Pidato Presiden
Arahan Usai Paparan Gubernur NTB soal Pembangunan di Daerahnya
TRANSKRIPSI
ARAHAN PRESIDEN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
BANDARA SELAPARANG, MATARAM
15 MARET 2007
Terima kasih Saudara Gubernur atas laporan dan presentasinya.
Yang pertama untuk penanggulangan bencana. Laksanakan langkah-langkah penanggulangan bencana sebagaimana yang telah kita atur dalam sistem dan kebijakan yang berlaku selama ini, mana yang tanggap darurat, mana yang rehabilitasi dan rekonstruksi. Kebijakan kita selama ini, kalau skala bencana itu mampu ditangani pada tingkat Kabupaten, tangani dengan sumber daya yang dimiliki. Kalau harus dikelola, ditanggulangi pada tingkat Provinsi, lakukan. Dan manakala Pemerintah Pusat, dalam hal ini Bakornas harus turun dan memberikan bantuan, tentu itu kita lakukan.
Pemimpin di Indonesia, mulai dari saya, Gubernur, Bupati, semua, harus memahami betul bentuk geografi, geologi negara kita, yang memang rawan bencana. Oleh karena itu, terus lakukan langkah-langkah sosialisasi pendidikan dan kesiapan dan persiapan yang baik, manakala bencana itu datang, jenis bencana yang memang tidak bisa diketahui oleh manusia, seperti gempa bumi, letusan gunung berapi, maupun tsunami. Sedangkan bencana yang lazimnya akibat kesalahan kita, seperti bencana banjir akibat penggundulan hutan, mari mulai sekarang kita lakukan langkah-langkah yang serius. Sebagaimana yang saya lihat di NTT tadi, terjadinya longsoran-longsoran antara lain disamping curah hujan yang tinggi di luar kendali kita, juga memang ada penebangan hutan yang dulunya, belasan tahun yang lalu, puluhan tahun yang lalu dilaksanakan secara sembarangan. Ini terjadi di seluruh tanah air, dan tidak usah kita menyalahkan masa lalu, mari kita perbaiki dari sekarang.
Terlebih untuk kita ketahui bersama, akibat manusia juga, pencemaran atmosfir kita, terjadilah pemanasan global, global warming. Akibat itu terjadilah perubahan iklim, climate change. Akibat climate change itu, antara lain suhu udara itu naik 2 sampai 6 derajat, secara sistematis. Akibat kenaikan itu maka terjadi pencairan wilayah es di Kutub Utara dan akibatnya air laut naik. Oleh karena itulah, sebagian sudah mulai naik permukaannya dan diperkirakan di Lautan Pasifik, di wilayah Asia Pasiifik, kenaikannya cukup tajam.
Oleh karena itu, dianjurkan agar manusia sejagat mengantisipasi itu untuk benar-benar siap dengan sebuah kehidupan baru apabila permukaan laut naik. Dan negara seperti Belanda, kota-kota di Indonesia juga ada yang sama dengan permukaan laut, harus mulai diantisipasi mulai sekarang.
Kalau itu permasalahan global, perubahan iklim, pemanasan global tadi, solusinya manusia sedunia bersama-sama mengurangi karbon dioksida, mengurangi pencemaran lingkungan, jangan terjadi kesalahan kita, kebakaran hutan karena kesengajaan, dan lain-lain. Jadi sekali lagi, mari kita siap mental, disamping memohon kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, untuk diselamatkan negeri kita, tetapi karena kita tahu dari sudut pandang keilmuan, negara kita rawan gempa, rawan bencana alam, mari kita lakukan langkah-langkah yang tepat untuk menghadapi itu.
Yang kedua masalah pertanian, utamanya upaya kita meningkatkan kecukupan dan ketahanan pangan, khususnya beras. Saudara-saudara ketahui, meskipun kita terus ingin meningkatkan produksi pangan kita dengan segala cara yang kita lakukan, patut diketahui bahwa jumlah penduduk di negeri kita bertambah banyak. Angka pertumbuhan penduduk 1,3%, yang tadinya 220 juta sudah lebih penduduk kita. Meskipun belum kita lakukan sensus yang terakhir, diduga lebih dari 230 juta. Akibatnya kebutuhan pangan pun meningkat.
Disamping itu, ada faktor iklim yang sekali lagi di luar kendali kita. Karena climate change, karena global warming, regularitas iklim sedunia mulai terganggu. Tadinya enam bulan penghujan, enam bulan kemarau, bisa berubah. Demikian juga negara-negara yang bermusim empat, misalkan ada winter, ada spring, ada summer, ada fall, itupun juga terjadi irregularitas. Akibatnya, pada sektor pertanian mendapatkan impa¬ct-nya. Belum kalau banjir. Oleh karena itulah, meskipun kita juga terus berikhtiar untuk meningkatkan itu semua, bersiap mental lah kita menghadapi semuanya itu.
Khusus peningkatan produksi pangan, saya kira langkah Pemerintah telah jelas, Menteri Pertanian juga hadir bersama kita. Solusinya, jangka menengah, jangka panjang, mari kita tingkatkan ketahanan pangan kita. Beras dan non beras sebagai bagian dari komoditas pangan kita. Peningkatan beras tentunya, mari kita pertahankan kecukupan lahan. Hati-hati kalau suatu daerah sudah mulai mengurangi, penciutan lahan persawahan, krisis lahan. Karena bagaimanapun kalau lahannya kurang, meskipun diintensifkan pertaniannya itu, tetap berpengaruh. Mari sama-sama kita jaga kecukupan.
Nah, setelah kita anggap cukup, baru kita lakukan dan sekarang sudah kita kerjakan dengan technology, dengan research, dengan development, memilih benih atau jenis padi yang cocok, pupuk yang cocok, perawatan yang pas, dan lain-lain. Kita juga melakukan scheme, bimbingan teknis, bantuan para petani, pengelolaan pasca panen, kebijakan harga dan lain-lain.
Ini semua akan berhasil kalau gerakan ini kita jadikan gerakan nasional. Libatkan semua pihak: masyarakat luas, komunitas petani, perguruan tinggi, semua, untuk melakukan hal ini. Kalau kita hanya sekedar bekerja lebih keras, belum cukup, lebih keras lagi, belum cukup, harus betul-betul bekerja keras untuk menjaga ketahanan pangan kita. Itu yang terbaik. Mari kita lakukan semuanya.
Kita tahu, karena krisis, itu delapan tahun kita tidak cukup banyak membangun infrastruktur, uangnya tidak ada, karena krisis waktu yang lalu. Alhamdulillah, dua tahun terakhir sudah mulai kita bangun, mulai kita tingkatkan, yang rusak kita perbaiki dan kita tambah infrastrukturnya. Saya sudah cukup banyak meresmikan irigasi baru di Sumatera Selatan, di Lampung dan tempat-tempat yang lain, agar sawah-sawah itu segera terairi. Dengan demikian produktivitasnya bisa kita pelihara. Mari kita lakukan langkah-langkah all out. Tata niaga atau manajemen pemasaran juga dijaga.
Saya senang Pak Gubernur sudah menginstruksikan para Bupati, Walikota, untuk menjaga harga beras. Harga beras harus pas. Harga yang melindungi petani, sehingga jerih payahnya dihargai secara adil, tetapi juga tidak sangat tinggi sehingga rakyat kita tidak bisa membeli beras. Sudah ada harga patokan. Sebelum saya keluarkan Inpres baru, gunakan, pedomani harga patokan yang sudah ada. Jangan terus kita berspekulasi, jangan-jangan ini, jangan-jangan itu. Kita gunakan. Kita akan ikuti terus perkembangannya, sekali lagi harga beras harus pas, melindungi petani tapi tidak mencekik rakyat yang lain yang harus juga membeli beras. Itu sangat jelas.
Dan Pak Gubernur, Pimpinan DPRD dan semuanya, Lombok ini andalan kita, sebagai lumbung beras. Mari kita pelihara. Saya tadi terbang senang sekali, menguning, sudah panen. Utara. Saya dengar Selatan ada masalah-masalah. Ya mudah-mudahan hujan masih turun di Selatan. Dengan demikian kandungan air cukup, dan mudah-mudahan tetap bertahan sebagai lumbung beras. Dan kalau produktivitasnya sudah mulai sepuluh ton gabah kering panen per hektar, dengan jenis yang baru, hibrida misalnya, alhamdulillah. Makin produktif, makin besar volume panen kita, negara kita makin aman dari segi kecukupan pangan. Mari kita jalankan bersama-sama.
Irigasi, Pak Gubernur, komunikasikanlah dengan Menteri PU.
Saudara-saudara,
Sering dilupakan kita sudah menganut desentralisasi, Otonomi Daerah. Oleh karena itu, karena uang yang dulunya semua banyak di pusat, era sentralisme, yang sudah kita ganti era desentralisme, terjadi desentralisasi fiskal. Oleh karena itu, bagus, gunakan dana Kabupaten, dibantu dana provinsi, dibantu dana pusat.
Saya sudah memimpin berkali-kali, rapat untuk meningkatkan infrastruktur yang kita biayai banyak sekali, seluruh Indonesia: ya irigasi persawahan, jalan-jalan yang rusak, dermaga, pelabuhan, dan banyak sekali, memerlukan uang yang besar. Oleh karena itu harus kita bangun secara bertahap, dengan harapan yang sudah ada dipelihara. Tolong Pak Gubernur kontrol, awasi, Pak Bupatinya turun, ngecek, apakah yang sudah kita bangun susah payah dengan uang yang tinggi terpelihara atau tidak. Ini menjadi penting bagi kita. Tapi, tolong sampaikan, irigasi salah satu prioritas. Dengan demikian baik dikomunikasikan ke pimpinan apa namanya, Pekerjaan Umum pada tingkat Pusat. Rencanakan dengan baik untuk semuanya itu.
Yang ketiga, masalah wisata.
Bapak, Ibu,
Terus terang, saya ini sejak pertama kali datang di Lombok, baik dalam kapasitas saya sebagai Presiden atau sebelumnya, I am dreaming, bahwa Lombok ini, Nusa Tenggara Barat, menjadi salah satu andalan pariwisata. Negara kita ini kaya, Bali khas saya tahu, sudah menjadi bagian dari wisata dunia. Tapi Lombok juga menyimpan potensi yang besar, yang khas juga nanti, berbeda dengan Bali, demikian juga wilayah yang lain.
Oleh karena itu, saya lihat peta di sebelah sana bagus sekali, lanjutkan kerja sama itu. Dengan pihak luar negeri sudah saya restui kemarin itu, selesaikan masalah PPA-nya karena ada masalah waktu lalu BLBI. Dengan demikian selesai masalahnya kita bangun, apalagi kalau bandaranya nanti juga sudah bisa kita wujudkan.
Saya ingin betul, disamping lumbung padi, Lombok utamanya NTB, juga memiliki unggulan baru di dunia wisata. Indah betul. Hanya saya tidak bisa merasakan keindahan karena biasanya satu hari, dua hari kerja, satu dua jam kerja. Nanti kalau sudah pensiun saya jadi Presiden, bisa berwisata di tempat ini, ikut menikmati keindahan alam.
Saya dukung Pak Gubernur, untuk pengembangan wisata itu, ya. Kreativitas, inovasi, ajak fakultas, ajak semua untuk bersama-sama mengembangkan. Karena ramalan dunia, Indonesia itu suatu saat bisa menjadi yang disebut G-8. Saudara tahu G-8 kan? G-8 itu ibaratnya ekonomi besar dunia, big economies di dunia ini. Kita kenal, ada Amerika Serikat, ada Inggris, ada Jerman, ada Perancis, ada Italia, ada Kanada, ada Jepang. Rusia masuk 8. Jadi kalau bicara siapa sih yang mengontrol ekonomi dunia, 8 negara itu.
Banyak studi, yang terakhir yang berjudul Essential, dari UPS, dengan metodologi yang sahih, yang terbit tahun ini, ramalan, sekali lagi ramalan ya, tahun 2030 Indonesia itu menjadi nomor 7 ekonomi dunia. Tahun 2050, Indonesia diramalkan menjadi negara nomor 5 ekonomi dunia. Insya Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa memberikan jalan dan mengabulkan.
Artinya apa saudara-saudara? Berdasarkan geografi Indonesia, luas wilayahnya, kekayaan alamnya, penduduknya yang besar, makin ke depan makin pintar, teknologi makin maju. Indonesia potensial menjadi negara besar. Salah satu unggulan menuju kesitu, bukan hanya pertanian, bukan hanya industri, bukan hanya hi-tech industry, tetapi juga tourism, wisata.
Manusia sejagat itu akan, mobilitasnya sangat tinggi, makin kaya, makin berduit. Nah kalau kita bisa menggunakan anugerah Tuhan yang luar biasa dengan wisata ini, berarti kita juga bisa meningkatkan ekonomi kita dengan peningkatan yang signifikan. Mari kita jemput masa depan itu dengan bersyukur pada Allah dianugerahi seperti ini. Jangan kita ter-nina bobo, jangan bekerja asal saja, apalagi menyalahkan sana, menyalahkan sini, sedikit ada bencana kita putus asa, jangan. Ingat, Tuhan Maha Besar, menganugerahkan banyak hal di negeri ini. Tantangannya juga besar, masalahnya juga besar. Dan banyak ramalan masa depan kita. Mari kita jemput itu semua dengan cara kerja keras, kerja cerdas, bersama-sama di seluruh negeri.
Lombok harus menjadi bagian dari wisata masa depan. Lanjutkan itu, agar bisa kita hadiahkan untuk anak cucu kita nantinya. Kita nggak boleh hanya memikirkan diri kita, tapi juga anak cucu kita.
Kemudian yang terakhir, yang keempat, tadi saya senang, Bapak sudah memikirkan “gerbang e-mas”, gerakan membangun ekonomi masyarakat. Saya senang DPRD dengan Provinsi sudah mengalokasikan 50 juta per Desa.
Begini Bapak, Ibu,
Tadi saya terbang dari mana, dari Labuan Bajo kesini, saya bicara dengan Pak Menteri, dengan Pak Seskab, semua, yang harus kita ubah, pikiran yang tradisional. Kalau dulunya sejak nenek moyangnya itu, ya hanya menangkap ikan di pinggir pantai, sampai sekarang ya itu. Kalau dulunya hanya menanam padi, sejak kakek neneknya sampai sekarang ya hanya itu. Kalau dari dulu petani mente, jambu mente, ya itu. Padahal sekarang ini banyak sekali pilihan, banyak sekali ragam usaha kecil dan menengah yang bisa dikembangkan.
Saya sudah keliling Indonesia, sangat sering Bapak, Ibu, melihat usaha kecil dan menengah misalnya lele di Lebak dan di Boyolali, Jawa Tengah, ya. Kerajinan tangan, handicraft. Kemudian di Malang buah-buahan, tanaman hias di Tomohon, dan lain-lain. Banyak sekali pilihan yang ternyata penghasilan petaninya tinggi. Aren di Tomohon, satu petani satu setengah juta satu keluarga. Lele kemarin, bisa dua juta satu keluarga, per bulan. Mari kita bangun kreativitas, inovasi, para pemimpin, para peneliti, dunia usaha, perguruan tinggi, ajak. Dan kalau diberdayakan, Ibu-Ibu diajak disitu, itu ulet, itu akan ada inovasi-inovasi baru.
Saya ingin, kecintaan kita pada rakyat: mengurangi kemiskinan, mengatasi pengangguran, menghilangkan pemerataan yang tinggi, dengan cara memberdayakan mereka. Memberdayakan bukan seolah-olah, silahkan, saya kasih uang 50 juta. Ajak mereka menemukan pilihan-pilihan baru, usaha kecil dan menengah apa. Pemerintah membantu membikinkan jalannya, Pemerintah membantu membikinkan listriknya, dan lain-lain. Tetapi itu semua harus berangkat dari aktivitas di daerah.
Saya sudah mengambil keputusan kemarin rapat di UKM, bahwa mulai tahun ini, bunga untuk usaha kecil dan menengah paling tidak harus sama dan harus lebih mudah didapat. Akan ada skema penjaminan. Dengan demikian, usaha kecil akan mudah sekarang mendapatkan kredit. Tidak adil yang dapat kredit usaha-usaha besar yang mudah, yang kecil malah susah. Sudah saya putuskan, kemarin ada Gubernur Bank Indonesia, ada Bank Mandiri, ada Bank BNI, ada BRI, semua se-iya se-kata, harus dipermudah kredit untuk usaha kecil. Harus ada jaminan, dengan demikian mereka mendapatkan permodalan.
Tolong disukseskan program ini. Dengan demikian modalnya ada, usahanya ada, pasarnya ada, Bapak bantu bagaimana pengelolaannya. Insya Allah akan makin baik upaya untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat kita, lapangan kerja dan sekaligus mengurangi kemiskinan. Ini penting sekali, dan aktivitas Pimpinan Daerah, sekali lagi Gubernur, Bupati, Walikota, sangat-sangat diperlukan.
Listrik, tadi saya lupa menyampaikan. Listrik ini menjadi masalah kita. Bapak, Ibu, barangkali tidak semua mengetahui. Sejak mendiang Bung Karno jadi Presiden, sampai saya tahun lalu, listrik kita ini jumlahnya seluruh Indonesia, hanya sekitar 25 ribu megawatt. Sama dengan 25 miliar. 25 ribu. Sedangkan 1 megawatt itu satu juta. Berarti kan, 25 miliar watt. Besar? Dulu besar. Tapi penduduk berkembang, kebutuhan industri, kebutuhan komersial, rumah tangga, perkantoran, naik terus. Tujuh, delapan tahun, karena krisis kita tidak terlalu banyak menambah tenaga listrik kita.
Oleh karena itulah saya putuskan, sejak tahun 2006 awal yang kemarin, kita selama tiga tahun mendatang, tahun ini, tahun depan, tahun depannya lagi, sampai 2010, akan menambah lagi 10 ribu megawatt. Itu yang program listrik dengan bahan bakar batubara. Belum yang lain-lain yang akan kita dorong swasta. Jawabannya, supaya nggak byar pet, jawabannya supaya yang menunggu tadi segera bisa dialiri, ya kita tambah pembangkit tenaga listriknya. Baik yang PLN, yang besar-besaran, maupun nanti yang kecil-kecil.
Oleh karena itulah, kemarin sudah saya putuskan di depan para Menteri, disamping program listrik besar, harus ada program listrik-listrik kecil. Gunakan. Ada sumber angin, ada sumber surya, ada hydro, itu semua bisa dikembangkan. Ajak Perguruan Tinggi, ajak swasta, para Pimpinan turun, desa-desa yang kecil yang listriknya masih panjang, mari kita percepat dengan cara-cara skala sangat kecil.
Kesimpulannya listrik akan kita tingkatkan terus. Dan saudara tahu, tiga, empat tahun kita percepat, jumlah 10 ribu sama dengan 40% dari jumlah kita selama ini, itu dengan kerja sama luar negeri, modalnya besar, tidak mungkin kita modali sendiri, kerja sama. Tetapi saya minta juga inisiatif yang lain untuk menambah listrik-listrik yang kecil itu.
Silahkan dikomunikasikan ke Menteri Energi, ke Dirut PLN, bagaimana yang dua scheme tadi, yang dibutuhkan masih 50 megawatt untuk Provinsi Nusa Tenggara Barat ini.
Itu saudara-saudara,
Dan pesan saya, ini saat yang baik ya. Ekonomi alhamdulillah mulai tumbuh. Dulu sebelum krisis, ekonomi kita tumbuh 6% rata-rata, 6, 7, 6, 7, 6, gitu. Krisis minus 13%. Setelah itu terseok-seok kita. Alhamdulillah 2004 kemarin, akhir, kita sudah masuk 5,1. Tahun 2005-2006, 5,6, 5,5, sudah mendekati keadaan sebelum krisis yang dulu 6%. Jika insya Allah tahun ini bisa mencapai 6%, berarti kita betul-betul memasuki era baru.
Kalau income per kapita sebelum krisis 1100, kurang lebih dulu, tahun lalu sudah kita lampaui. Sekarang kita sudah 1600 dolar per manusia. Alhamdulillah. Fundamental ekonomi kita sudah makin baik. Tetapi tidak berarti masalah ini selesai, sebab kebangkitan ekonomi makro itu harus kita alirkan untuk mengurangi kemiskinan, menciptakan lapangan pekerjaan, mangurangi kesenjangan, membangun desa-desa dan daerah yang tertinggal. Kembali ini menjadi tugas kita semua, Pemerintah, swasta atau dunia usaha, dan masyarakat luas, untuk bersyukur terhadap pertumbuhan ekonomi, tapi mari kita gunakan untuk mengatasi masalah-masalah itu.
Karena ekonomi tumbuh, alhamdulillah anggaran pendapatan dan belanja negara juga tumbuh, makin besar. Tahun depan, insya Allah, kita sudah memiliki anggaran belanja negara lebih dari 800 triliun. Besar. Tetapi, karena kebutuhan kita juga banyak, sebagian kita alirkan ke Provinsi, Kabupaten, ke Kota, Pemerintah Pusat memiliki porsi yang tidak banyak lagi. Oleh karena itu, jangan semua minta Pusat, Pusat, Pusat. Sudah kita distribusikan. Bangun ekonomi di daerah masing-masing, gerakkan usaha di daerah masing-masing, cegah korupsi. Jangan ada yang meleset, yang menyimpang, susah payah kita mencari uang. Meningkatkan ekonomi, penerimaan negara, gunakan untuk rakyat.
Dan, ini koreksi saya, saya masih melihat di negeri ini, Departemen, Daerah, perkantoran, terlalu mewah. Ruang-ruang kerja terlalu mewah. Mobil-mobil, sudah lumayan. Dulu terlalu mewah. Mari kita kurangi overhead costs, kita alirkan ke bawah, untuk mereka yang membutuhkan.
Saya sudah mengeluarkan instruksi untuk diatur, akan saya atur nanti, fasilitas Pemerintah yang mengeluarkan APBN, ruang kerja itu ukurannya per meter berapa juta. Lihat ruang kerja Presiden, siapa yang sudah lihat? Sederhana sekali. Wapres, sederhana sekali. Jadi mestinya yang lain biasa. Bukan mewahnya ruangan kerja, bukan hebatnya, besarnya gedung-gedung, tapi produktivitasnya, kinerjanya.
Kalau kita bisa menghemat, overhead cost, maka lebih banyak dana kita alirkan ke desa tadi, ke listrik tadi, infrastruktur tadi, dan lain-lain. Ini salah satu. Kita besarkan ekonomi kita, kita besarkan penerimaan negara kita, kita cegah korupsi dan penyimpangan, kita kurangi biaya-biaya yang sangat konsumtif. Mobil, Toyota Camry cukup untuk Menteri. Gedung tidak harus mewah-mewah kok, biasa saja, yang penting bisa digunakan kerja. Ruangan, secukupnya saja.
Tapi yang kita hemat anggaran itu, bisa kita gunakan untuk yang lain-lain. Jangan karena anggaran ada dihabis-habiskan, jangan. Kemarin, saya kembalikan anggaran dari Kantor Kepresidenan. Berapa miliar tahun lalu? 68 miliar. Memang ada rencana, tiba-tiba ada perubahan, kita kembalikan lagi. Gunakan untuk kepentingan yang lain. Bisa seperti itu. Karena saya kira sudah saatnya, anggaran pun harus pas. Di atas itu, nggak usah banyak-banyak, seperti piramid, secukupnya saja, yang penting kita bisa bekerja. Lebih ke bawah lebih banyak. Dengan catatan, sampai ke bawah itu. Jangan belok kesana kemari.
Itulah yang akan kita kembangkan, saudara-saudara. Saya yakin, insya Allah dengan memohon kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, bekerja keras kita, termasuk di Provinsi ini, bekerja keras kita bersama-sama, agar semua itu dapat kita capai.
Demikianlah arahan saya, Pak Gubernur, lanjutkan semuanya itu. Pimpinan DPRD, laksanakan sinkronisasi yang baik, semuanya untuk rakyat. Meskipun kadang-kadang kritis antara Pemerintah dengan DPRD di NTB ini, tapi kalau sudah kepentingan rakyat, harus satu. Kritis itu untuk memastikan kebijakannya benar, bukan untuk jatuh menjatuhkan. Kalau jatuh menjatuhkan yang kasihan rakyat, kapan kita membangun. Ingat mengingatkan, kritik mengkritik, kebijakannya benar, penggunaan uangnya benar, sampai kepada sasaran. Itulah hakikat demokrasi yang sehat, itulah yang akan kita bangun di negeri ini.
Tarima kasih semuanya, selamat bertugas.
Wassalamu’alaikum warrahmatullahi wabarrakatuh.
*****
Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan



