Pidato Presiden

Paparan di Rumah Dinas Bupati Manggarai Barat

 

TRANSKIPSI
PAPARAN PRESIDEN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
RUMAH DINAS BUPATI MANGGARAI BARAT
14 MARET 2007


Pertama, Pak Gubernur utamanya Pak Bupati, saya mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Pemerintah Daerah bersama masyarakat yang telah bekerja keras untuk melaksanakan kegiatan tanggap darurat, menyusul terjadinya bencana di Kabupaten Manggarai. Sejak awal saya memantau, memberikan directions untuk bertemu Pak Gubernur, mengutus Menko Kesra yang sebelumnya, Kalakhar Bakornas untuk memastikan bahwa baik Satlak, Satkorlak menjalankan tugasnya secara all out. Dan Bakornas mendukung dan memberikan bantuan pada masalah-masalah yang harus diberikan oleh Bakornas.

Sejak awal saya juga mengetahui, bahwa hambatan utamanya justru cuaca. Karena cuacalah, distribusi logistik tidak lancar, angkutan udara terganggu, angkutan darat juga terganggu, karena beberapa ruas jalan rusak dan terputus. Tetapi saya memantau, bahwa semua cara digunakan meskipun tidak mudah keadaannya sehingga pada prinsipnya kegiatan tanggap darurat dapat dilakukan meskipun tadi disampaikan persoalan dan hambatannya. Sekali lagi, sampaikan terima kasih saya kepada semua pihak, pimpinan dan jajaran Pemerintah Daerah, termasuk komponen masyarakat dan di dalamnya juga ada Lembaga-lembaga Swadaya Masyarakat.

Ke depan ini, lanjutkan kegiatan tanggap darurat, jangan sampai ada saudara-saudara kita yang berada di daerah pengungsian ataupun yang tidak mengungsi tapi kondisi daerahnya belum pulih, tidak mendapatkan bantuan, utamanya pangan dan obat-obatan. Prioritas pertama adalah memberikan bantuan pangan, obat-obatan dan pelayanan kesehatan, agar yang di khawatirkan tidak terjadi, seperti terjadinya wabah penyakit yang sering menyusul atau muncul setelah terjadinya bencana.

Tanggap darurat ini teruskan sampai betul-betul situasinya kembali normal, baik oleh cuaca maupun keadaan di daerah Manggarai. Sambil menuntaskan tanggap darurat, segera persiapkan sebagian sudah dilakukan tadi, langkah-langkah rehabilitasi dan rekontruksi, sekali lagi yang masih dalam batas kemampuan Kabupaten dan Provinsi, lakukan rehabilitasi dan rekonstruksi itu. Tetapi kalau di luar kemampuan daerah dengan scheme Bakornas dan menggunakan pola yang selama ini kita anut untuk menangani bencana, yang juga terjadi di daerah yang lain, Bakornas akan memberikan bantuan dan dukungannya.

Sudah dilaporkan oleh Saudara Bupati tadi, apa yang akan dibantukan oleh Bakornas, baik santunan bagi Saudara kita yang meninggal maupun bantuan untuk mendirikan rumah yang rusak. Mari kita biasakan berbagi tugas dan tanggung jawab, berbagi anggaran dan logistik. Karena kalau itu dijalankan secara bersama, maka akan lebih efektif upaya kita mengatasi masalah ini.

Karena Saudara Bupati sudah diberikan instruksi, baik melewati Gubernur maupun waktu Menko Kesra datang dan saya menelpon langsung waktu itu, segera dilaporkan kepada Bakornas, tembusan Gubernur apa saja yang urgent untuk diberikan bantuan. Saya wanti-wanti, agar datanya itu akurat. Pengalaman kita menangani atau mengelola bencana sampai pada tahap rehabilitasi dan rekonstruksi datanya sering tidak akurat. Saya punya pengalaman di Aceh misalnya, di Jogya dan di tempat- tempat lain. Akhirnya terhambat upaya rehabilitasi dan rekonstrukasi, membangun rumah, membangun kembali infrastuktur dan lain-lain, karena sekali lagi, data yang tidak akurat. Saya minta akurasi data, kesungguhan dari aparat yang ada di daerah untuk mendata semuanya itu dengan akurat.

Saudara-saudara,
Meskipun ada cadangan yang berada di tingkat Pemerintah Pusat untuk menanggulangi bencana, tetapi selalu ada batasnya dan setiap kali kita akan menata alokasi itu mesti kita bicarakan dengan Dewan Perwakilan rakyat. Oleh karena itu, dengan prinsip kita membantu kepada mereka yang benar-benar memerlukan bantuan dan tentunya bagi yang tidak memerlukan bantuan tidak sepatutnya menerima bantuan itu, maka menjadi adil. Dana yang ada, anggarannya ada akan kita berikan pada mereka yang membutuhkan dan demikian proses rehabilitasi dan rekonstruksi segera dapat dilakukan. Itu pesan saya yang pertama, akurasi data.

Yang kedua, ketika Saudara nanti melakukan pembangunan kembali daerah rekonstruksi, coba dilihat yang utuh itu, membangun ruas jalan, tempat permukiman baru, itu dilihat kontruksi tanahnya, lingkungannya agar tidak bekerja dua kali. Kalau harus merelokasi dalam jarak yang pantas, saya tahu bahwa tujuh puluh koma sekian persen, kemiringannya 40 derajat, jadi barangkali tidak mudah mencari tanah yang relatif datar. Namun demikian, dari penelitian yang scientific dan dari penglihatan saja sudah kelihatan mana daerah yang benar-benar aman dan mana yang bisa jadi kalau ada cuaca yang buruk, ada lines light, ada hujan yang terus-menerus dengan curah yang tinggi, itu bisa mengalami musibah yang sama. Karena toh kita harus membangun kembali, baik jalan maupun barangkali jembatan yang lain-lain. Sekali dibangun kembali yang permanen, yang lebih kokoh. Itu yang kedua, gunakan tenaga ahli, libatkan Dinas Pekerjaan Umum, mintakan asistensi dari pusat.

Kemudian yang ketiga, melihat sulitnya medan atau daerah di Kabupaten Manggarai ini, ini ada Pangdam disini. Saya sudah memerintahkan Panglima TNI waktu itu untuk TNI bisa memberikan bantuan, Danrem juga ada. Bantuan TNI diwujudkan dalam TNI Manunggal. Dengan demikian, lebih jelas sasarannya, kerangka waktunya, pembiayaannya dan lain-lain, agar lebih cepat. Tentu TNI tidak bisa mengerjakan semua pekerjaan konstruksi, karena tugasnya bukan hanya menanggulangi bencana alam. Meskipun penanggulangan bencana alam salah satu tugas operasi militer selain perang. Gunakan sebaik-baiknya, berikan sasaran yang tepat. Dengan demikian, TNI bisa memberikan bantuan, terutama sasaran-sasaran yang medannya sulit dijangkau. Saya percayakan pada Pangdam, pada Danrem untuk betul-betul memberikan bantuan di daerah ini dan koordinasikan dengan Gubernur, Bupati dan pejabat yang lain.

Kemudian yang keempat, ketika Saudara nanti membangun kembali infrastruktur yang rusak, utamakan kalau ada pilihan-pilihan itu fasilitas pendidikan. Saya tidak ingin ada kegiatan belajar-mengajar yang terhenti, ya lakukan meskipun sementara. Tetapi begitu ada kesempatan untuk mendirikan tempat-tempat sekolah, utamakan dulu sebelum perkantoran yang lain, kalau harus dipilih mana yang lebih dahulu.

Saudara-saudara,
Kalau rangkaian tanggap darurat dilanjutkan dengan rehabilitasi dan rekonstruksi berjalan dengan baik, saya yakin keseluruhan dari penanggulangan bencana akan dapat kita jalankan dengan baik. Berikan penjelasan kepada masyarakat terus-menerus, berikan motivasi, bangkitkan semangatnya, atasi traumanya. Dengan demikian, mereka tidak kehilangan dua-duanya. Mereka sudah kehilangan sebagian keluarganya, rumahnya, tapi tidak kehilangan masa depannya, semangatnya untuk hidup dan Insya Allah lebih baik dari sebelumnya.

Kepemimpinan sangat penting, seringlah turun pada mereka, bukanlah hanya pada Pak Bupati, semua, agar rakyat merasa mendapatkan perhatian yang penuh dari pemimpinnya, pemimpinnya dekat sama mereka, sehingga kalau dalam proses tanggap darurat dan rehabilitasi masih memerlukan waktu, mereka merasa tidak ditinggalkan. Sangat penting pengalaman saya di banyak tempat, sentuhan-sentuhan kepemimpinan itu sangat penting untuk membela dan memulihkan semangat hidup mereka.

Saudara-saudara,
Jalankan itu semua dan nanti Saudara Sekretaris Kabinet sampaikan ke Menko kesra untuk segera dikelola, dipastikan bahwa yang porsi Bakornas itu bisa dijalankan dengan baik. Pasca tanggap darurat barangkali juga tidak selalu berkaitan dengan rehabilitasi dan rekonstruksi, maka upaya untuk menghidupkan perekonomian lokal ini kita lakukan. Saya dukung tadi rencananya, mana yang pertanian, mana perkebunan, mana usaha kecil dan menengah, mana yang perikanan, kelautan, pengolahan dan lain-lain.

Di tempat ini, kalau ada inovasi dan kreativitas sangat mungkin terbuka peluang baru untuk penggerakan ekonomi, bahkan daerah yang sudah sepertinya tidak mungkin dibangun lagi, tetapi justru mengambil hikmah dari musibah itu terjadi dinamika kebangkitan yang akhirnya mensejahterakan rakyat kita, lakukan itu. Dan disini, ada 2 Menteri bisa memberikan bantuan, Menteri Pertanian, Menteri Kelautan dan Perikanan dan nanti Menteri-menteri lain yang menurut saya patut memberikan bantuan pada masyarakat yang kena bencana, melihat kondisinya seperti itu.

Saudara-saudara,
Ini saat yang baik malam hari ini, yang tadi kita dengar lagunya Ebiet. Satu Untuk Kita Renungkan. Yang kedua, Berita Kepada Kawan. Ebiet sahabat saya, Ebiet mengerti betul sebetulnya tentang kodrat Ilahi di negeri kita ini. Oleh karena itu, memaknai lagu Ebiet bukan lantas kita menjadi sedih, menjadi putus harapan, menjadi tidak bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, tapi sebaliknya saya ingin mengajak Saudara-saudara untuk memahami negeri kita, Indonesia yang kita cintai ini.

Saudara-saudara,
Wilayah yang kita namakan Republik Indonesia yang membentang dari Sabang sampai Merauke dengan luas kurang-lebih 8 juta kilometer persegi, kurang-lebih 2 juta daratan, 6 juta kilometer persegi lautan adalah wilayah di muka bumi ini yang memiliki banyak sekali keragaman. Yang kita katakan dengan kekayaan di satu sisi, dengan permasalahan dan tantangan alam di sisi yang lain. Coba kita bayangkan 2 juta tanah yang subur di dalamnya banyak sekali sumber daya mineral atau pertambangan, di bawahnya ada minyak, di atasnya ada minyak. Tidak banyak di dunia ini yang punya dua-duanya. Timur Tengah, Saudi Arabia hanya punya minyak di bawah tanah. Ada lini khatulistiwa yang punya minyak di atas kelapa sawit, tapi tidak punya minyak di bawah tanah. Indonesia punya dua-duanya, ini sebagai contoh.

Lautan yang 6 juta kilometer persegi itu menjadi sumber daya alam yang someday dengan teknologi yang kita miliki akan menjadi sumber kemakmuran bagi rakyat kita. Cuaca yang sebetulnya tidak terlalu keras untuk sebuah kehidupan masyarakat dan lain-lain. Luar biasa sebetulnya kekayaan alam yang kita miliki, sehingga kalau kita pandai mengelolanya, pandai membangunnya seperti kata-kata saya tadi waktu bertemu dengan masyarakat di pinggir pantai tadi, Indonesia akan menjadi negara makmur suatu saat. Tetapi kekayaan alam itu dari proses alam juga mudah diterka seperti tadi dari googles yang tadi ditayangkan.

Indonesia itu dikelilingi 3 lempeng yang disebut dengan lempeng tektonik, tectonic plate, yaitu yang namanya Indo-Australia, Australia masuk dan bagian Selatan Indonesia. Kemudian lempeng Eurisia dimana hampir semua masuk, termasuk Semenanjung Malaysia dan Lempeng Pasifik. Karena ada 3 lempeng, ada batas lempeng inilah yang proses akan bumi berputar pada sumbunya, rotasi, bumi mengelilingi matahari, revolusi. Itulah terjadi dinamika-dinamika ini kehendak Allah, kodrat, karena itu untuk menjaga equilibrium dan keseimbangan. Dalam prakteknya, karena bumi ini di dalamnya cair, ada mantelnya dan ada pergerakan, itulah terjadi tubrukan, collasion, gempa. Kalau collasion-nya vertikal, Tsunami, asalkan kekuatannya lebih dari 6,3 skala richter. Sangat mudah dijelaskan, karena ada Tectonic Plate, ada Ring of Fire, rangkaian gunung berapi dari mulai Pulau Sumatera, Pulau Jawa, Nusa Tenggara sampai Timur ke arah Utara Sulawesi, Filipina sampai Jepang dan lain-lain. Tentu dengan keadaan alam seperti itu, tidak bisa dihindari terjadinya, sering terjadinya gempa bumi, earthquake, sering terjadinya tsunami, sering terjadinya letusan gunung berapi. Itu adalah gerak bumi, terutama penggal Indonesia, sebelum terjadinya global warming dan climate change.

Masih saya teruskan. Persoalan yang lain adalah bentuk medan yang hilly di banyak tempat, hutan-hutan yang barangkali kita tidak sadar, kebijakan atau pelaksanaan penggunaan sumber daya hutan yang salah, HPH di waktu yang lalu, illegal logging yang masih terjadi. Masyarakat kita yang belum mengerti betul bahaya kalau memotong pohon begitu saja tanpa disiplin dan aturan. Kumulasi dari proses berpuluh-puluh tahun, geografi kita, medan kita banyak sekali terjadi penggundulan hutan–hutan, akibatnya terjadi lines light pergerakan tadi curah hujan yang tinggi dan lain-lain, maka dekade-dekade belakangan ini sering terjadi banjir. Sekali lagi, ini kondisi sebelum terjadi global warming.

Indonesia memang rawan bencana, kita memimpin Indonesia harus siap memimpin negara yang rawan bencana. Gubernur Nusa Tenggara Timur, Bupati, Manggarai dan Manggarai barat dengan melihat penggal tanah ini harus siap mental mengatasi semuanya ini, memimpin rakyat, menanggulangi apabila terjadi, karena begitu kodrat kita, geologi ini.

Saudara-saudara,
Dari anatomi bumi dimana kita berada ini, dekade-dekade terakhir ini, dasawarsa-dasawarsa terakhir ini karena juga kesalahan manusia terjadi global warming, efek rumah kaca, climate change. Karbondiaoksida yang diproduksi berpuluh-puluh tahun sejak revolusi industri sampai sekarang ini telah mengubah bagian atas dari atmosfer. Akibatnya sinar radio aktif yang biasanya dikelola dengan baik, itu bisa ada masalah-masalah, sehingga sinar matahari yang biasanya disaring di situ tidak selalu bisa disaring, akibatnya Kutub Utara ada pencairan-pencairan yang tidak semestinya terjadi. Dengan pencairan di Kutub Utara yang sudah tidak bisa dianalisis, sudah terjadi di banyak tempat, terutama di pasifik terjadi kenaikan air laut yang diduga bisa mencapai 40-60 cm dan bahkan dalam angka puluhan tahun bisa mencapai lebih tinggi lagi. Bayangkan negara-negara, seperti Belanda, Jakarta, kota-kota yang flat dengan laut, bahkan ada bagian yang lebih rendah dari laut. Ini salah satu faktor dari global warming, dari climate change.

Bukan hanya itu, terjadi perubahan iklim tadinya musim kemarau 6 bulan, musim penghujan 6 bulan, bisa berubah. Tadinya winter, spring, summer, fall di negara-negara yang punya 4 musim, begitu regular sekarang menjadi irregular. Yang tadinya daerah tidak pernah turun salju, turun salju. Yang tadinya daerah itu, kemaraunya sedikit, jadi panjang. Ini mengubah segala tatanan iklim, cuaca dan pengaruhnya kepada masyarakat sekitar. Bolivia banjir seperti itu, Australia Barat banjir seperrti itu, kebakaran luar biasa di negara kita kemarin di Kalimantan dan Sumatera. Kebakaran luar biasa di California, kebakaran luar biasa di Australia. Johor Baru banijr dalam sejarah tidak pernah kata Pak Abdullah Badawi. Ini bagian dari climate change yang juga mengubah semuanya itu. Ini kita hadapi, kalau yang satu ini solusinya adalah solusi global, komitmen global, global commitment to save our planet. Tidak bisa sendiri-sendiri.

Desember kita akan menjadi tuan rumah di Denpasar Bali nanti. Dan saya akan pidato nanti di depan pimpinan di negara-negara sejagat, bagaimana kita menyatukan komitmen kita, tanggung jawab kita, action kita to save our planet.

Dari cerita saya ini, marilah kita bersiap diri di satu sisi mengelola sumber daya yang kita miliki secara cerdas untuk kemakmuran rakyat, tapi kita melakukan suatu pencegahan, penanggulangan, dan pengatasan manakala terjadi bencana demi tanggung jawab kita dan karena kita paham situasinya. Dan kalau itu menyangkut komitmen sejagat, Indonesia menjadi bagian. Tidak usah kita berambisi mengajak masyarakat dunia, kita mulai dari diri kita, tanam kembali hutan-hutan kita, cegah penggundulan. Ada tsunami, kita bangun peralatan early warning, ada tanda-tanda kalau ada bencana kita cepat meninggalkan tempat itu. Yang tidak bisa kita duga, ada tanggap darurat, ada sistem, ada peralatan, ada kepemimpinan dan lain-lain. Begini cara kita menyikapi sesuatu yang kita yakini ada. Dengan cara itu, maka kita akan tetap bersemangat, kita tegar, tidak kehilangan kepercayaan dan jangan lari ke mistik, tahyul dan lain-lain. Semua kita dekati dari segi keilmuan, scientific approach dan juga segi-segi keimanan, tauhid, kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Kalau sudah kita padukan dua-duanya, Insya Allah kita akan tenang menghadapi semua ini dan kita atasi semua persoalan.

Saudara bisa membayangkan, Pak Kristian Rontok saya tahu hati nestapa, duka melihat rakyatnya yang mengalami musibah bencana bulan ini. Saya, Bapak tahu sendiri. Saya datang dengan istri ke seluruh wilayah Indonesia, karena memang geologi kita seperti itu, Sabang-Merauke sama dengan California-New York , sama dengan London ke tepi Eropa Timur. Jadi kalau mereka bencana gantian tiap negara, ya kita satu negara, sama saja kalau gantian pulau, Provinsi ya mereka gantian negara.

Tapi saya harus tegar, saya harus tetap mengatasi masalah ini sambil memberikan semangat pada saudara-saudara kita di banyak tempat. Karena kalau saya kehilangan kepercayaan diri, kehilangan pengetahuan, kehilangan keimanan, seperti apa Saudara-saudara kita yang mengalami musibah ini. Jadi itu yang harus kita lakukan ke depan ini saudara-saudara. Dan mari kita semua yang mengemban amanah, memimpin rakyat kita, kita berbuat yang terbaik, melakukan yang terbaik, berikhtiar, berusaha yang terbaik, sambil memohon ridho Tuhan Yang Maha Kuasa. Itu yang mesti kita lakukan. Dan khusus Manggarai ini, paparan tadi sudah cukup jelas, jalankan dan apa yang harus saya bantukan nanti kepada Saudara-saudara akan kita bantukan.

Saudara-saudara,
Saya kira renungan kita pada malam hari, satu kontemplasi. Dengan demikian, kita sebagai umat hamba Allah paham betul tentang apa yang terjadi, yang di dalam jangkauan kita, menyelamatkan hutan misalnya dan mana yang di luar jangkauan kita, terjadi gempa bumi dan peristiwa-peristiwa alam karena keseimbangan yang itu juga dari bagian equilibrium dari tata surya maupun dari Bima sakti yang menjadi pengetahuan kita dari alam semesta.

Itulah Saudara-saudara, yang perlu saya sampaikan. Dan mudah-mudahan besok cuacanya baik. Saya bisa bertemu dengan Saudara-saudara kita. Jadi besok landing-nya 2 tempat atau 1 tempat itu? 1 tempat jadi di Pagal, ya. Baiklah. Saya kira demikian Saudara-saudara. Selamat bertugas. Tuhan beserta kita, kita akhiri pertemuan malam hari ini.

Wassalamua’alaikum warrahmatullhi wabarrakatuh.


*****


Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan