Pidato Presiden
Sambutan Perayaan Tahun Baru Imlek 2558
TRANSKRIPSI
SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
PERAYAAN TAHUN BARU IMLEK 2558
JAKARTA CONVENTION CENTRE
24 FEBRUARI 2007
Bismillahirrahmanirrahim,
Yang saya hormati Saudara Wakil Presiden Republik Indonesia beserta Ibu, para pimpinan Lembaga-lembaga Negara, para Menteri,
Yang mulia para Duta Besar negara-negara sahabat,
Yang saya hormati dan saya muliakan Bapak Abdurrahman Wahid, Gus Dur, Mantan Presiden Republik Indonesia beserta Ibu, para tokoh nasional, para tokoh agama, Saudara Gubernur DKI Jakarta, Ketua Umum Matakin, segenap umat Kong Hu Cu,
Hadirin sekalian yang berbahagia,
Hari ini saya sungguh berbahagia dapat hadir kembali pada acara Perayaan Tahun Baru Imlek 2558, terutama bersama umat Kong Hu Cu dan masyarakat Tionghoa yang merayakannya. Saya ingin menggunakan kesempatan yang membahagiakan ini untuk menyampaikan ucapan Selamat Tahun Baru Imlek 2558 kepada umat Kong Hu Cu dan masyarakat Tionghoa di seluruh tanah air. Semoga tahun baru kali ini dapat membawa semangat dan harapan baru bagi mereka yang merayakannya, serta membawa semangat kebersamaan bagi bangsa Indonesia.
Sebagaimana kita ketahui bersama Tahun Baru Imlek merupakan kalender bagi masyarakat Tionghoa yang berasal dari kearifan masa lalu. Sistem penanggalan ini telah berhasil mewariskan nilai-nilai filosofis kehidupan untuk kesejahteraan, kedamaian, dan harmoni antar manusia. Perayaan Tahun Baru Imlek pun telah menjadi tradisi masyarakat Tionghoa yang menyambutnya dengan penuh sukacita.
Selain untuk memperingati tahun kelahiran Khung-ce atau Confusius yang lahir pada tahun 51 sebelum masehi, Tahun Baru Imlek adalah momentum yang sangat tepat untuk melakukan introspeksi diri. Saat yang paling tepat untuk mengevaluasi diri, serta menghayati kebersamaan, persatuan, dan kedamaian. Saat yang tepat pula untuk terus melakukan transformasi diri menuju masa depan yang lebih baik dan lebih bermakna. Perayaan ini dapat kita gunakan pula untuk membangun kebersamaan dan kehidupan kebangsaan yang harmonis, penuh ikatan persaudaraan, dan saling berbagi kasih sayang satu sama lain. Kita perlu menggunakan setiap momen, setiap kesempatan untuk memperkokoh dan menyuburkan kebersamaan itu.
Indonesia adalah sebuah mozaik yang indah, sebuah bangsa yang adaptif dan kaya warna. Berbagai budaya besar dan agama tumbuh subur dan berkembang di Indonesia, hidup berdampingan secara damai, rukun, harmonis selama kurun waktu berabad-abad. Inilah modal yang harus terus kita kelola dengan baik. Janganlah sampai kita mengulang kembali kekeliruan kita di masa lalu. Tidak boleh lagi ada diskriminasi, tidak boleh lagi ada perlakuan yang tidak adil di negeri ini, tidak boleh ada saling curiga di antara anak bangsa. Marilah kita bangun dan masuki era baru kehidupan berbangsa dan bermasyarakat yang penuh harmoni dengan semangat dan keikhlasan yang tinggi.
Saudara-saudara yang berbahagia,
Tahun ini adalah tahun kedelapan bagi masyarakat Tionghoa dan umat Kong Hu Cu untuk merayakan Tahun Baru Imlek secara nasional. Kenyataan ini patut kita syukuri sebagai wujud kembalinya kebersamaan kita sebagai bangsa yang majemuk. Kebersamaan antara etnis Tionghoa dan etnis lainnya di seluruh tanah air sebagai kesadaran untuk saling menghormati berbagai perbedaaan yang ada. Persaudaraan kita sebagai sebuah bangsa tidak boleh terganggu dan tidak boleh terpisahkan oleh perbedaan etnis dan perbedaan agama yang kita yakini.
Hadirin sekalian yang saya hormati,
Bangsa Indonesia adalah bangsa yang majemuk. Masyarakat Tionghoa adalah bagian Integral dari bangsa Indonesia. Masyarakat Tionghoa yang lahir, tumbuh, dan hidup di tanah air Indonesia merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari rakyat Indonesia. Peran serta masyarakat Tionghoa dalam membangun bangsa dan negara kita sudah tidak diragukan lagi. Beberapa tokoh masyarakat Tionghoa telah aktif mendarmabaktikan dirinya, bahkan sejak awal Kemerdekaan Republik Indonesia. Hingga saat ini, berbagai jabatan strategis, baik dalam jajaran pemerintahan maupun swasta dipegang oleh sebagian masyarakat Tionghoa.
Jadi bukan saatnya lagi, kita membeda-bedakan asal-usul keturunan, bukan saatnya lagi kita membedakan seseorang berdasarkan kelompok etnisnya. Marilah kita bangun semangat kesetaraan antara semua warga bangsa. Semuanya telah membaur menjadi bangsa yang besar, bangsa Indonesia. Kita telah bertekad untuk menjadi bangsa yang bersatu, berdaulat, adil, dan makmur. Undang-Undang Dasar kita telah menegaskan, bahwa semua warga negara berkesamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan. Karena itu, semua warga negara, termasuk warga masyarakat Tionghoa mempunyai hak dan kewajiban yang sama sebagai Warga Negara Republik Indonesia. Kita tidak lagi mengenal pribumi dan non-pribumi atau warga asli dan warga keturunan, semuanya duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi, semuanya memiliki hak pelayanan publik yang sama.
Hadirin yang saya muliakan,
Pada hari ini, Saudara-saudara Umat Kong Hu Cu dan masyarakat Tionghoa sudah memasuki Tahun Baru Imlek 2558. Saya menghormati tradisi perayaan pergantian tahun sebagai sebuah upaya menunjukkan identitas agama dan budaya. Saya ingin mengingatkan, bahwa pergantian tahun baru, sesungguhnya bukanlah untuk berhura-hura atau berpesta pora, melainkan untuk merenung, berkontemplasi, dan bersujud sukur ke hadirat Tuhan Yang Kuasa. Dalam perayaan Tahun Baru Imlek kali ini, ketika sebagian rakyat kita masih mengalami berbagai cobaan, seperti bencana alam dan kecelakaan transportasi, saya mengajak saudara-saudara untuk menjadikan tahun baru ini sebagai ladang amal dan kepedulian kita, lebih banyak berbuat kebajikan dan meningkatkan kesetiakawanan sosial terhadap sesama.
Di tengah-tengah kebersamaan seperti ini, tepatlah kiranya jika saya mengingatkan kembali hakekat kehidupan bernegara yang hendak kita bangun dan kita perkuat di negeri ini. Kita sungguh ingin membangun dan mewujudkan kehidupan nasional yang rukun, bersatu, dan harmonis. Kehidupan yang menghormati perbedaan dan penuh dengan toleransi, kehidupan yang menghormati hak dan kebebasan, namun disertai tanggung jawab dan kewajiban, kehidupan yang serasi, selaras, dan seimbang dunia akhirat.
Kita tidak ingin dengan reformasi dan transformasi besar ini, bangsa Indonesia tercabut dari nilai dan akar budayanya yang adi luhung. Negara Pancasila yang ber-Bhineka Tunggal Ika akan kehilangan jati dirinya manakala kita terlalu mendewakan kebebasan atau political freedom, apalagi tidak disertai akhlak dan tanggung jawab. Serta terlalu mengejar dan mengagungkan kekayaan dan serba benda atau materialism, apalagi dengan cara yang tidak terpuji dan tidak memiliki kesetiakawanan kepada mereka yang tidak punya. Marilah sekali lagi, kita perkuat ketenggangrasaan, kepedulian, dan budaya menolong kepada mereka yang memerlukannya.
Saudara-saudara sekalian,
Tema yang diangkat dalam Perayaan Imlek tahun ini, yaitu “Apa yang Diri Sendiri Tiada Inginkan, Janganlah Diberikan Kepada Orang lain” adalah sungguh tepat, relevan, dan kontekstual. Dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara yang makin dinamis dan demokratis dewasa ini, kalimat bijak ini, bagaikan sebuah cermin yang syarat dengan pesan moral. Kita semua, orang-seorang tentulah tidak mau mendapatkan kekerasan dari orang lain. Oleh karena itu, janganlah kita melakukan kekerasan kepada orang lain. Kita tidak suka mendapat caci maki dan kata-kata kasar dari orang lain, janganlah kita gemar memaki-maki dan mengeluarkan kata-kata yang kasar kepada orang lain. Kita sangat membenci fitnah dan pembunuhan karakter terhadap diri kita, janganlah untuk kepentingan tertentu justru kita secara produktif menaburkan fitnah dan melakukan pembunuhan karakter pada pihak lain.
Sebagai seseorang yang sedang mengemban amanah di negeri ini dan dalam kebersamaan kita di forum terhormat ini, saya mengajak dan menyerukan kepada seluruh rakyat Indonesia untuk terus membangun kehidupan yang berahklak, penuh etika, dan rasa ketenggangrasaan yang tinggi. Malulah pada diri sendiri, kepada sesama dan terlebih kepada Yang Maha Kuasa, jika kita memiliki tutur kata dan perilaku yang tidak terpuji.
Hadirin sekalian yang saya hormati,
Mengakhiri sambutan ini, saya mengajak masyarakat Tionghoa dan umat Kong Hu Cu seluruh Indonesia dan seluruh komponen bangsa untuk memperbaharui tekad dan semangat kita bersama. Tekad kita adalah bersatu-padu, membangun hari depan bangsa yang lebih baik, yaitu Indonesia yang lebih adil, lebih aman, lebih demokratis, dan sejahtera.
Akhirnya dengan penuh sukacita sekali lagi, saya mengucapkan Selamat Tahun Baru Imlek 2558. Semoga di tahun yang baru ini, kita dapat memperoleh kebahagiaan, keberuntungan, dan kesejahteraan.
Terima kasih.
*****
Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan



