Pidato Presiden

Sambutan Pembukaan Rakernas XIII HIPMI

 

TRANSKRIPSI
SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
PEMBUKAAN RAKERNAS XIII HIPMI
SEMARANG, 20 FEBRUARI 2007



Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum warrahmatullahi wabarrakatuh,

Selamat malam,
Salam sejahtera untuk kita semua,

Yang saya hormati Saudara Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, Bapak Agung Laksono yang juga senior HIPMI dan para senior, dan sesepuh HIPMI yang lain, Saudara Menko Perekonomian dan para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu, Saudara Gubernur Jawa Tengah beserta Ibu, dan para pimpinan dan pejabat yang bertugas di Jawa Tengah, baik dari unsur Eksekutif, Legislatif, Yudikatif maupun TNI dan Polri, Saudara Ketua Umum HIPMI, para pengurus, pimpinan daerah, Keluarga Besar HIPMI,

Hadirin sekalian yang saya cintai dan saya muliakan,
Pada kesempatan yang baik dan semoga senantiasa penuh berkah ini, saya mengajak hadirin sekalian untuk sekali lagi memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, karena kita masih diberi kekuatan, kesempatan, tugas untuk melanjutkan karya dan pengabdian kita kepada bangsa dan negara tercinta.

Sebelum saya melanjutkan sambutan saya pada acara yang sangat penting ini, atas nama pribadi dan selaku Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan, mengucapkan selamat melaksanakan Rakernas yang ke-13 kepada Keluarga Besar HIPMI dengan harapan semoga Rakernas ini menghasilkan sesuatu yang terbaik, terbaik bagi HIPMI, terbaik bagi rakyat, dan terbaik bagi negara.

Mendengarkan sambutan Adinda Sandiaga tadi, terus terang saya sangat bersyukur dan bahagia, karena saya melihat masa depan yang cerah dari dunia usaha di Indonesia, bahkan masa depan yang cerah dari negara yang kita cintai bersama. Saya menangkap semangat, visi, cita-cita, pemahaman yang mendalam terhadap permasalahan yang dihadapi oleh bangsa kita, tetapi sekaligus saya menangkap bahwa ada satu tekad yang tinggi untuk terus melangkah maju ke depan, membangun hari esok yang lebih baik, hari esok kita semua. Saya berdoa semoga cita-cita para pengusaha muda diridhoi oleh Allah SWT dan kelak kalian semua menjadi bukan hanya pengusaha-pengusaha terkenal, tapi pemimpin-pemimpin bangsa yang menjadi kebanggaan kita semua.

Hadirin yang saya hormati, khususnya Keluarga Besar Himpunan Pengusaha Muda Indonesia,
Berbicara dengan Saudara, kader-kader pemimpin dunia usaha, dan pemimpin bangsa, saya bisa masuk ke sesuatu yang bersifat strategis visioner melihat jangka panjang perjalanan negeri ini, tetapi saya juga bisa melakukan pendekatan dari sisi yang lebih praktis, operasional, terutama untuk kepentingan jangka pendek dan jangka menengah. Saya memilih untuk mengutamakan apa yang mesti kita lakukan bersama dalam jangka pendek, jangka menengah untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi oleh bangsa ini, terutama permasalahan di bidang ekonomi dan dunia usaha. Meskipun saya harus menyampaikan gambar besar dari apa yang kita lakukan di negeri ini, Indonesia dalam perkembangan dunia, dalam perkembangan global. Dengan demikian, dalam perjalanan para pengusaha muda ini tahu persis, harus kemana melangkah dan menuju seraya membangun, yang saya sebut dengan succes story, keberhasilan demi keberhasilan.

Oleh karena itu, dengan satu keyakinan bahwa kita semua, Saudara semua benar-benar ingin membangun dan mengubah keadaan negeri kita menjadi lebih baik di masa depan, maka saya mulai dengan mengingatkan kita semua, menyegarkan pengetahuan kita, bahwa negeri kita memiliki potensi yang besar. Kita memiliki sumber daya, memiliki modal, capital resources yang sesungguhnya besar, yang apabila dikelola dengan baik akan menghasilkan sesuatu yang besar pula, yang berkaitan dengan kesejahteraan rakyat kita semua.

GDP, Gross Domestic Product kita tahun 2006 yang lalu kurang lebih 3.500 trilyun rupiah atau setara dengan kurang lebih 360 milyar dollar Amerika Serikat. Pendapatan perkapita, GDP perkapita tahun 2006 itu sekitar atau labih dari 1.600 dollar Amerika Serikat sudah di atas income perkapita kita sebelum krisis tahun 1998 yang lalu. Jumlah penduduk kita yang sekarang lebih dari 220 juta, yang memiliki purchasing power, yang meningkat dari masa ke masa membentuk suatu kekuatan ekonomi Indonesia. Dan sekali lagi kalau kita kelola dengan benar, dengan kebijakan dan strategi yang tepat, dengan upaya yang gigih, sekali lagi memberikan harapan yang cerah, bagi masa depan kehidupan bangsa dan negara kita. Oleh karena itu, Indonesia harus maju, Indonesia harus makin sejahtera dan ekonomi kita harus terus-menerus berkembang.

Para pengusaha muda yang saya cintai,
2007 tahun ini, 10 tahun setelah kita mengalami krisis. Krisis diawali tahun 1997 meskipun puncaknya 1998. Negara kita jatuh waktu itu, ada stagflasi, resesi yang tajam dari growth 6% menjadi minus 13%, inflasi 78% yang kita sebut dengan stagflasi, di Amerika Serikat dulu disebut the great depression. Ekonomi kita kolaps, makro, mikro runtuh, ditambah dengan krisis yang lain. Kita mengalami semua, tahun demi tahun kita berusaha keras, pemerintahan demi pemerintahan bersama-sama dengan semua komponen bangsa, berusaha ke luar dari krisis mengatasi keadaan dan membangun kembali negara kita. Alhamdulillah berkat kebersamaan, keuletan, dan ketegaran kita semua, kita sudah mulai, pulih dari krisis dan mudah-mudahan tahun-tahun mendatang adalah tahun kebangkitan ekonomi kita, kebangkitan negara kita menuju masa depan bangsa dan negara yang lebih baik di masa depan.

Ada momentum kebangkitan, ada opportunity tahun ini dan tahun-tahun mendatang. Oleh karena itu, jangan kita sia-siakan, termasuk momentum dan opportunity di bidang dunia usaha, juga jangan disia-siakan. Saya mengingatkan, bahwa memetik pelajaran dari pembangunan yang kita lakukan sejak Indonesia merdeka, terutama pada masa orde baru, maka kita harus selalu menyegarkan paradigma pembangunan di negeri ini. Saya mengedepankan 5 hal yang Saudara-saudara, calon-calon pemimpin bangsa, mesti pula memahami masalah ini, agar sekali lagi pembangunan yang kita lakukan makin tepat, makin efektif dan benar-benar menghasilkan sesuatu yang nyata.

Pertama, pembangunan kita mesti lebih terpadu dan lebih berdimensi kewilayahan. Era sentralisme sudah berubah menjadi era desentralisme, dengan pengemukaan otonomi daerah, ini menggeser pula paradigma pembangunan nasional kita.

Yang kedua, kita harus memadukan resource based economy dengan knowledge based economy. Negara maju, negara yang berkembang telah mengadopsi, telah mengaplikasikan sisi teknologi dan informasi yang menandai knowledge based economy, negara kita memerlukan paduan kedua-duanya resource and knowledge based economy.

Yang ketiga, growth tanpa equity adalah nightmare. Karena yang terjadi kesenjangan, ketidakadilan, ketimpangan dan perasaan tertinggal dari rakyat kita di seluruh tanah air. Oleh karena itu, mulai sekarang bicara growth harus sekaligus bicara equity, pertumbuhan disertai pemerataan sejak awal.

Berikutnya lagi adalah saya setuju, kita harus dapat meningkatkan ketahanan dan kemandirian kita. Ketahanan dan kemandirian ekonomi kita tetap dalam konteks kerjasama internasional.

Dan yang terakhir, kalau dulu Pemerintah di depan, pilar utamanya Pemerintah sekarang pemainnya menjadi lebih banyak. Oleh karena itulah, memerlukan kontribusi dan peran serta dari semua pihak, termasuk kalangan dunia usaha. Itulah penyegaran paradigma pembangunan yang kita jalankan sekarang dan ke depan.

Saudara-saudara yang saya cintai,
Setiap negara memiliki jalan sendiri dalam pembangunan ekonominya, skenario tersendiri dalam memacu pertumbuhan ekonominya. Negara-negara Asia timur misalnya, China, India, Eropa, Amerika, Jepang dan lain-lain. Asia dikenal karena memiliki strategi yang disebut dengan export oriented economy. Asia Timur misalkan, Asian Tiger. Maju karena itu. Ada juga dalam perkembangannya bukan itu yang utama, tapi membesarkan domestic market, bukan ekspornya yang diutamakan, tapi enlarging domestic market. Dengan demikian, apabila kompetisi sangat keras untuk memproduksi barang dan jasa kita di luar negeri, kita punya pasar domestik yang diharapkan makin besar, yang bisa menkomsumsi barang dan jasa yang kita produksi.

India sekarang makin membesarkan domestic market-nya. Indonesia ke depan memerlukan dua-duanya, ekspor tetap menjadi andalan kita. Saudara tahu bahwa komponen pertumbuhan itu adalah consumption, government expenditure, investment, dan ekspor bersih, ekspor dikurangi impor. Pertumbuhan kita tahun lalu dan tahun sebelumnya lagi yang 5,6 dan 5,5% ternyata disumbang oleh ekspor sekitar 18 sampai dengan 19%. Artinya ekspor masih memerlukan, masih menjadikan andalan, karena investasi belum bergerak benar. Oleh karena itu, ke depan mari kita bangun dua-duanya, ekspor tetap kita pertahankan, tetapi saya mengajak semuanya, mari kita besarkan pasar dalam negeri kita. Dan saya yakin pasar dalam negeri kita bisa kita besarkan. Oleh karena itu, jawabannya adalah kita butuh dua-duanya, ekspor dan our domestic market.

Saudara-saudara,
Hal lain yang harus kita ketahui, yang harus Saudara-saudara ketahui dimana tingkat perkembangan Indonesia, state of development. Orang mengatakan dulu gelombang pertama itu adalah gelombang pertanian, ekonominya juga ekonomi berbasis pertanian. Dalam tahapannya memasuki yang disebut dengan gelombang kedua, industri, ekonominya bertumpu pada industri. Sekarang ini, millennium ketiga, abad 21, banyak negara yang sudah memasuki gelombang ketiga, informasi. Konon ekonominya yang memiliki nilai tambah yang sangat tinggi berbasis kepada ekonomi informasi. Indonesia memiliki tiga-tiganya, pertanian masih besar, industri makin besar, informasi belum besar benar, tapi telah tumbuh. Oleh karena itu, kalau kita harus mengatakan negeri kita dimana? Kita memiliki tiga-tiganya, ekonomi pertanian, ekonomi industri dan ekonomi informasi. Ini sangat penting, agar Saudara tidak keliru seolah-olah tidak lagi tepat menggantungkan ekonomi berbasis pertanian meloncat ke industri, meloncat ke informasi, padahal resources kita, potensi kita, tahapan kita masih memerlukan pertumbuhan ketiga-tiganya.

Saudara-saudara,
Setelah saya menjelaskan potensi kita, jalan pengembangan ekonomi yang kita pilih, state of development negara kita dikaitkan dengan permasalahan negara kita pasca krisis, maka kita harus mengenali dulu apa yang menjadi permasalahan fundamental di negeri ini. Agar dengan demikian, kita bisa memilih apa yang kita lakukan, termasuk usaha atau ekonomi apa yang hendak kita jalankan.

Tiga permasalahan mendasar yang kita hadapi adalah kemiskinan, poverty masih. Yang kedua, pengangguran, unemployment. 10% masih tinggi, 10 juta dari 100 juta angkatan kerja terbuka. Hutang eksternal, hutang Pemerintah meskipun Alhamdulillah, back to GDP review makin baik, tapi semakin tinggi, dan harus terus-menerus kita kurangi. Berangklat dari 3 hal itulah, maka kita telah memilih satu strategi pembangunan ekonomi yang kita jalankan ke depan ini, karena masalah yang kita hadapi adalah poverty dan unemployment, maka strategi yang kita pilih adalah yang kita sebut dengan Triple Track Strategy.

Yang pertama, ekonomi harus tumbuh. Melalui harapan kita andalan kita adalah ekspor dan investasi, pro growth. Yang kedua, lapangan kerja harus kita ciptakan atau pengangguran harus kita kurangi dengan cara membangkitkan, memperluas, menghidupkan sektor riil dunia usaha kita, to create employment, pro jobs. Mengingat masih tingginya angka kemiskinan, terutama mereka berada di perdesaan dan sektor pertanian kurang-lebih sejumlah 68%, maka kita melakukan revitalisasi pertanian, perikanan, kehutanan, dan pembangunan perdesaan untuk mengurangi kemiskinan, pro poor. Jadi pro job, pro growth and pro poor strategy harus kita jalankan untuk mengatasi masalah mendasar tadi.

Strategi kita juga pro business. Kita harus pro business, karena yang bisa memacu pertumbuhan ekonomi adalah bisnis. Yang bisa menciptakan lapangan kerja adalah bisnis, yang akhirnya juga mengurangi kemiskinan. Oleh karena itu, saya mengatakan 3+1 adalah strategi pembangunan ekonomi yang pro growth, pro job, pro poor and pro business. Oleh karena itu, marilah kita jalankan bersama strategi triple track yang memerlukan kontribusi dan partisipasi dari dunia usaha kita.

Saudara-saudara,
Dengan latar belakang dan trik-trik seperti itu saya akan masuk pada persoalan kekinian. Beberapa hari yang lalu saya menyampaikan pidato awal tahun, dalam pidato awal tahun tersebut, dengan gamblang saya sampaikan prioritas tahun 2007 dan tentunya tahun-tahun berikutnya lagi adalah bagaimana sekali lagi, mengurangi kemiskinan dan pengangguran. Ada sejumlah program pro rakyat dengan fiskal, dengan APBN dan APBD menjadi tulang punggungnya.

Yang kedua adalah bagian utama pidato saya, bagaimana investasi dan dunia usaha sektor riil itu tumbuh berkembang lebih pesat lagi di negeri kita. Dan yang ketiga adalah kemandirian. Khusus upaya Pemerintah, upaya kami untuk mengembangkan dunia usaha, untuk mengembangkan investasi, untuk menggerakkan sektor riil adalah memberikan payung kebijakan yang tepat, memberikan berbagai fasilitas, dan mengatasi hambatan. Meskipun Adinda Sandiaga tadi tidak menjelaskan semua hambatan, permasalahan, tapi saya mencatat selama 2 tahun lebih ini, hambatan-hambatan fundamental bagi bergeraknya dunia usaha, bagi tumbuhnya investasi, wajib hukumnya Pemerintah dan pihak-pihak lain bersama-sama mengatasi hambatan itu.

Kalau saya bicara Pemerintah, Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, saya, para Menteri, para Gubernur, para Bupati, para Walikota dimana para pengusaha berusaha wajib benar-benar dan secara sungguh-sungguh mengatasi hambatan-hambatan ini, sehingga iklim dunia usaha, iklim investasi betul-betul bisa tumbuh lebih baik lagi di negara kita.

Yang pertama, kita harus benar-benar memberikan akses pendanaan, akses dana perbankan yang lebih mudah dan kita, saya sudah berbicara dengan Gubernur BI harus benar-benar bisa menurunkan suku bunga. Oleh karena itulah, kita berusaha menahan inflasi supaya tidak naik lagi, 6,6% bagus mudah-mudahan kita bisa mempertahankan syukur-syukur bisa kita kurangi, agar suku bunga bisa lebih susut. Dengan akses yang lebih mudah dana perbankan dan suku bunga yang lebih kecil, harapan saya dunia usaha makin bergerak. Itu yang pertama.

Yang kedua, perpajakan. Pajak harus betul-betul lebih bersahabat dengan dunia usaha. Tetap mempertahankan keadilan, keadilan dan pentingnya sektor pajak. Oleh karena itu, kami, Pemerintah sudah mulai memberikan insentif perpajakan dan ini harus mulai kita berikan, terutama bagi cabang-cabang usaha yang benar-benar bisa menggerakan sektor riil, menciptakan lapangan pekerjaan dan mengurangi kemiskinan. Saya sudah mengeluarkan PP untuk insentif perpajakan, mudah-mudahan makin baik, dengan demikian makin bergerak lagi dunia usaha kita.

Yang ketiga, berbelitnya perijinan masuk meja sana, masuk meja sini harus benar-benar kita kurangi. 151 hari memang sekarang sudah berkurang tinggal 97 hari, masih banyak, harus susut. Saudara Lutfi di sini, para Menteri di sini, harapan kita dari 150 hari, jumlah hari untuk mengurus perijinan, dan memulai usaha, mesti turun di bawah 50 hari berlaku di seluruh Indonesia. Demikian juga di Provinsi, Kabupaten dan Kota, jangan mempersulit urusan yang sesungguhnya mudah.

Yang keempat, kepastian hukum. Hukum harus pasti. Kalau ada masalah-masalah dunia usaha selesaikan secara adil, secara logis, dengan demikian semua dengan tenang berusaha.

Yang kelima, keamanan, termasuk keamanan public. Bagaimana mungkin usaha berkembang, kalau masih ada kerusuhan, kekerasan di sana, sini. Mari kita sadar bangsa ini, bikin tenang, bikin tertib sebagai negara-negara lain, sehingga usaha bergerak semuanya. Kita pertahankan keamanan dan ketertiban yang makin baik, meskipun saya masih melihat satu, dua masih ada kekerasan dan ketidaktertiban.

Yang keenam, stabilitas politik. Demokrasi meniscayakan kebebasan, tetapi dalam mempraktekan demokrasi sekali lagi, jangan membikin negara kita gonjang-ganjing, tidak stabil, akhirnya ekonomi tidak tumbuh, usaha tidak bergerak, rakyatlah yang menderita.

Yang ketujuh, infrastruktur. Kami sadar kurang, listrik, komunikasi atau telekomunikasi, jalan dan lain-lain. Oleh karena itu, kita terus secara intensif, mengembangkan pembangunan infrastruktur di seluruh tanah air. Mari bersama-sama kita kembangkan infrastruktur kita.

Yang kedelapan, ketenagakerjaan. Menteri Tenaga Kerja juga ada di sini. Buruh memang harus kita berikan haknya, tenaga kerja kita harus kita lindungi. Tetapi setelah itu kita berharap, tenaga kerja kita juga berdisiplin, juga produktif. Dengan demikian usahanya tumbuh, kalau usahanya tumbuh, tidak PHK, kalau usahanya bagus kesejahteraannya makin meningkat, tanggung jawab bersama, pengusaha dan tenaga kerja, pemerintah akan mendorong penciptaan kondisi seperti itu.

Dan yang terakhir, Peraturan Daerah. Saya senang Pak Gubernur Jawa Tengah telah membangun suatu proses perijinan, one stop service yang sudah dipaparkan kepada saya, di banyak tempat akan mencegah Perda-perda yang tidak tepat karena hanya merugikan daerah itu sendiri. Pemerintah Pusat, saya sudah membatalkan 750 lebih Perda, karena bertentangan dengan Undang-Undang, bertentangan dengan Peraturan Pemerintah. Justru daerah-daerah yang Perda-nya tepat, bisnis akan tumbuh, usaha akan bergerak, senang rakyatnya, karena pekerjaan ada, pajaknya masuk, kemiskinan berkurang. Tetapi kalau berlomba-lomba memperbanyak Perda, bisa menghambat usaha dan tidak dapat apa-apa.

Itulah 9 hal yang dalam pidato saya, saya sampaikan secara gamblang dan saya minta teks ini bisa dibagikan nanti kepada seluruh peserta, sama-sama kita jalankan, berikan pengawasan kepada saya, kepada Menteri, kepada Gubernur, Bupati, dan Walikota untuk menjalankan tugas bersama kita.

Saudara-saudara,
Setelah saya menyampaikan semuanya itu, setelah saya jelaskan negara kita punya potensi, punya capital, punya resources yang besar, setelah saya mengatakan ada peluang. Anda mengatakan we have to create opportunity rather than waiting for opportunity datang. Dan setelah Pemerintah berusaha terus meningkatkan pemberian kemudahan, ruang policy, termasuk mengatasi hambatan ke depan ini, the rest is up to you. Yang benar-benar tidak menyia-nyiakan momentum, peluang, dan kesempatan masuk, meskipun barangkali masih ada resiko di sana-sini, hambatan di sana-sini, saya yakin merekalah yang akan ada digarda terdepan nanti dalam dunia usaha dan ekonomi kita di masa depan.

Sebenarnya dunia usaha, dunia politik, dunia militer itu sama saja, mirip itu. Militer, politisi, pengusaha, itu harus cepat melihat peluang, quick to see, kemudian quick to decide dan quick to act. Sama dengan perang bagi militer, sama dengan politisi ketika mereka berjuang secara politis dengan pengusaha. Jangan berlama-lama, jangan terus menunggu sampai semuanya serba siap, semuanya serba baik, risk taken bagian dari kita semua. Risk yang dikalkulasikan, yang dipertimbangkan demikian pendapat dari Saudara Hidayat, Ketua Kadin ketika ngobrol dengan saya di ruang tadi, calculated risk. Jadi setelah itu, setelah kami, Pemerintah juga terus berusaha memperbaiki iklim usaha, please join us, ayo jangan menunggu terlalu lama masuk bersama-sama untuk mulai menggerakkan semuanya itu.

Daya saing, saya tidak punya nasehat banyak tentang daya saing, karena yang bisa membangun daya saing, perusahaan-perusahaan, pengusaha-pengusaha, dunia usaha itu sendiri, be competitive and create your own competitiveness. Saya menasehati Pertamina misalnya, agar Pertamina bisa bersaing dengan Petronas misalnya di luar negeri, termasuk bisa bersaing dengan Petronas dengan Shell, dengan Total di dalam negeri sekarang kita, termasuk bisnis hilir. Maka Pertamina kita, yang sangat kita harapkan harus menjadi company yang juga world class, berdaya saing tinggi, better di dalam produksinya, di dalam jasanya cheaper and faster. Kalau dalam memproduksi komoditas energi itu, dalam memberikan jasa di bidang energi, better, cheaper, faster mesti dia lebih kompetitif. Tetapi kalau kalah dengan Petronas, Petronas lebih better, lebih cheaper, lebih faster ya kalah Pertamina kita. Ukurannya di situ, apapun teorinya akhirnya di situ, agar kita bisa menjual barang dan jasa kita dan dibeli oleh pasar, karena semuanya cheaper, better, dan faster.

Terakhir saya ingin menyampaikan pandangan, boleh dikatakan juga informasi apa yang dilakukan Pemerintah ke depan ini, paling tidak tugas saya sampai tahun 2009, tapi saya yakin pemerintah-pemerintah berikutnya lagi juga akan menjalankan seperti yang kita pikirkan ini, membangun ekonomi nasional, membangun bangsa dan negara kita. Maka peluang, opportunity, bisnis di masa depan menurut saya ditinjau dari potensi kita tadi, ditinjau dari opportunity kita, ditinjau dari APBN, APBD yang akan kami alokasikan, ditinjau dari public and private partnership, ditinjau dari kebersamaan kita dengan negara-negara sahabat, maka cabang-cabang bisnis ini boleh, para pengusaha pertimbangkan untuk jangan dilewatkan momentum yang ada.

Yang pertama adalah, food related business. Pangan akan tetap memiliki prospek yang bagus, 220 juta Insya Allah purchasing power-nya akan meningkat. Mengapa kita tingkatkan gaji pegawai negeri, PNS, TNI dan Polri, tiap tahunnya? Yang tahun 2004 misalnya yang gajinya masih 700 ratus ribu yang paling bawah, sekarang gajinya 1,3 juta, berarti mereka punya daya beli yang meningkat untuk membeli barang dan jasa. Mengapa kita ingin meringankan beban petani, nelayan semuanya dalam bidang pendidikan, kesehatan, bagi yang miskin gratis, agar pendapatan itu bisa digunakan untuk membeli barang dan jasa yang diperlukan dengan besaran yang lebih besar lagi? Mengapa buruh kita, harapan kita juga mendapatkan upaya memadai, tujuannya sama?

Oleh karena itu, food related business di negara berkembang dengan GDP 350 bilyun tadi, dengan income perkapita 1.600 dan tumbuh akan menuju 2.000 dan seterusnya, food related business akan memiliki prospek yang baik. Kita bertekad beras, kedelai, jagung, gula, akan makin baik disamping yang ada. Tadi saya baru meninjau di Boyolali, di budidaya ikan lele, berkaitan dengan food bukan hanya ikan lelenya, tapi juga dendengnya, juga abonnya, dan lain-lain, number one enak sekali. Itu contoh bagaimana kita juga mengembangkan berbagai ragam makanan, jangan dilewatkan peluang itu.

Yang kedua, energy related business. Energi bisa minyak gas, bisa pertambangan, bisa biofuel, bisa solar energy, bisa wind energy, bisa micro hydro.

Saudara-saudara,
Disamping program PLN dan program-program listrik dengan grade, grade system, kita akan dorong desa-desa mandiri energi. Alokasi fiskal akan kita berikan ke depan ini. Di sini kita mengundang dunia swasta untuk memikirkan membangun satu tenaga listrik di luar sumber yang sudah biasa, misalnya gas, BBM maupun batubara, wind misalkan, solar misalkan, microhydro. Saya mengajak, saya mendorong, saya memberi peluang untuk kerjasama di bidang itu, dengan demikian energy related business, kita maknai lebih luas lagi.

Yang ketiga, bisnis transportasi akan makin berkembang, karena tiap tahun jumlah penumpang itu peningkatannya luar biasa. Menteri Perhubungan juga di sini, baik jasa angkutan darat, angkutan laut, maupun angkutan udara. Ke depan saya punya keyakinan prospeknya akan bagus.

Yang kelima, housing. Kita akan membangun rumah-rumah susun, disamping real estate, disamping yang lain-lain, saya punya keyakinan bahwa bisnis di bidang housing ini akan bagus. Kalau tumbuh, maka lapangan kerja akan banyak sekali. Kalau tumbuh industri yang lain semen, genteng, batu, paku, dan lain-lain juga berkembang.

Yang kelima, infrastructure building, banyak sekali. Dan Saudara bisa mengikuti apa saja 5 tahun ke depan yang akan kita bangun. Perbankan, saya yakin akan memiliki prospek yang bagus. Trading, manufacture. Pak Fahmi ada di sini. Handycraft dan furniture, jangan dikira handycraft kita ini, world class. Saya menganjurkan untuk terus kita memasarkan, baik di dalam maupun di luar negeri. Kemarin saya lihat di Shanghai luar biasa, di Tokyo, di Nagoya yang saya lihat sendiri tiga-tiganya dan saya minta juga di Timur Tengah, dan di tempat-tempat yang lain, handycraft, furniture.

Telekomunikasi dan IT. Saudara tahu sendiri peluangnya. pariwisata dan business mice, meeting, insentive, convention, and exhibition selalu memberikan prospek yang baik di Denpasar, di Jakarta, di kota-kota lain. Jangan tidak dimasuki bisnis di bidang mice. Publikasi dan media massa. Pendidikan akan makin meningkat di negeri kita ini, publikasi, buku-buku juga merupakan bidang usaha yang menarik, media massa meskipun persaingan ketat, Pak Latif bisa bicara nanti, ketatnya persaingan di bidang bisnis media, tetapi ini juga salah satu cabang yang jangan dilewatkan.

Peralatan pertahanan juga, jasa kesehatan, makin ke depan, makin berpengetahuan, makin punya uang, maka bisnis di bidang jasa kesehatan juga merupakan bisnis yang punya peluang. Kemudian pendidikan dan research. Research ini ke depan, saya yakin akan menjadi cabang bisnis yang bagus, karena agro industri yang lain-lain itu bisa berkembang kalau research-nya bagus. Ada research center, IT center, jangan dilewatkan. Itulah kira-kira kalau mau kita klopkan apa yang dipikirkan Pemerintah, APBN kita, APBD kita, disamping yang non APBN, dari GDP kita yang besar tadi Saudara-saudara bisa memilih cabang-cabang usaha di waktu yang akan datang.

Itulah Saudara-saudara, terutama Keluarga Besar HIPMI yang saya sampaikan, kebijakan strategi, penglihatan ke depan, peluang, tantangan, hambatan yang harus kita atasi dan sekali lagi selebihnya silakan, cari temukan dan bikin opportuniy ini, saya hanya menjalankan, mendorong, memberikan semangat pada Saudara semua untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan dan momentum yang baik ini. Dan dengan itu semua, saya berdoa semoga para pengusaha muda senantiasa sukses, maju, berkembang dan bisa mencapai cita-cita yang Saudara harapkan dan dengan itu semua seraya mengucapkan “Bismillahirrahmanirrahim”, Rapat Kerja Nasional ke-13 Himpunan Pengusaha Muda Indonesia dengan resmi saya nyatakan dibuka.

Sekian.
Wassalamu’alaikum warrahmatullahi wabarrakatuh.


*****


Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan