Pidato Presiden

Sambutan Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2007

 

SAMBUTAN
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA PERINGATAN
HARI LINGKUNGAN HIDUP SEDUNIA TAHUN 2007

Istana Negara
Jakarta, 6 Juni 2007



Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Salam sejahtera bagi kita semua,
Hadirin yang saya muliakan,

Marilah pada kesempatan yang baik dan Insya Allah penuh berkah ini sekali lagi kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT, karena atas rahmat dan karunia-Nya, kita dapat menghadiri peringatan hari Lingkungan Hidup Sedunia yang jatuh pada tanggal 5 Juni. Saya ingin menggunakan kesempatan yang membahagiakan ini, untuk mengingatkan kita semua tentang arti pentingnya menyelamatkan lingkungan hidup, baik bagi generasi sekarang maupun generasi yang akan datang. Semoga peringatan hari lingkungan hidup sedunia kali ini, dapat menyadarkan kita untuk meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan hidup di sekitar kita.

Hadirin yang berbahagia,
Hari peringatan lingkungan hidup sedunia, merupakan salah satu upaya dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk meningkatkan keperdulian masyarakat di seluruh dunia agar berpartisipasi dalam pengelolaan lingkungan hidup. Tema yang diangkat oleh Badan Lingkungan Hidup Sedunia (United Nations Environment Programme) dalam hari lingkungan hidup sedunia kali ini, adalah: ”Melting Ice a hot topic?”. Terkait dengan tema itu, kita menetapkan tema, ”Iklim Berubah, Waspadalah terhadap Bencana Lingkungan”.

Sebagaimana kita ketahui bersama, dalam satu abad terakhir, sejak Revolusi Industri pada abad ke-19, telah terjadi peningkatan suhu permukaan bumi secara global. Peningkatan suhu permukaan bumi, selain diakibatkan oleh emisi bahan bakar fosil, kerusakan hutan dan lahan, juga diakibatkan oleh meningkatnya konsentrasi Gas Rumah Kaca (GRK) di atmosfer. Peristiwa ini kita kenal dengan global warming atau pemanasan global, yang menyebabkan perubahan iklim dunia. Peningkatan panas di bumi, juga menyebabkan es di kutub mencair, sehingga permukaan air laut meningkat dan dapat mengakibatkan tenggelamnya pulau-pulau kecil.

Kita tidak dapat berdiam diri menghadapi isu yang sangat potensial terhadap terjadinya bencana. Dampak perubahan iklim sangat merugikan segala sendi kehidupan. Pola hujan yang tidak tentu, menyebabkan besarnya intensitas hujan yang dapat menimbulkan bencana banjir dan longsor. Sebaliknya, musim kemarau yang berkepanjangan dapat menyebabkan terjadi bencana kekeringan dan kebakaran hutan. Para petani, mengalami kesulitan akibat tidak jelasnya waktu tanam yang tepat, serta terjadinya serangan hama yang tidak terduga.

Perubahan iklim, juga menyebabkan terganggunya habitat dan ekosistem sehingga dapat menimbulkan berbagai penyakit epidemik seperti malaria, diare, dan demam berdarah. Ditambah lagi, berbagai kejadian yang terkait dengan kondisi ekstrim iklim, seperti tingginya air pasang, serta hujan badai dan angin topan, dapat merugikan para pengguna transportasi udara dan laut karena sangat membahayakan.

Bagi kita, dampak pemanasan global menjadi sangat serius, mengingat secara geografis posisi negeri kita sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim. Sebagai negara kepulauan yang memiliki lebih dari 17.000 buah pulau, berlangsungnya pemanasan global dapat berakibat pada ancaman tenggelamnya pulau-pulau kecil yang tersebar di tanah air. Selain itu, pemanasan dan perubahan iklim akan berdampak pula pada pola tanam petani di seluruh tanah air. Dengan cuaca ekstrim, meningkatnya panas, dan banjir, akan berdampak pada kemunduran masa tanam dan gagalnya panen di berbagai tempat. Pemanasan global juga turut mempengaruhi peningkatan magnitude dan frekuensi kehadiran El Nino, yang memicu kebakaran hutan. Bahkan beberapa tahun terakhir ini, kebakaran hutan yang terjadi di Pulau Sumatera dan Pulau Kalimantan telah mengakibatkan kerugian ekonomi nasional yang tidak sedikit.

Hadirin yang saya hormati,
Apa yang saya kemukakan tadi, tentu saja bukanlah untuk menakut-nakuti. Kita telah mulai mengalaminya. Banjir, longsor, perubahan cuaca, hingga gelombang pasang yang menghantam sebagian pesisir pantai di tanah air baru-baru ini, adalah dampak nyata dari kerusakan lingkungan. Oleh karena itu, kita tidak dapat berdiam diri. Atau menyesalinya. Kita harus berupaya untuk mengurangi dampak yang ditimbulkan dari kerusakan lingkungan itu.

Sekarang, sudah saatnya kita memikirkan dan mencari terobosan-terobosan, bukan hanya pada sumber penyebab (mitigasi) terjadinya perubahan iklim, tetapi juga penanggulangan dan tindakan apa yang harus kita persiapkan (adaptasi) jika perubahan iklim itu terjadi. Persiapan itu memerlukan penelitian yang seksama, sejak dari daerah yang rentan, identifikasi organisme yang mungkin akan punah, hingga mencari teknologi yang tepat untuk menghadapi terjadinya perubahan iklim. Prinsip proaktif, kita perlukan dalam upaya memperkecil dampak yang akan terjadi.

Dalam masalah mitigasi, Pemerintah telah berupaya mengambil beberapa kebijakan, antara lain kebijakan efisiensi energi serta mendorong penggunaan bahan bakar terbarukan. Sementara itu, dalam adaptasi, Pemerintah juga telah membuat program penyesuaian musim tanam berdasarkan pola iklim setempat, mengembangkan jenis tanaman yang tahan kekeringan atau tanaman yang dapat tumbuh pada air dalam, serta peningkatan efisiensi penggunaan air irigasi.

Upaya adaptasi, dapat pula kita lakukan dengan mengintensifkan gerakan menanam pohon. Beberapa waktu yang lalu, saya telah mencanangkan Gerakan Indonesia Menanam. Gerakan itu, bukan hanya untuk menghijaukan kembali lahan kritis tetapi juga turut serta dalam meminimalkan dampak pemanasan global. Penanaman pohon, saya anggap penting untuk mengurangi polusi udara serta penyerapan air hujan yang berlebihan.

Pada sektor pertanian, para ahli klimatologi perlu memberikan informasi prakiraan iklim atau prakiraan musim yang dapat dijadikan ‘kalender tanaman’. Dengan cara itu, para petani dapat menyesuaikan pola tanamnya. Di bidang kesehatan, pola hidup keluarga berencana yang sehat disertai dengan pemberian berbagai vaksinasi diperlukan untuk meningkatkan daya tahan tubuh sebagai antisipasi datangnya penyakit endemik.

Hadirin yang saya muliakan,
Umumnya kita sering menganggap bahwa berbagai bencana lingkungan hidup yang timbul adalah fenomena alam biasa. Padahal sesungguhnya, bencana demi bencana yang menimpa kita, sebagian diakibatkan pula oleh kelalaian kita dalam menjaga lingkungan hidup.

Oleh karena itu, pada kesempatan yang baik ini, saya ingin mengajak masyarakat luas untuk mengedepankan dua aspek penting dalam mengatasi degradasi lingkungan hidup. Yang pertama adalah melalui pendekatan sosio-kultural dan yang kedua adalah melalui pemanfaatan seoptimal mungkin dari ilmu pengetahuan dan teknologi. Dalam melaksanakan kedua pendekatan yang saya kemukakan tadi, saya minta kepada seluruh elemen masyarakat, bersama-sama Pemerintah, baik pusat maupun daerah, untuk membangun suatu pola kemitraan yang sinergis dalam pengelolaan lingkungan hidup.

Di era otonomi daerah, Pemerintah Daerah saya minta untuk menyelaraskan pembangunan di daerahnya dengan kepentingan pelestarian lingkungan hidup. Dengan cara itu, eksploitasi sumber daya alam dapat dikendalikan dengan baik. Para Kepala Daerah juga perlu mengembangkan lembaga lingkungan yang mampu mengkoordinasikan dan mensinergiskan aktivitas para pelaku pembangunan, baik oleh Pemerintah, dunia usaha maupun masyarakat. Apalagi, pada bulan Desember yang akan datang, kita akan bertindak sebagai tuan rumah Konferensi Internasional bidang Perubahan Iklim atau Conference of Parties (COP) United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC), di Bali.

Sebagai negara yang telah meratifikasi UNFCCC melalui Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1994 tentang Pengesahan United Nations Framework Convention on Climate Change (Konvensi Kerangka Kerja Perseikatan Bangsa-Bangsa mengenai Perubahan Ikim), kita telah menjadi salah satu negara yang mempunyai kepedulian tinggi terhadap lingkungan hidup, untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan.

Hadirin yang berbahagia,
Mengakhiri sambutan ini, sekali lagi saya mengajak kepada seluruh komponen bangsa untuk menyadari lebih dini mengenai dampak langsung dari pemanasan global dan kerusakan lingkungan hidup. Pemanasan global dan kerusakan lingkungan hidup, sebagaimana saya katakan tadi, dapat menimbulkan berbagai dampak multidimensi dan berpengaruh besar pada sistem sosial dan ekonomi masyarakat.

Kepada para pejuang lingkungan yang meraih penghargaan kalpataru; para Walikota dan Bupati yang menerima penghargaan Adipura sebagai kota atau kabupaten terbersih; dan para Kepala Sekolah yang menerima penghargaan Adhiwiyata atas keberhasilannya dalam menjadikan sekolah berbudaya lingkungan, saya ucapkan selamat. Semoga prestasi yang telah saudara-saudara raih ini dapat menjadi contoh teladan bagi masyarakat, para kepala daerah, dan para kepala sekolah lainnya.

Akhirnya, sekali lagi semoga peringatan hari lingkungan hidup sedunia kali ini dapat semakin menyadarkan kita akan makna dan hakekat dari persoalan lingkungan hidup; dan semakin meningkatkan kesiapsiagaan kita dalam menghadapi perubahan iklim yang akan terjadi.

Semoga Allah SWT senantiasa memberikan petunjuk, bimbingan, dan perlindungan-Nya kepada kita sekalian, serta menjauhkan bangsa dan negara kita dari bencana yang tidak pernah kita duga.

Terima kasih.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,



Jakarta, 6 Juni 2007

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,


DR. H. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO