Pidato Presiden

Pengarahan Kunjungan Kerja ke Fasilitas Riset Nuklir BATAN di Kawasan Puspitek

 

TRANSKRIPSI
PENGARAHAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
KUNJUNGAN KERJA KE FASILITAS RISET NUKLIR BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL (BATAN) DI KAWASAN PUSAT PENELITIAN ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI (PUSPIPTEK)
SERPONG, 4 JULI 2007



Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Selamat pagi,
Salam sejahtera untuk kita semua,

Yang saya hormati Saudara Menteri Negara Riset dan Teknologi dan para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu, Saudara Ketua Dewan Pertimbangan Presiden, Saudari Gubernur Banten, Bupati Tangerang dan para Pimpinan dan Pejabat Negara yang bertugas di Provinsi Banten dan Tangerang,
Yang saya hormati Saudara Kepala BATAN dan para Pimpinan Lembaga Pemerintah Non Departemen, para Peneliti, para Ilmuwan, para Teknolog,

Hadirin sekalian yang saya muliakan,
Pada kesempatan yang baik dan insya Allah penuh berkah ini, saya mengajak hadirin sekalian untuk sekali lagi memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, karena kepada kita masih diberi kesempatan, kekuatan, dan kesehatan untuk melanjutkan ibadah kita, karya kita, dan pengabdian kita kepada masyarakat, bangsa, dan negara tercinta.

Saya mengucapkan terima kasih kepada Pimpinan BATAN dan Keluarga Besar PUSPIPTEK dan BATAN yang telah menerima kunjungan saya hari ini. Ini kunjungan pertama saya di wilayah atau kompleks yang sungguh indah. Saya dengan istri terkesan tadi, begitu masuk ke kompleks ini, pohon-pohon masih tinggi, rindang, sejuk, teduh, sesuatu yang mesti kita pertahankan dan kita lestarikan.

Tadi kami berdiskusi dengan istri. Kita pikir namanya PUSPITEK ternyata PUSPIPTEK. Saya bilang ya tinggal dipilih, kalau mau betul, Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi mesti PUSPIPTEK. Kalau mau mudah PUSPITEK ya diganti singkatannya Pusat Penelitian Ilmu Tahuan dan Teknologi, PUSPITEK.

Saya meminta kepada Pak Hudi supaya dipertahankan lingkungan yang indah, sejuk, dan teduh ini. Lingkungannya teduh, hati kita teduh. Lingkungannya sejuk, hati kita sejuk. Lingkungannya bersih, hati kita bersih. Kalau hati kita bersih, tidak tergoda untuk melakukan penyimpangan. Kalau hati kita teduh, tidak suka kekerasan. Kalau hati kita sejuk, kita bisa membangun harmoni, kasih sayang, toleransi, kerukunan diantara kita semua sesama warga bangsa yang sama-sama kita cintai dan banggakan.

Saudara-saudara,
Kalau mata saya agak merah ini bukan karena marah, karena tadi malam saya dengan para Menteri, Wapres di situ berkonsultasi dengan Pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat sampai sekitar jam setengah tiga pagi. Bagus memang kita berbincang-bincang, saya menyampaikan tentang kebijakan politik luar negeri dan kita berinteraksi begitu. Dewan menyampaikan pikiran-pikirannya, pandangannya, kritiknya. Saya terima secara baik karena tentu negara ini, negara kita semua. Kita ingin melakukan yang terbaik, terbaik untuk rakyat, terbaik untuk kita semua masa kini dan masa depan. Forum seperti itulah yang harus kita bangun dan kita kembangkan, sehingga ada komunikasi yang genuine, komunikasi yang baik. Dengan demikian, insya Allah hasilnya juga akan baik.

Saudara-saudara,
Saya menyiapkan beberapa catatan kecil untuk saya komunikasikan kepada Saudara semua. Karena peneliti itu adalah pahlawan, pahlawan di belakang layar, tidak banyak yang memberikan apresiasi, tidak banyak yang menyadari bahwa penelitian itu dahsyat. Inovasi, invention, discovery, research, development itu mengubah banyak hal, bahkan mengubah dunia. Oleh karena itu, kalau saya beberapa kali berbicara dengan para peneliti, misalnya di forum Hari Teknologi, di forum Persatuan Insinyur Indonesia, ingat saya dua kali dan di forum-forum lain untuk ya appeal, untuk mengajak, untuk ya menantang, to challenge para peneliti, agar melakukan penelitian, pengembangan inovasi seluas-luasnya, sebanyak-banyaknya. Itu semata-mata karena saya yakin, I am a true believer, bahwa solusi pada berbagai masalah di dunia ini akan diketemukan, apabila teknologi kita hadirkan dan inovasi teknologi kita jadikan satu wahana untuk memecahkan permasalahan-permasalahan yang semakin kompleks dan beragam sekarang ini.

Dalam konteks itulah, saya ingin berbicara dari hati ke hati dengan Saudara-saudara semuanya sebagai seorang Kepala Negara yang menginginkan, sebagaimana keinginan Saudara semua, negara kita makin maju, betul-betul makin menjadi developed country. Suatu saat, sehingga anak cucu kita, generasi mendatang hidup lebih baik dalam kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di negeri ini.

Saudara-saudara,
Yang akan saya sampaikan sebagian barangkali sudah pernah saya sampaikan, tapi tidak mengapa, tidakkah kita yang beragam Islam ini satu hari paling tidak tujuh belas kali kita membaca Surat Al-Fatihah. Karena memang penting, karena menjadikan syariat kita dalam menjalankan sholat. Oleh karena itu, kalau saya menyampaikan hal-hal yang menurut saya penting, relevan dan harus saya komunikasikan, tentulah dengan tujuan yang baik, bukan sekedar mengulang-ngulang tanpa tujuan, tetapi masalah ini adalah masalah yang penting untuk dapat kita kelola secara bersama.

Saudara-saudara,
Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar. Tadi Pimpinan BATAN mengatakan saya, ”Pak Presiden, sebenarnya teknologi nuklir kita ini dulu lebih maju dibandingkan negara-negara lain”. Tadi juga diuraikan, tahun 60 misalnya, tahun-tahun setelah itu. Tetapi negara lain sekarang berlari lebih cepat, kita nampaknya kurang cepat. Saya katakan kepada beliau, ”Mulai sekarang, mari kita berjalan lebih cepat”. Kalau Thailand bisa, kita harus bisa. Kalau Malaysia maju, kita juga bisa maju, India, China dan lain-lain. Saya bukan hanya menyenang-nyenangkan Saudara.

The best and the brightest man and woman di negara ini banyak, mereka mengembangkan berbagai penemuan, discovery, inovasi di berbagai bidang di banyak negara. Mengapa tidak kita mobilisasi, tidak kita daya gunakan semuanya itu untuk mengembangkan peradaban kita, kehidupan kita, sehingga bangsa kita makin ke depan makin maju dan sejahtera. Saya pertama-tama mengajak, mari kita mengubah paradigma kita, we have to think outside the box. Jangan itu-itu saja, jangan conventional. Mari kita coba memahami kompleksitas dunia kita sekarang ini, menggunakan akal kita, kekuatan akal kita. Dengan demikian, muncul berbagai pilihan, alternatif, opsi untuk memecahkan masalah-masalah itu. Thinking outside the box.

Saudara-saudara,
Ada yang namanya trend. Kalau kita biarkan, trend akan mengalir. Kalau sebuah aliran di selokan kita biarkan, alirannya ke arah sana misalnya, ya ke sana. Tapi ingat, trend is not destiny, trend can be changed, bisa diubah. Tidakkah kita ingat Robert Maltus, yang memperkirakan dunia akan kiamat, karena tidak bisa mendukung dan menampung kebutuhan manusia yang terus tumbuh dengan cepat. Apa yang terjadi? Maltus was wrong. Tetapi Maltus sangat berjasa, dengan lampu kuning itu, semua alert, semua berpikir, bisa-bisa betul. Oleh karena itulah, melakukan banyak hal, termasuk terobosan dan inovasi teknologi, sehingga ternyata tidak terjadi masa gelap yang pernah dilontarkan oleh Maltus.

Jadi mari kita ubah sesuatu yang kalau dibiarkan akan begitu. Hutan ditebangi terus-menerus, kalau kita biarkan, ya habis. Yang menyumbang carbondioxide, yang menyumbang global warming, yang menuju ke climate change, disaster di alam semesta ini, we have to stop it. Karena itu, trend is not destiny. Banyak sekali di dunia ini yang kalau kita biarkan, menguras fosil habis-habisan untuk energi dengan jumlah demand, jumlah consumtion yang makin tinggi, ya terkuras habis, akan masuk pada crisis of energy. We have to stop it. We have to change the cause of the trend. Karena sekali lagi, is not destiny, bisa kita ubah.

Cara berpikir yang lain, sesuatu yang terjadi karena ulah manusia, karena bikinan manusia, man made, itu bisa diubah. Thing that is made by man can be unmade, bisa diubah. Saya tidak percaya, kalau tidak ada sesuatu kekuatan harus untuk mengubah sesuatu yang kalau kita biarkan ya akan begitu. Kira-kira terminasinya kita tahu, salah tempat, salah arah, kita harus mengubah. Ini tidak monopoli dunia science, tapi juga dunia sosial, dunia politik, dan kehidupan yang lain. Banyak rahasia di alam semesta ini, the mystery of the universe. Tapi saya percaya, kekuasaan Tuhan, kebesaran Tuhan akan membuka akal manusia untuk mulai menguak, ada apa di alam semesta ini. Tuhan Yang Maha Kuasa menciptakan semuanya itu mesti ada tujuannya dan someday bisa menjadi alat untuk memecahkan masalah.

Scientist mengatakan kalau kita bicara bumi dengan tata suryanya, kalau kita bicara energi di jagad ini, maka kita diingatkan oleh Einstein yang memformulasikan perubahan massa menjadi energi atau sebaliknya, E=mc2. Satu fenomena, satu dimension. Dimension yang lain, kalau kita bicara energi, power, kita mengenal gelombang elektromagnetik, another dimension yang mesti harus kita pikirkan untuk apa terjadi seperti itu. Adalagi teori yang ketiga, yang mengatakan ada partikel yang sangat, sangat, sangat kecil, yang bisa bereaksi dan bermutasi, yang bisa dimutasikan dan direaksikan. Dari itu semua, menuntun akal pikiran kita, kalau suatu saat kita menghadapi krisis energi misalnya, apa yang bisa kita lakukan dari itu semuanya.

Sebagai contoh Saudara-saudara, fosil akan habis, perlu jutaan tahun untuk membuat fosil baru dan itu tidak akan terjadi dengan keadaan alam yang ada sekarang ini. Penduduk dunia 6.3 milyar. Saya tidak tahu peak-nya berapa. Apakah bisa mencapai tujuh, delapan milyar? Teorinya akan sampai pada peak and stuck declining. Tapi kita tidak tahu, when dan pada angka berapa, ada memang estimasi-estimasi seperti itu. Tetapi 6.3 billion is a lot, banyak sekali untuk ukuran seperti itu.

Fosil akan habis. Sekarang saja, Bapak lihat di CNBC, di CNN, di BBC, brand itu sudah 72 dollar per barrel. Ini max, 70 dollar per barrel, nightmare. Oke, negara-negara Timur Tengah, negara kaya minyak senang, tapi bagaimana 6.3 milyar manusia dikurangi itu dengan kebutuhan yang makin meningkat, housefull, transportation, industry, segala macam. Apakah kita cukup dengan renewable resources, wind, air, gelombang, samudera, solar, apalagi, geothermal, cukupkah itu menggantikan fosil yang jumlahnya unlimited dalam tanda kutip? Waktunya akan datang. In my belief, dengan terobosan teknologi, dengan inovasi, penemuan dari para researchers, para scientists, para technologist. Saya hanya berpikir, energi itu teorinya kalau tidak hidrogen, karbon. Karbon alam semesta kita ada CO2, bagaimana C-nya diambil dengan teknologi tertentu yang economical. Katanya masih 15, 20 tahun lagi, tapi belum tentu ekonomis. Mesti ketemu suatu saat, teknologi yang bisa men-capture itu karbon dari CO2 untuk ditransformasikan menjadi bahan bakar kita, bahan bakar minyak sebagai contoh.

Yang kedua, air. Karena kandungan karbon dan hidrogen, itu bisa menjadi sumber energi, air unabandoned, samudera, mesti ada someday, teknologi yang murah, yang feasible, yang economical untuk mengubah itu. Ini adalah mimpi-mimpi, khayalan, the dream of top scientists, of reseachers, of inventors yang kita tunggu. Dan itu bukan monopoli dunia lain, akan lahir orang-orang yang aneh seperti Nest, seperti Einstein, seperti yang lain-lain itu, yang ditolak oleh masyarakat pada zamannya dulu, ternyata mengubah dunia, membawa perubahan-perubahan. Think about that. Banyak sekali rahasia-rahasia alam yang mesti kita kuak misterinya, tegak IPA-nya, rahasianya.

Saudara-saudara,
Kita bersepakat, no future without technology. Peradaban akan berubah dan terus berubah. Banyak masalah yang muncul karena peradaban baru, civilization of humankind. Menurut saya, contohlah dengan kondisi dunia seperti ini, sooner or later kita menghadapi krisis, the crisis of energy. Kalau kita conventional, kalau begini-begini terus, hanya menggantungkan fosil, kita menghadapi crisis of food. Kalau kita tidak sadar, tanah kita ini dengan teknologi sekarang, dengan kebutuhan makanan yang luar biasa per tahunnya akan mengalami masalah, a crisis of water, drinking water. Jawa sudah lampu kuning contohnya. We have to think about that.

Menurut saya, yang mengubah semuanya itu, satu adalah new lifestyle, culture. Kalau masyarakatnya boros, bangsa Indonesia masih boros energi dan begini terus, bermasalah di suatu saat. Tapi kalau bangsa Indonesia, dunia dengan education, dengan semuanya berubah menjadi bangsa yang hemat, maka sepertiga masalah sudah bisa kita kurangi. Masih ada lagi, correct policy, commitment, global commitment, policy dari negara-negara di dunia ini yang pas, misalkan untuk hemat energi, untuk inovasi teknologi, untuk seperti itu. Ini kalau bagus, sepertiga masalah sudah hilang, the rest onethird adalah technological innovation. Kembali ke situ.

Indonesia melimpah ruah sumber dayanya, tidak. Suatu saat kalau kita tidak pandai melestarikannya, mengkonservasinya, lalai kita akan berkurang. Oleh karena itu, tidak mungkin pembangunan kita hanya resources based development, resources based economic development, kita harus menuju ke knowledge based development, knowledge based economic development. Paling tidak kita padukan anugerah Yang Maha Kuasa, Allah SWT, sumber daya alam yang kita miliki dengan human capital, dengan teknologi, dengan ilmu dan lain-lain. Kita harus menuju ke situ, karena kalau lifestyle kita bisa menyesuaikan dengan dunia yang makin tua seperti ini, yang makin miskin sumber daya. Yang kedua, policy-nya correct. Tugas saya yang sedang mengemban amanah dan pengganti-pengganti saya nanti, semua bikin policy yang betur, strategi yang betul. Dan after all, kami mengundang para scientist, para researchers, bring technology on it. Lakukan inovasi teknologi untuk memecahkan masalah-masalah itu. Research matters, penelitian sangat-sangat penting.

Saya datang ke Malaysia diajak menuju ke sebuah factory kelapa sawit, sama kita juga punya kelapa sawit. Indonesia-Malaysia memproduksi 85% dari total global output untuk CPO. Mengapa Malaysia kadang-kadang di depan kita? Because of research and development. Segini itu namanya, that sawit, kita sama-sama lihat. Saya banyak why? Ya, penelitian. Thailand, itu banyak sekali inovasi buah-buahan, tanam-tanaman dan itu bukan hanya prestasi dari lembaga-lembaga penelitian yang sah, yang dimiliki negara dan Pemerintah, tapi ada local communities yang juga melaksanakan research and development and growing dan mengubah wajah pertanian Thailand. Banyak lagi yang bisa saya berikan contoh karena research.

Saya sudah berbincang-bincang dengan Menteri Keuangan, dengan Menteri-menteri terkait, ya jangan sampai selawe njalok selamet. Kalau kita tidak memberikan apresiasi pada peneliti, kalau kita tidak memberikan ruang pada peneliti, kalau kita tidak memikirkan penelitian itu memerlukan energi, memerlukan konsentrasi dan segalanya, ya keliru kita. Ini terus terang, saya makin menyadari bahwa kita mulai tertinggal dengan negara-negara yang dulu sama-sama dengan kita, because of, kurangnya kita melakukan inovasi, penelitian, dan pengembangan. I am serious. Oleh karena itu, mari mulai sekarang kita lakukan sesuatu untuk mengubah semuanya ini. Saya senang sekali tadi Bapak fokusnya paling tidak dari enam, ada masalah food, pangan, masalah energi, kemudian masalah obat, yang kesehatan dan obat-obatan dan bahkan air. Istilah saya FEWS, Food, Energy, Water Sustainabilty, karena itu sangat penting.

Saudara-saudara,
Sekarang yang mengakibatkan korban nyawa yang besar di dunia ini bukan perang. Era Perang Dunia I, Perang Dunia ke II sudah lewat, pertempuran massal, korbannya jutaan, sekarang tidak begitu. Ada smart weapon system, perubahannya itu bisa dikelola sekecil mungkin. Tetapi yang bikin korban besar adalah misalnya communitable diseases, bisa jutaan, bisa puluhan juta. Flu burung, flu-flu yang pernah terjadi di Eropa, di Asia dulu. Puluhan juta bisa meninggal karena communitable disease, karena AIDS. Mari kita berpikir, masa enggak ada di dunia ini yang akibat bisa menciptakan obat anti AIDS, anti flu burung yang cespleng.

Korban yang lain, gelombang seperti tsunami kemarin, ratusan ribu. Gempa bumi sampai sekarang, teknologi kita belum tahu kapan quake akan datang. Dalam waktu berapa menit sekarang? 7 menit memang tahu, where, magnitude-nya berapa, kemudian apakah ada kemungkinan tsunami karena dislokasinya vertical atau horizontal. Tapi barangkali suatu saat akan tahu untuk mendeteksi lebih dini, apakah gunung berapi, apakah gempa atau tsunami, teknologi. Karena kalau kita bisa lakukan, selamatlah puluhan atau ratusan ribu atau jutaan orang yang bisa menjadi korban tsunami.

Musuh yang lain adalah kemiskinan, object poverty. Di dunia ini dari 6.3 milyar tiap malam, ada 850 juta, 220 juta diantara anak-anak yang tidak bisa tidur, karena lapar. They are too poor to live. Tidak punya makanan, lihat Afrika. Jadi bukan perang antar devisa, antar brigade, tetapi karena kurang makanan. Mari kita carikan solusi, bagaimana dengan teknologi, makanan ini cukup untuk 6.3 milyar manusia yang juga terus bertambah. Energi. Rebutan energi bisa perang. I am serious. Amerika, energy hungry country. China, India, 1.3 milyar manusia, 1.1 milyar manusia consume a lot of energy. Suatu saat bisa perang kita karena minyak. Kalau sekali lagi, tidak ada subsitusi, tidak ada terobosan inovasi untuk tidak selalu tergantung pada fosil.

Saya senang sekali, air bersih. Bapak lihat air tanah berapa, air bawah tanah berapa? Jawa ini di kelilingi lautan. Tapi ingat, Jawa sudah lampu kuning untuk kesediaan drinking water. Sawah-sawah tanpa air. Sambil memastikan irigasi bagus, bikin terobosan teknologi, padi tanpa air harus bagaimana, mestinya bisa, dengan air sekecil mungkin mestinya bisa. Bagaimana mau nutrisi dihadirkan, bagaimana manajemen tanah itu sendiri, metodologinya, teknologinya, bring your innovation termasuk nuclear technology, seperti yang kita lihat di Subang kemarin. Jadi food and water and energy dan communitable disease, tolong menjadi prioritaslah.

Bapak mengatakan bahwa nuklir yang kita kembangkan untuk peacefull purposes, kemakmuran, keadilan, kesejahteraan, bukan untuk perang. Indonesia akan berdiri di depan untuk suatu perjuangan disarmament. Amerika masih punya banyak, Rusia banyak, Inggris banyak. Tiba-tiba sekarang di Asia muncul lagi, ada Israel, kemudian ada Pakistan, ada India, ada Korea Utara. Bayangkan, itu bukan yang kita pilih, yang kita pilih nuklir untuk tujuan damai, untuk kesehatan, untuk energi, untuk makanan, untuk dan lain-lain. Mari kita fokuskan, Allah akan meridhoi, enggak akan ada dosa kita kepada kemanusian, kepada dunia, kepada rakyat kita, karena nuklir yang kita pilih adalah untuk pengembangan, untuk kepentingan damai, kepentingan kesejahteraan, dan kepentingan kemanusiaan.

Saudara-saudara,
Saya mengundang, saya menyambut baik, I welcome temuan-temuan, penelitian, inovasi dari semuanya. Yang pernah datang ke rumah saya di Cikeas, Sabtu dan Minggu, saya buka warung. Ini Pak Menteri ketawa, senyum di situ. Yang datang ke saya misalkan, “Pak, saya sudah mengembang jenis varietas ini, yang dulunya 5 ton, Semarang 15 ton”. Saya bilang, “Kalau nanti panen 20 ton per hektar, saya datang, dimana pun saya datang”. Kalau bisa panen 1 hektar, 20 ton. Tapi bukan hanya demonstration plot, tapi sudah massal, sudah proven, sudah dinikmati oleh rakyat. Bayangkan, kita tahun ini ingin meningkatkan 2 juta ton tambahan beras, tidak mudah. Karena average hanya 6-7 ton per hektar. Di Indonesia ini, kalau bubble 15 ton terpecahkan, apalagi kalau teknologi kita bisa membikin 15 sampai 20 ton per hektar untuk padi kita. Saya buka warung di situ, datang.

Adalagi yang datang, ”Pak, ini listrik kita insya Allah tanpa nanti bahan bakar sudah self generating di situ. Nah ini ada kuantum, teori kuantum di situ, difusi, direaksikan gerak dari elektron dan semua yang ada di situ”. Saya dengarkan. Ada contohnya, nyala sekian Megawatt.

Ada yang datang kepada saya, ”Pak, kita bisa mengubah air menjadi fuel”. Gimana teorinya? Begini, begini, contohnya ada, beliau saya ajak juga, saya dorong. Ada yang, ”Pak, kenapa kita harus jauh-jauh dari tanah ini masuk ke, kita potong saja. Kita hadirkan nutrient, nutrisi yang baru ini. Lompatannya begini”. Saya terima, I welcome them all. Jangan buru-buru. Ah, non sense, enggak masuk akal, kamu gini, jangan. Dia ingin menyumbangkan sesuatu, mungkin dia dapat hidayah dari Allah SWT. Penemu-penemu besar pertama kali dianggap, wah orang ini enggak beres ini, ternyata penemuannya mengubah dunia. Tolong diterima, saya tidak suka, ah enggak masuk akal, kamu menipu, sudah pergi, pergi, pergi begitu.

Pendidikan, perguruan tinggi, lembaga penelitian, kalau ada saudara-saudara kita, peneliti kita yang seperti itu terima, dengarkan. Memang harus proven. Scientifically must be explained sehingga mengerti, kan begitu. Mana percaya tahun 50-an manusia mendarat di bulan. It happened. Mana percaya dulu, teknologi seperti sekarang ini komputer, yang otaknya otak Bill Gates. It happens now. Jadi tolong, jangan kita ini ada arogansi lembaga atau perguruan tinggi, arogansi ini, wah saya ini sudah Profesor Doktor, enggak ada ilmu seperti, pulang, pulang, pulang. Jangan. Hidayah itu datang kepada siapa pun, di tempat mana pun. Meskipun akhirnya harus diuji betul, proven, scientifically bisa dipertanggungjawabkan dan lain-lain. Tapi semangat kita, marilah kita undangkan. Dan saya akan berikan bintang, Bintang Maha Putra atau apapun, putra-putri Indonesia yang betul-betul bisa membawa perubahan.

Oleh karena itu, sekali lagi, dengan cerita saya ini, saya hanya mengajak, saya berharap, saya bermohonlah kepada Saudara-saudara, baik yang ada di ruangan ini maupun yang tidak hadir, para peneliti, mari kita ubah negeri kita, lakukan terobosan teknologi, penelitian pengembangan berbagai bidang, terutama yang tadi itu, food, energy, water dan medicine dan medical supplies yang bisa menyelamatkan kehidupan kita di waktu yang akan datang. Ingat, kita memasuki gelombang ke-4 peradaban manusia harus apa istilahnya itu, memelihara betul bumi kita yang makin tua ini, supaya tidak berubah iklim global, menyusahkan kita semuanya dengan cara-cara yang tepat, mindset yang tepat, gaya hidup yang tepat, policy yang tepat, teknologi yang tepat. Di situ yang kita tuju dan mari kita menjemput gelombang ke-4 peradaban manusia dengan kesadaran yang penuh, bahwa kalau kita biarkan trend-trend yang tidak baik, nyampainya pasti tidak baik dan kita akan menjadi bangsa yang merugi, bukan bangsa yang dihormati Allah SWT.

Itulah Saudara-saudara. Dan sekali lagi, saya ucapkan terima kasih. Teruslah berkreasi Saudara-saudara, para peneliti, termasuk peneliti dari BATAN. Kembangkan teknologi nuklir untuk kepentingan damai, kepentingan apapun yang kira-kira membawa manfaat bagi kita semua.

Selamat bertugas.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

*****


Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan