Pidato Presiden

Sambutan Pembukaan Rapimnas Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Ke-55

 

TRANSKRIPSI
SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
PEMBUKAAN RAPAT PIMPINAN NASIONAL
PERSATUAN INSINYUR INDONESIA YANG KE-55
GEDUNG MERDEKA-BANDUNG, JAWA BARAT
24 MEI 2007


Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Selamat pagi,
Salam sejahtera untuk kita semua,

Yang saya hormati Saudara Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral selaku Dewan Penasehat PII, para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu, dan para Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia,
Yang saya hormati Saudara Gubernur Jawa Barat, Ketua DPRD Jawa Barat, dan para Pejabat Negara yang bertugas di seluruh Jawa Barat, baik dari unsur Eksekutif, Legislatif, Yudikatif maupun TNI dan Polri,
Yang saya hormati Saudara Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia dan para Mantan Ketua Umum Keluarga Besar PII,

Hadirin sekalian yang saya muliakan,
Pada kesempatan yang baik dan semoga senantiasa penuh berkah ini, saya mengajak hadirin sekalian untuk sekali lagi memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, karena kepada kita semua masih diberi kesempatan, kekuatan dan Insya Allah kesehatan untuk melanjutkan karya kita, serta tugas dan pengabdian kita kepada bangsa dan negara tercinta.

Kita juga bersyukur, hari ini berada di tempat yang sungguh bersejarah. Gedung Merdeka ini telah menjadi saksi dan bagian dari sejarah perjuangan bangsa kita, maupun sebagai bagian dari sejarah perjuangan bangsa-bangsa di dunia. Tadi dikatakan tahun 1955, Presiden Soekarno memimpin Konferensi Asia Afrika yang pertama, yang dihadiri oleh para pemimpin dunia dari Asia Afrika pada waktu itu. Dua tahun, yang lalu di gedung ini juga, kita selenggarakan Konferensi Asia Afrika kedua yang saya pimpin bersama Presiden Afrika Selatan Thabo Mbeki yang juga dihadiri oleh para pemimpin Asia Afrika, antara lain waktu itu hadir Presiden Republik Rakyat Tiongkok Hu Jintao, Perdana Menteri India Manmohan Singh, Perdana Menteri Jepang Koizumi, Presiden Aljazair dan sejumlah pemimpin dari Asia Afrika.

Konferensi 55 dan Konferensi 2005, lima puluh tahun kemudian hakekatnya sama, bagaimana bangsa-bangsa Asia Afrika bersatu untuk memperjuangkan keadilan dunia, temanya tetap, Fight for the Global Justice. Tahun 55 negara-negara Asia Afrika banyak yang masih berada dalam alam penjajahan. We fought for independence waktu itu juga untuk global justice. Sekarang ini kita juga tetap berperan untuk sebuah keadilan dunia, dunia yang makin adil, tidak lagi dunia yang makin banyak imbalances, tindakan-tindakan unilateral, standar ganda, kurangnya kepedulian dan lain-lain, yang akhirnya menimbulkan berbagai permasalahan pada tingkat global. Semoga dua peristiwa besar itu juga turut memberikan semangat dan motivasi kepada para insinyur, para ilmuan, para peneliti, para teknolog untuk melakukan sesuatu yang terbaik bagi negerinya dan bagi dunianya.

Saudara-saudara,
Saya mengucapkan selamat berulang tahun kepada Persatuan Insinyur Indonesia yang ke-55. Saya juga mengucapkan, pada saatnya nanti selamat mengikuti Rapat Pimpinan Nasional PII pada tahun 2007 ini. Tema yang diangkat, sebagaimana tadi dijelaskan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, yaitu “Insinyur Mewujudkan Kemandirian Energi”. Saya dukung penuh, karena itulah salah satu isu besar yang dihadapi oleh, bukan hanya bangsa kita saja, tetapi juga oleh dunia.

Dua belas tantangan yang saya sampaikan pada bulan September tahun lalu di Jakarta, termasuk bagaimana kita membangun ketahanan energi di negeri kita. Saya senang dan saya ucapkan terima kasih, karena PII telah merespon dua belas tantangan nasional kita, 12 isu besar waktu itu, termasuk yang sekarang dipilih menjadi tema dalam Rapimnas ini.

Dalam berbagai kesempatan di forum internasional, misalnya APEC, APEC yang dihadiri oleh 21 pemimpin dunia, diantaranya adalah negara-negara besar. Saudara tahu misalnya China, Jepang, Rusia, Amerika dan banyak lagi negara-negara yang lain, setiap tahun selalu mengagendakan energy security selalu. Dalam forum East Asia, East ASEAN Forum juga agenda energi menempati agenda yang utama.

Belum lama ini saya menerima kunjungan Sekretaris Jenderal OPEC di Jakarta, Mantan Menteri Perminyakan Libya yang juga melakukan langkah-langah sistematis bagaimana OPEC menjadi bagian dari solusi terhadap energi global, utamanya minyak.

Kemudian saya pernah ingat berdiskusi dengan Presiden Putin dari Rusia, panjang lebar juga menyangkut energy security. Oleh karena itu, pada tingkat global pun kita perlu ada satu energy sustainability, long term energy sustainability, not only long term price stability, tapi juga supply dan demand pada tingkap global. Di dalam negeri persoalan sama, bagaimana dengan potensi yang kita miliki, kita melakukan pengelolaan sedemikian rupa, sehingga terjadi kesimbangan antara supply dengan demand. Dengan demikian, segalanya memberikan kebaikan bagi pembangunan ekonomi kita, bagi peningkatan kesejahteraan rakyat kita.

Saudara-saudara,
Pada bulan September yang lalu sebagian hadir di Jakarta pada waktu itu, saya menyampaikan semacam pemikiran sebenarnya, sekaligus harapan dan ajakan saya kepada PII, apa yang dapat disumbangkan oleh para insinyur terhadap ekonomi dan pembangunan di negeri kita. Waktu itu, saya sampaikan satu ceramah yang berjudul “Pembangunan Berkelanjutan dan Inovasi Teknologi”. Saya sengaja memilih itu, karena sesungguhnya putra-putri Indonesia memiliki potensi untuk menjadi inovator-inovator yang memberikan berbagai solusi terhadap permasalahan kemanusiaan, permasalahan pembangunan di negeri ini. Harapan itu masih tetap exist sekarang ini dan saya sungguh ingin, agar PII memberikan kontribusinya pada upaya untuk mengatasi masalah-masalah yang ada di negara kita.

Untuk sekedar melakukan review apa yang seharusnya sampaikan di waktu yang lalu, saya sampaikan waktu itu Indonesia abad ke-21 yang kita tuju seperti apa. Kemudian saya ingatkan, bahwa kita masih berada dalam masa transformasi, menuju era baru, era baru Indonesia dalam konteks globalisasi. Saya sampaikan waktu itu agenda nasional kita, lantas tantangan pembangunan nasional, termasuk 12 isu besar. Dan kemudian saya mengajak, I challenge semua teknolog, scientist, researcher, termasuk para insinyur bagaimana teknologi bisa memberikan solusi atas masalah-masalah itu.

Saudara-saudara,
Ingin saya sampaikan sekali lagi, bahwa tidak ada kamusnya pembangunan di negeri ini gagal, bisa saja terjadi pasang surut, bisa saja ada ups and downs, sebagaimana krisis yang pernah terjadi di negeri kita, 1998 dan tahun-tahun setelah itu. Tetapi Indonesia yang menurut saya memiliki resources, capital, potensi sungguh besar, apabila semuanya dikelola dengan baik, tentu akan menghantarkan rakyat Indonesia pada saatnya nanti sebuah bangsa yang maju, yang adil, dan makmur. Oleh karena itu, menjadi sangat relevan, bahwa teknologi memiliki peran yang sangat sentral.

Saya hanya ingin menitipkan harapan, bahwa kembangkan teknologi, hadirkan teknologi, sehingga semua itu menjadi lebih efisien, lebih produktif dan kemudian ramah lingkungan. Banyak masalah yang dalam pembangunan kita ini belum betul-betul efisien, belum produktif dan belum environmentally friendly. Teknologi bisa memberikan jalan keluar atas masalah-masalah itu.

Hadirin yang saya hormati.
Kalau saya berbicara engine to growth, apa saja yang bisa kita lakukan untuk mendorong pertumbuhan dalam arti luas, bukan economic growth semata, pertumbuhan dalam pembangunan nasional di negeri ini. Pertama, waktu itu saya sampaikan, bahwa penguasaan dan penggunaan iptek, mutlak. Kecerdasan mengambil manfaat dari globalisasi juga penting. Kita tahu globalisasi menghadirkan hal-hal yang buruk, tapi juga ada hal-hal yang baik. Globalisasi di satu sisi adalah kendala, threat, ancaman, tapi dalam satu sisi adalah opportunity. Bagaimana kecerdasan, kearifan kita dalam menolak yang jelek, menolak yang mengancam, tapi mengambil yang baik dan mengalirkan sumber-sumber kemakmuran, mengalirkan opportunity ke negeri kita adalah sesuatu yang harus kita lakukan.

Kemudian ingat bahwa Indonesia mendapatkan anugerah yang luar biasa dari Allah SWT. Coba dilihat, kalau kita pahami betul natural resources yang kita miliki, physical capital dari hasil pembangunan selama ini, human capital, social capital, tradisi kegotongroyongan, tradisi-tradisi yang baik, yang masih hadir sesungguhnya di seluruh wilayah Indonesia, financial capital makin kuat dan juga technological capital yang menjadi domain, menjadi kelebihan, menjadi milik dari para insinyur di negeri ini. Dari itu semua, saya punya keyakinan dan kepercayaan yang tinggi, bahwa akan terjadi proses percepatan pembangunan di waktu yang akan datang, apabila semua resources, semua potensi itu kita daya gunakan dengan sebaik-baiknya.

Saudara-saudara,
Sesuai dengan tema Rapimnas kali ini, yang tadi Saudara Purnomo sudah menyampaikan, menjelaskan dengan sangat gamblang, maka saya berpesan agar ketika kita ingin membangun ketahanan energi di negeri ini, maka lihatlah dua gugus pilar. Yang pertama adalah bagaimana betul-betul konservasi, diversifikasi dan efisiensi penggunaan energi ini dilaksanakan dengan baik di negeri ini, sekarang dan ke depan di seluruh wilayah tanah air. Gugus pilar yang kedua kunci, keberhasilan kita adalah diperlukan satu policy dalam arti luas ya Undang-Undang, Peraturan Pemerintah, Peraturan Daerah, policy itu sendiri yang betul-betul mengarah kepada pembangunan, kemandirian di bidang energi.

Setelah kita punya policy, mari bersama-sama kita lakukan sebuah character building sebetulnya, cultural building di negeri ini, menjadikan bangsa Indonesia adalah bangsa yang hemat energi. Lifestyle, gaya hidup yang boros energi, harus kita hentikan. Dan sejak dini, sejak anak-anak usia muda dan seterusnya kita bangun gaya hidup di negeri ini yang hemat energi, energi apapun, karena suatu saat itu akan habis, apalagi berasalkan fosil.

Kemudian kita punya policy yang bagus, kita memliki culture dan lifestyle yang makin baik, maka yang ketiga sekali lagi adalah technological innovation. Inovasi teknologi dalam segala aspeknya yang menuju kepada peningkatan ketahanan energi di negeri kita ini. Kalau kita lihat dari perspektif yang lain, ada upstream, ada hulu, ada downstream atau hilir. Hulu, kita kenali misalkan dari minyak dan gas dan batubara, ada proses ekplorasi dan produksi. Dilakukan pekerjaan itu, menghasilkan komoditas energi yang siap dipasarkan. Dari sisi ini, kita sebut katakanlah sisi supply. Demand yang ada adalah sejauh mana masyarakat, pasar, konsumen itu betul-betul hemat di dalam menggunakan energi yang diproduksi dari sisi hulu tadi, dari sisi upstream tadi. Misalnya rumah tangga, apakah betul-betul hemat menggunakan listrik misalnya? Transportasi kita, apakah betul-betul efisien, jumlah liter dikaitkan dengan jarak tempuh alat transportasi kita itu? Pabrik-pabrik yang menggunakan bahan bakar, sejauh mana efisien? Kalau dari sisi demand, dari sisi hilir, dari sisi pasar ini betul-betul efisien, maka kita tidak kan ditekan melakukan pengurasan, melakukan ekplorasi dan produksi sumber-sumber energi secara berlebihan, in the long run ini menjadi bagus. Membikin transportasi kita lebih menghemat energi, apakah roda dua, roda tiga, atau roda empat, transportasi laut, darat maupun udara, membikin pabrik-pabrik kita efisien dan hemat, membikin household kita dengan appliances menjadi bagus, itu memerlukan intervensi teknologi, itu memerlukan inovasi teknologi.

Dengan demikian, ternyata sejak hulu sampai hilir, upstream, downstream ataupun tiga pilar yang tadi konservasi, diversifikasi dan efisiensi maupun yang satunya lagi, policy, inovasi teknologi maupun lifestyle, teknologi mempunyai peran yang sentral untuk menjadi solusi untuk menawarkan jalan keluar mengatasi berbagai masalah di bidang energi ini.

Saudara-saudara
Itu adalah yang menjadi inti pekerjaan besar kita, pekerjaan rumah kita tahun-tahun mendatang, sepuluh, duapuluh, tigapuluh tahun mendatang, agar Indonesia betul-betul memiliki ketahanan energi dan kemandirian energi yang lebih kokoh.

Saudara-saudara, Hadirin yang saya muliakan,
Saya cocok sekali dan bersetuju dengan apa yang disampaikan oleh Saudara Erlangga Hartarto tadi, bagaimana kita dapat terus meningkatkan competitiveness kita, daya saing kita, termasuk para insinyur, para teknolog, para ilmuan. Dunia semakin menglobal, global competition tidak bisa kita hindari. Tidak pernah ada di dunia ini, negara betul-betul memproteksi dirinya habis-habisan, mengisolasi dirinya dari integrasi ekonomi global. Oleh karena itu, cara berpikir, mindset yang cerdas adalah kita harus siap untuk berkompetisi, kita harus siap untuk masuk dalam rules of the game, apapun dalam era globalisasi ini. Mengapa saya katakan demikian? Putra-putri Indonesia sanggup dan bisa bersaing dengan putra-putri dengan negara-negara lain, termasuk para insinyur. Ini bukan lips service, ini bukan statement politik, ini bukan hanya menyenang-nyenangkan diri sendiri. Saya sudah melihat semua kemajuan teknologi di Indonesia dari berbagai sektor, berbagai daerah. Saya sudah melihat teknologi di luar negeri, justru banyak putra-putri Indonesia yang very unfortunate masih berada di luar negeri, itu merupakan bibit-bibit unggul yang mendorong pertumbuhan industri dan ekonomi di luar negeri itu.

Saya ketika bertemu mereka di Microsoft di Amerika Serikat, di Malaysia, di negara-negara Eropa, saya bertanya, “Saudara pingin kembali ke Indonesia?” “Pengen, Pak Presiden.” Betul? “Betul Pak”. Itu yang di luar negeri, yang di dalam negeri sendiri, inovasi demi inovasi berlangsung terus, penemuan-penemuan berlangsung terus, karya bangsa sendiri, apakah di bidang engineering, apakah di bidang pertambangan, housing dan lain-lain coba dilihat, mutunya kualitasnya tidak kalah dengan para teknolog, para engineer-engineer dari negara lain. Oleh karena itu, jangan merasa kita berkompetisi, jangan merasa kita bisa kalah dengan insnyur dari negara-negara lain. Marilah kita mobilisasi kekuatan kita, marilah kita lakukan sesuatu secara besar-besaran, agar kita bisa berbuat lebih banyak lagi di negeri tercinta ini.

Saya tidak senang dengan sedikit-sedikit proteksi, karena kalau kita memproteksi berlebihan juga diproteksi di negara lain, meskipun kalau menyangkut kepentingan bangsa dan negara, kalau menyangkut keadilan, kalau menyangkut, jangan sampai ada ketimpangan diantara ini, ya kita akan sangat pro pada kepentingan bangsa sendiri. Jangan diragukan, siapapun yang memimpin negeri ini, siapapun yang memimpin provinsi, siapapun yang ada di negeri ini, tentu sengat mencintai bangsa dan negaranya, sangat mencintai tanah airnya. Yang ingin saya sampaikan adalah kita hidup dalam era globalisasi. Kita harus siap berkompetisi dan kita punya daya saing untuk berkompetisi.

Di depan para pemimpin BUMN beberapa minggu yang lalu saya sampaikan di Jakarta, saya ingin BUMN kita tumbuh terus, lebih produktif, lebih efisien, lebih berdaya saing. Saya katakan waktu itu, saya tidak ingin BUMN kita cengeng, saya tidak ingin sedikit-sedikit berlindung di bawah atau berlindung dibalik bendera nasionalisme. Nasionalis sejati harus berusaha betul, agar semua produksi barang dan jasa itu betul-betul better, cheaper, faster yang akhirnya rakyat kita membelinya dengan harga yang murah. Sulit untuk kita mengatakan, kita mencintai rakyat sendiri, tetapi barang dan jasa yang dihasilkan oleh industri kita mahal, oleh BUMN kita mahal, akhirnya industri lain menawarkan yang lebih murah, yang industri yang lain kebetulan industri, industri katakanlah internasional atau industri dari negara-negara lain.

Kita ingin menjadi tuan rumah di negeri kita sendiri. Setuju, 100%. Justru karena itulah, mari industri dalam negeri, mari BUMN meningkatkan betul daya saingnya, competitiveness-nya, efisiensinya, productivity-nya dan lain-lain. Pemerintah akan mendorong, Pemerintah memberikan kemudahan, Pemerintah akan memberikan ruang untuk itu, tetapi tentu harus ada kegigihan, harus ada kesadaran, harus ada kerja keras dari semua, agar sekali lagi ketika menghasilkan barang dan jasa, rakyat kita bisa membelinya dengan harga yang terjangkau, dengan kualitas yang baik. Dengan demikian, akhirnya yang diuntungkan adalah rakyat kita sendiri. Paradigma berpikir seperti itulah yang harus kita bangun dan mari kita persiapkan bersama-sama karena saya punya keyakinan, kita memiliki kemampuan untuk berdaya saing dengan negara manapun, dengan putra-putri dari negara manapun.

Saudara-saudara,
Dalam konteks itulah, akhirnya saya sungguh berharap, agar kegiatan penelitian dan pengembangan, kegiatan ekplorasi dan produksi energi, kegiatan inovasi teknologi untuk memecahkan berbagai masalah pembangunan di negeri ini, 12 isu yang saya sampaikan beberapa saat yang lalu betul-betul dapat dijalankan. Sebagaimana pesan saya, saya menunggu karya Saudara, rakyat menunggu kontribusi Saudara untuk mengatasi masalah-masalah yang dihadapi oleh mereka. Dengan pesan dan harapan itu akhirnya, seraya memohon ridho Tuhan Yang Maha Kuasa dan mengucapkan ”Bismillahirahmanirahim”, Rapat Pimpinan Nasional Persatuan Insinyur Indonesia dengan resmi saya nyatakan dibuka.

Sekian.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


*****

Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan