Pidato Presiden

Pengarahan Kepada Para Atlet Bulutangkis Indonesia

 

TRANSKRIPSI
PENGARAHAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
KEPADA
PARA ATLET BULUTANGKIS INDONESIA
PELATNAS PBSI – JAKARTA
31 MARET 2007



Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh,

Selamat siang,
Salam sejahtera untuk kita semua,
Bapak Sutiyoso beserta Ibu yang saya hormati,
Pak Anton Apriantono, sebagai pecinta bulutangkis
Para Senior bulutangkis atau yang sering saya sebut Sang Juara,
Juara tidak pernah mengenal mantan, tetap juara bagi saya,
Para Pembina, Pelatih, Pengasuh, Official,

Para Atlet yang saya cintai dan saya banggakan,
Saya beserta istri datang berkunjung hari ini ke tempat yang bersejarah ini, tiada lain untuk memberikan dukungan saya kepada Saudara-saudara yang terus berjuang untuk mengharumkan nama bangsa dan negara kita, untuk insya Allah merebut kembali dan mempertahankan supremasi kita di dunia bulutangkis.

Rakyat Indonesia, bangsa Indonesia sangat bangga kepara para pejuang, para atlet dan sang juara di dunia bulutangkis. Sepatutnya saya yang sekarang sedang mengemban amanah untuk memimpin bangsa dan negara ini, terus memberikan dukungan, terus dengan penuh kebanggaan memberikan apresiasi, barangkali juga semangat, karena saya tahu, kita amat berpeluang untuk mencetak prestasi-prestasi, baik pada tingkat nasional maupun pada tingkat dunia, dan sangat mungkin kita bisa merebut kembali piala-piala kebanggaan yang barangkali sekarang ini berada di negara lain.

Tetapi sebagaimana saya katakan, beberapa saat yang lalu ketika saya diundang oleh KONI waktu itu, dalam sebuah acara, kalau Indonesia ingin olahraganya maju, terkenal, berprestasi di tingkat dunia, maka seluruh komponen bangsa harus mencintai olahraganya, membanggakan olahraganya, mendukung olahraganya, sehingga semua menjadi bagian utuh secara sinergis untuk memajukan olahraga di negeri kita. Tidak mungkin masa depan olahraga kita hanya dibebankan kepada, katakanlah KONI, organisasi cabang-cabang bulutangkis semacam PB PBSI, para official , para atlet. Tidak mungkin, tidak cukup.

Tidak cukup pula kalau hanya diserahkan kepada pemerintah pusat maupun daerah. Tidak cukup pula dengan bantuan dari para pimpinan dunia usaha, meskipun itu sangat penting. Tetapi agar cukup, seluruh komponen bangsa mesti ikut bertanggung jawab, ikut berkontribusi, dalam bentuk apapun sumbangan itu, agar olahraga di negeri kita benar-benar makin maju dan tampil terhormat di forum internasional.

Termasuk pers dan dunia media massa. Kalau pers dan media massanya juga memberikan semangat jurnalisme yang memotivasi, yang konstruktif, terangkat pula semangat dari kita semua. Tapi kalau ada satu, dua media massa membikin judul yang besar-besar, “PBSI Keok”, misalkan kita melawan negara lain, bangsa lain. “Sepakbola Kita Tekuk Lutut, Disapu Habis”, barangkali ada perasaan, yang down dari atlet kita. Tapi saya banyak baca dari media massa yang memberikan motivasi, dorongan yang ini sangat diperlukan. Ini dari segi media massa, belum dari komponen-komponen yang lain.

Cinta atau bangga pada bangsa sendiri di pentas dunia sangat-sangat penting. Boleh mengkritik ke dalam. Boleh kita mengatakan begini, begitu, rekomendasi, begitu Merah Putih berkibar, di manapun, di Eropa, di Asia, di Afrika, di Amerika, di Australia, yang berbangsa Indonesia di forum itu, mesti bersatu, mesti memberikan dukungan yang penuh, dan tindakan-tindakan seperti itu.

Bangsa bersatu, bangsa memberikan dukungan pada dunia olahraganya, pada atlet-atletnya. Dengan demikian, saya tahu bagi sang juara, sesungguhnya yang dicari bukan imbalan harta benda, tetapi kehormatan, kebanggaan, juga perasaan yang ikut menaikan harkat dan martabat bangsanya. Itu sang juara, itu sang atlet.

Nah, kewajiban kita semua, pemerintah, dunia usaha, masyarakat luas, memberikan apresiasi dalam bentuk-bentuk yang tepat, termasuk kesejahteraan yang layak bagi para juara kita. Kalau itu terbangun, insya Allah, maka akan makin maju dunia olahraga kita. Saya punya keyakinan yang tinggi, olahraga di negeri ini akan terus bangkit, terus mencetak prestasi-prestasi yang baru. Bukan hanya bulutangkis, tapi cabang-cabang olahraga yang lain.

Kalau Malaysia bisa, Indonesia mesti bisa. China pun, kalau mereka bisa, Indonesia mesti bisa. Filipina, Thailand, negara-negara ASEAN, kalau mereka bisa, kita mesti bisa. Oleh karena itu, meskipun tidak perlu menjadi beban, saya ingin, bangsa Indonesia ingin, rakyat ingin, agar kalau dalam pentas ASEAN, Sea Games, Indonesia berada di papan atas. Kalau ada 10 negara ASEAN, papan atas itu ya satu, dua tiga. Jangan delapan, sembilan sepuluh, papan bawah namanya. Tengah-tengah pun belum cukup. Naiklah ke atas. Mari naik bersama-sama. Saya datang untuk itu.

Kita bisa Saudara-saudara.
Jangan dikira, kalau Saudara main, saya ditelepon, entah jam berapapun, saya bersama istri menonton. Luar biasa, seperti saya berada di situ, ya berdoa, ya tepuk tangan, ya seperti itu. Dan, namanya bertanding, namanya kejuaraan, adakalanya berhasil, adakalanya tidak berhasil. Berhasil atau tidak berhasil bagi saya, karena Saudara, saya tahu berjuang penuh, dengan sekuat tenaga, bagi saya tetap pahlawan. Dan oleh karena itulah, PBSI pernah saya terima pada saat mencatat prestasi yang luar biasa, pernah juga saya terima PBSI waktu tidak berhasil waktu itu, karena bagi saya ini suatu proses, suatu perjuangan terus-menerus. Dan saya mengajak komponen bangsa yang lain, begitulah menghormati pejuang-pejuangnya, termasuk di bidang olahraga ini.

Waktu itu saya juga bicara, setelah kita punya Undang-undang di bidang olahraga, kita punya organisasi baik itu pemerintah, bagi Koni sendiri dan lain-lain, yang kita perlukan adalah sebuah community, masyarakat luas yang memberikan dukungan pada dunia olahraga. Sport community ini bisa saja mereka-mereka yang sangat mencintai dunia olahraga, bisa saja para pemimpin dunia usaha, orang-orang di pemerintahan, barangkali anggota parlemen, siapa saja, bisa membangun sport community yang terus-menerus memberikan sumbangannya kepada upaya pemajuan dunia olahraga.

Yang kedua ada sport center. Oleh karena itulah yang sedang direncanakan di Sentul misalnya, meskipun saya belum dilapori detail seperti apa desainnya, negara sebesar ini, punya tiga time zone, Rp 220 juta, GDP kita terus naik, insya Allah suatu saat kita menjadi negara ekonomi besar, 10 besar di dunia, masa tidak punya sport center yang representatif, yang lingkungannya baik, yang memungkinkan training center, Pelatnas bisa dilaksanakan di tempat itu. We need a kind of sport center.

Setelah ada sport community, ada sport center, ya, kalau nggak salah, ongkosnya pun rasional, bukan tidak mungkin kita bangun dalam satu, dua, tiga tahun begitu. Kalau yang ketiga adalah sport fund. Pemerintah mengalokasikan anggaran untuk olahraga, jelas. Tetapi, tentu selalu tidak cukup kalau kita ingin melakukan pembinaan yang ideal, sebagaimana yang dilakukan negara-negara maju. Di situlah perlunya sport fund.

Saya berterima kasih kepada para pemimpin dunia usaha, termasuk Djarum di sini, mana lagi, ya banyaklah, yang memberikan kontribusinya. Baik kok itu. Yang tidak boleh itu, kalau dunia usaha, perusahaan-perusahaan dipungli oleh orang-orang tertentu, apalagi jumlahnya besar, untuk kepentingan pribadinya. Tidak boleh, tidak sehat. Tetapi, kalau dunia usaha menyisihkan keuntungannya, yang disebut dengan dana untuk corporate social responsibility, antara lain digunakan untuk membantu olahraga, adakalanya pendidikan, adakalanya kesehatan, adakalanya pengentasan kemiskinan, pahalanya tinggi sekali. Karena sudah disisihkan. Kalau keuntungannya sebegini besar, ada bagian kecil untuk itu.

Nah, saya menghimbau seperti-seperti itu. Ada sport fund. Tetapi betul-betul digunakan untuk olahraganya, untuk atletnya, untuk yang melatihnya dan segala macam. Jangan digunakan untuk yang lain-lain. Itu yang kita perlukan, transparan. Semuanya, sekali lagi untuk memajukan dunia olahraga.

Saya itu pernah begini, Saudara-saudara, bolehlah ini kesempatan baik, waktu ada, saya dilapori mau ada lomba tembak Angkatan Darat ASEAN, para petembak Angkatan Darat, 10 negara ASEAN waktu itu akan bertanding di Filipina apa di Thailand dulu ya? Di Vietnam, saya sempat ketemu dengan pimpinan, “Gimana persiapannya?” karena saya geregetan, masak nggak bisa kita juara di ASEAN. Masak nggak bisa kita mengalahkan Singapura, Malaysia, Thailand, Filipina, Brunei, Vietnam, Myanmar, Laos, Kamboja, masak tidak bisa.

Oleh karena itu saya panggil. Saya ingin tahu latihannya seperti apa. Begini, begini, begini. Waktu itu, meskipun tidak boleh, saya mohon kepada Allah, “Ya Tuhan,” saya lihat latihannya bagus, anak-anak semangatnya tinggi, mudah-mudahan kali ini berhasil. Dan apa, doa saya ingin berhasil, karena kalau berhasil, bukan karena atletnya, bukan karena pelatihannya juga bagus, tetapi senjata yang digunakan buatan Indonesia. Namanya SS-2, buatan Pindad. Saya punya cita-cita, senapan buatan Pindad harus bisa mengalahkan senapan buatan manapun, termasuk Amerika, termasuk Jerman, termasuk Inggris, termasuk dan lain-lain, dan diuji nanti dalam lomba tembak.

Tuhan Maha Besar, doa kita terkabul. Anak-anak berlatih dengan tekun, dipimpin dengan baik. Dana latihannya digunakan dengan baik. Semuanya merasa bisa berlatih dengan bagus, akhirnya prestasinya sangat luar biasa. Memborong habis itu piala emas dengan jarak yang sangat jauh. Saya lupa angka-angkanya itu, termasuk 24 medali emas kalau tidak salah. Kemudian tropinya itu dari 15 kita mendapat sembilan kalau tidak salah, betul ya? Jadi sembilan. Berikutnya lagi tiga dan satu dan seterusnya.

Artinya, bisa kita seperti itu. Apalagi bulutangkis yang dalam sejarah dunia terukir namanya dengan harumnya, menjadi kebanggaan kita. Kalau kita lakukan semuanya itu, suatu saat, pada saatnya, Saudara akan kembali menjadi juara-juara di dunia ini. Berlatih dengan baik, dikelola dengan baik latihannya, didukung oleh semua komponen bangsa. Olahraga itu, saya sekali lagi yakin bahwa kita akan bisa menjadi juara-juara di banyak cabang di dunia ini.

Itulah yang saya sampaikan. Saya lihat atlet-atlet yang muda-muda, kalian semua bisa menjadi juara, banyak kesempatan di dunia, banyak piala. Saya, mudah-mudahan, bisa lihat nanti. Kalau Sudirman, karena di luar negeri, ya saya mungkin tidak bisa, tapi tolong, ditelepon saya kalau ada event-event yang saya harus nonton. Kalau Uber Cup dan Thomas Cup, insya Allah, karena akan dilaksanakan di Indonesia, pada tahun depan. Kemudian Sea Games, akan dilaksanakan di Thailand, Thailand juga kuat itu. Saya, kalau tidak bisa ke sana, saya akan nonton saja lewat televisi, saya akan terus bersama-sama Saudara, terutama pada masa-masa yang kritis, hanya untuk berdoa, hanya untuk memberikan semangat, dengan harapan perjuangan itu berhasil dengan baik.

Demikian yang saya sampaikan, Pak Sutiyoso, pimpinlah dengan baik. Para official, pimpin dan latihnya dengan baik, para atlet berlatihlah dengan baik. Semoga Tuhan memberikan jalan yang baik pada olahraga kita, bulutangkis kita, dan bangsa Indonesia secara keseluruhan.

Sekian,
Wassalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh.

* * * * *


Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan