Pidato Presiden

Sambutan Panen Raya Padi Varietas Unggul Mira-1

 

TRANSKRIPSI
SAMBUTAN PRESIDEN RI SUSILO BAMBANG YUDHOYONO
PADA ACARA
PANEN RAYA DI DESA RANCADAKA, PUSAKANAGARA
SUBANG, JAWA BARAT
4 JUNI 2007


Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Selamat pagi,
Salam sejahtera untuk kita semua,

Yang saya hormati Saudara Menteri Pertanian, Menteri Pekerjaan Umum Kabinet Indonesia Bersatu, Saudara Gubernur Jawa Barat, Ketua DPRD Jawa Barat, Bupati Subang, Camat Pusakanagara dan Kepala Desa Rancadaka, beserta para Pimpinan dan Pejabat yang bertugas di Jawa Barat dan di Subang, baik dari unsur Eksekutif, Legislatif dan Yudikatif maupun TNI dan POLRI, Saudara Ketua Umum HKTI dan para Anggota Dewan Pimpinan Nasional HKTI, Keluarga Besar HKTI,
Yang saya hormati Saudara Kepala BATAN, Kepala Bulog dan para Pimpinan Badan-badan Usaha Milik Negara dan Milik Daerah,
Yang saya hormati para Peneliti, para Pimpinan Industri Pertanian dan para Asosiasi Profesi, para Mahasiswa dan unsur Generasi Muda, para Ulama dan Tokoh Masyarakat, para Wartawan, khususnya yang saya cintai dan saya banggakan para petani yang hadir pada acara hari ini,

Marilah sekali lagi pada kesempatan yang baik dan insya Allah penuh berkah ini, kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas rahmat dan karunia-Nya kita semua masih diberi kesempatan, diberi kekuatan dan kesehatan untuk melanjutkan ibadah kita, karya kita, dan pengabdian kita kepada bangsa dan negara tercinta. Kita juga bersyukur ke hadirat Allah SWT, karena hari ini kita semua dapat bersama-sama menghadiri atau melaksanakan panen raya benih padi varietas unggul MIRA-1 di tempat yang indah ini.

Saya ingin menggunakan kesempatan yang membahagiakan ini untuk menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang tulus dari saya kepada HKTI, kepada BATAN, kepada Pimpinan Daerah dan khususnya kepada para petani yang telah berhasil mengembangkan benih padi MIRA-1 ini dengan hasil yang alhamdulillah makin menggembirakan. Suatu saat barangkali dengan inovasi teknologi makin menakjubkan. Ini tentu menggembirakan karena kalau kita terus-menerus dapat meningkatkan kualitas benih kita dan upaya pertanian secara menyeluruh, maka produksi padi, produksi beras di negeri kita akan meningkat. Meningkatkan produksi beras hampir pasti akan meningkatkan kesejahteraan rakyat kita, utamanya kesejahteraan para petani.

Saudara-saudara,
Ini kesempatan yang baik, saya perlu menyampaikan kepada Saudara- semua, bahwa HKTI sejak berdirinya hingga sekarang ini dan banyak tokoh-tokoh di sini juga hadir Pak Siswono Yudhohusodo, mantan menteri kita. Terus-menerus memikirkan nasib dan masa depan petani, terus berkontribusi dan mendampingi Pemerintah dalam upaya mengembangkan dunia pertanian secara umum maupun kesejahteraan petani secara khusus. Oleh karena itu, selaku Kepala Negara, Saudara Prabowo Subianto dan semua yang sedang mengelola HKTI, saya ucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya. Teruslah berbuat yang terbaik untuk petani kita, untuk rakyat kita yang tentunya harapan kita, makin ke depan kesejahteraannya makin baik.

Saudara-saudara,
Kita ketahui bersama bahwa pangan sesuatu yang sangat penting untuk kita cukupi pemenuhan kebutuhannya di negeri kita ini. Kalau kita ingat yang disebut dengan kebutuhan dasar manusia, hak dasar rakyat, tiada lain yang paling utama adalah pemenuhan pangan, setelah itu baru sandang, setelah itu baru papan, tentunya juga pendidikan, kesehatan, lingkungan yang baik, rasa aman, energi dan lain-lainnya. Tetapi pangan tidak bisa ditunda pemenuhannya. Oleh karena itu, Pemerintah menyambut gembira dan memberikan apresiasi kepada siapapun, apakah itu organisasi profesi, badan-badan penelitian, komunitas petani, industri pertanian yang terus-menerus untuk dapat meningkatkan produktivitas padi dan beras kita yang pada akhirnya akan dapat memenuhi kebutuhan sendiri.

Rakyat Indonesia jumlahnya sekarang lebih dari 220 juta, semuanya atau hampir semuanya memerlukan padi atau beras, semuanya memerlukan pangan. Oleh karena itu, peningkatan hasil pertanian kita, beras kita haruslah sejajar dengan peningkatan jumlah penduduk di negeri ini. Ini masalah yang tidak ringan, karena peningkatan produktivitas padi, sebagaimana yang dialami oleh para petani untuk setiap hektarnya, itu juga memerlukan perjuangan yang gigih, ditambah dengan bantuan teknologi dan lain-lain yang harus kita lakukan.

Tetapi sebagaimana disampaikan oleh Pimpinan HKTI, Gubernur Jawa Barat dan Menteri Pertanian tadi, kita yakin kalau kita memang mampu dan mau bersatu, melangkah bersama, dan bekerja keras, maka produksi pertanian kita, utamanya beras akan dapat kita tingkatkan. Dua juta yang ingin kita tingkatkan sebagai produksi tambahan tahun 2007 ini kalau kita tinjau dari apa yang dapat disumbangkan oleh teknologi MIRA-1 ini, maka saya yakin Insya Allah dengan perjuangan kita, kita akan dapat penuhi peningkatan tambahan beras yang dua juta tersebut.

Saudara-saudara, Hadirin sekalian yang saya muliakan,
Kita patut bersyukur bahwa BATAN juga terus meningkatkan partisipasi dan kontribusinya untuk meningkatkan produksi pangan di negeri ini. Saudara-saudara, di negara-negara yang maju, maju dalam pertanian, industri maupun jasanya, teknologi nuklir untuk kepentingan damai itu makin banyak digunakan dan dikembangkan. Indonesia dengan 220 juta, dengan luas wilayah seperti ini, dengan kebutuhan pangan dan energi yang makin meningkat tentu memerlukan kontribusi tenaga nuklir, tenaga atom untuk kepentingan damai tersebut. Sayang, kalau kita memiliki teknologi atom, teknologi nuklir tidak kita gunakan padahal kalau kita gunakan sebagaimana yang dilakukan negara-negara lain, maka produksi pertanian dan industri kita makin meningkat, termasuk energi dan peningkatan itu membawa tentu manfaat bagi rakyat kita, yaitu yang menyangkut kesejahteraannya. Saya mendorong Saudara Kepala BATAN untuk terus-menerus mengembangkan kemampuannya. Saya senang bekerja sama dengan HKTI, bekerja samalah dengan lembaga-lembaga yang lain, agar betul-betul komoditas utama, utamanya energi dan pangan dapat terus kita tingkatkan produktivitasnya.

Saudara-saudara,
Selain akan meningkatkan produksi pertanian, kita harus juga melakukan pengamanan dan stabilitas harga beras atau padi. Kita tidak ingin harga beras kita tiba-tiba melambung tinggi, sangat tinggi dan rakyat kita tidak mampu membeli. Bukan hanya petani, tapi juga nelayan, guru, PNS, saudara-saudara kita tidak bisa membeli. Tetapi kita juga tidak ingin harga beras jatuh, yang akhirnya petani kita menjadi menderita karenanya. Kita harus menyusun suatu kebijakan yang adil, melindungi petani, memberikan insentif atas jerih payah petani. Adil, tetapi dengan harga juga saudara-saudara kita yang lain juga dapat membelinya. Oleh karena itu, Pemerintah telah menetapkan Inpres atau Instruksi Presiden yang saya tanda tangani Nomor 3 Tahun 2007 tentang Perberasan.

Salah satu kebijakan yang diatur adalah menetapkan harga pembelian Pemerintah, baik gabah maupun beras dalam negeri. Kalau tidak kita atur, kalau kita serahkan pada mekanisme pasar, sebagaimana yang terjadi pada negara-negara yang betul-betul kapitalistik, yang hanya tunduk pada hukum-hukum pasar, tentu menjadi tidak adil. Pemerintah bertanggung jawab untuk tetap menjaga keadilan, termasuk keadilan sosial dalam pembangunan ekonomi di negeri ini. Itulah sebabnya, kita terus melakukan penetapan harga dengan tujuan yang tadi, melindungi petani, menguntungkan petani tanpa harus menyengsarakan saudara-saudara kita yang lain, rakyat Indonesia yang juga sama-sama memerlukan beras dan pangan mereka. Oleh karena itu, saya ingin gerakan untuk peningkatan produktivitas ini, stabilisasi harga dilakukan dengan baik secara terpadu, unsur Pemerintah, Bulog, Gubernur, Bupati, Walikota, HKTI dan semua komunitas yang ingin bersama-sama melakukan langkah-langkah terpadu untuk meningkatkan kesejahteraan petani pada khususnya dan kesejahteraan rakyat Indonesia pada umumnya.

Saya berharap Saudara Menteri Pertanian, Saudara Anton Apriantono teruslah melakukan upaya untuk disamping untuk meningkatkan produktivitas pangan juga meningkatkan kesejahteraan petani. Saya berharap HKTI dan yang lain-lain bersama-sama Pemerintah juga melakukan hal demikian. Berikan bantuan benih yang baik dan merata di seluruh tanah air. Tadi Saudara Prabowo mengingatkan, sarannya bagus, HKTI ingin agar distribusi benih ini makin cepat, tetap merata. Dengan demikian, betul-betul bisa membantu para petani untuk pengembangannya. Sediakan pupuk bersubsidi, agar para petani tidak terlalu dibebani oleh harga pupuk yang cenderung tinggi.

Kepada Saudara Menteri BUMN, meskipun tidak hadir akan saya sampaikan nanti, saya minta untuk melakukan langkah strategis di kalangan BUMN, Bulog misalnya ataupun BUMN produksi pupuk, sehingga melakukan efisiensi produksi maupun diversifikasi produksi pupuk. Pupuk sangat penting. Saya kira saudara-saudara merasakan betapa pentingnya pupuk dengan jumlah yang cukup, dengan harga yang terjangkau. Dengan cara itu, pupuk akan tersedia dalam jumlah yang memadai, sehingga tidak terjadi kasus kelangkaan pupuk, sebagaimana yang terjadi beberapa waktu yang lalu.

Saya sudah menyampaikan instruksi kepada menteri terkait, pabrik-pabrik pupuk di Indonesia ini, ada yang terus tumbuh dengan bagus, ada yang mengalami masalah-masalah, misalnya pasokan gasnya. Ingat, gas ini kita produksi di dalam negeri dan terus akan kita kembangkan sebagian juga masih diimpor dari negara lain. Kebutuhannya banyak bukan hanya untuk pupuk. Oleh karena itu, Pemerintah ingin mengembangkan bukan hanya gas yang bisa kita gunakan untuk memproduksi pupuk nantinya, tapi juga sumber-sumber lain, batubara yang kita gas-kan. Dengan demikian, harapan kita makin ke depan pupuk akan makin tersedia sekali lagi, dengan harga yang terjangkau oleh petani.

Demikian pula ketersedian air. Tadi Gubernur Jawa Barat mengatakan betapa pentingnya irigasi, embong, pengairan, di sini ada Menteri PU. Menteri PU saya tahu, siang dan malam memikirkan bagaimana terus meningkatkan jumlah dan kualitas irigasi, sistem pengairan dan kecukupan apa yang diperlukan oleh persawahan kita. Kita dukung langkah-langkah Menteri PU bersama-sama Menteri Pertanian untuk mengembangkan infrastruktur ini.

Saudara-saudara,
Tahun 2008 yang sedang kita rancang, itu alokasi anggaran yang paling besar setelah pendidikan nanti adalah untuk pembangunan infrastruktur, antara lain irigasi yang dikelola oleh PU maupun jajaran yang lain. Ini membuktikan bahwa kita tahu, kita tahu tidak mungkin produksi beras meningkat cepat dan besar, apabila irigasinya, sistem pengairannya tidak baik. Oleh karena itulah, kita lakukan langkah-langkah seperti itu. Pantau terus waduk-waduk utama yang memberikan pasokan irigasi di sentra-sentra produksi padi di seluruh tanah air.

Tadi di helikopter, Menteri PU melapor kepada saya, Pak Presiden di bendungan-bendungan ada kekurangan volume air, debit air. Oleh karena itu, dengan teknologi kita berikan, kita lakukan hujan buatan. Saya bilang bagus, laksanakan semua upaya, apakah dengan curah hujan yang ada maupun hujan-hujan buatan, yang penting jangan sampai waduk-waduknya kekurangan air, jangan sampai pengairan dan irigasinya terganggu. Ini upaya yang kita lakukan. Dan banyak sekali yang harus kita lakukan di waktu yang akan datang untuk meningkatkan infrastruktur ini.

Saudara-saudara,
Karena krisis, sejak tahun 1998 ekonomi kita pernah minus, tumbuh sedikit meskipun, alhamdulillah, triwulan pertama ekonomi kita sudah tumbuh 6%. Mudah-mudahan kita kembali pertumbuhan seperti sebelum krisis, meskipun masih panjang yang kita lalui, masih banyak pekerjaan yang harus kita lakukan, tetapi infrastruktur yang dulu terbengkalai karena krisis, termasuk irigasi, sekarang ini tahun-tahun mendatang akan kita prioritaskan pembangunannya. Cuma saudara, uang negara itu tidak melimpah ruah, meskipun terus tumbuh ekonomi kita, penerimaan negara tumbuh, korupsi kita berantas supaya tidak bocor kemana-mana, tetap saja harus kita alokasikan secara tepat, pendidikan prioritasnya, kesehatan penting, infrastruktur penting, nelayan penting, petani sangat penting, guru dan lain-lain, itulah yang kita atur. Yang kita bangun bukan hanya di Subang, bukan hanya di Jawa Barat, seluruh Indonesia. Oleh karena itu, saya minta pengertian Saudara, kalau belum terbangun tahun ini, ya insya Allah pada tahun-tahun berikutnya lagi. Karena kita ingin Indonesia tumbuh bersama suatu saat makmur bersama, jangan makmur sendiri-sendiri, jangan tumbuh sendiri-sendiri.

Itulah yang dapat saya sampaikan dan sebelum saya tutup sambutan saya ini, saya mengingatkan kita semua, ada 6 hal yang harus kita lakukan, termasuk saya. Saya kalau mengajak Saudara-saudara, mengajak rakyat, termasuk diri saya sendiri. Pemimpin dimana pun, termasuk Pak Gubernur, Pak Bupati, Pak Camat, Pak Kepala Desa, kalau meminta rakyatnya melaksanakan ‘A’, harus ikut melaksanakan ‘A’, harus begitu. Oleh karena itu, saya ingin sampaikan 6 pilarlah. Pilar itu sama dengan tiang. Kalau pertanian kita ingin maju dan insya Allah nanti petaninya juga maju.

Pertama, kebijakan Pemerintah harus tepat. Kita terus akan mengembangkan kebijakan-kebijakan yang betul-betul mendukung berkembangnya pertanian. Terima kasih HKTI dan lain-lain memberikan rekomendasi, memberikan kritik, menyampaikan pandangan-pandangan kepada Pemerintah, kita dengar. Karena dengan demikian, insya Allah kebijakan kita akan makin tepat, tepat bagi pengembangan pertanian dan petaninya.

Yang kedua, inovasi teknologi. Negara-negara lain, Republik Rakyat Tiongkok misalnya, Thailand misalnya, negara-negara yang pertaniannya maju, itu betul-betul melakukan pengembangan teknologi yang luar biasa. Malaysia juga demikian, bukan hanya beras, tapi kelapa sawit dan lain-lain. Saya minta, saya dorong, saya tantang dalam tanda kutip para peneliti, para teknolog, BATAN, Universitas Pertanian Bogor, universitas lain, lembaga penelitian swasta dan Pemerintah, HKTI dan lain-lain, mari kita kembangkan teknologi ini untuk sebesar-besar kepentingan pertanian dan petani kita. Benih misalnya, pupuk misalnya, obat lawan hama misalnya dan lain-lain.

Yang ketiga, pilarnya infrastruktur, betul. Disini ada Menteri PU, Pak Gubernur, Pak Bupati, tolong lakukan pengembangan infrastruktur, lakukan embungisasi. Tahu embungisasi? Embung itu bahasa Sunda atau bahasa Jawa itu ya? Sunda? Sanes, Jawa. Samalah embung itu ya. Bikin embung dimana-mana, jangan hujan air kita sia-siakan. Jangan. Jadikan situ, embung, danau. Jangan biarkan jadi banjir, ajak mereka menjadi situ, menjadi embung.

Yang keempat, budaya petani. Saya mohon para petani, kalau ada penyuluhan, dikenalkan teknologi, sambutlah dengan baik. Petani itu adalah profesi yang mulia di negara manapun terhormat. Petani bisa menggunakan cara-cara yang modern. Budaya pertanian kita sekarang dan ke depan tidak kalah majunya, modernnya dengan budaya pertanian negara lain. Maka tolonglah bekerja sama lembaga penelitian, Departemen Pertanian sendiri, HKTI dan lain-lain dengan komunitas petani, kulturnya, mari kita ubah, nilainya kita ubah, kebiasaannya kita ubah, kebiasaan yang baik yang bikin meningkat produksinya.

Yang kelima, jangan kita merusak lingkungan hidup. Pertanian penting, tentu lingkungan hidup dimana kita hidup sekarang ini, termasuk anak cucu kita nanti juga penting untuk kita lestarikan. Pengembangan pertanian saya kira agak sulit sekarang kalau harus mengembangkan lahan besar-besaran, tetapi memang harus ada upaya dari daerah mempertahankan luasan dari persawahan kita. Jangan semua ditumbuhi rumah, jangan semua ditumbuhi yang lain-lain, biarkan padi tumbuh dengan tentram di situ. Kalau kita tidak bisa melebarkan luasan lahan, mari kita bawa teknologi. Yang kita tingkatkan produktivitasnya dengan intervensi pemilihan benih, pupuk, dan teknologi yang lain. Dengan cara itulah, insya Allah makin ke depan yang tadi 1 hektar 6-7 ton tidak mustahil menjadi 11-12 ton, tidak mustahil menjadi 15 sampai 20 ton nantinya. Kalau bangsa lain bisa, bangsa Indonesia harus bisa. Kalau petani negara lain bisa, petani kita harus bisa. Bangsa kita cerdas, bangsa kita ulet, bangsa kita tahan banting. Jangan lembek, jangan menyerah, jangan putus asa, jangan pandai menyalahkan, mari kita berbuat bersama-sama.

Dan yang terakhir, saya katakan pilarnya enam. Yang pertama tadi, kebijakan pemerintah yang tepat, inovasi teknologi, infrastruktur, termasuk irigasi, budaya petani budaya kita semua, lingkungan hidup dan yang terakhir kepemimpinan. Saya tidak suka mendengar seorang Gubernur, seorang Bupati, seorang Walikota yang acuh tak acuh terhadap pertanian. Tidak mungkin kita bisa menambah 2 juta ton beras, kalau pemimpinnya tidak peduli. Kalau tahu rakyatnya memerlukan pangan, tahu petaninya dinaikan kesejahteraannya, pedulilah, turunlah ke lapangan. Tidak harus tiap hari di sawah, tidak harus, tetapi berpikir terus bagaimana pertaniannya maju, petaninya makin sejahtera, kalau ada hama bisa kita lawan, irigasinya ada, benihnya bagus dan lain-lain. Kepemimpinan. Pilihlah nanti Bupati, Walikota saudara, Kepala Desa pilihan tidak? Kepala desa yang peduli dan cinta pada pertanian, supaya kita semua senang.

Demikianlah sambutan saya Saudara-saudara, dan tadi ada acara tanya jawab. Pak Gubernur silakan. Tapi saya senang sekali, ini batiknya batik padi menguning. Saya terbang helikopter tadi Bapak, anginnya agak kencang jadi begini-begini. Tapi yang saya senang, sebagian menguning, sebagian sedang mulai menanam, teduh. Tidak ada bagi seorang pemimpin rasa bahagia ketika melihat padi menguning, pangan ada dimana-mana, rakyatnya mukanya ceria dan bahagia.

Demikian,
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


*****


Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan