Pidato Presiden

Sambutan Peresmian Pembukaan Musrenbangnas 2007

 

TRANSKRIPSI
SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
PERESMIAN PEMBUKAAN MUSYAWARAH PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL (MUSRENBANGNAS) TAHUN 2007
BIDAKARA, 3 MEI 2007


Bismilahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Selamat pagi, salam sejahtera untuk kita semua,

Yang saya hormati Saudara Wakil Presiden Republik Indonesia, Para Menteri Koordinator, Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas dan Para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu, Saudara Wakil Ketua Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia dan para pimpinan DPR RI dan DPD RI, Saudara Gubernur Bank Indonesia dan para Pimpinan Lembaga Pemerintah Non Departemen, para Pimpinan BUMN,
Yang saya hormati Saudara Gubernur, Saudara Bupati, Saudara Walikota, para pimpinan lembaga-lembaga swadaya masyarakat atau sociosociety, para pimpinan dunia usaha beserta Musrenbangnas,

Hadirin sekalian yang saya muliakan,
Pada kesempatan yang baik dan semoga senantiasa penuh berkah ini, saya mengajak hadirin sekalian untuk sekali lagi memanjatkan puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, Allah SWT karena kepada kita semua masih diberi kesempatan, diberi kekuatan dan kesehatan untuk melanjutkan karya, pengabdian dan tugas kita kepada bangsa dan negara tercinta.

Setahun yang lalu tepat tanggal 17 April 2006 kita berada diruangan ini sebagian besar dari kita untuk melakukan kegiatan yang sama. Kepada saudara-saudara yang setelah itu mengemban tugas didaerah saudara-saudara semua diseluruh tanah air, yang saya tahu penuh dengan permasalahan dan tantangan dan yang saya tahu sebagian besar tugas itu telah dilaksanakan dengan baik. Atas nama pemerintah saya mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya.

Saya bersama Wakil Presiden melakukan evaluasi atas kinerja saudara setahun sejak Musrenbangnas tahun lalu hingga sekarang ini. Saya katakan tadi sebagian besar dapat dicapai karena kerja keras saudara. Saya berterima kasih sebagian lagi belum dapat dicapai karena keadaan memang tidak semudah yang kita bayangkan tetapi saya juga melihat ada upaya dan langkah-langkah saudara yang belum optimal. Saya berharap tahun mendatang ini saudara bekerja lebih keras lagi sehingga hasilnya tahun depan ketika kita insya Allah bertemu kembali di ruangan ini hasilnya lebih baik.

Bagi saudara-saudara yang tahun lalu belum ada ditempat ini yang terpilih menjadi pimpinan daerah apakah Gubernur, Bupati dan Walikota saya ucapkan selamat, selamat bertugas, selamat berkarya. Lakukan tugas dan kewajiban saudara dengan penuh rasa tanggung jawab sebagaimana rakyat di daerah saudara yang memilih dalam pemilihan kepala daerah berharap agar nasib dan masa depannya bertambah baik dan mari kita teruskan kerja keras kita, amanah yang diberikan oleh rakyat kepada kita dengan sebaik-baiknya.

Saya yakin hampir semua di penghujung hari ketika saudara mengakhiri masa bhakti apakah sebagai menteri, apakah sebagai gubernur, sebagai bupati, sebagai walikota atau saya sebagai Presiden, Bapak Jusuf Kalla dan semua tentu ingin menulis sebuah biografi. Harapan kita bisa dibaca anak cucu. Tentu saudara ingin biografinya berisi, makin banyak yang saudara lakukan meskipun saya tahu tidak selalu mulus, tidak selalu menghasilkan yang dicita-citakan tetapi saudara akan bangga dan merasa tidak berdosa karena saudara bekerja penuh untuk mencapai tujuan dan sasaran yang dikehendaki. Mari kita cicil, kita tabung apa yang kita tulis nanti dengan demikian buku itu layak dibaca, paling tidak oleh diri sendiri yang disaksikan oleh Allah SWT dan anak cucu kita, syukur-syukur oleh generasi yang akan datang.

Saudara-saudara,
Pengarahan saya akan saya sampaikan dalam bentuk tayangan di depan dan saya minta panitia nanti memfoto copy dan dibagikan kepada seluruh peserta untuk dikaji dan dilaksanakan. Saya akan melihat apakah hanya dibaca-baca saja sambil minum kopi, sambil merokok meskipun saya menganjurkan jangan terus merokok, tapi laksanakan dengan baik.

Saudara-saudara,
Rasanya harapan dan ajakan saya termasuk arahan atau direction ini sudah jelas selama ini, sudah lengkap, sudah sering, barangkali ada yang mendengar empat, lima kali. Tinggal saudara laksanakan, seperti sepatu Nike “just do it”. Mari kita laksanakan. Kayaknya sudah cukup banyak yang kita bahas, yang kita sepakati, yang kita tetapkan dalam program dan rencana kita.

Ada yang mengkritik saya setiap saya menyampaikan sambutan, arahan di banyak forum ah itu-itu saja, tidak ada yang baru. Mungkin sebagian itu-itu saja karena saya selalu menekankan bagaimana kita semua meningkatkan pendidikan, kesehatan, usaha kecil dan menengah, infrastruktur kita bangun, pangan, energi dan lain-lain. Ya karena penting, bagi yang beragama Islam kita sholat lima waktu sehari, 17 rakaat, setiap rakaat ada Al Fatihah, karena itu inti dari semuanya.

Saudara sebagai orang tua, sebagai seorang ayah, ibu menasihati anak-anaknya yang rajin belajar, ndak mungkin yang rajin membolos, jauhi narkoba, jauhi pergaulan bebas.

Jadi kalau saudara sebagai Gubernur menekankan kepada rakyatnya, kepada para Bupati, Walikota hal-hal yang esensial dan memang harus diingatkan terus. Demikian juga para Bupati, Walikota melakukan hal yang sama karena memang itu penting, penting untuk kita sendiri melaksanakan, penting bagi semua untuk juga mensukseskan program-program itu.

Ada empat agenda yang ingin saya sampaikan, pertama saya ingin mencuplik kembali, ingin segarkan pokok-pokok pengarahan saya kepada para Menteri dan Gubernur pada Oktober 2004. Saya masih ingat, dua hari setelah saya dan Pak Jusuf Kalla dilantik menjadi Presiden dan Wakil Presiden, saya memberikan arahan kepada para Gubernur sebagian besar juga hadir waktu itu, para Menteri maksud saya, beberapa hari setelah itu kepada para Gubernur. Saya angkat kembali karena masih relevan. Saya tidak akan angkat kembali hal-hal penting yang saya sampaikan kepada saudara tahun lalu di tempat ini karena saya anggap juga masih relevan dan perlu kita lakukan.

Lantas saya hanya menggarisbawahi apa yang disampaikan oleh Kepala Bappenas tadi tentang delapan prioritas pembangunan kita di tahun 2008 nanti atau yang akan kita tuangkan dalam RKP tahun 2008 yang pembahasannya, musyawarahnya dilakukan secara terus menerus termasuk acara pada hari ini. Dan yang terakhir, yang keempat saya ingin menyampaikan arahan khusus kepada saudara termasuk para Menteri untuk dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.

Saudara-saudara,
Mengapa yang pertama dan kedua ini perlu saya ingatkan kembali? Gampangnya beginilah, kalau saya berkali-kali ingat lima tahun ini 2004-2009 ini, dalam arti apa yang kita lakukan pada masa bhakti pemerintahan yang saya pimpin ini kita memiliki tujuan dan sasaran yang mesti kita upayakan untuk pencapaiannya. Gampangnya diantara kita satu group begitu akan bepergian ke Bandung untuk menghadiri katakanlah sebuah konferensi tentu dalam waktu yang tidak terlalu lama, dalam 4 jam sampai di Bandung, tujuannya, sasarannya ke Bandung. Pilihannya ada beberapa, apakah lewat jalan klasik, Jakarta-Bogor-Puncak-Cipanas-Cianjur-Bandung satu pilihan, atau rute sebelahnya Jakarta-Jonggol-Cianjur-Bandung atau rute yang satu lagi Jakarta-Kerawang-Purwakarta-Padalarang-Bandung, tetangganya lagi Jakarta-Purwakarta-Subang-Ciater-Bandung atau yang paling cepat sekarang Jakarta lewat jalan tol Cipularang-Bandung. Ada plus dan minusnya. Kalau mau lihat keindahan mungkin lewat Puncak-Cipanas, ingin cepat barangkali lewat Cipularang. Naik pesawat atau naik kereta api atau naik kendaraan darat. Kalau modal kita kuat, usaha maju barangkali naik pesawat, tetapi kalau biaya kita belum sampai barangkali kita jalan darat.

Apapun yang terjadi karena apakah saudara lewat Jonggol, lewat Cipanas, lewat Cipularang bisa mulus, lancar, bisa ada hambatan di jalan, tiba-tiba bannya kempes, ada kemacetan disitu, ada tanah longsor, ada keramaian, arak-arakan sehingga macet dan lain-lain tapi ingat semua harus dilalui, harus dihadapi betul-betul sampai di Bandung untuk menghadiri konferensi dalam waktu yang kita rencanakan. Itu yang kita arungi sekarang ini, membangun, menuju tujuan dan sasaran pada tahun 2009. Demikian juga pada tingkat daerah saudara punya tujuan dan sasaran yang dirumuskan tentu segaris dengan rencana pembangunan jangka menengah nasional kita 2004-2009.

Dengan demikian kalau sering saya ingatkan kembali, ingat kita punya RAPBN lima tahunan, ingat apa yang saya arahkan dulu, dua hal penting itu, dua agenda penting ini tujuannya sekali-kali supaya kita tidak disoriented, kehilangan arah, kehilangan tujuan dan apabila ada masalah kita atasi tetap menuju kesasaran itu. Analogi ini, logika ini mari kita pakai di dalam kita semua mengemban tugas mencapi tujuan dan sasaran yang kita kehendaki.

Dalam kaitan ini saya akan masuk kepada yang pertama, saya cuplik, saya garis bawahi, saya angkat kembali pokok-pokok pengarahan saya kepada para Menteri dan Gubernur pada bulan Oktober 2004 yang lalu. Ini masih ada tanggalnya, tanggal 25 Oktober waktu itu. Saya sampaikan di Istana Negara, di kantor saya. Saudara masih ingat bahwa karena baru saja kita menyelesaikan pemilu waktu itu pemilu 2004 maka yang saya sampaikan bagaimana Indonesia pasca pemilu, harapan rakyat dan tantangan pemerintah yang masih relevan sekarang, agenda nasional lima tahun mendatang masih berlaku, kemudian faktor-faktor menuju sukses dan yang terakhir instruksi Presiden. Selalu saya tutup dengan direction ataupun instruksi saya.

Saya ingin mengangkat harapan rakyat dan tantangan pemerintah. Saudara bisa mendengar ketika bertemu langsung dengan rakyat. Ketika membaca surat kabar, melihat televisi ataupun forum-forum yang lain. Rakyat berharap Indonesia ke depan segalanya akan baik, masalah-masalah fundamental dapat diatasi. Pendek kata rakyat ingin hidup lebih makmur, bahkan kita rasakan di sana-sini harapan itu begitu tinggi, ekspetasinya begitu tinggi. Ada yang tidak sabar inginnya berubah besok, tidak lusa, inginnya semua masalah selesai tidak ada satupun yang tersisa.

Pemerintah memiliki keterbatasan apakah pada tingkat nasional, tingkat provinsi, tingkat kabupaten dan kota, mengapa karena masalah yang kita hadapi besar dan kompleks dan tidak ada jalan pintas. Tidak pernah ada resep ajaib untuk mengatasi semua masalah membangun negeri ini, perlu waktu. Keterbatasan pilihan dan resources yang ada pada pemerintah, potensi kita, modal kita tidak melimpah ruah sebagai negara berkembang, developing country.

Kemudian atas semuanya itu kita terus melakukan sesuatu agar ada kemajuan yang kita capai. Saya ingin mengingatkan kembali saudara-saudara agenda utama kita 2004-2009, saya gunakan istilah yang mudah diingat pertama adalah peace (perdamaian), justice (keadilan), democracy, dan yang keempat kesejahteraan (prosperity). Tolong ditelaah, disimak satu persatu yang saya sampaikan pada Oktober 2004 yang lalu. Apakah ada kemajuan di bidang-bidang ini, kita melaksanakan instropeksi secara jujur. Ini masalah pertama.

Kita bicara satu persatu. Kalau memang kita merasa sudah ada kemajuan alhamdulillah, kalau saudara kira merasa belum mari kita lebih giat lagi. Indonesia yang lebih aman dan damai yang saya tetapkan waktu itu bahwa NKRI tetap tegak dan utuh. Integrasi nasional kokoh atau semakin kokoh, kedaulatan negara tegak dalam konteks hubungan internasional. Keamanan dalam negeri terpelihara, saudara bisa merasakan, para Gubernur, Bupati dan Walikota apakah makin baik, better, dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Separatisme bersenjata dihentikan, konflik komunal diakhiri.

Saya senang, saya bersyukur kemarin 3 hari saya berada di Sulawesi Tengah termasuk di Poso, Poso pesisir, Tentena dan tempat-tempat yang lain. Keadaannya makin baik, hampir normal meskipun belum boleh dikatakan aman benar, bersifat awal dan kita tuntaskan. Kejahatan diperangi termasuk terorisme dan kejahatan transnasional. Harmoni dan integrasi sosial diperkokoh. Toleransi kehidupan beragama diperkuat. Mari kita rasakan satu persatu semuanya itu. Kalau keadaannya makin baik berarti apa yang kita lakukan menghasilkan sesuatu meskipun saya mau mengajak masih harus bekerja lebih keras lagi. Indonesia yang lebih adil, justice yang kita tuju dan kita bangun adalah keadilan sosial diperkuat.

Saya katakan berkali-kali bahwa bangun ekonomi, ideologi ekonomi, yang kita kejar bukanlah kapitalisme apalagi yang hanya merujuk pada logika dan teori pasar, tapi ekonomi yang berkeadilan sosial. Keadilan sosial ini menjadi ciri khas, karakter dari ekonomi dan pembangunan di negeri kita. Persamaan kesempatan didorong, diskriminasi dihilangkan, kesetiakawanan sosial diperkuat, bukan hanya di daerah bencana tetapi dimanapun harus kuat, solidaritas ini. Hukum ditegakkan, hukum dalam arti yang luas. KKN dan penyimpangan diberantas. Penghormatan pada hak-hak asasi manusia ditingkatkan. Alhamdulillah 2,5 tahun ini kita tidak melakukan yang disebut dengan pelanggaran HAM berat, gross violate human right, dimasa lalu kita sering dituduh oleh dunia sebagai negara yang melakukan berbagai pelanggaran HAM, alhamdulillah kita bisa hindari. Jadi ini harus kita teruskan diwaktu yang akan datang.

Indonesia yang lebih demokratis. Demokrasi yang akan kita bangun tentu bukan demokrasi super liberal, bukan kebebasan tanpa batas, tetapi demokrasi yang betul-betul menjadi solusi, menjadi jembatan, menjadi wahana bagi pembangunan bangsa yang baik. Kehidupan demokrasi dikembangkan minimal amanat reformasi. Konstitusionalisme diperkuat. Saya menggarisbawahi yang kedua ini saudara. Kita punya konstitusi mari kita jalankan dengan sungguh-sungguh. Gerakan yang disebut dengan cabut mandat di tengah jalan, setelah dicabut mandatnya diganti dengan presidium. Mereka sekolompok menamakan diri menjadi anggota dewan presidium untuk mengambil alih kepemimpinan, jelas, bukan tindakan yang konstitusional.

Ada pikiran-pikiran bahkan rapat-rapat yang mengatakan saatnya kita melakukan revolusi sosial, pemerintahan kita ganti dan kita akan membentuk pemerintahan sementara, juga bukan langkah-langkah yang konstitusional. Mari kita bangun, kita semua, diri kita sendiri untuk menjadi bangsa yang demokratis, yang menjunjung tinggi kostitusionalisme, aturan main dan etika perpolitikan. Muncul belakangan ini suara-suara di berbagai lembaga, juga ada di kalangan masyarakat politik, di daerah-daerah demokrasi kita dianggap kebablasan.

Saudara-saudara,
Di negara yang liberal pun itu selalu ada tatanan, ada freedom, ada rule of law, ada toleransi. Sehingga harmonis kehidupan politik dan kehidupan demokrasi itu. Mari kita yakini bahwa demokrasi yang kita tuju, yang kita bangun adalah demokrasi semacam itu. Oleh karena itu kalau kita merasa berlebihan, kebablasan, akhirnya tidak membawa kebaikan bagi negeri ini, jauh dari ahlak dalam kehidupan perpolitikan. Mari kita selamatkan kembali kebebasan tetap mekar tetapi disertai dengan toleransi dan disertai dengan kepatuhan pada pranata hukum atau rule of law.

Yang keempat atau yang terakhir tujuan kita adalah membangun Indonesia yang lebih sejahtera, prosperity. Pertumbuhan ekonomi terus didorong meskipun growth atau pertumbuhan ekonomi bukan satu-satunya indikator dan pertumbuhan itupun harus disertai dengan pemerataan growth with equity.

Jika insya Allah tahun ini kita mencapai pertumbuhan 6 % maka sesungguhnya jerih payah kita sejak tahun 1998 ingat dulu sebelum krisis pertumbuhan kita 6-7 %, krisis drop minus 13 %, konstraksi sekitar 21 % collapse. Kita menyatukan tekad meskipun suasana tidak mudah, sama-sama kita merasakan waktu itu. Bangkit perlahan, akhirnya mulai mendekati 6 % dan apabila tahun ini atau tahun depan kita capai kembali pertumbuhan 6 % dan lebih maka kita sungguh bersyukur yang tentunya dengan didistribusikan secara adil, pemerataan itu akan mengangkat banyak hal bahkan pengangguran, mengurangi kemiskinan, meningkatkan daya beli rakyat dan lain-lainnya.

Makro ekonomi diperkuat dan tetap stabil, perkembangannya baik. Sektor riil dan dunia usaha didorong. Harus kita pastikan kemajuan dari segi makro ekonomi mengalir disertai dengan kebangkitan dan pengembangan yang lebih pesat lagi dari sektor riil dan dunia usaha kita. Pengangguran dikurangi, saya kira kita sepakat. Kemiskinan dikurangi. Daya beli rakyat ditingkatkan. Infrastruktur dibangun dan kita akan melaksanakan pembangunan infrastruktur besar-besaran 2007-2008 ke depan karena itu untuk memenuhi keadilan, itu untuk meningkatkan kesejahteraan dan itu untuk menggerakkan ekonomi di seluruh tanah air. Investasi digalakkan, setuju semuanya. Ekspor ditingkatkan. Kualitas hidup masyarakat atau hak dasar ditingkatkan. Pendidikan ditingkatkan. Kesehatan ditingkatkan. Lingkungan hidup ditingkatkan kualitasnya dan peran perempuan ditingkatkan.

Mari kita rasakan bersama-sama, adakah sasaran-sasaran di bidang kesejahteraan rakyat itu telah dicatat oleh saudara-saudara, di kabupaten, di kota, di provinsi, saudara-saudara pimpinan daerah, kalau tingkat nasional ya para Menteri, termasuk saya dan Wakil Presiden juga harus melakukan evaluasi dan instrospeksi, sejauh mana yang telah kita bisa capai untuk mencapai sasaran-sasaran itu.

Saudara-saudara,
Saya sampaikan waktu itu tentang kerjasama internasional. Kita hidup dalam era globalisasi, globalisasi saudara tahu berkali-kali saya katakan membawa kebaikan dan juga bisa membawa keburukan. Yang jelas akan mengganggu negara kita, sisi –sisi buruknya kita cegah, kita tangkal, kita enyahkan, hal-hal yang membawa kebaikan pandai-pandai kita mengalirkan ke negeri kita.

Saya ingin mengingatkan bahwa kerjasama internasional itu keniscayaan dalam hubungan antar bangsa sepanjang tetap berorientasi kepada kepentingan kita, kepentingan nasional. Politik luar negeri kita tetap bebas dan aktif, diabdikan sebesar-besarnya kepentingan kita, bukan kepentingan negara-negara tertentu meskipun negara tertentu itu adalah kawan-kawan kita. Pertama-tama dan yang utama semua itu harus ditarik apakah politik luar negeri kita itu membawa manfaat, mendukung, memenuhi kepentingan bangsa sendiri. Tidak mengorbankan kedaulatan dan harga diri bangsa. Mengalirkan sumber-sumber kemakmuran dan bagian sesungguhnya dari pembangunan kembali ekonomi kita.

Saudara-saudara,
Rasanya perlu saya ingatkan kembali instruksi yang saya sampaikan waktu itu. Saudara-saudara, ini 2004 meskipun ini masih berlaku laksanakan konsolidasi, normalisasi dan konsiliasi di daerah karena pasca pemilu itu. Kita bicara, kita berhadap-hadapan meskipun dalam suasana demokrasi. Kemudian yang kedua saya mengajak responlah harapan rakyat dengan kesungguhan kerja dan hasil yang nyata. Yang ketiga pahami dan implementasikan kebijakan dan program nasional pemerintah tahun 2004-2009. Kembangkan inisiatif, kreasi dan aksi nyata sesuai kondisi provinsi, kabupaten, kota masing-masing.

Terus terang saya punya catatan khusus, rasa salut, hormat dan terima kasih saya kepada para Gubernur, Bupati dan Walikota yang saya lihat inovatif, kreatif terus bekerja mencari akal untuk melakukan perbaikan-perbaikan. Teruslah, disatu sisi ada catatan saya juga masih belum, tolong, waktu masih ada dari pada bukunya kosong, biografinya kosong, nanti, bikin mulai sekarang.

Yang kelima, beri contoh sebagai pejabat yang bersih dan bebas KKN dan tegakkan hal demikian di jajaran masing-masing, sejalan dengan kontrak politik yang telah kita lakukan karena pejabat yang secara hukum dinyatakan bersalah dalam tindak korupsi tentu akan mendapatkan sanksi meskipun saya telah melakukan koreksi selama 2,5 tahun ini, langkah-langkah penegakkan hukum, langkah-langkah hukum pemberantasan korupsi disana-sini tidak proper.

Sebagai contoh belum-belum di surat kabar, ditelevisi, dimana-mana seseorang yang belum tentu dinyatakan bersalah oleh pengadilan langsung Gubernur ini korupsi 50 milyar, Bupati ini korupsi 20 milyar, itu melawan asas praduga tidak bersalah, itu merusak (kaset dibalik).... pengadilan membuktikan yang bersangkutan bersalah atau tidak bersalah, begitu tidak bersalah for swing bahwa hak-haknya dikembalikan dan tidak ada catatan apapun bagi yang bersalah. Sebab di negara manapun juga mendapatkan sanksi.

Proses dalam penegakan hukum pun harus proper, kadang-kadang bukan pengadilan (court), trail by the court, sekarang trail by the press, trail by sms, tidak boleh. Kita akan terus lakukan hal-hal yang tepat, penegak hukum yang mengemban tugasnya cermat, kita sendiri harus cermat untuk tidak melakukan hal yang berkaitan dengan korupsi dan KKN ini.

Yang keenam saudara-saudara. Saya ingin hampir semua waktu untuk Gubernur dan juga Bupati dan Walikota harus berada di tempat masing-masing. Tolong dicamkan ini. Batasi kegiatan di Jakarta dan di tempat-tempat yang lain. Saudara tentu harus datang ke Jakarta, mungkin ada urusan yang penting untuk pembangunan daerahnya tetapi ingat saudara diaudit oleh rakyat, diaudit oleh Yang Maha Kuasa, apakah keberadaan di Jakarta yang sangat sering, sekali datang berhari-hari dengan biaya yang tentu tidak sedikit untuk pembangunan daerahnya, untuk rakyat, untuk yang lain.

Sebab kita harus mulai apa namanya transparan dalam hal ini. Batasi kunjungan ke luar negeri kecuali memberi manfaat yang tinggi untuk kepentingan tugas. Lakukan penghematan biaya perjalanan, studi banding-studi banding yang dicari-cari saya kira tidak perlulah. Tapi melakukan kerjasama-kontrak ini diikuti dengan langkah-langkah nyata, bagus, karena sekali lagi menggerakan investasi, menggerakan ekonomi dan lain-lain.

Sekali lagi saudara sudah diaudit oleh rakyatnya, oleh DPRDnya, oleh semua. Pimpinan DPRD ada ndak? Ok, terima kasih. Jadi sama-sama kita, saya tadi belum sebut minta maaf ke para pimpinan DPRD, provinsi, kabupaten dan kota juga hadir, terima kasih.

Ini masalah penghematan biaya perjalanan. Saya kaget mungkin 2 minggu yang lalu tiba-tiba di koran biaya perjalanan Presiden mahal. Ada ke daerah sampai mengeluarkan 1,5 milyar. Saya kaget sekali, coba dicek. Ternyata laporan yang masuk kepada saya ada sebuah perencanaan di sebuah kabupaten, apabila ada kunjungan Presiden ke tempat itu dalam rangka ini maka direncanakan atau katakanlah dianggarkan sejumlah biaya, ada menyebut-nyebut 1,5 milyar. Kunjungan itu belum terjadi bahkan barangkali belum ada rencana untuk berkunjung ke tempat itu. Jadi headline, boros, untuk apa, ini itu dan sebagainya.

Saudara-saudara,
Dari dulu saya ingin kita melakukan efisiensi, semua, kunjungan saya, kunjungan Wakil Presiden, kunjungan Menteri, kunjungan DPR ke daerah-daerah termasuk kunjungan ke luar negeri kita semua. Oleh karena itulah kemarin saya mengeluarkan instruksi Presiden bahwa kunjungan pejabat ke daerah Presiden, Wakil Presiden, para Menteri dan pejabat-pejabat negera ke daerah dilakukan seefisien mungkin, tegas. Kegiatan-kegiatan protokoler, kegiatan-kegiatan yang tidak relevan yang mengakibatkan pemborosan, kegiatan adat yang tidak boros barangkali suatu tradisi baik, tapi kegiatan protokoler yang tidak perlu, tidak perlu dilakukan.

Kemudian kalau ada fasilitas akomodasi, mes, penginapan, wisma, gunakan. Kemarin saya 2 malam tidur di wisma Gubernur, waktu ke Manggarai saya di mesnya Bupati, bagus, nyaman, nyenyak juga tidurnya. Tidak harus menggunakan fasilitas yang lain kalau ada seperti itu. Kemudian kalau tidak ada baru di hotel. Di penginapan itu pun biayanya dari kami. Jangan mengeluarkan serupiah pun pemimpin daerah. Kita yang datang yang membiayai diri sendiri. Keamanan, memang ada aturan ini berlaku internasional pengamanan untuk Presiden dan Wakil Presiden, VVIP, ini bukan hanya di Indonesia dan bukan mengada-ada. Pengamanan itupun harus proper, tepat, betul-betul yang mengamankan secara langsung. Bukan semua dihitung. Kalau Polisi disitu 5000, 5000 mengamankan. Kalau tentara 2000, 2000 mengamankan. Masuk koran. Pengamanan Presiden, Wakil Presiden 7000. Dari mana? Yang langsung mengamankan, biayapun bukan biaya daerah. Ajukan kepada pusat. Saya itu tegas. Urusan teken Panglima TNI, Kapolri, semua. Biaya-biaya pusat. Daerah itu ya biaya yang apa yang dihadapkan. Kalau sekarang mengundang saya dan Wakil Presiden, ya saya datang. Ada acara disitu saya diundang ya saya datang. Ada program-program pemerintah pusat ya saya datang. Tapi dengan efisiensi yang setinggi-tingginya.

Saudara-saudara,
Kita ingin berhemat. Saya hanya ingin mengatakan, saya pun keras ke dalam. Tahun 2005 dana bisa dihemat dan tidak perlu berhamburan, saya kembalikan anggaran kepresidenan 50 milyar. Tahun 2006 saya kembalikan 68 milyar. Jadi terbalik kalau seolah-olah pemborosan. Mari kita belajar berhemat sesuai dengan kepantasan dan kepentingan kita.

Yang kedelapan, tingkatkan komunikasi langsung dengan rakyat, pecahkan masalahnya dan ukur kemajuan menyangkut taraf hidup mereka. Saya sedih saudara kalau ada Gubernur atau Bupati, Walikota sudah tahun kelima, sudah tahun ketujuh ada yang belum dijangkau. Saya tanya yang sudah kesini siapa saja? Baru Bapak, Pak. Yang dulu-dulu belum, ya mungkin sibuk tetapi rasanya kalau lebih dari 3 tahun, 5 tahun itu kita ndak mugkinlah tidak turun ke lapangan, sebanyak mungkinlah bertemu dengan rakyat. Dengan demikian bisa diselami pikiran-pikiran mereka.Yang kesembilan, lakukan langkah-langkah antisipatif dan proaktif untuk mencegah membesar dan meluasnya masalah di daerah misalnya konflik sosial dan gangguan keamanan.

Saudara-saudara,
Ini masih berlaku, berlaku bagi kita semua kalau itu khusus pemerintah daerah, berlaku bagi saudara. Kalau untuk pemerintah pusat berlaku juga bagi kami semua.

Saudara-saudara,
Berikutnya lagi adalah, saya ingin cuplik, ingin garisbawahi pokok-pokok pengarahan saya di ruangan ini setahun yang lalu berkaitan dengan Musyawarah Perencanaan Pembangunan Nasional. Ya silahkan, lanjutkan. Saya menyampaikan dulu mengapa perencanaan yang baik itu ibaratnya separuh kemenangan. Mengapa perencanaan penting? Hampir pasti kalau rencana saudara jelek, hasilnya ya jelek. Rencana yang baikpun hasilnya belum tentu sebaik rencana itu. Apalagi kalau rencananya jelek. Apalagi tanpa rencana. Ingat saudara memimpin, harus memahami sistem, menggunakan manajemen, menggunakan kepemimpinan, pengawasan dan lain-lain.

Terlalu besar taruhannya, ratusan ribu bagi kita di kota, jutaan bagi Gubernur, Menteri dan termasuk saya dan Wakil Presiden. Jangan serampangan, kita rencanakan dengan baik, kita programkan dengan baik, kita jalankan dengan baik, ada masalah kita atasi dengan baik dan seterusnya. Ini saya ingatkan dulu, jangan kumaha engke, tapi engke kumaha, kalau rencana kita kacau bagaimana nanti, nanti gimana kira-kira. Proses dan pendekatannya setelah Bappenas, Menteri Keuangan, kita semua mengeluarkan semacam direction umum, rencana umum, dimatangkan dari bawah naik ke atas. Kemudian nanti akan menjadi rencana definitif yang dikaitkan dengan anggarannya. Output-nya adalah saya katakan rencana yang definitif, yang integrated, yang comprehensive dan yang consolidated tidak boleh, tidak ada sinkronisasinya satu sama lain.

Insya Allah pada bulan Oktober, atau kapan Pak Gubernur Lemhanas nanti? Ya nanti mulai Agustus kita akan sebarkan pengetahuan dan keterampilan saudara para Bupati, Walikota dalam hal manajemen pemerintahan di Lemhanas. Gunakan kesempatan dengan baik untuk mempermahir, gimana merencanakan, mengambil keputusan, menetapkan semacam kebijakan, menjalankan dan seterusnya. Sehingga satu rupiahpun uang rakyat itu mencapai sasaran yang kita harapkan dan saudara berhasil, maju daerahnya, kurang kemiskinannya, kurang pengangguran dan lain-lain.

Untuk para Gubernur sifatnya nanti semacam seminar untuk mencocokan bahwa langkah-langkah yang dilakukan itu klop dengan apa yang dilaksanakan pada tingkat nasional. Gubernur Lemhanas sudah saya tugasi untuk menerangkan kurikulumnya, kurikulum yang yang dikaitkan dengan kebutuhan riil, bukan teori-teori, bukan ilmu-ilmu yang diawang-awang tetapi yang memang kita perlukan untuk menuju keberhasilan pemerintahan yang saudara pimpin.

Saudara-saudara,
Saya ingatkan dulu sedikit saja aspirasi rakyat, pangan, sandang, papan, pendidikan, kesehatan, rasa aman dan lain-lain pada saat ini untuk mengingatkan sekali lagi. Rakyat memilih pemimpinnya, ini kembali memilih kita semua. Saudara kan dipilih langsung sekarang? Para Bupati, Walikota, Gubernur tentu untuk mewujudkan aspirasi mereka yang memilih kita semua. Oleh karena itu kita bertanggung jawab, kita menunjukan semangat dan kerja keras dan yang ketiga sangat penting. Kita, pemimpin yang dipilih rakyat untuk memimpin eksekusi, pemimpin pemberontakan. Ini harus betul-betul bertanggung jawab kepada rakyat bukan kepada partai politik, kawan dan keluarga atau ikatan identitas yang lain, suku, agama, etnik dan ke daerahan. Ada ikatan emosional kita, ada komunikasi kita, ada hubungan kita tetapi akhirnya kepentingan rakyat diatas segalanya. Kalau ada konflik kepentingan utama kepentingan rakyat karena yang memilih kita, yang memilih saudara-saudara adalah rakyat.

Saya ingin mengatakan bahwa sejak awal ada 7 hal yang saudara tidak boleh lupakan, masih berlaku juga bagaimana terus menerus saudara melakukan pengurangan kemiskinan, pengangguran, peningkatan pendidikan, kesehatan, infrastruktur, pelayanan publik, reformasi birokrasi dan pemberantasan korupsi. Kemudian tahun lalu, 2006 itu ada 9 prioritas dan 8 tujuan MDGs (Millennium Development Goals). Sekarang jadi 8 ya. RKP tahun 2008 itu 8. RKP 2007 itu 9. kalau saya rasa sebetulnya intinya sama hanya pengelompokannya saja yang ditata kembali. Nah, yang kedua mengapa 8 tujuan Millennium Development Goals itu adalah kewajiban semua negara di dunia untuk mencapai MDGs pada tahun 2015.

Oleh karena itu kita mencapai sasaran kita. Kalau sasaran kita capai sesungguhnya MDGs juga kita capai. Tidak usah bingung-bingung, kita yang penting sasaran kita karena sudah inklusif dengan sasaran MDGs. Mengapa saya ingatkan MDGs? Kalau saudara berbicara dengan pihak lain, dengan civilized society, dengan organisasi internasional tahulah apa yang disebut dengan MDGs atau Millennium Development Goals.

Lanjut, ini tidak perlu saya sampaikan, sudah kita ketahui, lanjut. MDGs ini coba dibacakan sama saja sebetulnya dengan sasaran-sasaran kita. Menghapuskan kemiskinan dan kelaparan, menyediakan pelayanan pendidikan dasar untuk semua, mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan, menurunkan angka kematian anak, meningkatkan kesehatan ibu, memerangi HIV/AIDS, malaria dan penyakit menular lainnya, memastikan keberlanjutan lingkungan hidup, membangun kemitraan global dalam pembangunan. Saya kira inklusif itu dengan sasaran yang kita tetapkan.

Saudara-saudara,
Pertanyaannya adalah dapatkah sasaran dan prioritas itu kita capai? Kalau saya mendengar yang saudara sampaikan banyak masalah, banyak rintangan, banyak hambatan, berat. Saya tahu, karena saya juga merasakan. Pak Jusuf Kalla juga merasakan. Tapi kita yakin semua itu bisa kita capai asalkan kita semua bertanggung jawab, jangan saling melempar. Gubernur melempar kepada Bupati, kepada Presiden, Presiden melempar kepada Gubernur, kepada Bupati, terus Bupati melempar kepada Gubernur dan lain-lain.

Ayo sama-sama kita pikul, kita lakukan bersama-sama, kita semua bekerja keras, jangan sekedarnya saja, jangan business as usual. Bagaimana mau bekerja keras kalau dalam sebulan, dua minggu ada pejabat negara di daerah yang ada di Jakarta. Ini susah untuk mengatakan saudara bekerja keras. Itu menurut saya tidak keras. Kita semua sering turun ke lapangan dan bertemu rakyat untuk memecahkan masalah mereka, wajib. Dan yang terakhir saya ulangi lagi, ayolah kita cari akal terus berikhtiar, ini sewaktu-waktu cari akal lagi, ini masih ada lagi, cari akal lagi, sampai ketemu.

Ada permasalahan, masalah klasik dari tahun ke tahun yang kita hadapi yakni masalah koordinasi, sinkronisasi dan integrasi. Intra pemerintah ada masalah kita. Koordinasi vertikal sering tidak baik, koordinasi horizontal juga demikian, mix nya paduan antara pembangunan sektoral dengan regional juga sering tidak klop. Mari kita perbaiki. Forum ini baik, silahkan para Menteri nanti dalam panel yang disiapkan pecahkan masalah-masalah ini.

Hubungan eksekutif dan legislatif, disini hadir pimpinan unsur pimpinan DPR RI, DPD RI, pimpinan DPRD, provinsi, kabupaten, kota. Hubungan Eksekutif dan Legislatif di negera manapun hubungan yang kritis dalam arti critical tetapi semuanya untuk kepentingan rakyat bukan kepentingan masing-masing. Setelah kita punya RKP/RKPD, APBN/APBD mari kita jalankan. Jadi jangan yang sudah disepakati antara Eksekutif dan Legislatif tidak terjadi kekompakan untuk menjalankannya. Kemudian sesuai aturan main dan etika. Mana yang lebih layak pedomannya Eksekutif dan mana yang menjadi wilayah pedomannya Legislatif, jangan campur aduk. Ingat trias political, ingat check and balances, ingat perbedaan-perbedaan itu. Kacau negara kita, kalau semua tumpang tindih harus digarap bersama-sama. Tidak ada di negara lain seperti itu yang seolah-olah semua urusan harus tanggung renteng ataupun harus dikerjakan bersama-sama. Itu menghambat, artinya panjang, lama, boros dan lain-lain.

Pak Paskah Suzeta, Kepala Bappenas tadi mengingatkan 8 prioritas pembangunan nasional, silahkan dibaca sendiri, supaya ingat. Terbaca tidak dari belakang ini? kembali just do it, let’s do it, mari kita kerjakan bersama-sama karena sudah kita rembukan, sudah kita pikirkan, pertimbangkan, kita olah, jadilah ini 8 prioritas.

Saudara-saudara,
Terakhir, saya ingin menyampaikan arahan khusus. Arahan ini saya minta dijalankan. Saya mengemban tugas dalam tatanan sistem pemerintahan. Saya Kepala Pemerintahan, Bapak Jusuf Kalla, Wakil saya untuk menjalankan roda pemerintahan. Dalam sistem pemerintahan kita ada Gubernur, Bupati, Walikota. Mari kita jalankan disiplin dalam tata pemerintahan ini sehingga hasilnya baik, mencapai semua sasaran yang kita harapkan, sasaran tingkat nasional, sasaran tingkat provinsi, sasaran tingkat kabupaten atau kota.

Pertama, susun RKPD 2008 yang “tajam”, jangan bersayap kesana kemari. Yang tajam. Kalau harus kuantitatif, kuantitatif. Kalau targetnya harus ada, targetnya harus ada, jangan semua meningkat menjadi lebih baik, alhamdulillah menjadi, yang kuantitatif, tajam. Realistik, jangan menempatkan tujuan yang tidak mungkin dicapai, untuk apa? Bagus, hebat tapi tidak bisa kita capai. Kemudian dapat diwujudkan workable. Saya ingin dengar nanti RKPD seperti ini, cegah pemborosan, cegah pembelanjaan yang konsumtif dan penyimpangan atau korupsi. Saya ingatkan, jangan membangun gedung bermewah-mewah, melebihi dari kepatutan, melebihi dari apa kegunaan dari gedung itu. Mobil-mobil dan lain-lain yang sangat konsumtif. Yang pantas, yang tepat, coba bandingkan dengan negara-negara lain, sederhana kantornya, sederhana gedungnya tapi outputnya, bekerjanya. Fasilitas yang kita perlukan ada. Kurangi overhead cost, alirkan ke bawah, sasaran-sasaran yang tepat. Intinya efisiensi.

Saya sudah mulai minta pertanggungjawaban kalau ada pembangunan gedung yang sangat besar, mewah. Berapa cost-nya, apa tujuannya dan sebagainya. Karena untuk apa? Untuk apa? Sementara pendidikan, kesehatan, usaha kecil, pangan, energi itu masih memerlukan triliunan rupiah, milyaran rupiah dan kita meninggalkan catatan yang tidak kita bawa semua. Yang proper, yang pantas.

Yang ketiga, permudah dan berikan fasilitas bagi tumbuhnya investasi dan dunia usaha di daerah saudara. Saudara teriak-teriak. Pengangguran masih banyak, kemiskinan masih tinggi, ekonomi belum bergerak, pendapatan daerah kurang, pajak yang masuk tidak banyak tetapi masih diantara kita cenderung tidak welcome, tidak mempercepat, tidak, bagaimana punya usaha bergerak, investasi bergerak. Masih ada hambatan-hambatan, terus terang saya tahu karena informasi mengalir ke saya. Minta ini, minta itu. Syaratnya ini, syaratnya itu. Yang jelas-jelas tidak memacu berkembangnya investasi dan dunia usaha. Sekali lagi saya sampaikan. Mari kita bangun semuanya. Tidak bisa pemerintah menciptakan lapangan kerja, yang bisa itu dunia usaha, investasi di negeri kita. Yang masuk TNI berapa, masuk Polri berapa, masuk PNS berapa, terbatas. Berapa juta tiap tahun angkatan bersenjata? Alirkan ke pertanian, ke perindustrian, ke dunia usaha, manufaktur dan banyak sekali yang bisa kita buka.

Yang keempat, mari kita sukseskan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri dengan anggaran yang cukup besar. Saya minta langsung dikelola para Camat, para Bupati, para Walikota, Gubernur melakukan pengawasan. Yang menjadi tuan rumah dan yang berperan adalah yang di depan, di daerah-daerah. Kita memastikan anggarannya cukup, anggarannya bisa digunakan dengan baik. Jadi jangan sia-siakan, makin banyak alokasi anggaran kita untuk mengurangi kemiskinan, untuk PNPM Mandiri ini, untuk kesejahteraan disamping untuk infrastruktur dan anggaran-anggaran yang lain.

Kemudian yang kelima dan terakhir, Bappenas dan BPS saya perintahkan untuk mengeluarkan informasi, report, secara berkala tentang makro ekonomi + daerah, menyangkut pertumbuhan, growth. Saya begitu membuka layar, dengan klik akan tahu triwulan ini bagaimana growth Aceh, Lampung, DKI Jakarta, Kalteng, Bali, Sulteng, Maluku seperti itu bandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Kalau bagus, trednya bagus. Senang saya berarti positif. Kalau anjlok, anjloknya tidak tanggung-tanggung. Saya harus bertanya, ada apa sebetulnya.

Yang kedua inflasi, terutama beras. Saya ingin tahu bagaimana perbandingan harga beras di provinsi a, b, c, d, kabupaten 1, 2, 3, kota ini, kota itu. Kalau kita cinta pada rakyat, harga beras di tempat saudara harus pas. Melindungi petani, dijangkau oleh semua rakyat kita. Saya ingin petanya. Peta inflasi, peta utamanya harga beras. Saya sudah mengeluarkan instruksi Presiden tentang harga patokan pembelian, sudah kita sesuaikan, sudah memberikan keuntungan yang lebih baik kepada petani. Jalankan itu dan cegah kenaikan harga beras yang akhirnya memberatkan saudara-saudara kita untuk membeli dan mengadakan beras.

Peta pengangguran, saya ingin tahu progresnya. Apakah jalan ditempat, apakah makin kedepan malah makin banyak menganggur. Saya ingin tahu ada apa? Apa yang dilakukan? Kemudian peta yang keempat, peta kemiskinan. Ini bukan hanya kepada saya tapi harus kita ketahui dulu kepada publik, kepada masyarakat luas. Dengan demikian semua ikut memiliki, civil society, semua ikut memiliki. Bagaimana daerah-daerah itu, apa yang dilakukan dan tidak dilakukan. Dengan demikian dalam demokrasi rakyat kesimpulannya akan memilih pemimpin-pemimpinnya dengan melihat apa yang dilakukan oleh kita semua, upayanya, jerih payahnya, kegiatan dan lain-lain.

Saudara-saudara,
Itulah yang saya sampaikan khusus, arahan khusus ini saya minta ini dijalankan benar dan bagi saya ini adalah kendali, kontrol saya tentang apa yang kita lakukan secara bersama dan bagi rakyat adalah pertanggungjawaban kita, pertanggung jawaban saudara kepada rakyat yang memilih kita semuanya.Dengan penjelasan ini, sekali lagi saya mengajak mari kita terus bekerja, bekerja lebih giat lagi, bekerja lebih keras lagi agar semua sasaran dapat kita capai.

Akhirnya dengan memohon ridho Tuhan Yang Maha Kuasa, Allah SWT dan dengan mengucapkan ”Bismilahirrahmanirrahim”, Musyawarah Perencanaan Pembangunan Nasional Tahun 2007 dalam rangka penyusunan rencana kerja pemerintah tahun 2008 dengan resmi saya nyatakan dibuka. Sekian.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

*****


Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan