Pidato Presiden
Sambutan Acara Penen Lele dan Dialog dengan Petani Lele
TRANSKRIPSI
SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
PANEN LELE DAN DIALOG DENGAN PARA PETANI LELE
BOYOLALI, JAWA TENGAH
20 FEBRUARI 2007
Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum warrahmatullahi wabarrakatuh,
Selamat pagi,
Salam sejahtera untuk kita semua,
Yang saya hormati Saudara Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat, Menteri Kelautan dan Perikanan dan para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu,
Yang saya hormati Saudara Gubernur Jawa Tengah beserta Ibu dan para pimpinan dan pejabat yang bertugas di Jawa Tengah, baik dari unsur Eksekutif, Legislatif, Yudikatif maupun TNI dan Polri,
Yang saya hormati Saudara Bupati Boyolali, para Bupati, para Walikota, para Camat, para Kepala Desa dan seluruh jajaran pemerintahan yang bertugas di Jawa Tengah dan Boyolali, Saudara-saudara para pengurus dan anggota Kelompok Usaha Tani yang bergerak di budidaya lele dan hadirin sekalian yang saya cintai,
Pada kesempatan yang baik dan semoga senantiasa penuh berkah ini, marilah sekali lagi kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, Allah SWT karena kepada kita masih diberi kesempatan, kekuatan, dan kesehatan untuk melanjutkan ibadah kita sebagai umat beragama dan melanjutkan tugas dan pengabdian, serta karya kita kepada masyarakat, bangsa dan negara tercinta.
Saya dan rombongan hari ini sangat berbahagia, senang, bersyukur berada di Kampung Lele, Desa Tegalrejo, Kecamatan Sawit, Kabupaten Boyolali yang serba hijau dan menjanjikan harapan yang baik di masa depan. Bulan lalu saya menelpon Pak Mardiyanto, Gubernur Jawa Tengah. Isi pembicaraan saya, Pak Gubernur dan rangka mempercepat pengurangan kemiskinan, menciptakan lapangan pekerjaan, meningkatkan taraf hidup rakyat kita, termasuk di perdesaan, saya ingin datang meninjau dan berdialog dengan kelompok-kelompok usaha masyarakat yang ternyata benar-benar bisa mendatangkan kesejahteraan bagi masyarakat sekitar. Saya ingin model seperti ini, meskipun pilihannya banyak, bergantung kepada kondisi, situasi, dan potensi masing-masing daerah, masing-masing Kabupaten, masing-masing Provinsi di seluruh tanah air kita ini, tetapi baik kalau makin tumbuh dan berkembang usaha-usaha kecil dan menengah oleh kelompok komunitas lokal yang ternyata bisa mendatangkan kesejahteraan bagi masyarakatnya.” Pak Mardiyanto menjawab, “Kami akan pilih beberapa tempat.” Karena tidak mungkin saya berkunjung ke seluruh Kabupaten di Jawa Tengah, pada kunjungan ini, beliau menyampaikan kepada saya, bahwa perkampungan lele, budidaya lele yang ada di Tegalrejo ini patut untuk saya datangi dan patut dan untuk menjadi model bagi tempat-tempat yang lain. Oleh karena itulah, hari ini saya ber-silaturahim, datang dan bertatap muka dengan Saudara-saudara khususnya para petani lele.
Hadirin yang saya hormati,
Pada kesempatan yang baik ini, saya patut mengucapkan terima kasih kepada Saudara Gubernur, kepada para Bupati, Walikota, Camat, Kepala Desa atas segala jerih payah, perjuangan dan pengabdian hingga saat ini untuk memajukan kehidupan masyarakatnya. Saya juga berterima kasih dan memberikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada masyarakat luas, khususnya kelompok usaha tani ini yang juga terus berjuang, kadang-kadang mengalami hambatan, tetapi terus dengan penuh semangat memajukan budidaya lele di tempat ini. Kalau saya memberikan tanda kehormatan kepada Saudara Darseno, itu wujud dari penghargaan dan penghormatan saya kepada Saudara semua dari kelompok usaha tani yang ada di tempat ini.
Saudara-saudara,
Yang kita tuju dalam pembangunan di negeri ini, sering saya katakan di banyak kesempatan, tiada lain adalah agar kesejahteraan rakyat makin meningkat. Kesejahteraan rakyat makin meningkat, apabila rakyat kita di seluruh Indonesia makin memiliki kecukupan pangan, kecukupan sandang, punya papan, mendapatkan pendidikan yang baik, perawatan kesehatan yang baik, lingkungan hidup yang baik, dan rasa aman, terbebas dari berbagai kejahatan. Tugas saya, Menteri, Gubernur, Bupati, Walikota, Camat sampai Kepala Desa untuk mewujudkan semua itu, membantu masyarakat luas, agar dapat meningkatkan kehidupannya.
Cara berpikirnya adalah, Kepala Desa yang siang dan malam bersama dengan penduduk setempat, pikirannya, hatinya, waktunya, dan tenaganya harus dicurahkan untuk benar-benar bisa meningkatkan kesejahteraan rakyatnya. Camat wajib membantu Kepala Desa, agar Kepala Desa bisa mensejahterakan rakyatnya. Bupati, Walikota wajib membantu Camat. Gubernur wajib membantu Bupati, Walikota. Saya dan Menteri wajib membantu Gubernur dan seluruh jajaran pemerintahan untuk bisa mengemban tugasnya.
Saya datang hari ini disamping bertemu dengan Saudara, melihat budidaya lele ini, tetapi saya juga wajib memikirkan bantuan apa yang dapat kami berikan kepada Saudara-saudara semua. Sebagai Presiden yang mengemban amanah untuk seluruh rakyat, tentu saya juga memikirkan dan memberikan bantuan kepada saudara-saudara kita di tempat yang lain, agar demikian terjadi keadilan, pemerataan dalam proses pembangunan yang kita laksanakan dewasa ini.
Saudara-saudara,
Pemerintah melalui anggaran yang dialokasikan untuk pembangunan, baik pusat melalui APBN, maupun daerah melalui APBD akan terus meningkatkan besaran anggaran itu untuk program-program pro rakyat, termasuk untuk menghidupkan Usaha Kecil dan Menengah di bidang pertanian, perikanan, kerajinan, apapun yang benar-benar bisa menciptakan lapangan pekerjaan dan akhirnya bisa mengurangi kemiskinan. Tahun demi tahun jumlah itu terus kita tingkatkan, tetapi bukan hanya yang meningkat jumlahnya, tetapi yang penting juga agar betul-betul anggaran untuk itu tepat pada sasarannya, sampai ke tujuannya. Dengan demikian, bisa benar-benar dirasakan oleh kelompok Usaha kecil dan Menengah itu.
Dalam hal ini, saya tadi mendengar presentasi dari Saudara Gubernur di Bandar Udara Adi Sumarmo tentang model yang akan terus kita sempurnakan, kita kembangkan untuk meningkatkan keberhasilan Usaha Kecil dan Menengah. Saya yakin, bahwa para Bupati dan Walikota juga memberikan saran dan masukan kepada Gubernur. Saya senang dengan cara berpikir itu, agar terus-menerus dikembangkan, dicari, dipilih satu model, satu cara yang benar-benar mendapatkan keuntungan yang nyata bagi masyarakat.
Dalam konsep ini yang Insya Allah akan saya kembangkan nanti menjadi satu kebijakan nasional dengan bantuan yang tepat dari Pemerintah, baik pusat maupun daerah adalah kita berorientasi kepada kelompok usaha itu. Jadi, jangan berorientasi kepada Jakarta atau Semarang atau Boyolali, tapi berorientasi pada kelompok-kelompok usaha itu di tempat-tempat dimana usaha itu dijalankan. Dalam pembangunan, yang namanya wilayah depan pembangunan kita, itu desa, belakangnya Jakarta. Prinsipnya dari belakang membantu ke depan. Jakarta membantu Semarang. Semarang membantu Boyolali. Boyolali membantu Sawit. Sawit membantu Tegalrejo. Kepala Desa Tegalrelo membantu kelompok usaha-kelompok usaha itu.
Cara berpikir seperti inilah yang dilakukan Pemerintah, seperti inilah yang harus kita tingkatkan implementasinya di waktu yang akan datang. Berkali-kali saya katakan kepada siapapun di negeri ini, permudahlah setiap urusan, bantu mereka yang harus dibantu, jangan semuanya dibikin sulit, urusan yang mudah menjadi sulit, akhirnya tidak sampai kepada tujuan kita untuk mensejahterakan rakyat kita semua. Karena penjurunya adalah kelompok usaha itu, maka kelompok usaha ini harus benar, hidup, berkembang, mendapatkan keuntungan yang dibagi secara tepat kepada anggotanya, yang pada akhirnya bisa mensejahterakan kelompok usaha itu dan bahkan menggerakan ekonomi setempat, ekonomi lokal. Oleh karena itu, tidak boleh gagal, harus sukses, agar sukses, maka usaha-usaha kecil, menengah seperti itu perlu modal. Inilah yang menjadi tugas Pemerintah bersama dengan dunia usaha atau swasta, bersama dengan Lembaga-lembaga Perbankan ataupun Lembaga Keuangan bukan Bank untuk memastikan bahwa tersedia cukup modal untuk digunakan bagi Usaha Kecil dan Menengah itu. Permodalan akan kita kelola sedemikian rupa ke depan ini, agar betul-betul mereka yang siap untuk menjalankan usahanya, yang nyata-nyata usahanya baik, itu mendapatkan bantuan permodalan dengan scheme, dengan aturan yang tentunya akan ditetapkan secara sehat dan baik. Modal.
Yang kedua, usaha-usaha kecil dan menengah sepert ini di seluruh tanah air harus mendapatkan bimbingan teknis, agar benar-benar makin produktif, makin kuat, tahan terhadap goncangan. Oleh karena itulah, tadi kita bahas di Adi Sumarmo, kita ingin tenaga-tenaga ahli, pakar, bahkan sarjana yang masih muda-muda itu bisa datang ke desa, sarjana masuk desa untuk membantu menghidupkan usaha-usaha kecil dan menengah ini. Di negara lain pun, sarjana tidak selalu ada di kota-kota besar, mereka berada di ujung-ujung negerinya, masyarakatnya, untuk melakukan perubahan, membangun keadaan yang lebih baik lagi.
Yang ketiga, sebagaimana yang dikatakan tadi, setelah dibudidayakan lele ini harus dipasarkan. Di sini perlukan kebersamaan, kemitraan dengan dunia swasta, dengan pengusaha secara adil. Kalau ini terjadi, komunitasnya hidup, kemitraan dengan pengusahanya baik, bantuan Pemerintahnya cocok, permodalannya ada, bimbingan teknisnya dilakukan, saya yakin usaha itu akan tumbuh dan berkembang. Yang saya pelajari, budidaya lele di Kampung Tegalrejo ini telah sebagian besar menjalankan praktek-praktek itu, meskipun saya dengar masih ada hambatan-hambatan yang mudah-mudahan makin ke depan makin baik.
Saya setuju, bahwa ada pengamatan harga di pasar, harga jual lele ini, agar jangan sampai yang kehujanan, kepanasan, para petani, para pengelola lele ini, keuntungannya kecil, sedangkan pihak lain keuntungannya berlebihan. Kerjasama yang baik, semua mendapatkan keuntungan secara adil, secara tepat. Oleh karena itu, tepat kalau dipantau harganya, agar yang diperoleh oleh petani tepat, yang mendagangkan, memasarkan juga mendapatkan keuntungan yang tepat dan demikian kebersamaan atau kemitraan itu dijalankan.
Ini penting bukan hanya untuk budidaya lele, tapi untuk kegiatan pertanian, Saudara Menteri Pertanian juga ada di tempat ini. Yang namanya on farm dengan off farm itu kegiatan pertanian itu sendiri di lahan-lahan pertanian dengan pemasaran, industri turunan dan lain-lain, itu dengan konsep keadilan. Saya tidak ingin pertanian maju, tapi petaninya jalan di tempat. Saya tidak ingin kemajuan hanya dinikmati oleh penyandang modal yang besar, pengusaha-pengusaha yang besar, petaninya hasilnya pas-pasan. Mari kita bangun semuanya itu dengan sekali lagi berpedoman pada usaha kecil itu sebagai penjuru, lainnya bekerja sama secara baik.
Dua bulan yang lalu, saya meninjau Kabupaten Tomohon di Sulawesi Utara. Saya datang ke kelompok usaha tani, kebetulan kaum perempuan waktu itu, usaha bunga potong dan tanaman hias. Hasilnya lumayan sudah mulai dipasarkan di tempat lain, bahkan diekspor. Ketika saya tanya, “Apa yang ibu-ibu inginkan, apa yang Pemerintah bisa bantu untuk mengembangkan ini?” Pak Presiden, “Kami sudah cukup maju, tapi kami senang kalau misalkan ada bantuan-bantuan agar lebih berkualitas, bisa tahan hama, bisa berdaya saing di luar negeri, ya bimbingan teknis dan bimbingan pemasaran.” Dengan catatan waktu itu dan saya setuju, bahkan saya ingatkan berkali-kali, kalau ada upaya untuk memajukan kelompok tani bunga potong dan tanaman hias itu, jangan diambil oper oleh perusahaan besar, akhirnya mereka-mereka dijadikan pegawai biasa dan akhirnya belum tentu, kalau itu berkembang luas yang bersangkutan juga mendapatkan keuntungan yang adil. Tetap penjurunya adalah kelompok usaha itu.
Ini saya minta kepada Saudara Gubernur, para Bupati dan Walikota, tetaplah penjurunya mereka-mereka, orang seorang. Dengan demikian, yang sudah lama kita harapkan, pembangunan harus adil dan merata makin ke depan makin kita wujudkan. Kita ingin, bukan rakyat untuk pembangunan, tapi pembangunan untuk rakyat juga dapat kita wujudkan. Semua itu memerlukan kerja keras kita dan saya senang dengan tulisan di belakang itu, “Rakyat Berkarya, Masyarakat Jawa Tengah Sejahtera.” Tuhan tidak akan mengubah nasib sebuah kaum, kecuali kaum itu mengubahnya. Kita tidak ingin menjadi manusia yang merugi, karena bulan depan, tahun depan sama saja kondisi di Tegalrejo ini. Kita berjuang, agar Tegalrejo tiap tahunnya makin maju dan berkembang. Semua itu memerlukan kebersamaan dan tolong kita jalin kemitraan yang baik, agar saudara-saudara bisa bertambah maju di waktu yang akan datang.
Itulah yang saya sampaikan sebagai ucapan terima kasih, rasa hormat saya, tetapi juga harapan kepada para pemimpin yang bertugas di Jawa Tengah ini dan ini juga kepada pemimpin yang bertugas di seluruh tanah air, teruslah berinovasi, teruslah berkreasi, teruslah mencari dan mencari dan menemukan akhirnya peluang-peluang untuk mengembangkan usaha, mengembangkan ekonomi perdesaan dan meningkatkan kesejahteraan rakyat kita. Demikian Saudara-saudara.
Terima kasih, selamat berjuang.
Wassalamu’alaikum warrahmatullahi wabarrakatuh.
*****
Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan



