Pidato Presiden

Sambutan Pembukaan Musyawarah Nasional Ke-5 Gabungan Pengusaha Jamu dan Obat Tradisional Indonesia

 

SAMBUTAN
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA PEMBUKAAN
MUSYAWARAH NASIONAL KE-5
GABUNGAN PENGUSAHA JAMU
DAN OBAT TRADISIONAL INDONESIA



Jakarta, 12 April 2007



Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Salam sejahtera bagi kita semua,
Hadirin yang saya muliakan,

Marilah kita bersama-sama memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT, karena atas rahmat dan karunia-Nya, kita dapat menghadiri Pembukaan Musyawarah Nasional Ke-5 Gabungan Pengusaha Jamu dan Obat Tradisional Indonesia, di Istana Negara. Saya ingin menggunakan kesempatan yang membahagiakan ini, untuk menyampaikan ucapan selamat datang kepada para peserta musyawarah dari seluruh tanah air. Saya turut berdoa, semoga selama mengikuti musyawarah ini Saudara-saudara tetap sehat wal’afiat dan dapat mengikuti musyawarah ini dengan sebaik-baiknya. Dan saya percaya, Saudara-saudara akan tetap sehat dan dapat mengikuti musyawarah ini, karena Saudara-saudara mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya dan setiap hari minum jamu racikan sendiri.

Hadirin yang saya muliakan,
Sejak ratusan tahun yang lalu, nenek moyang bangsa kita telah terkenal pandai meracik jamu dan obat-obatan tradisional. Beragam jenis tumbuhan, akar-akaran, dan bahan-bahan alamiah lainnya diracik sebagai ramuan jamu untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Ramuan-ramuan itu digunakan pula untuk menjaga kondisi badan agar tetap sehat, mencegah penyakit, dan sebagian untuk mempercantik diri. Kemahiran meracik bahan-bahan itu diwariskan oleh nenek moyang kita secara turun temurun, dari satu generasi ke generasi berikutnya, hingga ke zaman kita sekarang.

Di berbagai daerah di tanah air, kita menemukan berbagai kitab yang berisi tata cara pengobatan dan jenis-jenis obat tradisional. Di Bali, misalnya, ditemukan kitab usadha tuwa, usadha putih, usadha tuju, dan usadha seri yang berisi berbagai jenis obat tradisional. Dalam cerita rakyat seperti cerita Sudamala, dikisahkan bagaimana Sudamala berhasil menyembuhkan mata pendeta Tambapetra yang buta. Demikian pula relief cerita Mahakarmmawibhangga pada kaki Candi Borobudur, menggambarkan seorang anak kecil yang sakit dan sedang diobati dua orang tabib. Salah satu relief lainnya, juga memperlihatkan kegiatan seorang tabib sedang meracik obat.

Demikian pula dalam tradisi Melayu, ditemukan naskah-naskah yang menyajikan resep obat-obatan. Naskah-naskah itu, antara lain memuat berbagai jamu sawan, jamu sorong, jamu untuk ibu hamil dan melahirkan, obat sakit mata, obat sakit pinggang, hingga obat penambah nafsu makan. Peralihan dari zaman Hindu-Budha ke zaman Islam, telah memperkaya khazanah tradisi pengobatan dalam masyarakat kita. Berbagai buku kedokteran Islam yang ditulis dalam bahasa Arab dan Persia, telah diterjemahkan baik ke dalam bahasa Jawa maupun bahasa Melayu. Semua ini berlangsung tanpa terputus, sampai bangsa kita mengenal ilmu kedokteran dari Eropa pada zaman penjajahan.

Di tengah-tengah serbuan obat-obatan modern, jamu dan ramuan tradisional tetap menjadi salah satu pilihan bagi masyarakat kita. Tidak hanya masyarakat di perdesaan, masyarakat di perkotaan pun mulai mengkonsumsi obat-obatan tradisional ini. Di berbagai pelosok tanah air, dengan mudah kita menjumpai para penjual jamu gendong berkeliling menjajakan jamu sebagai minuman sehat dan menyegarkan. Demikian pula, kios-kios jamu tersebar merata di seluruh penjuru tanah air. Jamu dan obat-obatan tradisional, telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat kita.

Hadirin yang saya muliakan,
Keragaman obat-obatan tradisional di tanah air, telah memperkaya khasanah ilmu pengetahuan, dan kesehatan bangsa kita. Negara kita menjadi salah satu pusat tanaman obat di dunia. Ribuan jenis tumbuhan tropis, tumbuh subur di seluruh pelosok negeri. Belum semua jenis tanaman itu kita ketahui manfaat dan khasiatnya. Kita hanya berkeyakinan bahwa Tuhan menciptakan semua jenis tumbuhan itu, pastilah tidak sia-sia. Semua itu pasti ada manfaatnya. Oleh karena itu, kita perlu melakukan konservasi sumber daya alam, agar jangan ada jenis tanaman yang punah. Kita sungguh prihatin dengan terjadinya kebakaran hutan di berbagai daerah. Kita harus mencegah kebakaran hutan seperti itu. Kebakaran hutan bukan saja memusnahkan satwa dan fauna, tetapi juga menimbulkan polusi dan meningkatkan suhu pemanasan global.

Kita menyadari bahwa jamu dan obat tradisional, sampai saat ini belum dikembangkan secara optimal. Produksi jamu dan obat-obatan tradisional lebih banyak diproduksi oleh home industry. Hanya sebagian kecil jamu dan obat-obatan tradisional yang diproduksi secara masal melalui industri jamu dan obat tradisional di pabrik-pabrik. Untuk meningkatkan kualitas, mutu, dan produk jamu serta obat-obatan yang dihasilkan oleh masyarakat kita, diperlukan kerjasama seluruh pihak yang terkait. Kerjasama itu dimaksudkan agar jamu dan obat tradisional yang dihasilkan dapat bersaing, baik di pasar regional maupun global.

Akhir-akhir ini berkembang berbagai jamu dan obat-obatan tradisional yang diproduksi secara bebas dan tidak bertanggungjawab. Beredarnya jamu dan obat-obatan yang tidak terdaftar di Badan Pengawasan Obat dan Makanan, akan merugikan konsumen. Di samping itu, secara ekonomi, beredarnya obat-obatan seperti itu justru akan merusak citra obat tradisional kita. Citra yang rusak akhirnya akan memukul produksi dan pemasaran obat-obatan tradisional, di dalam maupun di luar negeri. Oleh karena itu, peran serta Badan Pengawas Obat dan Makanan sangat penting untuk mencegah beredarnya obat-obatan yang tidak memenuhi standar kesehatan. Pemerintah, terus berupaya melakukan pengawasan demi meningkatkan keamanan, mutu, dan manfaat obat tradisional. Hal itu kita lakukan agar masyarakat terlindung dari obat tradisional yang dapat menimbulkan efek yang tidak diinginkan.

Pada kesempatan yang baik ini, saya menghimbau kepada para pengusaha jamu dan obat-obatan tradisional agar terus menerus melakukan penelitian dan pengembangan obat tradisional. Melalui penelitian dan pengembangan yang cermat dan teliti, jamu dan obat-obatan tradisional dapat diarahkan untuk menjadi obat yang dapat diterima dalam pelayanan kesehatan formal. Memang harus kita akui, bahwa para dokter dan apoteker, hingga saat ini masih belum dapat menerima jamu sebagai obat yang dapat mereka rekomendasikan kepada para pasiennya. Akibatnya, pemasaran produk jamu tidak dapat menggunakan tenaga detailer seperti pada obat modern.

Namun, kita patut bersyukur bahwa akhir-akhir ini, tampak adanya trend hidup sehat pada masyarakat untuk menggunakan produk yang berasal dari alam. Oleh karena itu, jamu dan obat-obatan tradisional perlu didorong untuk menjadi salah satu pilihan pengobatan. Jamu dan obat-obatan tradisional harus didorong pula untuk menjadi komoditi unggulan yang dapat memberikan sumbangan positif bagi meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat. Kegiatan itu juga memberikan peluang kesempatan kerja, dan mengurangi kemiskinan.

Saya menyambut gembira visi yang digagas oleh Gabungan Pengusaha Jamu, untuk menjadikan jamu dan obat tradisional sebagai produk unggulan bangsa kita. Menjadikan jamu dan obat tradisional, sejajar dengan produk farmasi dan produk-produk lain di bidang kesehatan yang dikonsumsi oleh masyarakat luas, baik secara nasional maupun internasional.

Hadirin yang saya muliakan,
Sebelum mengakhiri sambutan ini, saya minta kepada seluruh jajaran Departemen Kesehatan dan Badan Pengawas Obat dan Makanan, untuk terus melakukan bimbingan kepada para pengusaha jamu agar dapat menghasilkan produk unggulan yang berkualitas. Berikanlah kemudahan dalam hal registrasi, perizinan, dan legalitas dari produk yang dihasilkan, jika telah sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan. Ujilah mutu produk dan kualitas industri jamu, sesuai standar dan persyaratan yang berlaku.

Kepada seluruh jajaran Kamar Dagang dan Industri (Kadin), saya minta untuk memprioritaskan promosi dan perdagangan produk jamu dan obat-obatan tradisional kita, baik di pasar domestik maupun pasar global.

Kepada seluruh komponen masyarakat di tanah air, saya mengajak untuk mengembangkan budaya jamu dan obat-obatan tradisional dalam meningkatkan kesehatan dan pengobatan. Jadikanlah Jamu dan obat-obatan tradisional sebagai bagian dari kehidupan masyarakat yang sehat dan kuat. Jadikanlah jamu dan obat tradisional menjadi bagian integral pada aspek kebugaran, kesehatan, dan kecantikan kita semua.

Akhirnya, dengan memohon ridho dari Allah SWT, seraya mengucapkan ”Bismillahirrahmanir-rahim”, Musyawarah Nasional Gabungan Pengusaha Jamu dan Obat-Obatan Tradisional, saya nyatakan dibuka dengan resmi.

Semoga Allah SWT senantiasa memberikan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita semua.

Terima kasih.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Jakarta, 12 April 2007
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,


DR. H. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO