Pidato Presiden

Sambutan Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW Tahun 1428 H

 

SAMBUTAN
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA PERINGATAN MAULID NABI MUHAMMAD S.A.W.
TAHUN 1428 HIJRIYAH

Jakarta, 30 Maret 2007


Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Hadirin kaum Muslimin yang saya muliakan,

Marilah kita memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT, karena malam ini kita kembali dapat menyelenggarakan peringatan Maulid Nabi Muhammad s.a.w di Istana Negara. Salawat dan salam, marilah kita sampaikan kepada junjungan kita, Nabi Besar Muhammad s.a.w, beserta keluarga dan sahabat Rasul, serta para pengikut beliau hingga akhir zaman. Mudah-mudahan, Saudara-saudara yang hadir dalam Peringatan Maulid malam ini, baik di Istana Negara, maupun di tempat-tempat yang lain, akan senantiasa mendapat barokah dan inayah dari Allah SWT.

Hadirin yang saya muliakan,
Memperingati Maulid Nabi Muhammad S.A.W telah menjadi bagian dari tradisi umat Islam di seluruh dunia. Menurut catatan sejarah, peringatan ini untuk pertama kalinya dilakukan oleh Shalahuddin Al-Ayubi, seorang panglima perang yang terkenal dalam sejarah Islam, pada tahun 580 Hijriyah atau tahun 1184 Masehi. Tradisi yang baik itu, terus berlanjut hingga ke zaman kita hidup sekarang. Melalui peringatan Maulud, kita segarkan kembali keimanan dan ketakwaan kita. Melalui peringatan ini, kita renungkan kembali sejarah perjuangan Rasulullah S.A.W. Dan melalui peringatan ini pula, kita gelorakan syi’ar dan dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia.

Umat Islam menyadari dengan sungguh-sungguh, bahwa Nabi Muhammad S.A.W diutus Allah untuk menyampaikan risalah kebenaran kepada umat manusia. Melalui ajaran Islam itu, umat manusia dibimbing ke jalan yang lurus, yakni jalan yang diridlai oleh Allah SWT. Dengan cara itulah, umat manusia dapat mengekang dirinya dari kehendak hawa nafsu, yang dapat merusak, dan bahkan membinasakan manusia sendiri. Iman yang diajarakan agama Islam, menyadarkan manusia terhadap hakikat, makna dan tujuan hidup yang sesungguhnya. Kita bersyukur, karena kita diberi kehidupan. Oleh karena itu, janganlah kita menyia-nyiakan hidup untuk hal-hal yang tidak berguna.

Islam mengajarkan bahwa tujuan hidup yang sesungguhnya adalah untuk mengabdikan diri kepada Tuhan. Rasa pengabdian yang dalam kepada Tuhan itu, akan membawa ketenteraman, kedamaian dan kesejahteraan. Selanjutnya, hidup harus pula diisi dengan amal-amal kebajikan, yang membawa manfaat, bukan saja bagi diri pribadi, tetapi juga bagi manusia-manusia yang lain, dan bagi alam semesta seluruhnya. Melalui ajaran Islam, Allah SWT telah menunjukkan jalan yang benar dan jalan yang salah. Untuk selanjutnya, akal pikiran dan hati nurani manusialah yang harus bekerja dan berusaha. Memilih jalan yang benar dan memilih jalan yang lurus, agar selamat di dunia dan di akhirat nanti.

Hadirin yang saya muliakan,
Di antara begitu banyak mutiara hikmah yang disampaikan Nabi Muhammad S.A.W kepada kita, marilah kita sejenak merenungkan betapa pentingnya ajakan kepada kedamaian, yang menjadi salah satu tema penting dari ajaran Islam. Salah satu arti dari kata “Islam” itu sendiri, adalah damai. Umat Islam diperintahkan untuk mengerjakan solat wajib, lima kali sehari semalam. Solat selalu dimulai dengan takbir, dan diakhiri dengan salam. Takbir adalah mengagungkan asma Allah, karena Tuhanlah landasan dan fondasi kehidupan. Salam berisi ajakan kepada sesama manusia, untuk membangun kehidupan yang damai, adil dan sejahtera.

Kalau kita menelaah Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, dengan tegas dinyatakan bahwa sila Ketuhanan Yang Maha Esa, adalah sila pertama dari falsafah negara kita Pancasila. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa itu, mejadi landasan bagi sila-sila yang lain. Sementara itu, dalam UUD 1945 pula, bangsa Indonesia amat meyakini dan menyadari bahwa pada hakikatnya kemerdekaan bangsa dapat kita capai atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa.

Konstitusi kita juga mengamanahkan, yang kemudian amanah ini juga kita maknai sebagai tujuan nasional kita, untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Rumusan tujuan nasional kita ini, jika kita renungkan secara mendalam, ternyata amat sesuai dengan mutiara-mutiara ajaran Islam, yaitu keamanan, kesejahteraan dan keadilan sosial, pendidikan, serta kedamaian dan ketertiban dunia.

Tiga butir pertama dari tujuan nasional kita sangatlah jelas, yakni membangun negara dan bangsa yang kita cintai ini menjadi bangsa yang maju, adil dan sejahtera, dalam lingkungan kehidupan nasional yang aman dan damai. Inilah yang sesungguhnya menjadi kepentingan utama bangsa kita. Dan mengingat bagian terbesar penduduk Indonesia adalah umat Islam, di berbagai kesempatan telah saya sampaikan, bahwa membangun bangsa yang maju, adil, aman dan sejahtera itu, di samping merupakan agenda kebangsaan, juga sekaligus agenda keumatan.

Sementara itu, komitmen dan peran untuk ikut serta menegakkan keamanan dan ketertiban dunia, juga diamanahkan kepada bangsa kita. Peran ini terus kita lakukan, terlebih dewasa ini, di mana keamanan dan ketertiban dunia sedang menghadapi tantangan, ujian dan cobaan yang maha berat. Tentu saja, peran dan tanggung jawab dalam ikut menjaga keamanan, ketertiban dan kesejahteraan dunia ini kita lakukan, tanpa mengabaikan kewajiban dan kepentingan untuk menata dan membangun negeri kita sendiri, yang juga telah diamanahkan oleh UUD 1945.

Negara yang tertib, yang didasarkan kepada kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, adalah cita-cita kita bersama. Begitu pula dunia yang tertib, yang didasarkan pada prinsip-prinsip serupa, bukan saja menjadi cita-cita bangsa kita, melainkan juga cita-cita umat manusia sejagat. Sebab itulah, saya mengajak umat Islam di tanah air dan bangsa Indonesia seluruhnya, untuk menciptakan kehidupan yang tertib, kehidupan yang aman dan kehidupan yang damai. Upaya mewujudkan cita-cita itu haruslah kita mulai dari diri kita masing-masing. Kita harus memulainya dari hati kita sendiri, dengan cara memper-baharui niat, bahwa segala perilaku dan tindakan kita, haruslah ditujukan untuk menciptakan tata kehidupan yang tertib, aman dan damai.

Kita bersama-sama telah dengan susah payah mendirikan negara yang kita cintai ini. Para pendahulu telah mengorban jiwa dan raga mereka, untuk mencapai dan mempertahankan kemerdekaan. Selama lebih 60 tahun sejarah perjalanan bangsa dan negara kita, kita telah sama-sama mengalami suka dan duka, senyum dan air mata, dan bahkan darah yang mengalir karena pertikaian di antara sesama kita. Marilah kita petik pelajaran dari semua pengalaman itu, untuk membangun kehidupan bangsa dan negara, menuju hari depan yang lebih baik.

Ajaran Islam, menyuruh kita untuk bersatu padu, dan melarang kita untuk bercerai berai. Kita boleh berbeda pendapat, bahkan beradu argumentasi, untuk mencari jalan yang terbaik bagi kepentingan kita bersama. Namun marilah kita berkaca kepada ajaran Islam, yang senantiasa mengajarkan agar segala sesuatu dilandasi dengan niat dan iktikad yang baik. Jika melakukan sesuatu, maka nilai-nilai akhlak selalu melandasinya.

Dengan nilai-nilai akhlak itu, kita mengetahui batas-batas antara yang benar dengan yang salah, antara yang hak dengan yang batil, dan antara yang ma’ruf dengan yang munkar. Marilah nilai-nilai akhlak itu kita jadikan landasan dan pedoman bersama, dalam membangun kehidupan bangsa dan negara. Tanpa landasan dan pedoman itu, kehidupan bangsa dan negara kita tidak akan pernah tertib, aman dan damai. Umat Islam tentu telah sama-sama mengetahui, bahwa Nabi Muhammad S.A.W diutus ke atas dunia ini, adalah untuk menyempurnakan akhlak manusia.

Hadirin yang saya muliakan,
Semenjak negeri kita mengalami krisis 9 tahun yang lalu, kita terus berjuang untuk membangun kembali negara kita dari berbagai goncangan, kemunduran dan persoalan yang berat, baik di bidang politik, ekonomi, sosial, kerukunan beragama, hukum dan keamanan. Meskipun tahun demi tahun keadaan negara kita makin membaik, namun permasalahan kesejahteraan rakyat masih menjadi agenda dan prioritas kita, untuk mengatasi dan meningkatkannya.

Dalam kaitan ini, melalui mimbar yang mulia ini, saya mengajak dan menyerukan kepada segenap komponen bangsa dan seluruh rakyat Indonesia, untuk bersatu dan bekerja lebih giat meningkatkan ekonomi dan kesejahteraan kita. Pemerintah terus bekerja sekuat tenaga untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan itu, termasuk peningkatan program-program pro-rakyat dan program-program pengentasan kemiskinan. Meringankan beban, bahkan menggratiskan bagi yang benar-benar tidak mampu dalam bidang pendidikan, kesehatan dan pelayanan publik misalnya, serta upaya untuk memberikan lapangan pekerjaan dan peningkatan gaji serta pendapatan lain, benar-benar bertujuan untuk meringankan beban hidup dan meningkatkan kesejahteraan rakyat kita. Hal ini penting, karena terjadinya berbagai bencana alam dan tingginya harga minyak dunia, telah ikut menghambat dan memberikan persoalan bagi pembangunan ekonomi yang sedang kita lakukan.

Dalam kaitan ini pula, saya menyeru kepada seluruh rakyat Indonesia, termasuk umat Islam di seluruh tanah air, untuk senantiasa berikhtiar dan berusaha memperbaiki taraf hidupnya. Rasulullah bersabda agar umatnya terus bekerja mencari harta yang halal. Mencari yang halal adalah suatu yang wajib, setelah kewajiban yang pokok, yaitu mendirikan sholat. Harta yang halal membawa berkah, dan mendatangkan pahala. Demikian pesan-pesan Rasulullah SAW.

Namun, dari apa yang saya lihat sendiri di seluruh tanah air, sebagian umat Islam dan rakyat kita berada dalam posisi ekonomi yang lemah dan tidak berdaya. Oleh karena itu, sambil pemerintah terus berupaya untuk menolong dan mengentaskan mereka dari lingkaran kemiskinan, saya mengajak umat Islam khususnya, dan rakyat Indonesia umumnya yang memiliki kemampuan, untuk juga membantu dan meringankan beban hidup mereka. Ajaran Islam, sebagaimana pula yang disabdakan oleh Nabi Muhammad SAW, mengajarkan dan mendorong umatnya untuk bersedekah. Sedekah tidak mengurangi kekayaan, bahkan Allah akan melipatgandakan pahala sedekah. Bagi yang tidak mampu memberikan sedekah dalam bentuk uang dan harta benda, tutur kata yang baik, serta contoh perilaku dan tindakan yang baikpun oleh Rasulullah disabdakan sebagai sedekah. Umat Islam juga dilarang untuk meremehkan dan mencela sedekah orang lain.

Hadirin sekalian yang saya muliakan,
Bagian penting yang lain dari sambutan saya adalah berkenaan dengan peran internasional Indonesia. Dalam rangka melaksanakan ketertiban dunia, sejak tahun-tahun pertama berdirinya negara kita, kita selalu berupaya untuk menyumbangkan sesuatu dalam rangka menciptakan perdamaian dunia. Sejak awal kemerdekaan, kita telah terlibat dalam berbagai perundingan, dan mengambil prakarsa untuk menyelesaikan konflik di berbagai negara dan kawasan. Bahkan kita berulangkali mengirimkan pasukan penjaga perdamaian yang bekerja di bawah bendera Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Berkaitan dengan perkembangan situasi di Timur Tengah, terutama dengan masih berkecamuknya konflik dan kekerasan yang merenggut korban jiwa dan harta benda yang besar, Indonesia terus secara aktif berperan dan mengambil bagian dalam upaya penyelesaiannya. Terus terang, kita amat prihatin dan iba atas terus berjatuhannya korban jiwa, yang justru sebagian besar adalah warga-warga sipil, dan belum ada tanda-tanda untuk diakhirinya. Suatu tragedi kemanusiaan awal abad 21 yang tiada tara. Oleh karena itu, diplomasi dan kontribusi nyata Indonesia untuk menyelesaikan konflik ini secara adil dan bermartabat, terus kita jalankan.

Ketika perang berkecamuk di Lebanon, dan serangan-serangan Israel yang gencar terus mendatangkan korban dan kehancuran fisik di Lebanon, kita gigih berjuang di PBB dan dalam komunitas Organisasi Konferensi Islam (OKI). Di samping kita ikut berinisiatif bagi penyelelenggaraan Konferensi Puncak Terbatas OKI di Kuala Lumpur, Malaysia, di PBB, kitapun aktif mendukung penghentian perang di Lebanon, termasuk pula akhirnya pengiriman Kontingen Indonesia sebagai bagian dari Pasukan Pemelihara Perdamaian PBB, yang saat ini digelar di perbatasan Libanon - Israel.

Menyikapi konflik dan kekerasan yang terus berlangsung di Irak, Indonesia terus berupaya baik secara bilateral maupun multilateral agar konflik dan kekerasan di Irak dapat diakhiri. Usulan Indonesia, sebagaimana yang saya sampaikan kepada Presiden Amerika Serikat di Bogor bulan November yang lalu tetap berlaku, dan akan terus kita perjuangkan. Indonesia berpendapat, bahwa rakyat Iraklah yang akhirnya harus menyelesaikan permasalahan dalam negerinya. Oleh karena itu perlu dilakukan rekonsiliasi nasional dengan bantuan negara-negara Islam. Rekonsiliasi ini kemudian dilanjutkan dengan rehabilitasi dan rekonstruksi ekononi Irak. Kemudian, pasukan koalisi pimpinan Amerika Serikat mesti ditarik mundur, dan diganti dengan pasukan pemelihara perdamaian, dengan melibatkan sebanyak mungkin negara-negara Islam. Indonesia berpendapat bahwa krisis di Irak harus diselesaikan secara politik, dan bukan militer. Penyelesaian politik itu sangat perlu untuk ditempuh, mengingat kini mulai berkembang elemen baru dalam krisis Irak yang mengandung dimensi keagamaan, yakni ketegangan antara kelompok Sunni dan Syi’ah. Elemen baru ini, memerlukan penanganan yang bijak dan hati-hati. Sebab itulah, Indonesia mengambil prakarsa mengadakan pertemuan para pemimpin Islam dari Timur Tengah, di Bogor dalam waktu dekat ini.

Berkaitan dengan perkembangan situasi di Palestina, Indonesia bersyukur dan mendukung terbentuknya Pemerintahan Persatuan Nasional Palestina (Unity Government), yang sebelumnya didahului dengan pertemuan antara pimpinan Fatah dan Hamas di Kota Suci Makkah, yang difasilitasi oleh Raja Saudi Arabia Abdullah bin Abdul Azis. Dengan terbentuknya ”Unity Government” Palestina ini, Indonesia berharap proses perundingan damai menuju terwujudnya Negara Palestina yang merdeka dan berdaulat, segera dapat dilanjutkan kembali secara lebih efektif. Indonesia juga menyerukan kepada negara-negara di dunia, untuk mengakui dan mendukung Unity Government Palestina ini sebagai titik awal dan momentum baru bagi proses negosiasi lanjutan antara Arab dan Israel. Kita mendukung ”Arab Initiative” yang ditegaskan kembali dalam KTT Liga Arab beberapa hari yang lalu.

Menyangkut Isu nuklir Iran, yang dewasa ini terus menjadi ajang perdebatan baik di tingkat PBB maupun di forum internasional lainnya, posisi dan sikap Indonesia tetap konsisten, yakni agar permasalahan nuklir Iran ini tetap dapat diselesaikan secara damai, melalui saluran diplomasi dan perundingan. Indonesia menolak setiap penggunaan kekuatan militer untuk menyelesaikan masalah nuklir Iran.

Indonesia mendukung penggunaan teknologi nuklir untuk tujuan damai. Setiap negara berhak melakukannya, termasuk Iran. Jika terdapat silang pendapat, apakah pengembangan teknologi nuklir itu dilakukan untuk tujuan damai atau tujuan militer, maka penilaiannya kita kembalikan kepada Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA). Badan inilah yang memiliki parameter dan standar serta kompetensi untuk memberikan penilaian. Posisi, sikap dan usulan Indonesia ini, di berbagai kesempatan telah saya sampaikan kepada banyak pemimpin dunia, termasuk kepada Presiden Iran, Presiden Rusia, Presiden Amerika Serikat dan para Pemimpin Dunia Islam.

Oleh karena itu, meskipun situasinya makin rumit dan tegang, dan meskipun sudah ada 2 resolusi DK PBB tentang Nuklir Iran, Indonesia akan tetap berupaya untuk lahirnya sebuah solusi yang adil dan damai. Indonesia juga mengajak kepada negara-negara sahabat lain, termasuk negara-negara di Timur Tengah, untuk bersama meredakan ketegangan dan mencegah terjadinya konflik bersenjata baru di kawasan Timur Tengah, karena hanya akan menambah derita dan tragedi kemanusiaan saudara-saudara kita di wilayah itu. Dalam Pertemuan Puncak Liga Arab beberapa hari yang lalu, Wakil Presiden Jusuf Kalla yang saya tugaskan untuk mewakili Pemerintah Indonesia, telah menyampaikan dan mengkomunikasikan pandangan dan usul-usul Indonesia ini.

Kita ingin Timur Tengah, juga di Asia dan bahkan di seluruh dunia, terhindar dari perang terbuka apalagi disertai dengan senjata nuklir. Indonesia terus menyerukan dilakukannya perlucutan senjata (disarmament) dan juga pencegahan pengembangan senjata nuklir baru (proliferation) bagi semua, dan bukan hanya bagi Iran. Jika kita mengkhawatirkan keamanan di Timur Tengah dan Asia dari ancaman senjata nuklir, maka seruan ini berlaku bagi semua negara yang memiliki kemampuan untuk itu.

Semua proses penyelesaian krisis nuklir di Iran belumlah selesai. Kita akan terus berupaya mendorong dan mengajak semua pihak, untuk bersikap adil, dan mengedepankan dialog dan perundingan. Sanksi bukanlah tujuan utama. Sanksi haruslah bersifat persuasif, agar suatu negara mengubah posisi melalui jalur perundingan. Saya berharap, umat Islam di tanah air, akan dapat memahami langkah-langkah yang ditempuh Pemerintah.

Komitmen kita kepada keadilan terhadap negara manapun, termasuk Iran, tetap akan kita jaga dan kita pelihara. Solidaritas kepada negara-negara Muslim akan tetap kita jaga dan kita pelihara pula. Sikap kita tidak berubah. Langkah apapun yang kita tempuh, tetap mencerminkan kesadaran kita sebagai sebuah bangsa dan negara berdaulat, yang bebas dari tekanan dari pihak manapun juga. Atas dasar prinsip-prinsip itulah, Insya Allah, kita tetap tegak berdiri memperjuangkan keyakinan kita, sebagaimana diamanatkan oleh Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Hadirin yang saya muliakan,
Sebelum mengakhiri sambutan ini, sekali lagi saya mengajak kaum Muslimin dan Muslimat, untuk memetik hikmah dari peringatan Maulid Nabi Muhammad S.A.W, yang antara lain, menyeru menusia untuk menegakkan perdamaian. Mari kita kedepankan langkah-langkah damai dalam menyelesaikan setiap masalah. Jauhi kekerasan, karena kekerasan akan menimbulkan dampak yang buruk bagi kemanusiaan.

Suasana yang tertib, aman dan damai amat kita butuhkan untuk membangun negara kita. Mustahil kita akan dapat meraih kemakmuran dan kesejahteraan, jika kita selalu berada dalam konflik dan ketegangan. Dunia dan umat manusiapun membutuhkan ketertiban, keamanan dan kedamaian. Sebab itulah, sekecil apapun sumbangan yang dapat kita berikan, maka kita akan melakukannya. Dengan sikap seperti itu, kita berdoa, agar kita senantiasa berada dalam lindungan Allah SWT.

Demikianlah sambutan saya, pada Peringatan Maulid Nabi Muhammad S.A.W tahun ini. Semoga Allah SWT akan senantiasa memberkati bangsa dan negara kita, dalam menuju hari depan yang lebih cerah.

Terima kasih.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.



Jakarta, 30 Maret 2007
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

DR. H. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO