Pidato Presiden

Sambutan Pembukaan Rapimnas Kadin

 

SAMBUTAN
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
PEMBUKAAN RAPAT PIMPINAN
NASIONAL KAMAR DAGANG DAN INDUSTRI (KADIN)
INDONESIA TAHUN 2007
J C C, 26 MARET 2007


Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum warrahmatullahi wabarrakatuh,

Selamat malam,
Salam sejahtera bagi kita semua,

Yang saya hormati saudara menteri Koordinator Bidang Perekonomian, segala unsur pimpinan lembaga Negara, para Menteri, Gubernur Bank Indonesia,
yang mulia para Duta Besar Negara-negara Sahabat, para Pimpinan Organisasi Internasional dan para Pimpinan Dunia Usaha dari negara sahabat, Saudara Gubernur DKI Jakarta, Saudara Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia, para unsur Pimpinan dan Pengurus Kadin, baik pada tingkat pusat dan daerah, para Pimpinan Asosiasi.

Hadirin yang saya muliakan,
Pada kesempatan yang baik dan semoga senantiasa penuh berkah ini, saya mengajak hadirin sekalian untuk sekali lagi memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan yang Maha Kuasa atas rahmat dan ridhonya pada malam ini, kita bersyukur ke hadirat Allah SWT karena atas rahmat dan karunia-Nya kita dapat menghadiri Pembukaan Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Tahun 2007.

Kita juga bersyukur kehadirat Tuhan yang Maha Besar karena kepada kita masih diberi kesempatan dan kekuatan untuk bersama-sama berjuang dan berkarya, mengembangkan dunia usaha kita dan membangun ekonomi negara kita. Saya sudah mempersiapkan satu naskah sambutan yang cukup komprehensif merespon tema yang diangkat oleh Rapimnas Kadin pada malam hari ini, tapi lebih baik kalau ini menjadi dokumen resmi.

Saya akan menyampaikan catatan-catatan penting saya, satu highlight apa yang harus kita lakukan pemerintah dan dunia usaha tahun 2007 ini dan tahun-tahun mendatang agar semua yang telah kita bicarakan berulang kali antara lain mengalirkan capaian makro ekonomi ke sektor riil, memperbaiki iklim investasi, menggerakan usaha kecil dan menengah misalnya benar-benar dapat kita wujudkan dengan baik. Tanpa kemitraan, kebersamaan dankerja keras kita semua, tanpa sinergi kita semua, pemerintah dan dunia usaha, pemerintah itu sendiri, pemerintah pusat, provinsi, kabupaten dan kota maka segala yang indah-indah itu tidak mungkin kita wujudkan.

Visi 2030, cantik, road map pengembangan industri nasional bagus, semua prioritas dan agenda rencana kerja yang disusun excellent, tapi sekali lagi kalau itu tidak mengalir dalam implementasinya, dilapangan di seluruh Indonesia maka kita tidak beruntung, kita punya komitmen, kita punya rencana, kita punya konsep, semuanya bagus tapi tidak dapat kita implementasikan sebagus konsep dan rencana itu.

Oleh karena itu dengan bahasa terang saya ingin mengajak saudara berbagi tanggung jawab, berbagi tugas, sharing agar betul-betul tercapai sinergi untuk pencapaian sasaran–sasaran yang telah kita canangkan bersama.

Hadirin, keluarga besar Kadin yang saya hormati,
Pertama-tama, saya mengucapkan selamat melaksanakan rapat pimpinan nasional semuga Rapimnas tahun 2007 ini benar-benar bukan hanya menghasilkan prioritas dan rencana kerja Kadin tahun 2007 tetapi benar-benar dapat meningkatkan dan mengembangkan dunia usaha di negeri kita, di berbagai bidang di seluruh wilayah Indonesia. Tema Rapimnas yang saudara-saudara pilih saya catat disini ”Mempercepat Pertumbuhan Ekonomi Nasional” growth melalui peningkatan investasi, investment, penguatan peran pengusaha daerah, regional business dan pengembangan usaha mikro kecil dan menengah, small and medium entrepresies, small and medium business.

Terus terang kita sepakat tema ini very kindly, tepat. Karena yang jadi persoalan bukan makin kuatnya, makin stable-nya macro economic situation, tapi how to transfer yang sudah makin kuat, kokoh dan mantap ini ke sektor riil, ke sisi mikro sebagimana yang telah menjadi tema dalam Rapimnas ini. Oleh karena temanya tepat, very kindly, relevan, mari melalui interaksi kita pada malam hari ini kita pastikan mengalir benar dalam rencana kerja Kadin, dunia usaha ya Alhamdullilah sebenarnya klop, dengan apa yang dilaksanakan pemerintah dan harapan kita betul-betul terwujud makin nyata dalam dunia usaha kita.

Mengapa pertumbuhan ekonomi penting? ada orang mengatakan tidak perlu petumbuhan ekonomi itu, yang penting pemerataannya, yang penting keadilannya, dan lain-lain. Saya katakan semuanya penting, pertumbuhan yang berkualitas dan kita distribusikan secara adil kepada seluruh rakyat Indonesia. Tetapi pertumbuhan itu sendiri menjadi pilar utama bagi tumbuh berkembangnya ekonomi nasional, growth bagian dari economic sustainability.

Dengan pertumbuhan 10 juta yang menganggur secara bertahap akan bisa bekerja kalau dia bekerja yang tadinya menganggur punya penghasilan, punya income, income itulah yang dia bisa belanjakan untuk mengurangi kemiskinan.

Apabila ekonomi tumbuh, dunia usaha tumbuh, penerimaan negara makin besar, pajak makin besar, penerimaan negara yang makin besar itu kita distribusikan, kita alokasikan kembali untuk kepentingan rakyat kita, pendidikan, kesehatan, Kepolisian dan lain-lain.

Tetapi saudara-saudara, saya mengingatkan melihat pengalaman kita diwaktu yang lalu, melihat pengalaman negera-negara lain, negara berkembang yang sedang membangun ekonominya maka pertumbuhan yang kita bangun, kita tuju dan kita tingkatkan ini haruslah pertumbuhan yang inklusif, growth must be inclusive, growth must be broad based, kalau itu yang terjadi maka yang kita cemaskan terjadinya disfaritas dan kesenjangan antara the have dan the have not yang bisa menciptakan ketegangan dan keresahan sosial itu tidak terjadi.

Growth with equity demikian kita berikan istilah pertumbuhan disertai pemerataan, klop benar dengan tema malam ini disamping pertumbuhan saudara memikirkan bangkitnya usaha di daerah-daerah, bangkitnya usaha mikro, usaha kecil dan menengah.

Mari kita yakini bahwa ini benar, cara berpikir ini benar. Dengan demikian pertumbuhan yang inklusif merata dan broad based itu akan lebih kokoh, akan lebih sustainable. Apabila ada shock, ada guncangan maka kita tidak akan terjadi dalam krisis yang baru. Ini harapan kita.

Saya diingatkan oleh Saudara Muhammad Hidayat, juru bicara demokrasi, diilhami oleh Prof. DR. Boediono bahwa untuk melewati batas aman tingkat ekonomi rakyat kita harus pada titik tertentu sehingga mengalami dinamika hingar-bingar dan hiruk-pikuk demokrasi dan kebebasan akan tetap kokoh, akan tetap stable dan merupakan kondisi yang kondusif untuk kelanjutan pembangunan kita.

Saya setuju, bahkan saudara-saudara kalau kita mau melihat negara kita dalam kerangka yang utuh sebenarnya ada 4 pilar yang mesti kita bangun secara sungguh-sungguh meskipun memerlukan waktu bagi terbangunnya harmoni kehidupan suatu bangsa.

Pertama kita telah masuk dalam era reformasi dan demokratisasi maka untuk menjadi pilar pertama yang sekarang tumbuh dan berkembang. Tapi freedom yang menonjol, yang mekar dan berkembang ini harus memiliki keselarasan dan keseimbangan dan dengan 3 pilar yang lain agar kehidupan ini penuh dengan kebebasan. Sebagai nilai-nilai demokrasi tapi menumbuhkan harmoni.

3 pilar itu adalah the walfare of the people, tingkat kesejahteraan rakyat kita yang berdemokrasi, yang kedua rule of law, kebebasan ada pasangannya, rule of law dan yang ketiga basic educations. Rakyat kita di seluruh negeri meskipun penuh kebebasan tapi memiliki kematangan dalam pendidikan, kecukupan dalam kesejahteraannya dan diikat dengan rule of law maka kita akan memiliki demokrasi yang sustainable dan demokrasi yang penuh dengan harmoni, yang tidak membahayakan keberlanjutan dan kehidupan nasional kita.

Oleh karena itu, tidak relevan mengapa kita berjuang habis-habisan, all out untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat kita diseluruh tanah air, mengurangi kemiskinan agar pra kehidupan dinegeri ini betul-betul stabil, kokoh dan kondusif bagi keberlangsungan dan pembangunan kita.

Saudara-saudara,
Pertumbuhan harus tinggi, menurut catatan statistik pengalaman empiris yang disebut dengan high growth atau rated growth itu sebetulnya 5%. Oleh karena itu sesungguhnya kalau pertumbuhan sudah 5, 6, 7, 8 dan seterusnya itu dikatakan rated growth.

Dimasa orde baru pertumbuhan kita mencapai 6, 7, 8 persen, mengapa pertumbuhan yang tinggi itu ternyata disumbang dikontribusikan oleh elemen-elemen pertumbuhan yang juga tinggi, konsumsi rumah tangga sebagai contoh, waktu itu besarnya 7 – 9 persen, tinggi. Investasi 10-14 persen, ekspor 10-15 persen dan dengan tingkat pembelanjaan pemerintah atau goverment expenditure yang nilainya juga signifikan dan secara bersama-sama, secara agregratif akhirnya membentuk angka pertumbuhan 6-8 persen itu.

Kita mengalami krisis, tahun 1997 akhir, 1998 yang tadinya 6 persen drop minus 13 persen, satu kontraksi yang luar biasa. Tahun demi tahun kita merangkak, kita bertahan, mengatasi prahara, mengatasi masalah dan lain-lain tetapi bentangan waktu 1998, 1999, 2000, 2001, 2002 dan seterusnya memang pertumbuhan kita rendah. Minus, merangkak menjadi naik-naik, meskipun alhamdulillah. 2 tahun terakhir 2005, 2006 kita sudah mencapai 5,6 - 5,5 tetapi dalam kurun waktu ini, dalam tenggang waktu ini masih rendah, rendahnya itu juga tercermin dari kontributornya, dari penyumbangnya, konsumsi misalnya. Catatan saya hanya 3,1 persen 8 tahun ini, investasi 3,5 – 4 persen, ekspor 9 persen, tentu saja akhirnya pertumbuhan kita belum kembali mencapai 6, 7, 8 persen.

Sekarang kita ingin ekonomi kita tumbuh 6-7 persen maka solusinya berdasarkan pengalaman empiris itu, berdasarkan teori ekonomi yang sama-sama kita kuasai itu semua elemen harus kita tumbuhkan, konsusmsi rumah tangga, investasi, ekspor, belanja pemerintah yang akhirnya kalau semuanya meningkat tahun 2007 ini, tahun 2008 dan tahun-tahun berikutnya lagi maka total output kita juga meningkat.

Saya berpendapat untuk mencapai pertumbuhan 6, 7 persen tahun ini dan tahun-tahun berikutnya lagi diperlukan partnership dan sinergi antara pemerintah dan swasta. Pertanyaannya bisakah kita kembali mencapai pertumbuhan 6-7 persen ke depan ini? Insya Allah bisa. Bisa dengan catatan mari kita berbagi tugas dan tanggung jawab. Saya akan jelaskan secara singkat nanti tugas pemerintah apa, kewajiban saudara dunia usaha juga seperti apa.

Saudara-saudara,
Kita tingkatkan kebutuhan konsumsi di negeri ini, konsumsi yang saya maksud dikaitkan dengan peluang dan kapasitas pasar, dimana barang dan jasa yang saudara produksi itu dikonsumsi oleh masyarakat, kita. Karena bagi kita sangat jelas agar dunia usaha bisa tumbuh, industri tumbuh, barang dan jasanya bisa, apabila barang dan jasanya dikonsumsi, dibeli oleh rumah tangga kita. Dalam pasar yang ada di negeri kita. Agar rumah tangga itu bisa membeli barang dan jasa yang kita produksi, yang saudara produksi daya belinya harus naik.

Kenaikan daya beli ada yang bisa dilakukan oleh pemerintah tetapi banyak yang harus dilakukan oleh swasta. Pemerintah melalui kebijakan fiskal, melalui APBN dan APBD kita bisa ikut menaikkan daya beli rakyat itu. Contohnya kenaikan gaji pegawai negeri tiap tahun yang kita lakukan tahun 2006, 2007, 2008 insya Allah yang jumlahnya diatas inflasi. Dengan demikian terjadi kenaikan daya beli riil.

Disamping itu sekali lagi dengan APBN dan APBD kita bisa memberikan keringanan, bisa membebaskan pengeluaran rumahtangga-rumahtangga di seluruh Indonesia dengan pembebasan, memurahkan biaya pendidikan, biaya kesehatan, pelayanan publik dan lain-lain. Dengan demikian income-nya tadi lebih banyak lagi digunakan untuk mengkonsumsi barang dan jasa yang dihasilkan oleh dunia usaha kita.

Melalui fiskal pula kami bisa menciptakan lapangan pekerjaan, fiscal driven job creation di pusat maupun di daerah dan bagi golongan ekonomi lemah, kaum miskin bahkan melalui fiskal pula kita memberikan bantuan langsung atau yang berada dalam scheme protual program, ini adalah yang bisa dilakukan oleh pemerintah untuk meningkatkan daya beli mereka, untuk menghidupkan pasar yang ada di negeri kita.

Kebijakan dalam program ini kenyataannya 2006, 2007 bisa menjaga dalam batas tertentu konsumsi rumah tangga yang akhirnya terkontribusi pada pertumbuhan yang mulai mendekati 6 persen, 5,6 – 5,5. Tetapi cara menjaga meningkatkan daya beli rakyat seperti ini tentulah tidak se-sustainable dibandingkan dengan memberikan lapangan pekerjaan kepada mereka. Yang diperlukan akhirnya tahun ini, tahun-tahun kedepan lebih banyak job, lebih banyak lapangan pekerjaan agar income-nya juga sustainable Insya Allah makin besar sejalan dengan perkembangan dunia usaha dan ekonomi kita. Disini kalau kita bicara lebih membuka lapangan kerja paduan upaya pemerintah dan paduan dunia usaha dalam investasi dan sektor-sektor riil.

Saudara-saudara,
Konsumsi itu yang dapat dilakukan oleh pemerintah. Yang kedua pengeluaran pemerintah sendiri yang kita sebut dengan government expenditure atau belanja barang itu kita sudah proyeksikan nanti kita dibahas dengan DPR RI agar komponen-komponen itu bisa menstimulasi pertumbuhan.

Pembangunan infrastruktur yang dari segi fiskal juga kita lakukan, pekerjaan umum, perhubungan, pertanian dan lain-lain. Program pendidikan dan kesehatan yang akhirnya meningkatkan daya saing tenaga kerja kita. Disatu sisi mengurangi pengeluaran orang seorang disisi lain juga mendapatkan alokasi anggaran yang besar.

Bantuan kemiskinan, scheme-nya makin kita perbaiki, juga memiliki porsi yang benar. Tahun 2007 ini 51 triliun kita alokasikan untuk bantuan kemiskinan, Insya Allah tahun 2008 jumlah itu akan makin meningkat dengan demikian sekali lagi ini juga kontribusi kita untuk sebuah pertumbuhan.

Yang ketiga investasi, inilah primadona untuk sebuah pertumbuhan ekonomi. Bicara investasi, bicara dunia usaha, bicara pemerintah. Dunia usaha, bicara penanam modal domestik, penanam modal asing sebagai mitra kita, sebagai partner kita dalam ekonomi yang makin terbuka dan terintegrasi secara regional dan secara global.

Investasi ini sudah berulangkali kita bicara, apa yang harus kita lakukan untuk mematangkan, mengembangkan investasi setuju dengan Pak Hidayat komitmennya tinggi, realisasinya tidak tinggi. Ada sesuatu yang harus kita perbaiki, yang harus kita koreksi, yang harus kita lakukan.

Pada pidato awal tahun saya, saya kira bukunya ada diluar, buku hijau saudara bisa review tiga, empat halaman saja, bahwa pekerjaan rumah kita, mari bersama-sama, saudara, kami, pemerintah agar investasi makin tumbuh, pertama, mari kita pastikan akses dana perbankan itu dapat dialirkan ke dunia usaha dengan suku bunga yang terjangkau.

Saya senang tadi, terima kasih Pak Burhanudin suku bunganya makin kecil, teruslah diperkecil tentu tanpa meninggalkan prinsip kehati-hatian. Tentu saya tidak ingin mencampuri monetary policy meskipun harus ada keterpaduan antara fiskal dan monetary policy tetapi dengan angka yang tepat, akses yang mudah, agar mengalir, sektor real tumbuh, usaha kecil dan menengah juga tumbuh jangan sampai negara kita dananya banyak tapi ini kesalahan kita sendiri, aturannya tidak benar, mekanisme yang tidak benar tidak mengalir. Untuk apa? seperti tikus mati disebuah lumbung yang sesungguhnya padinya banyak. Akses dana dan suku bunganya.

Yang kedua perpajakan, kita sudah banyak melakukan reformasi perpajakan, pro bisnis tapi juga untuk negara, untuk rakyat. Harapan kita dengan banyaknya insentif perpajakan, insentif fiskal, sektor riil akan berkembang terutama usaha-usaha yang betul-betul bisa menciptakan lapangan kerja yang banyak.

Proses perijinan, ini cerita bertahun-tahun sekarang harus kita potret daerah mana, kota mana, provinsi mana, departemen mana yang menghambat proses perijinan ini. Jangan mengembangkan pepatah lama jika bisa dipersulit kenapa dipermudah. Dibalik, mari kita permudah setiap urusan.

Yang keempat kepastian hukum, setuju, kalau ada sengketa bisnis penyelesaian hukumnya harus bagus dan adil. Kepolisian, Kejaksaan, pengadilan, lawyer, pengacara harus betul-betul memelihara kepastian hukum agar semuanya senang termasuk mitra-mitra dari luar negeri. Keamanan publik law and order, jangan bangga kalau di kabupaten dan kota banyak sekali terjadi tindakan kerusuhan, unjuk rasa yang tadinya damai jadi kerusuhan ya begitu itu yang menghambat perkembangan dunia usaha. Pemimpin yang bertanggung jawab apakah walikota, bupati, siapapun menjaga ketertiban kotanya, daerahnya agar dunia usaha tumbuh bukan sebaliknya.

Stabilitas politik memang demokrasi meniscayakan check and balances, ada parlemen, ada pemerintah, pemerintah daerah, DPRD pusat bagus, tetapi kehidupan politik harus sedemikian rupa dinamis tetapi bisa dikelola secara damai, peacefull sehingga tidak menimbulkan instabilitas politik yang akhirnya tidak bisa dihitung, resikonya tinggi siapa mau berusaha di negeri kita. Infrastruktur kami sadar oleh karena itulah 3-4 tahun mendatang kita tambah misalnya 10.000 mega watt listrik kita, jalan, dermaga, pelabuhan, irigasi dan lain-lain. Ketenagakerjaan saya paham oleh karena itu kita lakukan disatu sisi melindungi tenaga kerja, memberikan hak-haknya tetapi setelah itu tenaga kerja harus disiplin, berkompetisi dengan tenaga kerja dimanapun juga dengan demikian menjadi efisien, daya saing perusahaan kita tumbuh, tinggi dan usahanya tumbuh.

Dan yang terakhir peraturan daerah, kebetulan yang hadir hanya pak Sutiyoso kalau para gubernur juga hadir, kalau para bupati walikota juga hadir malam ini saudara bisa bertanya atau beliau bisa menjelaskan apakah peraturan-peraturan daerah itu mengundang bangkitnya dunia usaha, rakyatnya mengganggur akhirnya pekerjaannya dapat atau justru menggunakan power itu jangan coba-coba bisnis di negeri ini kalau tidak dapat ijin saya.

Pemimpin daerah, gubernur, bupati, walikota mengundang please welcome, please invest in my entah provinsi, kabupaten dan kota, please generate our economy, I will help you, I will fasilitated you apanya ini? Apanya? Begitu cara pemimpin, dengan demikian tumbuh betul usaha itu PADnya masuk, pajaknya masuk, rakyatnya juga dapat pekerjaan senang.

Oleh karena itu karena saya ingin bicara bahasa terang setelah ada 9 cara untuk meningkatkan investasi dalam negeri ini. Mari sekarang kita buka-bukaan. Kalau saudara mengatakan Pemerintah masih menghambat, masih mandek ini itu Pemerintah yang mana? Tunjuk. Departemen apa? Apa yang dipersulit, apa yang dihambat, oleh siapa? Tunjuk. Fax ada, sms terbuka untuk saya, PO BOX saya ada. Kalau Pemerintah Pusat tunjuk Departemen mana yang bikin sesuatu bergerak. Yang minta ini, minta itu, yang krek disini. Biar rakyat Indonesia tahu mana yang tidak ingin ekonominya maju. Kalau Pemerintah Daerah, daerah mana? Provinsi mana? Kabupaten mana? Kota mana jangan sluman, slumun slamet. Ayo kita bicara ini, cape saudara-saudara tiap tahun begini terus. Pemerintah-pemerintah, Pemerintah yang mana? Mari kalau Pemerintah Pusat, saya akan lembur siang dan malam. Kalau ada Kementrian beliau akan lembur siang dan malam. Nanti kalau di daerah, daerah juga harus melakukan hal yang sama. Kita tidak ingin habis waktu kita, kita tidak ingin ekonomi biaya tinggi, kita tidak ingin pungli makin merajalela, kita tidak ingin harta 6 bulan, 7 bulan tidak bergerak. Komitmen investasi tinggi realisasinya yang belum tinggi. Mari kita alirkan semua itu agar betul-betul semuanya bergerak dan mencapai sasaran.

Saya serius saudara-saudara, kiranya telah tiba kita belajar bertanggung jawab, ya bertanggung jawab bersama-sama untuk sebuah tujuan yang kita canangkan bersama untuk siapa, untuk rakyat kita, untuk mereka. Dari upaya investasi ini maka jelas gamblang sekali, jadi kalau bulan-bulan sekarang ini saya, Wapres masuk kantor, departemen-departemen to insure, toh semuanya bergerak, saya ingin dan saya akan segera melihat nanti apakah di daerah-daerah seluruh Indonesia juga memiliki semangat yang sama, iklim yang sama. Ini perlu sampaikan kepada saudara semuanya. Pengembangan usaha daerah saya menghargai pak Hidayat peluang bisnis ada dimana-mana, di daerah manapun entah pertanian, entah industri, entah jasa, entah UKM banyak sekali.

Dalam desentralisasi, dalam otonomi daerah bukan saatnya lagi daerah lagi mengharapkan tetesan dari pusat. Daerah harus menjadi wealth creating economy. Otoritas sudah diberikan, fiskal sebagian disentralisasikan opportunity is there. Sayang kalau macet tidak bergerak karena after all yang mengangkat ekonomi nasional kita, sumbangan dari ekonomi-ekonomi daerah itu, sumbangan-sumbangan dari daerah itu. Mari, Kadinda teruslah bekerja sama dengan para Bupati, Gubernur, Walikota.

Saya memberikan rasa hormat pada banyak Bupati, Walikota serta Gubernur yang inovatif, yang welcome terhadap investment, yang memberikan fasilitas, tapi saya ingin semua dari kita, termasuk saya, termasuk jajaran Pemerintah Pusat: Gubernur, Bupati, Walikota, juga berbuat hal yang sama.

UMKM, setuju. Kami keliling ke seluruh Indonesia selama dua tahun enam bulan ini, Bapak Ibu sekalian. Saya datang ke tempat ujung-ujung Kabupaten, melihat langsung, berdialog, mengetahui persoalan yang dihadapi oleh usaha mikro, usaha kecil dan menengah. Kesimpulannya adalah agar mereka berkembang, harus ada pasar untuk menjual barang dan jasanya.

Mari kita berorientasi pada pekerjaan pasar dulu. Market can be created, opportunity can be created, not only kita menunggu datangnya peluang dan kesempatan. Setelah ada pasar, ada pembeli, ada konsumen, si UMKM itu kita pastikan dia punya modal. Saya senang komitmen Bank Indonesia, komitmen para perbankan yang akan memberikan kemudahan pada akses modal bagi UMKM, yang ada skim semacam penjaminan terhadap kredit itu, yang bunganya tidak boleh lebih besar dibandingkan pengusaha besar. Justru sebaliknya, sama atau lebih kecil. Kemudahan-kemudahan yang diberikan oleh perbankan, didorong oleh Pemerintah dan tolong didorong, dimajukan, dibimbing usaha kecil dan menengah itu di seluruh indonesia.

Saya dukung kebangkitan usaha kecil dan menengah, karena merekalah yang menciptakan pekerjaan, merekalah yang menurunkan kemiskinan, merekalah yang kemarin dalam masa krisis tetap survive, ketika big business banyak mengalami kerontokan atau collapse. Mereka ternyata sabuk pengaman yang tangguh. Mari kita pastikan lebih profesional, lebih bagus manajemennya, dengan demikian benar-benar bisa berkembang.

Khusus yang menjadi tema Rapimnas besok akan diseminarkan, sumber ekonomi baru, kekayaan warisan budaya, saya dukung 200%. Terus terang, kalau kita, industri kita bersaing saat ini di bidang IT, di bidang elektronik, di bidang otomotif, di bidang lain-lain, luar biasa kompetitor kita di seluruh dunia ini. Tetapi, kalau ekonomi kita bersumber kekayaan kita, heritage kita, keindahan alam kita, budaya kita, peninggalan sejarah kita, handicraft kita, furniture kita, keunggulannya sangat bisa diandalkan. Saya bisa berikan contoh, di tempat ini, di Tokyo, di Shanghai, di Nagoya yang saya datang sendiri, handicraft kita, furniture kita, terbeli dengan transaksi yang luar biasa.

Mari kita jemput ekonomi gelombang keempat, ekonomi seperti ini. Sesuatu yang real, memiliki daya saing yang tinggi, dan jangan kita tidak mensyukuri keindahan alam kita. Kita banyak dicoba, diuji, karena geological apa namanya, structure kita, gempa bumi, letusan gunung berapi, tsunami dan lain-lain. Allah memberikan sesuatu yang lain, kekayaannya, budayanya, mengapa ini tidak kita kembangkan untuk mengimbangi masalah cobaan yang kita hadapi, karena bentuk bagian bumi yang ada di Indonesia ini.

Saya mendorong betul dan dimanapun saya di luar negeri, saya apa namanya, istilahnya Bapak, salesperson, mengiklankan handicraft, mengiklankan furniture dan lain-lain. Tolong bangkit, bangun dan kembangkan ekonomi yang berbasis kekayaan warisan budaya ini, heritage seperti itu.

Kompetisi, tadi disebutkan ada APEC, ada ASEAN, ada WTO, kita masuk dalam era liberalisasi perdagangan dan investasi, liberalization of investment and trade, kita harus siap. Caranya, mari kita bangun competitiveness kita, kita bangun ekonomi biaya efisien kita, kita tingkatkan produktivitas kita. Hanya dengan itu, we can compete with other world players.

Sebenarnya setiap APEC Meeting, setiap ASEAN Meeting, East Asian Summit, saya selalu mengajak kalangan bisnis. Ada APEC, kita pernah sama-sama di Chili, di Busan dan di Hanoi, yang terakhir. ASEAN, kita sama-sama di Vien Tien, di Kuala Lumpur dan terakhir Cebu.

Jadi tidak boleh ada gap antara policy makers dengan private sectors. Roadmap-nya ada, framework-nya ada, IMPGP seperti apa, dan kawasan-kawasan lain seperti apa. Oleh karena itu, karena kita sama-sama tahu, harus siap menghadapi seperti itu, meskipun kita kembangkan kebijakan dalam negeri kita, memperkuat kita sendiri, basis kita, level playing field kita, dengan demikian pada saatnya nanti kita akan menjadi winner dan tidak menjadi loser dalam kerja sama internasional itu.

Saudara-saudara,
Itulah yang ingin saya sampaikan, peluang hadir sekarang ini, tahun ini dan tahun-tahun mendatang. Kita sudah tahu permasalahannya. Kita sudah tahu bagaimana mengatasi permasalahan itu. Yang kita perlukabn adalah partnership, sinergi, kerja bersama. Dengan demikian, insya Allah, dunia usaha akan makin tumbuh. Dengan dunia usaha tumbuh, ekonomi juga akan makin lebih tumbuh. Dengan ekonomi tumbuh, kesejahteraan rakyat dapat kita tingkatkan.

Itulah yang dapat saya sampaikan saudara-saudara. Dan akhirnya, dengan memohon ridho Allah SWT dan mengucapkan ”Bismillahirrahmanirrahim”, Rapat Pimpinan Nasional Kamar Dagang dan Industri Tahun 2007, dengan resmi saya nyatakan dibuka.

Sekian.
Wassalamu’aiakum warrahmatullahi wabarrakatuh.


*****


Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan