Pidato Presiden

Sambutan Silaturahmi dengan Peserta Reuni Akbar Corporate Social Responsibility Republika-Telkom

 

TRANSKRIPSI
SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
SILAHTURAHMI DENGAN PARA PESERTA REUNI AKBAR
CORPORATE SOCIAL RESPOSIBILITY REPUBLIKA-TELKOM
ISTANA NEGARA, 2 JUNI 2007


Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Salam sejahtera untuk kita semua,
Yang saya hormati saudara Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat, Menteri Pendidikan Nasional dan para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu, Saudara Direktur Utama PT Telkom, dan Pimpinan Republika serta para manajemen dan keluarga besar PT. Telkom dan Harian Republika. Yang saya cintai dan saya banggakan para guru, para pendidik,

Hadirin sekalian yang saya muliakan,
Pada kesempatan yang baik dan insya Allah penuh berkah ini, saya mengajak hadirin sekalian untuk sekali lagi memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT karena kepada kita masih diberi kesempatan, diberi tugas untuk melanjutkan ibadah kita, pengabdian kita kepada masyarakat, bangsa dan negara tercinta. Kita juga bersyukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa karena hari ini kita dapat bertatap muka dan bersilahturahim di Istana negara.

Tadi kita mendengar nyanyian merdu anak-anak kita dari Bina Vokalia Prana Jaya yang saya simak kata-katanya sungguh indah, mengharukan dan betapa kita semua memberikan apresiasi terhadap peran guru. Saya ucapkan terima kasih anak-anak semuanya atas lagunya dan sepatutnya kita memang tidak pernah lupa kepada jasa, pengabdian dan peran para guru.

Hadirin sekalian yang saya hormati,
Saya menyimak apa yang disampaikan oleh Saudara Reynaldi tentang tujuan dari pelatihan yang diprakarsai secara bersama oleh PT. Telkom dan Harian Republika, dan atas nama Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan saya mengucapkan terima kasih yang tulus dan penghargaan saya yang tinggi karena PT. Telkom dan Harian Republika memberi contoh bagaimana sebagai sebuah perusahaan yang satu milik negara, yang satu private juga melakukan sesuatu untuk membantu masyarakatnya, rakyatnya, publiknya. Kalau prakarsa dan komitmen ini makin luas di negeri kita, saya yakin kita akan benar-benar memasuki satu era dimana keadilan sosial makin tegak di negeri tercinta ini.

Saya ingin menyampaikan dua hal sambutan, ulangi dua substansi dalam sambutan saya ini yang pertama, sekali lagi respons saya terhadap apa yang dilakukan oleh PT. Telkom dan Harian Republika. Sedangkan yang kedua saya ingin mengingatkan kembali betapa pendidikan termasuk peran guru di dalamnya adalah merupakan jalan yang menuju ke masa depan bangsa, masa depan yang insya Allah yang lebih baik dari sekarang ini.

Pertama-tama perlu kita sadari bahwa ekonomi termasuk kegiatan bisnis pada akhirnya adalah untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat di sebuah negara. Ekonomi dibangun bukan untuk tujuan ekonomi itu sendiri tetapi apabila ekonominya tumbuh, dunia usaha tumbuh, maka rakyatlah yang akan mendapatkan keuntungan dan manfaat yang paling tinggi karena mereka mendapatkan lapangan pekerjaan dengan bekerja, dengan tidak mengganggur memiliki penghasilan. Dengan memiliki penghasilan berapapun peghasilan itu bisa untuk memenuhi kehidupan sehari-harinya manakala penghasilan itu makin baik, seiring dengan pertumbuhan penduduk dan pertumbuhan dunia usaha maka saudara-saudara kita itu bisa keluar dari rantai kemiskinan. Apabila ekonomi dan dunia usaha tumbuh dengan baik maka mereka akan bisa membayar pajak kepada negara, pajak itu yang dalam prakteknya membiayai sekitar 70-80 % dari anggaran pendapatan dan belanja negara. Pada akhirnya juga dulu pemerintah oleh negara pada akhirnya juga kita alokasikan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat, misalnya pendidikan, kesehatan, perikanan, usaha kecil dan menengah, pembangunan infrastruktur dan lain-lain.

Dari anggaran itu yang dibiayai oleh pajak sebagian bisa digunakan untuk membiayai penegakan hukum dan keamanan, yang akhirnya kalau hukumnya tegak, negaranya aman dan tenteram, rakyatnya makin sejahtera. Karena sejahtera itu bukan hanya di lihat dari yang serba benda dan material tapi juga rasa aman, rasa tenteram memiliki kemampuan untuk memenuhi kebutuhan pangan, kebutuhan sandang, rumah yang sederhana paling tidak, kemudian pendidikan, kesehatan lingkungan dan lain-lain. Oleh karena itu ekonomi dan dunia usaha harus tumbuh. Dalam sistem kapitalisme yang betul-betul mengagungkan hukum-hukum pasar, yang namanya perusahaan itu asalkan sudah bayar pajak, habis perkara. Bayar pajak, dia menciptakan lapangan pekerjaan sudah dianggap cukup begitu.

BUMN kalau kita menganut hukum-hukum pasar yang absolut, sepanjang sudah bayar pajak, memberikan deviden kepada negara, selesai urusan. Tetapi bukan itu ekonomi yang kita mau di negeri ini. Bukan itu ideologi dan paham ekonomi yang kita kembangkan. Di berbagai kesempatan saya sampaikan bahwa ekonomi yang kita bangun bersama ini adalah ekonomi terbuka, karena memang kita hidup bersama dalam sebuah dunia yang saling kait-mengait tidak bisa dielakkan, kerjasama dan kemitraan itu. Tetapi dalam ekonomi terbuka itu kita menggarisbawahi keadilan sosial. Ekonomi terbuka yang berkeadilan sosial, open economic with social justice. Negara, pemerintah dalam hal ini, memiliki peran dan tanggung jawab untuk jangan sampai ada warga negara yang menjadi korban apabila hukum-hukum pasar diberlakukan sepenuhnya.

Kita mengeluarkan kebijakan, undang-undang, peraturan-peraturan agar bagaimanapun wajah keadilan sosial ini hadir di negeri kita tercinta ini. Berbagai kebijakan, berbagai peraturan, berbagai undang-undang yang kita garap bersama DPR tujuannya adalah ekonomi tumbuh, rakyat-nya ikut mendapatkan manfaat dari petumbuhan itu, bukan yang punya kapital lalu tumbuh sendiri, makmur ditempat itulah kapitalisme yang absolut, tetapi ekonomi dibangun bersama memang ada kapital ada modal di negara manapun juga, tetapi kita kelola dengan sebaik-baiknya agar kesenjangan tidak menjadi-jadi, agar ada pemerataan ada keadilan, ada keseimbangan dan lain-lain. Itu pekerjaan negara, itu tugas pemerintah, itulah saya dengan para menteri sesungguhnya, Gubernur, Bupati, Walikota siang dan malam memikirkan bagaimana di satu sisi ekonomi kita tumbuh, tapi sisi lain pertumbuhan itu inklusif, pertumbuhan itu harus dapat didistribusikan secara adil sehingga dapat membawa manfaat bagi seluruh rakyat.

Yang saya ingin berikan apresiasi meskipun pemerintah negaranya bertugas seperti itu, meskipun Harian Republika dan PT. Telkom juga memenuhi kewajibannya, membayar pajak, deviden untuk Telkom dan kewajiban-kewajiban lain, kedua perusahaan ini telah memberikan contoh bahwa melalui program yang disebut Coorporate Program Responsibility memberikan sesuatu yang sangat signifikan untuk masyarakatnya dan khusus tema atau program ini adalah pelatihan kepada para pendidik, kepada para guru, sehingga yang di sampaikan Saudara Reynaldi tadi, dari menanam padi, menanam pohon, sampai dengan mendidik bangsa, insya Allah itu benar, itu insya Allah akan mendatangkan sesuatu yang baik bagi bangsa dan negara kita. Saya hargai, saya berikan apresiasi dan terus lanjutkanlah Corporation Social Responsibility ini dan program-program untuk membantu masyarakat sekitar, membantu publik, membantu rakyat mencapai sesuatu yang positif.

Hadirin sekalian yang saya muliakan,
Pelatihan ini sesungguhnya up-grading, kalau istilah 60-an, grade itu tingkat, up itu naik, up-grading peningkatan kualitas. Saya tahu para guru yang ada di depan saya ini memiliki komitmen yang tinggi, memiliki jiwa pengabdian yang tinggi pula, memilki basis pengetahuan yang cukup, pengalaman yang juga tidak sedikit. Dengan pelatihan yang dilakukan ini, saya yakin akan makin meningkat self confidence, akan makin kuat rasa percaya diri dan makin banyak yang bisa dilakukan nanti setelah secara sistematis, secara bertahap ditingkatkan kemampuannya, di tingkatkan self confidence-nya, ditingkatkan pengetahuan, keterampilan sampai dengan yang kita sebut dengan pengetahuan tentang information technology yang nanti akan saya jelaskan mengapa IT sangat-sangat penting untuk kita kokohkan penggunaannya di negeri tercinta ini. Jadi yang pertama saya ulangi sekali lagi terima kasih kepada Telkom dan Republika, teruskan, lanjutkan saya akan memberikan dukungan penuh terhadap prakarsa dan niat yang baik ini.

Bagian kedua dari sambutan saya menyangkut dunia pendidikan. Bangsa yang menang dalam kompetisi global, bangsa yang maju di dunia ini adalah bangsa yang unggul. Bangsa yang unggul itu bukan hanya bangsa yang cerdas secara intelektual semata, tetapi dari apa yang saya lihat, saya tekuni selama ini, negara-negara lain yang bangsanya benar-benar mencapai tingkat kemajuan yang sangat tinggi, itu karena memiliki human capital, memilki human resources, memiliki daya saing dan keunggulan yang tinggi. Bangsa yang disebut unggul, apabila memang pertama-tama memiliki penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, makin tinggi, makin unggul, makin kompetitif. Yang kedua dan yang utama adalah memilki mental dan kepribadian yang tangguh, yang kokoh yang bersemangat, yang ulet, tidak pantang menyerah, tidak mudah salah-menyalahkan, tetapi mengambil bagian. Kalau bangsa lain bisa kita bisa, kalau yang lain bekerja keras satu kerja keras, mental kepribadian itulah yang bergandengan dengan pengetahuan dan teknologi.

Disamping itu bangsa yang maju, cerdas, mentalnya tangguh, mereka juga rukun, bersatu, united, tidak terpecah-pecah maka lahirlah kekuatan dahsyat, critical mass, dari sebuah negara itu, karena manusianya, bangsanya, masyarakatnya memiliki elemen-elemen seperti itu. Itu tidak datang dengan sendirinya, tidak jatuh dari langit, itu dibangun, diciptakan. Bagaimana kita membentuk, nilai, watak, kepribadian, pengetahuan, kecerdasan, ketekunan, harmoni, toleransi, through education, melalui pendidikan. Oleh karena itu pendidikan bukan sekedar mentransformasi ilmu, knowledge, science, skills, tetapi pendidikan harus mampu menciptakan nilai, membentuk watak, mengubah perilaku menjadi manusia bangsa akhirnya yang saya katakan tadi, berpengetahuan berkepribadian kuat, rukun, kompak satu sama lain.

Oleh karena itu saya menitip pesan kepada para guru dimanapun mengajarkan, dimanapun dan kepada siapapun mendidiknya, lihatlah utuh apa yang harus dibangun dari segi manusianya dari segi pengembangan bangsa Indonesia. Tentu saja banyak sekali pilihan-pilihan yang menyangkut sistem , manajemen, kurikulum, sistem evaluasi, metodologi pengasuhan, pembinaan, standar dan lain-lain, mari kita pilih yang terbaik, supaya bangsa kita kompetitif tidak kalah dengan bangsa manapun, tetangga-tetangga kita, tidak boleh kalah. Termasuk Eropa, Amerika manapun tidak boleh kalah, karena saya yakin bahwa Allah SWT itu menciptakan keungulan dimanapun, tidak sedikit putra-putri bangsa anak-anak kita yang jadi juara olimpiade pada forum internasional, cerdas-cerdas, pandai-pandai, oleh karena itu dengan kepercayaan diri kita termasuk kepercayaan guru-guru, saya yakin Indonesia akan berubah secara sistematis dan pada saatnya Indonesia akan benar-benar menjadi negara maju. Menjadi masyarakat yang memiliki tradisi pengetahuan yang luas, knowledge based society. Mengapa orang mengatakan Indonesia memiliki sumber daya yang besar, kekayaan alam kita besar, benar, tetapi kalau kita hanya mengandalkan natural resources, sumber daya alam saja.

Meskipun kita bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas anugerah semuanya itu tetapi tanpa diimbangi dengan human capital, keunggulan manusia, itu semua tidak bisa di apa-apakan, kalau di olah tidak memiliki nilai tambah yang tinggi, yang bisa mendayagunakan dengan optimal, knowledge, science, technology. Oleh karena itulah mari mulai sekarang dalam membangun negeri ini, paradigmanya kita ubah bukan hanya resourse based economic development, pembangunan ekonomi yang berorientasi berbasiskan pada sumber daya alam katakanlah, tetapi harus kita padukan dengan knowledge based economic development, di satukan, bahwa teknologi, bahwa pengetahuan, bahwa research, bahwa inovasi dari sumber daya yang kita miliki ini untuk betul-betul kita daya gunakan agar nilai tambahnya makin tinggi, kalau nilai tambahnya makin tinggi, penerimaan negaranya makin tinggi. Kalau penerimaannya makin tinggi, makin banyak lagi kita membiayai pembangunan, untuk jalan, pelabuhan, dermaga, untuk pendidikan, kesehatan, perumahan termasuk kesejahteraan dari guru-guru kita di seluruh tanah air. Ini gambar besar, big picture yang harus kita sampaikan kepada saudara semua, karena peran dunia pendidikan sangat-sangat mutlak, peran guru sangat-sangat menentukan. Dan dalam konteks itulah saya senang kalau Telkom dan Republika juga memberikan introduksi, melakukan pelatihan, bagaimana kita mengadopsi, mengembangkan dan mengaplikasikan berbagai pengetahuan modern termasuk, information and comunication technology.

Saudara-saudara,
Sekarang saja kalau kita datang ke pelosok-pelosok ke penjuru tanah air di negeri ini, saya datang entah di Jawa, luar Jawa, ke kabupaten, ke desa-desa, banyak sekali yang sudah pegang handphone, betul? Betulkan? Ini sebetulnya IT sudah masuk desa, ingat IT itu bukan hanya hardware, si handphone itu, si komputer itu, tetapi juga software, internetnya, websitenya. Tetapi sekali lagi, belum cukup kalau hanya hardware, software, tapi juga mindset, paradigma berpikir kita, kultur kita. Kalau kita ingin membangun knowlegde based society, mari kita bukan hanya sekedar jual-jual handphone, jual komputer habis perkara, Indonesia maju, belum. Itu baru syarat pertama. Syarat keduanya, bagaimana aplikasi software ini di banyak tempat, aplikasi untuk bikin pemerintahannya bersih, orang yang nggak mau bayar pajak ketahuan dengan ICT itu. Orang yang mark-up, mark-up dari penggunaan dananya ketahuan, orang yang, ya macam-macam.

Jadi untuk e-government bagus. Pendidikan, metodologi yang tidak cocok, yang nggak pas, yang ini, yang itu, ketahuan dengan IT itu. Kita bikin yang lebih bagus lagi. Bisnis bisa tertinggal dengan Singapura, dengan Thailand, dengan Malaysia, dengan Philipina kalau kita masih manual kita gunakan IT itu. Supaya transaksinya cepat, kemudian real time, kemudian efisien, semua itu dikembangkan.

Karena seluruh Indonesia sudah mulai, saya ingin para gurunya itu memiliki pengetahuan lebih, memiliki keterampilan lebih, memiliki sesuatu yang bisa bersama-sama komponen masyarakat yang lain, mendidik, menuju, menjembatani terbangunnya masyarakat yang berbasiskan pengetahuan tadi. Ini juga sangat penting karena saudara tahu kalau di katakan gelombang peradaban di dunia ini, peradaban pertama itu, gelombang satu, disebut abad pertanian, peradaban pertanian. Gelombang kedua, second waves, itu disebut industri, gelombang industri. Yang ketiga sekarang ini kita dianggap dunia, maksud saya, sebagian besar negara-negara masuk abad informasi, ya komputer ya internet, ya website, e-learning, macam-macam.

Tapi Indonesia ini jangan salah di negeri kita ini gelombang pertama masih banyak, betul? Gelombang kedua juga mulai berkembang, gelombang ketiga belum banyak. Di kota-kota, di kantong-kantong, di pusat-pusat, di centers of business, of government, tapi belum merata. Apakah kita menunggu dulu peralihan gelombang satu ke gelombang dua, gelombang dua ke gelombang tiga? Tidak. Semuanya hadir. Strategi kita semuanya harus tumbuh. Pertanian ini tulang punggung 70% saudara kita bekerja di sektor pertanian misalnya, tapi pertanian yang modern teknologi dibawa kesitu. Industri demikian juga industri yang kompetitif, informasi dibawa kesitu dan seterusnya.

Gelombang satu, gelombang dua, gelombang tiga. Kita harus siap mental, para guru para pendidik harus siap mental untuk bagaimana mengelola pendidikan dengan memahami kondisi masyarakat Indonesia dewasa ini, yang ada gelombang satunya, gelombang duanya dan gelombang tiganya. Dan saya sampaikan, saya sudah bicara di banyak tempat, di dalam dan di luar negeri, saya mengajak para pemimpin dunia, masyarakat dunia, pemimpin dunia untuk menyadari bahwa kita telah atau mulai memasuki gelombang ke empat peradaban. Yang saya maksudkan adalah bumi kita, bumi ini makin tua, terkuras energinya, bahan makanannya, airnya karena keserakahan manusia-manusia sebelumnya terutama yang tidak bertanggung jawab. Pemborosan-pemborosan ini yang membahayakan anak cucu kita, membahayakan generasi yang akan datang, membahayakan kelangsungan hidup planet itu sendiri, bumi ini sendiri. Oleh karena itu gelombang keempat adalah bagaimana kita seluruh dunia menyelamatkan, misalkan CO2, carbondioxide, dengan seperti itu terjadi efek rumah kaca, green house, iklim berubah. Ada negara sekarang wilayah-wilayah hujannya luar biasa, banir bandang, tanah longsor, ada wilayah-wilayah yang kering kerontang because of climate change perubahan iklim, karena pemanasan global, tidak sadar kita. Oleh kerena itu, ya seluruh dunia harus sadar, termasuk negara-negara maju, jangan hanya menekan negara-negara berkembang, semua harus bertanggung jawab. Negara maju punya uang, punya kapital, punya resources untuk share, untuk menyelamatkan bumi ini. Negara berkembang terbatas resources kita. Dengan kebersamaan itulah kita dapat menyelamatkan bumi.

Kepada para pelajar para guru, para pendidik saya ingatkan sekaligus didiklah anak-anak pandai-pandai menyelamatkan lingkungan. Di dalam ajaran agama juga sudah di jelaskan bahwa manusia menjalin hubungan yang baik dengan Sang Khalik, Allah SWT, manusia dengan manusia, manusia dengan lingkungannya dengan alam semesta. Barangkali kita kurang bertanggung jawab dalam memelihara harmoni, keselarasan dan kelestarian dari alam semesta kita.

Oleh karena itu kedepan di seluruh Indonesia, saya mengajak untuk pelihara lingkungan pohon-pohon, hutan, sungai semua kita pelihara. Supaya lebih aman, lebih lestari, lebih sustainable.

Itulah saudara-saudara yang ingin saya sampaikan sebagai respon saya terhadap apa yang saudara lakukan, tetapi sebelum saya akhiri saya ingin mendengar perwakilan dari sebelah sana satu orang guru, sebelah kiri satu orang guru, ya. Yang apa saja yang telah dirasakan dengan pelatihan ini, apa manfaat, apa yang betul-betul dapat diaplikasikan, dapat di terapkan dalam mengemban tugas nanti sebagai pendidik, sebagai pengajar, sebagai guru sesuai dengan tujuan pelatihan ini. Tolong ditunjuk Pak Reynaldi atau siapa, dari wanita satu, dari laki-laki satu.


*****


Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan