Pidato Presiden
Sambutan Pembukaan Simposium Nasional Pemuda Indonesia
TRANSKRIPSI
SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
PERESMIAN PEMBUKAAN SIMPOSIUM NASIONAL
PEMUDA INDONESIA
CONVENTION HALL SILAE BEACH, PALU-SULAWESI TENGAH
30 APRIL 2007
Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Selamat malam,
Salam sejahtera untuk kita semua,
Yang saya hormati Saudara Menteri Pemuda dan Olah Raga, salah satu putra terbaik Sulawesi Tengah, para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu, Saudara Gubernur Sulawesi Tengah, Saudara Ketua Umum KNPI, para Pejabat Negara, baik dari unsur Eksekutif, Legislatif, Yudikatif maupun TNI Dan Polri, baik dari Sulawesi Tengah maupun dari wilayah lain, para Narasumber, para Pimpinan dan Pengurus KNPI Pusat dan Daerah, para Pimpinan OKP,
Hadirin Peserta Simposium yang saya muliakan,
Marilah sekali lagi pada kesempatan yang baik dan insya Allah penuh berkah ini, bersama-sama kita panjatkan puji dan syukur ke Hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, Allah SWT karena kepada kita masih diberi kesempatan, diberikan kekuatan dan kesehatan untuk melanjutkan karya dan pengabdian kita kepada bangsa dan negara tercinta. Kita juga bersyukur pada malam hari ini dapat menghadiri Simposium Nasional Pemuda Indonesia yang bertemakan Resolusi Konflik.
Tema ini tepat, tepat zaman dan saya memberikan penghargaan yang tinggi atas prakarsa KNPI untuk menyelenggarakan simposium yang menurut pendapat saya menjadi bagian penting dalam kehidupan kita masa kini, masa depan, kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Bahkan Saudara-saudara, resolusi konflik ini bukan hanya menjadi keperdulian kita, bangsa Indonesia, bangsa-bangsa lain pun di dunia juga sedang bergumul untuk mengelola konflik sebaik-baiknya, sedamai mungkin di banyak belahan dunia.
Tadi malam di Denpasar, Bali, saya membuka dan memberikan sambutan yang disebut dengan Konferensi Internasional Parlemen Sedunia (IPU), Inter- Parliamentary Union yang melaksanakan Sidang di Indonesia. Harusnya sidang itu dilaksanakan di Bangkok, Thailand karena ada masalah-masalah poilitik yang mengganggu demokrasi di negeri itu, maka pelaksanaannya dialihkan ke negeri kita.
Saya sampaikan tadi malam di depan ratusan Pimpinan DPR dari seluruh dunia itu, ajakan saya untuk bersama-sama menjadi bagian dari resolusi konflik antara lain dengan mengembangkan dialog antar agama, antar keyakinan, dan antar peradaban. Sebelumnya di Helsinki, Finlandia dalam Forum Pimpinan ASEM (Asia Eropa Meeting) yang dihadiri oleh para Presiden, Perdana Menteri, saya mendapat kehormatan waktu itu juga untuk menyaksikan tentang Inter-Civilization Dialogue, termasuk peran Indonesia dalam resolusi konflik. Dan ternyata ajakan saya kepada pemimpin dunia itu juga mendapatkan sambutan yang konstruktif, karena pada hakekatnya kita ingin mengelola semua persoalan di dunia ini dengan sebaik-baiknya.
Saya pernah sampaikan di Perserikatan Bangsa Bangsa tema yang sama, membangun jembatan antar peradaban, bersama-sama mengurangi kemiskinan, bersama-sama membangun keadilan dunia, dan lain-lain. Oleh karena itu, sekali lagi terima kasih saya pada KNPI, karena tema ini sungguh tepat dalam negeri maupun peran internasional kita di seluruh dunia.
Saudara-saudara,
Kalau kita punya kesadaran yang makin tinggi, bahwa konflik itu tidak bisa dihindari, akar konflik ada dimana-mana, apalagi bangsa yang majemuk dengan proses dan jejak sejarah yang sama-sama kita alami. Menyadari bahwa negara kita tidak sepi dari konflik, jauh lebih baik daripada kita menganggap ringan bahwa negara kita akan baik-baik saja, akan rukun-rukun saja. Dengan menyadari ini, maka kita bisa melakukan langkah-langkah terbaik, seelok-eloknya kita bisa mencegah konflik itu. How to prevent conflict? Apabila konflik terjadi, bagaimana kita mengelolanya dengan cara-cara yang tepat, adil, dan beradab? Sedamai mungkin, as peaceful as possible. Setelah kita tanggulangi, katakanlah kita selesaikan konflik yang sedang berkecamuk, ada pekerjaan lanjutan, bagaimana kita mengelola keadaan pasca konflik itu? Bentangan inilah yang harus kita pahami, spektrum dari kiri sampai kanan sejak conflict preventions sampai dengan post conflict reconstruction menjadi sangat penting untuk kita jalankan bersama-sama, jika ada konflik-konflik yang terjadi di negeri tercinta ini.
Saudara-saudara,
Tidak ada satu pun model yang dipilih oleh, katakanlah masyarakat di negeri kita dalam mengelola konflik, menyesaikan konflik yang juga bisa diterapkan di tempat-tempat yang lain. Tidak mungkin persis sama, ada keadaan yang khas, ada karakter yang berbeda, semangat zaman yang juga tidak sama, meskipun prinsip-prinsip dasar, ada fundamental yang mesti kita pedomani, jika kita ingin menyelesaikan konflik. Demikian juga pada tingkat dunia, konflik di Timur Tengah, konflik di Afrika, konflik di Asia Timur, konflik di Amerika Latin, di Eropa berbeda-beda pula cara mengelolanya. No single model yang bisa kita impor ke dalam negeri untuk menyelesaikan konflik yang terjadi di tempat-tempat yang lain.
Saudara-saudara,
Dalam perjalanan sejarah kita kalau kita tengok masa lalu, konflik yang ada di negeri kita ini, jadi kalau kita tengok sejarah di waktu yang lalu, kalau kita bicara konflik, konflik yang pertama adalah konflik kedaulatan. Ingin memisahkan diri, ingin mengambil alih kekuasaan, berdaulat sendiri, kedaulatan dalam arti luas begitu. Tetapi juga ada ragam konflik yang juga terjadi di negeri kita, bahkan akhir-akhir ini kelihatan mengemuka sejalan dengan demokratisasi dan gerak kebebasan yang makin mekar, yaitu benturan antar identitas.
Dulu di waktu orde baru kita kenal dengan Sara, masih ingat ya. Konflik karena suku, agama, ras, antar golongan, antar daerah dan lain-lain. Sekarang memang, meskipun tidak dikenal dengan istilah sara lagi, tapi hakikatnya tetap, conflict between identities, identitas yang berbeda, baik di dalam negeri ataupun lintas negara. Karena kita bangsa yang majemuk, dari Sabang sampai Merauke, 220 juta, 17 ribu sekian pulau, proses sejarah yang bergantian. Akar konflik, sumber konflik kita ini sungguh beragam yang bisa dilihat dari perspective identity.
Oleh karena itu bagus, kalau sekarang kita sadar bagaimana kita mengelola perbedaan ini dengan baik. Bagus kata-kata Saudara Hasanudin, perbedaan itu berkah, perbedaan itu kekayaan, kalau kita biasa hidup dalam perbedaan. Marilah kita lihat dari segi itu. Dengan demikian, hati kita siap, mental kita siap. Kalau kita mengemban amanat pemimpin negeri ini, apakah menjadi Bupati, Gubernur, Menteri, Presiden, Wakil Presiden, tokoh-tokoh pemuda, kita paham bahwa ada benih-benih konflik, mari kita lihat secara wajar, kemudian yang penting bagaimana perbedaan itu menjadi indah, karena bisa kita hidup di dalam iklim yang disebut penghormatan kepada pluritas dan multikulturalitas. Inilah yang ingin saya sampaikan berkaitan dengan the nature of conflict di negara kita, hakekat konflik yang ada di negara kita.
Saudara-saudara,
Sebelum reformasi, sebelum tahun 1998, saya kira banyak yang menjadi saksi di antara kita ikut terlibat mengelola konflik. Konflik juga terjadi di banyak tempat di negeri ini. Kita masih ingat tahun 1995,1996,1997, sebelum 1998, ada konflik dan kekerasan misalkan di Kalimantan, di Sulawesi, di Jawa Timur, di Sumatera, Aceh waktu itu masih sangat rentan, Papua juga belum stable dan di tempat-tempat lain. Setelah reformasi terjadi 1998, 1999, kita ingat kembali muncul Sampit, muncul di Poso, di Ambon, muncul di Ternate dan di tempat-tempat yang lain meskipun muncul dalam skala yang lebih kecil. Kembali di situ, kita melihat bahwa akar konflik karena indentitas menjadi lebih mengemuka dibandingkan konflik pada tahun 50-an, 60-an yang masih diwarnai dengan separatisme–separatisme, kemudian tindakan-tindakan untuk mengambil alih kekuasaan di negara kita ini.
Kita semua mengalami, suka duka, pasang surut. Saya ingat empat sampai lima kali datang ke tempat ini, ke Palu, ke Poso, ke Tentena, dan tempat-tempat lain berkali-kali datang ke Ambon, ke Ternate, bahkan sebelum Malino saya dan Pak Jusuf Kalla waktu itu dan beberapa teman-teman yang lain, mondar-mandir ke tempat ini untuk bagaimana mencari solusi yang terbaik. Tidak mudah, tidak mudah, tetapi dengan kesabaran, dengan ketegaran, dengan keteguhan pada tujuan, dengan pendekatan yang tepat, dengan lobby, dengan second tract dialogue, dan lain-lain, setahap demi setahap kita mengalami kemajuan dan akhirnya kondisi makin berubah.
Saya pernah punya pengalaman yang unik juga waktu menyelesaikan kasus kekerasan dan konflik komunal di Sampit misalnya. Begitu kerasnya, tetapi dengan pendekatan yang sangat genuine, kegiatan di bawah permukaan, pendekatan-pendekatan pribadi, maka yang sangat keras waktu itu melibatkan dua suku yang ada di Kalimantan Tengah. Alhamdulillah, kita bisa selesaikan, juga demikian dengan kejadian-kejadian di tempat yang lain. Papua, Aceh. Saudara melihat sekarang, seraya bersyukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, seraya berterima kasih kepada semua yang ikut mengambil bagian pada resolusi konflik. Terima kasih kepada semua pejabat-pejabat juga melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya. Tidakkah kita rasakan bahwa keamanan di seluruh negeri ini makin ke depan makin baik.
Bayangkan situasi 1997, 1998, 1999, 2000, 2001. Kalau kita pandai bersyukur ke hadirat Allah SWT, kita harus jujur mengatakan alhamdulillah makin baik. Jangan dirobek kembali suasana yang begini baik, yang tenang, damai, penuh dengan kerukunan. Itu adalah apa yang kita rasakan. Saya tidak ingin bercerita lebih panjang lagi dari itu, soal pengalaman bangsa ini mengelola dan menyelesaikan konflik.
Saudara-saudara,
Terutama para pemuda harapan bangsa suatu saat yang berjaket biru ini juga berdiri di sini, Amin. Duduk di sebelah kanan depan, di kiri depan, jika mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya. Tidak akan datang. Saya juga merangkak dari bawah, jatuh bangun sejak awal 30 tahun mulai mengelola pada tingkat nasional, alhamdulillah diberikan tanggung jawab, diberikan peran, diberikan ujian, cobaan yang luar biasa sampai akhirnya Allah memberikan amanah, rakyat memberikan kepercayaan seperti ini, meskipun tugas ini maha berat, tidak mudah. Tetapi dengan proses ini saya yakin adinda, para pemuda, mahasiswa, pelajar pada saatnya nanti akan meneruskan estafet kepemimpinan bangsa dan negara tercinta ini.
Ada lima pilar yang mesti kita ketahui kalau kita ingin mengelola konflik dengan baik. Pilar pertama yang paling murah, yang paling baik adalah apabila kita bisa mencegah konflik, conflict preventions it’s much much better dibandingkan apabila terjadi kekerasan. Saya belum cerita waktu saya bertugas di Bosnia Herzegovina, saya menyaksikan betapa porak porandanya bekas Yugoslavia terpecah-belah, bahkan sekarang Kosovo pun belum selesai, karena ya tidak bisa dielakkan lagi. Berserakan, bermusuhan, berhadap-hadapan terlibat dalam perang saudara. Mari kita cegah konflik yang menjurus kepada, katakanlah kekerasan-kekerasan besar, apalagi semacam civil war yang terjadi di negara lain atau dulu pernah dalam skala yang, katakanlah yang memprihatinkan juga terjadi di negara kita.
Kalau tahu daerah-daerah ini rawan konflik, Kabupaten A, Kabupaten B, Provinsi 1, Provinsi 2. Mari, mulai dari pimpinan daerahnya Pak Gubernur, Pak Walikota, tokoh agama, ulama, tokoh adat, semuanya, pemudanya berusaha untuk tidak membiarkan kalau ada keganjilan-keganjilan, ada, katakanlah perkelahian antar pemuda, kalau berbeda identitas itu bisa jadi. Jangan menganggap ringan sesuatu. Jangan seolah-olah akan baik-baik saja. Peka, waspada, tetapi juga tidak perlu kita kelihatan over acting di dalam mengelola kerukunan, ketertiban, dan keamanan di sebuah wilayah. Tapi saya menekankan, mari kita lakukan tindakan pencegahan sebaik-baiknya. Jadi pertama, prevensi atau pencegahan.
Yang kedua pilarnya, menyelesaikan konflik sedamai mungkin. Mari kita selesaikan secara damai, peaceful conflict resolutions, bisa, bisa. Saya sering berkomunikasi dengan para pimpinan dunia. Minggu lalu, saya berkomunikasi dengan Perdana Menteri Siniora, kemudian ada utusan dari Eropa kemarin saya terima, dari Serbia saya terima, Perdana Menteri Turki berencana akan menelepon saya, semua adalah berkaitan dengan conflict resolutions.
Pesan saya, saya harapankan kepada beliau-beliau, tolong selesaikan secara damai. Menyelesaikan konflik dengan menghadirkan kekuatan militer, hard power itu bukan cara-cara yang tepat dan bermartabat. Hampir pasti akan lebih besar korbannya, lebih besar korbannya, hindari. Soft power yang kita gunakan, negosiasi, musyawarah, lobby, pendekatan, mencari jalan keluar dan lain-lain daripada harus saya kuat mau apa? Saya bisa menang mau apa? Tidak boleh, akan terjadi perusakan di bumi ini di dunia ini, termasuk di negeri ini.
Tolong siapapun yang mengemban amanah, termasuk TNI, Polri, Intelejen, semua, mari kita selesaikan konflik secara damai. Ada yang mengkritik saya, SBY kurang tegas, sikat saja, libas saja, babat saja. Yang dibabat itu siapa? Saudara-saudara kita sendiri. Yang namanya tegas, bukan main sikat, sikat yang di Aceh, sikat yang di Papua, sikat yang di sini. Tegas itu pada prinsip, tegas memenuhi aturan konstitusi, tegas mempertahankan Undang-Undang, tegas tidak berkompromi pada kejahatan, korupsi dan lain-lain. Tegas itu di situ, bukan main sikat, main babat yang penting hebat bukan, bukan. As peaceful as posible.
Yang ketiga, tidak ada negoisasi tanpa take and give. Nggak bisa kita damai ya, tapi kamu begini-begini. Begini, lho kok yang sana habis-habisan terus sininya tidak, take and give, memberi dan menerima, kompromi yang baik. Ketika saya harus mengambil keputusan yang tidak mudah karena prokontra-prokontra waktu itu, masalah Aceh saja. Ya tidak mungkin, kalau kita tidak ada semacam negosiasi. Tapi saya tidak pernah mengkompromikan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Saya tidak pernah mengkompromikan penyelesaian konflik di negeri ini, kalau harus menurunkan Sang Saka Merah Putih. Saya tidak akan mengkompromikan selesai konflik, kalau Pancasila harus ditinggalkan, kalau melanggar konstitusi. The principal harus saya pegang teguh. Di luar itu, mari kita bicarakan, bagaimana pekerjaannya nanti, bagaimana reintegrasinya nanti, bagaimana solusi sosialnya, bagaimana ekonominya dan lain-lain. Tapi harus ada take and give, negara manapun.
Menteri Luar Negeri Korea Utara kemarin datang ke saya, inginlah negara Indonesia juga ikut dalam penyelesaian masalah di Semenanjung Korea. Sama, take and give. Demikian juga Hamas dengan Fatah yang di Palestina, kami juga komunikasi terus. Bagaimana yang terbaik, dengan demikian bisa mncapai tujuan yang diinginkan.
Pilar yang keempat adalah leadership, kepemimpinan. Tidak boleh ketika konflik diselesaikan pemimpinnya antara tahu dan tidak tahu, pemimpinnya “Saya tidak ikut-ikutan,” lho kok pemimpin nggak ikut-ikutan. Pemimpin bertanggung jawab. Aceh kemarin, saya dengan pak Jusuf Kalla terus siang dan malam, ikut mengelola, meskipun tidak muncul, yang muncul adalah juru rundingnya, delegasinya. Tetapi saya sebagai Presiden bertanggung jawab, bahwa ini solusi terbaik daripada pertumpahan darah selamanya yang penting NKRI tetap berkibar, tetap tegak, dan Merah Putih tetap berkibar. Keputusan saya ambil, saya bertanggung jawab, saya memberikan payung, saya berikan sampai selesai tujuan itu, leadership. Tidak, wah itu kan Pak, itukan Menteri, wah saya tidak ikut-ikutan. Tidak bisa. Demikian juga tingkat Provinsi, Pak Gubernur bertanggung jawab, di Kabupaten, Pak Bupati bertanggung jawab. Itu leadership. Dengan tanggung jawab yang juru rundingnya senang, Pak Presiden memberikan restu, Presiden bertanggung jawab, Presiden bisa menjelaskan ke DPR, menjelaskan ke pihak-pihak lain yang katakanlah maunya sikat dan libas, bisa seperti itu. Tenang. Leadership is very important. Mari kita belajar dari itu.
Kemudian yang kelima, pilar yang kelima atau pilar terakhir, banyak pilar, nanti simposium ini saya kira ketemu lebih banyak pilar lagi. Tapi pilar kelima adalah post conflict management. Tidak bisa selesai rundingan, teken-tekenan selesai. Tidak. Aceh, kemarin Perdana Menteri Swedia ketemu saya, beliau dari Aceh. Bagus, memuji begini, begitu, tapi saya dengar kok masih ada sedikit jarak antara former GAM katanya beliau, jadi saudara-saudara kita yang dulu di pihak GAM dengan kita dari TNI Polri pada waktu itu.
Saya katakan wajar, tidak ada di negara manapun di dunia ini begitu tanda tangan langsung mulus. 30 tahun kita konflik di Aceh. 2005 kita teken, 2006 masih kita kawal, 2007, 2008 menurut pendapat saya satu, dua, tiga tahun mesti kita kawal. Semua harus menahan diri, trust building, membangun kepercayaan kembali dan seterusnya dalam naungan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Mesti, kalau tidak yang istilahnya bisa terjadi lagi. Terus kawal. Poso, alhamdulillah terus dikawal, Ambon terus dikawal, Aceh, Papua. Jadi jangan menganggap sudah selesai, karena provokator datang dan pergi. Agitator setiap saat bisa muncul dengan kepentingannya sendiri-sendiri. Ngomong enteng, ceplas ceplos, masyarakatnya bergejolak, tabrakan sana sini, tidak bertanggung jawab dia. Kita harus bertanggung jawab apa yang kita omongkan, apa yang kita ambil untuk rakyat sekarang dan ke depan. Itulah pemimpin dan bukan agitator dan provokator. Saya minta semua memahami ini, kawallah penyelesaian konflik yang sedang berjalan.
Saudara-saudara,
Kalau pikar-pilar itu dipegang, silakan dikembangkan dengan kreatifitas, dengan seni, dengan iniovasi, insya Allah seberat apapun konflik itu, there must be a solution. Iraq, ketika saya bertemu Presiden Bush di Bogor, jauh sebelum sekarang ribut seperti ini, geger seperti ini. Iraq itu masa depannya harus diserahkan kepada bangsa Iraq sendiri. Direkonsiliasikan, ditemukan, dibangun pemerintahnya, kemudian tentara yang tidak perlu di sana harus mundur, kemudian diganti tentara yang diterima oleh bangsa Iraq dan kemudian dilanjutkan dengan rekonstruksi dan rehabilitasi. Sama dengan yang kita lakukan di Indonesia. Saya sampaikan seperti itu. Sekarang keadaannya makin sulit. Mudah-mudahan semua pemimpin di dunia ini sadar, bahwa peaceful resolutions itu jauh lebih baik daripada menggunakan kekuatan militer, daripada menggunakan yang saya sebut dengan hard power.
Saudara-saudara,
Yang terakhir, ini penting kaitannya bagaimana demokrasi di negeri ini berkembang, kebebasan di negeri ini kita mekarkan, karena kalau tidak pandai-pandai mengelola ini akan terjadi konflik-konflik lagi di negara kita. Ingat sebelum 1998 dulu, cara mempertahankan stabilitas nasional kita itu dengan cara-cara yang mengedepankan tindakan keamanan, cara-cara yang otoritarian, yang penting stabil, aman, tidak macam-macam, pembangunan bisa kita laksanakan, dikontrol. Ketika reformasi terjadi, lepas kontrol ini, kemerdekaan ada dimana-mana, kebebasan dimana-mana seolah-olah tidak ada norma dan aturan, terjadilah negara kita seperti yang kita rasakan 1999, 2000, 2001 dan seterusnya.
Seolah-olah dalam demokrasi, dalam alam kebebasan tidak diperlukan, stabilitas, tidak diperlukan keamanan, tidak diperlukan ketertiban, itu salah. 100 % salah. Di negara manapun di negara super liberal pun, demokrasi Barat pun diperlukan stabilitas, stability, order, ketertiban, rule of law, pranata hukum, toleransi di antara kita. Oleh karena itu, saya mengajak rakyat Indonesia melalui mimbar yang mulia ini, mari kita selamatkan demokrasi kita. Mari kita selamatkan kebebasan kita, kebebasan yang memelihara akhlak, kebebasan yang memberi manfaat bagi rakyat Indonesia. Kebebasan yang menghancurkan negara kita sendiri, tentulah bukan kebebasan yang kita pilih, bukan kebebasan yang kita tuju. Mari kita selamatkan negeri kita. Jangan kita menjadi bangsa yang merugi. Kita ingin ekonomi tumbuh, kesejahteraan meningkat, investasi bergerak seperti negara-negara lain yang aman, yang damai, yang tenang, akhirnya terjadilah pertumbuhan ekonomi, kita ingin. Kalau kita ingin seperti itu, mari kita jaga negeri kita stabillitasnya, keamanannya, ketertibannya, seraya tetap memelihara nilai-nilai demokrasi, seraya tetap memelihara kebebasan yang dijamin menurut hak-hak asasi manusia yang ada dalam Undang-Undang Dasar yang kita anut. Kebebasan bukan tanpa batas, demokrasi tidak harus dimaknai demokrasi yang super liberal, keluar dari tata krama, keluar dari norma-norma yang hanya merusak diri kita sendiri.
Saya di Kuala Lumpur ditanya, saya kira ada yang mendampingi saya. Pak Presiden, kami ingin bekerja sama dengan Indonesia ini forum besar di Kuala Lumpur, para pelaku dunia usaha sedunia waktu itu. Tapi saya gamang, saya takut ke Indonesia, saya lihat tayangan televisi, media massa isinya kerusuhan, unjuk rasa, lempar-melempar, kebakaran dan lain-lain. Sebenarnya negeri Bapak ini bagaimana sih? Apakah sudah bisa kami melaksanakan kerjasama ekonomi. Masya Allah, seperti itu yang ditangkap oleh dunia, merugi di negeri sendiri, zalim kepada negeri sendiri, karena kita tidak pandai-pandai menjelaskan gambar yang betul, keadaan yang betul. Kita tidak boleh berbohong, memang masih ada kemiskinan, masih ada pengangguran, masih ada yang belum baik, masih ada korupsi, masih ada kekerasan di sana-sini, beberapa tempat gitu, masih ada kerusuhan-kerusuhan lokal, tetapi menggambarkan Indonesia dari hari ke hari siang dan malam tidak aman, tidak tertib, rusuh, zalim pada diri sendiri.
Mari kita jernih melihat negeri kita sendiri. Saudara-saudara, lama kita memperbaiki, kita menjadi pelaku, saya menjadi pelaku sejak 98, 99, 2000, 2001, 2002, alhamdulillah makin baik. Mengapa tidak kita syukuri, kita kelola. Menceritakan kepada dunia. Hei dunia bangsa Indonesia jangan kau remehkan, jangan dianggap bangsa yang begini, kami terhormat, kami bangsa yang besar, kami sanggup membangun negeri kami, kami sanggup memajukan negeri kami. Begitu cara menyampaikan. Jangan sebaliknya, malu, sakit.
Saudara-saudara,
Ingat segitiga demokrasi yang teduh. Pertama, kebebasan. Kebebasan tidak bisa kita balik mundur. Kebebasan melekat pada kemanusiaan, pada kehidupan kita. Kebebasan yang tidak menabrak kebebasan saudara-saudara kita yang lain, freedom, we need freedom. Dengan kebebasan kita bisa mengelola, bisa mengkoreksi, bisa melakukan kontrol dan lain-lain. Tapi itu satu pilar saja.
Pilar yang kedua, rule of law. Tidak boleh kebebasan, eh Pak Gubernur A korupsi 100 milyar masukan koran besok, kan saya bebas ngomong. Rule of law. Yang dituju korupsi, mencemarkan nama baiknya bawa ke pengadilan. Begitu caranya, kalau tidak ada solusi yang lain. Rule of law. Ada seorang Pidato, Hei ini Bupati ini goblok begini-gini, gini semua dengar, ada rule of law. Pencemaran nama baik. Itu Gubernur itu seratus milyar digunakan untuk pribadinya, berita bohong, ada aturannya. Itu bukan otoritarian, itu bukan zalim, bukan diktator. Yang namanya diktator, ada orang seperti itu ditangkap dimasukan sel tanpa peradilan, entah bagaimana. Ya diktator tidak boleh terjadi di negeri kita. Tapi rule of law harus hadir supaya masing-masing bisa mengontrol dirinya dengan baik tanpa harus memfitnah, menjatuhkan, menghantam orang-orang yang lain, rule of law dan toleransi. Freedom atau kebebasan kaki yang pertama. Kaki yang kedua, rule of law. Kaki yang ketiga, toleransi.
Ingat dulu ada karikatur Nabi Muhammad. Jadilah geger dunia itu. Tidak boleh atas nama kebebasan melakukan sesuatu yang melukai perasaan pihak lain. Itulah saya dengan Norwegia menyelenggarakan Inter-media Dialogue dilaksanakan di Bali, mengundang wartawan dari banyak negara untuk mendiskusikan seperti apakah fredom of the press itu. Freedom of the speech itu ada aturannya di negara manapun juga. Kalau ketiga-tiganya ada kebebasan makin mekar kita nikmati, tapi juga ada rule of law, tatanan hukum, kepatuhan hukum, ada toleransi di antara kita semua. Saya yakin kita membangun demokrasi secara benar, demokrasi kita membikin negeri makin teduh. Kalau teduh, aman, damai, ekonomi bergerak. Kalau ekonomi bergerak, kalau ekonomi bergerak, tumbuh pengangguran berkurang, kemiskinan berkurang, pendidikan meningkat, kesehatan meningkat dan lain-lain. Dan kalau ini demokrasi kita dalam lingkungan yang harmonis, maka konflik, identitas, permusuhan yang menyebabkan sesuatu yang lebih besar lagi bisa kita cegah.
Inilah yang ingin saya sampaikan, ketika kita melihat konflik dalam dimensi yang lebih luas lagi. Mari pilar-pilar tadi 1, 2, 3, 4, 5 baik untuk direnungkan. Silakan untuk dikembangkan sendiri. Silakan didengar pendapat dari semua pihak. Banyak sekali tokoh-tokoh di negeri yang memiliki pengalaman yang banyak dalam mengelola konflik yang menjadi solusi. Pilihannya adalah apakah di antara kita para pemimpin, para tokoh atau yang menamakan dirinya pempimpin ingin menjadi bagian dari solusi di negeri ini atau kebahagiannya menimbulkan masalah-masalah, mengagitasi, memprovokasi, sehingga bukan reda konflik itu, tapi malah menjadi-jadi. Pilihan itu ada pada orang-seorang, tapi saya mengajak sebagai seorang yang mengemban amanat, marilah kita menjadi bagian dari solusi, karena itu membawa manfaat bagi saudara-saudara yang lain.
Saudara-saudara,
Itulah yang saya sampaikan dan akhirnya dengan memohon ridho Tuhan Yang Maha Kuasa, Allah SWT, seraya mengucapkan ”Bismillahirrahmanirrahim” Simposium Nasional Pemuda Indonesia yang bertemakan Resolusi Konflik dengan resmikan saya nyatakan dibuka.
Sekian.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
*****
Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan



