Pidato Presiden
Sambutan Peringatan HUT Ke-1 Harian `Jurnal Nasional`
TRANSKRIPSI
SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
PERINGATAN HARI ULANG TAHUN KE-1
HARIAN `JURNAL NASIONAL`
BLITZ MEGAPLEX GRAND INDONESIA
14 JUNI 2007
Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Selamat malam,
Salam sejahtera untuk kita semua,
Hadirin yang saya muliakan,
Pertama-tama kita patut bersyukur karena kepada kita, anak bangsa masih diberi kesempatan oleh Yang Maha Kuasa untuk terus membangun negeri tercinta ini, mempertahankan nilai, jati diri, dan konsensus-konsensus kita, sebagaimana yang telah dirumuskan oleh para founding fathers puluhan tahun yang lalu.
Saya memohon maaf kepada Hadirin sekalian, terlambat datang ke tempat ini, karena baru saja, saya menghadiri dan membuka Pekan Raya Jakarta di Kemayoran yang saudara-saudara kita juga berada di sana. Mereka betul-betul untuk sebuah tujuan yang baik, bersama-sama memperkokoh persahabatan untuk menuju hari esok yang lebih baik.
Pada acara yang baik ini, saya ucapkan selamat kepada Keluarga Besar `Jurnal Nasional`. Semoga media massa yang hadir menyemarakkan kehidupan demokrasi di negeri ini terus memberikan kontribusinya yang positif, bukan hanya bagi pengembangan kehidupan demokrasi atau lebih jauh lagi bagi pembangunan bangsa yang terus-menerus kita lakukan menuju sosok Indonesia yang sama-sama kita dambakan, Indonesia yang sungguh bersatu, adil, makin demokratis, damai, dan sejahtera.
Kita ketahui bersama, bahwa media massa memiliki peran yang penting dalam sebuah kehidupan bangsa. Karena sentral perannya yang tinggi, yang dibangun oleh media massa, kita berharap, rakyat berharap, agar betul-betul mengekspresikan kebebasan yang dimiliki. Kebebasan pers disertai dengan akhlak, disertai dengan tanggung jawab dan ini tujuan bahwa semuanya itu untuk kebaikan semata.
Daya kritis menjadi ciri dari media massa, kontrol sosial juga menjadi nafas dari kehidupan pers dan tentunya semuanya itu perlu dilakukan dengan kepatutan-kepatutan tertentu, sehingga tujuan yang mulia itu dapat dicapai tanpa harus menimbulkan masalah-masalah baru yang sama-sama tidak dikehendaki dalam kehidupan sebuah bangsa. Saya serahkan sepenuhnya para pimpinan `Jurnal Nasional`, sebagaimana harapan saya kepada para pimpinan dan pengelola media massa di negeri ini, gunakan kemerdekaan, kebebasan, ruang yang makin lebar dalam kehidupan demokrasi di negeri ini dengan sebaik-baiknya, sehingga rakyat akan berterima kasih kepada media massa kita dan media massa benar-benar menjadi pilar kehidupan demokrasi dan juga gerak pembangunan di negeri ini.
Malam ini juga hadir para maestro, para penyair, saya banyak kenal beliau-beliau. Oleh karena itu, judul yang tadi atau puisi yang tadi. Ya saya kenal beliau, pernah dulu tahun 2003 atau tahun berapa dulu? Kita bersama-sama dalam satu pentas, yang saya selalu kagum dengan kekuatan ekspresi, kekuatan seni dari para maestro kita, para penyair kita, para seniman kita, para budayawan kita.
Terimalah rasa hormat saya. Sering saya katakana, kehidupan yang hendak kita bangun tidak boleh hanya dipenuhi dengan yang serba logika. Logika itu benar atau salah, ataupun etika semata. Etika itu baik, tetapi kita merindukan juga estetika, keindahan. Dengan demikian, kehidupan yang akan makin lengkap, tidak pingsan dan kaya akan makmur, di tangan para penyair, para musisi, para seniman dan budayawan, kehidupan kita ini betul-betul indah dan bagaikan langit yang penuh dengan bintang-bintang yang bertaburan memberikan sinar kehidupan dan semangat untuk melangkah ke depan.
Saya salah satu penyair amatiran. Saya hanya senang menulis puisi, tentu saja dibandingkan dengan para maestro tidak ada apa-apanya. Saya pernah menulis satu buku kumpulan puisi, saya tulis pada tahun 2004. Tiba-tiba mengalir inspirasi dari waktu tiga bulan saya selesaikan beberapa judul puisi di sini, mulai Januari sampai Maret dengan saya dan diberi pengantar oleh Saudara Mustafa Bisri dari Jawa Tengah, salah satu penyair kita juga ingin sekedar ekspresi seorang SBY yang sebagai manusia biasa kadang-kadang sedih, kadang-kadang gembira, kadang-kadang kesal, kadang-kadang merindukan keindahan, kadang-kadang ingin menyapa teman-teman yang lain dan sebagaimana manusia yang ingin berbicara kepada masyarakatnya, kepada alam semesta, yang semua itu saya tulis di kumpulan puisi kecil. Malam ini, saya berpikir untuk membaca salah satu di sini atau sekenanya saja saya menyampaikan satu puisi.
Saya pikir-pikir lebih bagus saya bicara spontan saja, mudah-mudahan ada sedikit nafasnya, nafas puisi. Saya tertarik dengan yang disampaikan Pimpinan Jurnas tadi tentang harmoni. Oleh karena itu, ijinkan saya menyampaikan, mengekspresikan hati saya, pikiran saya, tentang harmoni, tentang kebebasan dan tentang pertanian, lebih berat dibandingkan kalau saya pidato kenegaraan ini.
Terbanglah wahai kebebasan ke sana angin
dan burung-burung camar di langit biru yang melambai dan terus mengepak,
melantunkan dendang dan salam rindu.
Kita itu pucuk-pucuk pinus mulai bersemi,
mekar dan bersinar ketika mentari pagi menyapa,
mawar-mawar merah di taman kota
yang penuh harapan dan kedamaian.
Ketika saya menoleh ke belakang di senja yang temaram itu
di kejauhan sang surya bergeser perlahan keperaduan,
menyapa, memberi salam datangnya bulan dan bintang yang bersinar
di malam yang dingin dalam kebesaran jagat raya kita.
Kekuasaan Sang Khalik yang luar biasa,
ketika siang berganti malam, ketika keteraturan galaksi
dan alam semesta berjalan, berkelanjutan,
tatanan, harmoni, keteraturan jagad besar kita.
Kalau boleh kukabarkan pada sebuah zaman yang belum datang,
alangkah indahnya kebebasan, alangklah mulianya kedamaian
yang hidup teduh bersama harmoni dan keteraturan, keniscayaan alam semesta,
keniscayaan kehidupan kita semua.
Sekian.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
*****
Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan



