Pidato Presiden

Sambutan Peringatan Hari Tri Suci Waisak 2551 BE/2007 M

 

TRANSKRIPSI
SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
PERINGATAN HARI TRI SUCI WAISAK 2551 BE/2007
CANDI BOROBUDUR-MAGELANG, JAWA TENGAH
1 JUNI 2007


Yang saya hormati Saudara Menteri Agama serta Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia ,
Yang saya muliakan para Menteri Negara-negara ASEAN,
Yang mulia para Duta Besar dari Negara-negara Sahabat,
Saudara Gubernur Jawa Tengah dan para Pemimpin dan Pejabat Negara yang bertugas di Jawa Tengah, baik dari unsur Eksekutif, Legislatif, Yudikatif maupun TNI dan Polri,
Yang saya hormati Ketua Umum Panitia Penyelenggara Waisak 2551,
Yang saya muliakan para Pemuka dan Tokoh Agama Budha serta agama-agama lain yang turut hadir pada acara yang penting ini, Saudara-saudara umat Budha di seluruh tanah air,

Hadirin sekalian yang saya muliakan,
Marilah sekali lagi kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, karena atas rahmat dan karunia-Nya, kita dapat menghadiri Peringatan Hari Raya Waisak 2551 di Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. Saya ingin menggunakan kesempatan yang membahagiakan ini untuk menyampaikan ucapan selamat dan salam bahagia kepada seluruh umat Budha, baik yang hadir pada malam hari ini maupun yang berada di tempat-tempat lain di seluruh tanah air. Semoga melalui Peringatan Hari Waisak 2551, umat Budha akan senantiasa memperoleh kedamaian, kesejahteraan, dan kebahagiaan.

Hadirin yang saya hormati,
Merupakan kebahagiaan bagi saya dapat hadir bersama-sama umat Budha dalam Peringatan Hari Suci Waisak 2551 di tempat yang bersejarah ini. Hari Waisak tahun ini terasa sangat istimewa dengan kehadiran saudara-saudara kita, delegasi umat Budha yang datang dari Vietnam, Laos, Kamboja, Myanmar, dan Thailand yang ikut merayakan Hari Raya Waisak bersama-sama kita di tempat ini.

Kepada Saudara-saudara umat Budha dari negara-negara sahabat yang hadir di sini, saya sampaikan ucapan selamat datang dan selamat merayakan Hari Suci Waisak. Kehadiran Saudara-saudara, sungguh memberikan makna yang sangat dalam bagi perdamaian, kebersamaan, dan kesetiakawanan umat Budha di kawasan Asia Tenggara, pada khususnya dan dunia pada umumnya.

Tema yang diangkat dalam Peringatan Hari Waisak tahun ini, yaitu “Dengan Semangat Pengamalan Sang Budha, Mari Kita Tingkatkan Toleransi Beragama untuk Perdamaian Dunia”. Saya anggap memiliki makna yang luas dan dalam. Nilai-nilai yang terkandung di dalam ajaran agama Budha yang penuh kesejukan dan kedamaian, tentu akan dapat meningkatkan toleransi di antara umat beragama. Jika toleransi diantara umat beragama telah terjalin dengan baik, tidak akan ada konflik dan permusuhan diantara umat beragama. Kehidupan bersama akan berjalan rukun, damai, dan penuh dengan sikap hormat-menghormati. Kehidupan yang teduh dan harmoni seperti itu, tentu akan menyumbang terwujudnya ketentraman dan keteduhan di tanah air, yang akhirnya juga menyumbang bagi terciptanya perdamaian dunia.

Peringatan Hari Suci Waisak kali ini diharapkan dapat menjadi momentum bagi umat Budha di seluruh tanah air untuk mengenang dan menghayati kembali sejarah perjuangan Pangeran Sidharta Gautama dalam mencapai tingkat kesempurnaan hidup. Kesempurnaan yang diraih dengan mendarmabaktikan kehidupan bagi kemanusiaan, mendarmabaktikan diri bagi pengabdian kepada Sang Maha Pencipta. Melalui cerminan terhadap perjuangan Sidharta Gautama, umat Budha dapat melakukan refleksi dalam menatapi kehidupan menuju puncak pengembalian diri sebagai bentuk kesempurnaan hidup yang paling hakiki.

Hadirin yang berbahagia,
Perjalanan pendakian spiritual Sidharta Gautama hingga mencapai pencerahan sejati tentulah tidak mudah. Berkat keteguhan dan tekad yang kuat untuk menemukan pembebasan penunggu kehidupan manusia, dia mampu melampaui berbagai tantangan kehidupan hidup itu. Dari proses perjalanan pendakian spiritual tersebut, mana yang dapat dipetik dan untuk dijadikan tauladan bersama adalah keteguhan dan tekad dalam sebuah perjuangan untuk mencapai tujuan yang mulia. Sebuah sikap hidup yang mudah-mudahan dapat menjadi sumber motivasi bagi umat Budha khususnya, dan bangsa Indonesia pada umumnya dalam mengatasi berbagai persoalan kenegaraan, kebangsaan, dan kemasyarakatan dewasa ini.

Di berbagai kesempatan sering saya sampaikan, bahwa tidak ada jalan yang lunak untuk mencapai tujuan yang besar dan mulia. Membangun negeri menuju masyarakat yang maju dan sejahtera, tidak semudah membalik telapak tangan. Terlebih negara kita baru saja dilanda oleh krisis nasional yang sangat dalam, yang sudah barang tentu memerlukan persatuan, kebersamaan, dan kerja keras kita semua untuk membangunnya kembali. Upaya bersama dan kerja keras ini pun harus terus kita lakukan tanpa henti dengan penuh kesadaran dan keteguhan. Kita harus mencontoh perjalanan bangsa-bangsa lain yang telah berhasil membanguan negerinya, karena mereka mampu bersatu, melangkah bersama, dan bekerja keras.

Sebagaimana yang ditunjukkan dan ditetapkan oleh Sang Budha, keteguhan dan tekad adalah pilar utama bagi keberhasilan bangsa kita membangun hari esok yang lebih baik. Percaya pada diri sendiri, tegar menghadaapi setiap cobaan dan ujian, serta gigih berupaya dan mencari solusi terhadap semua masalah yang kita hadapi, adalah pintu dan jalan menuju ke keberhasilan.

Saya mengajak segenap umat Budha pada khususnya dan seluruh rakyat Indonesia pada umumnya, untuk melakukan refleksi dan introspeksi. Apakah kita semua benar-benar memiliki keteguhan dan tekad untuk membangun dan mengatasi masalah di negeri ini? Apakah kita benar-benar telah bersatu, melangkah bersama dan bekerja keras untuk memulihkan keadaan dan membangun kembali negeri kita dari krisis yang lalu? Apakah ada diantara kita yang justru mengganggu dan melemahkan upaya kita mengatasi berbagai keadaan itu, yang untuk mengejar kepentingannya seolah tidak peduli terhadap nasib dan kepentingan rakyat kita?

Pada Peringatan Hari Suci Waisak ini, patutlah jika kita sejenak melakukan perenungan agar hati dan pikiran kita disadarkan, serta langkah dan perjalanan kita dibimbing menuju ke arah yang benar. Arah menuju kehidupan bangsa yang aman, damai, harmonis, dan stabil. Arah yang menuju kehidupan yang adil, demokratis, dan penuh toleransi, serta ketenggangrasaan, serta arah menuju kehidupan bersama yang makin sejahtera lahir dan batin.

Hadirin yang saya muliakan,
Terkait dengan subtema Peringatan Waisak kali ini, yaitu “Selamatkan Bumi Ini dari Kerusakan dengan Meningkatkan Penghayatan Dharma Sang Budha Demi Pelestarian Lingkungan Hidup”. Saya menyambut gembira subtema ini, karena pelestarian lingkungan memang menjadi agenda penting kita. Kita sama-sama memahami, bahwa planet bumi terlihat semakin rentan, dengan semakin rusaknya lingkungan hidup dan sumber-sumber kehidupan di atasnya. Bencana demi bencana dapat kita rasakan, akibat kerusakan lingkungan semakin mengkhawatirkan.

Salah satu masalah lingkungan yang paling serius, yang dihadapi umat manusia saat ini adalah pemanasan global atau global warming. Pemanasan global ini disebabkan oleh efek rumah kaca atau green house effect yang ada di seluruh dunia, khususnya negara industri besar yang selalu meningkat dari tahun ke tahun. Dampak langsung dari pemanasan global adalah perubahan iklim yang ada di planet bumi ini dimana kita hidup. Akibat pemanasan global beberapa wilayah dunia mengalami kekeringan, sementara wilayah yang lain mengalami curah hujan yang tinggi, yang sering berdampak pada datangnya bencana banjir dan tanah longsor. Kondisi ini memerlukan solusi nyata dan aksi bersama dari masyarakat seluruh dunia, karena jika tidak, kehidupan anak cucu dan generasi mendatang akan terancam.

Kita memiliki tanggung jawab moral bagi keberlangsungan kehidupan di dunia ini sebagai wujud dari kecintaan kita kepada generasi mendatang. Kita menyadari bahwa penyebab utama dari perubahan iklim yang disebabkan oleh pemanasan global adalah tiada lain ulah umat manusia. Padahal sesungguhnya dalam setiap agama terdapat tuntunan untuk senantiasa bersahabat dan memelihara kehidupan dan alam semesta ini dengan sebaik-baiknya.

Di sinilah letak peran dan misi agama yang penting. Agama tidak hanya mengatur masalah-masalah hubungan manusia dengan Tuhan atau hubungan antar sesama manusia, tetapi juga mengatur hubungan antara manusia dengan lingkungannya. Agama dapat berperan sebagai jalan kehidupan atau way of life bagi kita sekalian dalam membangun bangsa dan negara.

Pada kesempatan yang baik ini, saya mengajak pada umat beragama di seluruh tanah air, khususnya umat Budha, marilah kita terus berusaha memperbaiki lingkungan di sekitar kita. Lingkungan yang baik, tertata dan terpelihara merupakan investasi yang sangat berharga bagi masa depan kita bersama.

Hadirin yang berbahagia,
Sebelum mengakhiri sambutan ini, perkenankan saya mengucapkan selamat menyelenggarakan Festival Seni dan Baca Kitab Suci Tripitaka tingkat nasional ke-6. Mudah-mudahan acara ini dapat menambah semaraknya Peringatan Hari Suci Waisak, sekaligus meningkatkan penghayatan ajaran agama khususnya bagi generasi muda umat Budha. Saya berharap Peringatan Waisak kali ini dapat menjadi momentum untuk meraih keselarasan, keserasian, dan keharmonisan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara menuju kesejahteraan dan kejayaan bangsa di masa yang akan datang. Umat Budha sebagai bagian integral dari bangsa Indonesia, hendaknya mampu menjadikan Budha Dharma sebagai pedoman hidup, sehingga dapat menyinari langkah kehidupannya.

Kepada seluruh umat Budha dimana saja berada, sekali lagi saya ucapkan selamat dan salam bahagia di Hari Waisak ke 2551 ini. Mudah-mudahan Peringatan Hari Waisak ini dapat membangkitkan semangat kita dalam menciptakan suasana kehidupan nasional yang rukun, damai, dan sejahtera. Selaku Kepala Negara, dengan tulus saya menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang setingi-tingginya kepada seluruh umat Budha di tanah air yang terus berkontribusi dalam pembangunan bangsa, serta menunjukkan kesetiakawanan sosial yang tinggi dalam membantu saudara-saudara kita yang memiliki kesulitan hidup, baik yang dilakukan di daerah bencana maupun di tempat-tempat yang lain, baik yang berkaitan dengan bidang pendidikan, kesehatan, kegiatan sosial, dan kegiatan-kegiatan yang lain.

To our guests, our Ministers from ASEAN,
On behalf of the Indonesian Government and the people, I would like to express my thanks for your presence in this great day. May your presence not another milestone for our future friendship and cooperation. I do hope, we could continue our partnership to strengthen our cooperation in other fields including the field of tourism. Once again, I thank for your presence.


Akhirnya dengan memohon ridho Tuhan Yang Maha Esa, pada kesempatan yang baik ini Festival Seni dan Baca Kitab Suci Tripitaka Tingkat Nasional ke-6 dengan resmi saya nyatakan dimulai. Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa, senantiasa memberikan petunjuk, bimbingan, dan lindungan-Nya kepada kita sekalian.

Sekian.
Terima kasih.

*****


Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan