Pidato Presiden

Sambutan Peresmian Pembukaan Simposium Nasional Pendidikan dan Ketenagakerjaan

 

TRANSKRIPSI
SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
PERESMIAN PEMBUKAAN SIMPOSIUM NASIONAL PENDIDIKAN DAN KETENAGAKERJAAN
ISTANA NEGARA, 18 APRIL 2007



Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum warrahmatullahi wabarrakatuh,

Selamat pagi,
Salam sejahtera untuk kita semua,

Yang saya hormati Saudara Menteri Pendidikan Nasional, Menteri Ketenagakerjaan dan Transmigrasi dan para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu,
Yang saya hormati Saudara Wakil Ketua dan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia dalam kapasitas Beliau sebagai alumni organisasi kemahasiswaan,
Yang saya hormati Aggota Dewan Pertimbangan Presiden dan para Pejabat Pemerintahan, Saudara Gubernur Riau juga dalam kapasitas Beliau sebagai alumnus, Saudara Ketua KNPI, para Pimpinan Organisasi Kemahasiswaan, Saudara Ketua Panitia Penyelenggara, para alumni, para peserta symposium yang saya cintai dan saya muliakan,

Pertama-tama, marilah kita memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, Allah SWT, karena atas rahmat dan karunia-Nya, kita dapat berkumpul di Istana Negara ini untuk mengikuti Pembukaan Simposium Nasional Pendidikan dan Ketenagakerjaan. Saya ingin menggunakan kesempatan yang membahagiakan ini untuk menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak, tidak hanya kepada para mahasiswa yang telah memprakarsai kegiatan yang sangat penting ini, tetapi juga kepada pihak-pihak lain yang telah membantu dan berkontribusi, sehingga acara ini dapat terselenggara sebagaimana yang kita harapkan. Semoga segala sesuatu yang telah dilakukan bersama ini, bukan saja mendapat ridho dari Allah SWT, namun pula dapat memberikan sumbangsih dalam menyelesaikan salah satu masalah berat yang dihadapi oleh bangsa dan negara kita, yaitu pendidikan dan lapangan pekerjaan.

Hadirin yang saya hormati,
Saya sungguh berterima kasih kepada berbagai organisasi kemahasiswaan yang menaruh perhatian yang begitu besar kepada masalah-masalah pendidikan dan ketenagakerjaan. Simposium ini, saya harapkan benar-benar akan memberikan sumbangan pemikiran, memberikan solusi, memberikan jalan keluar, practical solution dalam mengatasi masalah yang tidak ringan ini. Sekecil apapun sumbangan pemikiran yang Saudara berikan, semua pasti akan memberikan manfaat dalam mengatasi masalah yang kita hadapi bersama ini. Masalah pendidikan dan ketenagakerjaan, sebagaimana yang juga dihadapi oleh bangsa-bangsa lain di dunia ini, bukanlah semata-mata menjadi tanggung jawab pemerintah, namun menjadi tanggung jawab dari semua warga bangsa, termasuk komponen pemuda dan mahasiswanya. Perhatian yang besar dari organisasi-organisasi kemahasiswaan terhadap dua masalah ini, makin menyadarkan kita, bahwa masalah ini perlu segera diatasi dan dicarikan jalan keluarnya.

Telah banyak pemikiran dan gagasan yang dilontarkan oleh berbagai kalangan untuk membenahi dunia pendidikan kita. Saya berterima kasih untuk itu, begitu juga dengan dunia ketenagakerjaan. Ketika Majelis Permusyawaratan Rakyat melakukan amandemen terhadap Undang-Undang Dasar kita, kedua masalah ini juga menjadi fokus perhatian. Amandemen Undang-Undang Dasar telah menegaskan prosentase dana APBN untuk dialokasikan bagi pembiayaan pendidikan. Niat baik di balik amandemen itu adalah kesadaran, bahwa dunia pendidikan kita memerlukan pembenahan yang mendasar dan sungguh-sungguh. Kemajuan suatu bangsa akan sangat bergantung kepada kualitas sumber daya manusianya, the human capital. Apalah artinya suatu negara yang kaya raya dengan sumber daya alam, kalau rakyatnya tidak sanggup untuk mengelola dan memanfaatkannya. Jumlah penduduk yang banyak, hanya akan menjadi beban negara, jika mereka tidak terdidik dan tidak produktif. Kita dapat belajar dari kemajuan bangsa dan negara lain. Mereka sebenarnya, sebagian dari mereka miskin sumber daya alam, namun mereka mampu berkembang menjadi negara industri, menjadi negara jasa dalam abad informasi dewasa ini.

Seni dan budaya serta keindahan alam, sebagian dari mereka sebenarnya tidak seberapa, jika dibandingkan dengan apa yang kita miliki. Namun mereka mampu mendatangkan jutaan wisatawan setiap tahunnya. Sementara pariwisata kita masih menghadapi begitu banyak kendala. Semua itu disebabkan oleh belum mampunya kita menciptakan kondisi yang nyaman, dan memberikan pelayanan yang memuaskan. Kalau kita telaah mengapa semuanya ini terjadi, maka salah satu jawabannya ialah, karena sumber daya manusia kita masih lemah. Kita belum mampu bersaing dengan bangsa-bangsa lain.

Apa yang saya kemukakan tadi, tidak perlu membuat kita pesimis, apalagi putus asa. Sesungguhnya kita telah bekerja dengan sekuat tenaga untuk memajukan dunia pendidikan dan ketenagakerjaan kita. Hasil-hasilnya pun sudah mulai kita rasakan. Perkembangan di dunia pendidikan misalnya, telah juga mendapatkan pengakuan dari lembaga-lembaga internasional, meskipun saya katakan masih jauh jalan yang harus kita tempuh, masih banyak masalah yang harus kita pecahkan. Tetapi patutlah kita bersyukur, setiap capaian yang kita capai untuk menjadikan pembangkit semangat untuk bekerja lebih keras lagi, bekerja lebih baik lagi.

Anggaran pendidikan kita telah meningkat demikian besar. Alokasi APBN untuk Departemen Pendidikan Nasional, merupakan alokasi paling besar yang diberikan kepada lembaga pemerintahan, kenaikannya sangat signifikan. Namun tentu saja masalah pendidikan, bukan semata-mata bergantung kepada besarnya anggaran. Hal-hal lain yang terkait dengan penyelenggaraan pendidikan juga perlu dibenahi. Kita perlu membangun fasilitas pendidikan yang memadai dan menyediakan tenaga guru dan dosen yang memiliki kualitas dan kemampuan yang tinggi. Kurikulum pendidikan nasional kita, juga harus terus-menerus kita evaluasi, agar tetap sejalan dengan kebutuhan perubahan zaman dan tantangan masa depan. Dan sebagai tema Simposium Saudara, agar output pendidikan itu sesuai dengan kebutuhan pasar tenaga kerja yang tersedia di negeri kita, baik di sektor pertanian, di sektor industri, maupun di sektor jasa.

Satu hal yang tidak kalah pentingnya untuk dilakukan ialah, menyadarkan para orang tua, tentang betapa pentingnya pendidikan bagi anak-anak mereka. Sesungguhnya hanya pendidikanlah yang akan mampu mengubah masa depan seseorang. Setiap orang tua hendaknya berpikir, bahwa nasib anak-anak mereka haruslah lebih baik dari nasib mereka sekarang. Sekarang Pemerintah telah membebaskan biaya pendidikan bagi keluarga miskin. Pemerintah juga telah memberikan Bantuan Operasional Sekolah, agar kendala biaya dan fasilitas pendidikan dapat diatasi. Di berbagai daerah bahkan, yang saya kunjungi, yang saya cek di lapangan, Pemerintah Daerah telah membebaskan biaya pendidikan hingga jenjang SLTA. Saya menggarisbawahi yang disampaikan oleh Panitia Penyelenggara tadi, insya Allah dengan kerja keras kita, dengan partisipasi para pemuda dan mahasiswa, mari terus kita tingkatkan, agar pendidikan di negeri ini makin berkualitas, makin murah, dan bagi yang miskin gratis.

Demikian juga kesehatan. Kesehatan kita, harapan kita makin berkualitas, murah, dan gratis. Rakyat miskin bebas berobat di Puskesmas dan di Rumah Sakit kelas 3. Tolong Saudara-saudara dicek di Provinsi, Kabupaten, dan Kota di seluruh Indonesia. Kalau lambat kemajuan di bidang pendidikan dan kesehatan tanyakan langsung kepada para Gubernur, para Bupati, dan para Walikota. Saya ingin semua bekerja sama. Saya berikhtiar, para Menteri bekerja, Gubernur, Bupati dan Walikota harus melakukan hal yang sama.

Saudara-saudara,
Dunia pendidikan dan dunia ketenagakerjaan adalah dua dunia yang saling berhubungan secara fungsional. Masalah yang terjadi pada dunia ketenagakerjaan tidak dapat dilepaskan dari masalah yang terjadi pada dunia pendidikan. Dunia ketenagakerjaan memiliki paradigma dan logika tersendiri, yang dalam prakteknya, dan ini bukan hanya di negeri kita, tidak selalu sejalan dengan paradigma dan logika dunia pendidikan. Pertumbuhan dunia ketenagakerjaan tidak pula selalu berbanding lurus dengan pertumbuhan dunia pendidikan. Itulah sebabnya, kita harus terus mencurahkan perhatian dan pemikiran untuk merumuskan sistem, kebijakan, dan formula yang tepat, agar dapat mensinergikan dua dunia yang berbeda, namun saling terkait ini. Inilah makna dan tujuan dari simposium yang saya berikan penghargaan yang tinggi kepada para mahasiswa.

Setiap tahun pasar tenaga kerja kita dibanjiri jutaan tenaga kerja baru. Jutaan, karena penduduk kita 220 juta lebih. Jumlah angkatan kerja baru dengan penyerapan pekerja, tenaga kerja tiap tahunnya selalu ada kesenjangan. Inilah yang harus kita perkecil dengan upaya-upaya ekstra yang kita jalankan secara bersama. Sekali lagi, angkatan kerja bertambah terus, baik yang berpendidikan Sekolah Lanjutan Atas, maupun Sarjana. Kelak, Saudara-saudara, insya Allah akan menjadi sarjana yang tentunya memerlukan lapangan pekerjaan. Bahkan masih banyak kita jumpai tenaga kerja lulusan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama dan Sekolah Dasar di banyak daerah. Tidak semua tenaga kerja baru tersebut terserap ke dalam pasar tenaga kerja yang tersedia. Hal ini tentu bukan semata-mata disebabkan oleh kurang sesuainya pendidikan dan ketenagakerjaan, tetapi juga karena tidak mudahnya membuka lapangan pekerjaan baru. Membangun dan memperluas lapangan kerja harus dikerjakan bersama-sama oleh Pemerintah dan dunia usaha.

Saudara akan mengetahui nantinya, bahwa sesungguhnya yang menciptakan lapangan pekerjaan itu bukan Pemerintah. Pemerintah hanya bisa mengangkat pegawai negeri, termasuk TNI dan Polri yang jumlahnya kurang dari 1 juta per tahunnya, sedangkan yang lainnya harus disiapkan oleh sektor swasta dan dunia usaha, termasuk upaya menciptakan lapangan pekerjaan sendiri oleh para entrepreneur kita.

Pemerintah bekerja keras untuk menciptakan suasana yang kondusif, agar investasi dapat tumbuh dan berkembang. Tanpa investasi, tanpa kebangkitan dunia usaha dan sektor riil mustahil tersedia lapangan kerja baru. Ini harus kita pahami. Sebab itu, saya tidak henti-hentinya meminta perhatian seluruh jajaran Pemerintah, termasuk Pemerintah Daerah, agar terus berupaya mempercepat pertumbuhan investasi dan menggerakkan sektor riil. Kalau saya bicara investasi tidak selalu investasi itu dari luar negeri, dari dalam negeri pun banyak yang bisa melakukan investasi dengan memberikan kemudahan-kemudahan yang dibutuhkan para investor dan pelaku dunia usaha itu. Jangan mempersulit setiap urusan. Kalau Pejabat Pemerintah, kesenangannya mempersulit setiap urusan, investasi mandek, sektor riil tidak berkembang, lapangan kerja kosong. Akhirnya pendapatan masyarakat kita juga tidak bergerak, akhirnya kemiskinan tidak segera dapat kita turunkan secara signifikan. Pertumbuhan ekonomi juga terus kita pacu. Tanpa pertumbuhan ekonomi, tidak mungkin akan tercipta lapangan pekerjaan baru.

Saudara tahu, sebelum krisis dulu ekonomi kita tumbuh 6-7%, krisis 1998 drop, minus 13%. Kontraksinya 21% kurang-lebih. Setelah itu, kita merangkak, bergulat mencegah kebangkrutan dan akhirnya pelan-pelan mulai tumbuh. Ketika saya mengemban amanah pada akhir tahun 2004, pertumbuhan kita mencapai 5.1%, 2005 5.6%, 2006 5.5 karena banyaknya bencana alam, tingginya harga minyak dunia. Kita berjuang insya Allah tahun ini, kalau bisa kita menuju kembali ke 6% dan demikian selanjutnya. Tentu jalannya tidak lunak, tidak seperti berjalan di bawah bulan purnama, harus kita bekerja sangat serius untuk kembali mencapai pertumbuhan 6% dan lebih.

Namun patut pula kita sadari, bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi investasi adalah faktor hukum perburuhan dan perilaku tenaga kerja kita. Prinsip yang kita anut ialah, baik pengusaha maupun pekerja, haruslah sama-sama mendapat keuntungan. Tidak boleh salah satu pihak menekan pihak yang lain, sehingga terjadi eksploitasi. Belum semua pihak menyadari masalah ini. Sebab itu, di berbagai daerah, karena terjadi aksi-aksi kekerasan para pekerja, akhirnya mengakibatkan para pelaku dunia usaha memindahkan lokasinya ke daerah lain atau ke luar negeri atau bahkan menutup usaha itu. Akhirnya, ternjadi PHK. Saya sungguh-sungguh mengajak dan menghimbau, baik kepada pengusaha maupun kepada para pekerja, untuk sama-sama mencari jalan keluar yang baik, yang benar-benar menguntungkan kedua pihak. Tanpa pekerja, usaha tidak akan berjalan, meskipun modalnya ada, pabriknya ada. Tanpa tenaga kerja, mana mungkin bisa dijalankan. Sebaliknya pula tanpa ada usaha, mustahil akan dapat lahan pekerjaan.

Kita akan terus berupaya meningkatkan kesejahteraan para pekerja. Sekarang pun terus-menerus kita lakukan dan memberikan kepastian jaminan, kita sedang bekerja untuk itu, apabila pekerja harus berhenti misalnya, karena terjadi permasalahan kebangkrutan ekonomi, perubahan strategi bisnis perusahaan, hal-hal seperti itu, bukan karena kesalahannya. Namun, kita juga ingin para pekerja memiliki disiplin dan produktifitas yang tinggi, sebagaimana disiplin dan produktifitas yang dimiliki pekerja di negara sahabat, di Malaysia, di Thailand, di Singapura, di China, di India dan lain-lain. Dengan demikian, kita bisa bersaing dengan mereka dan ekonomi kita tumbuh.

Apa yang saya kemukakan tadi, menunjukkan kepada kita, betapa rumitnya masalah. Satu masalah berkaitan dengan masalah yang lain. Karena itu, kita harus melakukan pembenahan menyeluruh dan melihat semua itu sebagai masalah bangsa yang harus kita atasi bersama-sama. Saya berharap, simposium yang digagas para mahasiswa dari berbagai organisasi kemahasiswaan ini, dapat memberikan sumbangan pemikiran, dalam mengatasi masalah yang tidak ringan ini. Seperti saya kemukakan di awal sambutan ini, sekecil apapun sumbangan pemikiran yang diberikan, semua itu sangat bermanfaat untuk menyelesaikan masalah yang kita hadapi bersama.

Para mahasiswa yang saya cintai,
Sebelum mengakhiri sambutan ini, saya berpesan karena tahun 70-an, generasi saya, saya juga berada di tempat para mahasiswa, sementara para pemimpin, para Menteri berada seperti ini. Barangkali 25, 30 tahun yang akan datang, para mahasiswa duduk di sini dan di tempat ini. Yang duduk di situ adalah mahasiswa-mahasiswa pada zamannya nanti yang mengkritisi Saudara juga. Oleh karena itu, marilah kita bersama-sama, kritik itu baik, idealisme harus kita pegang teguh. Sampaikan dengan tepat dengan etika politik. Dengan demikian, betul-betul menjadi alat untuk memperbaiki keadaan. Kalau mahasiswa sering idealisme, masa depan bangsa tidak cerah. Teruslah kritis, teruslah mengoreksi hal-hal yang tidak benar dan di seluruh tanah air. Dengan demikian, insya Allah yang kita lakukan betul-betul memenuhi kepentingan seluruh bangsa kita, menjawab semua permasalahan yang kita hadapi bersama.

Saya berpesan kepada semua untuk mengembangkan yang saya sebut segitiga tanggung jawab, segitiga upaya. Pertama adalah pihak Pemerintah sendiri. Kaki segitiga yang kedua adalah lembaga pendidikan. Kaki yang ketiga adalah pasar tenaga kerja atau industri atau jasa atau pertanian yang menyerap hasil pendidikan. Tiga-tiganya harus bisa bersinergi, harus melakukan sinkronisasi. Pada tingkat pusat, Mendiknas dan Menteri Ketenagakerjaan dan Transmigrasi harus bisa mensinkronisasikan kebijakannya, langkah-langkahnya. Di tingkat daerah, Pak Gubernur, contohnya ada disini, Bupati, Walikota dengan jajarannya harus juga melakukan sinkronisasi.

Policy pemerintah ini juga mengait dengan kebutuhan pasar tenaga kerja, kebutuhan pertanian, kebutuhan industri, kebutuhan sektor jasa. Melihat kebutuhan itu, lembaga pendidikan pun demikian, harus mengembangkan kurikulum, membikin komposisi kemahasiswaan, kepakaran-kepakaran, ketrampilan-ketrampilan. Dengan demikian, akhirnya apa yang diperlukan oleh pasar kita dipenuhi oleh dunia pendidikan dan kemudian Pemerintah memberikan fasilitasi, mendorong, mengeluarkan biaya, agar semuanya itu berjalan secara sinergis, secara serasi. Akhirnya benar-benar, apa yang dihasilkan oleh pendidikan betul-betul dibutuhkan oleh pasar dan kemudian policy Pemerintah pun menuju ke situ.

Ini adalah yang harus kita lakukan pada tahun-tahun mendatang, meskipun disamping memenuhi kebutuhan pasar, masa depan bangsa adalah masa depan teknologi, inovasi teknologi, information technology. Oleh karena itulah, pendidikan harus juga memikirkan untuk menjemput masa depan kita 20, 30 tahun yang akan datang. Itulah pesan saya, hidupkan segitiga antara the government, the educational institution, dan dengan the industry atau the labour market. Kalau ini berjalan dengan baik, insya Allah hasilnya akan baik.

Hadirin yang saya muliakan,
Demikianlah sambutan saya pada kesempatan yang membahagiakan ini. Sekali lagi, kepada Panitia Penyelenggara, para narasumber yang berpartisipasi memberikan pikiran dan gagasan pada acara ini, saya sampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang setinggil-tingginya. Semoga Simposium ini sekali lagi, menghasilkan sesuatu yang konstruktif, jalan keluar yang praktis dan memberikan masukan kepada para pengambil kebijakan, Mendiknas, Menakertrans dan semua pejabat di pusat maupun di daerah.

Dan akhirnya, dengan memohon ridho Tuhan Yang Maha Kuasa seraya mengucapkan ”Bismillahirrahmanirrahim” , Simposium Nasional Pendidikan dan Ketenagakerjaan, saya nyatakan dibuka.

Sekian.
Wassalamu’alaikum warrahmatullahi wabarrakatuh.


*****



Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan