sebagai sebuah organisasi mahasiswa Islam, saya yakin bahwa warga HMI akan sungguh-sungguh memegang teguh integritas intelektual. Integritas intelektual yang ada di kalangan warga HMI dilandasi oleh nilai-nilai Islam yang abadi dan universal. Integritas intelektual mendorong seseorang untuk tetap kritis dan objektif dalam menyikapi setiap masalah. Integritas intelektual juga mendorong seseorang untuk melihat suatu persoalan dari sudut pandang yang menyeluruh. Landasan dari semua itu ialah prinsip-prinsip akhlak yang diajarkan agama Islam. Segala sesuatu haruslah dilakukan dengan niat untuk mengabdi kepada Allah, dan harus pula membawa maslahat dan kebaikan bagi umat manusia. Atas dasar itu, maka kejujuran akan memainkan peranan yang sangat penting. Segala sesuatu haruslah diukur dengan kesadaran hati nurani yang paling dalam. Sesuatu yang berlawanan dengan hati nurani, haruslah ditolak dan dijauhi. Jika prinsip-prinsip ini dipegang teguh, maka selama itu pula HMI tetap dapat mempertahankan dirinya sebagai gerakan moral, yang bebas dari segala kepentingan pribadi dan kelompok.

Hadirin sekalian yang berbahagia,
Keberadaan HMI selama enam dasawarsa, telah melahirkan begitu banyak tokoh, yang kemudian terlibat dalam memecahkan persoalan-persoalan bangsa. HMI bukan saja telah melahirkan ribuan cendekiawan, tetapi juga telah melahirkan para pemimpin bangsa yang terkemuka, antara lain Bapak Muhammad Jusuf Kalla dan Bapak-Bapak sekalian yang ada di depan dan yang tidak hadir di ruangan ini yang amat besar jasanya kepada bangsa dan negara tercinta. Semua itu hanya mungkin terjadi, apabila HMI tetap konsisten membina kader-kadernya dengan semangat Keislaman, Keindonesiaan, Kecendekiawanan dan Kemoderenan. Saya berpesan kepada seluruh warga HMI, tetaplah konsisten dengan semangat itu.

Semangat Keislaman sangat diperlukan, karena ketaatan kepada ajaran-ajaran agama, sesungguhnya akan memberikan dorongan agar seseorang mengabdi untuk kepentingan yang lebih besar. Kerelaan berkorban untuk kepentingan yang lebih besar, hanya akan timbul jika seseorang menyadari bahwa tujuan hidup ini adalah untuk mengabdi kepada Dzat Yang Maha Tinggi, yaitu Al-Khalik Sang Maha Pencipta. Semangat Keindonesiaan, adalah semangat bahwa segala yang kita kerjakan adalah untuk kemuliaan dan kejayaan bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Di negara inilah kita hidup, berjuang dan mengabdi untuk kemajuan dan kemaslahatan bersama.

Semangat kecendekiawanan ---seperti telah saya katakan tadi--- sangatlah penting agar kita tetap cerdas, kritis dan konstruktif dalam memecahkan persoalan-persoalan bangsa dan negara. Warga HMI dituntut bukan hanya sekedar kritis, tetapi harus mampu menunjukkan alternatif jalan keluar yang terbaik. Sementara, semangat Kemoderenan juga sangat kita perlukan, karena kita hidup dalam sebuah zaman, yang ditandai oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kita tidak mungkin surut ke belakang, ke zaman yang lampau. Kita hidup di zaman sekarang, dengan segala tantangan dan peluang yang ada di dalamnya. Kita akan menyongsong masa depan, yang Insya Allah, akan lebih baik dibandingkan dengan masa sekarang dan masa lalu.

Saudara-saudara,
Pemahaman dan penjiwaan terhadap semangat yang saya kemukakan tadi, akan tertanam melalui proses pengkaderan di dalam tubuh HMI. Apabila nanti telah menjadi alumni, kita harapkan, mereka semua akan menjadi kader-kader bangsa, yang akan mengabdi dengan penuh dedikasi. Saya berharap, kader-kader HMI akan menjadi teladan dalam semangat keikhlasan dan pengabdian kepada bangsa dan negara.

Sejarah telah menunjukkan kepada kita, bahwa sebagai organisasi kemahasiswaan, HMI selalu bersikap independen. Komitmen mereka hanyalah kepada nilai-nilai. Kebajikan dan kebenaran sejarah juga telah menunjukkan, di bidang politik, alumni HMI telah berkiprah pada berbagai kekuatan politik yang ada di tanah air. Keterlibatan itu tidak terbatas hanya kepada kekuatan politik yang secara formal berasaskan Islam, tetapi juga pada semua kekuatan politik yang dimiliki bangsa kita.

Hadirin sekalian,
Dalam menghadapi persoalan-persoalan bangsa dewasa ini, saya sungguh menghargai segala pandangan, kritik dan saran yang datang dari manapun juga. Pandangan, saran dan kritik dari kalangan HMI ---sebagaimana juga organisasi-organiasi kemahasiswaan yang lain--- saya simak dan saya perhatikan dengan sungguh-sungguh. Kritik-kritik yang disampaikan itu, baik melalui media maupun secara langsung melalui panel diskusi, seminar bahkan aksi unjuk rasa, adalah masukan yang sangat berharga bagi saya dan jajaran pemerintah yang saya pimpin dalam mengemban amanat rakyat memimpin pemerintahan dewasa ini.

Kita semua sama-sama memegang teguh komitmen kita untuk membangun demokrasi. Dalam demokrasi, semua orang memiliki hak dan kesempatan untuk mengemukakan pendapat. Kita menghormati semua itu. Bahwa pendapat-pendapat itu berbeda-beda, hal itu sangatlah lumrah di alam demokrasi. Pada akhirnya, rakyat jugalah yang akan menilai, mana pendapat yang benar-benar dilandasi oleh kejujuran dan akan membawa kebaikan. Rakyat jugalah yang akan menilai, mana pendapat yang tidak dilandasi oleh semangat kejujuran dan juga tidak membawa masyarakat ke arah yang lebih baik. Kita harus mengakui, bahwa pada akhirnya, rakyatlah yang akan menjadi hakim untuk memutuskan mana jalan terbaik yang harus kita tempuh dalam menghadapi setiap persoalan.

Saya ingin berpesan kepada seluruh komponen bangsa melalui forum yang mulia ini agar kita tetap menjunjung tinggi konstitusi dan aturan-aturan hukum yang berlaku. Selama kita berpegang teguh pada landasan konstitusi dan hukum yang berlaku, maka Insya Allah, kita akan selamat sampai ke tujuan. Demokrasi akan mati, tanpa dilandasi oleh semangat kepatuhan kepada konstitusi dan hukum yang berlaku. Di lain pihak, demokrasi akan berubah menjadi gelanggang konflik yang tidak sehat, jika tidak dilandasi oleh norma-norma sopan santun dan nilai-nilai akhlak yang sama-sama kita junjung tinggi.

Hadirin sekalian,
Sebelum saya mengakhiri sambutan ini, saya menyimak dengan seksama 7 butir yang disampaikan oleh Saudara Ketua Umum PB HMI tadi. Yang pertama berkaitan dengan keluarga besar HMI-KAHMI, yang kedua berkaitan dengan HMI sendiri, yang ketiga adalah usulan agar diberikan tanda kehormatan kepada Profesor Pane yang mendirikan HMI pada tahun 1947 kita respon dengan seksama, ada dewan kehormatan yang akan membahas semuanya itu, mudah-mudahan bisa kita berikan anugerah yang semestinya. Butir yang ke empat, lima, enam dan tujuh, mengenai pengelolaan hutang pemerintah, angkutan pemerintah, mengenai sumber daya manusia, mengenai revisi atau penyusunan kembali undang-undang bidang politik dan masalah pemberantasan korupsi, sebenarnya pikiran HMI itulah pikiran kita semua dan saya terima rekomendasinya itu meskipun terus terang saya katakan banyak rintangan yang akan kita hadapi tetapi kalau semua itu menjadi tekad kita bersama, menjadi kerja kita bersama, Insya Allah ada jalan untuk mencapainya. Saya juga berpesan kepada para kader HMI teruslah berkontribusi untuk rakyat, untuk bangsa dan negara. Kalau sekarang kedepan ini tugas besar kita adalah mengurangi kemiskinan, mengurangi pengangguran, meningkatkan pendidikan, meningkatkan kesehatan, menggerakkan usaha kecil dan menengah termasuk sektor riil, meningkatkan kecukupan dan ketahanan pangan serta meningkatkan kecukupan dan ketahanan energi. Saya berharap HMI memberikan kontribusinya yang nyata ditengah masyarakat luas untuk mencapai tujuan-tujuan itu.

Ekspedisi atau misi HMI ke Yahukimo misalnya di pedalaman Papua saya berikan apresiasi yang tinggi. Masih banyak saudara-saudara kita di pelosok penjuru tanah air kita ini yang memerlukan sentuhan kita semua, pemerintah daerah jelas, pemerintah pusat jelas tapi kita mengundang masyarakat luas termasuk kader-kader HMI untuk ikut meringankan beban mereka, membantu mereka mengatasi kesulitannya. Saya yakin apabila itu yang dilakukan HMI maka HMI telah menanam sesuatu yang baik, yang Insya Allah buahnya akan dipetik dikelak kemudian hari.

Hadirin yang saya hormati,
Demikianlah sambutan saya dalam rangka Hari Ulang Tahun ke-60 Himpunan Mahasiswa Islam. Kepada seluruh warga HMI, sekali lagi saya ucapkan selamat ulang tahun. Semoga hari ulang tahun yang ke-60 ini, mendorong warga HMI untuk berbuat lebih banyak, dalam membangun bangsa dan negara, menuju kemuliaannya.

Sekian
Terima kasih.
Wassalamu’alaikum warrahmatullahi wabarrakatuh.


*****



Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan