Pidato Presiden
Sambutan Puncak Peringatan Hari Koperasi Nasional ke-60
TRANSKRIPSI
SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
PUNCAK PERINGATAN HARI KOPERASI NASIONAL
KE-60 TAHUN 2007
GARUDA WISNU KENCANA, BALI
12 JULI 2007
Om swastiastu,
Salam sejahtera untuk kita semua,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Yang saya hormati Saudara Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah beserta para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu,
Yang saya hormati para Menteri dari Negara-negara Sahabat, unsur Pimpinan dan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, para Duta Besar Negara-negara Sahabat, Saudara Gubernur Bali beserta para Pejabat Negara dan Pejabat Pemerintahan yang bertugas di Bali, baik dari unsur Eksekutif, Legislatif dan Yudikatif maupun TNI dan Polri, Saudara Ketua Umum Dekopin dan para Pengurus Jajaran Dekopin, para Gubernur dari seluruh Indonesia, para Pimpinan Organisasi Koperasi dari negara-negara sahabat,
Hadirin yang saya hormati,
Pejuang dan Insan Koperasi dari seluruh tanah air yang saya cintai,
Marilah pada kesempatan yang baik dan semoga senantiasa penuh berkah ini, sekali lagi kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa karena kepada kita masih diberi kesempatan, kekuatan, dan Insya Allah kesehatan untuk melanjutkan karya dan pengabdian kita kepada masyarakat, bangsa, dan negara tercinta, bahkan ikut pula menyumbang pada misi-misi kemanusiaan dan pembangunan tata dunia yang lebih adil di masa depan.
Hadirin sekalian,
Sesungguhnya saya sudah menyiapkan satu naskah sambutan yang telah saya susun dengan baik, tetapi saya lebih baik menyampaikan beberapa hal secara lisan, termasuk respon saya dari apa yang tadi disampaikan oleh Pak Adi Sasono dan kemudian sambutan tertulis ini lebih baik nanti dibaca oleh Saudara-saudara selesai pada Hari Koperasi Yang Ke-60 Tahun 2007 tingkat nasional ini.
Pertama-tama, saya atas nama negara dan Pemerintah maupun secara pribadi mengucapkan Selamat Hari Koperasi kepada seluruh rakyat Indonesia dan kepada seluruh pejuang dan insan koperasi dimana pun saudara-saudara berada, disertai penghargaan yang tinggi atas semua pengabdian dan kerja keras para pengurus dan insan Koperasi di seluruh tanah air yang saya nilai hasilnya kelihatan makin baik dari tahun ke tahun dan ini membuktikan, bahwa insan Koperasi menjadi bagian solusi dari negara ini, menjadi bagian pembangunan untuk menuju kesejahteraan rakyat yang lebih baik di masa depan.
Saya ingin menggariskan sekali lagi, pada kesempatan yang baik ini, sebagaimana tadi disinggung pula oleh Pimpinan Dekopin, Pak Adi Sasono tentang ideologi dan sistem ekonomi yang dianut oleh bangsa Indonesia. Ini perlu saya jelaskan sekali lagi, karena masih ada wacana di lingkungan masyarakat luas dalam era globalisasi dewasa ini, ideologi, sistem atau pilihan ekonomi seperti apa yang kita anut? Para Bapak Bangsa, Para Founding Fathers, para Pendiri Republik melalui konsensus bersama waktu itu telah bersepakat, bahwa ekonomi yang kita bangun adalah ekonomi yang berkeadilan sosial. Ekonomi yang kapitalistik ataupun ekonomi yang komunistik bukan pilihan kita. Demikian juga dalam perkembangannya dewasa ini, dikenal yang disebut dengan neoliberalisme atau ekonomi yang neoliberalistik, itupun juga bukan pilihan kita.
Saudara-saudara,
Ekonomi yang kapitalistik semua diserahkan pada hukum-hukum pasar. Memang pasar itu kalau dikelola dengan benar dan berjalan dengan sempurna dapat membangun efisiensi, persaingan yang sehat. Dengan demikian, dipercayai oleh para penganut paham kapitalisme, ekonomi itu mendatangkan kebaikan bagi negara, bagi bangsa yang bersangkutan. Dalam kenyataannya, tidak seperti itu karena kapitalisme gagal untuk menghadirkan keadilan sosial yang sejati, gagal di dalam mengurangi kesenjangan dan disvaritas antar warga bangsa.
Ekonomi yang komunistik ditandai negara yang mengatur segalanya, tidak percaya pada mekanisme pasar, diharapkan rakyat lebih bisa dipenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Sejarah menunjukan sistem ekonomi ini juga gagal mencapai tujuan-tujuan yang dikehendaki. Oleh karena itulah, kita sadar bahwa bukan itu pilihan kita. Neoliberalisme yang intinya adalah berorientasi pada perdagangan bebas, investasi bebas, termasuk bebasnya capital atau modal ke luar masuk sebuah negara dan tidak bersetuju atas peran Pemerintah yang selama ini dilakukan oleh banyak negara karena dianggap itu merupakan distorsi bagi kegiatan ekonomi di sebuah negara, begitu neoliberalisme. Itupun bukan yang kita pilih. Karena ternyata, baik kapitalisme maupun neoliberalisme itu tidak bisa menjamin bahwa pertumbuhan sebuah ekonomi didistribuskan secara adil, dinikmati oleh seluruh rakyat, kalau di negeri kita ya oleh rakyat Indonesia. Oleh karena itulah, yang kita pilih adalah di era globalisasi ini, senafas dan sejiwa dengan konsensus dasar kita yang telah diletakkan oleh para Pendiri Republik adalah ekonomi terbuka berkeadilan sosial.
Kita tentu hidup dalam globalisasi, termasuk globalisasi dalam dunia ekonomi, yang baik-baik tentu patut kita ambil untuk memperkuat kekuatan ekonomi di dalam negeri kita dalam era globalisasi. Ini yang kita sebut dengan kerjasama dan kemitraan ekonomi global tentu yang adil, yang mendatangkan manfaat dan kebaikan bagi bangsa kita. Hukum dan realitas globalisasi yang tidak memberi manfaat bagi bangsa kita, yang merugikan bagi ekonomi kita tentu harus kita tangkal dan kita cegah untuk masuk ke negeri kita. Itulah yang kita lakukan dewasa ini. Dengan demikian, open economy, ekonomi terbuka yang kita pilih harus dimaknai satu kerjasama dan kemitraan yang sungguh adil dan mendatangkan manfaat bagi negeri kita. Selebihnya kita harus betul-betul meletakkan keadilan sosial dalam pembangunan ekonomi di negeri ini.
Saudara-saudara,
Mengetahui 10 tahun yang lalu negara kita mengalami krisis yang luar biasa. Akibat krisis itu, sebagaimana yang sering saya katakan di banyak kesempatan, ekonomi kita jatuh, pengangguran meningkat tajam, kemiskinan juga demikian membengkak, hutang luar negeri pun tiba-tiba membubung tinggi. Menjadi kewajiban kita tahun demi tahun sejak krisis itu, untuk betul-betul bisa mengatasi permasalahan hutang yang berat demikian juga kemiskinan dan pengangguran. Itulah yang menjadi agenda dan prioritas sesungguhnya dari pembangunan ekonomi yang kita jalankan sekarang ini.
Alhamdulillah, perkembangannya makin positif, baik jumlah hutang luar negeri kita, hutang dibandingkan dengan pendapatan negara makin baik, makin bisa dipertanggungjawabkan, demikian juga kemiskinan dan pengangguran, yang itu semua harus terus kita dorong, sehingga setiap pertumbuhan yang terjadi, Alhamdulillah tahun ini kita sudah memasuki era pertumbuhan 6% yang pertama kali terjadi sejak krisis. Dan pertumbuhan ini harus dapat betul-betul dapat dirasakan, dinikmati secara bersama oleh seluruh rakyat Indonesia. Inilah yang kita lakukan, Pemerintah harus berperan. Kita menolak teori-teori fundamentalis, capitalism maupun neoliberalism tadi yang seolah-olah ditabukan peran Pemerintah. Pemerintah harus melakukan sesuatu untuk sekali lagi keadilan dan pemerataan.
Kalau kita lepas dengan hukum pasar bebas, Saudara-saudara, harga BBM kita ini semuanya 6000-an rupiah per liter, tidak mungkin negara begitu saja. Oleh karena itulah, kita mengeluarkan jumlah yang besar lebih dari 60 triliun untuk subsidi meringankan beban rakyat Indonesia untuk harga bahan bakar minyak, utamanya solar dan minyak tanah. Negara, Pemerintah dalam hal ini harus, kalau kapitalisme biarkan pada mekanisme pasar.
Demikian juga listrik. Listrik kalau kita lepas harganya jauh lebih tinggi, kita memberikan subsidi jumlahnya sekitar 23 triliun, agar teringankan beban saudara-saudara kita, utamanya kelompok menengah ke bawah. Demikian juga harga pupuk dan berbagai sektor yang menyentuh hajat hidup rakyat kita, utamanya golongan menengah ke bawah, negara masih memberikan bantuan berupa subsidi. Minyak goreng, yang sekarang menjadi bahan pembicaraan. Mengapa harganya naik? Karena harga CPO di luar negeri naik dengan pesat. Mengapa naik dengan pesat? Karena yang dulu ikut memproduksi minyak goreng dari sumber-sumber yang lain, jagung misalnya oleh dunia, sekarang dijadikan bahan bakar minyak, akibatnya berkurang supply atau penawaran minyak goreng di dunia.
Hukum ekonomi mengatakan manakala penawaran berkurang atau supply berkurang, permintaan tetap, apalagi tambah demand naik, harga akan naik. Kalau kita mengikut paham pasar bebas, ya Pemerintah tidak boleh ikut-ikutan. Harganya akan membumbung sangat tinggi. Kita berusaha menahan dengan berbagai instrumen kebijakan. Sebagai contoh, kita berikan subsidi, tetapi kita berikan pajak ekspor bagi pengusaha-pengusaha besar minyak goreng kita atau CPO kita. Dengan demikian, rasanya lebih adil. Ini contoh-contoh konkret, kebijakan-kebijakan nyata yang kita tempuh, yang membuktikan bahwa kita menganut paham dan sistem ekonomi yang benar, ekonomi terbuka yang berkeadilan sosial.
Saudara-saudara,
Tentu saja, ini memerlukan persepsi yang sama, cara berpikir atau maindset yang sama dan langkah yang sama dari kita semua, termasuk pelaku-pelaku usaha. Pelaku usaha kita kenal dengan swasta, baik yang berskala besar, menengah maupun kecil dan jangan lupa adalah Koperasi.
Saya terus terang sangat gembira tadi, mendengarkan berbagai inisiatif, berbagai karya nyata, dari jajaran Koperasi di seluruh tanah air yang tidak hanya menonton, tidak bersikap pasif, tidak harus ikut-ikut menyalahkan diri sendiri, menghujat sana, menghujat sini, tapi berbuat karena tidak rela kalau praktek kehidupan ekonomi ini tidak adil, kalau ekonomi di negeri kita ini tidak mendatangkan manfaat dan kebaikan bagi seluruh rakyat Indonesia, terutama saudara-saudara kita yang miskin dan setengah miskin. Saya maknai yang dilakukan Koperasi, sebagaimana 5 hal tadi disampaikan oleh Pak Adi Sasono. Bukti nyata, bahwa insan Koperasi, organisasi Koperasi, kegiatan Koperasi sudah klop benar dengan pilihan kita, dengan semangat kita untuk mensejahterakan ekonomi dan kehidupan dari seluruh rakyat Indonesia.
Hadirin yang saya muliakan,
Para Pejuang dan Insan Koperasi yang saya cintai,
Dalam perkembangannya kita saksikan, terutama dalam era reformasi ini kelompok-kelompok masyarakat telah makin bangkit. Kalau dulu Pemerintah seolah-olah harus melakukan segalanya, semua serba ditentukan oleh Pemerintah dan sering Pemerintah Pusat, sekarang sudah berubah, Pemerintah Daerah dengan otonomi daerah dan desentralisasi sudah lebih berperan. Kalau dulu seolah-olah yang mengatur, yang aktif adalah Pemerintah, sekarang dunia usaha juga makin aktif. Kalau dulu seolah-olah jajaran-jajaran Pemerintah Daerah yang mengatur segalanya, sekarang komunitas-komunitas masyarakat makin aktif, makin perduli, makin kritis, makin ingin ikut berpartisipasi. Ini tanda-tanda yang baik, karena kebangkitan seperti inilah sesungguhnya sudah mencapai, menuju tahapan demokrasi yang makin sehat, demokrasi yang makin hidup karena grass root, akar rumput, rakyat di seluruh wilayah Indonesia menjadi bagian dari demokrasi itu.
Yang dinamakan pemberdayaan environment, sesungguhnya ingin mendorong partisipasi rakyat, ingin mendorong mereka berkontribusi, ingin mendorong mereka punya suara. Sekarang sudah muncul, sudah terjadi keadaan seperti itu, ini harus kita syukuri, bahwa komunitas-komunitas lokal sudah berpartisipasi, sudah berdaya, sudah kritis dan sudah ingin mereka dilibatkan penuh dalam berbagai aktivitas. Karena kita sudah punya ‘bangun’ untuk mewadahi partisipasi rakyat seperti itu, bangun Koperasi, maka lakukan revitalisasi, kembangkan terus, hidupkan terus, lebih aktiflah Koperasi di seluruh Indonesia untuk benar-benar mewujudkan aspirasi rakyat ini.
Kalau kita bicara modal Saudara-saudara, ada yang mengatakan sumber daya alam kita ini menjadi modal, natural resources, natural capital, ok betul. Ada lagi yang mengatakan, tapi kita perlu modal uang, financial capital, itu juga betul. Ada lagi kita membangun, punya infrastruktur, punya bangunan, mereka mengatakan physical capital, betul. Ada yang mengatakan, meskipun kita punya semua itu kalau manusianya tidak unggul, manusianya malas, manusianya tidak gigih berjuang, manusianya hanya saling salah-menyalahkan, ya tidak akan jadi. Mereka mengatakan, betapa pentingnya human capital, modal manusia, betul. Tapi satu lagi, kita hidup dalam masyarakat, dalam komunitas, masih diperlukan satu lagi yaitu modal sosial atau social capital. Koperasi sekali lagi, menjadi wadah yang paling baik dimana social capital itu dapat diwujudkan untuk melengkapi sudah semua modal, semua sumber daya, semua capital di negara ini untuk membangun ekonomi kita makin tumbuh dan akhirnya pertumbuhan itu dapat didistribusikan secara adil.
Hadirin sekalian yang saya muliakan,
Oleh karena itu, tepat di Hari Koperasi, hari ini kalau kita sungguh menyadari bahwa koperasi harus, bukan hanya kita pertahankan, tapi harus kita berdayakan, kita dayagunakan, kita libatkan lebih aktif lagi dalam pembangunan ekonomi ke depan.
Terakhir yang ingin saya sampaikan, 5 hal yang disampaikan oleh Bung Adi Sasono tadi saya kira benar, saya dukung penuh, saya dorong, saya minta semua pemimpin di negeri ini, jajaran Pemerintah Daerah, Saudara Gubernur, Bupati, Walikota berikan dukungan penuh pada gerakan-gerakan Koperasi ini.
Pertama, pertanian. Saudara harus tahu, penduduk Indonesia ini terus bertambah jumlahnya, sekarang 230 juta. Wilayah Indonesia tidak bertambah, pulaunya juga tidak bertambah, penduduknya bertambah. Oleh karena itulah, di Ambon kemarin saya serukan untuk mari kita hidupkan kembali, kita revitalisasi gerakan Keluarga Berencana, agar jumlah penduduk ini dapat didukung dan ditampung oleh sumber daya alamnya, oleh bumi dimana Indonesia ini berada. Kembali kepada kebutuhan akan pangan, utamanya beras juga terus meningkat. Yang terbaik untuk mengurangi kebutuhan beras, ya tingkatkan produksi nasional seluruh Indonesia.
Yang kedua, mari kita lakukan diversifikasi. Tidak harus pagi, siang, sore, malam, ditambah mentong. Apa bahasa Indonesianya mentong itu ya? Makan diantara makan utama itu, itu mentong itu. Tidak harus dengan nasi semua, tidak harus dengan beras semua, itu sebetulnya.
Ekspor dan impor itu bukan tujuan. Ekspor dan impor itu adalah kegiatan situasional yang bisa saja diambil untuk mencukupi pangan kita, untuk memastikan harganya tidak naik terus. Kalau harga beras mahal kasihan rakyat. Harga beras harus pas, pas melindungi petani, menguntungkan petani, tetapi tidak mencekik saudara-saudara yang lain dalam memenuhi kebutuhan beras. Lagi-lagi Pemerintah harus ikut mengatur disini dan ekonomi kapitalisme tidak mengenal seperti ini. Inilah yang kita lakukan. Oleh karena itu, setiap upaya untuk meningkatkan produksi beras harus kita sukseskan, kita dukung, termasuk pembangunan irigasi, ketersediaan pupuk, distribusi pupuk, cara bertani yang baik, pemilihan varietas unggul, bagaimana pengaturan air, kegiatan pasca panen, kalau surplus beras bagaimana Bulog membelinya dan seterusnya dan seterusnya. Ini yang harus kita lakukan dan kita sudah bertekad tahun ini Insya Allah, kita bisa meningkatkan produksi tambahan untuk beras kita sebanyak 2 juta ton beras. Mari kita sukseskan secara bersama. Koperasi diam-diam tanpa publikasi kesana kemari aktif untuk menambah jumlah itu. Oleh karena itu, terimalah ucapan terima kasih dan penghargaan saya.
Energi juga demikian Saudara-saudara, jumlah kebutuhan meningkat, kebutuhan rumah tangga akan listrik dan kebutuhan rumah tangga akan BBM, kebutuhan transportasi akan BBM, kebutuhan pabrik-pabrik akan listrik dan BBM dan lain-lain. Kita terus membangun, menambah jumlah listrik kita. Hingga hari ini jumlah listrik kita ini adalah sekitar 25 ribu megawatt sejak mendiang Bung Karno menjadi Presiden. Dulunya tentu cukup, sekarang tidak cukup. Oleh karena itulah, kita ingin menambah lagi antara lain program untuk 10 ribu megawatt tambahan yang dilaksanakan PLN, itupun belum cukup. Ada program IDP untuk menambah daya listrik, itupun belum cukup. Oleh karena itulah, kita undang prakarsa-prakarsa lokal, membikin sumber daya listrik dari sumber-sumber terbarukan, contohnya micro-hidro dan lain-lain. Yang dilakukan koperasi tadi jelas. Satu upaya penting untuk menutup, melengkapi, memperluas jaringan listrik kita di seluruh Indonesia. Oleh karena itu, kita dukung penuh, kita sukseskan program ini.
Yang ketiga, minyak goreng, sudah saya jelaskan tadi. Silahkan, senang saya kalau ada prakarsa untuk menggarap sebidang tanah dengan kelapa-kelapanya dimana-mana, jangan disia-siakan. Kampanye dunia minyak kelapa tidak sehat, tidak benar itu, kelapa itu sehat. Jadi jangan kita termakan oleh politik dagang, seolah-olah kalau CPO itu jelek, kelapa jelek, tidak boleh begitu, dunia harus adil. Oleh karena itu, sehat dan mari kita juga jadikan untuk sumber minyak goreng kita, agar minyak goreng harganya terkelola tidak naik terus. Minyak goreng memang pada inflasi tidak terlalu besar kontribusinya, tetapi turunannya ada. Oleh karena itu, saya minta semua bekerja, Menteri Perdagangan juga di sini, Menteri Perindustrian, bekerjalah semua untuk mengelola harga minyak goreng dan harga-harga yang lain.
Yang keempat, perumahan rakyat setuju. Kemarin saya berbicara dengan Menteri Perumahan Rakyat, saya panggil beliau. Tolong, saya bersyukur ekonomi tumbuh, sektor riil tumbuh, banyak sekali proyek-proyek perumahan, mall-mall, bangunan-bangunan besar, tapi ingat jangan lupakan rakyat kecil. Oleh karena itulah, program untuk rumah susun sederhana, rumah susun sederhana sewa, rumah sederhana tanpa susun harus kita lanjutkan. Saya berharap para Gubernur, Bupati dan Walikota bekerjasamalah dengan semua pihak, dengan para pengembang untuk betul-betul bisa membangun rumah sederhana ini, agar bisa dijangkau oleh rakyat kita untuk pembelian maupun penyewaannya. Inisiatif dan prakarsa, serta kegiatan Koperasi tentu kita dukung penuh, mudah-mudahan ikut meringankan beban saudara-saudara kita dalam sektor perumahan.
Dan yang terakhir adalah penggunaan information technology, teknologi informasi dalam Usaha Kecil dan Menengah dan Koperasi, itu betul.
Saudara-saudara,
Dengan dikenalkannya, dengan digunakannya teknologi itu di seluruh tanah air, hampir pasti akan meningkatkan daya saing, akan meningkatkan efisiensi, akan bisa membangun network, jaringan dengan pihak manapun di dalam maupun di luar negeri. Saya sudah mengambil keputusan, bahwa 5 tahun mendatang teknologi informasi harus kita kembangkan, terutama untuk 3 hal.
Yang pertama, kita gunakan mengembangkan pemerintahan yang baik, agar korupsi bisa diberantas dengan baik, agar orang yang malas bayar pajak bisa kita tindak dan lain-lain. Dengan cara menggunakan teknologi informasi.
Yang kedua, akan kita gunakan di pendidikan, agar pendidikan makin merata, ilmunya sama, pengetahuannya sama, metodeloginya sama, apakah di Jakarta, apakah di Denpasar ataupun di daerah-daerah terpencil.
Dan yang ketiga, kita gunakan untuk sektor usaha, besar, menengah, kecil termasuk Koperasi. Dengan harapan, penggunaan teknologi informasi itu betul-betul bisa menggerakkan ekonomi kita, meningkatkan daya saing dan efisiensi kita.
Itulah Saudara-saudara yang saya sampaikan. Dan besar harapan saya, agar Koperasi yang kita cintai bersama dari masa ke masa semakin berjaya, semakin memberikan sumbangan kepada negaranya, semakin menaburkan kesejahteraan bagi anggotanya dan seluruh rakyat Indonesia yang sama-sama kita cintai.
Demikian Saudara-saudara, selamat berjuang. Tuhan beserta kita. Dirgahayu Insan Koperasi, Dirgahayu Hari Koperasi.
Sekian.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Om santi santi santi om.
*****
Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan



