Pidato Presiden

Sambutan Perayaan Dharma Santi Nasional, Hari Raya Nyepi 1929

 

TRANSKRIPSI
SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
PERAYAAN DHARMA SANTI NASIONAL
HARI RAYA NYEPI
TAHUN BARU SAKA 1929
DENPASAR, 28 APRIL 2007



Om swastiastu,
Yang saya hormati Saudara Menteri Agama dan para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu,
Yang saya hormati Pimpinan Komisi dan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia,
Yang saya hormati Saudara Gubernur Bali, Pimpinan DPRD Bali dan para Pimpinan, serta Pejabat Negara yang bertugas di Provinsi Bali, baik dari unsur Eksekutif, Legislatif, Yudikatif maupun TNI dan Polri,
Yang saya muliakan para sulinggih,
Yang saya hormati Pimpinan Parisada Hindu Dharma Indonesia,

Hadirin, segenap umat Hindu di seluruh tanah air yang saya cintai dan yang berbahagia,
Malam ini, kita bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan karunia-Nya, kita dapat menghadiri Dharma Santi Nasional, dalam rangka Hari Raya Nyepi, dan Tahun Baru Saka 1929. Saya ingin menggunakan kesempatan yang membahagiakan ini, untuk menyampaikan salam hormat dan salam bahagia kepada seluruh umat Hindu, baik yang hadir pada malam ini, maupun yang berada di tempat-tempat lain di seluruh tanah air. Semoga dengan memasuki Tahun Baru Saka, umat Hindu di tanah air akan senantiasa memperoleh kedamaian, kesejahteraan, dan kebahagiaan.

Saudara-saudara,
Dharma Santi adalah forum simakerama atau silaturahmi yang memiliki nilai penting dalam mempererat rasa persaudaraan dan kekeluargaan di kalangan umat Hindu. Setelah umat Hindu menjalani proses Nyepi, baik yang bersifat ritual maupun spiritual, umat Hindu dengan penuh kebahagiaan menyambut perayaan ini.

Hari Raya Nyepi telah mengajarkan umat Hindu untuk melakukan tiga hal penting, yaitu memuliakan semua makhluk hidup, mengendalikan diri, dan meningkatkan kesetiakawanan sosial. Memuliakan semua makhluk hidup atau sarwa butani, terkandung maksud untuk meningkatkan kualitas kerja, meningkatkan pengabdian kepada keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara. Di dalamnya juga mengandung makna, bahwa umat manusia tidak boleh hanya berpangku tangan. Tidak boleh hanya berserah diri kepada nasib. Melalui upacara memuliakan sarwa butani, umat Hindu akan senantiasa bangkit, menyongsong hari esok yang lebih baik. Sarwa butani menjadi pendorong untuk meningkatkan etos kerja dan meningkatkan kualitas hidup umat manusia.

Hadirin yang saya hormati,
Umat Hindu sebagai bagian dari keluarga besar bangsa Indonesia dituntut untuk terus dapat mewujudkan peranannya yang lebih kontributif. Bangsa ini memerlukan aksi nyata dari semua umat beragama. Pemerintah memberikan ruang dan peluang yang sama bagi umat beragama di Indonesia untuk dapat meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan bagi para pemeluknya. Oleh karena itu, tradisi membangun disiplin diri sebagai modal utama membangun bangsa, hendaknya terus-menerus diasah dan digelorakan, sehingga mampu menjadi kepribadian yang tangguh umat Hindu dalam mengisi pembangunan bangsa. Dalam melaksanakan pembangunan, kita memang menghadapi berbagai permasalahan yang tidak ringan. Namun saya yakin dengan kebersamaan masalah-masalah itu akan dapat kita selesaikan.

Perayaan Dharma Santi Nasional dapat pula dijadikan momentum untuk merajut persaudaraan yang hakiki, yaitu membangun silaturahmi dan merekatkan hubungan sosial di antara seluruh warga bangsa. Kita tidak akan menjadi bangsa yang besar, jika kita tidak saling percaya, tidak saling perduli, dan tidak berusaha untuk saling membantu. Saya berharap, hubungan persaudaraan yang dijalin melalui Dharma Santi Nasional malam ini, hendaknya terus dialirkan ke ruang yang lebih luas. Jalinan persaudaraan itu hendaknya tidak hanya terbatas pada pemeluk agama Hindu saja, tetapi juga antar pemeluk agama yang berbeda.

Hadirin yang saya muliakan,
Sebagaimana saya katakan tadi, dalam rangkaian Hari Raya Nyepi, umat Hindu senantiasa mengadakan Dharma Santi sebagai wujud rasa syukur dalam menyongsong hari depan yang lebih baik. Dharma Santi bagi umat Hindu, selain dapat meningkatkan kualitas keimanan dan bhakti atau ketakwaan, juga diharapkan mampu mewujudkan kedamaian dalam masyarakat, membangun kedamaian dengan lingkungan alam, dan menjalin hubungan dengan Tuhan Sang Pencipta Alam. Oleh karena itu, nilai-nilai Dharma Santi tetap relevan untuk dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari, kehidupan masa kini dan masa depan.

Dalam kehidupan kita sebagai manusia, terkadang muncul sifat-sifat sombong, egois, ingin menang sendiri, dan seringkali memaksakan kehendak, bahkan merendahkan harkat dan martabat orang lain. Oleh karena itu, introspeksi atau mawas diri, refleksi, dan merenungkan setiap langkah kita dalam kehidupan ini sangatlah diperlukan. Kita tidak boleh melakukan tindakan yang merugikan orang lain, melecehkan, menghina dan memaki orang lain adalah tabiat dan perilaku yang tidak baik. Marilah kita belajar untuk menghargai satu sama lain.

Saudara-saudara,
Dalam ajaran agama Hindu, terdapat ajaran Tri Hita Karana, yang mengandung nilai-nilai universal. Nilai-nilai itu dapat dipedomani dalam upaya meningkatkan wawasan kemanusiaan kita sebagai bangsa yang majemuk. Para pendahulu kita dengan bijak telah mencanangkan sesanti “Bhinneka Tunggal Ika”, yang bermakna memahami keberagaman masyarakat, tetapi sekaligus menyadari kebersamaan dalam satu ikatan kesatuan.

Penghayatan dan pengamalan nilai-nilai Dharma Santi yang bermuara pada ajaran Tri Hita Karana, menurut hemat saya sejalan dengan penghayatan dan pengamalan nilai-nilai Pancasila. Kedua-duanya---Pancasila dan Tri Hita Karana---akan mampu meningkatkan wawasan kemanusiaan, baik ke dalam maupun ke luar. Nilai-nilai Pancasila yang kita junjung tinggi, wajib kita hayati dan kita amalkan. Sila-sila Pancasila harus diamalkan secara utuh, agar kita dapat membangun harmoni, harmoni kehidupan yang bercirikan pluralitas-multikultural. Kita diniscayakan untuk terus membangun kebersamaan, kesetaraan dan kekeluargaan, serta hidup dalam keserasian, keselarasan, dan keseimbangan, baik antara manusia secara individu dengan Tuhan, antara sesama manusia, maupun antara manusia dengan alam dan lingkungannya.

Bangsa kita adalah bangsa yang majemuk. Di antara keragaman agama yang dipeluk oleh bangsa kita, sesungguhnya telah tercipta kerukunan antar umat beragama. Masing-masing pemeluk agama perlu saling menghormati dan saling menghargai satu sama lain. Pancasila dan Tri Hita Karana diharapkan sungguh dapat memperkokoh semangat integrasi bangsa kita, dalam satu wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Hadirin yang saya muliakan,
Sebelum mengakhiri sambutan ini, saya ingin menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Parisada Hindu Dharma Indonesia, atas peran dan aktivitasnya selama ini, terutama di dalam membangun kebersamaan dan kerukunan antar umat beragama, baik di tingkat nasional, regional, maupun internasional.

Kepada seluruh umat Hindu di mana saja berada, sekali lagi saya ucapkan salam bahagia di malam Dharma Santi ini. Mudah-mudahan, Hari Raya Nyepi tahun ini, dapat membangkitkan semangat kita dalam membangun bangsa dan negara kita ke arah yang lebih baik.

Demikianlah sambutan saya. Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa, Sang Hyang Widhi Wasa senantiasa memberikan petunjuk, bimbingan, dan perlindungan-Nya kepada kita sekalian.

Om shanti shanti shanti om.


*****


Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan