Pidato Presiden

Dialog dengan Para Petani, Nelayan, Pembudidaya Rumput Laut, dan Tokoh Masyarakat Nusa Penida

 

TRANSKRIPSI
DIALOG PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
DENGAN
PARA PETANI, NELAYAN, PEMBUDI DAYA RUMPUT LAUT DAN TOKOH MASYARAKAT NUSA PENIDA,
PELABUHAN NUSA PENIDA, 28 APRIL 2007


Gubernur Bali
Bapak dan Ibu sekalian, khususnya masyarakat Klungkung, kita telah mendengarkan tadi wejangan dari Bapak Presiden dan bantuan Bapak Presiden kepada masyarakat Bali yang saya hitung lebih dari 7 Milyar, disamping berupa kapal dan berupa bibit.

Bapak/Ibu, para Hadirin sekalian,
Marilah kita memanfaatkan kesempatan ini. karena kalau kita mengundang Bapak Presiden tidak mudah. Jadi beliau sangat sibuk, sangat padat tugas-tugas beliau, dan saya bersyukurlah beliau berkenan datang ke Nusa Penida ini. Dan untuk menyingkat waktu saya berikan kesempatan barangkali tiga orang dari tokoh-tokoh masyarakat ada yang kami sampaikan jadi petani …, tokoh masyarakat lainnya, atau mungkin dari Koperasi sebagaimana tadi telah kita lihat bersama bantuan-bantuan yang disampaikan oleh Bapak Presiden kepada masyarakat.

Yang pertama saya silakan dari perwakilan. Silakan.

Sdr. Dewa Yusa
Om swuasti astu,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Bapak Presiden Republik Indonesia, Bapak DR. H. Susilo Bambang Yudhoyono beserta Ibu Ani Susilo Bambang Yudhoyono yang kami sangat hormati, demikian pula para Menteri kami sangat hormati. Bapak Gubernur Bali juga kami sangat hormati, Bapak Bupati yang juga sangat saya hormati. Nama saya Dewa Yusa, Pendesa Pekaraman Batu Nuhun. Seperti apa yang diuraikan tadi oleh Bapak Gubernur Bali mengenai beberapa proyek yang telah diresmikan oleh Bapak Presiden Republik Indonesia pada hari ini. Sebagai masyarakat Nusa Penida, diantara proyek-proyek tersebut, salah satunya adalah masalah Dermaga Nusa Penida dan Kapal Ferry Ro-ro.

Dengan diresmikannya proyek Dermaga Nusa Penida, saya sebagai putra Nusa Penida sangat berbangga, bahwa hari ini, Nusa Penida tadinya dibicarakan di media-media adalah sebagai pulau yang terisolir, sekarang telah menyatu dengan daratan Bali. Ini berarti Nusa Penida dan Bali ke depan dari segi ekonomi akan tumbuh berkembang secara bersama-sama. Namun di sisi daripada kemajuan tadi, perlu kita ketahui ada sisi negatif yang tidak mungkin kita harapkan nanti bersama yaitu, dengan dirubahnya suatu apa yang disebut dengan lingkungan buatan yaitu pelabuhan akan berubah pula lingkungan yang lain, yaitu misalnya masalah abrasi pantai. Di kiri kanan sebagai putra Nusa yang ada, yang hidup di pinggir pantai merasakan dari dulu sampai sekarang, betapa ombak laut ganasnya melaut, apalagi dibangunnya pelabuhan dermaga buatan. Sehingga akan tidak kalah penting akan arus yang baru yang disebut dengan arus Turbolensi akan menghantam sisi kiri, dan sisi kanan, Timur dan Barat Nusa Penida, tidak lepas kecipratan Nusa Penida yang lain. Berarti ini akan memerlukan suatu apa, pemikiran-pemikiran terhadap Bapak-bapak yang terhormat, Pak Menteri, terutama Bapak Menteri Lingkungan Hidup.

Nah dalam hal ini, yang saya usulkan kepada Bapak Presiden, bagaimana istilahnya negatif atau penyakit yang sedikit tadi tidak merembet, tidak merusak Nusa Penida. Saya usulkan kepada Pak Presiden supaya dibuat reklamasi pantai, seperti apa yang dipaparkan oleh Pak Gubernur, tetapi laut lebih ganas, arus yang ditimbulkan akibat proyek baru tadi. Untuk istilah, maka senderan multifungsi. Artinya, di sisi lain adalah mengapa sih abrasi, di sisi yang lain sebagai pemelihara lingkungan, sehingga apa yang dikatakan tadi Nusa Penida cantik untuk pariwisata. Demikian juga yang satu, Nusa Penida adalah merupakan masyarakatnya sebagian besar hidup dari laut, sehingga yang saya maksudkan multifungsi tadi adalah senderan yang miring sehingga para nelayan bisa untuk apa namanya mendarati para perahu atau sampannya dengan bagus.

Demikianlah kurang-lebih apabila kurang. Saya tak lupa mengaturkan banyak-banyak terima kasih. Om santi santi santi om.

Presiden Republik Indonesia
Terima kasih Pak Dewa Yusa. Sarannya bagus ya. Memang kita tidak boleh dalam membangun apapun, termasuk infrastruktur melupakan aspek lingkungan, lingkungan hidup, the environment. Sebab kalau tidak, ya tentu menimbulkan masalah baru. Jadi pikirannya bagus dan sesungguhnya semua itu telah dihitung. Membangun sebuah infrastruktur disamping gunanya apa, ekonominya bagaimana, aspek sosialnya seperti apa, aspek lingkungannya atau analisis mengenai dampak lingkungan pun juga telah dihitung. Tetapi memang abrasi harus kita lawan, tidak boleh dibiarkan berlarut-larut, sehingga sesuatu yang indah menjadi rawan.

Di sini ada Menteri Pekerjaan Umum tolong dijelaskan kepada beliau-beliau, apa upaya kita yang sudah kita lakukan selama ini untuk menghadapi abrasi. Bahkan juga saya lihat di Sumatera Barat itu juga ada alat untuk pemecah ombak di sana. Nah khusus di Nusa Penida atau Bali apa yang Saudara Menteri Pekerjaan Umum pikirkan, tentu bersama-sama nanti dengan Pak Gubernur, Pak Bupati untuk kita jalankan secara bersama. Saya persilakan Pak Joko Kirmanto.

Menteri Pekerjaan Umum
Terima kasih Bapak Presiden. Pak Dewa Yusa, saya sangat bangga dan kagum, bahwa Bapak sangat paham mengenai perilaku alam ini. Jadi memang benar, kalau ada sesuatu yang baru itu selalu ada reaksi yang mungkin akibatnya tidak kita inginkan. Oleh sebab itu, untuk sementara saja diamati dulu apa yang telah terjadi, kemudian nanti baru kita lakukan langkah-langkah yang diperlukan.

Sebagai contoh Bapak, itu di Pantai Sanur, itukan juga abrasinya luar biasa dan sekarang Pemerintah telah membuat bangunan-bangunan di sana, sehingga pantai yang kalau tidak dilakukan pembenahan itu akan habis, sekarang justru akan bertambah karena pasir menumpuk di sana. Dalam waktu yang bersamaan, kemarin saya juga sudah melihat di Kuta. Kuta sekarang sedang kita perbaiki dan insya Allah nanti juga abrasi yang sekarang terjadi itu bisa berhenti. Saya kira terima kasih Pak. Tapi saya sangat bangga dan kagum atas pemahaman Bapak.
Terima kasih.

Presiden Republik Indonesia
Saudara-saudara,
Ini bukan hanya di Bali, bukan hanya di Nusa Penida. Kita ingin membangun negeri ini, apakah di Papua, apakah di Kalimantan, apakah di Sulawesi, apakah di Sumatera, itu memenuhi dua tujuan.

Tujuan pertama, rakyat Indonesia, terutama yang masih miskin, terutama yang belum sejahtera, terutama yang masih terbelakang tentu harus kita majukan, ekonominya kita bangun, pertaniannya, perkebunannya dan lain-lain. Tetapi memang di dalam mengembangkan semuanya itu tidak boleh mengabaikan lingkungan, tidak boleh merusak ekosistem yang ada. Indonesia sangat sadar, bahwa itu harus kita lakukan.

Saya sering mendengar suara-suara dari luar negeri yang kadang-kadang berlebihan, seolah-olah kita tidak boleh mengembangkan areal pertanian, perkebunan di pulau ini, pulau itu, karena dianggap merusak lingkungan dan mengganggu lingkungan dunia. Saya kira itu berlebihan, sebab kita pun tahu bagaimana memelihara lingkungan. Tapi yang jelas, Indonesia perlu meningkatkan kesejahteraan rakyatnya, tidak bisa negara-negara lain maju, sejahtera, makmur, kita miskin karena seolah-olah takut kita merusak lingkungan. Dua-duanya penting, lingkungan kita pelihara, tetapi kita bertanggung jawab kepada rakyat kita sendiri, bagaimana meningkatkan kesejahteraan mereka. Dan semangat inilah yang harus kita tuangkan dalam kebijakan, pusat dan daerah.

Mari, mulai dari Pak Bupati, Pak Walikota, Pak Gubernur, Pak Menteri, saya dan kita semua memenuhi dua-duanya. Lingkungan hidup kita baik, negara kita selamat dan dunia selamat, karena bumi harus kita selamatkan secara bersama. Tetapi tentu tidak bisa rakyat Indonesia hidup yang tidak sejahtera sementara negara-negara maju ya, yang keras misalkan jangan ini, jangan itu, mereka rakyatnya sudah makmur. Kita memerlukan keadilan, keadilan bagi semua, tapi kita juga sadar harus mempertahankan, melindungi lingkungan hidup kita sebaik-baiknya.

Demikian tambahan tadi, bahwa semua itu harus kita capai tujuan-tujuan yang baik itu.

Gubernur Bali
Bapak Presiden dan juga Menteri dan saya lanjutkan oleh karena waktu yang sangat terbatas. Beliau jam 12.10 menit akan meninggalkan tempat ini. Jadi silakan yang dibelakang Pak Dewa tadi. Silakan.

Sdr. Nyoman Sumiarta
Om swastiastu,
Bapak Presiden yang saya hormati beserta Ibu, bapak-bapak, para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu yang saya hormati juga,
Nama saya Nyoman Sumiarta. Saya Kepala Desa Pedanpli dan kemudian juga kebetulan sekali sebagai Koordinator Forum Kepala Desa Kecamatan Nusa Penida. Selamat datang di Nusa Penida. Dan tentu ini merupakan saat yang sangat berbahagia sekali bagi saya dan tidak pernah terlintas dalam pikiran saya, bahwa hari ini kami kedatangan Presiden dan saya secara langsung bertatap muka beserta menyampaikan beberapa aspirasi juga kepada Bapak Presiden.

Saya langsung saja, bahwa ada beberapa issu yang ingin saya sampaikan kepada Bapak Presiden terkait dengan keberadaan kami di Kecamatan Nusa Penida. Isu yang pertama, yaitu meskipun tadi Bapak Gubernur sudah dalam laporan beliau mungkin meng-cover segala-segala permasalahan yang ada di Nusa Penida ini. Tetapi maaf juga Bapak Gubernur, kami istilahnya untuk menggunakan kesempatan ini sebaik-baiknya, ingin mempertegas kembali, bahwa pulau Nusa Penida ini, sebab predikat yang masih kental sampai saat ini adalah tentang kekeringannya Pak Presiden. Dimana Nusa Penida, masyarakat Nusa Penida saat ini, dari dulu sampai saat ini, kebutuhan pokok mereka terhadap air itu hanya dipenuhi dari air hujan yang mereka tampung pada saat musim-musim hujan. Padahal musim curah hujan di Kecamatan Nusa Penida ini, khususnya di Pulau Nusa Penida ini, selain memang singkat juga frekuensinya sangat sedikit sekali. Kalau boleh saya katakan, bahwa curah hujan ini hanya, menurut biasanya baru pada bulan Desember sampai dengan bulan Maret, jadi tiga bulan singkat sekali.

Oleh karena demikian, satu hal bahwa masalah air ini merupakan masalah yang sangat mendesak sekali. Dimana masalah air juga merupakan masalah yang nantinya juga efek domino juga pada hal-hal lainnya, bagaimana kita bisa berbicara masalah sektor-sektor riilnya, seperti masalah pertanian secara luas kalau masalah air memang langka di Nusa Penida ini. Oleh demikian, kami sampaikan bahwa di Nusa Penida ada 9 mata air, tetapi kesembilan mata air tersebut semuanya terbuang secara percuma ke laut. Sementara ironis sekali, kita punya sumber mata air, tapi masyarakat Nusa Penida sangat kurang sekali, kebutuhan mereka tidak terpenuhi untuk air tadi.

Oleh Karena itu, kami usulkan kepada Bapak Presiden beserta Menteri-menteri yang terkait untuk sekiranya mempercepat kemungkinan proyek untuk mengatasi masalah air ini secara sering mungkin nantinya, Pusat, Pemprov dan Pemkab, sehingga kebutuhan masyarakat Nusa Penida tentang air dapat dengan segera teratasi.

Sebagai ilustrasi Bapak Presiden, kami sampaikan bahwa Nusa Penida ini meskipun sekarang ini sudah ada PDAM yang mengeksploitasi air dari Penida, namun saya sampaikan bahwa selain kualitas airnya sangat buruk sekali, kualitas air payau. Demikian juga harga yang dinikmati oleh masyarakat Nusa Penida ini sangat mahal sekali, sangat tinggi, 1 meter kubik sampai antara 75.000 sampai 100.000. Sedangkan kalau di daratan mungkin hanya sampai 10.000 per meter kubiknya. Itu satu hal Pak Presiden.

Kemudian masalah lain, ibaratnya seperti sudah jatuh ketiban tangga. Meskipun saat ini ada kapal Ro-ro, Pelabuhan Dermaga di Nusa Penida ini sudah bisa berfungsi, namun sampai saat ini masyarakat Nusa Penida ini masih menikmati harga tinggi, cost tinggi terhadap sesuatu barang, kebutuhan pokok masyarakat Nusa Penida. Oleh karena demikian, kami pertegas lagi permintaan dari pada Bapak Gubernur, permintaan dari pada Bapak Bupati saya yakin sudah berkali-kali menghubungkan permasalahan ini ke pusat, ke Jakarta untuk sekiranya, bahkan Bapak Presiden tadi sudah menyampaikan, mempertegas kembali untuk segera direalisasi pelabuhan sandingan yaitu, yang nantinya akan dibuat di Gunaksa. Dan itu kita harapkan dengan adanya pelabuhan sandingan tersebut, nantinya akan bisa mengangkat perekonomian masyarakat Nusa Penida, khususnya paling tidak nantinya mengurangi ekonomi biaya tinggi masyarakat Nusa Penida dan sekaligus juga menaikkan income atau PAD dari pada Kabupaten Klungkung. Dan juga nantinya, kita harapkan membuat akselerasi terhadap kegiatan-kegiatan ekonomi lannya.

Bapak Presiden yang saya hormati,
Sepertinya kurang afdol rasanya, kalau saya sebagai Kepala Desa dalam hal ini istilahnya tidak menyampaikan aspirasi daripada teman-teman, utamanya perangkat Desa. Oleh karena demikian, maaf kami dengan memberanikan diri menyampaikan, bahwa mungkin kami sitir sedikit sebuah lagu yang sedang kita lihat saat ini, yang penyanyinya kurang saya kenal. Oleh karena itu, saya langsung saja bapak pada saat ini, apa namanya itu staf dalam hal ini Sekretariat Desa, dimana Sekretariat Desa dalam hal ini sesuai yang diatur oleh Perda itu hanya sampai pada 56 tahun lalu apa namanya itu dipensiunkan tanpa adanya sebuah pemikiran bagaimana setelah 56 tahun. Sedangkan logikanya 56 tahun mereka tidak produktif lagi, tidak bisa bekerja yang lain, tetapi tidak ada perhatian yang lain ibaratnya dibuang demikian. Oleh karena itu, mungkin kami tidak tahu apa bisa mungkin ini bisa dibuatkan perlindungannya itu yang terakhir.

Kemudian Bapak Presiden sebenarnya masih banyak lagi yang kami ingin sampaikan. Oleh karena waktu yang singkat, kami mohon izin, bahwa ada beberapa yang saya tulis dengan tangan untuk saya sampaikan kepada Bapak Presiden secara langsung. Saya mohon izin.

Presiden Republik Indonesia
Boleh silakan. Terima kasih Saudara Nyoman Sumiarta ya.

Sdr. Nyoman Sumiarta
Saya tutup Pak Presiden dengan Om santi santi santi om.

Presiden Republik Indonesia
Yang pertama mengenai air. Daerah yang kekurangan air di negeri kita memang ada beberapa, di NTT, NTB, di Bali sendiri, di sebelah Selatan Yogyakarta, misalkan Gunung Kidul, sebelah Selatan Jawa Timur, termasuk kampung saya, Pacitan, Trenggalek itu juga kurang air. Kita terus-menerus meningkatkan supply atau penyediaan air di daerah-daerah tandus dan kering seperti itu. Memang memerlukan teknologi khusus, memerlukan saluran distribusi khusus dan memerlukan cara-cara mengatasinya yang khusus pula.

Yang senang saya, tadi saya bicara dengan Pak Menteri PU. Ada sumber-sumber air di Nusa Penida ini. Oleh karena itu, tolong Pak Joko, Pak Made Brata, Pak Bupati, dan Pak Camat dan Pak Kepala Desa dibicarakan. Kemudian sebulan dari sekarang, tolong diberi tahu saya bagaimana konsepnya, konsep mengatasi masalah itu, mana yang menjadi prioritas dengan cara apa? Sebab ya ironis, orang mungkin tidak percaya, pulau dikelilingi air, kok susah air begitu, satu air asin, yang kita perlukan air yang tidak asin. Coba dibicarakan seperti apa? Nanti upaya kabupaten, upaya Provinsi, dan upaya Pemerintah Pusat kita satukan ya. Tentu dengan prioritas dan tahapan seperti apa. Ini juga terjadi di daerah lain Saudara-saudara, kita juga menghadapinya dengan prioritas dan tahapan sesuai dengan kemampuan anggaran kita, tetapi mesti ada solusinya.

Yang kedua, sudah saya jelaskan tadi, bahwa Pemerintah Pusat tentunya, bekerja sama dengan Pemerintah Daerah akan segera membangun dermaga sandingan. Jangan salah kutip wartawan ya, saya tidak berjanji, saya tidak berjanji, tetapi kita ingin Pemerintah dalam dua tahun ini bisa mewujudkan apa yang menjadi kebutuhan saudara untuk dermaga sandingan. Saya sudah ditunjukkan tempatnya di sebelah sana tadi. Jadi sekarang tahun 2007 Pak Hatta Rajasa, 2008 lah kalau bisa diwujudkan karena penting sekali untuk saudara-saudara kita di Nusa Penida. Kita berusaha sekuat tenaga, saya minta dukungan semua untuk mewujudkan itu.

Yang ketiga, masalah status, masalah kebijakan pensiun dan lain-lain. Saudara-saudara,
Anggaran yang kita keluarkan untuk gaji pensiun, baik kepada pegawai negeri, maupun yang lain-lain dalam pembiayaan negara itu besar, makin ke depan makin besar, tapi memang harus, karena bagaimanapun negara harus meningkatkan kesejahteraan rakyatnya, baik yang dengan skema gaji, maupun yang tidak terima gaji dengan cara-cara yang kita tetapkan dalam kebijakan kita. Itu yang pertama.

Yang terjadi adalah memang di waktu yang lalu belum ada skema kebijakan bagaimana tata cara seseorang yang tidak berstatus dalam Pegawai Negeri Sipil, kemudian mengakhiri masa baktinya. Saudara mengatakan tadi, bagaimana Pak, usia 56 tahun kan tidak produktif, bagaimana kalau tidak ada santunan apapun untuk kelanjutannya. Itulah yang sesungguhnya sekarang yang sedang dibicarakan antara Departemen Dalam Negeri, Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan pihak-pihak terkait, saya tahu karena saya pernah dilaporkan pada saya dalam satu Sidang Kabinet Terbatas untuk mencari solusi, untuk mencari jalan keluar, kebijakan seperti apa yang tepat.

Kebijakan ini harus berlaku terus, tidak boleh musiman, ganti pemimpin, ganti kebijakan, kasian nanti. Oleh karena itu, karena baru belum ada dalam Undang-undang sebelumnya, belum ada dalam aturan sebelumnya, kita rumuskan dengan baik, dengan cermat. Dengan demikian, sekali kita tetapkan kebijakan baru itu akan berlaku selanjutnya dan menjadikan kepastian, serta tepat adanya.

Saya lebih senang seperti ini kalau Kepala Desa menyampaikan pikiran-pikiran dan pendapat daripada terlalu sering berunjuk rasa. Saudara meninggalkan rakyat ke Jakarta terlalu sering, biayanya mahal, darimana uangnya, kemudian masalahnya apa? Ini senang sekali saya disampaikan seperti ini kita bahas bareng-bareng, kita carikan solusinya. Saya kira itu lebih mulia, rakyat tidak ditinggalkan pemimpinnya, masalahnya sampai dan kita carikan jalan keluarnya.

Ini terima kasih tadi apa namanya, surat cintanya tadi. Tapi percayalah Saudara-saudara, kita terus mencari solusi pada masalah-masalah yang memang belum ada aturannya di waktu yang lalu, belum ada Undang-undangnya, tetapi tidak berarti kalau tidak ada undang-undang lantas tidak bisa kita carikan jalan keluarnya. Itulah tujuan Pemerintah, itulah tujuan diadakannya negara dan juga kerjasama di antara Pusat dan Daerah.

Saya kira demikian Pak Gubernur yang saya sampaikan. Dan saya harus melanjutkan kegiatan di Pulau Dewata ini. Sampaikan salam saya kepada saudara-saudara yang tidak sempat hadir di tempat ini. Dan sekali lagi, semoga Tuhan Yang Maha Kuasa memberikan bimbingan, petunjuk kepada kita semuanya. Nusa Penida seperti yang diharapkan tadi akan maju berkembang, lingkungannya tidak rusak, adatnya tidak rusak, tetapi kesejahteraannya makin meningkat.

Terima kasih.
Selamat berjuang.


*****



Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan