Pidato Presiden
Dialog dengan Petani dan Nelayan pada Pembukaan Penas XII Petani-Nelayan Indonesia 2007
TRANSKRIPSI
DIALOG PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
DENGAN PETANI DAN NELAYAN
PADA ACARA
PEMBUKAAN PEKAN NASIONAL (PENAS) XII PETANI, NELAYAN INDONESIA TAHUN 2007
BANYUASIN, SUMATERA SELATAN
7 JULI 2007
Gubernur Sumatera Selatan
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Yang kami muliakan Presiden Republik Indonesia beserta Ibu Hj. Ani Bambang Yudhoyono, para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu yang kami hormati,
Hadirin yang saya muliakan,
Tiba saatnya kita acara dialog antara Presiden dan para petani dan nelayan. Bapak Presiden, kami laporkan bahwa yang hadir 21 ribu petani dan nelayan, dan di hadapan kita ada 27 orang yang mewakili semuanya ini, yaitu dari Nangroe Aceh Darussalam sampai ke Irian hadir pada hari ini. Mohon berdiri dari 27 yang mewakili daerah Anda. Ini Pak, yang mewakili untuk dialog dengan Bapak nanti. Silahkan, terima kasih. Kita mempunyai waktu, Bapak Presiden, saya kira nanti akan menentukan bagaimana. Tapi yang pertama, kita berikan untuk 3 orang. Silahkan yang pertama mungkin, silahkan Pak ke depan, sebut nama, dari Provinsi mana.
Sdr. Hasan Engka, Sumatera Selatan
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Bapak Presiden yang kami hormati,
Perkenankan saya memperkenalkan diri. Nama saya Hasan Engka, Kontak Tani Nelayan Andalan dari Sumatera Selatan. Bapak Presiden beserta Bapak-bapak para Menteri Indonesia Bersatu yang kami hormati, pertama-tama kami ucapkan selamat datang. Bapak telah berkenan hadir dan membuka Pekan Nasional Kontak Tani Nelayan Andalan ke-12 di Bumi Sriwijaya.
Bapak Presiden yang kami hormati,
Tahun 80 sampai Tahun 93, Indonesia swasembada pangan yang berangsur Turun. Menurut penelitian kami, ada beberapa penyebab. Pertama, beberapa irigasi-irigasi seakan-akan tidak terawat, ini juga kami mohon kepada Bapak Presiden kiranya dapat meningkatkan anggaran di dalam hal irigasi. Kami contohkan saja, irigasi pasang surut di Banyuasin yang ribuan hektar sekarang telah dangkal. Mohon kiranya Bapak Presiden dapat meningkatkan anggaran irigasi ini. Selanjutnya Bapak Presiden, di luar Jawa, banyak sekali lahan-lahan yang bisa dibikin sawah, tapi irigasi belum ada. Karena kami berharap, kami di Jawa banyak sekali lahan sudah alih fungsi, apakah tidak mungkin di luar Jawa kita bangun persawahan-persawahan dengan irigasi-irigasi yang permanen.
Bapak Presiden yang kami hormati,
Kendala menurunnya produksi kita sering terjadi, tapi bukan secara keseluruhan. Pada saat petani membutuhkan pupuk, pupuk tidak sampai ke petani. Mohon Bapak Presiden, coba dulu pengecer pupuk ini serahkan dengan KTNA, mohon dicoba dulu. Setuju kira-kira?
Bapak Presiden yang kami hormati,
Di dalam rangka meningkatkan SDM petani, di Rusia sekarang sudah banyak bertebaran apa yang disebut Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya. Andainya kami 400 P4S yang ada di Indonesia, berarti seratus orang petani saja sudah 40 ribu petani yang kami tolong meningkatkan SDM-nya, mohon dilirik di P4S yang ada di Indonesia.
Demikian Bapak Presiden, lebih dan kurangnya kami haturkan terima kasih. Andainya ada keterlanjuran kata, inilah bahasa petani, kami mohon maaf lahir dan batin.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Gubernur Sumatera Selatan
Waalaikumsalam. Terima kasih Pak Hasan. Silakan. Langsung satu Pak? Satu-satu dijawab Presiden.
Presiden Republik Indonesia
Lebih baik saya berdiri supaya bisa dilihat oleh semua. Pertanyaan atau usulan atau saran yang disampaikan tadi, baik. Tepuk tangan untuk Beliau. Satu, masalah irigasi. Dua, masalah pupuk, dan ketiga, masalah sumber daya petani atau pengetahuan dan keterampilan petani. Inilah memang masalah yang kita hadapi, yang harus kita tingkatkan, kita atasi, kita carikan jalan keluarnya.
Pertama, masalah irigasi. Saudara-saudara, 10 tahun yang lalu kita mengalami krisis. Karena krisis, ekonomi kita jatuh, pendapatan negara turun drastis, anggaran pun berkurang banyak, akibatnya tidak banyak anggaran yang kita keluarkan untuk merawat infrastruktur, apalagi untuk membangunnya. Kita sadar, setelah para pemimpin, pendahulu-pendahulu saya, setelah Pak Harto, mulai Pak Habibie, Gus Dur, Ibu Mega dan semuanya berusaha memulihkan keadaan, meskipun situasinya sulit, sekarang ini karena makin membaik ekonomi kita atas kerja dari semua itu, mulai kita anggarkan dengan anggaran yang besar untuk membangun infrastruktur, termasuk irigasi.
Contoh tahun 2007, Rp 7.3 trilyun cukup besar itu untuk membangun irigasi. Tahun 2008, sedang kita olah dengan DPR RI untuk meningkat menjadi Rp 9.4 trilyun khusus untuk irigasi. Tetapi tentu belum cukup untuk seluruh Indonesia, tapi berarti, dengan catatan, dengan harapan setelah irigasi dibangun, bendungan, embung, waduk, tolong dipelihara dengan sebaik-baiknya. Biayanya mahal, kalau tidak dipelihara, sia-sia. Mari kita, bukan hanya pandai membangun, tapi juga pandai memelihara semua.
Yang kedua, masalah pupuk. Saudara tahu, pupuk juga menjadi prioritas kita, subsidinya, produksinya. Pupuk itu dibuat dengan bahan utama gas. Kalau gasnya kurang, tentu mengganggu produksi pabrik pupuk. Kita berusaha menambah gas kita, kita kerjasama dengan negara lain di Timur Tengah misalnya untuk bisa mendapatkan tambahan gas atau bekerja sama dalam membangun pabrik pupuk. Setelah itu, persoalannya, apakah pupuk yang telah disubsidi itu betul-betul didistribusikan pada para petani? Jangan sampai belok ke kanan, ke kiri, jangan sampai ada hambatan-hambatan. Saya minta, ada Menteri Pertanian di sini, ada Menteri yang lain, para Pimpinan Daerah, Pak Gubernur, Pak Bupati, Pak Walikota, ada Asosiasi TNI, ada HKTI, ada KTNA di sini, tolong pikirkan bersama bagaimana cara menyalurkan pupuk, tidak masuk ke orang-orang yang tidak berhak, malah dijual macam-macam, akhirnya tidak sampai sasaran. Tolong pikirkan bagaimana cara yang baik, karena distribusinya.
Kemudian yang terakhir, sumber daya manusia. Petani adalah profesi yang mulia. Saya senang generasi muda sudah banyak yang mendalami ilmu pertanian. Saya 3 tahun sekolah kemarin juga menambah ilmu saya di bidang pertanian, karena memang di negara manapun pertanian itu, sektor yang penting. Jangan dikira di Eropa, di Amerika, di Jepang yang maju-maju teknologinya, industrinya, pertanian ditinggalkan, tidak. Senang saya kalau saudara sadar, ilmu petani, pengetahuan petani, ketrampilan petani harus ditingkatkan. Pikirkan Saudara Menteri Pertanian, para Gubernur untuk meningkatkan sekolah-sekolah pertanian, kejuruan-kejuruan pertanian, meninjau negara lain, meninjau tempat lain, agar bisa menimba pengalaman-pengalaman yang baik. Demikian jawaban saya dan ini pekerjaan rumah, termasuk pekerjaan rumah saya, mari kita jalankan secara bersama-sama.
Gubernur Sumatera Selatan
Terima kasih Bapak Presiden. Kita lanjutkan mungkin satu orang lagi mungkin ada? Silahkan sebutkan namanya darimana dan masalahnya langsung, langsung ke masalah pokok usulan atau pendapat. Ini dari Papua ya? Lihat burungnya Papua Pak.
Sdri. Welmina, Papua Barat
Terima kasih atas waktu yang diberikan kepada saya.
Yang terhormat Bapak Presiden Republik Indonesia beserta Ibu dan rombongan. Ijinkan saya untuk memperkenalkan diri, yaitu nama saya Welmina Maryan asal Provinsi Papua Barat. Untuk temu negara ini, saya dapat berbicara, ada beberapa hal yang saya sampaikan kepada Bapak, yaitu yang pertama, transportasi untuk kami, yaitu tani yang sangat sulit kepada kota sehingga daerah kami pegunungan yang tinggi, akhirnya tidak ada transportasi yang baik untuk kami, tani datang ke kota.
Yang kedua, harga pembelian beras yang tidak seimbang karena kami di Papua tinggi harga pemberas, akhirnya harga pun tinggi yang kami hadapi di Papua. Yang ketiga, yang kami hadapi di Papua. Yang ketiga, karena luasnya lahan kami, sehingga kami minta penambahan penyuluh petani untuk kami di Papua, yaitu tenaga penyuluh, fasilitas, rumah, tempat tinggal, dan motor dinas.
Yang keempat, minta maaf yang ketiga, yaitu tempat penampungan pupuk. Karena pupuk yang menjadi masalah untuk kami di Provinsi kami yaitu gudang pupuk.
Yang keempat, lahan kami luas, yaitu lahan kelapa sawit. Untuk itu, kami minta agar ada pabrik pengelola minyak kelapa sawit.
Yang kelima, dulu kami dapat babi, sapi dalam Program Banpres yang jumlahnya 500 ribu ekor, tetapi sekarang yang kami dapat bantuan adalah agribisnis yang jumlahnya 60 sampai 100 ekor itu. Untuk itu, kami usulkan agar seperti dulu.
Yang keenam adalah karena tidak ada tempat penampungan hasil nelayan kami di Papua Barat, sehingga kami usulkan pabrik es, ruang pendingin untuk menampung hasil ikan kami, nelayan di Papua Barat. Itulah usulan kami dan motto kami di Papua Barat adalah kalau bukan sekarang kapan lagi, kalau bukan kitorang, siapa lagi yang membangun negeri kami, Papua Barat. Terima kasih atas waktu yang diberikan kepada saya, mewakili Papua Barat dan seluruh tani di Indonesia. Waktu kami kembalikan.
Gubernur Sumatera Selatan
Welmina ada 6 ya. Cukup banyak Pak Presiden.
Presiden Republik Indonesia
Ya tepuk tangan dulu untuk Bu Welmina. Ini Pak Gubernur Papua Barat ada di sini juga ini. Terima kasih yang diusulkan sebagian khas Papua dan Papua Barat, sebagian lagi saya kira berlaku bagi saudara-saudara kita di tempat-tempat yang lain. Oleh karena itu, jawaban saya, ada yang khusus untuk Papua Barat dan kemudian Papua, ada juga yang nanti mengait sekaligus dengan kebutuhan para petani, para nelayan di tempat-tempat yang lain.
Saudara-saudara,
Kebutuhan transportasi di Papua dan Papua Barat memang benar, menjadi prioritas dan kebutuhan yang mendesak. Saya sudah beberapa kali datang ke Papua dan Papua Barat, kenyataannya memang kurangnya jalur transportasi, jalan-jalan darat, termasuk pelabuhan dan bandara, mengakibatkan bahan atau barang-barang yang diperlukan rakyat sehari-hari menjadi mahal. Mahal, bahkan sebagian mahal sekali. Oleh karena itulah, sudah menjadi kebijakan kita, Pak Gubernur, baik Papua maupun Papua Barat juga sudah bertemu dengan saya di Jakarta, dengan para Menteri untuk merancang bagaimana tiga, lima tahun ke depan ini meningkatkan transportasi, utamanya darat, agar sekali lagi roda pertanian, roda penjualan pembelian barang bisa berjalan dengan baik dan akhirnya harganya lebih murah dan terjangkau. Ini masalah transportasi.
Yang kedua adalah masalah penyuluh pertanian. Saya dukung dan saya telah mendapatkan laporan dari Menteri Pertanian dalam waktu dekat ke depan ini akan kita tambah jumlahnya, 10 ribu untuk seluruh Indonesia. Mudah-mudahan Papua Barat mendapatkan prioritas dan tempat-tempat yang lain yang memang memerlukan penyuluhan pertanian, agar betul-betul dapat membantu para petani kita meningkatkan produktivitasnya. Penyuluh pertanian salah satu kunci keberhasilan.
Kemudian untuk fasilitas penyuluh pertanian. Kita ingin meningkatkan kesejahteraan bagi semua, kesejahteraan guru di daerah terpencil misalnya, kesejahteraan bidan, kesejahteraan PNS, pegawai, macam-macam yang di daerah-daerah terpencil, di pedalaman, di desa yang tugasnya sangat berat, Mudah-mudahan ini menjadi agenda kita. Menko Kesra juga ada di sini, tolong dalam program PNPM dan program-program lain dipikirkan perlengkapan yang cukup untuk penyuluh ini. Tetapi ingat, tentu tidak bisa sekaligus, tidak bisa besar-besaran, karena kita harus memikirkan saudara-saudara kita yang lain yang juga mengemban tugas yang berat. Namun saya mengerti perlunya tambahan-tambahan seperti itu.
Pupuk sudah saya jelaskan tadi. Untuk gudang pupuk saya kira di sini ada Menteri terkait, kemudian meskipun tidak langsung Kabulog juga ada di sini, tolong dipikirkan bagaimana membangun gudang-gudang, gudang untuk pangan ini, bukan hanya beras, tapi yang lain-lain tentunya para Gubernur, Bupati, Walikota yang lebih tahu bagaimana membangun itu. Dengan demikian bisa memperlancar arus barang.
Pabrik minyak kelapa sawit mestinya sudah toh di Papua Barat atau di Papua, karena Papua dan Papua Barat ini daerah yang untuk perkebunan kelapa sawit. Merauke misalnya, tebu juga sangat potensial di sana. Mestinya harus dibangun pabrik-pabrik CPO, jangan di jual mentah-mentah ke luar negeri, nanti yang menikmati luar negeri saja. Jadi menurut saya perlu dibangun, ini tolong dicatat oleh Menteri terkait untuk pembangunan pabrik minyak kelapa sawit.
Banpres. Saya ini Presiden yang kurang mujur, karena tidak ada lagi sekarang yang namanya Banpres. Kalau dulu barangkali, Presiden itu gagah karena banyak bisa membantu di berbagai tempat di Indonesia, ada Program Banpres, Inpres, Yayasan banyak yang disediakan untuk rakyat, semua itu sekarang tidak ada lagi. Semua anggaran itu dibahas secara seksama dengan DPR, diawasi, dikontrol, termasuk mengawasi Presiden, tentunya tidak bisa lagi seperti dulu, memberikan bantuan-bantuan langsung dengan jumlah yang besar. Tetapi ada program lain, tolong nanti Menteri Pertanian dipikirkan, Dirjen Peternakannya bagaimana, mungkin jumlahnya tidak seperti dulu. Tetapi saya kira, mendorong peternakan ini juga bagus.
Saya punya pengalaman kemarin di daerah Jawa, ada satu komunitas yang mengembangkan ternak sapi, saya Bantu untuk 50 sapi begitu, saya dengar katanya sudah jadi 75 sapi. Ini membuktikan bahwa sebenarnya peternakan juga satu cabang yang baik.
Kemudian yang terakhir, pabrik es untuk ikan. Saya kira tidak sulit ini. Pak Fredy Numberi ada di sini, beliau juga mantan Gubernur Irian Jaya atau Papua dulu. Pak Fredy, tolong dipikirkan dan jangan hanya Papua-Papua Barat saja, tempat-tempat lain yang memerlukan pabrik es supaya diberikan. Kemarin saya meresmikan di Maluku misalnya, sebelumnya meresmikan di daerah-daerah yang lain pembangunan pabrik es.
Saudara-saudara,
Saya kira itu dan sekali lagi, banyak yang harus kita kerjakan, semua ingin cepat, semua menganggap penting, saya tahu, tetapi marilah kita tata sesuai dengan kemampuan kita, yang penting semangatnya besar dan jangan sampai dana negara, uang negara ini kita boros-boroskan, apalagi di korupsi karena semuanya itu justru untuk kita gunakan meningkatkan kesejahteraan rakyat.
Demikian Saudara, terima kasih. Terima kasih.
Terima kasih Bapak Presiden. Jadi Beliau akan banyak acara lagi setelah ini, Bapak-bapak yang saya muliakan, akan meninjau beberapa stand, mungkin dialognya di stand-stand yang ada di yang lain. Jadi mohon maaf, mungkin waktu cukup dialog ini saya kembalikan.
*****
Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan



