Pidato Presiden
Dialog dengan Peserta Reuni Akbar Corporate Social Responsibility Harian Republika-PT Telkom
TRANSKRIPSI
DIALOG PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
DENGAN PARA PESERTA REUNI AKBAR CORPORATE SOCIAL RESPOSIBILITY REPUBLIKA-TELKOM
PADA ACARA
SILAHTURAHMI DENGAN PARA PESERTA REUNI AKBAR
CORPORATE SOCIAL RESPOSIBILITY REPUBLIKA-TELKOM
ISTANA NEGARA, 2 JUNI 2007
Sdr. Abdul Hakim, Guru Tingkat Dasar Madrasah Iftidaiyah Pembangunan UIN Jakarta
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Yang pertama saya mengucapkan banyak terima kasih atas kehadiran dari bapak Presiden, Bapak SBY yang menyempatkan untuk bisa hadir dan bersilahturahmi dengan kami-kami ini, terus yang kedua, oh ya perkenalkan nama saya dulu, nama saya Bapak Abdul Halim sebagai guru tingkat dasar di Madrasah Ibtidaiyah Pembangunan UIN Jakarta. Alhamdullilah setelah mengikuti pelatihan yang diadakan oleh Telkom dan harian Republika, memang sebelumnya kami sudah juga melaksanakan apa yang kami ikuti dalam pelatihan tersebut, tetapi dengan ada pelatihan ini kami menjadi mempunyai satu semangat yang tinggi di dalam mengajar dengan pola-pola dan strategi-strategi yang terbaru sehingga menyenangkan anak didik kami.
Oleh karena itu kami mohon pula kepada Bapak SBY, selaku kepala negara kita ini, yang dulu saya juga memilih nih pak saya juga dalam kesempatan ini saya berdoa kepada Bapak SBY, semoga di berikan inayah oleh Allah SWT dalam memimpin bangsa yang begitu keadaannya seperti ini, saya doakan mudah-mudahan mendapatkan inayah dari Allah SWT. Selanjutnya ya itu saja, ya itu saja.
Jadi pertanyaanya ya Pak ya? Banyak sekali pertanyaannya Pak ya, pertanyaannya kami mohon kepada Bapak memberikan dukungan yang sebesar-besarnya agar tidak hanya Telkom dan Harian Republika yang membuat program-program seperti ini, pelatihan-pelatihan guru seperti ini, karena ini sangat bermanfaat bagi kami dalam membina dan membimbing anak-anak kami ini menjadi anak-anak yang cerdas dan juga berkepribadian yang luhur. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Presiden Republik Indonesia
Baik terima kasih, saudara Abdul Halim, yang pertama doa yang baik tadi tolong juga untuk semua pemimpin yang sedang mengemban tugas di negeri ini. Negeri ini, negeri kita semua, semuanya memiliki tanggung jawab dan panggilan tugas untuk bersama-sama membangun kembali setelah kita mengalami krisis. Alangkah indahnya jika kita semua di seluruh tanah air, pemimpin, tokoh, semua, juga memiliki satu komitmen bekerja bersama-sama melangkah bersama mungkin hasilnya akan lebih baik lagi. Karena pada prinsipnya kita ingin negara kita makin baik dari masa ke masa. Tentang dukungan tentu kami dukung penuh saudara Abdul Halim dan saudara semua. Pemerintah pun terus-menerus berupaya untuk memajukan dunia pendidikan, meskipun belum 20% sebagaimana yang diamanahkan oleh Undang-Undang Dasar tetapi pemerintah bersama dengan Dewan Perwakilan Rakyat dan Dewan Perwakilan Daerah terus bekerja untuk meningkatkan jumlah anggaran pendidikan kita. Sekarang yang paling tinggi pendidikan, yang lain nomor sekian. Tetapi saya menyadari itupun belum cukup. Oleh karena itu satu-satunya cara, uang yang makin meningkat dengan pesat kita gunakan dengan sebaik-baiknya. Jangan salah sasaran, jangan belok kesana kemari, harus sampai kepada tujuan yang kita kehendaki sambil membangun ekonomi termasuk dunia usaha agar makin besar lagi APBN kita dan makin banyak lagi kita alokasikan untuk pendidikan kita.
Tetapi saudara-saudara, pendidikan sangat penting, sementara kita juga tidak boleh mengabaikan pengurangan kemiskinan, kesehatan, lingkungan hidup, usaha kecil menengah, perikanan dan lain-lain. Itulah yang kita juga terus-menerus meningkatkan alokasi anggarannya untuk rakyat itu yang kita sebut dengan program pro-rakyat.
Dan saya akan teruskan nanti kepada pimpinan BUMN menterinya kebetulan tidak hadir disini pak Sofyan Djalil agar paling tidak BUMN itu juga mengalokasikan dana CD-nya CSR-nya Communited development fund, ataupun Corporate Social Responsibility yang bisa di alokasikan dengan model seperti ini, ya. Pondok pesantren, pesantren juga menjadi penting, menteri agama juga ada disini kita terus berikhtiar, berupaya untuk meningkatkan kualitasnya, membangun fasilitasnya dengan demikian mutu anak-anak kita, santri-santri kita, pelajar kita yang dari pondok pesantren ataupun dari sekolah-sekolah keagamaan, keislaman terus berkembang dengan baik. Tentu semua itu kita tata sesuai dengan penerimaan negara pertumbuhan anggaran yang kita miliki. Terima kasih, saudara Abdul Halim, dari ibu-ibu satu. Siapa? Wanita-wanita.
Ibu Lina, Guru SMAN 12 Bandung
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Sebelumnya perkenalkan, nama saya Lina. Saya mengajar di SMA Negeri 12 Bandung dan juga saya di sini ingin mengucapkan terima kasih, karena saya diberi kesempatan bisa bertemu langsung dengan Bapak dan juga terima kasih kepada Ibu juga. Terima kasih juga kepada Telkom dan Republika. Memang benar saya setelah mengikuti acara pelatihan ini, saya merasa kembali lebih apa, lebih ya, lebih, bersemangat lagi dalam belajar. Terus bagaimana cara menjadi guru yang baik itu seperti apa gitu. Jadi saya sangat berterima kasih sekali, dan saya juga mohon mungkin dukungan dari pemerintah, masalah-masalah atau pelatihan ini diteruskan kembali dan mungkin lebih luas karena mungkin teman-teman di sekolah banyak yang menginginkan seperti ini, cuma nggak ada kesempatan mungkin.
Jadi mohon terus karena susah sekali ini-nya, Bapak tadi juga menyebutkan anggaran yang 20% itu mohon apa di realisasikan, mungkin sudah ya, cuma mungkin ingin juga di rasakan mungkin kepada kami-kami ini dalam meningkatkan SDM-nya mungkin melewati pendidikan dan pelatihan-pelatihan seperti ini, mungkin begitu aja. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Presiden Republik Indonesia
Terima kasih ibu Lina yang mengajar di SMA di Bandung. Saya titip kepada bapak ibu guru ya, ada perkembangan kehidupan masyarakat yang membahayakan, ini salah satu dampak tidak baik dari globalisasi. Globalisasi itu di satu sisi membawa kebaikan, bangsa yang bisa mengambil yang baik-baiknya dari globalisasi, bangsa yang berhasil, bangsa yang menang, bangsa yang beruntung. Tetapi ingat globalisasi bisa membawa serta nilai-nilai perilaku gaya yang tidak baik, harus kita musuhi harus kita jauhi, harus kita cegah.
Pertama karena saya ingin terutama anak-anak SMP, SMA yang sudah masuk ke wilayah itu, yang saya sebut dengan hedonisme, keinginan untuk mengejar kesenangan duniawi. Oleh Islam, oleh agama manapun juga, ditentang itu. Jadi seolah-olah hanya dunia saja, tidak pernah berpikir akhirat. Semua kesenangan, hedonisme inilah mengejar kesenangan, kepuasan, kesenangan hidup di dunia itu dekat sama narkotika, narkoba, dekat sama kejahatan, dekat, karena uang diatas segalanya, materi di atas segalanya, kesenangan hidup diatas segalanya. Selamatkan generasi kita dari gaya hidup yang hedonis, kita akan menjadi bangsa yang lemah, generasi yang tidak kokoh, tidak ulet kalau kita hedonis.
Yang kedua adalah gaya hidup yang salah dalam menerapkan kebebasan, kebebasan misalkan porno aksi, tindakan-tindakan yang dari nilai manapun, dari kultur manapun, dari agama manapun jelas itu tidak cocok. Ini kan human right, ini kan negara hak azazi, ini hak saya. Tidak boleh hak itu mengancam ketenteraman yang lain, mengganggu yang lain. Oleh karena itu mari kita cegah generasi muda kita untuk masuk ke wilayah itu.
Yang ketiga adalah yang saya katakan mudah melihat di berbagai tempat untuk mencari jalan pintas. Coba kalau dilihat adegan di beberapa televisi, adegan di tempat-tempat yang lain, yang sangat apa namanya itu, memunculkan adegan-adegan mistik, betul? Jadi kalau ada masalah bukan dengan akalnya, bukan dengan nalarnya dipecahkan sambil memohon ridho Allah sambil berdoa tapi kedukun, ke ini, ke itu. Ini juga berbahaya. Jadi mari kita selamatkan itu tadi, jangan hedonistik, jangan menerapkan kebebasan tanpa batas dan jangan mencari jalan pintas. Kalau ingin menjadi bangsa yang maju, bekerja keras, belajar, bersatu tidak bisa datang tiba-tiba.
Jalan pintas ingin cepat kaya dengan mendadak, kejahatan. Ingin menjadi pimpinan eksekutif manapun juga dengan jalan pintas cara-cara yang tidak benar, ada proses, ada mekanisme, ada pematangan, ada pendewasaan. Tolong cegah gaya seperti itu pada anak-anak kita selebihnya anak-anak kita itu memiliki potensi yang besar. Jangan melihat generasi yang sekarang serba membahayakan, serba jelek kok tidak seperti kita, salah. Mereka juga punya niliai-nilai sendiri, mulai memiliki potensi yang bisa dibangun menjadi generasi yang unggul. Biarkan mereka berkarya, berikan ruang untuk mengembangkan potensinya dengan metodologi yang tepat. Dengan pengasuhan yang tepat, dengan demikian dorong potensinya, mereka pengganti-pengganti kita nanti, mereka akan membawa bangsa ini menuju ke masa kejayaannya. Dengan penuh kasih sayang dengan ketekunan bagaimana pemikiran jiwa seorang guru, tetapi sekaligus selamatkan dari hal-hal yang bisa menjadikan dia tidak jadi siapa-siapa nantinya karena belum-belum sudah terjegal dengan kerasnya, dengan godaan kehidupan di dunia ini. Ini sekaligus saya sampaikan untuk menjadi renungan kita semua.
Saudara-saudara yang saya cintai,
Sesungguhnya ingin berlama-lama lagi saya disini, tapi meskipun hari Sabtu masih ada kegiatan saya ada 3 lagi hari ini. Tadi malam saya setengah dua belas saya baru sampai di Yogya malam, terus tadi pagi, subuh bergegas kemudian menuju ke bandara karena rasa sayang dan cinta saya kepada para guru-guru. Saya akan menjalankan amanah saya. Saya manusia biasa, punya kekurangan, punya kelemahan. Yang saya miliki adalah tekad, yang saya miliki adalah ketulusan dan amanah untuk melaksanakan tugas yang saya emban. Saya mohon doa restu dan dukungan kerjasama dari semuanya untuk menjalankan tugas negara. Tugas negara agar negara kita makin kedepan makin baik. Selamat bertugas, selamat berbakti, selamat mengabdi, Tuhan beserta kita semua.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
*****
Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan



