Pidato Presiden
Sambutan Acara "Indonesia Bersatu" 50 Tahun Kerjasama Kebudayaan RI-RRT
SAMBUTAN
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA
ACARA “INDONESIA BERSATU”
50 TAHUN KERJASAMA KEBUDAYAAN RI – RRT
Jakarta, 28 Februari 2007
Bismillahirrohmanirrohim,
Yang saya hormati,
Saudara Ketua Dewan Perwakilan Rakyat RI
Dan para pimpinan lembaga – lembaga negara, para menteri Kabinet Indonesia Bersatu
Yang Mulia para duta besar negara – negara sahabat,
Saudara Gubernur DKI Jakarta
Para tamu dari Republik Rakyat Tiongkok,
Para undangan hadirin sekalian yang berbahagia,
Malam ini, kita bersyukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, atas rahmat dan karunia-Nya kita dapat menghadiri Acara ”Indonesia Bersatu” 50 Tahun Kerjasama Kebudayaan Republik Indonesia dengan Republik Rakyat Tiongkok (RRT). Pada kesempatan yang membahagiakan ini, saya ingin menyampaikan ucapan Selamat Tahun Baru Imlek 2558, kepada masyarakat Tionghoa di tanah air. Semoga di tahun yang baru ini, saudara-saudara akan dapat memperoleh kebahagiaan, keberuntungan, dan kesejahteraan. Kepada seluruh anggota misi kebudayaan dari RRT, saya ucapkan selamat datang dan terima kasih atas kehadiran saudara-saudara di tanah air kami. Semoga kehadiran saudara-saudara, dapat lebih meningkatkan hubungan budaya di antara kedua negara kita.
Hadirin yang saya hormati,
Hubungan persahabatan antara Indonesia dengan Negeri Tiongkok, sesungguhnya telah berlangsung sejak ratusan tahun yang lalu. Hubungan sosial, budaya, agama, dan politik bahkan telah berlangsung sejak zaman kerajaan Sriwijaya. Temuan arkeologis menunjukkan bahwa hubungan perdagangan telah berlangsung sejak zaman Dinasti Han dan Dinasti Tang, yang memerintah Tiongkok pada abad-abad pertama Masehi. Kini hubungan itu tidak hanya ditandai oleh hubungan bilateral, tetapi juga hubungan emosional di antara rakyat Indonesia yang memiliki hubungan kekeluargaan dengan rakyat Tiongkok.
Negeri Tiongkok, sejak lama memiliki arti yang sangat penting bagi Indonesia. Kerja sama yang dibangun selama ini, telah menumbuhkan sikap saling pengertian dan saling percaya di antara kedua negara kita. Koordinasi masalah-masalah regional dan internasional, terus dilakukan untuk menciptakan perdamaian dan kemakmuran di kawasan regional dan global.
Kini, hubungan Indonesia dengan RRT telah memasuki periode baru. Kerjasama kemitraan strategis yang telah disepakati bersama antara Indonesia dan RRT, merupakan arah baru bagi kemajuan bersama. Kedua negara kita, terus meningkatkan kerjasama di bidang politik, ekonomi, dan kebudayaan. Kita ingin, kedua negara berkembang bersama-sama dan maju bersama. Pesatnya pertumbuhan ekonomi RRT akhir-akhir ini, memberikan peluang perkembangan baru bagi negara-negara di sekitarnya, termasuk Indonesia. Kita terus meningkatkan hubungan perdagangan, investasi, dan pariwisata yang lebih erat. Potensi untuk meningkatkan hubungan perdagangan, investasi, dan pariwisata di antara kedua negara, masih terbuka lebar.
Pada kesempatan yang baik ini, saya mengajak kepada para pengusaha dari Republik Rakyat Tiongkok untuk dapat melihat peluang bisnis, dan menanamkan modalnya di Indonesia. Pemerintah berupaya memberikan jaminan hukum, keamanan, dan insentif yang lebih baik.
Dari sisi pariwisata dan budaya, Indonesia adalah negara yang indah dan menarik untuk dikunjungi oleh para wisatawan dari RRT. Selain pemandangan alam dan tradisi budaya yang khas, jejak purbakala dan peninggalan kebudayaan Tionghoa, banyak ditemukan hampir di seluruh tanah air. Tidak sedikit jumlahnya, tradisi budaya masyarakat Tiongkok yang sudah punah di negerinya sendiri, ternyata masih hidup dan berkembang di kalangan masyarakat Tionghoa di Indonesia. Cara masyarakat Singkawang, Kalimantan Barat, dalam membuat keramik misalnya, berasal dari Dinasti Ching di Tiongkok. Cara membuat keramik seperti itu, tidak ditemukan lagi di negeri Tiongkok sekarang ini.
Hadirin yang saya muliakan,
Sebagaimana saya katakan tadi, demikian juga yang disampaikan oleh para Duta besar, baik Duta Besar Republik Indonesia untuk Republik Rakyat Tiongkok, maupun Duta Besar Republik Rakyat Tiongkok untuk Republik Indonesia, pada tanggal 25 April 2005 lalu, saya bersama Presiden Republik Rakyat Tiongkok, Yang Mulia Hu Jintao, telah menandatangani Kesepakatan Kemitraan Strategis RI - RRT. Kesepakatan itu memberi makna yang sangat dalam tentang adanya kesetaraan dan kepercayaan. Prinsip Kesetaraan dan kepercayaan itu sangat penting untuk melakukan langkah pembangunan, yang dapat mendorong terwujudnya kesejahteraan bagi rakyat di kedua negara.
Kemitraan Strategis itu, meliputi tiga bidang, yaitu: pertama, kemitraan strategis di bidang politik, hukum, dan keamanan; kedua, kemitraan strategis di bidang ekonomi dan perdagangan; dan ketiga kemitraan strategis di bidang sosial budaya dan pariwisata.
Saudara - saudara,
Perayaan 50 Tahun Kerjasama Kebudayaan Indonesia dengan RRT, saya anggap penting dan tepat waktu. Perayaan ini, menandai hubungan yang semakin akrab dan hangat di antara kedua negara. Perayaan ini semakin bermakna, karena dirayakan masih dalam suasana kegembiraan menyambut Tahun Baru Imlek 2558. Perayaan Tahun Baru Imlek, kini tidak hanya dimeriahkan oleh kalangan etnis Tionghoa, tetapi juga disambut gembira oleh etnis lain di tanah air.
Perayaan Imlek, telah menjadi bagian dari proses transformasi dan pembauran budaya Tionghoa dengan budaya lokal. Sebagai contoh, makanan yang dihidangkan pada perayaan Imlek di banyak tempat, diberi nama lontong Cap Go Meh. Makanan ini disajikan pada hari ke 15, pada penutupan rangkaian acara perayaan Imlek. Lontong Cap Go Meh, menjadi representasi dari pertautan budaya lintas etnis. Lontong bukanlah makanan orang Tionghoa, tetapi jenis makanan Indonesia. Sementara cap go meh, adalah bagian dari prosesi perayaan Imlek.
Komunikasi lintas etnis, juga muncul dalam tradisi barongsai yang biasa dimainkan oleh siapa saja. Tidak hanya oleh orang Tionghoa, tetapi juga dapat dimainkan oleh orang lain. Demikian pula acara gotong Toapekong yang dilakukan pada hari ke 15 setelah Imlek. Kedua tradisi itu, selain diikuti oleh masyarakat Tionghoa, juga diikuti beramai-ramai oleh masyarakat dari etnis lain di negeri kita. Bahkan menjadi tontonan yang menarik dan menghibur. Kebersamaan antaretnik dalam merayakan Imlek, memaknai Imlek sebagai tradisi yang berciri multikultural. Kebersamaan ini mengandung pesan yang amat dalam, bahwa tidak ada lagi istilah pribumi dan non pribumi. Masyarakat semakin terbuka dan berjalan beriringan, melalui proses komunikasi budaya antar etnis.
Pemerintah Republik Indonesia, sangat menghormati dan menghargai hak-hak warga negara dalam menjalankan kehidupan yang lebih demokratis. Pemerintah juga memberikan kebebasan untuk mengungkapkan ekspresi seni dan budaya, dari masing-masing pendukung kebudayaan yang tumbuh dan berkembang di tanah air, termasuk perayaan budaya menyambut Tahun Baru Imlek. Kini, Imlek sudah menjadi bagian dari budaya bangsa kita. Imlek sudah ditetapkan menjadi hari libur nasional, bagi seluruh rakyat Indonesia.
Hadirin yang saya muliakan,
Mengakhiri sambutan ini, sekali lagi saya berharap peringatan 50 tahun kerjasama kebudayaan RI-RRT kali ini, dapat mendorong tumbuhnya hubungan yang lebih baik antara rakyat Indonesia dengan rakyat Tiongkok. Hubungan yang didasari oleh rasa saling percaya dan penuh pengertian. Melalui pertukaran kebudayaan ini pula, diharapkan dapat memberi manfaat bagi kedua negara, terutama dalam proses pembangunan yang tengah berlangsung di kedua negara kita.
Kepada seluruh misi kebudayaan dari RRT, sekali lagi saya ucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya atas kehadiran saudara-saudara. Misi yang saudara-saudara emban, mengingatkan kita pada berbagai misi yang telah dibawa antara lain oleh Laksamana Cheng Ho. Misi itu adalah misi perdamaian dan persahabatan yang kekal.
Akhirnya, semoga perayaan 50 tahun kerjasama kebudayaan RI – RRT yang bertema “Indonesia Bersatu”, dapat membangun apresiasi dan persaudaraan di antara kebudayaan kedua negara kita.
Sekian, terima kasih.
Jakarta, 28 Februari 2007
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
DR. H. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO



