Pidato Presiden
Pengarahan pada Acara Makan Siang Bersama Buruh se-Sulteng di Halaman Pabrik PT Cocoa Perkasa Sulawesi
TRANSKRIPSI
PENGARAHAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
MAKAN SIANG BERSAMA BURUH PABRIK SE-SULTENG
PALU, SULAWESI TENGAH
1 MEI 2007
Sebelumnya, saya mengajak untuk menyanyi bersama. Lagu ini diciptakan oleh sebuah grup musik di Indonesia yang terkenal pada zamannya, barangkali sekarang sudah cukup senior. Kita kenal semua Koes Plus kenal ya? Saya pilih nyanyian yang paling mudah untuk kita nyanyikan bersama, namun indah, yaitu lagu yang berjudul Manis dan Sayang.
(Presiden bernyanyi)
Tersenyum dianya padaku, manis, manis
Kubelai rambutnya yang hitam, sayang, sayang
Alangkah senang hatiku, bilaku dekat denganmu
Alangkah senang hatiku, sayangku hanya padamu
Kuingin tamasya bersama, jauh, jauh
Melihat pemandangan alam, indah, indah
Alangkah senang hatiku, bilaku dekat denganmu
Alangkah senang hatiku, sayangku hanya padamu
Terima kasih. Tepuk tangan yang meriah. Pak Gubernur, Bapak satu lagu. (Gubernur Sulteng HB Paliudju menyanyikan lagu daerah)
Presiden RI
Bismilalahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Selamat sore,
Salam sejahtera untuk kita semua,
Yang saya hormati Saudara Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat dan para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu, Saudara Sekretaris Jenderal Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi mewakili Menakertrans, Saudara Gubernur Sulawesi Tengah dan para Pimpinan dan Pejabat Negara yang bertugas di Sulawesi Tengah, Saudara-saudara, para Pimpinan dan Pengurus Organisasi Kepekerjaan atau Organisasi Perburuhan, baik tingkat nasional maupun tingkat Sulawesi Tengah,
Para Karyawan atau Pekerja yang saya cintai dan saya banggakan,
Marilah pada kesempatan yang baik dan bersejarah ini, sekali lagi kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, Allah SWT, karena kepada kita semua masih diberi kesempatan, diberi kekuatan dan kesehatan untuk melanjutkan karya kita, tugas kita, dan pengabdian kita kepada masyarakat, bangsa, dan negara tercinta.
Pada hari yang baik dan semoga senantiasa penuh berkah ini, atas nama Pemerintah Republik Indonesia dan selaku pribadi saya mengucapkan Selamat Memperingati Hari Buruh Internasional yang tepat jatuh hari ini, 1 Mei tahun 2007. Para pekerja sedunia, termasuk Asosiasi perburuhan di seluruh negara di dunia ini melakukan hal yang sama memperingati Hari Buruh Internasional ini.
Cara memperingatinya berbeda-beda, ada yang menggelar dialog, ada yang tasyakuran, ada yang unjuk rasa, ada yang santap siang dan dilanjutkan dengan silaturahim ini. Unjuk rasa pada tanggal 1 Mei sepanjang tujuannya baik, menyampaikan aspirasi buruh, dilaksanakan secara tertib dan damai, itu wajar-wajar saja dalam kehidupan demokrasi sekarang ini.
Satu jam yang lalu, saya berkomunikasi dengan Saudara Erman Suparno, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi. Saya tanyakan pada beliau, bagaimana keadaan di Jakarta dan juga pada pejabat lain saya tanyakan bagaimana perkembangan situasi di seluruh tanah air. Pada umumnya berjalan dengan baik. Ada unjuk rasa di beberapa tempat, di Jakarta, di Surabaya, di Semarang, Yogya itu pun berjalan dengan tertib dan damai. Saya senang seperti itu. Sebab kalau menyampaikan aspirasi dilaksanakan secara damai, secara tepat, kepada orang yang tepat, mesti ada solusinya, ada jalan keluarnya.
Saya dan istri membuka SMS, membuka kotak pos. Ada pak Marboen nggak di sini? Berapa jumlah SMS yang masuk sejak Juli 2005? 2 juta 346 ribu. Suratnya berapa? 22 ribu. Tiap minggu diinventarisasi, mana yang sudah direspon, mana yang ditindaklanjuti oleh para Menteri, mana yang ditindaklanjuti oleh Gubernur, Bupati Walikota. Belum yang masuk istri saya dan staf saya. Banyak hal yang ketika kita respon ternyata menjadi solusi, menjadi jalan keluar, apalagi kalau resmi disampaikan sekali lagi dengan cara yang tepat kepada pihak yang tepat, dengan tujuan yang tepat. Tetapi kalau menyampaikan aspirasi itu dengan merusak, tindakan destruktif, tindakan anarkis, maka tujuan yang baik itu tertutup dengan persoalan lain.
Saudara-saudara,
Kalau di negeri yang kita cintai ini kita biarkan terjadi kekerasan-kekerasan, kerusuhan, apalagi di banyak negeri hampir pasti ekonomi kita rusak, ekonomi kita kolaps, dunia usaha ambruk. Kalau dunia usaha ambruk, saya sangat takut, saya khawatir, kalau terjadi pemutusan-pemutusan hubungan kerja. Saya khawatir kalau para penganggur tidak bisa bekerja karena usahanya terganggu. Oleh karena itu, mari kita berjuang bersama. Kewajiban saya, amanah saya untuk terus meningkatkan kesejahteraan para pekerja, para buruh untuk memastikan hak-hak buruh dipenuhi, mendapatkan perlindungan yang baik dengan cara-cara yang baik pula.
Nanti malam saya mengundang beliau-beliau untuk bertukar pikiran dengan saya bagaimana kita mengelola perburuhan di negeri ini, menajadi bagian dari membangun negeri ini yang di satu sisi memberikan keuntungan kesejahteraan bagi para buruh, para pekerja, di sisi lain juga mendatangkan maslahat bagi keseluruhan pihak yang ada di tanah air kita ini.
Saudara-saudara yang saya cintai,
1 Mei bersama-sama kita berada di tempat ini, karena kali ini saya berkunjung ke Sulawesi Tengah dengan melaksanakan beberapa kegiatan. Kemarin, alhamdulillah, saya bertemu dengan para petani dan melakukan Panen Raya di Kabupaten Parigi Moutong. Tadi pagi, saya datang ke Kecamatan Poso Pesisir dan Kecamatan Tentena untuk bertemu dengan saudara-saudara kita di sana, membangun kembali fasilitas ibadah, fasilitas pendidikan, fasilitas umum, agar kehidupan pulih kembali, rukun kembali, ekonomi bergerak, kesejahteraan bergerak, baik di komunitas saudara-saudara kita yang beragama Islam, maupun saudara-saudara kita yang beragama Kristen maupun Katolik. Alangkah indahnya, apabila suatu saat Poso yang kita cintai, Sulawesi Tengah yang kita banggakan ini pulih kembali, rukun kembali, membangun hari esoknya yang lebih baik.
Saya menjadi bagian dari sejarah, tahun 2001, 2002, 2003 seringkali saya datang ke Palu, ke Poso ke Tentena dan di tempat-tempat yang lain. Sedih, prihatin, karena waktu itu konflik sedang menyala, korban berjatuhan, anak-anak kehilangan orangtuanya dan lain-lain. Cukuplah sudah tragedi kemanusian itu. Mari kita rajut kembali persatuan, kerukunan, dan harmoni di antara kita semua, membangun hari esok yang lebih indah. Anak-anak kita yang menjadi yatim jumlahnya cukup banyak. Saya berpesan tadi, kita harus melakukan yang terbaik untuk mereka. Anak-anak itu kehilangan orangtuanya, kehilangan masa lalunya, jangan sampai kehilangan masa depannya. Oleh karena itulah, kita bangun pendidikan, kita bangun fasilitas, agar masa depan mereka baik.
Dan alhamdulillah setelah tadi seperti Pak Gubernur, karena awan datang dan pergi dan helikopter harus berputar-putar untuk mengejar waktu tepat datang di tempat ini. Akhirnya kita berada di tempat ini, nanti malam masih ada waktu. Tadi malam saya membuka Simposium Nasional Pemuda Indonesia, KNPI yang menyelenggarakan juga menggagas resolusi konflik. Indonesia ini majemuk, majemuk dalam segi suku, agama, etnis, golongan dan daerah. Pasti ada namanya kehidupan yang majemuk, benturan di sana sini perselisihan di tempat-tempat tertentu. Tapi ingat, semua perselisihan, semua perbedaan konflik sekalipun harus kita carikan solusinya secara damai, tidak dengan kekerasan. Itulah yang tadi malam, saya buka dan saya berikan dorongan kepada mereka semua untuk melakukan hal-hal itu.
Insya Allah nanti malam masih ada acara-acara, termasuk tukar pikiran dan dialog saya dengan para Pimpinan Asosiasi Kepekerjaan. Insya Allah besok saya akan meresmikan sebuah Proyek Pembangunan Energi di Sulawesi Tengah ini, khususnya listrik. Karena negara kita masih memerlukan listrik yang besar lagi. Sejak mendiang Bung Karno sampai saya Presiden yang keenam ini, jumlah listrik yang kita miliki adalah sekitar 15 ribu Megawatt .dulu cukup, sekarang tidak cukup. Pabrik berkembang, industri berkembang, rumah tangga berkembang, tentu tidak cukup.
Kita ingin menambah 10 ribu dalam program yang kita laksanakan tiga tahun mendatang, mulai tahun ini, ditambah pembangunan-pembangunan listrik lain yang dilakukan oleh swasta. Dengan demikian, insya Allah makin ke depan makin terpenuhi kebutuhan listrik, sehingga pabrik-pabrik, investasi manufaktur akan berkembang lebih banyak lagi di negeri kita ini. Kalau itu berkembang, harapan kita usaha bergerak para pekerja yang sudah bekerja. Kalau ekonominya tumbuh, insya Allah kesejahteraannya makin baik. Dan bagi saudara-saudara yang menganggur mendapatkan pekerjaan. Itulah yang mesti kita ketahui.
Saudara-saudara,
Negara kita mengalami krisis yang berat, yang dahsyat, yang dalam pada tahun 2008. Akibat krisis itu, hutang luar negeri membengkak. Saya bilang apa tadi? Oh belum ya, insya Allah tidak terjadi krisis lagi. 1998 sekarang baru 2007 belum 2008. 1998 merasakan krisis toh sama-sama. Akibat krisis itu, hutang luar negeri kita membengkak, kemiskinan membengkak, pengangguran membengkak. Kita berjuang dan berjuang sejak itu, mulai Pak Habibie, Gus Dur, Ibu Mega, saya dan setelah saya nanti Presiden-Presiden berikutnya lagi terus berjuang untuk memulihkan ekonomi kita, mengurangi kemiskinan, mengurangi pengangguran, mengurangi utang.
IMF sudah kita lunasi, tapi masih banyak lagi pekerjaan rumah kita yang harus kita laksanakan, mengurangi kemiskinan, mengurangi pengangguran bukan hanya tugas bangsa Indonesia semata, negara lainpun juga bergulat untuk mengurangi pengangguran dan kemiskinan, termasuk negara-negara yang maju sebutlah Cina, India, Rusia dan lain-lain. Oleh karena itu, tidak perlu sangat berkecil hati. Tapi mari kita bekerja keras melakukan upaya untuk mengatasi masalah-masalah besar di negeri kita.
Saudara-saudara yang saya hormati.
Tugas Pemerintah di bidang ketenagakerjaan adalah yang pertama, saudara-saudara kita yang bekerja diharapkan tetap bekerja, tidak mengalami PHK dengan kesejahteraan yang makin ke depan makin baik sejalan dengan pertumbuhan usaha dan ekonomi. Itu yang pertama.
Tugas yang kedua, bagi saudara-saudara kita mungkin adik, mungkin kakak, mungkin saudara, semuanya yang masih menganggur, itu bisa mendapatkan lapangan pekerjaan. Itu ada kebijakan, ada strategi, ada program, ada semua, tapi hakekatnya adalah itu yang kita tuju, kalau kita bicara secara sederhana. Oleh karena itu, pimpinan Asosiasi Perburuhan, pimpinan dunia usaha, Pemerintah yang disebut dengan Tripartit, itu wajib, bekerja sama, wajib melaksanakan langkah-langkah bersama untuk betul-betul meningkatkan kesejahteraan pekerja kita, menciptakan lapangan pekerjaan yang baru bagi saudara-saudara kita yang masih menganggur.
Ada perkembangan yang baik atas kerjasama antara para pimpinan organisasi perburuhan yang wakilnya beliau-beliau ada di sini dengan pimpinan dunia usaha, pimpinan perusahaan dengan asosiasinya dan Pemerintah sendiri, maka kalau tahun 2005, jumlah yang PHK itu 109.382 pekerja, tahun 2006 setahun kemudian, dapat kita turunkan menjadi yang terpaksa mengalami PHK 37.937 orang atau menurun 65% Ini baik. Justru yang tidak baik, kalau PHK makin banyak harus makin susut, syukur-syukur kok tidak ada PHK meskipun di negara manapun juga selalu ada PHK. Kalau PHK itu bukan karena kesalahan pekerja, karena ekonomi tiba-tiba mengalami goncangan, bisnis membikin strategi yang baru, ada restructuring dan lain-lain, maka kita harus berjuang dan menyusun perangkat bagaimana santunan atau kompensasi bagi para pekeja yang bukan karena kesalahannya tiba –tiba harus mengalami PHK. Ini tugas Tripartit yang sekarang sedang kita matangkan, bagaimana jaminan atas kejadian seperti itu yang adil dan dalam batas kemampuan yang dimiliki oleh negara kita.
Pengangguran pun angkanya menggembirakan, meskipun kita harus bekerja lebih keras lagi. Di sini ada Pak Gubernur Sulteng, ada Pak Gubernur Gorontalo, Pak Bupati dan semuanya Walikota harus bekerja siang dan malam mengurangi pengangguran. Tahun 2005, November 2005 yang menganggur 11,9 juta. Agustus tahun 2006 turun menjadi 10,9 juta, turun satu juta, ini harus terus kita turunkan dalam arti membuka lapangan pekerjaan baru. Ingat, tiap tahun kebanjiran angkatan kerja baru yang mencari pekerjaan di seluruh Indonesia. Tiap tahun kita bergulat, ada yang masuk PNS, ada yang masuk TNI, ada yang masuk Polri, ada yang lembaga-lembaga lain. Tetapi selebihnya harus mendapat tempat, maka kita berjuang sekuat negara menciptakan lapangan pekerjaan.
Angka Peningkatan Pelayanan Program Jaminan Sosial, saya sudah berbicara dengan Menteri Tenaga Kerja dan Menteri-Menteri yang lain teruslah dimantapkan, ditingkatkan, diatur dalam program yang nyata tentang jaminan hari tua, jaminan pemeliharaan kesehatan, jaminan kecelakaan kerja, jaminan kematian dan lain-lain. Ini pekerjaan rumah kita, harus terus-menerus kita tingkatkan kepastian atas jaminan itu.
Kesejahteraan, saya sudah minta kepada Menteri Perumahan bersama-sama Menakertrans untuk mulai dipikirkan, karena kita mengembangkan program rumah, baik rumah susun maupun bukan rumah susun dengan angsuran, dengan jumlah angsuran yang tidak terlalu memberatkan, pikirkan pula nanti bagian atau porsi dari para karyawan atau buruh tentunya di tempat-tempat mereka bekerja. Tentu dengan ada pinjaman uang muka dan lain-lain.
Negara ini mengayomi semua Saudara-saudara. Petani harus kita pikirkan, nelayan kita pikirkan, guru kita pikirkan, PNS yang gajinya juga belum terlalu tinggi kita pikirkan, anggota TNI, Polri,Tamtama, Bintara gajinya juga pas pasan, kita pikirkan dan para pekerja. Negara memikirkan semua, negara ingin adil, ingin mengayomi dan meningkatkan kesejahteraannya. Jangan saling lihat-melihat, kalau yang bicara guru, Pak kenapa Pemerintah kurang memperhatikan kesejahteraan guru yang diperhatikan yang lain-lain. Nanti kalau yang ngomong petani, Pak mengapa guru saja, petani tidak. Kemudian kalau yang jadi saling-lihat melihat tidak. Pemerintah tidak ingin semua kita tingkatkan nasib dan masa depannya kita tingkatkan kesejahteraannya.
Dan saya berterima kasih pada belaiu-beliau ini yah kadang-kadang dengan pemerintah, agak sedikit agak keras-kerasan ndak apa apa wong tujuannya ingin mencari solusi yang baik ya. Mesti ketemu nanti ya tujuannya baik. Oleh karena itu, asalkan tidak destruktif, tdak mengganggu keamanan nasional, baik kita carikan solusi yang terbaik, kita rumuskan kebijakan dan program yang baik untuk semuanya, terutama untuk saudara-saudara para pekerja.
Layanan kesehatan ini juga terus kita tingkatkan, transportasi pekerja dan lain-lain. Bahkan bagi saudara-saudara kita yang masih mengganggur kita siapkan Balai Latihan Kerja, supaya mereka terampil, bisa bekerja. Tenaga kerja luar negeri. Setiap saya berkunjung ke luar negeri mesti saya cek. Jangankan di luar negeri, di Bandara yang datang dari luar negeri saya cek saya ajak bicara, saya ajak dialog, apa permasalahannya, apa yang dirasakan, gaji Ibu dibayar tidak, ibu diperlakukan dengan baik tidak dan lain-lain. Karena semua warga bangsa Indonesia bekerja di dalam negeri atau di luar negeri sama-sama pahlawannya, karena itu membangun, membantu peningkatan ekonomi kita.
Kita juga melakukan hal seperti itu. Sebagai contoh, saya ingin sampaikan, saya pernah sidak di Cengkreng ada 50 orang yang saya tanyai satu persatu. Waktu itu saya baru jadi Presiden mungkin dua bulan itu, karena banyak yang tidak kenal saya. Mungkin saya dikira petugas imigrasi di situ. Saya tanya pertama kali jawabannya asal-asalan itu. Tapi malah baik, karena dari 50 yang saya tanyai itu kebetulan wanita semua, Tenaga Kerja Wanita kita yang pulang dari Timur Tengah, dari Saudi Arabia, dari Kuwait, dari Qatar, dari mana lagi itu, ya dari semuanya itu, yang mendapatkan perlakuan yang tidak baik 5, yang betul-betul tidak baik 3. Berarti dari 50 orang yang saya tanya, 10% merasa tidak puas dan ada 6% 3 orang kami kok dizalimi. Terus saya proses diselesaikan coba menteri terkait betulkan masalahnya komunikasikan dengan negara-negara tersebut.
Kita juga bekerja keras untuk Malaysia. Saya berkali-kali mengadakan pertemuan juga untuk tenaga kerja kita. Pendek kata Saudara-saudara, kita harus lakukan semuanya itu. Kabar baik masalah TKI yang bermasalah yang pulang tahun 2003, 11% yang bermasalah. Tahun 2006 4,11%. Saya minta kepada semuanya para Dubes para Konjen yang diluar negeri pun jauh dari mana-mana jauh dari sanak saudara tolong juga perlakukan dengan baik, sama baiknya memperlakukan saudara-saudara kita yang bekerja di dalam negeri.
Saudara-saudara,
Dari apa yang saya sampaikan tadi, maka pesan saya kepada manajemen, kepada dunia usaha, pemimpin perusahaan untuk meletakkan para pekerja sebagai bagian dari pengembangan dunia usaha itu, jangan dilihat sebagai faktor produksi. Tidak, manusia punya jiwa, punya hati, punya pikiran. Kalau semua diajak seperti itu, maka akan baik. Pekerja akan bekerja sepenuhnya untuk dunia usahanya, manakala dunia usaha makin baik, pikirkan kesejahteraanya, baik upah atau gaji maupun yang non kesejahteraan.
Jadi kalau perusahaan untungnya besar, distribusikan secara adil. Dengan demikian, semua merasa bagian dari pertumbuhan itu. Kalau untungnya belum besar, sampaikan pada para pekerja, untung kita belum besar, tapi tetap secara adil mari sama-sama kita rasakan dengan tatanan yang lazim berlaku di dunia usaha. Ini penting komunikasi itu. Kasih sayang, pimpinan dunia usaha pada para pekerja perhatian, perhatian, perlindungan, keperdulian. Dengan demikian, kalau itu tumbuh dari para dunia usaha pekerja, maka pekerja akan sepenuhnya bekerja untuk usahanya. Untuk bekerja, setelah harapan saya, pemimpin perusahaan memikirkan nasib kesejahteraan dan masa depan saudara bekerjalah secara benar, disiplin, produktif, sepenuhnya ikuti tatanan, sehingga terjadi suasana yang baik. Kalau suasana terjadi seperti itu, insya Allah perusahaan akan berkembang dengan baik. Kalau berkembang dengan baik, labanya makin tinggi, untungnya makin tinggi, tidak mungkin saudara di PHK. Sebaliknya kalau labanya makin baik, insentif atau kesejahteraan makin tinggi.
Pengusaha punya modal, punya uang, punya pabrik, tetapi kalau tidak ada yang bekerja kan kosong pabriknya betul? Jadi dunia usaha memerlukan pekerja. Sekarang di sisi yang lain, pekerja siap? Kami siap Pak, kami lulusan sekolah ini, kami punya cita-cita yang tinggi, tapi tidak ada pabriknya. Ya sama juga, dua-duanya perlu. Dunia usaha perlu, pekerja perlu. Mari kita satukan. Pemerintah memastikan aturannya benar, programnya benar, kebijakannya benar, jangan ada yang nakal-nakal laksanakan dengan suasana seperti itu. Itu tugas pemerintah. Oleh karena itu, Tripartit ini harus berjalan dengan baik.
Saudara-saudara,
Bekerjalah dengan baik, disiplin produktif. Para pimpinan perusahaan kalau ada yang dengar di sini, kelola, lakukan manajemen dengan baik pula agar semuanya tumbuh dengan baik. Dengan para Menteri,para Gubernur, para Bupati. Para Walikota semua, ingin bekerja sekuat tenaga untuk seluruh rakyat Indonesia, termasuk para pekerja. Mengubah keadaan tidak seperti membalik telapak tangan. Mendirikan sekolah, pendidikan, pabrik-pabrik, dunia pertanian, dunia jasa juga memerlukan waktu, memerlukan modal, memerlukan kerja keras dan kerjasama dengan banyak pihak. Oleh karena itu, ketika Pemerintah terus bekerja keras memulihkan ekonomi dan membangunnya kembali, meningkatkan kesejahteraan, harapan saya saudara-saudara yang bekerja bekerjalah dengan baik, mari sama-sama kita bangun ekonomi kita dunia usaha kita sebaik-baiknya, agar tujuan itu dapat dicapai.
Itulah yang saya sampaikan sebagai sebuah renungan dari hari penting 1 Mei tahun 2007 ini, semoga membawa berkah bagi kita semua, terutama Saudara-saudara para pekerja dan kita semua seluruh rakyat Indonesia. Sampaikan salam saya kepada istri atau suami atau kakak atau adik para pekerja, mudah-mudahan Tuhan Yang Maha Besar memberikan jalan yang baik untuk kita semua membangun kembali negeri tercinta ini.
Demikianlah sekali lagi selamat, sekali lagi selamat bekerja, Tuhan beserta kita.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
*****
Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan



