Pidato Presiden
Sambutan Peresmian Pembukaan Rakornas Kebudayaan dan Pariwisata 2007
TRANSKRIPSI
SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
PERESMIAN PEMBUKAAN RAPAT KOORDINASI NASIONAL KEBUDAYAAN DAN PARIWISATA TAHUN 2007
ISTANA NEGARA, 27 MARET 2007
Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum warrahmatullahi wabarrakatuh,
Selamat siang,
Salam sejahtera untuk kita semua,
Yang saya hormati para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu, para Gubernur, para Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, para Pejabat Teras, Jajaran Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, para Pimpinan Asosiasi Profesi dan Asosiasi Usaha, baik di bidang kebudayaan dan pariwisata, para Pimpinan Jajaran Depbudpar di seluruh tanah air yang hadir pada acara ini,
Hadirin sekalian yang saya muliakan,
Pada kesempatan yang baik dan semoga senantiasa penuh berkah ini, saya mengajak Saudara semua untuk sekali lagi memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa. Karena kepada kita masih diberi kekuatan dan kesempatan untuk melanjutkan karya kita, tugas dan pengabdian kita kepada bangsa dan negara tercinta.
Pertama-tama, saya mengucapkan selamat untuk mengikuti Rapat Koordinasi Nasional Bidang Kebudayaan dan Pariwisata Tahun 2007 yang dimulai hari ini. Semoga Rakornas ini benar-benar dapat menghasilkan sesuatu yang akhirnya benar-benar pula dapat mengembangkan kebudayaan dan pariwisata di negeri kita, mulai tahun ini dan tahun-tahun mendatang.
Saya menyadari tidak mudah selalu penuh dengan tantangan untuk mencapai tujuan yang besar, termasuk upaya mengembangkan sektor kebudayaan dan pariwisata di negeri ini. Oleh karena itu, melalui Saudara-saudara semua, dan hakekatnya kepada seluruh rakyat Indonesia, saya mengajak untuk bersama-sama untuk menyatukan tekad, komitmen dan langkah nyata kita untuk mencapai dua tujuan yang mulia itu. Kita harus menyatukan energi kita. Kalau energi kita satukan, insya Allah hasilnya akan nyata, hasilnya akan konkret dan bahkan kita bisa menghasilkan sesuatu yang besar yang benar-benar mendatangkan kesejahteraan bagi rakyat kita semua.
Saudara-saudara,
Indonesia negeri kita yang kita cintai ini, memiliki potensi yang luar biasa di bidang kebudayaan dan pariwisata, termasuk warisan budaya, heritage dari generasi ke generasi. Sayangnya, dan harus kita akui bahwa potensi yang besar ini belum sepenuhnya menjadi kekuatan riil, yang tentunya memberikan kontribusi untuk membangun kemakmuran bangsa kita. Justru kita memiliki peluang yang besar, great opportunity karena ternyata resources yang kita miliki, potensi yang ada di negeri kita ini belum kita kembangkan, belum kita kelola dan belum kita daya gunakan secara optimal, untuk mencapai tujuan yang besar. Disitulah hakekat perjuangan kita, disitulah panggilan tugas kepada kita untuk benar-benar dengan sekuat tenaga kita daya gunakan seoptimal mungkin.
Dalam kaitan itu, saya ingin mengkategorikan tugas bersama kita, tugas dan upaya kita pada kurun waktu jangka pendek tugas yang harus kita laksanakan bersama satu, dua, tiga, empat tahun ke depan ini dan tugas serta upaya jangka panjang sepuluh, dua puluh tahun ke depan. Karena sebuah negara tentu harus memiliki visi. Visi Indonesia katakanlah 2030. Visi Indonesia 2050 di sana insya Allah kita betul-betul akan menjadi negara yang maju dan sejahtera. Tetapi semuanya itu terpulang apakah kita menyia-nyiakan semua peluang yang ada di depan kita. Kalau kita cerdas bekerja keras untuk mendayagunakan semua potensi yang kita miliki tentu bukan hanya mimpi belaka. Cita-cita kita untuk menuju negara yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur, demikian yang dikandung dalam pembukaan Undang-undang Dasar 1945.
Saudara-saudara,
Tugas jangka pendek kita, adalah melakukan revitalisasi dan pembangunan kembali. Utamanya sektor pariwisata dan secara tidak langsung adalah bidang kebudayaan utamanya seni budaya kita. Sedangkan jangka panjang, saya harus mengatakan sesungguhnya kebudayaan itu menjadi pilar utama bagi terwujudnya bangsa yang maju dan sejahtera developed nations karena bangsa yang maju to be developed nations harus bercirikan memiliki karakter yang kuat, watak yang kuat kemudian inovasi teknologi yang tinggi dan akhirnya membentuk daya saing.
Competitiveness yang tinggi pula kalau kita bicara itu karakter, daya saing, inovasi teknologi sesungguhnya itu wilayah atau bagian dari kebudayaan dalam arti luas karena pendidikan pun sebetulnya bagian dari kebudayaan dalam arti luas. Mari kita renungkan betapa pentingnya kita membangun budaya bangsa untuk akhirnya membangun karakter bangsa yang tangguh dan mandiri untuk menuju kemajuan yang sejati.
Di sisi lain pariwisata, di masa depan dua puluh, tiga puluh tahun dari sekarang ekonomi masa depan akan menjadi pula kontributor penting bagi sumber ekonomi nasional. Saya berikan contoh, Amerika Serikat itu kontribusi terhadap pendapatan negaranya dari usaha yang berkaitan dengan pariwisata 200 milyar USD sama dengan 1800 trilyun, 2,5 APBN kita hampir separuh dari pendapatan domestik bruto kita GDP demikian pula negara-negara lain, Eropa, China, dan negara-negara yang mulai mengembangkan besar-besaran sektor pariwisatanya. Sehingga jangka panjang sekali lagi dua puluh, tiga puluh, lima puluh tahun ke depan kebudayaan menjadi penopang utama, pariwisata harus menjadi sumber ekonomi yang memiliki sumbangan yang besar terhadap ekonomi kita.
Saudara-saudara,
Ini kesempatan yang baik karena saya berbicara dengan para budayawan, para pengelola bidang kebudayaan, untuk mari kita telaah dengan jernih cita-cita bersama untuk menjadi bangsa yang maju, negara yang maju dan sejahtera. Di ruangan ini minggu lalu ada forum yang menamakan Forum Indonesia, kumpulan dari para akademisi, para pimpinan dunia usaha dan pihak –pihak lain yang mencoba mengkonstruksikan negara kita pada tahun 2030 dengan satu konsep menjadi negara maju. Terlepas bahwa ada kritrik-kritik terhadap pemikiran itu, ada masukan ada feedback tak harus begitu, setiap pemikiran harus terbuka tetapi kita harus menyambutnya dengan positif. Tidak baik kita memperolok satu pihak apalagi anak bangsa, mereka semua, yang ingin menawarkan gagasan yang membangun optimisme. Saya tidak selalu setuju dengan semua pikiran-pikiran itu, tetapi saya juga melihat ada hal-hal yang realistis meskipun ada kritik-kritik saya tetapi saya menyambut pikiran-pikiran seperti itu. Kita tidak akan menjadi bangsa yang besar kalau kita tidak punya pikiran yang besar.Tetapi bentuk upayanya juga harus besar tidak bisa main-main, tidak bisa setengah-setengah dan begitu-begitu saja.
Oleh karena itu saya mengajak hadirin sekalian, kalau kita ingin menjadi bangsa yang maju dan sejahtera maka karakter pertama dan ini wilayah kebudayaan, betul-betul bangsa kita harus makin mandiri. Mandiri tidak berarti menutup diri dari persahabatan global dari kerjasama antar bangsa. Tetapi mandiri menjadi self generating nations. Dengan teknologi kita, dengan governance kita dengan paduan bagaimana mengelola negara yang benar kita akan bisa menciptakan kesejahteraan kemajuan yang berkelanjutan sustainable.
Yang kedua negara maju akan bisa dibangun kalau kita memiliki keunggulan dan daya saing. Daya saing itu saudara-saudara akan muncul keunggulan itu akan terwujud kalau kita padukan antara character based dengan knowledge based dalam kehidupan bangsa ini. Bangsa yang cerdas saja tidak cukup kalau tidak punya karakter yang kuat.
Oleh karena itu, penddidikan mulai sekarang, kehidupan yang kita bangun sekarang ini mari kita satukan. Dua-dua itu karakter yang kuat dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi yang tinggi. Dan akhirnya apabila itu dapat kita wujudkan bangsa yang maju dan sejahtera saya katakan sejahtera, satu perasaan lahir dan batin bahwa rakyat kita Insya Allah suatu saat memiliki tingkat kehidupan ekonomi yang layak, rukun satu sama lain, negaranya aman, hukum tegak dan kondisi-kondisi yang akhirnya membangun kesejahteraan yang hakiki. Lagi-lagi kalau kita bicara itu, itulah lisensi kebudayaan. Dari kebudayaan jangan hanya direduksi menjadi seni budaya, direduksi menjadi bagian-bagian yang lebih kecil meskipun itu sangat penting untuk kita kelola, kita bangun, kita majukan di negeri ini.
Saudara-saudara,
Banyak pandangan para ahli, para budayawan, sosiolog, antropolog, tentang kebudayaan. Kita tidak hendak mendiskusikan forum ini tetapi kalau sederhana saja budaya itu kita aktifkan dalam tiga komponen maka saya mengajak mari tiga komponen itu kita bangun bersama-sama mulai sekarang. Komponen pertama tiada lain sebuah pemikiran, sebuah nilai, sebuah norma sesuatu barangkali yang intangible letaknya dalam hati dan pikiran kita, the heart and the mind of the people. Itu harus kita kelola, karena kita punya kekuatan-kekuatan, punya nilai-nilai yang besar dalam budaya kita. Jangan mengalami erosi, pendangkalan dalam dinamika di negeri kita ini.
Komponen yang kedua tiada lain perilaku behaviour, aktifitas kita, masyarakat kita, bangsa kita yang berjalan sekarang ini. Itu juga kita kelola terus kita kembangkan karena itu juga komponen budaya .Dan komponen yang ketiga, hasil karya itu sendiri, baik yang menjadi warisan maupun hasil karya kita, maupun hasil karya generasi yang akan datang. Karena akhirnya pikiran, perilaku itu muaranya adalah wujud atau karya dari kebudayaan itu. Mari kita pastikan bahwa kita juga menuju kesitu.
Dari pemahaman itu lantas apa yang harus kita lakukan Saudara-sauara, saya titip kepada Saudara Menteri dan para pengelola, para pengembang kebudayaan pariwisata melalui Menko Kesra saya titip kepada yang mengelola bidang pendidikan, bidang agama dan lain-lain sesuai dengan struktur yang ada dalam Pemerintahan di negeri ini, untuk bersama-sama membangun tiga komponen kebudayaan itu.
Saya garis bawahi character building. Saya ingin betul Indonesia menjadi bangsa yang tangguh bukan bangsa yang cengeng, bangsa yang mudah mengeluh, bangsa yang senang menyalahkan, bangsa yang tidak rasional. Saya ingin yang kuat, karakter yang tangguh, bangsa yang optimis dan percaya diri, kalau negara lain bisa maju, kita bisa maju. Kalau Malaysia, negara-negara Asean bisa maju kita bisa maju. India, China bisa maju persoalannya juga banyak, kita juga bisa maju. Dengan optimisme dengan keyakinan diri.
Saya ingin juga melalui pengembangan kebudayaan sifat rukun bangsa kita, harmoni, persaudaraan, toleransi yang sudah hidup berabad-abad jangan tercabut. Dunia makin mengglobal, tetapi jangan sesuatu yang menjadi kekuatan kita, kebesaran kita menjadi hilang. Tidak ada artinya kita pandai maju, tapi tidak rukun, tidak bersatu dan tidak kondusif.
Kemudian saya berkali-kali mengatakan janganlah kita menjadi bangsa yang kering karena semua hanya disikapi dari logika benar salah. Tapi marilah kita kembangkan juga etika, baik buruk, estetika, keindahan. Kalau hidup kita, keseharian kita, masyarakat kita selalu meletakkan nilai logika, etika, dan estetika secara terpadu, maka sekali lagi yang kita dambakan masyarakat dan bangsa Indonesia yang harmonis, yang penuh dengan ketentraman namun mencirikan kemajuan akan dapat kita wujudkan.
Komponen yang lain dengan modal itu saya mengajak marilah kita betul-betul bekerja keras, bekerja cerdas di berbagai bidang, ekonomi, pendidikan, industri apa saja yang akhirnya menjadi hasil nyata dari sebuah kebudayaan. Ini sangat penting Saudara-saudara, karena saya masih melihat ada gap antara peluang yang ada untuk industri kita, ekonomi kita, jasa kita, kepariwisataan kita, pendidikan kita dengan yang kita lakukan. Masih ada gap. Sayang kalau gap ini masih besar karena tidak akan manifest menjadi hasil yang nyata. Dan terkait dengan itu sekali lagi kebudayaan dan pendidikan terkait erat satu sama lain, teruslah melakukan sinkronisasi dan berkreasi dengan Departemen Pendidikan Nasional, dengan demikian akan komplementer karena membangun karakter itu dimulai sejak TK, sejak SD, sejak SMP. Membangun sikap rukun, kasih sayang tidak memusuhi saudara-saudaranya, bangsanya juga dibangun sejak pendidikan awal. Character building itu pekerjaan besar, pekerjaan terus-menerus yang menjadi tugas kita bersama.
Saudara-saudara,
Dalam kaitan itulah saya berharap kebudayaan di tanah air itu betul-betul bisa berkembang. Kalau Saudara mengembangkan kebijakan, strategi, langkah-langkah, tetaplah memahami pikiran-pikiran besar, paradigma, kerangka dari kebudayaan sebuah bangsa. Kalau yang dilakukan meskipun tahun ini barangkali hanya mencapai tahapan tertentu, lima tahun lagi juga tahapan tertentu, tapi kita berada pada arah yang benar, we are on the right track, untuk mengembangkan kebudayaan kita. Jangan meremehkan budaya culture of the nations.
Saudara-saudara,
Saya masuk bagian yang kedua, pariwisata. Pariwisata tidak selalu jangan hanya dikaitkan dengan kepentingan ekonomi, meskipun someday mari kita lihat bersama-sama barangkali anak cucu kita yang akan menikmati nanti bahwa sektor pariwisata di negeri kita akan memberikan kontribusi yang besar pada ekonomi nasional. Kita lihat sama-sama nanti. Tetapi kita menempatkan pariwisata pertama-tama untuk citra kita kita, kebangggan kita, kebesaran kita sebagai bangsa sebagai manivestasi pula sebagai rasa syukur pada Tuhan Yang Maha Kuasa karena begitu banyak anugerah Tuhan yang diberikan kepada bangsa Indonesia. Mari kita lihat pariwisata pertama-tama dari aspek itu.
Yang kedua, memang menjadi sumber ekonomi yang handal, lagi-lagi lihatlah negara lain saya kalau sedang bertugas ke luar negeri selalu saya lihat bagaimana negara-negara sahabat mengelola kepariwisataan mereka. Cantik, tepat, serius akhirnya luar biasa pengembangan kepariwisataan itu, Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, dunia usaha, masyarakat lokal, semua. Pernah ketika saya berkunjung ke China, ke Shanghai membuka semacam Exhibisi Handycraft Indonesia yang laku keras saya ada pertemuan pemimpin Asean dengan Pemimpin China di Nanning ada empat jam waktu itu, waktu untuk saya melihat objek wisata di Guillin, luar bisa saya undang pak Wacik, saya undang para pimpinan Budpar, saya undang para pengusaha wisata. Tidak luar biasa kita harus bisa seperti ini dan barangkali di negeri kita sudah banyak yang bagus, tetapi belum sepenuhnya bagus tetapi belum sepenuhnya bagus. Kita jangan malu-malu menimba pengalaman negara lain sebagaimana pula negara lain diam-diam juga belajar dari apa yang baik di negeri kita ini.
Saudara-saudara,
Terus terang kalau kita memotret wajah pariwisata kita maka ada banyak tantangan dan permasalahan terutama yang muncul sejak masa krisis. Kita merasakan saya kira, kalau jujur di seluruh tanah air, karena saya juga rajin datang ke tempat-tempat itu, baik sebelum saya menjadi Presiden maupun dalam kapasitas saya sebagai Kepala Negara karena saya punya keyakinan suatu saat nanti menjadi penyumbang besar dalam ekonomi kita. Disamping ada kemunduran ada masalah disana disini akibat krisis terus terang sebelum krisis pun dunia pariwisata belum kita kembangkan secara optimal, belum kita majukan secara paripurna, karena memang dalam proses pengembangan, dalam proses pembangunan. Oleh karena itu tugas kita sekarang ini menjadi dua, mengembalikan lagi, memulihkan, mengatasi hal-hal yang tadinya sudah baik tetapi mundur karena krisis, dan yang kedua yang memang potensi kita belum tergarap, terkembangkan menjadi kekuatan pariwisata, kekuatan ekonomi yang nyata.
Oleh karena itu konkretnya langkah bersama kita Saudara-saudara saya sudah menyampaikan dulu di Tampaksiring sebetulnya pada tahun 2005 dan saya tahu sudah ada langkah-langkah lanjutan, tapi menurut saya masih harus terus kita tingkatkan. Saya masih melihat belum optimalnya yang kita lakukan dalam pengembangan pariwisata di seluruh tanah air. Oleh karena itu, saya meminta jajaran Budpar dan komunitas pariwisata, baik Asosiasi Profesi, maupun Asosiasi Usaha menjadi penjuru. Tetapi saya tahu tidak mungkin sektor pariwisata maju kalau tidak di-back up oleh sektor-sektor penunjang lainnya. Oleh karena itu, melalui Menko Kesra, Menteri Perekonomian tidak hadir, Menko Polhukam kebetulan tidak hadir, karena ini meski di-back up oleh semua. Saya ingin transportasi itu, insya Allah setelah kita tata kembali, kita melakukan revolusi penataan sektor transportasi kita. Lebih bagus sekarang kita bongkar habis, keselamatannya, keamanannya, manajemennya, regulasinya dan lain-lain daripada masa depan tranportasi kita gelap. Ini sudah kita meletakkan landasan kita bangun bagaimana sistem dan manajemen transportasi yang baik.
Barangkali ada yang tidak suka, barangkali ada yang mengganggap ini, harus karena keselamatan orang seorang menjadi sangat penting meskipun kita juga ingin mendorong bangkitnya usaha transportasi di negeri kita, baik darat, laut maupun udara. Transportasi harus menjadi penyumbang. Saya ingat waktu saya berbicara di Singapura waktu itu saya diajak bekerja sama karena ternyata wisatawan yang ke Singapura yang jutaan itu, sebagian besar mengalir ke Malaysia, mengalir ke Bangkok, Thailand dan sebagian lagi ke Mainland China. Sedikit yang ke Indonesia. Kita ingin dulu ada kerjasama di bidang transportasi udara, tapi ada masalah-masalah kita yang harus kita selesaikan dulu sebelum kita menyambungkan itu. Disini ada Direktur Utama Garuda, saya pingin betul-betul saudara bangkit kembali dan kemudian memberikan kontribusi pada dunia pariwisata kita.
Yang berikutnya lagi kemudahan visa, ingat berkali-kali saya katakan janganlah mempersulit sesuatu yang sesungguhnya bisa dipermudah. Kalau visa itu bisa diberikan semudah mungkin mengapa dipersulit. Ini juga penting, negara yang lain memiliki kemudahan akses. Kita kadang-kadang sulit bagaimana bisa bersaing dia pilih datang ke negara yang lain. Infrastruktur di daerah-daerah di sini hadir para Gubernur saya tahu beliau semuanya committed terhadap pengembangan pariwisata, tapi para Bupati, Walikota juga diajak sekaligus untuk memikirkan kelengkapan infrastruktur dasar disitu. Karena akhirnya kalau usahanya berkembang yang untung juga daerah, yang senang juga masyarakat lokal. Lokal ada pekerjaan, ada penghasilan dan lain-lain.
Telekomunikasi. Industri penyeimbang. Saudara-saudara, saya itu banyak sekali mengumpulkan souvenir kecil di tempat-tempat wisata. Di negara lain bisnis souvenir untuk pariwisata itu billion dollars, trilyunan rupiah. Luar biasa. Saya sejak muda mengkoleksi souvenir-souvenir, sekarang handycraft kita ini luar biasa hebatnya, bagusnya. Setiap kita exhibisi di luar negeri laris. Tetapi kalau saya datang ke tempat-tempat wisata banyak yang sesungguhnya belum muncul disini. Lihatlah negara lain tempat sederhana saja souvenir-nya bagus. Sejarahnya biasa-biasa saja, souvenir-nya hebat. Mengapa kita tidak? Jadi industri penyeimbang sehingga orang datang ke situ, beli souvenir disitu, bermalam disitu dua, tiga, empat hati makin lama length of stay makin untung negara kita, dari segi bisnis, dari segi ekonomi.
Keamanan, law and order. Bagi para Gubernur tolong keamanan ini, kalau ada penjambretan kalau ada lima turis empat-empatnya dompetnya hilang, misalnya, bagaimana mau datang lagi begitu. Jadi betul-betul aman, secure. Kemudian budaya ramah. Indonesia memiliki mitos bangsa yang ramah, yang santun, saya melihat akhir-akhir ini menurun. Malah negara lain kok pada ramah-ramah ini, mengapa? Ramahlah, datanglah menjadi tuan rumahlah yang baik, kalau menawarkan souvenir jangan maksa, betul nggak Pak? Dikejar sampai masuk mobil. Bagaimana mau balik lagi. Padahal sepuluh orang wisatawan datang dari Jepang pulang ke negerinya ditanya bagaimana di Indonesia, payah kami dipaksa begini-begitu. Jangan muncul lagi cerita itu.
Jadi ramah, lingkungannya yang sehat, bagaimana kalau kumuh, belum ada isu flu burung, belum ada isu-isu penyakit yang lain
Barangkali belum tahu kalau banyak pesaing kita diluar negeri. Saudara pernah ke Timur Tengah yang terakhir-terakhir ini, mereka bisa membikin pantai, membikin pulau kelapa, membikin segala macam, tapi itu artificial aslinya di negeri kita. Dengan modal itu, dengan keramahan dengan manajemen kita akan lebih kompetitif sebetulnya.
Saudara-saudara,
Prospek ekonomi pariwisata economic of tourism itu besar, ekonomi gelombang keempat menurut pendapat saya adalah nantinya ekonomi yang bersumber kekayaan budaya termasuk heritage. Yang disatukan dengan ekonomi pariwisata termasuk ecotourism, dalam satu keterpaduan. Karena apa? Saya menggarisbawahi sesuatu yang natural serba alam, serba lingkungan, serba budaya, serba nilai kita sekarang dikatakan hidup dalam peradaban gelombang ketiga. Gelombang pertama dulu pertanian bangsa-bangsa sejagat, gelombang kedua industri, sekarang gelombang informasi dengan kemajuan yang luar biasa.
Suatu saat masyarakat dunia akan sadar bahwa buminya tidak aman ingin kembali tempat yang kita pijak ini, planet kita ini betul-betul aman, lingkungan yang baik, green dan lain-lain. Akhirnya mereka mendambakan away dari modernisasi, dari kemajuan, kebisingan kota-kota besar, teknologi yang modern, datang ke tempat-tempat seperti itu.
Bintan, saya pernah datang ke Bintan saya lihat, datang banyak Pak, dari Singapura dan lain, apa yang mereka senangi keaslian lingkungan kita biarkan, hutan seperti ini, jalan seperti ini, air seperti ini, yang penting green, tidak ada penyakit dan mereka bisa satu dua hari di sini Pak, hanya begini? Oleh karena itu, karena nantinya masyarakat dunia dan ini menurut pendapat saya bahwa fourth way of civilation, peradaban gelombang keempat nantinya, mungkin dua puluh, tigapuluh tahun lagi akan terwujud adalah suatu civilisasi dimana masyarakat dunia itu akan sadar memiliki komitmen dan melakukan langkah-langkah menyelamatkan planetnya, buminya. Lihat climate change, lihat pemanasan global, air laut naik, musim berubah, suhu naik, ini mengancam survival of semua manusia sejagad.
Kalau nanti pikiran manusia, mari keselamatan bumi kita keindahannya, lingkungannya, keberlanjutannya. Ketika Indonesia pada saatnya sudah menawarkan tempat untuk mereka datangi, itu menjadi sumber ekonomi yang luar biasa. Kita siapkan sepuluh tahun ini mudah-mudahan sepuluh, dua puluh tahun akan betul-betul menjadi sumber ekonomi yang baru yang cocok dengan gelombang keempat peradaban umat manusia.
Saudara-saudara,
Apa yang tidak ada di negeri kita? Peninggalan sejarah, termasuk peninggalan budaya masa lalu, purbakala luar biasa. Saya minta Pak Wacik tolong segera, bukan hanya diamankan, diselamatkan, dilestarikan, dan dikembangkan hal-hal yang berkaitan dengan benda-benda purbakala kita, peninggalan sejarah kita, heritage kita. Ribuan ragam seni budaya, tarian, lukisan, kesenian semua di tanah air mengapa tidak kita munculkan.
Saya sudah mengundang kesenian dari daerah di tempat ini, 17-an, acara-acara Tamu Negara supaya mereka tahu, luar bisa ini representasi dari banyak tarian dari seluruh Indonesia. Sekali ada tamu biasanya tiga, empat tarian, dan mereka mengagumi. Jangan disimpan potensi ini, jangan disimpan. Pers, media massa disamping boleh karena keterbukaan sekarang mengangkat yang banjir, ngangkat yang kebakaran, ngangkat yang unjuk rasa yang balang-balangan batu itu boleh memang, sulit memang itu potret rakyat kita. Tetapi tolong pula angkat yang baik-baik, dunia melihat Indonesia ada indahnya, ada baiknya tidak semuanya rusuh, jelek, penyakitan, bencana alam dan seterusnya.
Mari saya bicara dari hati saya, karena saya ingin kita tidak menjadi bangsa yang merugi, sebagaimana negara-negara lain, bangsa-bangsa lain yang tidak ingin menjadi bangsa yang merugi. Keindahan alam, tidak perlu cerita, lingkungan yang alami tidak perlu cerita saya, bahkan Saudara-saudara gunung berapi, daerah-daerah yang rawan bencana, mud volcanos yang orang luar, ini tanda-tanda Indonesia enggak aman ini, rawan gempa, rawan tsunami, rawan itu bisa menjadi objek wisata. Orang mengatakan we are living on the edge, hidup di ambang batas, karena kalau Indonesia ada lempeng yang tabrakan setiap saat, gempa, naik turun tsunami, ring of fire, gunung berapi kemudian ada sumber-sumber bencana yang lain. Tetapi kalau itu dikemas dengan baik, bisa menjadi bukan pariwisata bencana, bukan itu maksud saya, tapi bentuk geologi kita bisa dipariwisatakan. Saya suka malam-malam sebelum istirahat, jam sebelas, jam duabelas malam, setengah jam saya lihat itu Channel Discovery satunya lagi, National Geography coba wisatawan ribuan hanya lihat blekutuk-nya air di kawah itu. Itukan masalah-masalahnya itu. Apalagi dengan diorama Krakatau, Museum Tsunami di Aceh, itu menjadi sumber.
Marilah kita cerdas, kreatif, inovatif. Jadi Saudara-saudara carilah sendiri, temukan sendiri saya hanya memotivasi, saya hanya menunjukan bahwa kita punya potensi yang besar dan semuanya itu bisa kita gunakan untuk kemakmuran rakyat kita.
Tahun 2008 kita ingin Visit Indonesia 2008. Saya pingin karena namanya Garuda Wisnu Kencana Park yang di Bali itu sudah direncanakan, diidamkan sejak Pemerintahan Presiden Soeharto, berlanjut terus ke Presiden Habibie, Presiden Gus Dur, Presiden Megawati semua mendukung, tetapi ternyata maju mundur. Kami berharap sekarang ini betul-betul diakselerasi, disatukan dan suatu saat bisa menjadi World Cultural Forum. Tapos, Itu ada World Economi Forum, jutaan pengunjungnya, ribuan pada saat tertentu mereka datang. Kalau kita punya World Cultural Forum itu juga sumber ekonomi yang tinggi, sumber wisata yang tinggi.
Kemudian film dimajukan sekaligus, tapi ingat Saudara-saudara ada perubahan paradigma, memang tentu kalau tidak memilih judul film yang bagus untuk layar lebar, maksud saya bisa kalah bersaing dengan televisi. Dulu tidak ada seperti rel kereta api pada abad ke-18 luar biasa, film abad 19 luar biasa, abad 20 maksud saya, luar bisa, tetapi setelah berkembang teknologi informasi pilihannya banyak. Oleh karena itu, ya marilah orang kita ini kreatif kok, masak nggak bisa cari tema-tema yang bagus apakah yang kolosal maupun yang tidak kolosal. Saya serahkan kepada Saudara-saudara semuanya.
Dan akhirnya pesan dan arahan saya adalah jangan tunggu dan jangan sia-siakan waktu untuk mengembangkan itu. Mari kita bekerja all out mulai sekarang bersama-sama. Yang kedua, laksanakan tugas dan upaya jangka pendek tadi, terutama setahun, dua tahun, tiga tahun, dan sekaligus meletakan landasan, membuka jalan, mulai menuju ke pengembangan budaya dan pariwisata pada jangka panjang. Insya Allah, lima puluh tahun lagi Indonesia akan menjadi bangsa yang maju dan sejahtera dan pada saat itu kebudayaan menjadi pilar yang utama, pariwisata memberikan kontribusinya yang signifikan.
Demikian yang saya sampaikan dan akhirnya Saudara-saudara dengan memohon ridho Tuhan Yang Maha Kuasa seraya mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim Rapat Koordinasi Nasional Kebudayaan dan Pariwisata Tahun 2007 dengan resmi saya nyatakan dibuka.
Wassalamu’alaikum warrahmatullahi wabarrakatuh.
*****
Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan



