Pidato Presiden

Sambutan Peresmian Proyek-Proyek Pembangunan di Sulteng

 

TRANSKRIPSI
SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
PERESMIAN PROYEK-PROYEK PEMBANGUNAN DI SULAWESI TENGAH DI BIDANG KETENAGALISTRIKAN, INFRASRUKTUR TRANSPORTASI, PROYEK AIR MINUM DAN PROYEK-PROYEK PEMBANGUNAN YANG LAIN.
PALU-SULAWESI TENGAH, 3 MEI 2007


Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Selamat pagi,
Salam sejahtera untuk kita semua,

Yang saya hormati para Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat, Saudara Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu, Mantan Menteri. Untuk diketahui, Pak Luhut Pandjaitan yang sekarang aktif membangun proyek energi di Provinsi ini adalah Mantan Menteri Perindustrian dan Perdagangan.

Yang saya hormati Pimpinan dan Anggota Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, Saudara Gubernur Sulawesi Tengah, Saudara Walikota Palu dan para Pimpinan dan Pejabat Negara yang bertugas di Sulawesi, Sulawesi Tengah dan Palu, baik dari unsur Eksekutif, Legislatif, Yudikatif maupun TNI dan Polri, hadir pula bersama kita Gubernur Gorontalo dan Pangdam Wirabuana,

Yang saya hormati para Pimpinan Badan-badan Usaha Milik Negara, para Pimpinan Dunia Usaha, termasuk mitra kita dari luar negeri, our partners and friends from the People’s Republic of China another in level organization who are present here.

Yang saya muliakan para Ulama, para Pemuka Agama, para Tokoh Masyarakat, para Pimpinan Perguruan Tinggi dan Lembaga-lembaga Pendidikan,

Hadirin sekalian yang saya muliakan,
Pada kesempatan yang baik, pada pagi yang indah, cerah dan insya Allah penuh berkah ini, saya mengajak kepada hadirin sekalian untuk sekali lagi memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas rahmat dan ridho-Nya, atas kekuasan-Nya kepada kita masih diberi kesempatan, masih diberi kekuatan dan insya Allah kesehatan untuk melanjutkan karya kita, pengabdian kita, dan tugas kita kepada masyarakat, bangsa, dan negara.

Kita juga bersyukur hari ini dapat menghadiri acara Peresmian Proyek-proyek Pembangunan di Sulawesi Tengah di Bidang Ketenagalistrikan, di Bidang Infrastruktur Transportasi, Proyek Air Minum dan Proyek-proyek Pembangunan yang lain. Kita berharap dengan selesainya pembangunan proyek-proyek itu, maka ekonomi dan kesejahteraan saudara-saudara kita di Sulawesi Tengah dapat kita tingkatkan menjadi lebih baik lagi.

Hadirin sekalian yang saya hormati,
Mengawali sambutan saya pada acara yang sungguh penting ini, saya dengan tulus dan penuh kebanggaan mengucapkan terima kasih dan penghargaan kepada Saudara Walikota Palu yang kita dengar bersama tadi, memiliki komitmen, memiliki kreatifitas dan melakukan langkah-langkah yang konkret untuk membangun kotanya, memajukan kesejahteraan rakyatnya.

Kalau di negeri tercinta ini para Bupati dan Walikota yang berdiri di depan untuk membangun daerahnya, memajukan kesejahteraan rakyatnya juga melakukan hal yang sama, mencurahkan pikiran, waktu, dan tenaganya untuk membangun daerahnya, membangun ekonomi, membangun dunia usaha, membangun infrastruktur, meningkatkan pendidikan, meningkatkan kesehatan, memerangi korupsi dan lain-lain, termasuk berpihak pada kaum lemah, kaum dhuafa, dan kaum fakir miskin. Saya yakin, dengan ridho Allah masyarakat di daerah itu tentu akan memiliki tingkat kesejahteraan yang lebih tinggi.

Negara kita besar, potensinya besar, permasalahan dan tantangannya juga besar. Diperlukan pikiran-pikiran yang besar, upaya yang sungguh-sungguh, kerja yang keras untuk membangun negeri ini mengarungi masa depan menuju hari esok yang lebih baik. Saya berharap melalui forum yang mulia ini, seluruh pejabat dan pimpinan di negeri ini mulai dari Bupati, Walikota, Gubernur, Menteri sampai saya berlaku bagi saya juga terus meningkatkan pengabdian kita, meningkatkan kerja keras kita untuk rakyat yang sama-sama kita cintai.

Saudara-saudara,
Khususnya saudara-saudara yang berada di Kota Palu khususnya, bagaimana Saudara ketahui, ini hari ketiga kunjungan saya di Provinsi Sulawesi Tengah ini. Saya sungguh bersyukur, saya sungguh berbahagia, karena keadaan yang saya jumpai dalam waktu tiga hari, dua malam ini sangat berbeda ketika dulu saya berkali-kali datang ke Sulawesi Tengah ini. Tahun 2001, 2002, 2003, ketika kita berduka karena konflik yang melanda daerah yang kita cintai ini. Waktu itu kita sungguh berprihatin, bangsa dan masyarakat yang rukun tiba-tiba harus berhadapan, korban jiwa tidak bisa kita elakkan dan kita memasuki masa kelam dalam sejarah yang ada di Provinsi ini, di negeri tercinta kita.

Alhamdulillah, telah kita lewati masa-masa sulit itu, karena tekad kita, karena kerja keras kita, karena kebersamaan kita, sehingga Sulawesi Tengah, Poso dan daerah-daerah lain telah berada dalam kondisi yang memungkinkan untuk kita bisa hidup lebih baik dan untuk pembangunan dapat kita laksanakan lebih maju lagi.

Dua hari yang lalu, pertama-tama saya bersama-sama saudara kita di Parigi Moutong melakukan acara panen raya. Saya ingin memastikan, bahwa pembangunan pertanian di daerah ini berjalan dengan baik. Dan hakekatnya, upaya mencukupi pangan kita menuju ketahanan pangan nasional juga berjalan dengan baik. 220 juta rakyat kita memerlukan ketersediaan pangan yang cukup, agar ketahanan pangan dapat dicapai solusi yang paling tepat dalam jangka menengah dan panjang, meningkatkan sektor pertanian kita, meningkatkan produksi pangan kita.

Saya berpesan kepada Saudara Gubernur, para Bupati teruslah mempertahankan ketahanan pangan di daerah masing-masing, teruslah meningkatkan produksi pangan dari masa ke masa. Setelah itu dan saya kembali ke Palu, sebagian saudara masih ingat untuk meluncurkan program yang kita sebut dengan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri. Program ini antara lain mengintegrasikan, mengefektifkan, mensinkronisasikan semua program untuk mengatasi kemiskinan, mengurangi pengangguran dan meningkatkan ekonomi kerakyatan.

Sebagaimana kita ketahui bersama, bahwa akibat krisis negeri ini menghadapi tiga masalah yang serius, terutama kita rasakan pada awal krisis dulu, hutang luar negeri yang membengkak, kemiskinan yang membengkak, dan pengangguran yang juga membengkak. Alhamdulillah, dari satu pemerintahan ke pemerintahan yang lain, kita bekerja keras untuk mengatasi tiga masalah itu. Hutang IMF sudah kita lunasi, tinggal kita teruskan untuk mengurangi kemiskinan dan pengangguran ini.

PNPM Mandiri ditambah dengan program-program lain yang pro rakyat dengan alokasi anggaran yang makin besar dalam APBN dan APBD kita. Sebagai contoh, 2004 anggaran untuk kemiskinan berjumlah 19 trilyun. 2005 kita naikkan 24 trilyun. 2006 naik luar biasa 41 trilyun. Tahun ini, 51 trilyun, Insya Allah tahun depan meningkat secara lebih signifikan. Tujuannya adalah agar kemiskinan dan pengangguran dapat kita kurangi secara sistematis dan terus-menerus.

Masalah kemiskinan dan pengangguran juga dihadapi oleh bangsa lain di dunia. Republik Rakyat Tiongkok dan India yang dianggap negara yang pesat di dalam kemajuan ekonominya juga mengalami masalah yang sama. Oleh karena itu, jangan terlalu berkecil hati karena pembangunan kita sudah berada pada arah yang benar, tinggal kita pastikan semua kebijakan, semua program kita jalankan dengan benar. Dengan demikian, insya Allah sekali lagi dapat kita atasi masalah-masalah yang ada di negeri kita.

Pada malam harinya saya senang, karena saya bisa membuka sebuah Simposium Nasional Pemuda Indonesia yang diinisiatifi oleh KNPI untuk membahas resolusi konflik. Negara kita ini negara yang majemuk, majemuk dalam suku, agama, etnis, daerah, golongan dan lain-lain. Tapi ingat, perbedaan itu indah, perbedaan itu sunnatullah.

Kalau kita bisa hidup berdampingan secara damai, apabila setiap perbedaan dan konflik kita pecahkan secara damai, secara bermartabat dan adil, maka perbedaan yang kita miliki, sekali lagi anugerah. Saya senang, karena muncul kesadaran pada diri kita, rakyat Indonesia apapun yang terjadi, mari kita carikan solusinya secara damai tidak perlu dengan kekerasan. Kekerasan bukan solusi, kekerasan adalah masalah. Kekerasan mesti diikuti dengan kekerasan yang lain. Saya ingin di Sulawesi Tengah, di Poso hentikan budaya kekerasan yang tidak ada gunanya. Mari kita rajut perdamaian, persatuan, dan kerukunan yang sejati.

Saudara-saudara,
Hari kedua kemarin, alhamdulillah, saya bisa meresmikan berbagai fasilitas ibadah yang rusak, yang hancur karena konflik di waktu yang lalu, meresmikan kembali lembaga-lembaga pendidikan yang juga hancur, meresmikan kembali, merehabilitasi lembaga-lembaga kesehatan dan infrastruktur yang lain, baik katakanlah fasilitas ibadah yang digunakan oleh umat Islam, umat Kristen dan umat Katholik yang saya lakukan kemarin di Kecamatan Poso Pesisir dan Kecamatan Tentena. Saya berharap dengan dinormalkannya kembali, dibangunnya kembali berbagai fasilitas itu, kehidupan sosial, kehidupan ekonomi, kehidupan keagamaan masyarakat di Poso dan daerah-daerah lain segera dapat dilaksanakan lebih baik lagi, sekali lagi menuju masa depan yang sama-sama kita dambakan.

Hadirin,
Kemudian sore hari, tepat kemarin tanggal 1 Mei adalah Peringatan Hari Buruh Internasional. Alhamdulillah, saya bersama-sama para pimpinan di sini, para pimpinan organisasi buruh nasional kita yang datang dari Jakarta melaksanakan acara santap siang dengan para pekerja, dengan para buruh, dengan para karyawan.

Kita ingin menyatukan komitmen untuk terus meningkatkan kesejahteraan pekerja atau buruh. Di satu sisi, sekaligus meningkatkan dunia usaha akhirnya semua mendapatkan keuntunganan, semua mendapatkan kebaikan. Dan malam harinya, saya lanjutkan dengan tukar pikiran dengan para tokoh-tokoh organisasi buruh yang ada di negeri kita untuk menyatukan upaya bersama, upaya Tripartit, asosiasi perburuhan, asosiasi dunia usaha dan unsur Pemerintah. Alhamdulillah, makin terjalin kebersamaan kita untuk melakukan kerjasama yang sebaik-baiknya.

Dan akhirnya, sampailah pada kagiatan pagi hari ini. Satu acara yang tidak kalah pentingnya meresmikan berbagai proyek pembangunan yang disampaikan oleh Saudara Walikota, yang disampaikan oleh Saudara Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral tadi. Mengapa saya ceritakan kondisi Sulawesi Tengah dan kondisi Poso seperti itu? Untuk saudara ketahui, kita bisa membangun seperti ini, kita bisa mendirikan pusat ketenagalistrikan seperti ini, jembatan, jalan, air minum dan berbagai kegiatan ekonomi, jika daerah Sulawesi Tengah dan Poso ini aman, stabil, masyarakatnya rukun dan damai.

Tidak mungkin kita bisa membangun, kalau daerahnya tidak aman, apalagi terlibat dalam berbagai kekerasan, kerusuhan dan lain-lain. Demikian juga untuk bangsa dan negara kita, kalau kesejahteraan ingin meningkat ekonomi harus kita bangun. Agar ekonomi bisa dibangun, negara harus stabil, aman dan damai. Itu yang terjadi di negara-negara lain yang berhasil membangun negerinya. Stabilitas, keamanan, kerukunan. Di situlah kita melakukan tugas-tugas kita, meningkatkan kesejahteraan rakyat yang kita cintai.

Saya mengucapkan terima kasih kepada Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, Departemen Pekerjaan Umum, Departemen-departemen lain yang terlibat, Pemerintah Daerah, PLN, BNI, pimpinan perusahaan-perusahaan negara sahabat dan semua pihak yang memungkinkan dilaksanakannya pembangunan proyek-proyek ketenagalistrikan, infrastruktur dan air minum ini.

Di banyak kesempatan saya sampaikan, ada tiga komoditas yang sangat penting bagi ekonomi dan kesejahteraan. Pertama, pangan. Kedua, energi. Ketiga, air minum. Ingat, bumi tempat kita hidup ini makin tua. Karena makin tua tidak begitu mudah lagi untuk menyediakan kebutuhan pangan, energi, dan air bersih bagi penduduknya yang berjumlah 5 milyar lebih. Bagi rakyat Indonesia yang jumlahnya lebih dari 220 juta lebih sekarang, satu-satunya cara, mari kita kelola sumber energi, sumber pangan, dan sumber air bersih kita. Apa yang kita lakukan di Sulawesi Tengah bagian dari upaya meningkatkan ketahanan tiga komoditas tadi pangan, energi, dan air minum.

Listrik Saudara-saudara, saya garis bawahi. Kebutuhan kita makin besar sejak mendiang Bung Karno hingga saya sebagai Presiden keenam ini kapasitas listrik yang kita miliki berjumlah sekitar 25 Megawatt. Dulu cukup, sekarang tidak cukup. Industri terus berkembang, rumah tangga terus berkembang, kebutuhan akan listrik juga terus berkembang. Oleh karena itu, harus kita bangun lebih banyak lagi. PLN, atas instruksi saya, saya perintahkan dalam waktu tiga, empat tahun mendatang melaksanakan penambahan daya listrik mencapai sekitar 10 ribu Megawatt yang dikerjasamakan dengan pihak-pihak lain. Itu pun belum cukup harus ditambah lagi dengan pembangunan-pembangunan oleh swasta. Dan bukan hanya di satu, dua kota, bukan hanya di satu, dua pulau harus dibangun di seluruh Indonesia.

Tetapi tentu membangun tenaga listrik tidak seperti membalik telapak tangan. Sekarang kita mulai bangun, besok sudah menyala listriknya. Kita perlukan waktu setahun, dua tahun, tiga tahun. Oleh karena itu, sambil kita tuntaskan pembangunan ketenagalistrikan ini, saya berharap pimpinan daerah memiliki insiatif untuk pandai-pandai menggunakan sumber listrik yang ada. Berhematlah dalam penggunaan listrik, sebagaimana anjuran saya, berhematlah dalam penggunaan BBM, telepon, listrik, dan air minum. Kalau kita boros, maka komoditas itu terbuang sia-sia. Padahal saudara-saudara kita masih memerlukan, berhemat. Menjadi bangsa yang hemat energi akan selamat masa depan kita.

Kita akan teruskan upaya membangun ketenagalistrikan ini. Saya senang tadi, kerjasama yang baik antara Pemerintah dan dunia usaha. Inilah yang saya ingin galakkan di negeri kita ini yang kita sebut public private partnership, saling menyatukan kekuatannya, membangun untuk kepentingan rakyat kita. Demikian juga pembangunan jembatan sangat penting dilakukan di seluruh Indonesia dan utamanya yang kita resmikan di Sulawesi Tengah ini. Air minum demikian juga.

Saudara-saudara,
Yang kita laksanakan di Sulawesi Tengah ini sesungguhnya memenuhi tiga tujuan. Tujuan pertama, jangan dilupakan keadilan. Kita harus memajukan semua kesejahteraan rakyat kita, termasuk keadilan yang harus kita wujudkan di seluruh tanah air, agar rakyat kita makin banyak yang menikmati fasilitas hidupnya seperti listrik yang saya katakan tadi jumlahnya masih kurang. Alangkah tidak indahnya, kalau kita sudah merdeka 60 tahun masih banyak saudara-saudara kita yang tidak menikmati listrik, yang tidak bisa mengunakan jalan-jalan yang baik, yang tidak punya jembatan yang diperlukan. Oleh karena itu, sejalan kemampuan negara, sejalan dengan perkembangan ekonomi negara, penerimaan negara, kita akan terus melakukan pembangunan infrastruktur ini, listrik, jalan, air minum dan lain-lain.

Konsep yang kedua konsep ekonomi, tujuan ekonomi. Saya berharap dengan makin banyak listrik, makin terbangunnya infrastruktur, maka ekonomi di daerah ini harus makin tumbuh. Saya tidak senang, kalau ada pihak dunia usaha, baik dalam dan luar negeri yang sungguh ingin melaksanakan usahanya di sebuah daerah dihambat, dipersulit, dipersukar oleh pimpinan-pimpinan daerah itu. Dengan motif yang kadang-kadang yang tidak jelas.

Meskinya para impinan daerah, sebagaimana saya sendiri senang kalau makin tumbuh kegiatan usaha di tanah air kita, mengapa? Kalau katakanlah di Palu, di Sulawesi Tengah ini makin berdiri proyek-proyek usaha, pabrik, pertanian, jasa, energi dan lain-lain, maka tenaga kerja akan dapat diserap, pajak akan meningkat, ekonomi lokal akan bergerak. Kalau itu terjadi, tentu yang akan senang adalah rakyat kita.

Saya minta dalam era keterbukaan, dalam era transparansi, semua bisa saling melihat, apakah kita semua ikut memberikan ruang untuk bergeraknya dunia usaha di daerah-daerah utamanya dan tentu di wilayah manapun di negeri kita. Teruskan kerjasama yang baik ini, teruskan para pimpinan daerah, Saudara Bupati, Saudara Walikota, Gubernur dan kita semua untuk mempermudah setiap urusan sekali lagi, sekali lagi mempermudah setiap urusan dan jangan mempersulit segala urusan. Ingat, Saudara bekerja untuk rakyat bukan untuk diri sendiri.

Dan konsep yang ketiga, tujuan yang ketiga akhirnya, kalau ekonomi tumbuh, keadilan ada, rakyat sejahtera. Karena dengan dibangunnya proyek-proyek ini, tentu mereka akan mendapatkan ruang untuk hidup lebih layak. Kalau penghasilannya makin baik, dia bisa keluar dari kemiskinan, bisa menyekolahkan putra-putrinya, bisa mendapatkan pelayanan kesehatan dengan baik, kehidupan yang baik, lingkungan yang baik, rasa aman dan lain-lain.

Itulah tujuan dari semua pembangunan infrastruktur yang kita lakukan. Memang saya meminta kepada seluruh rakyat Indonesia untuk sedikit bersabar, tidak mungkin kita membangun infrastruktur serentak di seluruh tanah air pada waktu yang sama, ada prioritasnya, ada tahapannya sesuai dengan kemampuan negara. Kita ingin meningkatkan penerimaan negara, kita ingin membangun ekonomi kita dengan catatan jangan diboros-boroskan, jangan dikorupsi, jangan diambil ke sana kemari, sehingga uang yang ada itu bisa kita lakukan untuk membiayai pembangunan kita. Ini amanah, amanah bagi semua. Mudah-mudahan dengan ridho Tuhan Yang Maha Kuasa di tempat yang baik ini apa yang kita niatkan, dibimbing oleh Allah diijinkan oleh Allah dan semua akan mencapai tujuan yang kita harapkan.

Itulah yang saya sampaikan Saudara-saudara. Dan saya berpesan, setelah dibangun, peliharalah yang baik, rawat yang baik. Membangun infrastruktur tidak ringan, tidak kecil biayanya, jangan cepat rusak, mari kita gunakan sebaik-baiknya untuk kepentingan kita semua.

Demikianlah yang dapat saya sampaikan dan akhirnya dengan memohon ridho Tuhan Yang Maha Kuasa, seraya mengucapkan ”Bismillahirrahmanirrahim”, Pengoperasian PLTU Tawaeli, PLTN Hanga-Hanga, serta jaringan tranfusi PLTU Tawaeli, Gardu Induk Talise, Jembatan Teluk Palu dan jembatan-jembatan yang lain, Proyek Air Minum dan proyek pembangunan yang lain dengan resmi saya mulai.

Sekian.
Wassalamu’alikum warahmatullahi wabarakatuh.



*****


Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan