Pidato Presiden

Sambutan Penutupan Acara Presidential Lecture with Sir Nicholas Stern

 

TRANSKRIPSI
SAMBUTAN PENUTUP PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
PRESIDENTIAL LECTURE
WITH
SIR NICHOLAS STERN
ADVISOR TO THE BRITISH PRIME MINISTER
ON THE ECONOMICS OF CLIMATE CHANGE AND DEVELOPMENT
ISTANA BOGOR, 26 MARET 2007



Terima kasih Bapak Boediono.
I would like to speak in Bahasa Indonesia. Please translate in English.

Saya mengucapkan penghargaan kepada Sir Nicholas Stern atas presentasinya yang baik, gamblang dan menggugah kesadaran kita akan pentingnya dan menyelamatkan bumi kita bersama-sama. Jika saya ditanya oleh wartawan, gelombang keempat civilization kita ini apa? Saya akan mengatakan, bahwa the fourth way of civilization itu adalah satu kesadaran global dan aksi global untuk menyelamatkan bumi kita, planet kita. Dalam konteks itulah, apa yang disampaikan Sir Nicholas Stern tadi sebagai bagian dari, menurut hikmat saya, peradaban gelombang keempat umat manusia.

Tahun lalu saya memberi pidato di Konferensi Non Blok di Kuba. Waktu itu sebagai seorang pemimpin di sebuah negara berkembang, saya menyampaikan, I appeal to dunia maju, negara maju, developed countries untuk memikirkan empat hal, agar betul-betul dibangun global prosperity, global justice, yaitu negara maju harus membuka lebih luas lagi pasarnya untuk produk-produk negara berkembang, utamanya agricultural product. Saya tahu ini tidak mudah, karena minggu lalu baru saja ada Konferensi WTO pada tingkat Menteri di Jakarta, saya menyampaikan pidato saya, bagaimana tarik-menarik antara Uni Eropa, Amerika Serikat, Jepang, katakanlah dengan negara-negara berkembang atau kurang berkembang.

Yang kedua, di Kuba Mr. Stern, saya juga mengatakan tolong negara maju berinvestasi lebih banyak di negara berkembang. Dengan demikian, akan tumbuh ekonomi negara berkembang. Yang ketiga, negara maju harus memikirkan debt resolutions, terutama negara-negara yang sangat miskin dan tidak bisa membayar hutangnya. Dan yang keempat, negara maju mesti memikirkan transfer of technology.

Di satu sisi, di pihak yang lain, negara berkembang harus melakukan satu, to protect the environment, yang kedua membangun good governance supaya semua itu dapat mencapai tujuan, kemudian yang ketiga, kita meningkatkan education, agar transfer of technology itu betul-betul berjalan dengan efektif dan kita memperbaiki iklim investasi.

Apabila negara maju betul-betul melakukan semuanya itu, demikian juga negara berkembang melakukan hal yang sama, menurut pendapat saya there will be a global collaboration, satu the partnership, satu kerjasama yang bagus untuk mengatasi masalah-masalah global atau masalah-masalah bersama.

Saya dengan Wapres sambil mendengarkan penjelasan dari Sir Nicholas Stern tadi, berdiskusi kecil tentang lantas bagaimana kita bisa melakukan fund sharing antar kita semua, negara maju, negara berkembang. Indonesia sangat committed untuk betul-betul ke depan ini membangun ekonomi yang tidak mengabaikan kelestarian lingkungan. We are talking, we are developing a concept of green growth sebagai contoh. Tapi beberapa Menteri dan pembicara Rektor mengatakan on the one hand Indonesia mesti meningkatkan kesejahteraan rakyat atau to reduce poverty yang jumlahnya besar, on the other hand tentu preserving the environment tanpa merusak lingkungan.

Ini adalah kebutuhan kembar kami dan kebijakan fiskal yang kami jalankan sekarang ini, sesungguhnya juga memberikan atensi yang tidak kecil untuk pemeliharaan lingkungan. Di Departemen Kehutanan, biaya untuk reforestrasi tidak kecil sebetulnya, demikian juga biaya-biaya yang lain to maintain our sustainability of the environment. Tetapi luas wilayah Indonesia, beban ekonomi Indonesia dan saya yakin negara-negara berkembang yang lain tidak memungkinkan untuk memikul sendiri kewajiban untuk menyelamatkan bumi kita.

Sesuai dengan judul The Economic of Climate Change menurut saya menjadi relevan, bagaimana kita betul-betul sharing dalam pembiayaan ini. Saya tidak yakin, barangkali Tuan Stern bisa menjelaskan, apakah komitmen dari negara-negara maju 0.7 of its GDP itu betul-betul bisa dialirkan untuk memikul beban global ini. Saya dengar dulu untuk mencapai MDGs, Millenium Development Goals tentu saja 0.7 itu juga tidak serta-merta bisa diimplementasi. Saya bertemu Jeff Sachs di Colombia University, saya tanya bagaimana Amerika Serikat dan negara-negara maju merealisasikan 0.7 of its commitment to the achievement of MDGs sebagai contoh.

Kemudian tadi diangkat juga, Uni Eropa saya dengar ada satu komitmen to reduce the carbon emission up to 2050 sebagaimana dijelaskan tadi, bagaimana negara-negara maju yang lain. Ini juga persoalan sendiri. The seven sisters, maskapai minyak, perusahaan minyak besar, seperti BP, Exxon Mobile mana lagi Pak Purnomo? Shell, apakah juga committed to invest in to the development, pengembangan clean energy, biofuel misalnya. Karena barangkali dari segi profit tidak sebegitu menguntungkan untuk exploring and producing fossil based energy. Ini juga menjadi panggilan moral bagi multinational cooperation sebesar, seperti BP, Exxon dan lain-lain. Apakah ide debt swap, debt to environment swap itu juga tidak menjadi satu pilihan yang realistik? Kalau kita sekali lagi bicara our global, our a planet yang sama-sama kita huni.

Dan saya katakan tadi WTO, kita alot sekali untuk bagaimana open up the market, karena subsidi yang diberikan kepada petani-petani negara maju, terus terang itu bisa membikin penderitaan petani-petani di negara berkembang, negara belum berkembang sama dengan memperbanyak jumlah kemiskinan. Banyak rakyat miskin meninggal because they are too poor to live. Dalam konteks inilah, sebetulnya Indonesia is more than willing is very committed too, tetapi harapan saya dengan semangat bersama inilah, mari kita share pembiayaan dan kami sebagai negara juga, negara berkembang fully committed untuk mengagendakan semuanya ini to build good governance dan lain-lain supaya lingkungan kami juga baik.

Kami menderita Tuan Stern karena banjir, karena macam-macam yang itu kami rasakan dari waktu ke waktu di negeri ini. Oleh karena itu, kami juga ingin melakukan langkah-langkah yang fundamental.

Inilah pikiran saya sebagai seorang pemimpin negara berkembang yang saya akan share dan juga nanti ketika kita melaksanakan konferensi di Denpasar dengan other world leaders bagaimana we share our responsibility, our resources mobilization dan lain-lain yang bisa memecahkan itu.

Dan yang terakhir, atas nama yang hadir di tempat ini, saya ucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tinggi. Mari kita pelihara komunikasi untuk mencapai tujuan bersama. Saya minta memberikan applause sekali lagi Tuan Stern.

Demikian pengantar saya, barangkali ada final words to say. Saya persilakan dan setelah ini saya akhiri.

Terima kasih. Percayalah Mr. Stern, Indonesia will do its bests to save environment. Terima kasih sekali lagi.

Wassalamu’alaikum warrahmatullahi wabarrakatuh.


*****


Bureau for Press and Media Relations
Presidential Household