Pidato Presiden

Jakarta Convention Center, Rabu, 11 Juli 2007

Sambutan Pembukaan Pekan Produk Budaya Indonesia 2007

 

TRANSKRIPSI
SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
PERESMIAN PEMBUKAAN PEKAN PRODUK
BUDAYA INDONESIA 2007
JAKARTA CONVENTION CENTRE, 11 JULI 2007




Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Selamat pagi,
Salam sejahtera untuk kita semua,

Yang saya hormati Saudara Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat dan para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu, Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia,
Yang mulia para Duta Besar, baik para Duta Besar Negara Sahabat untuk Indonesia maupun Duta Besar Indonesia untuk Negara-negara Sahabat, Saudara Gubernur DKI Jakarta, Pimpinan KADIN, para Pembicara dan Peserta Seminar, para Peserta Gelar Produk Budaya, para Gubernur yang datang dari berbagai penjuru tanah air,

Hadirin sekalian yang saya muliakan,
Marilah pada kesempatan yang baik dan Insya Allah penuh berkah ini, sekali lagi kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa karena kepada kita masih diberi kesempatan, kekuatan, dan kesehatan untuk melanjutkan ibadah, karya, dan pengabdian kita kepada bangsa dan negara tercinta dan untuk melanjutkan kontribusi kita bagi misi kemanusiaan sedunia dalam rangka membangun peradaban baru.

Saya mengajak Hadirin sekalian untuk menyambut dan memberikan dukungan penuh kepada atau atas diselenggarakannya Pekan Produk Budaya Indonesia Tahun 2007 ini, yang tadi disampaikan oleh Menko Kesra kegiatan utamanya adalah berupa pameran, konvensi, dan gelar seni dan budaya. Saya mengulangi apa yang disampaikan oleh Menko Kesra tadi, untuk mengucapkan terima kasih dan penghargaan saya yang setinggi-tingginya kepada jajaran Kementerian Kesra, Departemen dan Kementerian lain, KADIN, Dekranas, Pemerintahan Provinsi dan semua pihak yang telah bekerja keras untuk menyelenggarakan Produk Budaya Indonesia pada tahun 2007 ini.

Sebagaimana Saudara ketahui, di tempat ini pada bulan Maret yang lalu, pada saat KADIN melaksanakan acara, Rapimnas waktu itu, saya sampaikan bahwa kita dewasa ini telah memasuki peradaban baru, yang saya sebut dengan peradaban gelombang keempat, the fourth way of civilization. Oleh karena itu, sebagai bangsa yang cerdas dan arif, kita harus menjemput dan membangun negara kita untuk memasuki era peradaban baru itu, termasuk menjemput dan membangun ekonomi kita, ekonomi baru, ekonomi gelombang keempat. Ekonomi yang saya maksud adalah ekonomi yang berorientasi atau berbasiskan pada keindahan alam, warisan budaya, dan budaya itu sendiri, serta warisan sejarah.

Hari ini berkaitan dengan hal itu semua, saya mengajak Saudara semua untuk membangun visi dan mindset kita, bagaimana bangsa yang kita cintai ini bergerak maju menuju gelombang keempat peradaban bangsa, peradaban dunia, khususnya ekonomi baru, ekonomi gelombang keempat.

Saya ingin menyampaikan secara ringkas 3 hal pokok. Pertama adalah dunia abad 21 ini sendiri seperti apa keadaan, dinamika, dan perkembangannya. Yang kedua, saya ingin menyampaikan apa yang harus kita maknai dari peradaban gelombang keempat. Dan yang terakhir atau yang ketiga, masuk pada tema dari hajat kita kali ini adalah apa yang harus kita lakukan untuk membangun ekonomi baru, ekonomi gelombang keempat.

Hadirin yang saya hormati,
Dunia abad 21, dimana kita hidup dewasa ini ditandai dengan berbagai fenomena, kecenderungan, dan realitas. Kalau secara mudah saya bagi dalam good news, bad news dan fair news. Saya boleh mengatakan bahwa good news-nya, kabar baiknya adalah dunia makin maju, ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang amat pesatnya. Dan yang kedua, dunia makin makmur, dalam arti negara-negera yang sudah memiliki tingkat kemajuan yang saya sebut dengan kategori makmur atau kaya itu. Tetapi bad news-nya adalah dunia makin tua. Dihadapkan dengan kebutuhan umat manusia, makin kita sadari kelangkaan sumber-sumber kehidupan, yang saya sering saya sebut dengan Food, Energy, and Water, FEW.

Penduduk dunia makin besar, sekarang jumlahnya 6,4 milyar manusia, masih akan bertambah. Terjadi divaritas, ketimpangan, imbalances yang juga tinggi dan makin menganga dan yang meresahkan adalah terjadi adalah global warming dan climate change. Ini adalah bad news. Ada kabar yang mulai mengggembirakan yang saya sebut fair news adalah mulai tumbuh kesadaran global, bahwa dunia kita sekarang ini makin tidak bisa mendukung kebutuhan umat manusia, lantas kita tergerak untuk bersama-sama melakukan aksi global untuk menyelamatkan bumi kita.

Pada bulan Desember yang akan datang di Denpasar-Bali, Indonesia akan menjadi tuan rumah dari UN Conference on Climate Change. Ini menunjukkan bahwa manusia sedunia mulai sadar, bahwa we have to act now untuk menyelamatkan bumi kita. Itu good news, bad news, dan fair news. Kemudian dari itu semua, abad 21, saya katakan tadi, kita memasuki peradaban baru yang saya sebut dengan gelombang keempat peradaban baru kita. Yang intinya adalah makin kuat munculnya kesadaran dan aksi global untuk menyelamatkan bumi dan kehidupan makhluk, kehidupan manusia di atasnya.

Tentu saja yang kita maksudkan dan kita harapkan dari gelombang keempat peradaban dunia ini adalah agar yang berkategori good news tadi, kita kembangkan lagi, yang bad news kita kurangi sekecil mungkin derajatnya. Yang good news harus kita daya gunakan untuk mengurangi bad news, seperti technological innovation yang bisa kita lakukan untuk menyelamatkan manusia dalam memenuhi kebutuhannya seperti makanan, energi, dan air bersih. Yang fair news, kita dorong to be stronger untuk betul-betul menjadi kekuatan yang besar. Kalau tidak, kalau kita gagal bersatu, membangun kesadaran dan komitmen, melakukan langkah bersama, terus terang, to be frank, kehidupan kita, the human life tidak bisa sustainable dan kita akan bersalah dan berdosa pada anak cucu kita, pada generasi mendatang karena kita lalai, kita alpa untuk memelihara apa yang harus kita lakukan menyangkut bumi dan kehidupan makhluk, utamanya manusia di atasnya. Di sini saya menggarisbawahi, kuncinya adalah sebagaimana kita membangun keharmonisan, keselamatan, dan kebahagiaan keluarga adalah caring and sharing diantara kita, masyarakat global, bukan hanya bangsa-bangsa tertentu saja, tetapi kita semua.

Hadirin yang saya muliakan,
Dari gambaran dunia abad 21, pengertian gelombang keempat peradaban manusia, maka saya akan masuk sekarang apa yang harus kita lakukan untuk mengembangkan ekonomi baru, ekonomi gelombang keempat. Saudara tahu bahwa Alvin Toffler mengatakan bahwa gelombang peradaban manusia itu dibagi 3. Gelombang satu adalah abad pertanian. Gelombang kedua, abad industri. Dan gelombang tiga, abad informasi.

Kalau kita kategorikan seperti itu, maka the capital, modal dalam kehidupan gelombang satu, dua dan tiga itu secara sederhana dapat kita simpulkan. Gelombang satu dulu, abad pertanian yang namanya capital adalah tanah, land, untuk bercocok tanam dan bertani. Gelombang kedua, menyusul terjadinya revolusi industri di Inggris, di Eropa waktu itu, maka yang menjadi capital adalah mesin, pabrik, industri, karena begitu kehidupan ekonomi bertumpu dan dibangun. Sedangkan gelombang ketiga, abad informasi itu muncul pada awal tahun, akhir 70-an atau awal 80-an yang menjadi capital adalah minds, informations, high tech, yang akhirnya mengubah ekonomi dimana sektor jasa berkembang amat pesat.

Lantas apa yang boleh kita sebut dengan ekonomi gelombang keempat? Menurut pendapat saya adalah kelanjutan dari ekonomi gelombang tiga dengan orientasi pada kreativitas, creativity, budaya dan warisan budaya, culture and heritage. Dan kemudian jangan dilupakan lingkungan, the environment, alam semesta, pojok-pojok bumi dimana bangsa-bangsa hidup dan berkembang.

Mari kita lihat satu-persatu 3 hal tersebut sebagai orientasi dari ekonomi baru kreativitas, warisan, dan lingkungan. Kalau kita lihat, ini saya sitir, saya cuplik, saya angkat dari buku yang belum lama ini terbit, The Creative Economy yang ditulis oleh Hokans, yang mengatakan bahwa creative economy itu tumbuh berkembang, tumbuh dengan pesat dan sangat menjanjikan. Tahun 2000, Januari 2000 ukuran atau size dari ekonomi ini adalah 2,2 triliun milyar rupiah. APBN kita sekarang ini adalah 80 milyar rupiah, ulangi 20 milyar dollar AS. Bisa dibayangkan berapa ukuran dari kreatif ekonomi pada tingkat dunia ini. Dan di situ dikatakan creative economy, ekonomi kreatif ini tumbuh 5% pertahunnya, sehingga diperkirakan pada tahun 2020, ekonomi kreatif ini akan berukuran, magnitude-nya menjadi 6,1 triliun milyar dollar AS, besar sekali.

Apa saja yang disebut dengan ekonomi kreatif itu? Antara lain atau yang menonjol adalah advertensi, bisnis advertensi, arsitektur, seni atau art, craft termasuk handicraft, kerajinan, design, fashion, film, musik, pertunjukan, seni pertunjukan, performance, penerbitan, research and development, software, mainan, toy and games, tv dan radio, dan video games. Diantara semua itu, 15 yang kita sebutkan itu yang menonjol, yang menyumbang betul pada magnitude dari ekonomi kreatif dunia adalah design, penerbitan, research and development, software, tv dan radio. Kalau kita simak, apa yang tergambar dalam ekonomi kreatif itu, kalau kita lihat 15 ragam ekonomi kreatif itu, terbayang bagi kita, mengapa itu menjadi sumber ekonomi dengan nilai yang tinggi, karena di situ ternyata ada gagasan, ideas, ada art atau seni, ada inovasi teknologi, ada fun, kesenangan, joy, ada kekayaan intelektual. Oleh karena itu, ekonomi kreatif selalu diidentikkan dengan ekonomi kekayaan intelektual, intellectual property yang mesti kita letakkan secara fair, secara adil dalam pengembangan ekonomi baru di masa yang akan datang.

Dalam kaitan itu, pada forum yang mulia ini, saya ingin melengkapi atau menambahkan dimensi lain dari yang disebut ekonomi kreatif, agar betul-betul lengkap sudah menjadi ekonomi baru, ekonomi gelombang keempat. Yaitu disamping yang tadi itu, atau katakanlah ekonomi yang betul-betul berbasiskan kreativitas, ada semua elemennya, tapi juga budaya dan warisan budaya dan lingkungan. Tekanan saya, Saudara-saudara justru pada aspek budaya dan warisan budaya atau heritage dan lingkungan atau the environment.

Mengapa saya menggarisbawahi, terutama untuk negara kita, untuk Indonesia? Saudara ketahui, bahwa karena kita tahu bahwa ada misi besar, umat manusia sedunia untuk menyelamatkan bumi kita abad 21 dan ke depan, yang saya katakan dengan bagaimana tetap sustainable dengan kehidupan di atasnya, maka mau tidak mau, ekonomi baru harus sedekat mungkin dengan dimensi lingkungan. Ekonomi yang merusak lingkungan bukan ekonomi yang kita tuju dan ekonomi yang kita pilih dalam memasuki gelombang keempat. Ekonomi yang sekaligus melestarikan lingkungan dan ekonomi yang bersumber dari lingkungan itulah yang menjadi tujuan kita dalam ekonomi baru ini.

Itu global, tetapi national, secara nasional kita patut bersyukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, Allah SWT karena negara kita dikaruniai berbagai kekayaan dan potensi, antara lain keindahan alam, budaya, warisan budaya, dan warisan sejarah. Dan karena kita tahu, bahwa prospek ke depan baik, maka mari kita kembangkan dimensi-dimensi yang harus lengkap betul dalam ekonomi baru, ekonomi gelombang empat ini.

Mengapa saya mengatakan Saudara-saudara, bahwa prospek ekonomi baru ke depan cerah? Kalau kita simak negara atau bangsa-bangsa yang kaya dalam tanda kutip, di dunia ini cenderung mengkonsumsi barang dan jasa di luar yang dikonsumsi sekarang ini, mereka akan mengkonsumsi sesuatu, sekali lagi barang atau jasa yang lebih meningkatkan kepuasan, baik emotional maupun spiritual mereka.

Saudara masih ingat ada seorang ahli psikologi namanya Abraham Maslow yang menggambarkan hierarki atau tangga kebutuhan manusia, The Hierarchy of the Size atau Needs. Manusia itu yang paling dipentingkan kebutuhan utamanya adalah makan dan minum yang fisik begitu. Setelah bisa makan dan minum, tidak kelaparan, tidak kehausan, baru memikirkan keamanan dirinya, harus aman. Setelah itu, mulai naik kebutuhan yang lebih tinggi, aspek sosial sampai dengan aktualisasi diri. Singkatnya, kalau kita kaitkan dengan ekonomi baru, setelah tercukupi dengan kebutuhan physical-nya, manusia akan mencari, menuju kebutuhan lain yang saya sebut dengan kebutuhan emosional dan spiritual, emotional pleasure dan sebetulnya intellectual satisfaction.

Kalau kita ingat pertumbuhan dunia, ukuran ekonomi dunia, ukuran ekonomi kreatif, maka sekali lagi, ekonomi baru ini menjanjikan. Ingat, perkembangan dunia pariwisata di seluruh jagat ini, luar biasa, seperti ini grafiknya. Dimana-mana, datang untuk melihat keindahan alam, datang untuk melihat heritage, datang untuk berolahraga dan lain-lain. Ingat, makin lakunya produk kerajinan dan seni budaya. Selama 3 tahun atau hampir 3 tahun, saya mengemban amanah, saya selalu datang acara-acara seperti ini, entah itu di tempat ini, di Kemayoran, di Bali dan di tempat-tempat yang lain, Dekranas, Inacraft dan lain-lain. Ternyata interaksi, keberhasilan, transaksi meningkat dengan cepat. Ini menunjukkan, bahwa produk-produk kerajinan, produk budaya kita ternyata karena makin unggul, makin berkualitas, makin laku, dan makin menjadi kontributor dalam pengembangan ekonomi kita. Dan justru produk kerajinan dan seni budaya inilah yang merupakan keunggulan negara kita, keunggulan Indonesia. Jika dikembangkan dengan baik, tentu akan memberikan kontribusi yang besar pada ekonomi nasional kita di waktu yang akan datang.

Oleh karena itu Saudara-saudara, saya mengajak, mengajak secara khusus kepada utamanya seluruh rakyat Indonesia, komponen bangsa di negeri ini bukan hanya dalam rangkaian Gelar Produk Budaya yang dilaksanakan pada pekan ini, tapi untuk kita lakukan sekarang dan ke depan oleh kita semua, seluruh komponen bangsa dan seluruh rakyat Indonesia.

Yang pertama, mari kita kembangkan ekonomi kreatif dengan memadukan ideas, art, and technology. Kita bisa, kita tidak boleh kalah dengan negara dan bangsa lain untuk membangun dan mengembangkan ekonomi kreatif ini.

Yang kedua, mari kita kembangkan keunggulan produk ekonomi yang berbasiskan seni, budaya, kerajinan. Saya sudah melihat brosurnya luar biasa, kerajinan yang akan kita lihat pada hari ini. Baiknya seni pertunjukan. Dalam 3 hari ini, saya menyaksikan berbagai seni pertunjukan dari kekayaan budaya kita. Hari Sabtu di Banyuasin, Sumatera Selatan, saya menyaksikan seperti tadi, tapi dalam skala yang lebih besar, Tari dan Gending Sriwijaya, ada tarinya, ada lagunya. Hari Minggu di tempat ini, saya menyaksikan tari dan lagu-lagu Masyarakat Karo dari Tapanuli. Hari Seninnya di Pontianak, saya menyaksikan tari dan lagu dari Masyarakat Dayak dan Masyarakat Melayu. Hari ini, kembali saya melihat Gending Sriwijaya dan sebelumnya bukan hanya puluhan lebih dari itu berbagai ragam pertunjukan, tari, lagu dan seni yang saya saksikan, yang saya selalu berucap Alhamdulillah saya bangga dengan keindahan dari semuanya itu. Kemudian Saudara-saudara, fashion luar biasa, busana yang diciptakan oleh perancang-perancang busana kita yang bernuansa Islam, yang bernuansa modern dan lain-lain. Arsitektur tidak kalah dan kemudian musik yang khas Indonesia. Mari terus kita kembangkan, bawa ideas, bawa art, bawa management, semuanya itu untuk dapat mengembangkan produk ekonomi yang berbasiskan seni budaya.

Yang ketiga, kembangkan ekonomi warisan atau heritage economy. Saya mengunjungi museum waktu diresmikan kemarin, benda-benda sejarah dan purbakala kita juga sangat luar biasa. Mari kita kembangkan, termasuk tradisinya, adatnya yang masih kita kenali, agar itu menjadi sekali lagi, daya saing dalam ekonomi baru di negara kita. Marilah kita kemas semuanya itu secara baik, sehingga memiliki nilai ekonomi, economic values yang tinggi.

Kemudian yang keempat, mari kita kembangkan ekonomi kepariwisataan yang berbasis keindahan alam, bukan hanya Bali tentunya, keindahan alam yang lain. Di Timur Tengah, itu sudah mulai bisa dibangun model pantai seperti daerah tropis, bisa dibikin seperti kelapa atau palem yang dari jauh atau kalau kita tidak bisa mengenali secara jernih, mirip yang ada di negara kita, tetapi yang asli selalu lebih baik. Oleh karena itulah, bagaimana keindahan yang kita miliki terus dipacu kreativitasnya, ide-ide barunya. Dengan demikian, juga tetap dikunjungi oleh wisatawan dari negara-negara lain.

Lapangan golf, olahraga golf berkembang luar biasa. Pemain-pemain dari negara lain sering datang ke Indonesia. Tolong, karena kita memiliki banyak keindahan alam, keunikan, bangun lapangan-lapangan golf yang orang datang ke situ bermain golf, membayar green fee, membayar atau caddy fee, tapi juga membayar, membeli lingkungan, membeli keindahan. Saya mendengar, meskipun saya belum pernah melihat ada lapangan golf di kaki Gunung Merapi, di Cangkringan, Yogyakarta, katanya ada lapangan golf, sekitar Bukit Tidar di Magelang. Kemudian saya pernah tahu ada lapangan golf di Tanah Lot. Saya kira banyak sekali yang unik, yang khas. Dengan demikian, orang bermain golf, tapi juga menikmati keindahan. Di situ ada kesenangan, ada kepuasan, ada sesuatu yang dia bisa mengeluarkan rupiahnya, dollar-nya, yen-nya dan lain-lain untuk menggerakan ekonomi kita.

Juga ada wisata lingkungan, back to nature. Yang masih asli, yang masih perawan, banyak sekali Pak Jero Wacik, saya kira negara-negara kita, orang setelah melihat modernitas barangkali di London, di New York, di Tokyo dan kota-kota besar mungkin dia ingin nyepi, ingin mendapatkan ketenangan spiritual, masuklah daerah-daerah yang masih perawan, yang masih asli untuk menikmati keindahan ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa. Yang penting bersih, yang penting aman, yang penting ada sesuatu yang mereka bisa tahan 1, 2, 3 atau 4 hari di tempat itu. Itu juga sumber pariwisata yang bagus.

Kemudian keunikan geologi, Indonesia karena bentuk geologi kita memang rawan dengan bencana alam, ini kehendak dan ciptaan Yang Maha Kuasa. Tapi kalau kita pandai bersyukur, kalau kita kreatif, kita bisa menjadikan berkah pula musibah-musibah yang datang di negeri kita ini. Tsunami yang di Aceh, dunia tahu ada bencana alam besar. Mengapa tidak kita bangun? Sekarang sudah dipikirkan dan dimulai saya kira untuk membikin semacam monumen, museum, tempat studi dan lain-lain di Aceh yang itu bisa menjadi objek tourism yang baru.

Ada Big Bang di waktu yang lalu, yang mengubah kompleks atau wilayah pegunungan di Jawa Timur, Gunung Bromo, Kaldera Tengger, ada semen di situ. Itu kalau terus dikembangkan dengan ide baru, kreativitas baru, sunset, sunrise, maka wisatawan akan datang ke situ, mungkin lebih dari satu, dua, tiga hari melihat bagaimana peristiwa alam yang besar, karena geologi kita, karena bencana di waktu yang lalu. Banyak sekali yang bisa kita kembangkan untuk mengembangkan kepariwisataan kita yang disamping tentunya bertumpu pada budaya, pada sejarah, juga pada keindahan alam tadi.

Saudara-saudara,
Dan agar semua itu berhasil kita kembangkan, saya tentunya meminta kepada jajaran Pemerintah untuk menjadi pelopor, untuk menjadi penjuru atas misi besar kita ini. Diperlukan kebersamaan dan kerjasama kita, seluruh rakyat Indonesia, seluruh komponen bangsa. Yang disebutkan oleh Pak Ical tadi, satu persatu Menteri-menteri terkait, Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, Gubernur, Bupati, Walikota, kita semua sama-sama mengembangkan ini semua.

Dan kita akan senang, kalau tahun depan, tahun 2008, insya Allah kita akan memperingati 1 Abad Kebangkitan Nasional, 100 Tahun Kebangkitan Nasional. Tolong diselenggarakan lagi Produk Gelar Budaya seperti ini, paling tidak skalanya sama, mungkin lebih besar, yang bisa kita hadirkan nanti tamu-tamu kita dari mancanegara, yang menjadi bagian dari perhelatan budaya kita, konvensi, pameran dan kemudian gelar atau pertunjukan seni dan budaya. Syukur-syukur kalau bisa kita lakukan di luar negeri, pilih tempatnya dimana yang kira-kira baik, kalau memang memungkinkan bisa kita lakukan. Negara kita besar, negara kaya, negara kita indah, jangan kita sia-siakan Saudara. Semua itu akan menjadi sumber kemakmuran, sumber kesejahteraan bagi rakyat kita, apabila dengan ide kita, dengan kreativitas kita, dengan inovasi teknologi kita, kita kembangkan lebih lanjut.

Itulah pesan, ajakan, dan harapan saya. Mudah-mudahan kita bisa mewujudkannya secara bersama-sama. Akhirnya Saudara-saudara, dengan memohon ridho Tuhan Yang Maha Kuasa dan mengucapkan ”Bismillahirrahmanirrahim”, Pekan Produk Budaya Indonesia Tahun 2007 dengan resmi saya nyatakan dibuka.


Sekian.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.



*****


Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan


Redaksi | Syarat & Kondisi | Peta Situs | Kontak
© 2006 Situs Web Resmi Presiden Republik Indonesia - Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono
Hak Cipta dilindungi Undang-undang