Pidato Presiden
Sambutan Peringatan Hari Meteorologi Dunia Ke-57 dan Penyerahan BMG Award
SAMBUTAN PRESIDEN SUSILO BAMBANG YUDHOYONO
PADA ACARA
PERINGATAN HARI METEOROLOGI DUNIA KE-57
DAN PENYERAHAN BMG AWARD
Di ISTANA NEGARA
23 Maret 2007
Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu''alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Selamat pagi, salam sejahtera untuk kita semua,
Yang saya hormati para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu,
Saudara Ketua Komisi V DPR-RI.
Yang Mulia para Duta Besar dan pimpinan organisasi internasional,
Para Gubernur, Bupati dan Walikota
Serta para pimpinan media massa,
Saudari ketua Badan Meteorologi dan Geofisika,
Para Kepala Stasiun keluarga besar BMG yang saya cintai,
Hadirin yang saya muliakan,
Puji dan syukur kita panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, Allah SWT, karena atas rahmat dan karunia-Nya kita dapat menghadiri peringatan Hari Meteorologi Dunia ke-57 yang jatuh pada hari ini, tanggal 23 Maret 2007. Kepada seluruh jajaran Badan Meteorologi dan Geofisika, saya ucapkan selamat di hari peringatan yang penting ini. Semoga peringatan ini, dapat meningkatkan semangat dan menggugah kesadaran Saudara - saudara, untuk memberikan pengabdian yang terbaik kepada masyarakat, bangsa dan negara. Tugas-tugas yang Saudara-saudara laksanakan, mempunyai arti yang sangat penting, bukan saja bagi bangsa dan negara kita, tetapi juga bagi umat manusia pada umumnya.
Pada kesempatan yang baik ini, saya ingin mengajak kita semua untuk mencermati dan mewaspadai perubahan iklim global atau climate change, global warming. Perubahan iklim itu, sebagiannya disebabkan oleh faktor alam itu sendiri, sebagai wujud dari kehendak Tuhan Yang Maha Pencipta. Namun sebagiannya lagi, disebabkan oleh eksploitasi sumber daya alam yang dilakukan oleh manusia sendiri. Jika perubahan iklim itu, memang sudah kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa, maka sebagai bangsa yang beragama, kita tidak dapat berbuat lain kecuali menerimanya dengan penuh rasa tawakal kepada-Nya. Kita yakin dan percaya, bahwa Tuhan-lah yang Maha Mengetahui, atas segala yang terjadi pada ciptaan-Nya itu.
Pengetahuan kita sebagai manusia amatlah terbatas. Alam semesta diciptakan Tuhan dengan maksud dan tujuan tertentu. Hanya Tuhan-lah yang Maha Mengetahui arah dan tujuan itu dan cara-cara memlihara ciptaan-Nya itu. Namun kita percaya, bahwa Tuhan sangat mencintai hamba-hamba-Nya. Semua yang dia ciptakan, pasti akan membawa kebaikan dan manfaat khususnya bagi kita umat manusia. Sebagai manusia, kita berkewajiban untuk memelihara ciptaan-Nya itu, agar tidak terjadi kerusakan yang dapat membawa malapetaka. Kita memang diberikan kewenangan untuk memanfaatkan alam untuk kesejahteraan umat manusia. Namun, kita juga selalu diingatkan agar tidak melakukan eksploitasi yang berlebih-lebihan, sehingga merusak keseimbangan alam semesta. Hilangnya keseimbangan di dalam alam adalah sumber dari segala malapetaka yang terjadi.
Hadirin yang saya muliakan,
Peringantan Hari Meteorologi Dunia kali ini memilih tema "Polar Meteorology: Understanding Global Impact". Tema ini sejalan dengan apa yang saya kemukakan tadi, yakni mengingatkan kita untuk mewaspadai dampak meteorologi global terhadap kehidupan, keamanan dan kesejahteraan. Tema ini juga terkait dengan kenaikan suhu bumi, sebagaimana disampaikan oleh Ibu Kepala BMG tadi, dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir ini. Di Kutub Utara, suhu telah meningkat dua kali lipat dibandingkan dengan waktu sebelumnya. Analisis ini dari Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), menunjukkan bahwa telah terjadi kenaikan suhu bumi rata-rata 0,05 derajat Celcius per tahun, sebagai dampai dari pemanasan global itu.
Kenaikan suhu akibat pemanasan global itu, dalam catatan kita, secara langsung telah mempengaruhi kenaikan suhu di tanah air kita, sebagaimana disampaikan tadi, yaitu sebesar 0.02 derajat per tahun. Kenaikan suhu di tanah air itu, telah mendorong perubahan curah hujan setiap bulan. Dalam kurun waktu 100 tahun terakhir, dari tahun 1900 sampai 2000, telah terjadi perubahan curah hujan sebesar 7 sampai 14% per tahunnya. Akibar perubahan ini, permukaan air laut naik makin tinggi. Tidak banyak warga masyarakat kita yang menyadari meningkatnya ketinggian permukaan air laut itu. Bahkan mereka yang tinggal di daerah pantai pun, kurang memperhatikan dan menyadarinya.
Naiknya permukaan air laut, dengan sendirinya membuat tempat kita berpijak, akan semakin lebih rendah dari permukaan laut. Tekanan dan resapan air laut akan semakin meluas ke wilayah daratan. Akibatnya, air tawar akan berubah menjadi payau. Akhirnya perlahan-lahan menjadi asin, karena resapan air laut itu. Naiknya permukaan air laut juga menghalangi aliran air di muara sungai. Ketika hujan deras terjadi, sebagaimana kemarin terjadi di ibukota Jakarta, muara sungai tidak dapat mengalirkan air ke laut secara notmal. Air sungai bahkan berbalik ke daratan. Keadaan inilah dapat menimbulkan banjir di daratan sekitar muara, bahkan sampai jauh ke wilayah daratan.
Perubahan pola iklim dan pola curah hujan ini, membawa beberapa konsekuensi. Sebagai contoh, daerah yang selama ini tergolong sebagai wilayah Subtropis, perlahan-lahan berubah mendekati pola iklim wilayah Tropis. Wilayah seperti itu disebut sebagai daerah tropis baru (New Tropical Region). Australia yang mempunyai iklim subtropis, saat ini dapat ditanami mangga dan rambutan, seperti halnya di tanah air kita yang mempunyai iklim tropis. Perubahan iklim seperti ini, sedikit banyak akan mempengaruhi sikap dan perilaku, kehidupan dan pola hidup masyarakat setempat bahkan kegiatan ekonominya.
Dalam tiga bulan terakhir ini, perubahan cuaca yang diakibatkan oleh pergeseran musim, memberikan dampak yang menggelisahkan kita semua. Hari-hari kemarin sangat kita rasakan, angin Puting Beliung dan badai disertai hujan deras terjadi di banyak tempat. Laut yang tenang disertai udara yang cerah, tiba-tiba saja berubah menjadi gelap dan mendung. Hujan deras pun tiba, disertai angin kencang dan tingginya gelombang laut. Keadaan ini dapat membahayakan keselamatan transportasi, tidak saja di udara, tetapi juga di darat dan di laut. Tidak sedikit jumlahnya, nelayan tradisional kita yang mengalami musibah ketika mereka mencari nafkah di laut lepas.
Saudara – saudara,
Dalam satu catatan, karena perubahan iklim dan pemanasan global dan tentu faktor-faktor alam yang lain, sejak bulan November tahun 2004, satu bulan sebelum kita mengalami bencana tsunami, sampai Maret tahun ini, di seluruh dunia, tercatat sekitar 70 jenis bencana alam yang memiliki nilai kerusakan baik jiwa maupun harta benda yang tinggi, Yang paling banyak terjadi memang di Filipina, Amerika Serikat dan Indonesia serta di tempat-tempat lain berturut-turut. Korban yang besar memang kembali ada di Indonesia, ada di Filipina, di Pakistan, di Amerika, dan disusul oleh korban yang lain. Ini menunjukkan bahwa dampak nyata telah terjadi. Dasawarsa terakhir ini, yang menurut para ilmuwan, faktor yang menyebabkan antara lain adalah terjadinya perubahan iklim atau climate change akibat global warming yang terjadi pada dasawarsa-dasawarsa terkahir ini.
Letak dan posisi geografis di negeri kita yang berbentuk kepulauan, diapit oleh dua samudera dan dua benua besar, serta dilalui oleh garis Khatulistiwa, mempunyai persoalan tersendiri dari sudut pandang cuaca. Kita memiliki pulau-pulau besar dan kecil, membujur dan melintang dari barat ke timur dan dari utara ke selatan. Kita pun memiliki laut lepas, teluk, selat, daerah dataran rendah dan daerah pegunungan. Dengan kondisi geografis yang demikian, negeri kita menyimpan potensi bencana yang sulit diduga. Belum lagi kita membicarakan lempengan tanah tectonic plate, yang menjadi patahan yang memisahkan antar benua, yang terletak di negeri kita. Belum pula kita membicarakan keberadaan gugusan gunung berapi yang melintasi beberapa daerah di tanah air yang sering disebut dengan ring of fire, yang membentang di sepanjang pulau Sumatera bagian Barat, sampai dengan kea rah Papua, ke Sulawesi, bahkan terus naik ke Filipina dan Jepang. Negeri kita bukan saja rawan terhadap bencana meteorologis dan klimatologis, tetapi juga rawan terhadap ancaman gempa, tsunami dan letusan gunung berapi.
Saya tidak bermaksud menakut-nakuti diri kita sendiri, dengan mengemukakan rawannya negeri kita dari ancaman berbagai bencana. Karena kita yakin, Tuhan Yang Maha Kuasa, adalah Maha Adil. Apa yang harus kita lakukan ialah kita harus siap sedia menghadapi setiap ancaman secara mental, secara pikiran dan secara fisik. Kita juga harus bepikir secara cerdas, bagaiman menghadapi setiap ancaman dan tantangan, dan mengubahnya menjadi sebuah peluang yang membawa keuntungan dan manfaat. Kalau saja kita cerdas dan pandai, kita dapat memanfaatkan segala tantangan itu untuk membuat kita lebih dinamis dan lebih maju. Bukan sebaliknya membuat kita menjadi bangsa yang lemah, merasa tidak berdaya, putus asa dan akhirnya semakin tertinggal dari bangsa-bangsa lain.
Mari kita sama-sama memikirkan, peluang apa yang dapat kita manfaatkan, dari kondisi geografis yang kita miliki, termasuk sumber daya alam yang terkandung di dalamnya. Jika kita mampu mengelola dan memanfaatkannya dengan cerdans dan arif, niscaya Negara kita akan semakin sejahtera. Tuhan Maha Adil. Dia memberikan tantangan, namun sekaligus juga memberikan peluang. Kita lah, sekali lagi, yang harus cerdas dan pandai memanfaatkan semua potensi itu.
Hadirin yang saya muliakan,
Untuk mengurangi risiko akibat terjadinya bencana yang tidak dapat diduga, kita harus memiliki pemahaman dan kesigapan terhadap munculnya bencana. Komponen kegiatan yang termasuk pemahaman dan kesigapan itu adalah penyiapan sistem peringatan dini early warning system, pembuatan dan pemasangan peta evakuasi, pelatihan evakuasi regular dan terstruktur, serta pembangunan tempat pengungsian (shelter) dan jalan masuk menuju lokasi pengungsian. Langkah mitigasi semacam ini, akan dapat mengurangi jatuhnya korban yang mungkin timbul dari bencana. Saya menyambut baik inisiatif Menteri Dalam Negeri yang akan menandatangani Kesepakatan Bersama dengan para Gubernur, terutama para Gubernur yang daerah koordinasinya merupakan daerah yang rawan bencana, Hal ini saya pandang penting agar masyarakat dan daerah yang bersangkutan dapat lebih siap dan sigap untuk menghadapi dan menanggulangi bencana yang mungkin terjadi. Kalau kita lebih siap dan lebih sigap, ketika bencana dating, Insya Allah kita akan dapat mengurangi sejauh mungkin jatuhnya korban jiwa dan harta benda.
Sistem peringatan dini yang memberikan tanda dan peringatan, akan terjadinya bencana alam, sangat penting untuk kita miliki. Sistem Tsunami Warning System yang dibangun sejak tahun 2005, sanggup memberikan peringatan dini dalam waktu singkat. Sebagaimana yang Kepala BMG katakana tadi, kalau sekarang masih memerlukan waktu delapan menit, maka untuk akhir tahun 2008 diharapkan sanggup memproduksi info gempa dalam waktu lima menit. Sebagai contoh, terjadi gempa, maka dalam hitungan 8 menit sekarang ini, dan insya Allah tahun 2008 itu lima menit akan diketahui kekuatannya berapa, dan kemudian tentunya apakah memiliki kemungkinan untuk menimbulkan tsunami atau tidak. Dari skala itu saja, sudah bisa diberikan peringatan apakah tsunami dapat terjadi atau tidak. Dan harapan kita makin banyak lagi informasi yang dapat didistribusikan secara cepat.
Pengalaman saya, begitu SMS yang dipegang oleh ajudan di samping saya, ada berita atau informasi telah terjadinya gempa, maka itu sangat berharga, karena saya bisa melakukan pengecekan kepada Gubernur tertentu apakah sudah mengambil langkah-langkah yang tepat. Itu pada tingkat saya, tentu pada tingkat menteri, walikota dan semua juga melakukan langkah-langkah seperti itu untuk tidak mendadak, kita bisa melakukan langkah-langkah yang cepat dan tepat. Itulah saudara-saudara, gunanya early warning system yang kita bangun untuk menghadapi bencana semacam tsunami.
Tentu kita masih memerlukan lebih banyak lagi system peringatan dini selain untuk menghadapi gempa dan tsunami. Bahaya banjir, badai dan tanah longsor pun memerlukan antisipasi dan sistem peringatan dini pula. Semua itu harus kita bangun dan sediakan sebagai bagian dari upaya bersama kita, dalam menyelamatkan warga masyarakat dari ancaman setiap bencana.
Bencana tidak pernah bertanya, apakah kita siap atau tidak untuk menghadapinya. Seringkali bencana datang, justru ketika kita sedang lupa, atau ketika kita sedang lengah terhadap alam dan lingkungan di sekitar kita. Karena itu, sekali lagi, saya mengajak warga masyarakat di seluruh tanah air, untuk senantiasa mencermati keadaan alam dan lingkungan. Setiap ada tanda-tanda alam yang kita perkirakan berpotensi menimbulkan bencana, kita wajib segera mengantisipasinya. Pepatah lama mengajarkan kepada kita: Sediakan payung sebelum hujan!.
Jika rumah kita terletak di lereng yang terjal, dan kita tahu tanah di daerah itu labil, mudah bergerak, setiap saat bergerak, maka segeralah mencari lahan atau tempat pemukiman yang baru. Saya terbang kemarin dari Labuhan Bajo, ke arah Ruteng Manggarai pulang pergi dengan helicopter, terbang rendah. Saya melihat kantong-kantong pemukiman yang sangat banyak jumlahnya, sebagian relatif aman saya lihat, sebagian sangat aman, tetapi beberapa spot, menurut saya, rawan. Saya sampaikan kepada gubernur dan bupati. Tolong dipikirkan, tolong dibantu rakyat untuk ada saatnya bisa melakukan relokasi, itu sebagai contoh. Tentunya tidak tepat memaksakan tempat tinggal di daerah seperti itu yang kita tahu saat lumpur menerjang dan bisa menimbun kompleks pemukiman itu.
Jika kita tinggal di tepi sungai dan tiap tahun banjir menerjang, dan selalu membawa korban, tentu, kita wajib tempat pemukiman yang lain. Saya menginstruksikan para Pemimpin Daerah, gubernur, Bupati dan Walikota untuk mengajak dan membantu relokasi tempat yang sangat rawan bencana seperti itu.
Ada kegiatan atau upaya jangka pendek saudara-saudara, tapi juga ada upaya jangka menengah dan jangka panjang. Kita tahu Jakarta tiap tahun langganan banjir, 5 tahun sekali banjirnya besar. Jangka pendek tentunya, karena kita tahu pada saat banjir dating, diperlukan perahu karet, posko-posko, dapur-dapur dan lain-lain, tentulah diantisipasi harus menyiapkan segalanya. Itu semuanya. Tetapi solusi jangka menengah dan jangka panjang tentu tidak reaktif seperti itu.
Mari kita lakukan sesuatu yang fundamental, menyeluruh, struktural, dengan demikian, dalam menghadapi curah hujan yang tinggi seperti itu, Jakarta dan sekitarnya lebih tahan. Kita sudah melangkah menuju ke situ, kita sudah membicarakan anggaran bersama DPR RI, bersama-sama kita lakukan langkah-langkah yang lebih fundamental, strategis, untuk menyelamatkan Jakarta dan tentunya juga daerah-daerah yang lain.
Kepada seluruh jajaran Badan Meteorologi dan Geofisika, sebagai institusi nasional yang diserahi tanggung jawab dalam hal observasi cuaca, iklim, kegempaan dan tsunami, saya minta untuk selalu mempelajari serta mencermati setiap gejala perubahan alam. Berikan informasi yang cepat, tepat dan akurat kepada masyarakat luas tentang potensi bencana yang mungkin timbul. Demikian pula, informasi cuaca yang berpeluang menimbulkan kecelakaan bagi transportasi darat, laut, dan udara. Segeralah berikan informasi itu kepada seluruh jajaran Departemen Perhubungan, bandara, pelabuhan dan masyarakat luas. Kita tidak boleh mengabaikan sekecil apapun informasi yang akan berdampak buruk bagi keselamatan masyarakat.
Melalui kesempatan ini, saya ucapkan terima kasih kepada media massa, pers, media cetak, elektronik yang pada saat-saat yang penting telah ikut berkontribusi menyebarluaskan informasi seperti ini. Jadikan ini budaya, jadikan ini kebiasaan dan semacam standard operating procedure untuk memberikan informasi sebanyak-banyaknya, secepat-cepatnya kepada kita.
Saudara-saudara,
Sebelum mengakhiri sambutan ini, saya ingin menyampaikan ucapan selamat kepada para Kepala Daerah yang memperoleh BMG Awards. Penghargaan ini, merupakan penghargaan atas kerja keras saudara-saudara dalam meningkatkan kesadaran masyarakat tentang bencana, dengan memanfaatkan informasi yang dikeluarkan oleh Badan Meteorologi dan Geofisika. Dengan pemanfaatan informasi itu, insya Allah kita akan dapat menekan sekecil mungkin dampak dari bencana yang mungkin terjadi.
Kepada seluruh jajaran Badan Meteorologi dan Geofisika, saya ucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya atas kerja keras dan pengabdiannya. Saudara-saudara telah mengamati, meneliti dan memberikan berbagai informasi mengenai cuaca, iklim, dan bencana gempa bumi dan tsunami kepada masyarakat luas. Informasi yang saudara-saudara berikan, sangat bermanfaat dalam membantu masyarakat untuk mengetahui keadaan alam, lingkungan, dan mengantisipasi bencana alam dan kecelakaan transportasi
To our guests, excellencies, ambassadors and head of the international organizations, I would like to thank for your presence here, in this forum. Thank you for your cooperation and partnership in dealing with disaster and other things related to the environment. We are facing great challenge, how to save our planet. We have eyewitnessed, many things have happened because of the global warming and climate change. I believe very strongly that we have to do what we can do to save our planet, to be more united in promoting global solidarity, global cooperation and partnership, and once again preserving our environment and saving our planet. We have to think about our future. We have to maintain the sustainability of food, energy and water and others. I do hope we could continue our partnership and cooperation in accomplishing our global mission. The mission in this era, in the 21st century, saving our planet. I thank you very much for your presence.
Demikianlah saudara-saudara yang dapat saya sampaikan, semoga Tuhan yang Maha Kuasa memberikan bimbingan, petunjuk dan lindungan-Nya kepada kita sekalian.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Jakarta, 23 Maret 2007
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
DR. H. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO



