Pidato Presiden
Sambutan Peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) Ke-14
TRANSKRIPSI
SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
PERINGATAN HARI KELUARGA NASIONAL
(HARGANAS) KE-14 TAHUN 2007
AMBON, 29 JUNI 2007
Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Selamat pagi,
Salam sejahtera untuk kita semua,
Hadirin sekalian yang saya muliakan,
Marilah pada kesempatan yang baik ini, sekali lagi kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, atas rahmat dan ridho-Nya, kita semua dapat menghadiri Hari Keluarga Nasional ke-14 Tahun 2007 ini. Kita juga bersyukur ke hadirat Yang Maha Kuasa, karena kepada kita masih diberi kesempatan, kekuatan, dan kesehatan untuk melanjutkan ibadah, karya, dan pengabdian kita kepada masyarakat, bangsa, dan negara tercinta.
Sebelum saya menyampaikan sambutan pada acara yang sangat penting ini, saya ingin menyampaikan dua hal. Pertama, meskipun acara ini telah dipersiapkan dengan baik dan saya patut menyampaikan terima kasih dan penghargaan atas semua yang dilakukan oleh panitia, termasuk Pemerintah Daerah dan Aparat Keamanan untuk menyelenggarakan acara ini. Tadi sedikit terganggu dengan kegiatan yang di luar rencana. Hal ini bisa saja terjadi, tetapi saya meminta untuk dilakukan investigasi, mengapa acara yang baik, yang memiliki tujuan yang mulia ini harus terganggu dengan kegiatan seperti itu.
Kalau tujuannya tidak baik, yang memiliki tujuan baik harus mendapatkan sanksi. Sanksi moral paling tidak, maupun sanksi sosial. Kalau tujuannya lebih dari itu, karena Indonesia adalah negara hukum, apabila ada rencana yang justru bisa menimbulkan gangguan keamanan dan ketertiban, tentu ada aturan hukum yang dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah itu.
Beberapa hari memang saya mendapatkan informasi. Atas informasi itulah sesungguhnya saya sampaikan agar acara itu dipersiapkan baik-baik, jangan sampai ada satu, dua pihak yang tidak bertanggung jawab dan tujuannya pun tidak baik, mengganggu tertibnya acara itu. Tapi biarlah, pejabat yang berwenang untuk menyelesaikan masalah tadi, tidak perlu kita ikuti dengan kegiatan-kegiatan lain yang justru menimbulkan suasana yang tidak baik atas keadaan di Ambon dan Maluku yang sudah amat baik ini. Dengan harapan, semuanya dapat diselesaikan dengan sebaik-baiknya.
Satu hal yang perlu kita petik Saudara-saudara, kalau ada katakanlah perbedaan diantara para elit, para pemimpin, para tokoh, janganlah memilih cara-cara yang tidak baik. Kasihan rakyat. Kalau lebih dari itu, kalau ada acara yang menganggu keutuhan kita sebagai bangsa dan negara, keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia atas nama konstitusi tentu kita harus memberikan tindakan yang tegas dan tepat. Ini tidak bisa ditawar-tawar lagi. Keutuhan bangsa, keutuhan negara, persatuan dan kesatuan diantara kita semua harus kita junjung tinggi dan kita tegakkan. Saya persilakan kepada para Pejabat Negara dan Pimpinan Daerah yang bertanggung jawab atas semuanya itu menyelesaikan dengan sebaik-baiknya. Dan marilah Saudara-saudara kita lanjutkan kegiatan hari ini dengan penuh sukacita, karena tujuannya baik dan mulia.
Pengantar yang kedua Saudara-saudara, pertama kali saya datang ke Ambon, Maluku ini adalah pada tahun 1980. Waktu itu, saya menyaksikan keindahan Ambon dan Maluku, semangat dan dinamika masyarakatnya, cantiknya seni tari, seni suara dan budaya di tempat ini dan berbagai segi kehidupan masyarakat yang mencerminkan masyarakat yang dinamis, bersemangat dan ingin maju. Sebagaimana yang kita saksikan tadi, putra-putri kita yang di tengah hujan menyambut kita dengan tari pergaulan yang dinamis, yang indah, yang penuh semangat. Kita rindu seperti itu, Maluku dan bahkan negeri kita, negeri yang indah, penuh dengan semangat, penuh dengan keindahan, harmoni, dan toleransi diantara kita semua. Saya bangga dan terharu menyaksikan para penari tadi di tengah-tengah guyuran hujan. Tapi percayalah itu hujan barokah, hujan yang mendatangkan keadilan, kemakmuran, keteduhan, dan kedamaian di kota Ambon Manise dan di Maluku yang kita cintai ini.
Setelah itu, saya datang kembali bertambah dan berbagai tempat di Maluku pada tahun-tahun yang berat waktu itu. Saudara masih ingat tahun 2000, 2001, 2002, 2003. Berkali-kali saya datang ke sini dengan tujuan, tujuan yang mulia untuk membangun kembali kerukunan, harmoni, kedamaian, persatuan di tanah Maluku ini untuk bisa kita bangun kembali. Panjang jalan yang kita lewati, penuh suka dan duka, penuh tantangan yang memerlukan kesabaran dan ketegaran kita semua. Tuhan Maha Besar. Setelah kita lewati tahun-tahun itu, kita semua menjadi bagian dari sejarah. Patutlah kita bersyukur, karena Ambon, Maluku sekarang ini keadaannya jauh lebih baik, hampir pulih dan bahkan memiliki tanda-tanda yang kuat untuk bisa membangun kembali dan meningkatkan kesejahteraan seluruh masyarakat di Maluku ini. Jangan sampai kapal berbalik ke belakang, mari kita dorong mencapai pantai tujuan, Maluku yang maju, yang teduh, yang damai, yang adil, dan yang sejahtera. Saya yakin, dengan semangat, dengan ketulusan hati, dengan komitmen kita semua, kita akan benar-benar dapat menghadirkan kedamaian yang sejati, keadilan yang hakiki, dan kesejahteraan yang sebenar-benarnya bagi saudara-saudara kita di Maluku.
Itulah Saudara, dua pengantar saya sebagai manifestasi dari rasa syukur saya dalam kunjungan kedua saya di Provinsi Maluku ini. Setelah dulu saya berkunjung ke Pulau Buru untuk memajukan pertanian, hari ini dan kemarin saya berkunjung untuk memajukan kelautan, perikanan, pendidikan, Koperasi, kesehatan, sosial dan lain-lain. Dan hari ini, kita merayakan Hari Keluarga Nasional.
Hadirin sekalian yang saya muliakan,
Pada hari yang penting ini, saya mengucapkan selamat kepada seluruh keluarga di tanah air kita dengan doa dan harapan, semoga kita semua, keluarga-keluarga bangsa Indonesia ini dapat mengarungi kehidupan di masa depan yang semakin membahagiakan, sejahtera lahir dan batin. Tema Harganas Tahun 2007 ini adalah ”Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera Pilar Persatuan Bangsa”. Dengan motto ”Keluarga Damai, Negara Damai”. Mari kita sukseskan, bukan hanya hari Harganas atau Harganas kali ini, tapi sasaran dan tujuan yang ingin dicapai.
Saudara-saudara,
Keluarga adalah lembaga paling kecil di dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Lingkungan keluarga, orang tua, anak, dan keluarga terdekat merupakan tempat berseminya kasih sayang, sikap dan perilaku hormat-menghormati, tumbuhnya nilai-nilai moral, agama, dan kemanusiaan, tempat berlangsungnya interaksi yang harmonis dalam suasana saling asih, saling asuh, dan saling asah. Mengingat betapa pentingnya peran dan kehidupan dalam keluarga, maka Saudara-saudara kita ingin keluarga-keluarga kita itu, keluarga Bangsa Indonesia tumbuh menjadi keluarga yang baik, keluarga yang tentram, keluarga yang damai, keluarga yang tidak suka kekerasan, keluarga yang selamat dari berbagai godaan kejahatan, keluarga yang berakhlak dan religius, keluarga yang menjunjung tinggi kebersamaan dan keluarga yang mencerminkan kepribadian dan jati diri bangsa kita, bangsa Indonesia. Karena kita ingin membangun dan menuju Indonesia, Indonesia masa depan yang damai, adil, demokratis, dan sejahtera, maka kita harus menjadikan keluarga-keluarga kita sebagai keluarga yang benar-benar hidup tentram dan damai, bersikap adil satu sama lain, serta penuh dengan toleransi, harmonis, demokratis, tetap dengan menjaga etika dan kesantuanan diantara keluarga. Dan harapan kita, sejalan dengan pembangunan yang kita laksanakan, keluarga-keluarga kita itu makin sejahtera lahir dan batin.
Saudara-saudara yang saya hormati,
Pembangunan Nasional yang kita lakukan dewasa ini adalah pembangunan yang ingin membangun manusia seutuhnya. Sering kita kenal dengan istilah human centered development, pembangunan yang berorientasi pada manusianya, pada keluarga. Sering dilakukan pengukuran untuk mengukur prestasi sebuah pembangunan yang berlaku secara internasional, mengukur pembangunan bangsa-bangsa di dunia yang kita sebut Indeks Pembangunan Manusia. Pertama, sejauh mana tingkat pengetahuan orang-seorang atau masyarakatnya, berarti pendidikan, harapan hidupnya seperti apa, usia dari sebuah masyarakat, bidang kesehatan dan bagaimana pendapatannya, income-nya yang kita ikatkan dengan kesejahteraan ekonomi.
Di berbagai kesempatan, saya juga sering mengatakan bahwa kita membangun untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia, hak dasar manusia, yaitu kebutuhan akan pangan, sandang, rumah tinggal, pelayanan pendidikan, pelayanan kesehatan, lingkungan yang baik, rasa aman, peribadatan dan lain-lain. Itulah yang kita tuju. Agar sasaran pembangunan yang berorientasi pada manusia atau keluarga ini tercapai, kita perlu mengembangkan strategi ganda, strategi kembar.
Yang pertama, setiap manusia dan keluarga itu sendiri sebagai subjek harus berupaya untuk dapat memenuhi kebutuhan dasarnya, pengetahuan, kesehatan dan lain-lainnya. Tetapi dalam kenyataanya, apalagi negara berkembang tidak mungkin kalau hanya dibebankan dan menjadi tanggung jawab keluarga itu sendiri. Oleh karena itu, strategi yang kedua adalah negara, dalam hal ini Pemerintah menjadi penjuru, berkewajiban dan harus berupaya untuk memenuhi kebutuhan dasar dan meningkatkan kesejahteraan warganya itu, dalam hal ini manusia dan keluarga kita lihat sebagai objek. Itulah tanggung jawab kita, negara, Pemerintah di seluruh tanah air. Oleh karena itu, Pemerintah akan tetap memprioritaskan, termasuk mengalokasikan anggaran yang semakin besar bagi program-program pro rakyat, seperti pendidikan, kesehatan, termasuk pengurangan kemiskinan. Dan sejumlah upaya yang akhirnya mengubah nasib dan masa depan manusia dan keluaga kita.
Sementara itu, kita semua mengetahui tantangan yang dihadapi dalam membangun bangsa ini. Saudara tahu, jumlah penduduk Indonesia besar, sekarang lebih dari 220 juta. Dan jumlah ini terus meningkat dari tahun ke tahun. Tentu saja jumlah penduduk yang besar itu memerlukan pangan, sandang, rumah, energi, transportasi dan sebagainya yang saya katakan tadi. Akibatnya untuk memenuhi kebutuhan itu, maka ekonomi kita harus kuat dan terus tumbuh. Sementara itu, jumlah penduduk yang besar itu memerlukan daya dukung dan daya tampung dari alam, dari bumi Indonesia, agar mereka bisa hidup secara layak dan manusiawi. Itu kewajibannya, realitasnya Saudara-saudaranya, kenyataannya Saudara-saudara, ekonomi kita, ekonomi Indonesia seperti negara berkembang lainnya masih dalam tahap pengembangan, belum kuat benar untuk bisa mendukung jumlah penduduk yang besar. Sementara itu, harus kita akui, mari kita sadari, bahwa daya dukung dan daya tampung alam kita, tentu memiliki keterbatasan.
Atas dasar itu semua, solusinya adalah sekarang dan ke depan, ekonomi terus kita pacu pertumbuhannya, agar bisa membiayai upaya mensejahterakan rakyat kita, keluarga kita. Jumlah dan pertumbuhan pendudukan mesti kita kendalikan dengan baik, seperti negara-negara lain yang penduduknya besar, mereka juga melakukan pengendalian atas jumlah dari pertumbuhan penduduknya. Dengan demikian, penduduk itu dapat dibiayai oleh ekonomi kita dan dapat ditampung dan didukung oleh bumi kita, bumi Indonesia tanpa harus menimbulkan kerusakan lingkungan hidup.
Ingat Saudara-saudara, di dunia ini ketersediaan pangan, energi dan air bersih makin menyusut, makin berkurang, dibandingkan dengan jumlah penduduk yang terus meningkat, yang sekarang jumlahnya 6,4 milyar orang. Tiap malam di seluruh dunia, ada 850 juta orang, termasuk 220 juta anak-anak yang tidak bisa tidur karena mereka lapar, karena keluarga itu miskin. Ini harus kita ubah, bukan hanya di Indonesia, tapi di seluruh dunia.
Saudara harus tahu, dunia sekarang menghadapi yang dikatakan perubahan iklim global, climate change, akibat pemanasan global, global warming. Kalau ini terus meningkat akan menganggu kehidupan manusia di bumi. Contohnya dengan pemanasan global, dengan perubahan iklim terjadi banyak kebakaran di dunia ini yang mengakibatkan korban yang besar, banjir-banjir, perubahan iklim yang menganggu pertanian dan lain-lainnya. Mengapa itu terjadi? Karena banyak sekali hutan-hutan yang ditebangi, barangkali untuk memenuhi kebutuhan penduduk. Banyak sekali penggunaan bahan bakar yang menimbulkan gas CO2, yang mencemari udara, bahan bakar diperlukan karena transportasi besar, transportasi besar karena penduduknya terus meningkat dan makin besar dan banyak lagi masalah-masalah yang dihadapi oleh bumi kita karena besarnya penduduk dan jumlahnya yang terus meningkat.
Dalam kaitan itu semua Saudara-saudara, agar pembangunan manusia di Indonesia berhasil dan agar keluarga Indonesia yang kita dambakan tadi kecil, bahagia, sejahtera dapat terwujud, maka sekali lagi pertumbuhan penduduk harus kita kendalikan. Setiap orang, setiap sumber daya manusia kita harus terus kita bangun dan berdayakan melalui Program Keluarga Berencana. Melalui program itu, benar-benar harus kita dorong terbentuknya keluarga kecil, bahagia, dan sejahtera.
Program ini, bukan program yang mengada-ada, bukan program yang tanpa tujuan yang baik, program ini adalah untuk kepentingan kita semua, orang seorang, keluarga, dan bangsa kita secara keseluruhan. Program ini menjadi tanggung jawab setiap pemimpin dan masyarakat luas. Marilah Saudara-saudara kita berpikir ke depan untuk negeri kita, untuk anak cucu kita. Janganlah kita membebani generasi mendatang, karena kita lalai mengatur kehidupan kita sekarang ini, termasuk kebijakan kependudukan di negeri kita. Oleh karena itu, dengan memohon berkat Tuhan Yang Maha Kuasa dari kota Ambon Manise dan dari bumi Maluku yang kita cintai ini, saya serukan, ”Mari Kita Revitalisasikan Program Kelurga Berencana, Mari Kita Hidupkan Kembali Program Keluarga Berencana Mulai Sekarang dan ke Depan”.
Saya instruksikan kepada seluruh jajaran pemerintahan untuk menyukseskan Revitalisasi Program Keluarga Berencana. Kepada para Gubernur, Bupati, Walikota dan semua pemimpin pemerintahan agar tampil di depan untuk menyukseskan program ini. Kepada jajaran BKKBN, saya instruksikan agar meningkatkan kinerjanya, memberikan pelayanan Program KB kepada masyarakat dengan baik, mintakan bantuan dan berkonsultasilah dengan pemuka agama, tokoh masyarakat, tokoh adat dan pemimpin-pemimpin informal lainnya. Pilihlah metodologi dan cara-cara yang tepat, lindungi hak asasi manusia, termasuk hak reproduksi, sekalipun hak kaum perempuan untuk terbebas dari kekerasan. Ingat, Program Keluarga Berencana bukan hanya sekali lagi, bukan hanya program pengendalian pertumbuhan penduduk semata, tetapi juga program pengaturan kelahiran dan pengasuhan anak secara sehat dan manusiawi. Kita harus menurunkan jumlah kematian ibu, ketika melahirkan dan jumlah kematian anak ketika dilahirkan atau pada usia balita. Ini adalah misi kemanusiaan yang mulia, misi kemanusian yang hakiki dan wajib hukumnya untuk kita jalankan dengan sebaik-baiknya.
Saudara-saudara, Hadirin sekalian yang berbahagia,
Akhirnya mengakhiri sambutan ini, saya menyampaikan ucapan selamat dan penghargaan kepada semua pihak yang telah ikut serta dalam menyukseskan Program Keluarga Berencana dengan berbagai prestasi yang diraihnya sebagaimana tadi saya berikan tanda kehormatannya dengan harapan pertahankan dan kembangkanlah terus pengabdian seperti itu dan mudah-mudahan dapat ditauladani oleh saudara-saudara kita yang lain. Saya mengucapkan terima kasih kepada semua pihak, BKKBN, PKK, Instansi Pemerintah Pusat dan Daerah dan berbagai unsur masyarakat maupun unsur Pemerintah di dalam ikut menyukseskan program keluarga kecil, sehat, bahagia. Teruskan dan tingkatkan tugas dan pengabdian Saudara-saudara sekalian.
Kepada Gubernur dan masyarakat Maluku, saya ucapkan terima kasih dan penghargaan. Teruslah membangun daerah ini untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Terus pelihara kerukunan, kedamaian, dan harmoni yang tumbuh makin baik di wilayah ini agar bisa menjadi karakter dan kebanggaan masyarakat Maluku. Saya yakin, dengan ridho Tuhan Yang Maha Kuasa, dengan kerja keras kita, Maluku akan maju, berkembang, menuju masa depannya yang lebih baik.
Demikianlah Saudara-saudara, semoga Tuhan Yang Maha Besar, Tuhan Yang Maha Kuasa, Allah SWT selalu memberikan bimbingan, petunjuk, dan lindungan-Nya kepada kita sekalian.
Sekian. Selamat berjuang Saudara-saudara. Tuhan beserta kita.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
*****
Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan



