Pidato Presiden

Sambutan Silaturahmi dengan Pengasuh Pondok Pesantren se-Indonesia dan Peserta Raker RMI

 

TRANSKRIPSI
SAMBUTANPRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
SILATURAHMI DENGAN PENGASUH PONDOK PESANTREN
SE-INDONESIA DAN PESERTA RAPAT KERJA RABITHAH MA’AHID ISLAMIYAH (RMI) PENGURUS BESAR NAHDLATUL ULAMA (PBNU)
ISTANA NEGARA, 21 MEI 2007



Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,


Yang saya hormati Saudara Menteri Agama Republik Indonesia, Saudara Sekretaris Kabinet, Saudara Rossi Munir dan para Pimpinan Pengurus Besar Nahdatul Ulama yang hadir,
Yang saya hormati Pimpinan Rabithah Ma’ahid Islamiyah dan jajaran pengurus,
Yang saya cintai dan saya muliakan para Pimpinan Pondok Pesantren, para Ulama, para Kyai,
Hadir di sini para Kyai atau guru-guru saya, sahabat-sahabat saya yang selama ini sering memberikan nasihat, tausiah, dan bahkan kritik-kritik kepada saya, kritik yang baik. Alhamdulillah, saya mengucapkan terima kasih.

Para peserta silaturahim dan rapat kerja,
Hadirin, hadirot yang dimuliakan Allah SWT,
Pada kesempatan yang baik dan semoga senantiasa penuh berkah ini, marilah sekali lagi kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT, atas perkenan rahmat dan ridho-Nya kepada kita semua masih diberi kesempatan, diberi kekuatan dan insya Allah kesehatan untuk melanjutkan ibadah kita, melanjutkan karya dan pengabdian kita kepada umat dan kepada bangsa dan negara.

Kita juga bersyukur hari ini dapat bersilaturahim di tempat ini dengan niat yang baik untuk sama-sama meningkatkan apa yang bisa kita lakukan untuk bangsa dan negara kita. Salawat dan salam, marilah sama-sama kita haturkan kepada junjungan kita, Nabi Besar Muhammad SAW beserta keluarga, sahabat dan pengikut-pengikut Rasulullah, insya Allah, termasuk kita-kita semua sampai akhir zaman.

Saya ingin menggunakan kesempatan yang membahagiakan ini untuk menyampaikan ucapan selamat datang kepada para pengasuh pondok pesantren, para ulama, dan para kyai yang datang dari seluruh tanah air. Saya pun ingin mengucapkan selamat atas telah dilangsungkannya rapat kerja kepada para peserta Rapat Kerja Rabhitah Ma’ahid Islamiyah. Semoga silaturahim dan rapat kerja kali ini, dapat membawa manfaat dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan, serta membangun kerjasama yang lebih baik di antara pondok-pondok pesantren di negeri kita.

Hadirin yang saya hormati,
Saya sungguh bergembira, pada hari ini dapat berada di tengah-tengah para ulama, para kyai, para pimpinan pondok pesantren dari seluruh tanah air. Bagi saya, kehadiran para ulama dan para kyai di Istana Negara ini membawa makna dan kesejukan sendiri. Keteladanan, ketawaduan, keluasan ilmu, dan keluhuran budi para ulama telah menjadi inspirasi yang tidak pernah kering kepada saya di dalam menjalankan roda pemerintahan di negeri tercinta ini. Sebagai Kepala Negara, saya sungguh bersyukur, karena negeri kita memiliki ribuan pondok pesantren yang tersebar di seluruh penjuru tanah air. Ribuan pondok pesantren itu merupakan aset, merupakan kekuatan, merupakan pusat kebajikan bagi umat, bangsa, dan negara yang tidak ternilai harganya.

Kehadiran pondok pesantren di tanah air telah ada sejak berkembangnya agama Islam di Nusantara. Pada awalnya, pondok pesantren tumbuh dan berkembang sebagai tempat pendidikan para santri yang berkeinginan memperdalam ajaran Islam. Komunitas santri, berkumpul di pesantren-pesantren untuk memperdalam kitab suci Al-Qur’an dan naskah-naskah klasik. Pesantren tumbuh menjadi sebuah lembaga tafaqquh fid-dien, sebagai institusi yang konsisten dalam mengembangkan dan mentransformasikan ilmu pengetahuan berdasarkan nilai-nilai agama. Pesantren menjadi tempat tumbuhnya tradisi intelektual keagamaan yang khas di tanah air kita.

Di zaman kolonial, di zaman penjajahan Belanda waktu itu, pesantren tidak hanya berperan sebagai lembaga pendidikan Islam, tetapi juga berperan dalam membangun wawasan kebangsaan, rasa kebangsaan, semangat kebangsaan dan wawasan kebangsaan kita. Pesantren telah banyak memberikan sumbangan yang sangat berarti dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Pesantren, selain berperan penting dalam mendidik dan mencerdaskan anak-anak bangsa, juga berperan dalam perjuangan menentang penjajahan. Harus kita akui, bahwa para pesantren---dengan para kyai dan santrinya memiliki jasa yang sangat besar terhadap bangsa dan negara kita dalam mendorong pergerakan nasional dari masa ke masa untuk menuju ke kemerdekaan Indonesia. Para santri dan kyai dalam catatan sejarah, senantiasa mengobarkan perlawanan terhadap kaum penjajah.

Seiring dengan berkembangnya metode pendidikan Islam, pola interaksi sosial para santri, serta perkembangan budaya, lambat laun pesantren berubah menjadi lembaga pendidikan yang modern. Pesantren yang dulu dikenal sebagai lembaga pendidikan paling sederhana dengan kesederhanaan bangunan-bangunan fisik lingkungan pesantren, kesederhanaan cara hidup para santri, kepatuhan santri pada kyainya, serta sistem pengajaran tradisional, kini sebagian telah tumbuh menjadi lembaga pendidikan yang modern. Namun, kesederhanaan, kejuangan, kemandirian, kebersamaan, dan keikhlasan, tetap menjadi ruh, menjadi semangat yang dapat mengukuhkan pesantren sebagai lembaga pendidikan yang tidak lapuk karena hujan dan tidak lekang karena panas.

Hadirin yang saya muliakan,
Akhir-akhir ini kita dihadapkan pada berbagai persoalan umat yang semakin beragam. Kita masih harus berupaya untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat, mengurangi angka kemiskinan, dan meningkatkan taraf kehidupan bangsa kita, agar semakin sejajar dengan bangsa-bangsa lain yang telah maju. Perlu diketahui, di dunia ini ada bangsa-bangsa lain yang justru masih berada di belakang kita. Kita wajib menolong saudara-saudara kita di negara lain itu, seraya memacu diri untuk mengejar ketertinggalan kita dengan yang lebih dahulu maju. Kita pun dihadapkan pada tantangan dan permasalahan yang dapat melunturkan nilai-nilai moral dan akhlak. Oleh karena itu, pesantren diharapkan dapat berperan aktif bersama-sama Pemerintah untuk memecahkan berbagai persoalan yang kita hadapi itu. Pesantren dengan tradisi keilmuan dan kelembagaan dapat melakukan pencerahan, bimbingan kepada masyarakat melalui kegiatan pendidikan, kegiatan dakwah, dan kegiatan sosial lainnya.

Dalam perspektif Islam, pendidikan merupakan unsur yang paling mendasar, yang tidak dapat dilepaskan dari aspek-aspek teologis, aspek keagamaan. Para santri, selain diberikan bekal dan penguatan ilmu-ilmu keagamaan juga dididik dengan sikap dan perilaku yang rasional, yang inovatif, dan yang kreatif. Hal ini saya anggap penting, agar para santri selain dapat menguasai ilmu-ilmu agama, juga memiliki kemandirian dan daya saing yang menjadi tema dari rapat kerja kali ini. Untuk memiliki daya saing, pesantren di era global harus mampu memberikan pemikiran-pemikiran baru. Fikrah atau pemikiran yang dikembangkan, tidak hanya memikirkan keagamaan semata, tetapi juga pemikiran yang bersentuhan dengan bidang ekonomi, sosial, budaya, dan teknologi.

Sudah saatnya, hadirin-hadirat yang saya muliakan, di era global sekarang ini, pesantren mengembangkan kemajuan science dan teknologi yang digali dari ajaran Islam. Pesantren dituntut untuk dapat mengaktualkan teks-teks Al-Qur’an dan Sunnah ke dalam kehidupan modern. Kita tidak boleh lupa pada sejarah, bahwa pada masa awal kebangkitan Islam, pada milenium pertama dulu berbagai ilmu pengetahuan dan teknologi ditemukan dan dikembangkan oleh para pemikir Islam. Kita mengenal ilmu hayat atau biologi, ilmu falaq (astronomi), aljabar atau matematika, dan ilmu-ilmu lain yang digali oleh para pemikir Islam.

Saya berbahagia, akhir-akhir ini telah banyak pondok pesantren yang menggunakan bahasa Arab dan bahasa Inggris sebagai bahasa pergaulan dan bahasa pengantar pendidikan di pondok pesantren. Melalui kemampuan berbahasa Arab, para santri memiliki dasar-dasar untuk belajar agama Islam langsung dari sumber aslinya yang berbahasa Arab. Sementara penguasaan bahasa Inggris, merupakan bagian dari upaya kita untuk mempelajari pengetahuan umum dan memungkinkan kita untuk dapat berkomunikasi dengan bangsa-bangsa lain di seluruh dunia.

Saya sering mengatakan, bahwa peradaban Islam pada milenium pertama amat maju, lebih maju dibandingkan peradaban yang lain waktu itu. Milenium kedua, kita relatif tertinggal. Sekarang kita memasuki milenium ketiga, saya yakin karena banyak sekali pemikir-pemikir Islam, teknolog Islam, ahli-ahli dari kalangan Islam yang bisa memberikan solusi pada permasalahan dunia, peradaban Islam dapat dikembangkan lagi.

Ketika saya diminta oleh Universitas Ibnu Saud di Riyadh, Saudi Arabia waktu itu, saya berikan ceramah dengan judul “Membangun Peradaban Islam di Milenium ketiga”. Karena saya yakin, kita dapat membangun kembali peradaban kita, civilazation kita yang tidak kalah dengan peradaban manapun yang bisa memberikan solusi, memecahkan masalah-masalah kemanusian, masalah-masalah keduniaan. Pemahaman dan pengejawantahan aspek-aspek teologis, tentunya dapat diselaraskan dengan wawasan ilmu pengetahuan kontemporer.

Para peserta silaturahim dan rapat kerja yang saya muliakan
Pada kesempatan yang baik ini, saya ingin menyampaikan beberapa hal. Yang pertama, senang saya tadi mendengar bahwa pondok pesantren sekarang ini lebih dari sekedar untuk menyelenggarakan pendidikan keagamaan, tetapi lebih dari itu berkontribusi untuk meningkatkan kesejahteraan bagi warga pondok pesantren, bagi umat, dan akhirnya bagi bangsa dan negara. Ini sungguh mulia. Saya senang tadi ada rekomendasi kepada saya, kepada Pemerintah, harap juga disampaikan kepada para Gubernur, para Bupati, dan para Walikota. Karena pada hakekatnya, tugas pemimpin tiada lain adalah terus-menerus berikhtiar, berupaya, berjuang untuk meningkatkan kesejahteraan umat dan rakyatnya.

Alhamdulillah, ekonomi kita sudah mulai tumbuh. Sesungguhnya kalau ekonomi tumbuh sekitar 5,5-5,6% dua tahun berturut-turut, artinya sektor riil juga tumbuh. Kalau triwulan pertama ini ekonomi kita tumbuh 6%, sebetulnya sektor riil juga tumbuh lebih tinggi lagi. Cuma belum semua sektor riil, pertumbuhannya tinggi, masih ada yang rendah, masih ada yang jalan di tempat. Tugas kita, terus-menerus mengupayakan agar sektor riil di seluruh Indonesia dari Sabang sampai Merauke, di daerah tertinggal, di perdesaan juga mengalami kemajuan yang berarti. Ini memerlukan tekad kita semua.

Pemerintah sesuai dengan pertumbuhan ekonomi, sesuai dengan peningkatan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN dan APBD), kita terus meningkatkan anggaran untuk pengurangan kemiskinan, termasuk anggaran pendidikan dan kesehatan, termasuk anggaran untuk pendidikan agama. Tahun 2004, ketika saya memulai mengemban amanah waktu itu dianggarkan pengurangan kemiskinan sekitar 19 trilyun. Tahun 2005, kita naikkan 24 trilyun. Tahun 2006, naik menjadi 42 trilyun. Tahun ini, 51 trilyun. Insya Allah, Pemerintah akan bersama-sama dengan DPR bisa meningkatkan lagi anggaran kemiskinan tahun depan mencapai lebih dari 57 trilyun, agar upaya untuk membantu rakyat kecil, rakyat yang masih miskin, usaha kecil dan menengah di daerah-daerah, termasuk lingkungan pondok pesantren dapat dianggarkan lebih besar lagi. Syaratnya, para pemimpin di seluruh Indonesia harus betul-betul turun ke lapangan, melihat keadaan secara nyata, menentukan prioritas, mana yang harus dibantu lebih dahulu, mana yang boleh kemudian, agar bagi mereka betul-betul memerlukan dengan anggaran ini dapat dialokasikan sebagai modal untuk usaha kecil dan menengah mereka. Saya menyampaikan para pihak perbankan dan rakyat Indonesia misalnya dan pihak-pihak lain, permudahlah setiap upaya untuk memberikan modal kepada usaha kecil dan menengah, termasuk lingkungan pondok pesantren.

Para Pemimpin Daerah, para Bupati, Walikota juga mencari solusi kalau para pencari modal tidak bisa memberikan agunan jaminannya apa, bantulah, semua itu bisa dibantu, karena uang itu tidak kemana-mana akan digunakan dengan baik. Karena tidak ada dalam sejarah, usaha kecil itu menghilangkan uang negara dalam jumlah yang besar. Krisis bahkan dulu banyak usaha-usaha besar bangkrut yang jumlah uang yang hilang cukup besar, yang mestinya harus menjadi kewajiban moral bagi semua untuk bisa berbuat lagi bagi negaranya, bagi rakyatnya. Tetapi usaha kecil itu pada umumnya aman, apalagi dibimbing, dibina, diarahkan. Oleh karena itulah, saya kira, karena keputusan politik sudah kita berikan, kebijakan Pemerintah, kebijakan sudah saya tetapkan untuk mengalirkan modal lebih banyak lagi dengan bunga yang tidak terlalu tinggi, disertai bimbingan kepada masyarakat luas, usahanya, usaha kecil dan menengah, agar sektor riil di desa-desa segera bergerak.

Kemarin saya melaksanakan kunjungan mendadak di sebuah desa namanya Desa Karang Tengah Kecamatan Babakan Madong di Kabupaten Bogor. Saya sengaja datang mendadak, sebab kalau dipersiapkan itu semuanya dipersiapkan, kadang-kadang diatur pembicaraannya, ditunjukkan tempat yang baik dan lain-lain. Kemarin saya datang desa yang memang terbelakang, desa yang miskin, saya datang apa adanya, betul-betul apa adanya. Saya lihat tempat-tempat yang harusnya sudah diprioritaskan pembangunannya tetapi belum. Masalah pendidikan, masalah kesehatan, masalah usaha kecil, masalah keamanan, masalah tanah longsor, kemudian minyak tanah, pupuk sampai saya berdialog dengan tiga pimpinan pondok pesantren. Saya ingin tahu kerukunan, kehidupan beragama, lepas semua bicaranya. Saya senang sekali, karena asli, tidak dipoles-poles. Itu suara rakyat, itu harapan rakyat, nyeplos. Kalau ngiritik, ngeritik, tapi kalau terima kasih, terima kasih. Kita rindu seperti itu. Kejujuran di negeri ini, yang benar katakanlah benar, yang salah sebutlah salah. Yang baik tolonglah dikatakan baik, yang belum baik, yang jelek sebutkan juga masih jelek dan belum baik.

Dengan demikian, kita menjadi tidak zalim pada diri sendiri, tapi bersama-sama memperbaiki kekurangan, bersama-sama meningkatkan apa yang kita tingkatkan. Dari pengalaman kunjungan saya yang insya Allah akan saya lakukan di tempat-tempat lain, dapat saya simpulkan bahwa sebenarnya yang diinginkan rakyat cukup sederhana. Kebutuhan hidup mereka sehari-hari, tidak muluk-muluk, tidak bicara politik yang tinggi-tinggi. Tapi benar, itulah kewajiban kita memastikan bahwa program pengaliran anggaran betul-betul sampai pada sasarannya, tidak belok kesana kemari. Dengan demikian, hasilnya menjadi semakin baik.

Saya minta Saudara Menteri Agama tolong dipelajari rekomendasi dari rapat kerja ini. Yang baik, tolong berikan dukungan, komunikasikan pada Menteri yang lain apa yang bisa kita lakukan untuk meningkatkan komunitas pondok pesantren dalam bagian meningkatkan kehidupan rakyat kita di seluruh tanah air.

Yang kedua, saya ingin mengajak untuk, bahasa kerennya itu mengkampanyekan, mengkampanyekan bukan kampanye politik bukan. Mengkampanyekan itu apa Pak Agil Sirat ini? Ya mensoasialisasikan, mengajak, membumikan, menghidupkan kita semua. Ada tiga jangan. Jangan yang pertama, janganlah kita menggunakan kebebasan tanpa batas, kebebasan tanpa akhlak, berbahaya. Masyarakat manapun, negara manapun, bangsa manapun, kalau kebebasan utama menjadi panglima dan tanpa batas tidak perduli kebebasan itu mengganggu yang lain atau tidak disertai dengan ahklak, hampir pasti masyarakat itu akan runtuh. Mari kita gunakan kebebasan dengan tanggung jawab yang tinggi. Demokrasi harus mekar memang, kebebasan harus hadir di negeri ini, tapi kebebasan yang bertanggung jawab, kebebasan dengan akhlak, kebebasan yang bikin teduh, bikin nyaman, bikin tentram bagi kita semua. Mari kita dorong kebebasan dan demokrasi, katakanlah tanpa menimbulkan kerusakan pada kehidupan masyarakat kita. Itu jangan yang pertama.

Jangan yang kedua, jangan kita biarkan masyarakat kita mengejar kesenangan duniawi semata, kesenangan duniawi yang berlebihan yang disebut dengan hedonisme. Saya sering berkunjung di kota-kota besar di Indonesia, sekali-kali saya berkunjung ke luar negeri. Salah satu bahaya globalisasi adalah tumbuhnya gaya hidup global yang kadang-kadang hedonistik, mengejar kesenangan duniawi, yang kaya hidupnya bermewah-mewahan, berboros-borosan, ikut-ikutan dan seterusnya. Ini berbahaya. Mari kita cegah di negeri kita untuk tumbuh hidup baru gaya hidup seperti itu.

Pertama, Islam mengajarkan harus ada keseimbangan antara dunia dan akhirat. Bayangkan kalau semua hanya dipuas-puaskan untuk kepentingan duniawi. Jadi apa kepribadian, akhlak dan prilaku kita. Yang kedua, negara Indonesia yang sedang membangun, kalau ada kelebihan, tolonglah bantu kaum dhuafa, kaum fakir, kaum miskin, semuanya yang masih memerlukan bantuan, jangan dimewah-mewahkan, dihabis-habiskan untuk mengejar sekali lagi, kesenangan duniawi semata. Kita perlukan kesetiakawanan, kita perlukan kebersamaan dalam saling meringankan beban, terutama bagi saudara-saudara kita yang belum mampu. Mari kita perangi, kita cegah hedonisme seperti ini.

Dan yang ketiga, jangan yang ketiga, jangan mengembangkan budaya fitnah. Hati-hati, jangankan pemimpin, jangankan tokoh, orang-seorang pun hati-hati dalam bertutur kata. Bayangkan kalau negara kita menjadi lautan fitnah, menuduh orang sembarangan, dosanya luar biasa. Orang yang dituduh punya keluarga, punya anak, punya istri, punya saudara, punya semua. Hati-hati, fitnah lebih kejam daripada pembunuhan. Belum kalau yang difitnah, karena mencemarkan nama baik menuntut ke pengadilan, menuntut ke proses hukum, seperti apa negara kita, harusnya tentram damai, tuntut-menuntut. Kontrolnya ada dalam diri kita, mari kita hati-hati dalam berbicara, mari kita contoh Rasullullah, Nabi Muhammad SAW, tutur katanya, prilaku beliau, sikapnya, cara berkomunikasi dan seterusnya.

Jadi para forum yang mulia ini, saya mengajak untuk tidak mengembangkan tiga hal tadi. Jangan menggunakan kebebasan tanpa batas, kebebasan tanpa akhlak. Jangan kita hanya mengejar kesenangan duniawi, apalagi secara berlebihan yang disebut hedonisme. Dan jangan kita menghidupkan, mengembangkan budaya fitnah, yang justru menimbulkan keonaran di antara kita semua.

Hadirin sekalian, hadirat yang saya muliakan,
Akhirnya, mengakhiri sambutan ini, saya mengajak sekali lagi kepada para pengasuh pondok pesantren di seluruh tanah air untuk menjadikan pondok pesantren sebagai lembaga yang konsisten dalam pendidikan agama Islam. Peran pesantren sebagai lembaga pendidikan harus mampu meningkatkan kualitas sumber daya insani yang memiliki daya saing di era global. Jangan gentar dengan globalisasi. Yang jelek-jelek kita cegah masuk negeri kita, kita lawan. Yang baik-baik kita ambil, kita akan bisa menjadi bangsa besar, kalau kita cerdas dan arif menyikapi globalisasi ini. Tingkatkan kualitas sumber daya insani yang berahlak mulia, profesional, dan mandiri dalam menghadapi persaingan di antara berbagai negara di dunia.

Kepada para peserta, sekali lagi saya ucapkan selamat atas berakhirnya Rapat Kerja Rabithah Ma’ahid Islamiyah. Saya turut berdoa, mudah-mudahan rapat kerja yang baru saja dilangsungkan benar-benar dapat memperkukuh peran dan fungsi asosiasi pondok pesantren se-Indonesia dalam meningkatkan kinerjanya serta di dalam membangun kerjasama di antara pondok-pondok pesantren kita.

Kepada Saudara Menteri Agama dan tolong Pak Sudi Silalahi teruskan kepada Menteri Pendidikan Nasional, saya minta untuk memberikan perhatian secara sungguh-sungguh terhadap keberadaan pondok pesantren di seluruh tanah air. Berikan bimbingan, pembinaan, dan bantuan, agar ribuan pondok pesantren yang kita miliki terus dapat maju dan berkembang dan membawa manfaat bagi umat, dan bagi bangsa dan negara.

Akhirnya, saya berdo’a ke hadirat Allah SWT, semoga perjuangan, pengabdian, dan kiprah para pengasuh pondok pesantren di seluruh tanah air dicatat sebagai amal soleh oleh Allah SWT.

Demikianlah yang dapat sampaikan, semoga Tuhan Yang Maha Besar, Allah SWT selalu memberikan bimbingan, petunjuk dan lindungan-Nya kepada kita sekalian.

Sekian.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


*****

Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan